JANGAN PERNAH BERHENTI MENCARI ILMU
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 60
“JANGAN PERNAH BERHENTI MENCARI ILMU”
Ketika Nabi Musa ‘Alaihissalam Berjalan Jauh Demi Menambah Ilmu
QS. AL-KAHF AYAT 60
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ لَآ اَبْرَحُ حَتّٰٓى اَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ اَوْ اَمْضِيَ حُقُبًا
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.’”
PEMBUKAAN
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Hari ini kita memasuki kisah yang sangat luar biasa.
Kisah seorang nabi.
Seorang nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah.
Seorang nabi yang mendapatkan Taurat.
Seorang nabi yang diberi berbagai mukjizat.
Seorang nabi yang pernah berhadapan dengan Fir'aun.
Tetapi suatu hari...
Allah mengajarkan kepadanya sebuah pelajaran:
“Masih ada ilmu yang belum engkau ketahui.”
Dan bagaimana sikap Nabi Musa?
Apakah beliau berkata:
"Saya sudah nabi."
"Saya sudah menerima wahyu."
"Saya sudah berbicara dengan Allah."
"Saya sudah memiliki ilmu yang sangat banyak."
Tidak!
Beliau justru berkata:
لَا أَبْرَحُ
“Aku tidak akan berhenti.”
Sampai kapan?
حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ
“Sampai aku mencapai pertemuan dua laut.”
Kalau harus berjalan lama?
أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Walaupun aku harus berjalan bertahun-tahun.”
Subhanallah...
Inilah semangat seorang pencari ilmu.
Tidak malu belajar.
Tidak merasa sudah cukup.
Tidak berhenti karena perjalanan jauh.
Tidak berhenti karena lelah.
Tidak berhenti karena merasa sudah senior.
1. NABI MUSA SENDIRI MASIH BELAJAR
Jamaah...
Ini salah satu pelajaran terbesar dari ayat ini.
Nabi Musa adalah seorang nabi.
Tetapi Nabi Musa masih diperintahkan untuk belajar.
Rasulullah ﷺ menceritakan sebab perjalanan tersebut dalam hadis yang panjang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قَامَ مُوسَى فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ خَطِيبًا، فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ فَقَالَ: أَنَا، فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: إِنَّ لِي عَبْدًا بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ
Artinya:
“Musa berdiri memberikan khutbah kepada Bani Israil. Kemudian beliau ditanya, ‘Siapakah manusia yang paling berilmu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’ Maka Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu tersebut kepada Allah. Lalu Allah mewahyukan kepadanya, ‘Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba di tempat pertemuan dua laut yang lebih berilmu darimu.’”
Kemudian Musa bertanya bagaimana cara menemuinya. Allah memberikan tanda berupa ikan yang dibawa sebagai bekal. Di tempat ikan itu hilang, di situlah hamba Allah tersebut berada.[^1]
Perhatikan...
Allah tidak mengatakan:
“Musa tidak berilmu.”
Bukan.
Musa adalah seorang nabi dan orang yang sangat berilmu.
Tetapi ada jenis ilmu tertentu yang Allah berikan kepada hamba lain dan tidak diberikan kepada Musa.
Maka pelajarannya:
Orang berilmu tidak berarti mengetahui segala sesuatu.
2. ILMU MANUSIA SELALU TERBATAS
Allah berfirman:
وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra': 85)
Semakin seseorang berilmu, seharusnya semakin sadar bahwa ilmu Allah tidak terbatas.
Allah berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya:
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76)
Maka orang berilmu seharusnya tidak berkata:
“Saya tahu semuanya.”
Tetapi:
“Saya masih perlu belajar.”
Tidak malu mengatakan:
لَا أَعْلَمُ
“Saya tidak tahu.”
Karena mengatakan “tidak tahu” pada sesuatu yang memang tidak diketahui adalah bagian dari kejujuran ilmiah.
3. “لَا أَبْرَحُ” — AKU TIDAK AKAN BERHENTI
Allah mengabadikan ucapan Musa:
لَا أَبْرَحُ
“Aku tidak akan berhenti.”
Menurut Imam Ath-Thabari, maknanya adalah:
لَا أَزَالُ أَسِيرُ
“Aku akan terus berjalan.”[^2]
Sedangkan As-Sa'di menjelaskan:
وَشِدَّةُ رَغْبَتِهِ فِي الْخَيْرِ وَطَلَبِ الْعِلْمِ
“Ini menunjukkan kuatnya keinginan Musa terhadap kebaikan dan dalam mencari ilmu.”
Beliau juga mengatakan:
فَهَذَا عَزْمٌ مِنْهُ جَازِمٌ فَلِذَلِكَ أَمْضَاهُ
“Ini merupakan tekad yang sungguh-sungguh darinya, sehingga ia benar-benar melaksanakannya.”[^3]
Jamaah...
Inilah karakter orang yang benar-benar ingin belajar.
Dia tidak berkata:
“Kalau dekat saya datang.”
“Kalau mudah saya belajar.”
“Kalau gurunya datang ke rumah saya belajar.”
Tetapi Nabi Musa berkata:
“Aku akan pergi.”
4. ILMU TERKADANG HARUS DICARI, BUKAN DITUNGGU
Ada orang yang ingin pintar.
Tetapi tidak mau membaca.
Ingin memahami agama.
Tetapi tidak mau belajar.
Ingin menjadi guru yang baik.
Tetapi tidak mau meningkatkan kompetensi.
Ingin anaknya berilmu.
Tetapi tidak memberi teladan membaca dan belajar.
Padahal ilmu harus dicari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Maka perjalanan menuju ilmu bukan perjalanan yang sia-sia.
Setiap langkah menuju majelis ilmu...
Setiap halaman yang dibaca...
Setiap ayat yang dipelajari...
Setiap pertanyaan yang diajukan dengan niat mencari kebenaran...
Semoga menjadi bagian dari jalan menuju surga.
5. “مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ” — ADA TUJUAN YANG HARUS DICAPAI
Musa berkata:
حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ
“Sampai aku mencapai pertemuan dua laut.”
Perhatikan kata:
حَتَّى أَبْلُغَ
“Sampai aku mencapai.”
Ada tujuan.
Ada arah.
Ada target.
Ada tempat yang hendak dicapai.
Ini mengajarkan kepada kita:
Belajar harus memiliki tujuan.
Jangan belajar hanya supaya terlihat pintar.
Jangan belajar hanya supaya mendapatkan gelar.
Jangan belajar hanya supaya dipuji.
Belajarlah agar:
- iman semakin kuat,
- ibadah semakin benar,
- akhlak semakin baik,
- kemampuan semakin bermanfaat,
- masyarakat mendapatkan manfaat dari ilmu kita.
6. “أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا” — KALAU PERLU BERTAHUN-TAHUN
Allah berfirman:
أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Atau aku akan berjalan bertahun-tahun.”
Kata حُقُبًا menunjukkan waktu yang panjang.
Para ulama tafsir menyebut beberapa penjelasan tentang lamanya huqub, tetapi makna yang aman di sini adalah masa yang sangat panjang. Ibn Katsir menyebut sejumlah riwayat tentang makna huqub, sementara tidak perlu menetapkan satu angka tertentu sebagai makna pasti ayat.[^4]
Jamaah...
Nabi Musa tidak berkata:
“Kalau sampai satu jam tidak ketemu, saya pulang.”
Tidak.
Beliau mengatakan:
“Kalaupun harus bertahun-tahun, saya akan terus berjalan.”
Inilah mentalitas seorang penuntut ilmu.
7. JANGAN CEPAT BOSAN DALAM BELAJAR
Ada orang baru belajar beberapa hari sudah bosan.
Baru membaca satu buku sudah merasa ahli.
Baru mengikuti beberapa kajian sudah merasa bisa menjawab semua pertanyaan.
Padahal ilmu itu lautan.
Semakin kita masuk ke dalamnya, semakin kita sadar:
“Ternyata masih banyak yang belum saya tahu.”
Karena itu Rasulullah ﷺ diperintahkan Allah untuk berdoa:
QS. Thaha: 114
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
Perhatikan...
Allah tidak mengajarkan Nabi Muhammad ﷺ berdoa:
“Ya Allah, tambahkan hartaku.”
Dalam ayat ini Allah mengajarkan:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku.”
Maka salah satu doa terbaik seorang Muslim adalah:
اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعًا
“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.”
8. RENDAH HATI ADALAH PINTU ILMU
Kisah Musa mengajarkan bahwa seseorang tidak akan berkembang apabila merasa sudah sempurna.
Imam As-Sa'di menjadikan perjalanan Musa sebagai gambaran kuatnya semangat mencari ilmu: beliau menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan ilmu yang belum beliau miliki.[^3]
Karena itu, semakin berilmu seharusnya semakin rendah hati.
Allah berfirman:
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya:
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Tetapi ayat ini tidak boleh dipahami bahwa setiap orang berilmu otomatis lebih mulia dalam segala hal.
Ilmu harus melahirkan:
خشية — rasa takut kepada Allah,
تواضع — kerendahan hati,
عمل — amal,
أدب — adab.
Kalau ilmu justru melahirkan kesombongan, maka ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam perjalanan ilmunya.
9. KESALAHAN MUSA BUKAN BERARTI BELIAU ORANG SOMBONG
Ini perlu dijelaskan dengan adil.
Hadis menyebut Musa menjawab bahwa dirinya paling mengetahui, lalu Allah menegurnya karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah.
Ini bukan alasan untuk mencela Nabi Musa.
Justru kita melihat bagaimana para nabi menerima pendidikan langsung dari Allah.
Dan yang lebih indah adalah:
ketika diberi tahu bahwa ada ilmu yang belum beliau miliki...
Musa tidak membantah.
Musa tidak marah.
Musa tidak berkata, “Siapa orang itu?”
Musa berkata dalam makna:
“Bagaimana aku dapat menemuinya?”
Kemudian beliau berangkat.
Itulah sikap orang besar ketika mengetahui ada sesuatu yang belum diketahuinya:
dia belajar.
10. MUSA BELAJAR DARI ORANG YANG MEMILIKI ILMU YANG TIDAK IA MILIKI
Allah berfirman tentang pertemuan itu:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا
Artinya:
“Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf: 65)
Kemudian Musa berkata:
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Artinya:
“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?’”
(QS. Al-Kahf: 66)
Perhatikan adab Nabi Musa:
هَلْ أَتَّبِعُكَ
“Bolehkah aku mengikutimu?”
Bukan:
“Ajari saya sekarang!”
Bukan:
“Saya nabi, kamu harus mengajari saya.”
Tetapi:
“Bolehkah aku mengikutimu?”
Ini adab murid kepada guru.
11. ILMU MEMERLUKAN ADAB
Jamaah...
Kadang-kadang manusia ingin mendapatkan ilmu tanpa adab.
Ingin cepat pintar.
Ingin cepat berbicara.
Ingin cepat mengoreksi.
Ingin cepat menyalahkan.
Tetapi belum belajar bagaimana menghormati ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu.
Padahal kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa adab mendahului proses belajar.
Musa berkata:
هَلْ أَتَّبِعُكَ
“Bolehkah aku mengikutimu?”
Ini kalimat seorang pencari ilmu.
12. “فَتَاهُ” — ISLAM MENGAJARKAN BAHASA YANG MEMULIAKAN MANUSIA
Allah menyebut pendamping Musa:
لِفَتَاهُ
“Kepada pemudanya/pembantunya.”
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan penggunaan istilah yang lebih baik dalam menyebut orang yang berada dalam posisi pelayanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَلَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي، وَلْيَقُلْ فَتَايَ وَفَتَاتِي وَغُلَامِي
Artinya:
“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan ‘budakku’ atau ‘hamba perempuanku’, tetapi hendaknya mengatakan ‘pemudaku’, ‘pemudiku’, atau ‘anakku/pemudaku’.”
(HR. Al-Bukhari, no. 2552)[^5]
Ini menunjukkan keindahan adab Islam dalam berbicara.
Pelajarannya:
Jangan merendahkan manusia melalui panggilan.
Jangan menghina orang yang bekerja bersama kita.
Jangan meremehkan bawahan.
Jangan menganggap seseorang rendah hanya karena pekerjaannya berbeda.
Karena kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan dunia.
13. GURU PUN HARUS TERUS BELAJAR
Ini pelajaran penting bagi para pendidik.
Jangan pernah mengatakan:
“Saya sudah menjadi guru, berarti saya sudah selesai belajar.”
Justru menjadi guru berarti:
harus terus belajar.
Karena murid berkembang.
Ilmu berkembang.
Metode berkembang.
Tantangan berkembang.
Maka guru harus berkembang.
Seorang guru yang terus belajar akan memiliki kerendahan hati untuk berkata:
“Saya juga masih belajar.”
Dan ketika guru mengatakan itu kepada murid, sebenarnya ia sedang mengajarkan satu pelajaran yang sangat besar:
bahwa menjadi manusia pembelajar tidak pernah selesai.
14. ORANG TUA JUGA HARUS MENJADI TELADAN PEMBELAJAR
Anak akan belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan.
Anak melihat:
Apakah ayah membaca?
Apakah ibu membaca?
Apakah orang tua mau bertanya?
Apakah orang tua mau mengakui ketika salah?
Apakah orang tua mau mengatakan:
“Ayah belum tahu, mari kita cari tahu.”
Kalimat sederhana itu bisa menjadi pendidikan luar biasa.
Karena anak belajar:
Tidak tahu bukan aib.
Yang menjadi masalah adalah:
tidak tahu tetapi tidak mau belajar.
15. JANGAN MALU MENEMPUH PERJALANAN DEMI ILMU
Jamaah...
Nabi Musa melakukan perjalanan.
Ini menunjukkan bahwa mencari ilmu membutuhkan pengorbanan.
Kadang:
- harus bangun lebih pagi,
- harus membaca ketika orang lain tidur,
- harus mengulang pelajaran,
- harus bertanya,
- harus menghadapi kesulitan,
- harus menempuh perjalanan,
- harus mengorbankan waktu dan tenaga.
Tetapi semua itu akan menjadi ringan ketika seseorang mengetahui nilai ilmu.
16. ILMU YANG BERMANFAAT LEBIH PENTING DARIPADA SEKADAR BANYAK INFORMASI
Allah mengajarkan:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku.”
Tetapi ilmu yang dicari seorang Muslim bukan sekadar banyaknya informasi.
Ilmu harus membawa kepada rasyad—petunjuk dan kedewasaan dalam bertindak.
Musa berkata kepada Khidir:
أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“...agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk.”
Ilmu yang benar membuat manusia:
lebih takut kepada Allah,
lebih santun kepada manusia,
lebih hati-hati dalam berbicara,
lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
17. TIDAK SEMUA ILMU DIMILIKI OLEH SATU ORANG
Ini juga penting.
Allah memberikan kelebihan ilmu kepada manusia secara berbeda.
Ada yang ahli Al-Qur'an.
Ada yang ahli hadis.
Ada yang ahli fikih.
Ada yang ahli bahasa Arab.
Ada yang ahli pendidikan.
Ada yang ahli kedokteran.
Ada yang ahli teknologi.
Ada yang ahli pertanian.
Ada yang ahli matematika.
Ada yang ahli sejarah.
Tidak semua orang mengetahui semua bidang.
Karena itu kita membutuhkan orang lain.
Allah berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Orang berilmu bukan orang yang mengetahui semuanya.
Orang berilmu adalah orang yang mengetahui apa yang ia ketahui dan apa yang tidak ia ketahui.
18. TENTANG KHIDIR: APA YANG PERLU KITA YAKINI?
Dalam ayat 65, Allah menyebutnya:
عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا
“Seorang hamba di antara hamba-hamba Kami.”
Hadis sahih menyebut tokoh ini sebagai Al-Khidr dalam kisah Nabi Musa.
Mengenai statusnya sebagai nabi, para ulama membahasnya berdasarkan ayat-ayat kisah tersebut.
Salah satu dalil yang sering dijadikan dasar adalah perkataan Khidr:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
Artinya:
“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
(QS. Al-Kahf: 82)
Ini menjadi salah satu dasar ulama yang berpendapat bahwa Khidr menerima perintah khusus dari Allah.
Namun yang paling penting untuk ceramah kita adalah:
Allah memberikan kepada hamba-Nya ilmu yang tidak diberikan kepada Musa.
Jadi jangan terlalu sibuk memperdebatkan rincian yang tidak menjadi inti pelajaran.
Ambillah pesan yang jelas dari wahyu:
Ilmu Allah sangat luas, sedangkan ilmu manusia terbatas.
19. HADIS TENTANG “LAUTAN ILMU”
Dalam kelanjutan hadis kisah Musa dan Khidr, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang sangat indah.
Ketika seekor burung mengambil air dari laut, Khidr menjelaskan perbandingan ilmu manusia dengan ilmu Allah.
Dalam riwayat tersebut disebutkan:
مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِثْلُ مَا نَقَصَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْ هَذَا الْبَحْرِ
Maknanya:
“Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti berkurangnya air laut karena burung kecil ini mengambil sedikit air darinya.”[^6]
Riwayat kisah tersebut terdapat dalam hadis sahih tentang perjalanan Musa dan Khidr.
Subhanallah...
Laut begitu luas.
Tetapi yang diambil burung hanya sedikit.
Begitulah ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah.
Maka tidak ada tempat bagi kesombongan.
20. ORANG YANG PALING BERILMU SEHARUSNYA PALING TAKUT KEPADA ALLAH
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Maka ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya:
berapa buku yang telah dibaca,
berapa gelar yang dimiliki,
berapa banyak hafalan,
berapa banyak pengikut,
berapa banyak orang yang mendengar ceramah kita.
Tetapi:
apakah ilmu itu membuat kita semakin takut kepada Allah?
Kalau semakin banyak ilmu tetapi semakin sombong...
perlu bertanya:
“Untuk apa ilmu itu?”
21. JANGAN BERHENTI HANYA KARENA SUDAH MERASA CUKUP
Jamaah...
Setan memiliki banyak cara menghalangi manusia.
Salah satunya bukan dengan mengatakan:
“Jangan belajar.”
Tetapi:
“Kamu sudah cukup pintar.”
“Tidak perlu bertanya.”
“Tidak perlu membaca lagi.”
“Kamu sudah lama menjadi guru.”
“Kamu sudah lama mengaji.”
“Kamu sudah senior.”
“Kamu sudah banyak pengalaman.”
Padahal Nabi Musa—seorang nabi—masih menempuh perjalanan demi ilmu.
Maka siapa kita sehingga merasa sudah selesai belajar?
22. TIGA TIPE ORANG TERHADAP ILMU
TIPE PERTAMA — ORANG YANG TIDAK TAHU DAN TIDAK MAU BELAJAR
Ini berbahaya.
Karena ketidaktahuan dipertahankan.
TIPE KEDUA — ORANG YANG TAHU SEDIKIT LALU MERASA PALING TAHU
Ini lebih berbahaya.
Karena ilmu sedikit dapat melahirkan kesombongan.
TIPE KETIGA — ORANG YANG SEMAKIN TAHU SEMAKIN SADAR BAHWA DIRINYA MASIH BANYAK TIDAK TAHU
Inilah karakter yang harus kita bangun.
Dan kisah Nabi Musa memberikan teladan tersebut.
23. PERJALANAN ILMU ADALAH PERJALANAN SEUMUR HIDUP
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.”
Perhatikan...
Perintah itu tidak mengatakan:
“Wahai Muhammad, engkau sudah selesai belajar.”
Justru:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Tambahkanlah ilmuku.”
Maka selama hidup:
belajar.
Selama hidup:
bertanya.
Selama hidup:
membaca.
Selama hidup:
memperbaiki diri.
24. RENUNGAN UNTUK PARA GURU
[suara perlahan]
Para guru...
Jangan malu belajar dari murid.
Kadang murid mengajarkan kesabaran.
Kadang murid mengajarkan teknologi.
Kadang murid mengajarkan bahwa metode kita harus diperbaiki.
Kadang pertanyaan murid membuat kita membuka kembali kitab yang sudah lama tidak kita baca.
Jangan tersinggung.
Katakan:
“Terima kasih. Mari kita cari jawabannya bersama.”
Karena guru yang mengatakan:
“Saya belum tahu.”
bukan berarti kehilangan wibawa.
Justru ia sedang mengajarkan:
kejujuran ilmiah.
25. RENUNGAN UNTUK PARA ORANG TUA
Ayah dan ibu...
Jangan hanya meminta anak belajar.
Tunjukkan bahwa kita juga belajar.
Jangan hanya mengatakan:
“Baca buku!”
Tetapi anak melihat kita membaca.
Jangan hanya mengatakan:
“Rajin mengaji!”
Tetapi anak melihat kita membuka Al-Qur'an.
Jangan hanya mengatakan:
“Jangan sombong!”
Tetapi anak melihat kita mau meminta maaf.
Pendidikan terbesar adalah keteladanan.
26. RENUNGAN UNTUK PARA PENUNTUT ILMU
Wahai para penuntut ilmu...
Kalau pelajaran terasa sulit:
jangan langsung berhenti.
Kalau guru belum menjelaskan dengan cara yang kita pahami:
bertanyalah dengan adab.
Kalau buku sulit:
baca perlahan.
Kalau hafalan sulit:
ulang kembali.
Kalau gagal:
belajar dari kegagalan.
Karena Nabi Musa berkata:
لَا أَبْرَحُ
“Aku tidak akan berhenti.”
27. EMPAT PESAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 60
PERTAMA — RENDAH HATI
Sebanyak apa pun ilmu kita:
masih ada yang belum kita ketahui.
KEDUA — SEMANGAT MENUNTUT ILMU
Kalau ilmu itu penting:
kejar.
Jangan menunggu ilmu datang sendiri.
KETIGA — SABAR DALAM PROSES
Allah mengabadikan:
أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Walaupun aku harus berjalan bertahun-tahun.”
Belajar membutuhkan waktu.
KEEMPAT — KEMBALIKAN SEMUA ILMU KEPADA ALLAH
Jangan berkata:
“Saya pintar.”
Tetapi katakan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَنِي
“Segala puji bagi Allah yang telah mengajariku.”
Karena semua ilmu pada hakikatnya adalah pemberian Allah.
PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
QS. Al-Kahf ayat 60 memberikan kepada kita gambaran yang sangat indah.
Seorang nabi...
berjalan.
Seorang nabi...
mencari ilmu.
Seorang nabi...
bersedia menjadi murid.
Seorang nabi...
menempuh perjalanan panjang.
Seorang nabi...
tidak malu belajar.
[diam]
Maka siapa kita?
Apakah kita merasa sudah cukup?
Apakah kita merasa sudah pintar?
Apakah kita merasa sudah senior?
Apakah kita merasa sudah tidak membutuhkan nasihat?
Kalau Nabi Musa masih mencari ilmu...
maka kita lebih membutuhkan ilmu.
Kalau Nabi Musa masih mau belajar...
maka kita lebih membutuhkan belajar.
Kalau Nabi Musa masih mau menempuh perjalanan...
maka kita jangan terlalu banyak alasan untuk datang ke majelis ilmu.
[LIRIH]
Jamaah...
Jangan sampai umur kita bertambah...
tetapi ilmu tidak bertambah.
Jangan sampai ilmu bertambah...
tetapi adab berkurang.
Jangan sampai hafalan bertambah...
tetapi kesombongan juga bertambah.
Jangan sampai kita semakin banyak tahu...
tetapi semakin jauh dari Allah.
Ilmu yang benar seharusnya membuat kita berkata:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku.”
Dan setiap kali mengetahui sesuatu yang baru, katakan dalam hati:
“Ya Allah, ternyata masih banyak yang belum aku tahu.”
Itulah pintu kerendahan hati.
Itulah jalan ilmu.
Itulah jalan keberkahan.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا صَحِيحًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَأَدَبًا حَسَنًا.
“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, karuniakanlah kepada kami pemahaman yang benar, amal yang saleh, dan akhlak yang baik.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, berilah manfaat kepada kami dari ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ فِي الْعِلْمِ، وَالْإِخْلَاصَ فِي طَلَبِهِ، وَالصَّبْرَ عَلَى تَعَلُّمِهِ، وَالْعَمَلَ بِهِ.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kerendahan hati dalam ilmu, keikhlasan dalam mencarinya, kesabaran dalam mempelajarinya, dan kemampuan untuk mengamalkannya.”
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَرَبِّ زِدْنِي فَهْمًا، وَرَبِّ زِدْنِي هُدًى وَتَوْفِيقًا.
“Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku, tambahkanlah pemahamanku, dan tambahkanlah petunjuk serta taufik kepadaku.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا.
“Ya Allah, jadikan ilmu kami sebagai hujah yang membela kami dan jangan Engkau jadikan ilmu itu sebagai hujah yang memberatkan kami.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN
[^1]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb at-Tafsīr, hadis no. 4725. Hadis Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه merupakan dasar utama kisah perjalanan Musa mencari hamba Allah yang diberi ilmu khusus. Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa Musa dalam kisah ini adalah Musa Bani Israil.
[^2]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:60. Ath-Thabari menjelaskan لَا أَبْرَحُ dengan makna terus berjalan dan menjelaskan beberapa pendapat tentang Majma‘ al-Bahrain.
[^3]: As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:60. Beliau menekankan kuatnya keinginan Musa dalam mencari kebaikan dan ilmu serta tekadnya untuk menempuh perjalanan panjang.
[^4]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:60. Ibn Katsir menyebut beberapa riwayat mengenai makna ḥuqūb, tetapi inti ayat adalah kesiapan Musa menempuh waktu yang panjang demi mencapai tujuan.
[^5]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Itq, hadis no. 2552. Hadis Abu Hurairah رضي الله عنه tentang adab dalam menyebut orang yang berada dalam posisi pelayanan: menggunakan ungkapan فَتَايَ، فَتَاتِي، غُلَامِي.
[^6]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 4725, dalam kisah lengkap Musa dan Al-Khidr. Perumpamaan tetesan air laut menunjukkan betapa terbatasnya ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah.
KALIMAT INTI CERAMAH
إِنَّ طَرِيقَ الْعِلْمِ لَا يَنْتَهِي بِالشَّهَادَةِ، وَلَا بِالْمَنْصِبِ، وَلَا بِالْعُمْرِ؛ بَلْ يَبْقَى الْعَبْدُ يَقُولُ: رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
“Jalan menuntut ilmu tidak berakhir karena seseorang telah mendapatkan ijazah, jabatan, atau bertambah usia. Seorang hamba akan terus berkata: ‘Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku.’”
Nabi Musa mengajarkan kepada kita:
Post a Comment