KETIKA KEZALIMAN TERUS DIPERTAHANKAN: ADA WAKTU YANG TELAH DITETAPKAN
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 59
“KETIKA KEZALIMAN TERUS DIPERTAHANKAN: ADA WAKTU YANG TELAH DITETAPKAN”
QS. AL-KAHF AYAT 59
وَتِلْكَ الْقُرٰٓى اَهْلَكْنٰهُمْ لَمَّا ظَلَمُوْا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَّوْعِدًا
Artinya:
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.”
PEMBUKAAN
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ayat yang kita kaji hari ini sangat erat hubungannya dengan ayat sebelumnya.
Pada ayat 58 Allah berfirman:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang.”
Allah memberikan waktu.
Allah tidak langsung menghukum.
Allah memberi kesempatan untuk bertobat.
Tetapi kemudian pada ayat 59 Allah memperingatkan:
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim.”
Apa pelajarannya?
Rahmat Allah tidak boleh membuat kita merasa aman dari dosa.
Allah memberi kesempatan, tetapi kesempatan itu ada batasnya.
Allah menangguhkan, tetapi bukan berarti Allah melupakan.
Allah bersabar terhadap hamba-Nya, tetapi jangan sampai manusia menjadikan kesabaran Allah sebagai alasan untuk terus berbuat dosa.
Jamaah...
Ada manusia yang ketika melakukan dosa berkata:
“Allah Maha Pengampun.”
Benar.
Tetapi kalau kalimat itu digunakan untuk membenarkan dosa, maka ia telah salah memahami rahmat Allah.
Yang benar adalah:
Karena Allah Maha Pengampun, maka saya segera bertobat.
Bukan:
Karena Allah Maha Pengampun, maka saya terus bermaksiat.
1. “وَتِلْكَ الْقُرَى” — ALLAH MENGINGATKAN KITA DENGAN SEJARAH UMAT TERDAHULU
Allah berfirman:
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ
“Dan negeri-negeri itu...”
Negeri-negeri yang dimaksud adalah negeri-negeri umat terdahulu yang telah mendustakan para rasul dan terus melakukan kezaliman.
Allah tidak hanya menceritakan sejarah untuk pengetahuan.
Al-Qur'an menceritakan sejarah untuk pelajaran.
Ada kaum yang dahulu kuat.
Ada yang memiliki kekayaan.
Ada yang memiliki bangunan megah.
Ada yang memiliki kekuasaan.
Tetapi ketika mereka terus mempertahankan kekufuran dan kezaliman, kekuatan mereka tidak dapat menyelamatkan mereka.
Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ ۖ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
“Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih kuat daripada mereka dan telah mengolah bumi serta memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Maka Allah sama sekali tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Rum: 9)
Perhatikan ujung ayat:
فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
“Allah sama sekali tidak menzalimi mereka.”
Kemudian:
وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
Ini prinsip penting:
Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
2. “لَمَّا ظَلَمُوا” — MENGAPA MEREKA DIBINASAKAN?
Allah mengatakan:
أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Kami membinasakan mereka ketika mereka berbuat zalim.”
Imam As-Sa'di رحمه الله memberikan penjelasan yang sangat ringkas tetapi mendalam:
أَيْ بِظُلْمِهِمْ، لَا بِظُلْمٍ مِنَّا
“Yaitu disebabkan kezaliman mereka, bukan karena adanya kezaliman dari Kami.”
Kemudian beliau menjelaskan bahwa waktu kehancuran mereka telah ditentukan:
وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا، أَيْ وَقْتًا مُقَدَّرًا، لَا يَتَقَدَّمُونَ عَنْهُ وَلَا يَتَأَخَّرُونَ
“Dan Kami telah menetapkan bagi kebinasaan mereka suatu waktu yang telah ditentukan, yang tidak dapat mereka majukan dan tidak pula mereka undurkan.”[^1]
Jamaah...
Ini mengajarkan kepada kita tentang keadilan Allah.
Allah tidak menghukum tanpa alasan.
Allah tidak menghukum secara zalim.
Allah mengetahui apa yang dilakukan manusia.
Allah mengetahui apa yang tampak.
Allah mengetahui apa yang tersembunyi.
Dan ketika ketetapan-Nya tiba, tidak ada seorang pun yang mampu mengundurkannya.
3. ATH-THABARI: MEREKA DIBINASAKAN KARENA KEKUFURAN DAN KEZALIMAN
Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan:
وَتِلْكَ الْقُرَى مِنْ عَادٍ وَثَمُودَ وَأَصْحَابِ الْأَيْكَةِ أَهْلَكْنَا أَهْلَهَا لَمَّا ظَلَمُوا، فَكَفَرُوا بِاللَّهِ وَآيَاتِهِ
“Dan negeri-negeri itu, seperti kaum 'Ad, Tsamud, dan Ashhabul Aikah, Kami membinasakan penduduknya ketika mereka berbuat zalim, yaitu ketika mereka kufur kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.”
Kemudian beliau menjelaskan:
وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا، يَعْنِي مِيقَاتًا وَأَجَلًا
“Dan Kami telah menetapkan waktu bagi kebinasaan mereka, yaitu waktu dan batas yang telah ditentukan.”[^2]
Jadi, jamaah...
Kehancuran mereka bukanlah sebuah kejadian tanpa sebab.
Ada pola:
datang peringatan → manusia menolak → kezaliman dipertahankan → kesempatan diberikan → waktu yang ditetapkan tiba → hukuman Allah datang.
Inilah yang harus menjadi pelajaran bagi kita.
4. IBN KATSIR: JANGAN MERASA LEBIH AMAN DARIPADA UMAT TERDAHULU
Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
أَيْ الْأُمَمُ السَّالِفَةُ وَالْقُرُونُ الْخَالِيَةُ، أَهْلَكْنَاهُمْ بِسَبَبِ كُفْرِهِمْ وَعِنَادِهِمْ
“Yaitu umat-umat terdahulu dan generasi-generasi yang telah berlalu. Kami membinasakan mereka disebabkan kekufuran dan pembangkangan mereka.”
Kemudian beliau memberikan peringatan yang sangat kuat:
وَكَذَلِكَ أَنْتُمْ أَيُّهَا الْمُشْرِكُونَ، احْذَرُوا أَنْ يُصِيبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ
“Demikian pula kalian wahai orang-orang musyrik, berhati-hatilah jangan sampai menimpa kalian apa yang telah menimpa mereka.”[^3]
Pesannya bukan hanya untuk orang kafir.
Bagi kita orang beriman, ini menjadi peringatan moral dan spiritual:
Jangan merasa bahwa karena kita mengaku Muslim, kita otomatis aman dari akibat kezaliman.
Kezaliman tetap kezaliman.
Pengkhianatan tetap pengkhianatan.
Memakan hak orang tetap dosa.
Merendahkan manusia tetap dosa.
Menipu tetap dosa.
Menyalahgunakan amanah tetap dosa.
Meninggalkan kewajiban tetap dosa.
Karena itu, ayat ini seharusnya membuat kita bertanya:
“Apakah ada kezaliman dalam kehidupan saya yang belum saya tinggalkan?”
5. AL-QUR'AN MENJELASKAN: ALLAH TIDAK LANGSUNG MENGHUKUM
Jamaah yang dirahmati Allah...
Kalau kita membaca ayat 58 dan 59 bersama, kita menemukan keseimbangan yang luar biasa.
Ayat 58:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang.”
Ayat 59:
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim.”
Artinya:
Allah Maha Pengampun, tetapi Allah juga Maha Adil.
Allah memberi kesempatan, tetapi bukan berarti memberikan pembenaran terhadap kezaliman.
Allah berfirman:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya:
“Dan sekiranya Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk yang bergerak di atas bumi, tetapi Dia menangguhkan mereka sampai waktu yang telah ditentukan. Maka apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula dapat meminta percepatan.”
(QS. An-Nahl: 61)
Subhanallah...
Allah memberi penundaan.
Tetapi ketika waktu yang ditetapkan datang:
لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً
“Mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun.”
Dan:
وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan tidak pula dapat meminta percepatan.”
6. NABI ﷺ MENJELASKAN: ALLAH MENANGGUHKAN ORANG ZALIM, BUKAN MELUPAKANNYA
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ
“Sesungguhnya Allah benar-benar memberi tenggang waktu kepada orang yang zalim. Namun ketika Dia telah menyiksanya, Dia tidak akan melepaskannya.”
Kemudian Nabi ﷺ membaca:
وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
“Dan demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih dan sangat keras.”
(QS. Hud: 102)
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه.[^4]
Jamaah...
Perhatikan kalimat:
يُمْلِي لِلظَّالِمِ
“Allah memberi tenggang waktu kepada orang zalim.”
Bukan:
Allah menyetujui orang zalim.
Bukan:
Allah membenarkan kezaliman.
Tetapi:
Allah memberinya waktu.
Untuk apa?
Bisa menjadi kesempatan untuk bertobat.
Bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Bisa juga menjadi penundaan sampai datangnya ketetapan Allah.
Maka jangan pernah menjadikan panjangnya umur sebagai bukti bahwa seseorang benar.
Jangan menjadikan kekayaan sebagai bukti bahwa Allah ridha terhadap semua perbuatannya.
Jangan menjadikan kekuasaan sebagai bukti bahwa seseorang tidak akan dimintai pertanggungjawaban.
7. SEJARAH KAUM TSAMUD: KEMAJUAN TIDAK MENYELAMATKAN DARI KEZALIMAN
Allah menceritakan kaum Tsamud:
وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ
“Dan mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah-rumah dengan aman.”
(QS. Al-Hijr: 82)
Mereka memiliki kemampuan.
Mereka memiliki peradaban.
Mereka mampu membuat tempat tinggal di gunung.
Tetapi kemajuan material tidak otomatis membuat manusia selamat.
Yang menyelamatkan adalah iman dan ketaatan kepada Allah.
Karena Allah kemudian berfirman:
فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ
“Lalu suara keras mengguntur menimpa mereka pada waktu pagi.”
(QS. Al-Hijr: 73)
Bangunan mereka tidak mampu menyelamatkan.
Gunung tidak mampu menyelamatkan.
Kekuatan tidak mampu menyelamatkan.
Ketika ketetapan Allah datang, manusia tidak mempunyai kekuatan untuk menolaknya.
8. RASULULLAH ﷺ KETIKA MELEWATI NEGERI TSAMUD
Ini bagian yang sangat penting.
Rasulullah ﷺ pernah melewati Al-Hijr, tempat tinggal kaum Tsamud, dalam perjalanan menuju Tabuk.
Apa yang beliau lakukan?
Beliau tidak menjadikan tempat itu sekadar objek wisata.
Beliau mengingatkan para sahabat agar mengambil pelajaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ
“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri kecuali dalam keadaan menangis, agar kalian tidak tertimpa seperti apa yang menimpa mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)[^5]
Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa ketika Nabi ﷺ melewati Al-Hijr, beliau bahkan menutupi wajahnya dengan kain dan mempercepat perjalanan.[^6]
Mengapa?
Karena tempat itu mengingatkan kepada hukuman Allah terhadap umat yang mendustakan rasul.
Artinya, seorang mukmin ketika melihat peninggalan sejarah tidak hanya berkata:
“Wah, hebat sekali bangunannya.”
Tetapi juga bertanya:
“Mengapa mereka hilang?”
“Apa dosa yang mereka lakukan?”
“Apa yang membuat sebuah peradaban runtuh?”
“Apakah kesalahan mereka sedang kita ulangi?”
9. SEJARAH BUKAN HANYA UNTUK DIKENANG, TETAPI UNTUK DIAMBIL PELAJARAN
Jamaah...
Al-Qur'an tidak menceritakan kaum 'Ad, Tsamud, kaum Nabi Luth, Fir'aun dan umat-umat terdahulu hanya supaya kita mengenal nama mereka.
Tetapi supaya kita belajar.
Allah berfirman:
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا
Artinya:
“Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya; di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan.”
(QS. Al-'Ankabut: 40)
Kemudian Allah menutup ayat:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya:
“Dan Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
10. KEZALIMAN TIDAK HANYA BERARTI MENYAKITI ORANG LAIN
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ketika mendengar kata zalim, kita sering membayangkan orang yang memukul orang lain.
Padahal makna kezaliman lebih luas.
Kezaliman dapat berupa:
Pertama: Zalim kepada Allah
Yaitu mempersekutukan Allah dan menolak kebenaran.
Kedua: Zalim kepada manusia
Misalnya:
- mengambil hak orang lain,
- menipu,
- memfitnah,
- merendahkan,
- mengkhianati amanah,
- menyakiti tanpa hak,
- memakan harta orang lain.
Ketiga: Zalim kepada diri sendiri
Misalnya:
- meninggalkan shalat,
- terus melakukan dosa,
- mengikuti hawa nafsu,
- merusak diri,
- mengetahui kebenaran tetapi sengaja berpaling darinya.
Karena itu Allah menyebut kemaksiatan sebagai kezaliman terhadap diri.
11. ALLAH MENJELASKAN BAHWA AZAB TIDAK DATANG SECARA SEMBARANGAN
Allah berfirman:
وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ
Artinya:
“Dan Kami tidak akan membinasakan negeri-negeri kecuali penduduknya dalam keadaan zalim.”
(QS. Al-Qashash: 59)
Ini merupakan prinsip penting dalam memahami ayat-ayat azab.
Allah tidak menzalimi manusia.
Allah mengutus rasul.
Allah memberikan peringatan.
Allah memberikan akal.
Allah memberikan kesempatan.
Allah membuka pintu taubat.
Allah memberikan waktu.
Namun ketika manusia terus-menerus memilih kezaliman dan mendustakan kebenaran, maka datanglah ketetapan-Nya.
12. JANGAN TERPESONA OLEH KEKUATAN SEBUAH KAUM
Allah berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
Artinya:
“Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal telah Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, yang belum pernah Kami teguhkan bagi kalian; Kami curahkan hujan yang lebat kepada mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka dan Kami ciptakan generasi yang lain setelah mereka.”
(QS. Al-An'am: 6)
Jamaah...
Mereka pernah berjaya.
Tetapi kejayaan bukan jaminan keselamatan.
Mereka pernah kuat.
Tetapi kekuatan bukan jaminan keselamatan.
Mereka pernah makmur.
Tetapi kemakmuran bukan jaminan keselamatan.
Yang menjadi ukuran adalah:
apakah manusia bersyukur dan taat kepada Allah, atau justru menggunakan nikmat untuk semakin zalim?
13. PERINGATAN UNTUK MASYARAKAT: JANGAN NORMALISASI KEZALIMAN
Ayat ini tidak boleh kita gunakan untuk menunjuk orang lain sambil berkata:
“Itu akibat kezalimannya.”
Tidak.
Pelajaran pertama harus diarahkan kepada diri sendiri.
Sebelum bertanya:
“Siapa yang zalim?”
bertanyalah:
“Apakah saya sedang berlaku zalim?”
Sebelum kita berbicara tentang kehancuran suatu masyarakat, lihatlah diri kita.
Apakah di rumah ada kezaliman?
Apakah dalam pekerjaan ada kezaliman?
Apakah dalam perdagangan ada kezaliman?
Apakah dalam pendidikan ada kezaliman?
Apakah dalam kepemimpinan ada kezaliman?
Apakah dalam pergaulan ada kezaliman?
Apakah kita pernah menggunakan kelemahan seseorang untuk keuntungan diri kita?
Apakah kita pernah mengambil hak orang lain lalu menganggapnya biasa?
Jamaah...
Kezaliman yang dianggap kecil dan terus dipelihara dapat menjadi besar di sisi Allah.
14. JANGAN TERTIPU OLEH “MASIH AMAN”
Ada orang berkata:
“Saya sudah lama berbuat dosa, tetapi tidak terjadi apa-apa.”
Justru itu seharusnya menjadi kesempatan untuk takut dan bertobat.
Allah berfirman:
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya:
“Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka itu baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tenggang waktu kepada mereka hanyalah agar dosa mereka bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
(QS. Ali 'Imran: 178)
Karena itu:
tertundanya hukuman bukan berarti hilangnya hukuman.
panjangnya umur bukan berarti panjangnya kesempatan tanpa batas.
kekayaan bukan berarti keridhaan Allah.
kekuasaan bukan berarti keselamatan.
15. ADA “مَوْعِدٌ” — ADA WAKTU YANG DITENTUKAN
Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَّوْعِدًا
“Dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.”
Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا أَيْ وَقْتًا مَعْلُومًا
“Dan Kami telah menetapkan bagi kebinasaan mereka suatu waktu yang telah diketahui/ditentukan.”
Beliau juga menjelaskan bahwa مَهْلِك berkaitan dengan waktu atau keadaan kebinasaan mereka.[^7]
Jadi tidak ada yang terjadi di luar ilmu Allah.
Tidak terlalu cepat.
Tidak terlalu lambat.
Tidak salah waktu.
Tidak salah sasaran.
Allah Maha Mengetahui.
Allah Maha Adil.
16. PELAJARAN BESAR: KESEMPATAN ADALAH RAHMAT
Jamaah...
Kalau hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup...
Jangan sia-siakan.
Kalau Allah masih memberi kita kesempatan untuk shalat...
Jangan sia-siakan.
Kalau Allah masih memberi kesempatan meminta maaf...
Jangan sia-siakan.
Kalau masih ada orang yang haknya pernah kita ambil...
Kembalikan.
Kalau masih ada dosa yang kita lakukan...
Tinggalkan.
Kalau hubungan dengan Allah sedang jauh...
Dekatkan kembali.
Karena kita tidak tahu:
kapan “مَوْعِد” kita tiba.
Kita tidak tahu kapan kesempatan kita berakhir.
17. AYAT INI BUKAN UNTUK MEMBUAT KITA PUTUS ASA
Perhatikan urutannya.
Ayat 58:
وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ
“Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang.”
Kemudian ayat 59:
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim.”
Ini adalah pendidikan iman:
harap dan takut.
Harap kepada rahmat Allah.
Takut terhadap dosa.
Harap terhadap ampunan.
Takut terhadap pertanggungjawaban.
Harap kepada surga.
Takut terhadap neraka.
Jangan hanya takut sampai putus asa.
Jangan hanya berharap sampai merasa aman.
18. BAGI ORANG YANG SUDAH BERBUAT DOSA, PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Maka jangan gunakan QS. Al-Kahf ayat 59 untuk berkata:
“Orang berdosa pasti binasa.”
Tidak.
Yang benar:
orang yang berdosa harus segera kembali kepada Allah.
Selama pintu taubat terbuka, jangan menyerah.
19. RENUNGAN: JANGAN MENUNGGU ALLAH MENCABUT KESEMPATAN
Jamaah yang dirahmati Allah...
Allah sudah memberi kita banyak kesempatan.
Kesempatan ketika kita bangun pagi.
Kesempatan ketika kita masih sehat.
Kesempatan ketika kita masih bisa membaca Al-Qur'an.
Kesempatan ketika masih bisa bersujud.
Kesempatan ketika masih bisa meminta maaf.
Kesempatan ketika masih bisa memperbaiki keluarga.
Kesempatan ketika masih bisa mengembalikan hak manusia.
Tetapi kita tidak tahu...
Apakah kesempatan itu masih akan datang besok?
Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir bagi seseorang untuk bertobat.
Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir untuk meminta maaf.
Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki shalat.
Mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir untuk meninggalkan sebuah dosa.
Maka jangan berkata:
“Nanti.”
Karena kematian tidak pernah meminta izin kepada manusia.
20. TIGA PESAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 59
PERTAMA — JANGAN MERASA AMAN DARI DOSA
Allah memberi waktu bukan berarti meridhai dosa.
Gunakan waktu untuk memperbaiki diri.
KEDUA — JANGAN MENZALIMI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN
Kezaliman dapat menghancurkan individu, keluarga, bahkan masyarakat.
Maka:
tinggalkan kezaliman sebelum kezaliman menjadi kebiasaan.
KETIGA — JANGAN MENUNDA TAUBAT
Allah telah memberi kita kesempatan.
Tetapi kita tidak mengetahui kapan kesempatan itu berakhir.
Maka ketika hati terdorong untuk bertobat:
segeralah bertobat.
Ketika sadar telah melakukan kesalahan:
segeralah memperbaiki.
Ketika sadar telah mengambil hak orang:
segeralah mengembalikan.
Ketika sadar jauh dari Allah:
segeralah kembali.
PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
QS. Al-Kahf ayat 59 seakan-akan berkata kepada kita:
“Lihatlah sejarah.”
Ada negeri-negeri yang dahulu ramai.
Ada manusia yang dahulu kuat.
Ada manusia yang dahulu merasa aman.
Tetapi akhirnya mereka menjadi sejarah.
Bukan karena Allah menzalimi mereka.
Tetapi karena mereka memilih kezaliman.
Allah memberi waktu.
Allah memberi peringatan.
Allah mengutus rasul.
Allah memberikan kesempatan.
Namun ketika waktu yang telah ditentukan tiba...
tidak ada yang dapat memajukannya.
Tidak ada yang dapat menundanya.
Maka sebelum kita menjadi bagian dari sejarah...
jadilah orang yang bertobat.
Sebelum nama kita hanya disebut dalam kenangan...
pastikan kita memiliki amal yang akan menemani kita.
Sebelum kesempatan ditutup...
gunakan kesempatan itu untuk kembali kepada Allah.
Mari kita pulang dari majelis ini bukan dengan rasa takut yang membuat kita putus asa.
Tetapi dengan rasa takut yang membuat kita berubah.
Dan bukan dengan harapan yang membuat kita terlena.
Tetapi dengan harapan yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ يَا غَفُورُ يَا رَحِيمُ، اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ، وَلَا تُؤَاخِذْنَا بِذُنُوبِنَا.
“Ya Allah, Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, ampunilah dosa-dosa kami dan rahmatilah kami dengan rahmat-Mu. Jangan Engkau hukum kami karena dosa-dosa kami.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نَظْلِمَ أَنْفُسَنَا، أَوْ نَظْلِمَ عِبَادَكَ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menzalimi diri kami dan dari menzalimi hamba-hamba-Mu.”
اللَّهُمَّ رُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا، وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى، وَأَصْلِحْ لَنَا مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا.
“Ya Allah, kembalikanlah kami kepada-Mu dengan sebaik-baik kembali. Terimalah taubat kami dengan taubat yang sungguh-sungguh. Ampunilah apa yang telah berlalu dan perbaikilah sisa umur kami.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ تُؤَخِّرُهُمُ الْفُرَصُ فَيَغْتَرُّونَ، وَلَا مِمَّنْ يَرَوْنَ حِلْمَكَ فَيُصِرُّونَ عَلَى الْمَعَاصِي.
“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang diberi banyak kesempatan lalu tertipu, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang melihat kesabaran-Mu lalu terus-menerus dalam kemaksiatan.”
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
“Ya Allah, tutuplah kehidupan kami dengan iman dan takwa. Jadikan amal terbaik kami adalah amal-amal penutup kehidupan kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[^1]: ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:59. As-Sa'di menekankan bahwa kebinasaan terjadi karena kezaliman mereka, bukan karena kezaliman dari Allah, dan waktu kebinasaan telah ditetapkan.
[^2]: Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:59. Ath-Thabari menjelaskan bahwa umat-umat terdahulu dibinasakan karena kufur kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta bahwa maw'id menunjukkan waktu/ajal yang telah ditentukan.
[^3]: Isma'il bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:59. Ibn Katsir menjelaskan bahwa umat terdahulu dibinasakan karena kekufuran dan pembangkangan mereka serta memberikan peringatan agar manusia tidak mengulangi jalan mereka.
[^4]: Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah, hadis tentang penangguhan bagi orang zalim. Nabi ﷺ membaca QS. Hud:102 setelah bersabda bahwa Allah memberi tenggang waktu kepada orang zalim, tetapi ketika Dia menghukumnya, ia tidak dapat melarikan diri.
[^5]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3381; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2980a. Hadis tentang larangan memasuki tempat kaum Tsamud yang telah diazab kecuali dengan keadaan menangis/merenung.
[^6]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 3380. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Nabi ﷺ ketika melewati Al-Hijr menutupi wajahnya dan mempercepat perjalanan setelah memberikan peringatan kepada para sahabat.
[^7]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:59. Al-Qurthubi menjelaskan struktur ayat dan makna maw'id sebagai waktu yang telah diketahui/ditentukan bagi kebinasaan.
KALIMAT INTI UNTUK DISAMPAIKAN
اللَّهُ يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ، وَيَغْفِرُ وَلَا يُبَرِّرُ الظُّلْمَ، وَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُ فَلَا يُقَدَّمُ وَلَا يُؤَخَّرُ.
“Allah memberi tenggang waktu tetapi tidak mengabaikan. Allah mengampuni tetapi tidak membenarkan kezaliman. Dan apabila waktu yang telah ditetapkan tiba, ia tidak dapat dimajukan dan tidak pula dapat ditunda.”
Maka jangan menunggu hukuman untuk mulai bertobat. Gunakan masa tenggang sebagai rahmat Allah untuk kembali kepada-Nya.
Post a Comment