KETIKA SETAN MEMBUAT LUPA: JUJUR, SADAR, DAN SEGERA KEMBALI
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 63
“KETIKA SETAN MEMBUAT LUPA: JUJUR, SADAR, DAN SEGERA KEMBALI”
QS. AL-KAHF AYAT 63
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا
Artinya:
“Dia (pembantunya) menjawab, ‘Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.’”
QS. Al-Kahf: 63
MUQADDIMAH
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah rahimakumullah...
Kita melanjutkan perjalanan tadabbur Surah Al-Kahf.
Sebelumnya kita telah membaca bahwa Nabi Musa عليه السلام dan Yusya' bin Nun sampai di sebuah batu.
Di situlah ikan yang mereka bawa menjadi hidup dan mengambil jalan ke laut.
Tetapi Yusya' lupa memberitahukan kejadian tersebut kepada Musa.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan.
Sampai akhirnya Musa merasa lapar dan berkata:
آتِنَا غَدَاءَنَا
“Bawalah makanan kita.”
Dan ketika itulah Yusya' teringat.
Ia berkata:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ
“Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”
Kemudian ia berkata:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ
“Tidak ada yang membuatku lupa tentangnya kecuali setan.”
Jamaah...
Di sinilah kita belajar tentang:
lupa,
setan,
tanggung jawab,
kejujuran,
dan bagaimana seorang mukmin menyikapi kesalahan.
1. YUSYA' JUJUR MENGAKUI KESALAHANNYA
Perhatikan kalimatnya:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ
“Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”
Ia tidak berkata:
“Bukan salah saya.”
Ia tidak berkata:
“Saya tidak tahu.”
Ia tidak menyembunyikan fakta.
Ia tidak mencari-cari alasan.
Ia berkata apa adanya:
“Saya lupa.”
Inilah akhlak yang sangat mahal.
Karena manusia sering kali lebih mudah melakukan kesalahan daripada mengakuinya.
Ketika salah:
“Bukan saya.”
“Dia yang menyebabkan.”
“Keadaannya memang begitu.”
“Kalau bukan karena dia, saya tidak akan begini.”
Tetapi Yusya' memberikan teladan:
Kalau salah, akui.
Kalau lupa, katakan lupa.
Kalau tidak tahu, katakan tidak tahu.
Kalau keliru, katakan keliru.
2. JUJUR TIDAK BERARTI TIDAK PERNAH SALAH
Jamaah yang dirahmati Allah...
Ada orang yang mengira orang baik adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Tidak.
Manusia bisa lupa.
Manusia bisa salah.
Manusia bisa lalai.
Yang membedakan adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan itu terjadi.
Yusya' lupa.
Tetapi ketika ditanya, ia menjelaskan.
Ia tidak menutupinya.
Ia tidak memanipulasi keadaan.
Ia memberikan informasi yang dibutuhkan Musa.
Maka:
Kesalahan yang diakui lebih mudah diperbaiki daripada kesalahan yang disembunyikan.
3. MENGAPA YUSYA' MENGATAKAN “SETAN YANG MEMBUATKU LUPA”?
Allah mengabadikan perkataannya:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ
“Tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan.”
Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan bahwa maknanya adalah:
وَمَا أَنْسَانِي الْحُوتَ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ
“Tidak ada yang membuatku lupa kepada ikan itu selain setan, sehingga aku lupa untuk menyebutkannya.”
Ath-Thabari juga menyebut adanya qira'ah/penjelasan bahasa yang menegaskan makna:
وَمَا أَنْسَانِي أَنْ أَذْكُرَهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ
“Tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatkannya kecuali setan.”[1]
Artinya, yang menjadi titik perhatian bukan sekadar “ikan hilang”, tetapi Yusya' lupa menyampaikan peristiwa penting itu kepada Musa.
4. SETAN MEMANG MENGGODA MANUSIA MELALUI WAS-WAS DAN KELALAIAN
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
QS. Al-Mu'minun: 97–98
Setan tidak selalu menggoda manusia dengan berkata:
“Lakukan dosa besar!”
Kadang godaannya jauh lebih halus:
“Nanti saja.”
“Tidak perlu sekarang.”
“Besok masih bisa.”
“Tidak usah mengingatnya.”
“Lupakan saja.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak ada yang tahu.”
Sampai akhirnya sesuatu yang penting benar-benar terlupakan.
5. RASULULLAH ﷺ MENJELASKAN BESARNYA PENGARUH SETAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak Adam seperti mengalirnya darah.”[2]
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan juga dalam Sunan Abi Dawud dengan lafaz tersebut.
Maknanya menunjukkan betapa dekatnya peluang setan untuk membisikkan sesuatu kepada manusia.
Tetapi perhatikan:
Setan membisikkan, bukan memaksa.
Manusia tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab.
Jangan sampai setiap dosa kita berkata:
“Setan yang salah.”
Tidak.
Setan menggoda.
Kita yang memilih.
Setan membisikkan.
Kita yang menuruti.
Setan mengajak.
Kita yang memutuskan.
6. AL-QUR'AN MENJELASKAN BAHWA SETAN TIDAK MEMILIKI KEKUASAAN MUTLAK
Allah menggambarkan perkataan Iblis pada hari kiamat:
وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي
“Dan aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun terhadapmu, melainkan aku hanya menyerumu lalu kamu mematuhi seruanku.”
QS. Ibrahim: 22
Kemudian Iblis berkata:
فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah dirimu sendiri.”
QS. Ibrahim: 22
Ini sangat penting.
Setan sendiri mengakui:
“Aku hanya mengajak.”
Maka jangan jadikan setan sebagai alasan untuk menghapus tanggung jawab pribadi.
7. SETAN MEMANFAATKAN KELEMAHAN MANUSIA
Jamaah...
Manusia mempunyai titik lemah.
Ketika lapar, mudah marah.
Ketika lelah, konsentrasi menurun.
Ketika mengantuk, mudah lupa.
Ketika sedih, mudah mengambil keputusan yang buruk.
Ketika sendirian, godaan bisa semakin kuat.
Ketika hati jauh dari Allah, bisikan lebih mudah diikuti.
Karena itu Islam mengajarkan kita untuk mengenali kelemahan diri.
8. JANGAN SEMUA KELUPAAN DITUDUHKAN KEPADA SETAN
Ini penting agar kita tidak salah memahami ayat.
Tidak berarti setiap kali kita lupa:
“Setan!”
Kita lupa menaruh kunci:
“Setan.”
Lupa membawa buku:
“Setan.”
Lupa pekerjaan:
“Setan.”
Padahal bisa saja karena kita memang kurang perhatian, terburu-buru, kurang tidur, atau terlalu banyak pikiran.
Ayat ini memberikan informasi khusus tentang peristiwa Yusya'.
Maka kita tidak boleh menjadikan ayat ini alasan untuk melempar seluruh tanggung jawab kepada setan.
Sikap yang benar:
akui kesalahan, perbaiki, lalu berlindung kepada Allah dari godaan setan.
9. IBN KATSIR: YUSYA' MENJELASKAN APA YANG TERJADI
Ibnu Katsir رحمه الله menafsirkan:
قَالَ: أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ، وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ
Kemudian beliau menjelaskan bahwa perkataan Yusya' menunjukkan bahwa ia lupa menyampaikan peristiwa ikan tersebut ketika mereka berada di batu.[3]
Beliau juga menyebut riwayat qira'ah dari Ibn Mas'ud:
وَمَا أَنْسَانِي أَنْ أَذْكُرَهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ
“Tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatkannya kecuali setan.”[3]
Jadi, fokusnya adalah lupa menyampaikan informasi penting.
10. AS-SA'DI: SETAN ADALAH SEBAB DALAM KELUPAAN TERSEBUT
As-Sa'di رحمه الله berkata:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ، لِأَنَّهُ السَّبَبُ فِي ذَلِكَ
“Tidak ada yang membuatku lupa terhadapnya kecuali setan untuk mengingatkannya, karena setan menjadi sebab dalam hal tersebut.”[4]
Perhatikan kata:
السَّبَبُ
“sebab.”
Ini penting.
Setan adalah sebab, bukan pencipta kehendak manusia.
11. SETAN SUKA MEMBUAT MANUSIA LUPA TERHADAP HAL-HAL YANG PENTING
Allah berfirman tentang Nabi Yusuf:
فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ
“Lalu setan menjadikan dia lupa untuk mengingat Tuhannya.”
QS. Yusuf: 42
Ayat ini mengajarkan bahwa setan berusaha mengganggu manusia dalam hal yang berkaitan dengan ingatan dan perhatian.
Karena itu orang beriman tidak hanya menjaga tubuhnya.
Ia juga menjaga:
ingatannya,
pikirannya,
hatinya,
dan perhatiannya.
12. KITA SERING INGAT DUNIA, TETAPI LUPA AKHIRAT
Jamaah...
Ironisnya manusia bisa mengingat:
tanggal pembayaran,
nomor rekening,
jadwal pertandingan,
jadwal pekerjaan,
jadwal rapat,
ulang tahun,
urusan bisnis,
bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan dunia.
Tetapi lupa:
kapan terakhir membaca Al-Qur'an,
kapan terakhir menangis karena dosa,
kapan terakhir bersedekah,
kapan terakhir memperbaiki salat,
kapan terakhir mendoakan orang tua.
Maka masalah kita bukan selalu tidak bisa mengingat.
Kadang masalahnya adalah:
Apa yang kita pilih untuk diingat?
13. ALLAH MENGINGATKAN MANUSIA AGAR TIDAK LUPA
Allah berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.”
QS. Al-Hasyr: 19
Ini jauh lebih berbahaya daripada lupa membawa ikan.
Lupa ikan adalah kesalahan perjalanan.
Tetapi lupa kepada Allah adalah masalah kehidupan.
Ketika manusia lupa kepada Allah:
ia lupa tujuan hidup,
lupa akhirat,
lupa pertanggungjawaban,
lupa dosa,
lupa nikmat,
lupa bahwa dirinya akan kembali kepada Allah.
14. “LUPA KEPADA ALLAH” BUKAN BERARTI ALLAH HILANG DARI INGATAN
Para ulama menjelaskan bahwa makna “melupakan Allah” bukan berarti manusia tidak pernah menyebut nama Allah sama sekali.
Tetapi ia meninggalkan perintah-Nya dan tidak memperhatikan hak Allah.
Maka bisa saja seseorang lisannya banyak berkata:
“Allah... Allah...”
tetapi kehidupannya jauh dari ketaatan.
Karena itu ukuran mengingat Allah bukan hanya ucapan.
Tetapi:
apakah perintah Allah kita pedulikan?
15. DZIKIR ADALAH SALAH SATU PERLINDUNGAN DARI KELALAIAN
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”
QS. Al-Ahzab: 41–42
Perhatikan:
ذِكْرًا كَثِيرًا
“zikir yang banyak.”
Mengapa?
Karena hati manusia mudah lalai.
Hari ini ingat.
Besok lupa.
Pagi semangat.
Siang sibuk.
Malam lelah.
Karena itu hati membutuhkan pengulangan.
16. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN DOA MEMOHON PERLINDUNGAN DARI GODAAN SETAN
Allah mengajarkan:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ
“Katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
QS. Al-Mu'minun: 97–98
Maka ketika merasa hati terganggu:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Jangan hanya melawan dengan kekuatan diri.
Mintalah perlindungan kepada Allah.
17. KETIKA LUPA, JANGAN PANIK — SEGERA KEMBALI
Yusya' akhirnya ingat.
Dan ketika ingat...
ia langsung menyampaikan.
Tidak berkata:
“Nanti saja.”
Tidak berkata:
“Sudahlah, mungkin tidak penting.”
Ia menjelaskan:
“Saya lupa ikan itu.”
Ini pelajaran besar:
Ketika sadar melakukan kesalahan, jangan menunda perbaikan.
Semakin lama kesalahan dibiarkan, semakin panjang akibatnya.
18. KEJUJURAN YUSYA' MENYELAMATKAN PERJALANAN
Bayangkan kalau Yusya' berkata:
“Tidak tahu.”
Atau:
“Saya tidak melihat apa-apa.”
Atau:
“Tidak usah dibahas.”
Maka Musa mungkin akan terus berjalan.
Tetapi karena Yusya' jujur...
mereka mengetahui:
itulah tempat yang dicari.
Allah berfirman pada ayat berikutnya:
قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Dia (Musa) berkata, ‘Itulah yang kita cari.’”
Kemudian mereka kembali.
Maka:
Kejujuran terhadap kesalahan dapat menjadi jalan menuju solusi.
19. JANGAN TAKUT MENGAKUI KESALAHAN
Jamaah...
Kadang anak takut berkata:
“Pak, saya lupa.”
Karena takut dimarahi.
Murid takut:
“Bu, saya belum paham.”
Karena takut dianggap bodoh.
Karyawan takut:
“Pak, saya salah.”
Karena takut dihukum.
Anak takut:
“Ayah, saya melakukan kesalahan.”
Karena takut dimarahi.
Kalau lingkungan membuat orang takut jujur, kesalahan bisa menjadi semakin besar.
Karena itu seorang guru, orang tua, dan pemimpin harus membangun budaya:
“Kalau salah, katakan. Kita cari solusinya.”
20. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KEJUJURAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga.”
Kemudian beliau bersabda:
وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا
“Seseorang senantiasa berkata jujur dan berusaha menjaga kejujuran sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.”[5]
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Maka kejujuran bukan hanya sifat.
Ia adalah jalan pembentukan karakter.
21. JUJUR TERHADAP DIRI SENDIRI
Kadang-kadang kita jujur kepada orang lain tetapi tidak jujur kepada diri sendiri.
Kita berkata:
“Saya tidak punya waktu.”
Padahal sebenarnya:
saya tidak memprioritaskannya.
“Saya tidak sempat membaca Al-Qur'an.”
Padahal mungkin:
waktu saya habis untuk HP.
“Saya tidak sempat belajar.”
Padahal mungkin:
saya tidak disiplin.
“Saya tidak bisa berubah.”
Padahal mungkin:
saya belum sungguh-sungguh mencoba.
Kejujuran paling sulit adalah:
jujur terhadap diri sendiri.
22. SETAN SUKA MEMBUAT MANUSIA MENUNDA
Salah satu bentuk godaan yang paling halus adalah:
nanti.
“Nanti saya salat.”
“Nanti saya taubat.”
“Nanti saya belajar.”
“Nanti saya minta maaf.”
“Nanti saya baca Al-Qur'an.”
“Nanti saya memperbaiki diri.”
Sampai akhirnya “nanti” menjadi “tidak pernah”.
Maka ketika hati mendapatkan dorongan untuk melakukan kebaikan:
jangan terlalu banyak menunda.
23. JANGAN MENUDUH SETAN UNTUK MENUTUPI KELALAIAN SENDIRI
Ini perlu ditegaskan.
Ada orang melakukan dosa:
“Setan yang menggoda.”
Padahal ia sengaja membuka pintunya.
Ada orang meninggalkan salat:
“Lupa.”
Padahal sejak awal ia tidak peduli.
Ada orang menyakiti orang lain:
“Terpancing setan.”
Padahal ia memilih untuk mengucapkannya.
Maka seorang mukmin harus memiliki dua kesadaran:
Pertama:
Setan benar-benar musuh.
Kedua:
Saya tetap bertanggung jawab atas pilihan saya.
Keduanya harus berjalan bersama.
24. ALLAH MENJELASKAN BAHWA SETAN HANYA MEMANGGIL
Allah berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”
QS. Fathir: 6
Kata yang digunakan:
يَدْعُو
“mengajak.”
Bukan:
يُجْبِرُ
“memaksa.”
Maka kita harus melawan ajakan tersebut.
25. BAGAIMANA MELAWAN GODAAN SETAN?
Pertama: banyak mengingat Allah
اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.”
QS. Al-Ahzab: 41.
Kedua: membaca isti'adzah
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
Ketiga: membaca Al-Qur'an
Allah berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
QS. An-Nahl: 98.
Keempat: segera bertaubat ketika tergelincir.
Kelima: jangan memberi kesempatan kepada godaan.
26. JANGAN MEMBERI SETAN RUANG DALAM HATI
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan berjalan pada diri anak Adam seperti aliran darah.”[2]
Hadis ini menjadi pengingat agar kita tidak meremehkan bisikan kecil.
Karena dosa besar kadang dimulai dari:
satu pikiran,
satu pandangan,
satu pembicaraan,
satu penundaan,
satu pembenaran.
27. IBN KATSIR MENUNJUKKAN BAHWA PERISTIWA IKAN ITU MEMANG SESUATU YANG MENAKJUBKAN
Ibnu Katsir menyebut:
وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ أَيْ: طَرِيقَهُ
“Dan ikan itu mengambil jalannya, maksudnya jalannya.”[3]
Peristiwa tersebut merupakan kejadian luar biasa yang mengantarkan Musa kepada tempat yang telah ditentukan Allah.
Maka jangan sibuk mempertanyakan rincian yang tidak ditegaskan Al-Qur'an.
Fokuskan perhatian pada pesan utamanya:
Allah memberikan tanda kepada Musa.
Ikan menjadi sebab diketahui tempat tersebut.
Kelupaan terjadi.
Kemudian Allah mengembalikan mereka kepada tujuan.
28. “عَجَبًا” — SESUATU YANG MENGAGUMKAN
Allah menutup ayat:
وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا
“Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang mengherankan.”
As-Sa'di menjelaskan:
أَيْ: لَمَّا انْسَرَبَ فِي الْبَحْرِ وَدَخَلَ فِيهِ، كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْعَجَائِبِ
“Ketika ikan itu meluncur masuk ke laut, hal tersebut merupakan sesuatu yang mengagumkan.”[4]
Ini menunjukkan adanya kejadian luar biasa dalam kisah tersebut.
Tetapi kita tidak perlu menambah-nambahkan detail yang tidak memiliki dasar kuat.
29. JANGAN TERLALU SIBUK DENGAN KEAJAIBAN, LUPAKAN PESANNYA
Ini juga pelajaran penting.
Ada orang membaca kisah Al-Kahf lalu sibuk bertanya:
“Bagaimana ikan itu hidup?”
“Airnya bagaimana?”
“Batu itu di mana?”
“Lautnya laut apa?”
“Berapa jarak perjalanannya?”
Pertanyaan ilmiah boleh.
Tetapi jangan sampai kita kehilangan pesan utama:
Allah sedang mendidik Musa tentang ilmu, kesabaran, kerendahan hati, dan mengikuti petunjuk.
Al-Qur'an adalah kitab hidayah.
Bukan sekadar kitab cerita.
30. KADANG ALLAH MEMBUAT KITA MENGINGAT MELALUI SEBUAH KEJADIAN
Musa bertanya:
آتِنَا غَدَاءَنَا
“Bawalah makanan kita.”
Lalu Yusya' teringat:
نَسِيتُ الْحُوتَ
“Saya lupa ikan itu.”
Ternyata pertanyaan tentang makanan membuka ingatan terhadap peristiwa yang jauh lebih besar.
Ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan kita:
sebuah pertanyaan,
sebuah nasihat,
sebuah peristiwa,
sebuah kegagalan,
bahkan sebuah kesalahan,
bisa menjadi sebab kita kembali sadar.
31. KETIKA DIINGATKAN, JANGAN MARAH
Musa bertanya.
Yusya' menjawab.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada:
“Kenapa baru bilang?”
“Kenapa kamu bisa lupa?”
“Kenapa tidak bertanggung jawab?”
Yang terjadi adalah informasi keluar.
Kemudian solusi ditemukan.
Ini contoh komunikasi yang sehat.
Dalam keluarga:
jangan menjadikan setiap kesalahan sebagai arena penghukuman.
Dalam sekolah:
jangan membuat murid takut mengatakan kebenaran.
Dalam organisasi:
jangan membuat anggota takut melaporkan masalah.
32. BUDAYA “AMAN UNTUK JUJUR” SANGAT PENTING
Seorang anak harus merasa:
“Kalau saya salah, saya boleh mengatakan yang sebenarnya.”
Seorang murid harus merasa:
“Kalau saya tidak paham, saya boleh bertanya.”
Seorang guru harus bisa berkata:
“Saya belum tahu, mari kita cari bersama.”
Seorang pemimpin harus bisa berkata:
“Saya juga bisa salah.”
Inilah lingkungan yang membuat manusia berkembang.
33. ORANG YANG TIDAK MAU MENGAKUI KESALAHAN AKAN SULIT BELAJAR
Karena belajar membutuhkan pengakuan:
“Saya belum tahu.”
Perbaikan membutuhkan pengakuan:
“Saya salah.”
Taubat membutuhkan pengakuan:
“Saya berdosa.”
Penyembuhan membutuhkan pengakuan:
“Saya sedang terluka.”
Pertumbuhan membutuhkan pengakuan:
“Saya masih perlu belajar.”
Maka:
Kerendahan hati dimulai dari keberanian mengakui kenyataan.
34. JANGAN MEMPERMALUKAN ORANG YANG JUJUR TENTANG KESALAHANNYA
Ini penting bagi guru dan orang tua.
Kalau anak berkata:
“Bu, saya lupa.”
Jangan langsung:
“Makanya! Kamu memang ceroboh!”
Kalau murid berkata:
“Pak, saya belum paham.”
Jangan:
“Sudah dijelaskan berkali-kali!”
Kalau pasangan berkata:
“Maaf, saya salah.”
Jangan:
“Memang dari dulu kamu begitu!”
Karena jika setiap kejujuran dibalas dengan penghinaan, orang akan belajar satu hal:
lebih aman berbohong daripada jujur.
35. YUSYA' MEMBERIKAN INFORMASI YANG MENJADI KUNCI
Perhatikan hubungan ayat 62 dan 63.
Ayat 62:
آتِنَا غَدَاءَنَا
“Bawalah makanan kita.”
Ayat 63:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ
“Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”
Ayat 64:
قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Musa berkata, ‘Itulah yang kita cari.’”
Jadi:
kejujuran → informasi → kesadaran → kembali → menemukan tujuan.
Masya Allah.
Satu pengakuan sederhana:
“Saya lupa ikan itu.”
menjadi titik balik perjalanan.
36. KALAU KITA SALAH, JANGAN MENUNGGU SAMPAI DITANYA
Ini akhlak yang lebih tinggi.
Yusya' baru menyampaikan setelah Musa meminta makanan dan bertanya.
Tetapi kita bisa belajar lebih jauh:
Kalau sadar kita salah...
segera sampaikan.
Kalau sadar kita lupa...
segera beri tahu.
Kalau sadar ada masalah...
segera laporkan.
Kalau sadar telah menyakiti...
segera minta maaf.
Karena kecepatan memperbaiki kesalahan sering menentukan besar kecilnya dampak kesalahan tersebut.
37. JANGAN MEMBIARKAN SETAN MENGUBAH “LUPA” MENJADI “MENYEMBUNYIKAN”
Awalnya:
lupa.
Kemudian ketika ingat:
“Sudahlah, tidak usah bilang.”
Inilah tahap berikutnya yang lebih berbahaya.
Kesalahan pertama mungkin tidak disengaja.
Tetapi menyembunyikannya setelah sadar bisa menjadi pilihan sadar.
Maka ketika sadar:
jujur.
38. DUA MUSUH: SETAN DAN EGO
Kadang-kadang masalah bukan hanya setan.
Ada ego:
“Kalau saya mengaku salah, harga diri saya jatuh.”
Padahal justru pengakuan kesalahan dapat menjadi tanda kematangan.
Orang yang kuat berkata:
“Saya salah.”
Orang yang dewasa berkata:
“Maaf.”
Orang yang berilmu berkata:
“Saya belum tahu.”
Orang yang bertakwa berkata:
“Saya harus memperbaiki diri.”
39. KETIKA SETAN MEMBUAT LUPA, DZIKIR MEMBUAT KITA INGAT
Allah berfirman:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
“Dan ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa.”
QS. Al-Kahf: 24
Masya Allah.
Perhatikan betapa indahnya hubungan ayat ini dengan ayat 63.
Di awal Surah Al-Kahf, Allah mengajarkan:
“Ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa.”
Kemudian dalam kisah Musa:
Yusya' lupa ikan.
Kemudian ia ingat.
Maka Surah Al-Kahf mengajarkan kita:
Ketika lupa, jangan terus larut dalam lupa. Kembalilah kepada zikir dan kesadaran.
40. DOA UNTUK MEMOHON AGAR HATI TIDAK MENYIMPANG
Allah mengajarkan doa:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi.”
QS. Ali 'Imran: 8
Hati manusia berubah.
Karena itu kita membutuhkan pertolongan Allah.
41. PELAJARAN UNTUK PARA GURU
Bapak/Ibu guru...
Ayat ini sangat relevan dalam pendidikan.
Jika murid lupa tugas:
jangan hanya bertanya:
“Mengapa kamu lupa?”
Tanyakan juga:
“Apa yang membuatmu lupa?”
Kemudian bantu membuat sistem:
catatan,
pengingat,
jadwal,
checklist,
pasangan belajar,
atau rutinitas.
Pendidikan bukan hanya menghukum kelupaan.
Pendidikan adalah melatih manusia agar semakin mampu bertanggung jawab.
42. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Ayah dan Bunda...
Jika anak melakukan kesalahan, ajari ia tiga langkah:
1. Akui
“Saya salah.”
2. Perbaiki
“Apa yang bisa saya lakukan?”
3. Belajar
“Bagaimana supaya tidak terulang?”
Jangan berhenti pada:
“Siapa yang salah?”
Lanjutkan kepada:
“Bagaimana kita memperbaikinya?”
43. PELAJARAN UNTUK DIRI KITA
Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang akhir-akhir ini saya lupakan?
Mungkin:
salat berjamaah.
Al-Qur'an.
Orang tua.
Anak.
Pasangan.
Janji.
Amanah.
Ilmu.
Kematian.
Akhirat.
Taubat.
Dan mungkin yang paling berat:
kita lupa bahwa Allah selalu melihat kita.
44. JANGAN SAMPAI KITA INGAT SEGALANYA KECUALI ALLAH
Jamaah...
Kita punya kalender untuk dunia.
Apakah kita punya jadwal untuk Al-Qur'an?
Kita punya alarm untuk pekerjaan.
Apakah kita punya alarm untuk tahajud?
Kita punya target keuangan.
Apakah kita punya target amal?
Kita mencatat pengeluaran.
Apakah kita mencatat dosa dan taubat?
Bukan berarti kita meninggalkan urusan dunia.
Tetapi jangan sampai:
dunia kita catat dengan sangat rapi, sedangkan akhirat kita lupakan.
45. AYAT INI MENGAJARKAN KITA TENTANG TAWAKAL DAN TANGGUNG JAWAB
Jangan berkata:
“Kalau Allah menghendaki saya ingat, saya akan ingat.”
Tidak.
Kita diperintahkan mengambil sebab:
berdoa,
berzikir,
membuat pengingat,
mencatat,
belajar,
memeriksa kembali,
dan memperbaiki kesalahan.
Kemudian bertawakal kepada Allah.
46. KALIMAT INTI CERAMAH
Jamaah rahimakumullah...
Dari QS. Al-Kahf ayat 63, mari kita simpan beberapa kalimat:
Lupa itu manusiawi, tetapi menyembunyikan kesalahan bukan solusi.
Setan menggoda, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya.
Ketika salah, jangan mencari kambing hitam; carilah jalan untuk memperbaiki.
Ketika diingatkan, jangan marah; mungkin Allah sedang menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.
Dan ketika lupa kepada Allah, segeralah kembali mengingat-Nya.
PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah...
Yusya' lupa.
Tetapi ia tidak berbohong.
Ia tidak menyembunyikan.
Ia tidak memutarbalikkan keadaan.
Ia berkata:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ
“Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”
Kemudian ia menjelaskan:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ
“Tidak ada yang membuatku lupa tentangnya kecuali setan.”
Dan dari pengakuan itu...
Musa mengetahui apa yang terjadi.
Mereka mengetahui tempat yang dicari.
Mereka kembali.
Dan perjalanan menuju ilmu dilanjutkan.
Maka kalau hari ini kita sadar telah lupa...
jangan malu.
Kalau kita sadar telah salah...
jangan gengsi.
Kalau kita sadar telah jauh...
jangan putus asa.
Kalau kita sadar telah lalai...
jangan menunda.
Katakan kepada Allah:
يَا رَبِّ، نَسِيتُ فَذَكِّرْنِي، وَضَلَلْتُ فَاهْدِنِي، وَأَخْطَأْتُ فَاغْفِرْ لِي.
“Ya Rabbku, aku lupa, maka ingatkanlah aku. Aku tersesat, maka tunjukilah aku. Aku telah salah, maka ampunilah aku.”
Dan jangan lupa doa:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
Karena ilmu membuat kita tahu.
Zikir membuat kita ingat.
Taubat membuat kita kembali.
Dan kejujuran membuat kita berani memperbaiki diri.
DOA
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الشَّيَاطِينِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَفْلَةِ الْقُلُوبِ.
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari bisikan setan dan kami berlindung kepada-Mu dari kelalaian hati.”
اللَّهُمَّ إِذَا نَسِينَا فَذَكِّرْنَا، وَإِذَا غَفَلْنَا فَنَبِّهْنَا، وَإِذَا أَخْطَأْنَا فَاغْفِرْ لَنَا.
“Ya Allah, apabila kami lupa, ingatkanlah kami. Apabila kami lalai, sadarkanlah kami. Apabila kami salah, ampunilah kami.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ، وَمِنَ التَّائِبِينَ، وَمِنَ الذَّاكِرِينَ.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang jujur, orang-orang yang bertaubat, dan orang-orang yang banyak mengingat-Mu.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَلَا مِنَ الَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ.
“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang melupakan-Mu sehingga mereka melupakan diri mereka sendiri.”
اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنَ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ.
“Ya Allah, lindungilah kami dari setan dan bisikan-bisikannya, dan teguhkanlah hati kami di atas iman dan ketaatan.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN KAKI / RUJUKAN
[1] Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 63. Ath-Thabari menjelaskan makna وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ sebagai lupa untuk mengingat/menyampaikan ikan kepada Musa.
[2] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, dan Muslim, Shahih Muslim, hadis tentang Nabi ﷺ bersama Shafiyyah رضي الله عنها; Nabi ﷺ bersabda: «إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ». Hadis tersebut juga tercantum dalam Sunan Abi Dawud no. 4719.
[3] Isma'il bin Umar Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 63. Ibn Kathir menjelaskan perkataan Yusya' tentang kelupaannya terhadap ikan dan menyebut penjelasan qira'ah yang berkaitan dengan makna “lupa mengingatkannya”.
[4] Abdurrahman as-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tafsir QS. Al-Kahf: 63. As-Sa'di menjelaskan bahwa setan menjadi sebab dalam kelupaan tersebut dan bahwa jalan ikan ke laut merupakan kejadian yang mengagumkan.
[5] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, dan Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah; hadis tentang keutamaan kejujuran: «عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ...»
[6] QS. Al-Mu'minun: 97–98, tentang doa memohon perlindungan kepada Allah dari هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ dan kehadiran mereka.
[7] QS. Ibrahim: 22, tentang pengakuan Iblis bahwa ia hanya mengajak manusia dan manusia mengikuti ajakannya.
[8] QS. Fathir: 6, tentang perintah Allah agar manusia menjadikan setan sebagai musuh.
[9] QS. Al-Hasyr: 19, tentang larangan melupakan Allah sehingga manusia melupakan dirinya sendiri.
[10] QS. Al-Kahf: 24, وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ, “Dan ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa.”
PENEGASAN ILMIAH
Ada satu hal yang perlu dijaga dalam menyampaikan ayat ini.
Jangan dikatakan:
“Setiap orang yang lupa pasti disebabkan setan.”
Itu terlalu umum.
Ayat ini menceritakan peristiwa khusus Yusya' dalam perjalanan Nabi Musa. Para mufasir menjelaskan bahwa setan menjadi sebab ia lupa mengingat/menyampaikan peristiwa ikan tersebut.
Demikian pula jangan dikatakan:
“Kalau setan menggoda, manusia tidak bertanggung jawab.”
Al-Qur'an justru menegaskan bahwa Iblis hanya mengajak, sedangkan manusia memilih untuk mengikuti atau menolak ajakan tersebut:
فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kamu mencela aku, tetapi celalah dirimu sendiri.”
QS. Ibrahim: 22.
Jadi keseimbangannya adalah:
Setan menggoda — manusia memilih.
Manusia bisa lupa — manusia harus memperbaiki.
Kesalahan bisa terjadi — kejujuran harus mengikuti.
Ketika sadar — segera kembali.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
Post a Comment