Kembali Menelusuri Jejak Kebenaran
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 64
“Kembali Menelusuri Jejak Kebenaran”
QS. AL-KAHF AYAT 64
قَالَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۖ فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا قَصَصًا
Artinya:
“Dia (Musa) berkata, ‘Itulah (tempat) yang kita cari.’ Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.”
A. PEMBUKAAN
الحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada sebuah perjalanan yang sangat menarik dalam Al-Qur'an.
Perjalanan seorang nabi besar, Nabi Musa ‘alaihissalam, yang sedang mencari seorang hamba Allah yang diberi ilmu khusus oleh Allah, yaitu Khidr.
Perjalanan itu bukan perjalanan biasa.
Musa adalah seorang nabi.
Musa adalah seorang rasul.
Musa telah menerima wahyu.
Tetapi Allah tetap mengajarkan kepada Musa bahwa orang yang memiliki ilmu tidak boleh berhenti belajar.
Maka Musa berjalan.
Mencari.
Bertanya.
Bersungguh-sungguh.
Bahkan ketika terjadi kesalahan dalam perjalanan, Musa tidak mengatakan:
“Sudahlah, kita sudah jauh.”
Tidak!
Ketika diketahui bahwa tempat yang dicari ternyata sudah terlewati, Musa berkata:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Itulah tempat yang kita cari.”
Lalu Allah berfirman:
فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا قَصَصًا
“Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.”
Subhanallah...
Dari satu ayat ini saja, begitu banyak pelajaran kehidupan.
B. PELAJARAN PERTAMA
ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENCARI ILMU TIDAK MUDAH MENYERAH
Perhatikan kalimat Nabi Musa:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“ Itulah yang kita cari.”
Mereka sudah berjalan jauh.
Mereka sudah merasa lelah.
Mereka bahkan telah melewati tempat yang sebenarnya menjadi tanda pertemuan.
Tetapi ketika mereka mengetahui tempat itu, mereka tidak berkata:
“Sudahlah.”
Sebaliknya, mereka kembali.
Inilah mentalitas seorang pencari ilmu.
Kalau ingin mendapatkan ilmu, jangan mudah menyerah.
Kalau ingin memahami Al-Qur'an, jangan mudah bosan.
Kalau ingin menjadi orang saleh, jangan berhenti ketika pernah jatuh.
Kalau ingin memperbaiki keluarga, jangan menyerah hanya karena pernah gagal.
Kalau ingin mendidik anak, jangan berhenti hanya karena anak belum berubah.
Karena perubahan besar sering kali membutuhkan perjalanan yang panjang.
C. ALLAH MEMUJI ORANG YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH
Allah berfirman:
QS. Al-'Ankabut: 69
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya:
“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
Perhatikan hubungan ayat ini dengan perjalanan Musa.
Musa mencari.
Musa berjalan.
Musa bersungguh-sungguh.
Dan Allah menunjukkan jalan kepadanya.
Ini sebuah sunnatullah:
Kesungguhan menjadi sebab datangnya petunjuk Allah.
Bukan berarti setiap orang yang bersungguh-sungguh pasti mendapatkan apa yang ia inginkan secara persis.
Tetapi orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran akan mendapatkan bimbingan Allah sesuai hikmah-Nya.
D. PELAJARAN KEDUA
KETIKA TAHU KITA SALAH JALAN, JANGAN MALU UNTUK KEMBALI
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Ini pelajaran yang sangat dalam.
Musa dan pembantunya telah berjalan melewati tempat tersebut.
Kemudian mereka sadar:
“Ternyata di situlah tempat yang kita cari.”
Apa yang dilakukan?
Kembali.
Tidak gengsi.
Tidak mempertahankan perjalanan yang salah.
Tidak berkata:
“Sudah terlanjur jauh.”
Inilah akhlak orang berilmu.
Kalau salah, kembali.
Kalau salah memahami, perbaiki.
Kalau salah mengambil keputusan, koreksi.
Kalau salah mendidik anak, evaluasi.
Kalau salah dalam ibadah, belajar kembali.
Kalau selama ini jauh dari Allah, jangan mengatakan:
“Saya sudah terlalu jauh.”
Tidak!
Pintu Allah masih terbuka.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”
Jamaah...
Jangan biarkan dosa masa lalu membuat kita tidak mau kembali kepada Allah.
Jangan biarkan kesalahan masa lalu membuat kita merasa tidak pantas menjadi orang baik.
Musa mengajarkan: ketika tahu tempat kebenaran, kembali ke sana.
E. PELAJARAN KETIGA
ORANG BERILMU HARUS MAU MENGAKUI KESALAHAN
Ayat ini juga sangat indah jika kita hubungkan dengan ayat sebelumnya.
Pembantu Musa berkata:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوْتَ
“Sesungguhnya aku lupa terhadap ikan itu.”
Dia tidak membuat alasan.
Dia tidak menyalahkan Musa.
Dia tidak mengatakan:
“Ini bukan salah saya.”
Dia mengatakan:
فَإِنِّي نَسِيتُ
“Aku lupa.”
Inilah kejujuran.
Kemudian ketika Musa mengetahui bahwa tempat tersebut adalah tempat yang mereka cari, Musa tidak memarahi pembantunya.
Musa berkata:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Itulah tempat yang kita cari.”
Lalu mereka kembali.
Subhanallah.
Ada dua akhlak yang bertemu:
yang satu berani mengakui kesalahan,
dan
yang satu tidak memperpanjang kesalahan orang lain.
Betapa indahnya jika akhlak seperti ini hidup di rumah, di sekolah, di pesantren, dan di masyarakat.
F. PELAJARAN KEEMPAT
ILMU MEMBUTUHKAN KESABARAN
Perjalanan Musa bukan perjalanan yang singkat.
Dalam hadis panjang tentang kisah Musa dan Khidr, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Musa mencari Khidr setelah diberitahu Allah bahwa ada seorang hamba Allah yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki Musa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَسَأَلَ مُوسَى السَّبِيلَ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الْحُوتَ آيَةً، وَقِيلَ لَهُ: إِذَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَارْجِعْ، فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ
Artinya:
“Musa bertanya tentang jalan untuk menemuinya. Lalu Allah menjadikan ikan itu sebagai tanda baginya. Dikatakan kepadanya, ‘Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka kembalilah, niscaya engkau akan bertemu dengannya.’”
Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa setelah mengetahui tempat ikan itu hilang, Musa berkata:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ، فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا
“Itulah yang kita cari. Maka keduanya kembali mengikuti jejak mereka.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kisah Musa dan Khidr.[1][2]
G. KOMENTAR IMAM IBNU KATSIR
Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan sangat ringkas namun sangat jelas.
Beliau mengatakan:
أَيْ هَذَا الَّذِي نَطْلُبُ، فَارْتَدَّا أَيْ رَجَعَا عَلَى آثَارِهِمَا، أَيْ طَرِيقِهِمَا
Artinya:
“Yaitu, inilah yang kami cari. Maka keduanya kembali, yakni kembali mengikuti jejak perjalanan mereka.”
Kemudian beliau menjelaskan makna قَصَصًا sebagai mengikuti jejak langkah mereka.[3]
Jamaah...
Perhatikan kata قَصَصًا.
Mereka bukan sekadar kembali secara sembarangan.
Mereka menelusuri kembali jejak yang pernah mereka lalui.
Ini mengajarkan kepada kita sebuah prinsip:
Kalau kita kehilangan arah, jangan selalu mencari jalan baru. Kadang-kadang kita perlu kembali kepada jejak yang benar yang pernah kita tinggalkan.
H. “KEMBALI KE JEJAK” DALAM KEHIDUPAN KITA
Ada orang yang dahulu rajin salat berjamaah.
Kemudian kesibukan membuatnya lalai.
Ada orang yang dahulu rajin membaca Al-Qur'an.
Kemudian pekerjaan membuatnya jauh.
Ada anak yang dahulu sangat dekat dengan masjid.
Kemudian pergaulan membuatnya berubah.
Ada orang tua yang dahulu dekat dengan anak.
Kemudian kesibukan membuat komunikasi hilang.
Apa yang harus dilakukan?
Kembali.
Kembali ke masjid.
Kembali kepada Al-Qur'an.
Kembali kepada majelis ilmu.
Kembali kepada keluarga.
Kembali kepada Allah.
Jangan malu untuk kembali.
I. PELAJARAN KELIMA
JANGAN TERLALU CEPAT MENYIMPULKAN BAHWA PERJALANAN KITA GAGAL
Jamaah yang dirahmati Allah...
Bayangkan jika Musa berhenti ketika merasa telah melewati tempat yang dicari.
Mungkin perjalanan akan berhenti.
Tetapi ternyata tanda yang mereka cari muncul.
Dan ketika tanda itu dipahami, Musa berkata:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Ini yang kita cari.”
Ada pelajaran penting:
Kadang-kadang kita mengira sesuatu adalah kegagalan, padahal Allah sedang menunjukkan kepada kita petunjuk menuju tujuan.
Tetapi hati-hati.
Ini bukan berarti setiap kegagalan pasti secara otomatis merupakan keberhasilan tersembunyi.
Kita tidak mengetahui perkara gaib.
Yang kita tahu adalah:
orang beriman tetap berikhtiar, mengevaluasi, berdoa, lalu menerima ketetapan Allah dengan tawakal.
J. JANGAN BERHENTI BELAJAR
Kisah Musa dan Khidr sangat erat dengan tema ilmu.
Allah bahkan mengajarkan Nabi Muhammad ﷺ sebuah doa:
QS. Thaha: 114
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
Allah tidak memerintahkan Nabi ﷺ untuk meminta tambahan harta dalam ayat ini.
Tidak meminta tambahan kedudukan.
Tidak meminta tambahan popularitas.
Tetapi:
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan perintah agar Nabi ﷺ memohon kepada Allah tambahan manfaat ilmu yang belum beliau ketahui.[4]
Maka semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati dia.
K. SEMAKIN BERILMU, SEMAKIN SADAR BAHWA ILMU KITA TERBATAS
Dalam hadis kisah Musa dan Khidr, Rasulullah ﷺ menyampaikan perumpamaan yang sangat indah.
Ketika seekor burung mematuk air laut, Khidr menjelaskan perbandingan ilmu manusia dengan ilmu Allah.
Dalam riwayat tersebut disebutkan:
مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِثْلُ مَا نَقَصَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنَ الْبَحْرِ
Artinya:
“Tidaklah berkurang ilmu yang aku dan engkau miliki dibandingkan ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut karena patukan burung ini.”
Riwayat ini terdapat dalam hadis kisah Musa dan Khidr dalam Shahih Muslim.[5]
Jamaah...
Kalau ilmu kita terbatas, mengapa kita sombong?
Kalau ilmu kita sedikit, mengapa merasa paling benar?
Kalau pengetahuan kita terbatas, mengapa mudah merendahkan orang lain?
Maka salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah:
semakin tahu, semakin tawaduk.
L. PELAJARAN KEENAM
JANGAN MALU KEMBALI KEPADA KEBENARAN
Ada orang yang sulit mengatakan:
“Saya salah.”
Kenapa?
Karena gengsi.
Takut dianggap bodoh.
Takut kehilangan wibawa.
Padahal dalam Islam, mengakui kesalahan bukan kehinaan.
Justru itu kemuliaan.
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama hadis.
Maka jangan merasa bahwa orang baik adalah orang yang tidak pernah salah.
Tidak.
Orang baik adalah orang yang ketika salah:
sadar,
mengakui,
memperbaiki,
dan kembali kepada Allah.
M. PELAJARAN KETUJUH
PETUNJUK HARUS DIIKUTI, BUKAN SEKADAR DIKETAHUI
Musa telah mendapatkan tanda.
Setelah tanda itu diketahui, dia tidak hanya berkata:
“Oh, ternyata di sini.”
Tetapi langsung:
فَارْتَدَّا
“Maka keduanya kembali.”
Inilah perbedaan antara mengetahui dan mengikuti petunjuk.
Banyak orang tahu bahwa salat itu wajib.
Tetapi belum tentu salat.
Banyak orang tahu bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk.
Tetapi belum tentu membacanya.
Banyak orang tahu bahwa dusta itu haram.
Tetapi masih berdusta.
Banyak orang tahu bahwa berbakti kepada orang tua itu wajib.
Tetapi masih menyakiti hati orang tua.
Ilmu yang benar seharusnya membawa kita kepada amal.
Allah berfirman:
QS. Ash-Shaff: 2–3
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
N. PELAJARAN UNTUK GURU DAN PENDIDIK
Bapak/Ibu guru yang dirahmati Allah...
Kisah ini juga sangat relevan dengan dunia pendidikan.
Guru tidak hanya mengajarkan materi.
Guru mengajarkan ketekunan mencari ilmu.
Kadang seorang siswa belum memahami pelajaran.
Jangan langsung diberi label:
“Anak ini bodoh.”
Lebih baik bertanya:
“Di bagian mana kamu belum memahami?”
Lalu kembali.
Ulangi.
Telusuri.
Cari jejak kesalahannya.
Karena terkadang siswa bukan tidak mampu.
Dia hanya kehilangan jejak.
Seperti Musa:
فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا
“Mereka kembali mengikuti jejak mereka.”
Dalam pendidikan, kadang guru perlu membawa siswa kembali:
- kembali ke konsep dasar;
- kembali ke contoh;
- kembali ke pengalaman;
- kembali ke pertanyaan awal;
- kembali menemukan kesalahan;
- kemudian melanjutkan perjalanan.
O. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Ayah dan Bunda...
Kalau anak melakukan kesalahan, jangan buru-buru menghancurkan harga dirinya.
Bedakan:
“Perbuatanmu salah”
dengan
“Kamu anak yang buruk.”
Perbuatan bisa diperbaiki.
Kesalahan bisa dikoreksi.
Anak bisa kembali.
Seperti perjalanan Musa.
Ketika diketahui bahwa tempat itu telah dilewati:
mereka kembali.
Maka berikan kepada anak kesempatan untuk berkata:
“Ayah, saya salah.”
“Ibu, saya minta maaf.”
Kemudian bimbing:
“Tidak apa-apa. Sekarang kita perbaiki.”
Itulah pendidikan yang membangun.
P. PELAJARAN UNTUK DIRI SENDIRI
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing.
Apakah ada jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan?
Dulu kita rajin mengaji.
Sekarang?
Dulu kita menjaga salat.
Sekarang?
Dulu kita dekat dengan orang tua.
Sekarang?
Dulu kita menjaga lisan.
Sekarang?
Dulu kita rajin bersedekah.
Sekarang?
Dulu hati kita mudah menangis ketika membaca Al-Qur'an.
Sekarang?
Kalau ada yang hilang dari kehidupan kita...
jangan hanya mencari sesuatu yang baru.
Kadang kita harus:
kembali kepada jejak lama yang benar.
Q. KEMBALI KEPADA ALLAH
Dan puncaknya adalah kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 156
الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
Artinya:
“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.’”
Perhatikan:
وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ
“Dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.”
Hidup kita pada akhirnya adalah perjalanan pulang.
Kita datang dari Allah.
Kita hidup dengan pemberian Allah.
Dan kita akan kembali kepada Allah.
Maka jangan sampai kita terlalu sibuk berjalan di dunia, tetapi lupa ke mana sebenarnya tujuan perjalanan kita.
R. RENUNGAN PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
Bayangkan Musa dan pembantunya.
Mereka berjalan.
Mereka mencari.
Mereka lelah.
Mereka sempat melewati tempat yang dicari.
Kemudian mereka mengetahui:
“Ternyata di sinilah tempatnya.”
Musa berkata:
ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Ini yang kita cari.”
Lalu:
فَارْتَدَّا عَلٰٓى اٰثَارِهِمَا قَصَصًا
“Mereka kembali mengikuti jejak.”
Subhanallah...
Ada kalanya dalam kehidupan kita, Allah memperlihatkan:
“Ini jalan yang benar.”
Maka jangan keras kepala.
Kembalilah.
Kalau kita meninggalkan Al-Qur'an:
kembalilah kepada Al-Qur'an.
Kalau kita meninggalkan masjid:
kembalilah ke masjid.
Kalau kita meninggalkan majelis ilmu:
kembalilah kepada majelis ilmu.
Kalau hubungan dengan orang tua renggang:
kembalilah dan minta maaf.
Kalau keluarga mulai jauh:
kembalilah membangun komunikasi.
Kalau kita pernah jatuh dalam dosa:
kembalilah kepada Allah.
Jangan berkata:
“Sudah terlalu jauh.”
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ
“Jangan berputus asa dari rahmat Allah.”
S. KESIMPULAN
Dari QS. Al-Kahf ayat 64 kita dapat mengambil beberapa pelajaran besar:
Pertama:
Orang yang mencari ilmu harus bersungguh-sungguh.
Kedua:
Jangan mudah menyerah dalam perjalanan menuju kebaikan.
Ketiga:
Ketika mengetahui kesalahan, jangan malu untuk kembali.
Keempat:
Orang berilmu harus rendah hati dan menyadari keterbatasan ilmunya.
Kelima:
Petunjuk bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk diikuti.
Keenam:
Jangan takut mengevaluasi perjalanan hidup.
Ketujuh:
Jika kehilangan arah, telusuri kembali jejak kebenaran.
Dan yang paling penting:
Jangan sampai kita berjalan sangat jauh di dunia, tetapi semakin jauh dari Allah.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang ketika diberi petunjuk, kita mengikutinya; ketika salah, kita mau kembali; ketika lupa, kita mau mengingat; ketika tidak tahu, kita mau belajar; dan ketika mengetahui kebenaran, kita mau mengamalkannya.
T. DOA
اللّٰهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا صَحِيحًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا.
Artinya:
“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, karuniakan kepada kami pemahaman yang benar, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.”
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ، وَالْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
Artinya:
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keteguhan di atas kebenaran, petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.”
اللّٰهُمَّ إِذَا ضَلَلْنَا فَاهْدِنَا، وَإِذَا أَخْطَأْنَا فَاغْفِرْ لَنَا، وَإِذَا نَسِينَا فَذَكِّرْنَا، وَإِذَا ضَعُفْنَا فَقَوِّنَا، وَإِذَا ابْتَعَدْنَا عَنْكَ فَرُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا.
Artinya:
“Ya Allah, apabila kami tersesat maka berilah kami petunjuk. Apabila kami salah maka ampunilah kami. Apabila kami lupa maka ingatkanlah kami. Apabila kami lemah maka kuatkanlah kami. Dan apabila kami jauh dari-Mu, kembalikanlah kami kepada-Mu dengan sebaik-baik cara.”
رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا، وَزِدْنَا إِيمَانًا، وَزِدْنَا هُدًى وَتَوْفِيقًا.
Artinya:
“Ya Rabb kami, tambahkanlah kepada kami ilmu, tambahkanlah kepada kami iman, tambahkanlah kepada kami petunjuk dan taufik.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[1] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-‘Ilm, hadis no. 74; hadis tersebut memuat kisah Musa mencari Khidr dan lafaz ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا.
[2] Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, Bab min Fadha'il al-Khidr, hadis no. 2380. Riwayat ini menjelaskan perjalanan Musa bersama pembantunya hingga menemukan Khidr.
[3] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Kahf [18]:64. Ibn Kathir menjelaskan قَصَصًا sebagai mengikuti jejak perjalanan mereka.
[4] Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Thaha [20]:114, mengenai perintah memohon tambahan ilmu: وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
[5] Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, hadis kisah Musa dan Khidr, no. 2380. Di dalamnya terdapat perumpamaan tentang sedikitnya ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah.
[6] As-Sa'di, Taysir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, tafsir QS. Al-Kahf [18]:64. Beliau menjelaskan bahwa keduanya kembali menelusuri jejak menuju tempat mereka meninggalkan ikan.
[7] QS. Al-'Ankabut [29]:69.
[8] QS. Az-Zumar [39]:53.
[9] QS. Thaha [20]:114.
[10] QS. Al-Baqarah [2]:156.
Post a Comment