KETIKA ALLAH MENARIK NIKMAT: AIR SAJA TAK MAMPU KITA KEMBALIKAN
🌿 MATERI CERAMAH
“KETIKA ALLAH MENARIK NIKMAT: AIR SAJA TAK MAMPU KITA KEMBALIKAN”
Kajian QS. Al-Kahf: 41
Pembukaan
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah…
Pada kesempatan ini, mari kita merenungkan satu ayat yang pendek, tetapi kalau kita renungkan dalam-dalam, bisa membuat orang yang sombong menjadi tunduk, orang yang lupa menjadi ingat, dan orang yang merasa memiliki segalanya menjadi sadar bahwa sebenarnya dia tidak memiliki apa-apa.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf ayat 41
أَوْ يُصْبِحَ مَاۤؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيْعَ لَهٗ طَلَبًا
“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka engkau tidak akan dapat menemukannya lagi.”
(QS. Al-Kahf: 41)
Perhatikan baik-baik kalimat Allah:
فَلَنْ تَسْتَطِيْعَ لَهٗ طَلَبًا
“Engkau tidak akan mampu mencarinya.”
Bukan sekadar:
“Airnya berkurang.”
Bukan:
“Airnya sedikit.”
Tetapi air itu dibuat masuk ke dalam bumi sehingga manusia tidak mampu lagi mendapatkannya.
1. AYAT INI ADALAH LANJUTAN DARI KISAH DUA ORANG PEMILIK KEBUN
Sebelumnya Allah menceritakan dua orang laki-laki.
Yang satu diberikan dua kebun anggur, dikelilingi pohon kurma, dan di antara keduanya terdapat tanaman.
Allah berfirman:
كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ اٰتَتْ اُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِّنْهُ شَيْـًٔاۙ وَّفَجَّرْنَا خِلٰلَهُمَا نَهَرًا
“Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan tidak berkurang sedikit pun hasilnya. Dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.”
(QS. Al-Kahf: 33)
Kemudian orang itu berkata:
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”
(QS. Al-Kahf: 34)
Inilah masalahnya.
Dia tidak hanya mempunyai harta.
Dia diperbudak oleh hartanya.
Dia tidak hanya memiliki kebun.
Dia membiarkan kebun membuat dirinya lupa kepada Allah.
Dia melihat:
- kebun,
- sungai,
- buah,
- kekayaan,
- pengikut,
tetapi dia lupa siapa yang memberikan semuanya.
2. KEKAYAAN BISA MEMBUAT MANUSIA SALAH MELIHAT
Jamaah rahimakumullah…
Ada manusia yang ketika melihat rumahnya berkata:
“Ini rumah saya.”
Ketika melihat kendaraan:
“Ini mobil saya.”
Ketika melihat rekening:
“Ini uang saya.”
Ketika melihat usaha:
“Ini hasil kerja keras saya.”
Ketika melihat jabatan:
“Ini kedudukan saya.”
Padahal kalau kita mau jujur…
Tidak ada satu pun yang benar-benar milik kita secara mutlak.
Rumah bisa kita tinggalkan.
Kendaraan bisa kita tinggalkan.
Jabatan bisa kita tinggalkan.
Harta bisa kita tinggalkan.
Bahkan tubuh yang selama ini kita sebut:
“Tubuh saya.”
Suatu saat tubuh itu akan dikembalikan kepada tanah.
Maka sebenarnya manusia bukan pemilik mutlak.
Kita hanya dititipi.
3. ALLAH MENGINGATKAN: SEMUA YANG ADA DI TANGAN KITA BISA HILANG
Allah berfirman:
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sungguh, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl: 96)
Ayat ini seolah-olah mengatakan:
Apa yang berada di tanganmu—sementara.
Apa yang kau simpan di sisi Allah—abadi.
Maka orang cerdas bukan orang yang hanya sibuk memperbanyak apa yang ada di tangannya.
Orang cerdas adalah orang yang sibuk mengirim bekal ke akhirat.
4. AIR: SESUATU YANG MURAH, TETAPI NILAINYA TIDAK TERHINGGA
Sekarang kita kembali kepada QS. Al-Kahf ayat 41.
Allah mengambil contoh air.
Kenapa air?
Karena manusia sering tidak menyadari nilai sebuah nikmat sampai nikmat itu hilang.
Ketika air mengalir dari keran:
kita tidak menangis.
Ketika kita membuka keran lalu air keluar:
kita tidak sujud syukur setiap saat.
Ketika minum:
kita sering langsung berkata:
“Segar.”
Tetapi jarang berkata:
الحَمْدُ لِلّٰهِ
Padahal coba bayangkan:
Bagaimana kalau Allah tidak mengeluarkan air dari tanah?
Bagaimana kalau sumber air mengering?
Bagaimana kalau hujan tidak turun?
Bagaimana kalau air tanah menjadi sangat dalam?
Bagaimana kalau seluruh teknologi manusia tidak mampu mengambilnya?
Maka manusia yang hari ini merasa hebat…
akan duduk dengan gelas kosong di tangannya.
5. ALLAH MEMBERIKAN PERINGATAN YANG SANGAT MENYENTUH
Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk:
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ
“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?”
(QS. Al-Mulk: 30)
Jamaah…
Allah tidak bertanya:
“Siapa yang membuat mobilmu?”
Allah tidak bertanya:
“Siapa yang membangun rumahmu?”
Allah mengambil sesuatu yang sangat sederhana:
AIR.
Karena kalau manusia benar-benar merenungkan air saja, dia akan sadar:
Ternyata saya tidak berkuasa.
6. “SIAPA YANG AKAN MENDATANGKAN AIR?”
Perhatikan pertanyaan Allah:
فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ
“Siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir kepada kalian?”
Allah tidak mengatakan:
“Siapa yang bisa membuat pompa?”
Karena pompa hanya mengambil air yang sudah Allah sediakan.
Manusia membuat sumur.
Tetapi manusia tidak menciptakan air.
Manusia membuat bendungan.
Tetapi manusia tidak menciptakan hujan.
Manusia membuat pipa.
Tetapi manusia tidak menciptakan sumber air.
Manusia membuat teknologi.
Tetapi teknologi tidak menciptakan kehendak Allah.
Maka jangan sampai teknologi membuat kita lupa kepada Sang Pemberi teknologi.
7. PENJELASAN ULAMA TENTANG AYAT INI
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan ancaman sekaligus pengingat terhadap manusia yang tertipu oleh kenikmatan.
Tafsir Ibn Katsir
Ibn Katsir menjelaskan makna ayat ini dalam konteks kisah pemilik dua kebun: Allah menunjukkan bahwa kenikmatan yang membuat manusia sombong dapat dicabut oleh-Nya, termasuk dengan menghilangkan sumber air yang menjadi sebab kehidupan kebun tersebut.[^1]
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar:
“Apakah kebun itu rusak?”
Tetapi:
“Apakah manusia sadar bahwa kebun itu berdiri karena Allah?”
Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi ketika menjelaskan kata غَوْرًا (ghawran) menerangkan bahwa maksudnya adalah air itu masuk jauh ke dalam bumi sehingga tidak mudah dijangkau.
Secara makna, ayat tersebut menunjukkan kelemahan manusia di hadapan kekuasaan Allah.[^2]
Artinya:
Manusia mungkin mampu menggali.
Manusia mungkin mampu mengebor.
Manusia mungkin mampu menggunakan mesin.
Tetapi kalau Allah menghendaki air itu berada di tempat yang tidak mampu dijangkau manusia…
manusia tidak berdaya.
8. “غَوْرًا” — AIR YANG MASUK KE DALAM BUMI
Kata yang sangat penting dalam ayat ini adalah:
غَوْرًا
Ghawran.
Maknanya berkaitan dengan sesuatu yang masuk atau turun jauh ke dalam bumi.
Jadi gambaran ayat ini sangat kuat.
Sebelumnya:
Air mengalir.
Kebun subur.
Buah banyak.
Pemiliknya bangga.
Kemudian Allah mengatakan:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا
“Bagaimana kalau airnya menjadi jauh masuk ke dalam tanah?”
Seketika itu juga…
kebun yang selama ini dibanggakan menjadi tidak berdaya.
9. INILAH PELAJARAN BESAR: KEHIDUPAN KITA BERDIRI DI ATAS NIKMAT YANG TIDAK KITA KENDALIKAN
Jamaah yang dirahmati Allah…
Coba kita renungkan kehidupan kita.
Kita bangun pagi.
Kita masih bisa bernapas.
Itu nikmat.
Kita masih bisa melihat.
Itu nikmat.
Kita masih bisa mendengar.
Itu nikmat.
Jantung masih berdetak.
Itu nikmat.
Darah masih mengalir.
Itu nikmat.
Air masih bisa diminum.
Itu nikmat.
Keluarga masih ada.
Itu nikmat.
Pekerjaan masih ada.
Itu nikmat.
Kesehatan masih ada.
Itu nikmat.
Tetapi sering kali kita baru sadar bahwa sesuatu itu nikmat…
setelah Allah mengambilnya.
10. JANGAN MENUNGGU NIKMAT HILANG UNTUK BERSYUKUR
Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Perhatikan:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah.”
Syukur bukan sekadar mengatakan:
“Alhamdulillah.”
Syukur adalah:
mengakui nikmat berasal dari Allah, memuji-Nya, kemudian menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang Allah ridai.
11. HADIS NABI: LIHATLAH ORANG YANG KEADAANNYA DI BAWAH KITA
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.”
(HR. Muslim no. 2963)[^3]
Ini terapi bagi hati.
Karena salah satu penyakit manusia adalah:
terlalu sering melihat ke atas dalam urusan dunia.
Tetangga punya mobil baru.
Kita ingin mobil baru.
Teman punya rumah lebih bagus.
Kita ingin rumah lebih bagus.
Orang lain punya jabatan.
Kita merasa rendah.
Orang lain punya uang.
Kita merasa miskin.
Padahal Nabi ﷺ mengajarkan:
Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah.
Bukan untuk merendahkan orang lain.
Tetapi agar kita berkata:
“Ya Allah… ternyata nikmat-Mu kepada saya sangat banyak.”
12. KESOMBONGAN LAHIR KETIKA MANUSIA LUPA DARI MANA NIKMAT BERASAL
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ثُمَّ اِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَاِلَيْهِ تَجْـَٔرُوْنَ
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”
(QS. An-Nahl: 53)
Ini manusia.
Ketika sehat:
“Alhamdulillah.”
Tetapi terkadang hati merasa:
“Saya sehat karena pola hidup saya.”
Ketika kaya:
“Saya kaya karena kerja keras.”
Ketika sukses:
“Saya sukses karena kemampuan saya.”
Tidak salah mengakui usaha.
Tetapi jangan lupa:
Siapa yang memberikan kemampuan untuk berusaha?
Siapa yang memberikan kesehatan?
Siapa yang memberikan kesempatan?
Siapa yang memberikan akal?
Siapa yang memberikan rezeki?
Allah.
13. ADA ORANG YANG BARU MENGENAL ALLAH SETELAH KEHILANGAN NIKMAT
Hadirin…
Kadang-kadang Allah tidak langsung menghukum kita.
Allah justru memberikan waktu.
Diberikan harta.
Diberikan kesehatan.
Diberikan jabatan.
Diberikan keluarga.
Diberikan kesempatan.
Tetapi manusia semakin jauh.
Maka ketika sebuah nikmat dicabut, jangan selalu melihat:
“Kenapa Allah mengambil ini dari saya?”
Tanyakan juga:
“Apa yang Allah ingin saya pelajari dari kehilangan ini?”
Bisa jadi Allah ingin:
- menghentikan kesombongan,
- mengembalikan kita kepada-Nya,
- menyadarkan kita,
- membersihkan hati,
- atau menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
14. NIKMAT BISA MENJADI RAHMAT, TETAPI BISA JUGA MENJADI UJIAN
Allah berfirman:
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Perhatikan:
Keburukan adalah ujian.
Tetapi…
kebaikan juga ujian.
Sakit adalah ujian.
Sehat juga ujian.
Miskin adalah ujian.
Kaya juga ujian.
Tidak punya jabatan adalah ujian.
Punya jabatan juga ujian.
Tidak punya banyak harta adalah ujian.
Punya banyak harta juga ujian.
Pertanyaannya bukan:
“Berapa banyak nikmat yang saya punya?”
Tetapi:
“Apa yang saya lakukan dengan nikmat yang Allah titipkan?”
15. PEMILIK DUA KEBUN GAGAL MEMAHAMI HAL INI
Pemilik kebun berkata:
أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”
Dia menghitung:
hartanya.
Dia menghitung:
pengikutnya.
Tetapi dia lupa menghitung:
nikmat Allah.
Inilah penyakit manusia.
Kita pandai menghitung uang.
Tetapi lupa menghitung nikmat.
Kita pandai menghitung aset.
Tetapi lupa menghitung usia.
Kita pandai menghitung keuntungan.
Tetapi lupa menghitung kesehatan.
Kita pandai menghitung jumlah teman.
Tetapi lupa menghitung orang yang mendoakan kita.
16. ORANG MUKMIN MENJAWAB DENGAN “مَا شَاءَ اللّٰهُ”
Temannya yang beriman berkata:
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ
“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengatakan, ‘Māsyā Allah, lā quwwata illā billāh’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).”
(QS. Al-Kahf: 39)
Inilah mental seorang mukmin.
Ketika melihat nikmat:
مَا شَاءَ اللّٰهُ
Ketika melihat keberhasilan:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
Ketika mendapat rezeki:
الحَمْدُ لِلّٰهِ
Ketika dipuji:
هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
Ketika berhasil:
بِتَوْفِيقِ اللّٰهِ
Karena dia sadar:
“Saya berusaha, tetapi Allah yang memberi kemampuan.”
17. HADIS QUDSI: SEMUA MILIK ALLAH
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mintalah makanan kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tidak berpakaian kecuali orang yang Aku beri pakaian. Maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kalian pakaian.”
(HR. Muslim no. 2577)[^4]
Pesannya sangat jelas:
Kita membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.
Bahkan untuk sesuatu yang menurut kita sederhana.
18. JANGAN MERASA AMAN KARENA PUNYA TEKNOLOGI
Jamaah…
Hari ini manusia sangat maju.
Ada pompa air.
Ada sumur bor.
Ada teknologi pengolahan air.
Ada bendungan.
Ada berbagai macam alat.
Tetapi QS. Al-Mulk ayat 30 tetap berlaku:
فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ
“Siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir kepada kalian?”
Teknologi bukan saingan bagi kekuasaan Allah.
Teknologi justru seharusnya membuat manusia semakin kagum kepada Allah.
Karena semakin manusia memahami alam…
semakin terlihat bahwa alam ini tidak berjalan tanpa pengaturan.
19. AIR MENGAJARKAN KITA TAWADHU
Ada benda yang sangat rendah secara fisik:
air mengalir ke tempat yang rendah.
Tetapi justru air menjadi sumber kehidupan.
Ini pelajaran yang indah.
Orang yang tawadhu tidak kehilangan kemuliaan.
Justru Allah meninggikan orang yang rendah hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
“Tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim no. 2588)[^5]
Maka jangan takut menjadi rendah hati.
Yang perlu kita takutkan adalah:
rendah di hadapan manusia karena sombong kepada Allah.
20. JANGAN SAMPAI HARTA MEMBUAT KITA SEPERTI PEMILIK DUA KEBUN
Coba kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah harta membuat saya semakin dekat kepada Allah?
Atau justru semakin jauh?
Apakah jabatan membuat saya semakin tawadhu?
Atau semakin sulit menerima nasihat?
Apakah ilmu membuat saya semakin takut kepada Allah?
Atau semakin suka merendahkan orang?
Apakah keberhasilan membuat saya semakin bersyukur?
Atau semakin berkata:
“Saya hebat.”
Karena sesungguhnya…
yang berbahaya bukan memiliki nikmat.
Yang berbahaya adalah:
nikmat memiliki hati kita.
21. KETIKA AIR HILANG, BARU KITA TAHU HARGANYA
[diam sejenak]
Jamaah yang dimuliakan Allah…
Coba kita bayangkan suatu pagi…
Kita membuka keran.
Tidak ada air.
Kita buka keran kedua.
Tidak ada.
Kita cek pompa.
Normal.
Kita cek listrik.
Ada.
Tetapi air tidak ada.
Kemudian kita mencari sumber lain.
Tetangga juga tidak punya.
Sumur juga kering.
Hari kedua…
hari ketiga…
kita mulai panik.
Saat itu baru kita berkata:
“Ya Allah, ternyata air sangat berharga.”
Padahal kemarin air itu ada.
Masalahnya bukan airnya tidak berharga.
Masalahnya kita tidak menyadari harganya karena terlalu terbiasa menikmatinya.
Begitu pula kesehatan.
Begitu pula keluarga.
Begitu pula waktu.
Begitu pula kesempatan beribadah.
22. JANGAN SAMPAI KITA MENYADARI NIKMAT SETELAH KEHILANGANNYA
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Al-Bukhari no. 6412)[^6]
Sehat dianggap biasa.
Waktu dianggap biasa.
Padahal ketika sakit datang…
kita rela membayar mahal untuk sehat.
Ketika usia berlalu…
kita ingin membeli kembali waktu.
Tetapi waktu tidak bisa dibeli.
23. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Dari QS. Al-Kahf ayat 41, ada beberapa pelajaran besar.
Pertama: Jangan sombong karena nikmat
Karena Allah mampu mengambilnya.
Kedua: Jangan merasa kuat tanpa Allah
Karena air saja bisa Allah sembunyikan dari manusia.
Ketiga: Bersyukur sebelum kehilangan
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.
Keempat: Gunakan nikmat untuk ketaatan
Kalau diberi harta, gunakan untuk sedekah.
Kalau diberi ilmu, ajarkan.
Kalau diberi jabatan, jadilah adil.
Kalau diberi kesehatan, gunakan untuk ibadah.
Kalau diberi waktu, jangan habiskan semuanya untuk dunia.
Kelima: Biasakan mengucapkan
مَا شَاءَ اللّٰهُ، لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ
“Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
24. JANGAN HANYA MEMINTA NIKMAT, MINTALAH KEBERKAHAN
Kadang kita berdoa:
“Ya Allah, tambah hartaku.”
Tetapi yang lebih penting:
“Ya Allah, berkahilah hartaku.”
Kita meminta umur panjang.
Tetapi jangan lupa:
“Ya Allah, berkahilah umurku.”
Kita meminta anak-anak sukses.
Tetapi:
“Ya Allah, jadikan kesuksesan mereka membawa mereka dekat kepada-Mu.”
Karena tidak semua yang bertambah itu menjadi kebaikan.
Harta bertambah belum tentu berkah.
Umur bertambah belum tentu berkah.
Jabatan bertambah belum tentu berkah.
Ilmu bertambah belum tentu berkah.
Yang kita cari bukan sekadar banyak.
Yang kita cari adalah berkah.
25. RENUNGAN PALING DALAM DARI AYAT INI
Jamaah rahimakumullah…
Allah tidak mengatakan:
“Mungkin kebunmu akan rusak.”
Allah memberikan gambaran:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا
“Bisa jadi airnya masuk jauh ke dalam tanah.”
Kemudian:
فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
“Kamu tidak akan mampu mencarinya.”
Ini pelajaran tentang batas kemampuan manusia.
Manusia bisa mencari banyak hal.
Tetapi ada saatnya Allah menunjukkan:
“Sampai di sini kemampuanmu.”
Dokter bisa berusaha.
Tetapi kesembuhan milik Allah.
Petani bisa menanam.
Tetapi pertumbuhan milik Allah.
Pedagang bisa berdagang.
Tetapi rezeki milik Allah.
Orang tua bisa mendidik.
Tetapi hidayah milik Allah.
Manusia bisa merencanakan.
Tetapi keputusan akhir milik Allah.
26. KALIMAT YANG HARUS SELALU ADA DI HATI
Maka mulai hari ini, jangan hanya berkata:
“Saya punya.”
Tetapi katakan:
“Allah menitipkan.”
Jangan hanya berkata:
“Saya berhasil.”
Tetapi katakan:
“Allah memberi taufik.”
Jangan hanya berkata:
“Saya kuat.”
Tetapi katakan:
“Allah yang menguatkan.”
Jangan hanya berkata:
“Saya kaya.”
Tetapi katakan:
“Allah sedang menguji saya dengan kekayaan.”
Jangan hanya berkata:
“Saya punya keluarga.”
Tetapi katakan:
“Allah menitipkan keluarga kepada saya.”
Karena kalimat “milik saya” bisa melahirkan kesombongan.
Sedangkan kalimat “titipan Allah” melahirkan tanggung jawab.
27. PENUTUP: AIR YANG MASUK KE BUMI, ATAU KITA YANG MASUK KE LIANG LAHAT?
[diam]
Jamaah yang dirahmati Allah…
QS. Al-Kahf ayat 41 berbicara tentang air:
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا
Air bisa masuk ke dalam bumi.
Tetapi ada satu hal yang lebih pasti:
suatu hari kita akan masuk ke dalam bumi.
[diam]
Hari ini kita minum air.
Besok mungkin kita menjadi tanah.
Hari ini kita memegang harta.
Besok harta ditinggalkan.
Hari ini kita berjalan di atas bumi.
Besok kita dibaringkan di dalam bumi.
Hari ini kita mengatakan:
“Ini milikku.”
Besok tangan kita dibuka.
Tidak ada yang dibawa.
Kecuali…
amal.
28. PENUTUP YANG MENGGUGAH
Maka sebelum Allah membuat “air kita” menjadi غَوْرًا, sebelum Allah mengambil kesehatan kita, sebelum Allah mengambil kesempatan kita, sebelum Allah mengambil orang-orang yang kita cintai…
bersyukurlah sekarang.
Sebelum terlambat.
Kalau masih bisa sujud, sujudlah.
Kalau masih bisa bersedekah, bersedekahlah.
Kalau masih bisa meminta maaf, mintalah maaf.
Kalau masih punya orang tua, muliakan mereka.
Kalau masih punya keluarga, sayangi mereka.
Kalau masih punya kesehatan, gunakan untuk ibadah.
Kalau masih punya harta, sisihkan untuk akhirat.
Kalau masih punya waktu…
jangan habiskan semuanya untuk sesuatu yang tidak akan kita bawa ke kuburan.
Karena suatu saat nanti…
Allah bisa mengambil apa yang kita anggap paling biasa.
Air saja bisa hilang ke dalam tanah.
Apalagi harta.
Apalagi jabatan.
Apalagi usia.
Apalagi dunia.
🤲 DOA PENUTUP
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُلُوبًا شَاكِرَةً، وَأَلْسِنَةً ذَاكِرَةً، وَنُفُوسًا مُطْمَئِنَّةً.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu hati yang pandai bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan jiwa yang tenteram.”
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا، وَلَا تَجْعَلْ أَمْوَالَنَا سَبَبًا لِكِبْرِنَا، وَلَا تَجْعَلْ قُوَّتَنَا سَبَبًا لِطُغْيَانِنَا.
“Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepada kami sebagai sebab kelalaian kami. Jangan jadikan harta kami sebagai sebab kesombongan kami. Jangan jadikan kekuatan kami sebagai sebab kami melampaui batas.”
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَفِي أَهْلِنَا، وَفِي أَمْوَالِنَا، وَفِي صِحَّتِنَا، وَفِي أَوْقَاتِنَا، وَاجْعَلْهَا كُلَّهَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
“Ya Allah, berkahilah umur kami, keluarga kami, harta kami, kesehatan kami, dan waktu kami. Jadikan semuanya sebagai sarana untuk membantu kami dalam menaati-Mu.”
اللّٰهُمَّ لَا تَسْلُبْ مِنَّا نِعْمَةً إِلَّا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا، وَلَا تَقْبِضْ أَرْوَاحَنَا إِلَّا وَنَحْنُ عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ.
“Ya Allah, jangan Engkau cabut dari kami suatu nikmat kecuali Engkau dalam keadaan ridha kepada kami. Dan jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali kami berada dalam keadaan beriman dan taat kepada-Mu.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
📚 CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[^1]: Ismā‘īl ibn ‘Umar ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 41. Penjelasan Ibn Katsir menempatkan ayat ini dalam rangkaian ancaman terhadap pemilik kebun yang tertipu oleh hartanya: Allah berkuasa menghilangkan sumber air yang menjadi sebab kehidupan kebun.
[^2]: Abū ‘Abdillāh Muḥammad ibn Aḥmad al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 41. Al-Qurthubi membahas makna غَوْرًا sebagai air yang masuk/menjauh ke dalam bumi sehingga manusia mengalami kesulitan untuk menjangkaunya.
[^3]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zuhd wa ar-Raqā’iq, no. 2963.
[^4]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah wa al-Ādāb, hadis qudsi no. 2577.
[^5]: Muslim ibn al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah wa al-Ādāb, no. 2588.
[^6]: Muḥammad ibn Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb mā jā’a fī ar-riqqah, no. 6412.
Inti pesan QS. Al-Kahf: 41
Jangan tertipu dengan nikmat yang sedang berada di tangan.
Karena nikmat itu milik Allah, dan Allah mampu mengambilnya kapan saja.Air yang hari ini kita anggap biasa, bisa menjadi sesuatu yang kita cari tetapi tidak mampu kita dapatkan.
Maka sebelum kehilangan datang, bersyukurlah.
Sebelum nikmat dicabut, gunakanlah untuk ketaatan.
Sebelum kita tidak mampu lagi mencari apa-apa, carilah ridha Allah selagi kesempatan masih ada.
Post a Comment