Jangan Tertipu dengan Harta dan Pengikut


🌿 MATERI CERAMAH

“Jangan Tertipu dengan Harta dan Pengikut”

Tadabbur QS. Al-Kahf: 34

📖 Firman Allah ﷻ

وَّكَانَ لَهٗ ثَمَرٌۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَنَا۠ اَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا

Artinya:

“Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.’”
(QS. Al-Kahf: 34)


🌱 A. PEMBUKAAN

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada penyakit yang kadang-kadang tidak terasa ketika masuk ke dalam hati manusia.

Penyakit itu bukan penyakit badan, tetapi penyakit kesombongan.

Seseorang mulai merasa:

  • “Saya lebih kaya.”
  • “Saya lebih pintar.”
  • “Saya lebih sukses.”
  • “Saya punya jabatan.”
  • “Saya punya banyak pengikut.”
  • “Saya lebih berpengaruh.”
  • “Anak saya lebih hebat.”
  • “Keluarga saya lebih terpandang.”

Yang lebih berbahaya lagi adalah ketika seseorang mulai menganggap semua keberhasilannya sebagai hasil kemampuan dirinya sendiri.

“Ini karena saya.”

“Saya hebat.”

“Saya punya kemampuan.”

Padahal Allah-lah yang memberikan semuanya.

Inilah pelajaran besar yang Allah abadikan dalam kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.


🌳 B. KAYA ITU TIDAK SALAH, YANG BERBAHAYA ADALAH SOMBONG KARENA KEKAYAAN

Allah tidak mengatakan bahwa memiliki harta itu dosa.

Yang menjadi masalah adalah ketika harta membuat seseorang lupa kepada Allah.

Lihatlah pemilik kebun dalam ayat ini.

Allah memberikan kepadanya:

  • kebun yang subur,
  • hasil yang melimpah,
  • kekayaan,
  • banyak pengikut,
  • banyak pembantu,
  • kedudukan,
  • dan berbagai kenikmatan dunia.

Tetapi semua kenikmatan itu justru membuatnya sombong.

Dia berkata:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”

Perhatikan kata “أَنَا – ANA”, “AKU”.

Seolah-olah dia mengatakan:

“Lihat siapa saya!”

Inilah awal kehancuran seseorang ketika kata “aku” mulai mengalahkan kesadaran bahwa semua berasal dari Allah.


🌾 C. HARTA ADALAH AMANAH, BUKAN BUKTI KEMULIAAN

Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ

Artinya:

“Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.”
(QS. An-Naḥl: 53)

💡 Pelajaran

Apa yang kita miliki sebenarnya bukan milik mutlak kita.

Kesehatan kita dari Allah.

Kecerdasan kita dari Allah.

Pekerjaan kita dari Allah.

Anak-anak kita dari Allah.

Rumah kita dari Allah.

Kendaraan kita dari Allah.

Rezeki kita dari Allah.

Bahkan kemampuan kita untuk bekerja mencari rezeki pun merupakan pemberian Allah.

Maka seorang mukmin ketika mendapatkan nikmat tidak mengatakan:

“Saya hebat.”

Tetapi mengatakan:

“هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي”

“Ini adalah karunia Tuhanku.”

Sebagaimana ucapan Nabi Sulaiman عليه السلام:

قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Artinya:

“Dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).’”
(QS. An-Naml: 40)

🔎 Perhatikan!

Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang luar biasa.

Tetapi ketika mendapatkan nikmat, beliau tidak berkata:

“Ini karena saya hebat.”

Beliau berkata:

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia Tuhanku.”

Inilah perbedaan antara orang kaya yang bersyukur dan orang kaya yang sombong.


⚠️ D. KESOMBONGAN BISA MENGHANCURKAN AMAL

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras mengenai kesombongan.

Beliau bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً

Rasulullah ﷺ menjawab:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarrah.”

Seseorang berkata, “Sesungguhnya seseorang suka jika pakaiannya bagus dan sandalnya bagus.”

Beliau ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”[^1]

🔎 Dua ciri kesombongan

Rasulullah ﷺ menjelaskan kesombongan dengan dua penyakit:

1. بَطَرُ الْحَقِّ

Menolak kebenaran.

Misalnya:

“Saya tidak mau menerima nasihat karena saya lebih tua.”

“Saya tidak mau mengakui kesalahan karena saya punya jabatan.”

“Saya tidak peduli dengan dalil karena saya merasa lebih tahu.”

2. غَمْطُ النَّاسِ

Meremehkan manusia.

Misalnya:

“Dia miskin.”

“Dia cuma orang biasa.”

“Pendidikannya rendah.”

“Dia bukan siapa-siapa.”

Padahal bisa jadi orang yang kita remehkan lebih mulia di sisi Allah daripada kita.


🌿 E. UKURAN KEMULIAAN BUKAN HARTA

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)

Allah tidak mengatakan:

“Yang paling kaya adalah yang paling mulia.”

Allah tidak mengatakan:

“Yang paling banyak pengikutnya adalah yang paling mulia.”

Allah juga tidak mengatakan:

“Yang paling tinggi jabatannya adalah yang paling mulia.”

Tetapi:

أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”


❤️ F. JANGAN MEMBANDINGKAN NIKMAT KITA DENGAN ORANG LAIN

Pemilik kebun itu terjebak dalam budaya perbandingan:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا

“Hartaku lebih banyak daripada hartamu.”

Ini penyakit yang sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.

Media sosial membuat manusia mudah membandingkan:

Rumah saya dengan rumah orang lain.

Mobil saya dengan mobil orang lain.

Penghasilan saya dengan penghasilan orang lain.

Anak saya dengan anak orang lain.

Popularitas saya dengan popularitas orang lain.

Akibatnya, hati tidak pernah puas.

Allah berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya:

“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Ṭāhā: 131)

💡 Nasihat

Jangan terlalu sering melihat:

“Apa yang orang lain punya?”

Tetapi lihat:

“Apa yang Allah sudah berikan kepada saya?”

Kemudian tanyakan:

“Sudahkah saya bersyukur?”


💰 G. HARTA YANG BANYAK TIDAK MENJAMIN KEBAHAGIAAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”[^2]

Orang bisa mempunyai rumah besar tetapi hatinya sempit.

Bisa mempunyai uang banyak tetapi selalu takut kehilangan.

Bisa mempunyai banyak pengikut tetapi merasa sendirian.

Bisa terkenal di dunia tetapi tidak dikenal oleh penduduk langit.

Sebaliknya, seseorang bisa sederhana tetapi hatinya tenang.

Karena itu ukuran kekayaan bukan hanya:

berapa yang kita miliki,

tetapi:

seberapa puas hati kita kepada pemberian Allah.


🌧️ H. JANGAN MERASA AMAN KARENA KEKAYAAN

Inilah kesalahan besar pemilik kebun.

Dia mengira:

“Saya punya harta.”

“Saya punya pengikut.”

“Saya punya kekuatan.”

Seolah-olah semua itu menjamin masa depannya.

Padahal beberapa ayat kemudian Allah menunjukkan betapa cepatnya semua itu bisa hilang.

Allah berfirman:

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا

Artinya:

“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu dia membolak-balikkan kedua telapak tangannya karena menyesal terhadap apa yang telah dibelanjakannya untuk itu, sedangkan kebun itu telah roboh hingga ke akar-akarnya.”
(QS. Al-Kahf: 42)

Kemarin dia berkata:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا

“Hartaku lebih banyak.”

Tetapi akhirnya hartanya habis.

Kemarin dia merasa kuat.

Akhirnya tidak ada yang mampu menyelamatkannya.


⚡ I. KISAH INI MENGAJARKAN: JANGAN MENYANDARKAN HATI KEPADA SEBAB

Bekerja itu wajib.

Berusaha itu wajib.

Mencari nafkah itu ibadah.

Membangun bisnis itu boleh.

Menjadi kaya juga boleh.

Tetapi hati harus tetap bergantung kepada Allah.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Aṭ-Ṭalāq: 3)

Kita bekerja dengan tangan.

Tetapi kita berharap dengan hati kepada Allah.

Kita berdagang menggunakan kemampuan.

Tetapi kita yakin rezeki datang dari Allah.

Kita memiliki jabatan.

Tetapi kita sadar bahwa jabatan itu amanah.

Kita memiliki banyak pengikut.

Tetapi kita sadar bahwa manusia bisa pergi kapan saja.


🌹 J. JANGAN SOMBONG KETIKA NAIK, DAN JANGAN PUTUS ASA KETIKA TURUN

Kehidupan dunia selalu berubah.

Hari ini kita punya.

Besok mungkin kehilangan.

Hari ini sehat.

Besok sakit.

Hari ini terkenal.

Besok dilupakan.

Hari ini berkuasa.

Besok tidak berdaya.

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

Artinya:

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.”
(QS. Āli ‘Imrān: 140)

Maka ketika mendapatkan nikmat:

BERSYUKURLAH.

Ketika kehilangan:

BERSABARLAH.

Ketika berhasil:

RENDAHKAN HATI.

Ketika gagal:

JANGAN BERPUTUS ASA.


📚 K. PENJELASAN PARA ULAMA

1. Imam Ibnu Katsir رحمه الله

Dalam menjelaskan ucapan pemilik kebun:

أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang tersebut membanggakan banyaknya harta dan banyaknya keturunan/pengikut yang dimilikinya dibandingkan sahabatnya yang beriman.

Inti pelajarannya adalah bahwa kekayaan dan banyaknya pendukung tidak menunjukkan kemuliaan seseorang di hadapan Allah.

[^3]


2. Imam As-Sa'di رحمه الله

Beliau memberikan pelajaran penting bahwa manusia sering tertipu dengan kenikmatan dunia.

Allah memberikan kenikmatan bukan selalu sebagai tanda bahwa Allah meridhai seseorang.

Kenikmatan juga bisa menjadi ujian.

Allah berfirman:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

“Untuk Kami uji mereka dengannya.”

Maka kekayaan sebenarnya merupakan pertanyaan dari Allah:

“Apa yang akan kamu lakukan dengan kekayaan ini?”

Apakah digunakan untuk:

  • zakat,
  • sedekah,
  • membantu keluarga,
  • menolong fakir miskin,
  • membangun pendidikan,
  • dakwah,
  • atau justru untuk kesombongan?

[^4]


🕌 L. HARTA AKAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Artinya:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.”[^5]

Perhatikan:

Bukan hanya ditanya:

“Berapa banyak hartamu?”

Tetapi:

مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ

“Dari mana hartamu diperoleh?”

Dan:

وَفِيمَ أَنْفَقَهُ

“Untuk apa hartamu dibelanjakan?”


🪙 M. JADI, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

1️⃣ Kalau Allah memberikan harta → BERSYUKUR

Jangan sombong.

Ucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Segala puji bagi Allah.”


2️⃣ Kalau Allah memberikan jabatan → RENDAH HATI

Jabatan bukan kehormatan semata.

Jabatan adalah amanah.


3️⃣ Kalau Allah memberikan ilmu → AJARKAN

Jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk merendahkan orang lain.

Semakin berilmu seharusnya semakin tawadhu.


4️⃣ Kalau Allah memberikan pengikut → JANGAN MERASA HEBAT

Popularitas manusia tidak ada artinya jika Allah tidak meridhai.


5️⃣ Kalau Allah mengambil sebagian nikmat → SABAR

Jangan merasa dunia berakhir.

Karena yang kita kehilangan hanyalah titipan.


❤️ N. TIGA PERTANYAAN UNTUK MUHASABAH

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

❓ Pertama:

Apakah nikmat yang saya miliki membuat saya semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari Allah?

❓ Kedua:

Ketika mendapatkan keberhasilan, apakah saya berkata “ini karena saya” atau “ini karena karunia Allah”?

❓ Ketiga:

Apakah saya pernah meremehkan orang lain karena harta, jabatan, pendidikan, pekerjaan, atau status sosialnya?

Jika jawabannya iya, maka kisah pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf ini adalah peringatan untuk kita.


🌙 O. PENUTUP

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kita boleh kaya.

Tetapi jangan menjadi budak kekayaan.

Kita boleh memiliki jabatan.

Tetapi jangan menjadi budak jabatan.

Kita boleh memiliki banyak pengikut.

Tetapi jangan merasa lebih mulia daripada orang lain.

Karena pada akhirnya:

Rumah akan kita tinggalkan.

Mobil akan kita tinggalkan.

Uang akan kita tinggalkan.

Jabatan akan kita tinggalkan.

Pengikut akan kita tinggalkan.

Yang akan menemani kita hanyalah:

IMAN, AMAL SALEH, DAN RAHMAT ALLAH.

Allah mengingatkan:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Artinya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahf: 46)

🌿 Maka mari kita berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا

“Ya Allah, jadikanlah harta kami berada di tangan kami dan jangan Engkau jadikan harta itu berada di dalam hati kami.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا مُتَوَاضِعًا، وَنَفْسًا شَاكِرَةً، وَمَالًا حَلَالًا مُبَارَكًا.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang tawadhu, jiwa yang pandai bersyukur, serta harta yang halal dan penuh keberkahan.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


📚 Catatan Kaki / Rujukan

[^1]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Taḥrīm al-Kibr wa Bayānuhu, hadis no. 91.

[^2]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, Bāb al-Ginā Ginā an-Nafs; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb az-Zakāh.

[^3]: Ismā‘īl bin ‘Umar Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 34.

[^4]: ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 32–44 dan QS. Ṭāhā: 131.

[^5]: At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidhī, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah, Bāb Mā Jā’a fī Syu’ūn al-Qiyāmah, hadis no. 2417.

Tidak ada komentar