KETIKA HARTA MENJADI UJIAN

🌿 KETIKA HARTA MENJADI UJIAN

Belajar dari Dua Pemilik Kebun

Tafsir QS. Al-Kahf Ayat 32

A. MUQADDIMAH

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini marilah kita tadabburi firman Allah dalam QS. Al-Kahf ayat 32. Ayat ini membuka sebuah kisah tentang dua orang laki-laki, yang salah satunya mendapatkan karunia luar biasa berupa dua kebun yang sangat subur.

Allah ﷻ berfirman:

B. QS. AL-KAHF AYAT 32

۞ وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِاَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ اَعْنَابٍ وَّحَفَفْنٰهُمَا بِنَخْلٍ وَّجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًاۗ

Artinya:

“Dan berikanlah (Muhammad) kepada mereka sebuah perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang (yang kafir) Kami beri dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara keduanya (kebun itu) Kami buatkan ladang.”


C. GAMBARAN KISAH DALAM AYAT

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk memberikan sebuah perumpamaan kepada manusia.

Perumpamaan itu menggambarkan dua orang:

  • satu orang mendapatkan kekayaan luar biasa,
  • sementara yang satu lagi tidak memiliki kemewahan seperti itu.

Salah seorang diberi dua kebun anggur.

Allah juga mengelilinginya dengan pohon-pohon kurma.

Di antara kedua kebun tersebut terdapat ladang.

Jadi gambaran kekayaannya sangat lengkap:

🍇 anggur,
🌴 kurma,
🌾 tanaman pertanian,
💧 dan dalam ayat berikutnya disebutkan adanya sungai yang mengalir.

Ini bukan sekadar kebun biasa.

Ini adalah gambaran kemakmuran yang sangat sempurna menurut ukuran manusia.

Namun yang menjadi persoalan bukanlah kebunnya.

Yang menjadi persoalan adalah:

Apa yang terjadi pada hati manusia ketika ia memiliki kebun tersebut?

Karena harta bisa menjadi nikmat, tetapi harta juga bisa menjadi fitnah dan ujian.


D. PELAJARAN PERTAMA:

HARTA ADALAH NIKMAT, TETAPI JUGA UJIAN

Jangan sampai kita memahami kisah ini bahwa Islam melarang seseorang menjadi kaya.

Tidak!

Islam tidak melarang kekayaan.

Islam tidak melarang memiliki rumah bagus, kendaraan baik, usaha berkembang, kebun luas atau tabungan banyak.

Yang menjadi masalah adalah ketika:

Harta berada di tangan, tetapi juga masuk ke dalam hati.

Allah ﷻ berfirman:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا ۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

QS. Al-Hadid: 20

Artinya:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

Perhatikan urutannya:

لَعِبٌ — permainan,

وَلَهْوٌ — senda gurau,

وَزِينَةٌ — perhiasan,

وَتَفَاخُرٌ — berbangga-banggaan,

وَتَكَاثُرٌ — berlomba memperbanyak harta dan anak.

Inilah salah satu penyakit manusia:

Awalnya mencari harta untuk kebutuhan.
Kemudian mencari harta untuk kenyamanan.
Kemudian mencari harta untuk gengsi.
Akhirnya mencari harta untuk mengalahkan orang lain.

Di sinilah harta berubah dari nikmat menjadi fitnah.


E. KOMENTAR IMAM AS-SA'DI

Imam As-Sa'di رحمه الله menjelaskan bahwa dua laki-laki dalam perumpamaan ini menggambarkan:

الشَّاكِرَ لِنِعْمَةِ اللَّهِ، وَالْكَافِرَ لَهَا

Artinya:

“Orang yang bersyukur terhadap nikmat Allah dan orang yang mengingkari nikmat tersebut.”

Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan utama kisah ini bukanlah mencari tahu nama kedua orang tersebut, kapan mereka hidup atau di mana mereka tinggal.

Beliau mengatakan:

وَلَيْسَ مَعْرِفَةُ أَعْيَانِ الرَّجُلَيْنِ، وَفِي أَيِّ زَمَانٍ أَوْ مَكَانٍ هُمَا فِيهِ فَائِدَةٌ أَوْ نَتِيجَةٌ، فَالنَّتِيجَةُ تَحْصُلُ مِنْ قِصَّتِهِمَا فَقَطْ

Artinya:

“Mengetahui identitas kedua laki-laki itu, pada zaman atau tempat mana mereka hidup, tidaklah memberikan manfaat atau tujuan. Pelajaran justru diperoleh dari kisah mereka.” [1]

Ini pelajaran penting.

Jangan sampai kita sibuk bertanya:

“Siapa nama orang kaya itu?”

Tetapi lupa bertanya:

“Apakah saya sedang memiliki sifat orang kaya yang kufur terhadap nikmat atau sifat orang beriman yang bersyukur?”


F. PELAJARAN KEDUA:

JANGAN MENGUKUR KEMULIAAN DENGAN HARTA

Inilah salah satu pesan besar dari kisah dua pemilik kebun.

Manusia sering menggunakan harta sebagai ukuran kemuliaan:

“Dia orang kaya, berarti hebat.”

“Rumahnya besar, berarti sukses.”

“Mobilnya mahal, berarti berhasil.”

“Jabatannya tinggi, berarti mulia.”

Padahal ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah itu.

Allah ﷻ berfirman:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

QS. Al-Hujurat: 13

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Maka:

kaya bukan berarti mulia.

miskin bukan berarti hina.

banyak harta bukan tanda pasti dicintai Allah.

sedikit harta bukan tanda pasti dibenci Allah.

Yang menentukan kemuliaan adalah iman dan ketakwaan.


G. PELAJARAN KETIGA:

KEKAYAAN HARUS MELAHIRKAN SYUKUR

Allah ﷻ berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

QS. Ibrahim: 7

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”

Syukur bukan hanya mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ

Syukur mempunyai tiga unsur:

1. Syukur dengan hati

Meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

2. Syukur dengan lisan

Memuji Allah dan mengakui nikmat-Nya.

3. Syukur dengan perbuatan

Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah.

Kalau Allah memberi uang, maka uang digunakan untuk:

  • nafkah keluarga,
  • zakat,
  • sedekah,
  • membantu orang yang membutuhkan,
  • pendidikan,
  • dakwah,
  • dan berbagai kebaikan.

Kalau Allah memberikan ilmu, maka ilmu diajarkan.

Kalau Allah memberikan jabatan, maka jabatan digunakan untuk melayani.

Kalau Allah memberikan kesehatan, maka kesehatan digunakan untuk beribadah.


H. PELAJARAN KEEMPAT:

JANGAN TERTIPU DENGAN KESUKSESAN DUNIA

Perhatikan kebun dalam kisah ini.

Allah memberikan:

جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ

“dua kebun anggur.”

Kemudian:

وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ

“dikelilingi pohon-pohon kurma.”

Dan:

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا

“di antara keduanya terdapat tanaman.”

Artinya, dari sisi duniawi, orang tersebut memiliki hampir semua yang diinginkan manusia.

Namun kesempurnaan materi tidak menjamin kesempurnaan iman.

Seseorang bisa:

  • kaya tetapi sombong,
  • sukses tetapi lalai,
  • terkenal tetapi jauh dari Allah,
  • berpendidikan tinggi tetapi tidak mengenal Rabb-nya,
  • memiliki banyak harta tetapi miskin syukur.

Sebaliknya seseorang bisa sederhana tetapi:

  • hatinya kaya,
  • lisannya bersyukur,
  • tangannya dermawan,
  • rajin beribadah,
  • dan dicintai Allah.

I. PELAJARAN KELIMA:

HARTA BISA MENJADI UJIAN YANG LEBIH BERAT DARIPADA KEMISKINAN

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Artinya:

“Surga dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.”
(HR. Muslim no. 2822)

Mengapa kisah dua pemilik kebun sangat penting?

Karena kekayaan dapat membuat seseorang:

  • merasa tidak membutuhkan Allah,
  • meremehkan orang miskin,
  • menyombongkan diri,
  • mengejar kenikmatan tanpa batas,
  • melupakan kematian,
  • dan merasa dunia akan bertahan selamanya.

Inilah yang akan kita lihat pada ayat-ayat berikutnya.


J. PELAJARAN KEENAM:

JANGAN SALAH MENILAI ORANG LAIN HANYA DARI KONDISI EKONOMINYA

Ayat ini juga berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, ketika Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهٗ

Artinya:

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang dengan mengharap keridaan-Nya.”

Kemudian Allah memberikan perumpamaan dua orang.

Seolah-olah Allah mengajarkan:

Jangan menilai manusia berdasarkan kemewahan dunia.

Karena bisa jadi:

orang yang sederhana lebih mulia di sisi Allah daripada orang yang kaya raya.

Inilah sebabnya Rasulullah ﷺ sangat menghormati orang-orang miskin yang beriman.


K. PELAJARAN KETUJUH:

KEKAYAAN BUKAN MILIK MUTLAK KITA

Perhatikan kata yang digunakan Allah:

جَعَلْنَا

“Kami menjadikan.”

Bukan:

“Dia menciptakan kebunnya sendiri.”

Allah-lah yang memberikan:

  • tanah,
  • air,
  • matahari,
  • kesuburan,
  • kesehatan,
  • kemampuan bekerja,
  • kesempatan,
  • pelanggan,
  • pasar,
  • dan rezeki.

Karena itu seorang Muslim tidak boleh mengatakan dengan kesombongan:

“Saya kaya karena saya hebat.”

Yang benar:

“Allah yang memberi saya kemampuan dan rezeki.”

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ

QS. An-Nahl: 53

Artinya:

“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”

Kalau seseorang memahami ayat ini, maka kekayaan justru membuatnya semakin tawadhu.


L. PELAJARAN KEDELAPAN:

KEKAYAAN YANG PALING BERBAHAYA ADALAH KETIKA MEMBUAT HATI MERASA TIDAK MEMBUTUHKAN ALLAH

Allah mengingatkan:

كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰى ۙ اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰى

QS. Al-'Alaq: 6–7

Artinya:

“Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”

Masalah bukan pada banyaknya harta.

Masalahnya adalah ketika seseorang merasa:

“Saya tidak membutuhkan Allah.”

Ketika sakit, baru mencari Allah.

Ketika bangkrut, baru menangis kepada Allah.

Ketika mendapat masalah, baru rajin berdoa.

Padahal seharusnya:

Saat kaya kita dekat dengan Allah.
Saat miskin kita dekat dengan Allah.
Saat sehat kita dekat dengan Allah.
Saat sakit kita dekat dengan Allah.
Saat berhasil kita dekat dengan Allah.
Saat gagal kita juga dekat dengan Allah.


M. KOMENTAR IMAM AL-QURTUBI

Imam Al-Qurthubi menghubungkan perumpamaan dua laki-laki ini dengan sikap orang yang membanggakan dunia dan enggan bersama orang-orang beriman.

Beliau berkata:

هَذَا مَثَلٌ لِمَنْ يَتَعَزَّزُ بِالدُّنْيَا وَيَسْتَنْكِفُ عَنْ مُجَالَسَةِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya:

“Ini merupakan perumpamaan bagi orang yang membanggakan diri dengan dunia dan enggan duduk bersama orang-orang beriman.” [2]

Ini sangat relevan untuk kehidupan kita.

Jangan sampai seseorang merasa lebih terhormat karena:

  • lebih kaya,
  • lebih berpendidikan,
  • lebih terkenal,
  • lebih tinggi jabatannya,
  • lebih banyak pengikutnya,
  • lebih bagus rumahnya,

kemudian meremehkan orang lain.

Karena Allah tidak menilai manusia berdasarkan merek pakaian, kendaraan atau jumlah rekeningnya.

Allah menilai hati dan amalnya.


N. APA YANG MEMBEDAKAN ORANG KAYA YANG DICINTAI ALLAH?

Bukan jumlah hartanya.

Tetapi cara dia memperlakukan hartanya.

Ada orang kaya yang hartanya menjadi jalan menuju surga.

Ada pula orang kaya yang hartanya menjadi jalan menuju neraka.

Perbedaannya adalah:

Orang kaya yang bersyukur:

“Ini amanah dari Allah.”

Orang kaya yang sombong:

“Ini hasil kerja keras saya.”


Orang kaya yang bersyukur:

“Bagaimana saya menggunakan harta ini untuk Allah?”

Orang kaya yang lalai:

“Bagaimana saya menikmati harta ini sebanyak-banyaknya?”


Orang kaya yang bertakwa:

“Berapa yang bisa saya sedekahkan?”

Orang kaya yang cinta dunia:

“Berapa banyak lagi yang bisa saya kumpulkan?”


O. HARTA YANG DIGUNAKAN UNTUK KEBAIKAN AKAN MENJADI BEKAL AKHIRAT

Allah ﷻ berfirman:

وَالْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

QS. Al-Kahf: 46

Artinya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Perhatikan!

Allah tidak mengatakan:

“Harta itu haram.”

Tetapi Allah mengatakan:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”

Artinya harta boleh dinikmati.

Tetapi jangan sampai perhiasan dunia mengalahkan tujuan akhirat.


P. NASIHAT UNTUK ORANG YANG MEMILIKI REZEKI

Jika Allah memberikan kelapangan rezeki kepada kita, maka lakukan lima hal:

1. Ucapkan Alhamdulillah

Jangan merasa semua berasal dari kemampuan sendiri.

2. Tunaikan zakat

Harta yang mencapai syarat wajib zakat harus ditunaikan haknya.

3. Perbanyak sedekah

Karena di dalam harta kita terdapat hak orang lain yang membutuhkan.

4. Gunakan untuk keluarga

Nafkah keluarga adalah ibadah apabila diniatkan karena Allah.

5. Gunakan untuk dakwah dan kemaslahatan

Bangun masjid, bantu pendidikan, bantu fakir miskin, bantu anak yatim, bantu orang yang kesulitan dan berbagai amal lainnya.


Q. NASIHAT UNTUK ORANG YANG BELUM DIBERI KELAPANGAN

Jangan merasa hina hanya karena belum kaya.

Jangan merasa gagal hanya karena belum memiliki rumah besar.

Jangan merasa rendah hanya karena kendaraan kita sederhana.

Jangan iri melihat kehidupan orang lain.

Boleh bekerja keras.

Boleh bercita-cita kaya.

Boleh berusaha meningkatkan ekonomi.

Tetapi jangan mengukur harga diri berdasarkan harta.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ukuran keberuntungan bukan sekadar banyaknya dunia.

Yang penting adalah keselamatan iman dan amal.


R. RENUNGAN UNTUK ORANG TUA

Kisah ini juga penting untuk pendidikan anak.

Jangan hanya mengajarkan:

“Nak, kamu harus sukses.”

Tetapi ajarkan:

“Nak, kalau kamu sukses, jangan lupa Allah.”

Jangan hanya mengatakan:

“Kamu harus punya banyak uang.”

Tetapi katakan:

“Kalau Allah memberimu banyak uang, jadilah orang yang banyak memberi.”

Jangan hanya mengajarkan anak mengejar prestasi.

Ajarkan pula:

  • syukur,
  • qanaah,
  • sedekah,
  • kejujuran,
  • kepedulian,
  • rendah hati,
  • dan tanggung jawab.

Karena anak yang kaya tetapi sombong belum tentu sukses.

Tetapi anak yang kaya dan bertakwa adalah nikmat besar bagi umat.


S. RENUNGAN UNTUK PARA PENDIDIK

Bagi seorang guru, kisah ini juga menjadi pelajaran.

Jangan mengukur keberhasilan siswa hanya dari:

  • ranking,
  • nilai,
  • prestasi,
  • sekolah lanjutan,
  • pekerjaan,
  • atau kekayaan.

Lebih jauh dari itu, kita ingin melahirkan generasi yang:

berilmu, beriman, berakhlak dan bermanfaat.

Karena pada akhirnya yang akan ditanyakan bukan:

“Berapa banyak yang kamu miliki?”

Tetapi:

“Apa yang kamu lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepadamu?”


T. TIGA PERTANYAAN UNTUK MUHASABAH

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing.

Pertama:

Apakah harta yang saya miliki membuat saya semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh dari Allah?

Kedua:

Ketika mendapatkan rezeki, apakah saya semakin banyak bersyukur atau semakin banyak membanggakan diri?

Ketiga:

Jika suatu hari semua harta saya hilang, apakah saya masih memiliki Allah?

Kalau jawabannya:

“Ya, saya masih memiliki Allah.”

Maka kita memiliki kekayaan yang paling besar.

Tetapi jika semua harta ada namun Allah tidak ada dalam hati kita, maka sesungguhnya kita sedang mengalami kerugian yang sangat besar.


U. PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 32 mengajarkan bahwa Allah mampu memberikan kekayaan yang luar biasa kepada seseorang.

Dua kebun anggur.

Pohon-pohon kurma.

Tanaman yang subur.

Dan nanti dalam ayat berikutnya kita akan melihat bagaimana kedua kebun tersebut menghasilkan buah yang melimpah.

Tetapi kisah ini bukan sekadar cerita tentang kebun.

Ini adalah cerita tentang hati manusia ketika mendapatkan dunia.

Maka jangan bertanya:

“Mengapa Allah memberi dia lebih banyak daripada saya?”

Tetapi bertanyalah:

“Apakah saya sudah mensyukuri apa yang Allah berikan kepada saya?”

Karena boleh jadi:

sedikit tetapi berkah lebih baik daripada banyak tetapi melalaikan.

sedikit tetapi membuat kita dekat kepada Allah lebih baik daripada banyak tetapi membuat kita lupa kepada Allah.

Dan jangan lupa:

Harta adalah nikmat jika berada di tangan orang yang bertakwa.
Tetapi harta bisa menjadi fitnah jika masuk ke dalam hati orang yang lalai.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang:

قَلْبُهُمْ غَنِيٌّ بِاللّٰهِ

“hatinya kaya karena Allah,”

bukan hanya kaya karena dunia.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ، وَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِغَفْلَتِنَا عَنْكَ.

“Ya Allah, jadikanlah harta kami sebagai sarana untuk membantu kami menaati-Mu, dan jangan Engkau jadikan harta itu sebagai sebab kami lalai dari-Mu.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


CATATAN DAN FOOTNOTE RUJUKAN

[1] عبد الرحمن بن ناصر السعدي، تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان، تفسير سورة الكهف، الآية 32. Imam As-Sa'di menekankan bahwa yang terpenting dari kisah ini adalah mengambil pelajaran dari keadaan kedua laki-laki tersebut, bukan berspekulasi tentang identitas mereka.

[2] محمد بن أحمد القرطبي، الجامع لأحكام القرآن، تفسير سورة الكهف، الآية 32. Al-Qurthubi mengaitkan perumpamaan ini dengan orang yang membanggakan dunia dan enggan bergaul dengan orang-orang beriman.

[3] عبد الرحمن بن ناصر السعدي، تيسير الكريم الرحمن، تفسير سورة الكهف، الآيتان 32–33. Beliau menjelaskan gambaran kebun tersebut sebagai bentuk kesempurnaan kenikmatan duniawi: kebun anggur, pohon kurma, tanaman, buah-buahan dan sungai.

[4] القرآن الكريم، سورة الحديد، الآية 20. Ayat ini menggambarkan kehidupan dunia sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, kebanggaan dan perlombaan dalam harta serta anak.

[5] صحيح مسلم، كتاب الجنة وصفة نعيمها وأهلها، حديث رقم 2822:
«حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ»
“Surga dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat.”

[6] القرآن الكريم، سورة إبراهيم، الآية 7:
﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari, sungguh azab-Ku sangat berat.”

[7] القرآن الكريم، سورة الكهف، الآية 46. Ayat ini menempatkan harta dan anak sebagai perhiasan dunia, sementara amal saleh yang kekal lebih baik sebagai pahala dan harapan di sisi Allah.


🌱 INTI CERAMAH DALAM SATU KALIMAT

“Jangan takut menjadi kaya, tetapi takutlah jika kekayaan membuat kita lupa kepada Allah; karena harta yang berada di tangan orang bertakwa menjadi jalan menuju surga, sedangkan harta yang menguasai hati dapat menjadi jalan menuju kebinasaan.”

Tidak ada komentar