Jangan Menunggu Kehancuran Nikmat untuk Menyadari Kekuasaan Allah
🌿 KETIKA PENYESALAN DATANG SETELAH NIKMAT HILANG
Kajian QS. Al-Kahf Ayat 42
Tema:
“Jangan Menunggu Kehancuran Nikmat untuk Menyadari Kekuasaan Allah”
A. PEMBUKAAN
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Mari kita lanjutkan tadabbur kita terhadap kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.
Pada ayat sebelumnya, orang kaya itu begitu yakin dengan hartanya.
Dia berkata:
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”
Bahkan dia berkata:
مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هٰذِهِ أَبَدًا
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”
(QS. Al-Kahf: 35)
Perhatikan kalimatnya:
“Tidak akan binasa selama-lamanya.”
Itulah kesombongan.
Manusia bukan hanya merasa memiliki nikmat.
Manusia mulai merasa nikmat itu akan selalu menjadi miliknya.
Kemudian Allah menunjukkan betapa lemahnya manusia.
Allah berfirman:
B. QS. AL-KAHF AYAT 42
وَاُحِيْطَ بِثَمَرِهٖ فَاَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلٰى مَآ اَنْفَقَ فِيْهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا وَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُشْرِكْ بِرَبِّيْٓ اَحَدًا
“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur roboh bersama para-paranya. Dan dia berkata, ‘Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.’”
(QS. Al-Kahf: 42)
Jamaah...
Ayat ini menggambarkan satu perubahan yang sangat drastis.
Kemarin dia:
sombong.
Hari ini:
menyesal.
Kemarin:
“Aku lebih kaya.”
Sekarang:
يَا لَيْتَنِي
“Seandainya aku...”
Kemarin:
“Kebunku tidak akan binasa.”
Sekarang:
“Seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku...”
Inilah tragedi manusia:
Kadang manusia baru sadar ketika sesuatu sudah tidak bisa dikembalikan.
C. “وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ” — SEMUA HASILNYA DIBINASAKAN
Allah berfirman:
وَاُحِيْطَ بِثَمَرِهٖ
“Dan buah-buah/harta hasil kebunnya telah dibinasakan.”
Ungkapan أُحِيطَ menggambarkan kehancuran yang meliputi seluruh hasil kebun.
Bukan hanya satu pohon yang rusak.
Bukan hanya satu bagian yang terkena.
Tetapi kehancuran itu melingkupi seluruh hasilnya.
Inilah jawaban Allah terhadap kesombongan manusia.
Dia berkata:
“Aku memiliki semuanya.”
Allah menunjukkan:
“Tidak. Semuanya berada dalam kekuasaan-Ku.”
D. DULU MEMBANGGAKAN HARTA, SEKARANG MEMBOLAK-BALIKKAN TANGAN
Allah berfirman:
فَاَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ
“Lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya.”
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa membolak-balikkan kedua telapak tangan merupakan gambaran orang yang mengalami penyesalan mendalam dan kebingungan atas sesuatu yang telah hilang.[^1]
Bayangkan...
Tangan yang dahulu sibuk:
menghitung keuntungan,
menghitung hasil kebun,
menghitung kekayaan,
menghitung pengikut,
sekarang...
hanya bisa dibolak-balikkan.
Tidak mampu mengembalikan satu buah pun.
Tidak mampu mengembalikan satu pohon pun.
Tidak mampu mengembalikan satu tetes air pun.
E. TANGAN YANG DULU MERASA KUAT, SEKARANG TIDAK MAMPU BERBUAT APA-APA
Jamaah...
Ini pelajaran yang dalam.
Manusia sering merasa:
“Saya punya tangan.”
Tetapi sebenarnya...
tangan kita pun milik Allah.
Kita merasa:
“Saya bisa bekerja.”
Tetapi kemampuan bekerja adalah nikmat Allah.
Kita merasa:
“Saya bisa menghasilkan uang.”
Tetapi kemampuan berpikir, tenaga, kesehatan, kesempatan, pasar, dan rezeki semuanya berada dalam ketetapan Allah.
Maka jangan sampai tangan kita digunakan untuk kesombongan.
Karena tangan yang sama suatu hari akan menjadi saksi.
Allah berfirman:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰىٓ اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)
Hari ini tangan kita bekerja.
Besok tangan kita bersaksi.
Hari ini tangan memegang uang.
Besok tangan ditanya:
“Dari mana uang ini diperoleh dan untuk apa digunakan?”
F. “عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا” — MENYESALI SEMUA YANG TELAH DIBELANJAKAN
Allah berfirman:
عَلٰى مَآ اَنْفَقَ فِيْهَا
“Terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk kebun itu.”
Coba perhatikan.
Dia bukan hanya kehilangan hasil.
Dia juga kehilangan:
modal.
Dia telah mengeluarkan biaya.
Dia telah membangun.
Dia telah merawat.
Dia telah menanam.
Dia telah berharap.
Kemudian semuanya hilang.
Maka kesedihannya berlipat:
hasil hilang, modal hilang, harapan hilang.
Namun yang paling menyedihkan bukan kehilangan kebun.
Yang paling menyedihkan adalah:
dia baru menyadari kesalahannya setelah semuanya terlambat.
G. “وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا”
Allah melanjutkan:
وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَا
“Sedang kebun itu roboh bersama para-paranya.”
Para mufasir menjelaskan bahwa gambaran ini menunjukkan kebun yang telah hancur: tanaman dan penyangganya roboh sehingga tidak lagi menghasilkan seperti sebelumnya.[^2]
Jamaah...
Kemarin kebun itu berdiri.
Sekarang roboh.
Kemarin penuh buah.
Sekarang kosong.
Kemarin menjadi sumber kebanggaan.
Sekarang menjadi sumber penyesalan.
Begitulah dunia.
Apa yang hari ini berdiri tegak...
besok bisa roboh.
Apa yang hari ini ramai...
besok bisa sepi.
Apa yang hari ini kita banggakan...
besok bisa kita tangisi.
H. KALIMAT PENYESALAN: “يَا لَيْتَنِي”
Kemudian keluarlah kalimat:
يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُشْرِكْ بِرَبِّيْٓ اَحَدًا
“Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”
Inilah puncak ayat.
Dia akhirnya sadar.
Masalah terbesar bukan sekadar kebunnya.
Masalah terbesar adalah hatinya.
Dia telah mempersekutukan sesuatu dengan Allah.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa perkataan ini menunjukkan penyesalan atas kesyirikan dan kesombongan yang sebelumnya tampak dalam sikapnya terhadap nikmat Allah.[^3]
I. APA HUBUNGAN HARTA DENGAN SYIRIK?
Jamaah...
Apakah orang itu menyembah patung?
Konteks ayat tidak menjelaskan bahwa dia menyembah patung secara langsung.
Tetapi ucapannya:
“Aku lebih banyak hartanya.”
dan keyakinannya:
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.”
menunjukkan bahwa dia tertipu oleh kekayaan dan sebab-sebab duniawi.
Dia gagal melihat Allah sebagai sumber nikmat.
Inilah bahaya terbesar.
Syirik tidak hanya berbicara tentang apa yang disembah oleh tubuh.
Tetapi manusia juga harus berhati-hati agar hatinya tidak menggantungkan keselamatan mutlak kepada selain Allah.
Allah berfirman:
وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.”
(QS. Yusuf: 106)
Para ulama memberikan penjelasan bahwa seseorang bisa mengakui Allah sebagai Rabb, tetapi tetap terjatuh dalam bentuk-bentuk kesyirikan jika memberikan sesuatu yang merupakan kekhususan Allah kepada selain-Nya.[^4]
Karena itu seorang mukmin harus menjaga:
tauhidnya, tawakalnya, niatnya, rasa takutnya, harapannya, dan ketergantungannya kepada Allah.
J. KESOMBONGAN MEMBUAT MANUSIA MELUPAKAN ALLAH
Allah mengingatkan:
وَلَا تَمْشِ فِي الْاَرْضِ مَرَحًا ۖ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
(QS. Al-Isra: 37)
Mengapa Allah menyebut bumi dan gunung?
Karena manusia yang sombong perlu diingatkan:
sebesar apa pun dirimu, engkau tetap kecil di hadapan Allah.
Mau punya rumah besar?
Bumi lebih besar.
Mau punya gedung tinggi?
Gunung lebih tinggi.
Mau punya kekayaan?
Allah bisa mengambilnya dalam sekejap.
K. IBLIS PUN HANCUR KARENA KESOMBONGAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Nabi ﷺ menjelaskan:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim no. 91)[^5]
Jadi kesombongan bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki pakaian bagus atau harta.
Masalahnya adalah:
ketika harta membuat seseorang menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
L. ORANG KAYA TIDAK SALAH, YANG SALAH ADALAH KETIKA KEKAYAAN MASUK KE HATI
Jamaah...
Islam tidak mengharamkan kaya.
Nabi ﷺ tidak mengajarkan:
“Jadilah miskin.”
Tetapi Islam mengajarkan:
Jangan menjadi hamba dunia.
Kita boleh memiliki uang.
Tetapi jangan biarkan uang memiliki hati kita.
Kita boleh punya rumah besar.
Tetapi jangan sampai rumah besar membuat kita lupa kepada masjid.
Kita boleh memiliki kendaraan bagus.
Tetapi jangan sampai kendaraan membuat kita merasa lebih mulia daripada orang lain.
Kita boleh memiliki jabatan.
Tetapi jangan sampai jabatan membuat kita lupa bahwa suatu hari jabatan itu akan ditinggalkan.
M. HARTA ADALAH UJIAN
Allah berfirman:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfal: 28)
Perhatikan:
Allah tidak mengatakan:
“Harta adalah kejahatan.”
Allah mengatakan:
فِتْنَةٌ
“Ujian.”
Kaya diuji.
Miskin diuji.
Punya anak diuji.
Tidak punya anak diuji.
Punya jabatan diuji.
Tidak punya jabatan diuji.
Sehat diuji.
Sakit diuji.
Pertanyaannya:
Apakah nikmat itu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari Allah?
N. KETIKA BENCANA DATANG, BARU MEREKA BERKATA “KAMI BERIMAN”
Allah memberikan contoh manusia yang baru mengakui kebenaran ketika melihat azab:
فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَا قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ
“Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, ‘Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’”
(QS. Ghafir: 84)
Tetapi pengakuan yang datang setelah azab terlihat tidak selalu memberikan manfaat.
Allah berfirman:
فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا ۖ سُنَّتَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهٖ ۖ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُوْنَ
“Maka iman mereka tidak berguna bagi mereka ketika mereka telah melihat azab Kami. Itulah ketetapan Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan pada saat itu rugilah orang-orang kafir.”
(QS. Ghafir: 85)
Inilah pelajaran penting:
Jangan menunggu musibah untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah kepada Allah ketika masih sehat.
Bertaubatlah ketika masih hidup.
Bersyukurlah ketika masih memiliki nikmat.
O. PENYESALAN YANG TIDAK BERGUNA
Allah menggambarkan penyesalan manusia di akhirat:
وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍ ۙ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun: 10)
Kemudian Allah mengatakan:
وَلَنْ يُّؤَخِّرَ اللّٰهُ نَفْسًا اِذَا جَاۤءَ اَجَلُهَا ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun: 11)
Jamaah...
Perhatikan:
Orang itu berkata:
“Kalau saja Engkau beri aku waktu...”
Tetapi waktu sudah habis.
Pemilik kebun berkata:
“Kalau saja dahulu aku tidak menyekutukan Allah...”
Tetapi kebunnya sudah hancur.
Maka jangan tunggu kata:
يَا لَيْتَنِي
“Seandainya aku...”
P. NABI ﷺ MENGAJARKAN AGAR KITA MEMANFAATKAN KESEMPATAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum kematianmu.”[^6]
Hadis ini sangat sesuai dengan QS. Al-Kahf ayat 42.
Karena masalah pemilik kebun bukan semata-mata bahwa dia kaya.
Masalahnya:
dia tidak menggunakan kekayaannya dengan benar sebelum kekayaan itu hilang.
Q. PENYESALAN TERBESAR BUKAN KEHILANGAN HARTA
Jamaah...
Kalau seseorang kehilangan uang satu juta rupiah, dia sedih.
Kehilangan sepuluh juta, lebih sedih.
Kehilangan seratus juta, mungkin lebih sedih.
Tetapi ada kehilangan yang jauh lebih besar:
kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ridha Allah.
Karena uang masih bisa dicari.
Rumah masih bisa dibangun.
Kebun masih bisa ditanam.
Tetapi...
umur yang telah berlalu tidak bisa dikembalikan.
R. ORANG YANG CERDAS ADALAH ORANG YANG MEMPERSIAPKAN DIRI
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2459)[^7]
Orang cerdas bukan hanya yang pintar mengelola investasi dunia.
Orang cerdas adalah orang yang juga memikirkan:
“Apa yang saya bawa setelah mati?”
Karena investasi dunia ada risikonya.
Tetapi investasi akhirat...
itulah investasi yang menentukan kehidupan abadi.
S. HARTA YANG BENAR-BENAR MILIK KITA
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَقُولُ الْعَبْدُ: مَالِي مَالِي، وَإِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ: مَا أَكَلَ فَأَفْنَى، أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى، أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى، وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
“Seorang hamba berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal dari hartanya dia hanya mendapatkan tiga: apa yang dia makan lalu habis, apa yang dia pakai lalu usang, dan apa yang dia sedekahkan lalu menjadi simpanan baginya. Adapun selain itu, akan pergi dan ditinggalkannya untuk manusia.”
(HR. Muslim no. 2959)[^8]
Masya Allah...
Hadis ini seperti menjelaskan pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.
Dia mengira:
“Ini milikku.”
Tetapi ketika kebun hancur...
tidak ada yang bisa dia pertahankan.
T. APA YANG TETAP SETELAH HARTA HANCUR?
Jamaah...
Kebun bisa hancur.
Rumah bisa hancur.
Mobil bisa rusak.
Bisnis bisa bangkrut.
Uang bisa habis.
Tetapi amal saleh tidak hilang.
Allah berfirman:
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahf: 46)
Menarik sekali...
Ayat 42:
kebun hancur.
Ayat 46:
Allah menunjukkan sesuatu yang lebih baik:
الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
“Amal-amal saleh yang kekal.”
Seolah-olah Surah Al-Kahf sedang mengajari kita:
Jangan hanya membangun kebun dunia. Bangunlah kebun akhirat.
U. BAGAIMANA MEMBANGUN “KEBUN AKHIRAT”?
Setiap hari kita bisa menanam.
🌱 Dengan sedekah.
🌱 Dengan membaca Al-Qur'an.
🌱 Dengan membantu orang lain.
🌱 Dengan mendidik anak.
🌱 Dengan mengajarkan ilmu.
🌱 Dengan menjaga shalat.
🌱 Dengan berbakti kepada orang tua.
🌱 Dengan memaafkan orang lain.
🌱 Dengan meninggalkan dosa.
🌱 Dengan berdzikir kepada Allah.
Itulah kebun yang tidak akan hancur selama amal tersebut diterima Allah.
V. JANGAN MENJADI ORANG YANG BARU SADAR SETELAH KEHILANGAN
[diam sejenak]
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Kalau kesehatan kita dicabut, apa yang akan kita sesali?
Mungkin:
“Mengapa dulu saya tidak memperbanyak ibadah?”
Kalau orang tua kita meninggal:
“Mengapa dulu saya jarang membahagiakan mereka?”
Kalau pasangan kita pergi untuk selama-lamanya:
“Mengapa dulu saya lebih sering marah daripada mencintai?”
Kalau anak-anak kita dewasa:
“Mengapa dulu saya tidak cukup mendidik mereka?”
Kalau umur kita habis:
“Mengapa hidup saya terlalu banyak untuk dunia?”
Jangan tunggu sampai muncul:
يَا لَيْتَنِي...
“Seandainya aku...”
W. JANGAN MENUNGGU ALLAH MENGAMBIL NIKMAT
Hari ini masih ada air.
Minumlah dengan syukur.
Hari ini masih ada kesehatan.
Gunakan untuk ibadah.
Hari ini masih ada orang tua.
Muliakan mereka.
Hari ini masih ada pasangan.
Sayangi dia.
Hari ini masih ada anak.
Didik mereka.
Hari ini masih ada harta.
Sedekahkan sebagian.
Hari ini masih ada waktu.
Gunakan untuk kebaikan.
Karena kita tidak tahu...
nikmat yang mana yang akan menjadi nikmat terakhir yang kita rasakan.
X. PELAJARAN DARI QS. AL-KAHF AYAT 42
Ada setidaknya 10 pelajaran besar.
1. Jangan sombong dengan harta.
Karena harta bisa hilang dalam sekejap.
2. Jangan merasa nikmat akan kekal.
Tidak ada jaminan bahwa sesuatu yang kita miliki hari ini akan kita miliki selamanya.
3. Jangan melupakan Pemberi nikmat.
Jangan sampai sibuk menghitung nikmat tetapi lupa kepada Allah.
4. Syirik adalah dosa yang sangat besar.
Tauhid harus dijaga dalam seluruh kehidupan.
5. Kesombongan dapat membutakan hati.
Manusia bisa melihat kebunnya tetapi tidak melihat Allah.
6. Musibah dapat menjadi sarana kesadaran.
Tetapi jangan menunggu musibah untuk kembali kepada Allah.
7. Penyesalan setelah kehilangan tidak selalu bisa mengembalikan keadaan.
Karena ada kesempatan yang jika berlalu tidak akan kembali.
8. Dunia bersifat fana.
Apa yang dibangun manusia akan mengalami kehancuran.
9. Gunakan harta sebelum harta meninggalkan kita.
Sedekah dan amal saleh adalah bekal yang sesungguhnya.
10. Bangunlah kebun akhirat.
Karena الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ lebih baik dan lebih kekal.
Y. RENUNGAN PENUTUP
[suara diperlambat]
Jamaah rahimakumullah...
Pemilik kebun itu pernah memiliki semuanya.
Ada kebun.
Ada air.
Ada buah.
Ada kekayaan.
Ada pengikut.
Ada kebanggaan.
Tetapi satu kehendak Allah...
semuanya hilang.
Kemudian dia hanya bisa:
يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ
membolak-balikkan kedua tangannya.
Dan berkata:
يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
“Aduhai, seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”
[diam]
Jamaah...
Jangan sampai tangan kita nanti membolak-balikkan tangan karena penyesalan.
Jangan sampai mulut kita nanti mengatakan:
يَا لَيْتَنِي...
“Seandainya aku dulu...”
Seandainya dulu aku shalat.
Seandainya dulu aku membaca Al-Qur'an.
Seandainya dulu aku bersedekah.
Seandainya dulu aku berbakti kepada orang tua.
Seandainya dulu aku mendidik anak-anak.
Seandainya dulu aku meminta maaf.
Seandainya dulu aku bertaubat.
Seandainya dulu aku tidak sombong.
Seandainya dulu aku tidak mengejar dunia sampai lupa akhirat.
Jangan sampai semua itu baru keluar ketika kesempatan sudah habis.
Z. KALIMAT TERAKHIR
Maka hari ini...
kalau masih bisa bersyukur, bersyukurlah.
Kalau masih bisa bertaubat, bertaubatlah.
Kalau masih bisa bersedekah, bersedekahlah.
Kalau masih bisa meminta maaf, mintalah maaf.
Kalau masih bisa sujud, sujudlah.
Kalau masih bisa membaca Al-Qur'an, bacalah.
Kalau masih punya harta, gunakanlah.
Kalau masih punya waktu, manfaatkanlah.
Karena...
kebun dunia bisa roboh.
Harta bisa habis.
Air bisa masuk ke dalam bumi.
Rumah bisa ditinggalkan.
Jabatan bisa dicabut.
Tubuh akan kembali menjadi tanah.
Tetapi amal saleh...
itulah yang kita harapkan tetap bersama kita.
Maka jangan hanya bertanya:
“Apa yang sudah saya miliki?”
Tetapi tanyakan:
“Apa yang sudah saya kirim kepada Allah?”
Karena suatu hari...
kita akan meninggalkan semua yang kita miliki.
Dan yang tersisa hanyalah:
iman, amal, dan rahmat Allah.
🤲 DOA PENUTUP
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُرُورِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَكُونَ مِمَّنْ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ فَاسْتَكْبَرُوا وَغَفَلُوا عَنْكَ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kesombongan dan tipu daya dunia. Kami berlindung kepada-Mu agar tidak menjadi orang yang Engkau beri nikmat, tetapi kemudian mereka menjadi sombong dan lalai dari-Mu.”
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تَجْعَلْ أَمْوَالَنَا وَأَوْلَادَنَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا عَنْكَ.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan jangan jadikan harta serta anak-anak kami sebagai sebab kami lalai dari-Mu.”
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
“Ya Allah, karuniakan kepada kami hati yang bersyukur, lisan yang berdzikir, dan amal saleh yang Engkau terima.”
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَهْلِنَا، وَاسْتَعْمِلْنَا فِي طَاعَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَأْخُذَ أَرْوَاحَنَا.
“Ya Allah, berkahilah umur, waktu, harta, dan keluarga kami. Gunakanlah kami untuk ketaatan kepada-Mu sebelum Engkau mengambil nyawa kami.”
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
“Ya Allah, jadikan amal terbaik kami sebagai amal penutup kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
“Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”
(QS. Ali ‘Imran: 8)
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
📚 FOOTNOTE DAN RUJUKAN
[^1]: Lihat Abū Ja‘far Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 42; dan Ismā‘īl ibn ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 42. Keduanya menjelaskan gambaran يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ sebagai ungkapan penyesalan atas apa yang telah dikeluarkan dan kemudian hilang.
[^2]: Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 42. Lihat pula al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr pada ayat yang sama mengenai makna خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا dan kehancuran kebun.
[^3]: Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr), tafsir QS. Al-Kahf [18]: 42; al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 42. Para mufasir mengaitkan penyesalan tersebut dengan sikap sebelumnya yang menyandarkan kemuliaan dan kekuatan kepada harta serta menolak pengakuan terhadap kekuasaan Allah.
[^4]: Ismā‘īl ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Yusuf [12]: 106. Ayat tersebut dibahas dalam konteks manusia yang mengakui Allah tetapi dapat mencampurkan pengakuan tersebut dengan kesyirikan.
[^5]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 91.
[^6]: Riwayat ini masyhur dinisbatkan kepada al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak dan al-Bayhaqī dalam Shu‘ab al-Īmān. Perlu dicatat, jalur dan penilaian hadis ini dibahas oleh para ulama hadis; karena itu hadis ini lebih aman digunakan sebagai penguat makna setelah dalil-dalil sahih, bukan sebagai satu-satunya dasar hukum.
[^7]: Muḥammad ibn ‘Īsā al-Tirmidhī, Sunan al-Tirmidhī, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah wa al-Raqā’iq wa al-Wara‘, no. 2459. Al-Tirmidzi meriwayatkannya sebagai hadis hasan.
[^8]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Zuhd wa al-Raqā’iq, no. 2959.
🌱 BENANG MERAH QS. AL-KAHF AYAT 41–42
Ayat 41:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا
“Bisa jadi airnya menjadi surut ke dalam tanah.”
➡️ Nikmat bisa ditarik.
Ayat 42:
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ
“Dan buah/harta hasil kebunnya dibinasakan.”
➡️ Nikmat benar-benar hilang.
Kemudian:
يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
“Seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.”
➡️ Manusia baru sadar setelah kehilangan.
Maka pesan dua ayat ini sangat kuat:
Jangan tunggu nikmat dicabut untuk belajar bersyukur.
Jangan tunggu harta hancur untuk belajar tawadhu.
Jangan tunggu kematian untuk belajar bertaubat.
Dan jangan tunggu akhirat untuk menyadari bahwa dunia ternyata hanya titipan.
Selagi nikmat masih ada, bersyukurlah. Selagi hidup masih ada, bertaubatlah. Selagi harta masih ada, tanamlah amal untuk akhirat.
Post a Comment