KETIKA KEBUN DUNIA BISA BERUBAH MENJADI TANAH GERSANG

🌿 CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 40

“KETIKA KEBUN DUNIA BISA BERUBAH MENJADI TANAH GERSANG”

Muqaddimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita lanjutkan tadabbur kita terhadap kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang kebun.

Ini adalah cerita tentang harta, kesombongan, keimanan, kehilangan, dan bagaimana manusia sering terlambat menyadari bahwa semua yang dia miliki sebenarnya hanya titipan.

Kemarin kita telah membahas ucapan orang beriman:

مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Semua ini terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Tetapi orang kaya itu justru berkata:

“Aku memiliki lebih banyak harta dan anak.”

Dia merasa kebunnya akan bertahan selamanya.

Dia bahkan berkata:

مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

“Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya.”

Kemudian Allah memperlihatkan kepada kita satu pelajaran besar melalui jawaban orang beriman.


1. AYAT YANG KITA RENUNGKAN

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا

“Namun mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu, dan Dia mengirimkan petir dari langit ke kebunmu, sehingga kebun itu menjadi tanah yang licin.”
(QS. Al-Kahf: 40)

Perhatikan kalimat pertama:

فَعَسَىٰ رَبِّي

“Maka mudah-mudahan Tuhanku…”

Ada kata رَبِّي — Rabbī, “Tuhanku”.

Seolah-olah orang beriman itu ingin mengatakan:

“Engkau mempunyai kebun, tetapi aku mempunyai Rabb.”

“Engkau mempunyai harta, tetapi aku mempunyai Allah.”

“Engkau mempunyai banyak anak, tetapi aku mempunyai Tuhan yang mengatur seluruh kehidupanku.”

Inilah perbedaan mendasar antara orang yang hanya memiliki dunia dan orang yang memiliki Allah.


2. “فَعَسَىٰ رَبِّي” — AKU MASIH MEMPUNYAI HARAPAN KEPADA ALLAH

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Orang beriman itu tidak berkata:

“Karena saya miskin, berarti hidup saya gagal.”

Tidak!

Dia juga tidak berkata:

“Karena kamu kaya, berarti Allah pasti mencintaimu.”

Tidak!

Dia berkata:

فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ

“Mudah-mudahan Tuhanku memberiku sesuatu yang lebih baik daripada kebunmu.”

Di sinilah kita belajar tentang husnuzan kepada Allah.

Kondisi kita hari ini bukan akhir dari cerita.

Hari ini mungkin kita belum mempunyai rumah.

Mungkin belum punya kendaraan.

Mungkin usaha kita belum berkembang.

Mungkin anak kita belum seperti yang kita harapkan.

Mungkin penghasilan kita belum sebesar orang lain.

Tetapi jangan pernah mengatakan:

“Allah tidak sayang kepada saya.”

Karena kita tidak pernah tahu apa yang Allah persiapkan untuk kita.


3. “LEBIH BAIK” TIDAK SELALU BERARTI LEBIH BANYAK HARTA

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat:

خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ

“Yang lebih baik daripada kebunmu”

dapat dipahami sebagai sesuatu yang lebih baik di akhirat, dan sebagian ulama juga menyebut kemungkinan kebaikan di dunia. Al-Qurthubi menjelaskan adanya dua kemungkinan penafsiran tersebut.

Ibn Katsir lebih menonjolkan makna bahwa yang lebih baik itu adalah di negeri akhirat.

Artinya, jamaah sekalian:

Jangan mengukur “lebih baik” hanya dengan ukuran dunia.

Kita sering berkata:

“Dia lebih sukses daripada saya.”

Pertanyaannya:

Sukses menurut siapa?

Dia punya rumah lebih besar.

Tetapi apakah hatinya lebih tenang?

Dia punya mobil lebih mahal.

Tetapi apakah keluarganya lebih bahagia?

Dia punya jabatan lebih tinggi.

Tetapi apakah sujudnya lebih panjang?

Dia punya pengikut lebih banyak.

Tetapi apakah amalnya lebih banyak?

Dia mempunyai uang miliaran.

Tetapi apakah uang itu akan menyelamatkannya ketika berdiri di hadapan Allah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

(HR. Muslim no. 2956)

Maksudnya bukan bahwa seorang mukmin tidak boleh menikmati dunia.

Bukan!

Tetapi seorang mukmin mengetahui bahwa kenikmatan dunia bukanlah kenikmatan terakhir.

Ada kehidupan yang lebih panjang.

Ada kenikmatan yang tidak pernah berakhir.

Ada surga yang tidak pernah rusak.


4. JANGAN TERLALU CEPAT MENILAI HIDUP ORANG LAIN

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kadang kita melihat seseorang:

“Wah, enak sekali hidupnya.”

Rumahnya bagus.

Kebunnya luas.

Usahanya maju.

Anaknya banyak.

Kendaraannya bagus.

Kemudian kita berkata dalam hati:

“Seandainya saya seperti dia.”

Padahal kita tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu rumahnya.

Kita hanya melihat foto sampul kehidupannya, bukan seluruh bukunya.

Bisa jadi yang kita anggap nikmat adalah ujian.

Bisa jadi yang kita anggap kekurangan justru menjadi jalan keselamatan.

Maka jangan menjadikan kekayaan seseorang sebagai bukti bahwa Allah pasti lebih mencintainya.

Dan jangan menjadikan kemiskinan seseorang sebagai bukti bahwa Allah sedang menghinakannya.

Dunia bukan rapor akhirat.


5. ALLAH BISA MEMBERI YANG LEBIH BAIK

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Jamaah,

Kadang kita menangis karena kehilangan sesuatu.

Padahal Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu.

Kadang kita kecewa karena sebuah rencana gagal.

Padahal Allah sedang mengarahkan kita kepada jalan yang lebih baik.

Kadang kita sangat ingin mendapatkan sesuatu.

Tetapi Allah tidak memberikannya.

Bukan karena Allah tidak mendengar doa kita.

Bisa jadi karena Allah mengetahui sesuatu yang kita tidak ketahui.


6. “وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ”

Allah kemudian berfirman:

وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ

“Dan Dia mengirimkan kepadanya ḥusbānan dari langit.”

Apa yang dimaksud dengan حُسْبَانًا — ḥusbānan?

Para mufassir memberikan beberapa penjelasan, namun makna yang kuat adalah azab atau bencana dari langit yang menghancurkan kebun tersebut.

Ath-Thabari meriwayatkan penjelasan dari Ibn Abbas, Qatadah dan lainnya bahwa ḥusbānan berarti عذابًا — azab, sedangkan beliau menjelaskan ṣa‘īdan zalaqan sebagai tanah yang rata/licin setelah tanaman dan pepohonannya hilang.

Ibn Katsir juga menyebut:

أَيْ عَذَابًا مِنَ السَّمَاءِ

“Yaitu azab dari langit.”

Beliau menjelaskan bahwa yang tampak adalah hujan yang sangat deras dan menghancurkan tanaman serta pepohonan sehingga kebun menjadi tanah gundul dan licin.

Al-Baghawi menyebut beberapa penafsiran tentang ḥusbānan, di antaranya azab, api, atau sesuatu yang turun dari langit seperti petir yang menghancurkan kebun.


7. KEBUN YANG KEMARIN HIJAU, PAGI INI BISA MENJADI TANAH GUNDUL

Allah berfirman:

فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا

“Sehingga kebun itu menjadi tanah yang licin.”

Bayangkan!

Kemarin masih hijau.

Kemarin masih indah.

Kemarin masih menghasilkan buah.

Kemarin pemiliknya berbangga:

“Ini kebunku!”

Tetapi ketika ketetapan Allah datang…

habis!

Pohon hilang.

Buah hilang.

Tanaman hilang.

Keindahan hilang.

Yang tersisa hanya tanah.

Itulah dunia.

Bukan berarti dunia tidak boleh kita cintai.

Tetapi dunia tidak boleh kita jadikan sesembahan hati.


8. ALLAH MENGGAMBARKAN DUNIA SEPERTI TANAMAN YANG KERING

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Perumpamaannya seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering, engkau melihatnya berwarna kuning, kemudian menjadi hancur.”

(QS. Al-Hadid: 20)

Perhatikan urutannya:

Hijau → kuning → kering → hancur.

Begitulah dunia.

Anak-anak kecil → remaja → dewasa → tua.

Rumah dibangun → direnovasi → rusak → ditinggalkan.

Bisnis dibuka → berkembang → menurun → mungkin tutup.

Tubuh sehat → kuat → tua → lemah.

Dunia tidak pernah berjanji akan menetap.


9. KESALAHAN TERBESAR BUKAN MEMILIKI KEBUN

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita luruskan.

Yang salah bukan memiliki kebun.

Yang salah bukan memiliki uang.

Yang salah bukan memiliki rumah.

Yang salah bukan menjadi pengusaha.

Yang salah bukan mempunyai anak banyak.

Yang salah adalah ketika nikmat membuat kita lupa kepada Pemberi nikmat.

Allah sendiri berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

(QS. Al-Qasas: 77)

Jadi Islam tidak mengajarkan:

“Jangan punya harta.”

Islam mengajarkan:

“Jangan sampai harta memiliki hatimu.”

Punya uang boleh.

Tetapi jangan sampai uang menentukan harga dirimu.

Punya rumah boleh.

Tetapi jangan sampai rumah membuatmu lupa masjid.

Punya jabatan boleh.

Tetapi jangan sampai jabatan membuatmu merasa lebih tinggi daripada manusia lain.

Punya anak boleh bangga.

Tetapi jangan sampai anak membuatmu lupa bahwa mereka adalah amanah Allah.


10. HARTA ITU BISA MENJADI KEBUN SURGA

Jamaah,

Harta yang sama dapat menjadi jalan ke neraka atau jalan ke surga.

Uang yang sama bisa digunakan untuk maksiat.

Tetapi uang yang sama bisa digunakan untuk:

  • menafkahi keluarga,
  • menyekolahkan anak,
  • membantu fakir miskin,
  • membangun masjid,
  • membantu pesantren,
  • memberi makan orang lapar,
  • membayar hutang,
  • membantu orang sakit,
  • dan bersedekah.

Maka masalahnya bukan:

“Berapa banyak yang kita punya?”

Tetapi:

“Untuk apa yang kita gunakan?”


11. NIKMAT ADALAH UJIAN

Allah berfirman tentang Nabi Sulaiman عليه السلام:

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Maka ketika dia melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).’”

(QS. An-Naml: 40)

Lihat Nabi Sulaiman.

Ketika mendapatkan kekuasaan yang luar biasa, beliau tidak berkata:

“Ini karena saya hebat.”

Beliau berkata:

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia Tuhanku.”

Inilah mental seorang mukmin.

Ketika berhasil:

“Ini dari Allah.”

Ketika mendapat rezeki:

“Ini dari Allah.”

Ketika anak berhasil:

“Ini dari Allah.”

Ketika usaha berkembang:

“Ini dari Allah.”

Ketika sembuh:

“Ini dari Allah.”

Ketika mendapatkan ilmu:

“Ini dari Allah.”


12. JANGAN SAMPAI KITA MENJADI SEPERTI PEMILIK KEBUN

Pemilik kebun berkata:

“Aku lebih banyak harta.”

“Aku lebih banyak anak.”

“Kebunku tidak akan binasa.”

Masalahnya bukan sekadar dia kaya.

Masalahnya adalah kesombongan yang muncul karena kekayaan.

Harta membuatnya salah melihat realitas.

Dia melihat kebunnya besar.

Tetapi tidak melihat Allah yang memberikan kebun.

Dia melihat air mengalir.

Tetapi tidak melihat Allah yang menurunkan hujan.

Dia melihat buah tumbuh.

Tetapi tidak melihat Allah yang menciptakan tanah, air, matahari, udara, benih, dan seluruh sistem kehidupan.

Inilah penyakit manusia.

Kadang manusia melihat sebab, lalu melupakan Musabbib al-Asbab, yaitu Allah yang menciptakan seluruh sebab.


13. JANGAN MENGANGGAP KEKAYAAN SEBAGAI JAMINAN KEAMANAN

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Orang kaya itu mengira kebunnya aman.

Tetapi Allah ingin menunjukkan:

Yang membuat kebun aman bukan kebun itu sendiri.

Yang menjaga adalah Allah.

Yang membuat usaha bertahan adalah Allah.

Yang menjaga kesehatan adalah Allah.

Yang menjaga anak-anak kita adalah Allah.

Yang menjaga keluarga kita adalah Allah.

Maka sebesar apa pun harta kita, jangan pernah merasa:

“Dengan harta ini saya aman.”

Karena satu keputusan Allah saja cukup untuk mengubah keadaan.


14. NAMUN JANGAN SALAH PAHAM: SETIAP MUSIBAH BUKAN BERARTI AZAB

Ini penting sekali.

Ayat ini berbicara tentang kebun orang yang sombong dan kufur dalam konteks kisah tersebut.

Namun kita tidak boleh sembarangan berkata kepada seseorang yang terkena musibah:

“Itu azab karena dosamu.”

Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Musibah bisa menjadi:

  • ujian,
  • penghapus dosa,
  • pengangkat derajat,
  • peringatan,
  • atau akibat dari sebab tertentu.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ، وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ، وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal itu.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka ketika seseorang kehilangan harta, jangan buru-buru menghakimi.

Dekati dia.

Bantu dia.

Katakan:

“Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik.”

Bukan:

“Makanya jangan sombong!”

Islam mengajarkan kita untuk mengambil pelajaran dari ayat, bukan menjadikan ayat sebagai alat untuk merendahkan orang yang sedang tertimpa musibah.


15. KETIKA KEHILANGAN, SEORANG MUKMIN TIDAK KEHILANGAN ALLAH

Ini inti besar ayat 40.

Pemilik kebun bisa kehilangan kebun.

Tetapi orang beriman tidak akan pernah kehilangan Rabb-nya.

Ini perbedaan yang sangat besar.

Kalau rumah hilang tetapi iman tetap ada, masih ada harapan.

Kalau kendaraan hilang tetapi iman tetap ada, masih ada harapan.

Kalau bisnis jatuh tetapi iman tetap ada, masih ada harapan.

Kalau harta berkurang tetapi iman tetap ada, masih ada harapan.

Tetapi kalau seseorang mempunyai seluruh dunia dan kehilangan iman…

apa yang tersisa?


16. “YANG LEBIH BAIK” ADA DI SISI ALLAH

Allah berfirman:

وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ

“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.”

(QS. Ali ‘Imran: 198)

Maka orang mukmin tidak pernah menganggap dunia sebagai tujuan akhir.

Dunia adalah kendaraan.

Akhirat adalah tujuan.

Dunia adalah tempat menanam.

Akhirat adalah tempat memanen.

Dunia adalah tempat bekerja.

Akhirat adalah tempat menerima hasil.


17. KALIMAT PENTING UNTUK KITA BAWA PULANG

Jamaah sekalian,

Ada beberapa kalimat yang mudah-mudahan tertanam dalam hati kita.

Pertama:

Jangan sombong ketika mendapatkan nikmat.

Karena nikmat bisa berubah menjadi ujian.

Kedua:

Jangan putus asa ketika kehilangan nikmat.

Karena Allah mampu memberikan yang lebih baik.

Ketiga:

Jangan iri kepada kebun orang lain.

Kita tidak tahu bagaimana akhir kebun itu.

Keempat:

Jangan menghina orang yang lebih sedikit hartanya.

Karena nilai seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh jumlah hartanya.

Kelima:

Jangan jadikan dunia sebagai ukuran utama kebahagiaan.

Karena kebahagiaan yang sebenarnya adalah mendapatkan ridha Allah.


18. DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita boleh menjadi kaya.

Tetapi jangan menjadi hamba kekayaan.

Kita boleh memiliki kendaraan.

Tetapi jangan sampai kendaraan membawa kita menjauh dari Allah.

Kita boleh memiliki rumah besar.

Tetapi jadikan rumah itu tempat sujud.

Kita boleh mempunyai kebun.

Tetapi jadikan hasil kebun sebagai jalan menuju surga.

Kita boleh mempunyai anak-anak.

Tetapi jadikan anak-anak sebagai investasi akhirat.

Jangan sampai kita memiliki banyak hal tetapi kehilangan Allah.

Karena orang yang memiliki Allah sebenarnya memiliki segala sesuatu.


19. “BERUSAHA MAKSIMAL, TAWAKAL TOTAL”

Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk duduk diam.

Orang beriman tetap bekerja.

Tetap bertani.

Tetap berdagang.

Tetap mengajar.

Tetap membangun.

Tetap berusaha.

Tetapi hatinya tidak bergantung kepada usaha.

Tangannya bekerja, hatinya bergantung kepada Allah.

Dia berusaha maksimal.

Tetapi tawakalnya total.

Dia merencanakan.

Tetapi menyerahkan hasil kepada Allah.

Dia menanam.

Tetapi tahu bahwa Allah yang menumbuhkan.

Dia berdagang.

Tetapi tahu bahwa Allah yang membuka pintu rezeki.

Dia mendidik anak.

Tetapi tahu bahwa hidayah berada di tangan Allah.


20. PENUTUP: JANGAN TUNGGU KEBUN HANCUR UNTUK MENYADARI SIAPA PEMILIK SEBENARNYA

Jamaah yang dirahmati Allah,

Kita belum sampai pada ayat 42.

Tetapi kita sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Kebun itu benar-benar hancur.

Pemiliknya kemudian menyesal.

Tangannya dibolak-balik karena menyesali apa yang telah dia keluarkan.

Dia baru sadar bahwa semua yang dibanggakannya ternyata tidak kekal.

Jangan tunggu sampai kita kehilangan kesehatan untuk menghargai kesehatan.

Jangan tunggu sampai kehilangan orang tua untuk menghargai mereka.

Jangan tunggu sampai anak-anak dewasa untuk mendidik mereka.

Jangan tunggu sampai harta hilang untuk belajar bersyukur.

Jangan tunggu sampai ajal mendekat untuk kembali kepada Allah.

Karena ketika ajal datang, tidak ada kesempatan mengulang kehidupan.


RENUNGAN TERAKHIR

[Diam sejenak]

Coba kita bayangkan…

Kalau malam ini Allah mengambil semua yang kita punya…

Rumah kita…

Kendaraan kita…

Tabungan kita…

Jabatan kita…

Kebun kita…

Usaha kita…

Bahkan orang-orang yang selama ini kita banggakan…

Apa yang masih kita miliki?

[Diam]

Kalau jawabannya:

“Allah.”

Maka jangan takut.

Karena selama Allah masih bersama kita, masih ada harapan.

Tetapi kalau selama ini yang kita miliki hanya dunia…

lalu dunia itu diambil…

kita akan merasa kehilangan segalanya.

Padahal sejak awal dunia memang bukan milik kita.

Kita hanya dititipi.

Maka mari kita belajar mengatakan:

هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah karunia Tuhanku.”

Ketika mendapat nikmat.

Dan mengatakan:

فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا

“Mudah-mudahan Tuhanku memberikan yang lebih baik.”

Ketika kehilangan.

Itulah hati seorang mukmin.

Ketika berhasil, tidak ujub.

Ketika gagal, tidak putus asa.

Ketika kaya, tidak sombong.

Ketika miskin, tidak hina diri.

Ketika diberi, bersyukur.

Ketika diambil, bersabar.

Karena dia tahu:

Yang memberi adalah Allah.

Yang mengambil adalah Allah.

Yang mengganti adalah Allah.

Dan kepada Allah pula kita akan kembali.


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَمْوَالِنَا، وَأَوْلَادِنَا، وَأَهْلِنَا، وَأَعْمَالِنَا.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِينَا وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ نِعَمَكَ سَبَبًا لِطُغْيَانِنَا، بَلِ اجْعَلْهَا سَبَبًا لِشُكْرِنَا وَطَاعَتِنَا.

اللَّهُمَّ إِنْ أَعْطَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَإِنْ مَنَعْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَإِنْ ابْتَلَيْتَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْتَسِبِينَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN TAFSIR DAN RUJUKAN

[1] Tafsir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 40.

Ath-Thabari menjelaskan:

حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ يَعْنِي عَذَابًا مِنَ السَّمَاءِ تَرْمِي بِهِ رَمْيًا

Maknanya: ḥusbānan dipahami sebagai azab dari langit yang menimpa kebun tersebut. Beliau juga menjelaskan:

فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا ... لَا يَثْبُتُ فِي أَرْضِهَا قَدَمٌ

“Sehingga kebun itu menjadi tanah yang rata/licin, yang tidak dapat digunakan untuk berpijak dengan kokoh.”

[2] Tafsir Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Al-Kahf: 40.

Ibn Katsir mengatakan:

أَيْ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ

“Yaitu di negeri akhirat.”

Tentang ḥusbānan, beliau mengatakan:

أَيْ عَذَابًا مِنَ السَّمَاءِ

“Yaitu azab dari langit.”

Beliau menjelaskan bahwa azab tersebut dapat berupa hujan besar yang merusak tanaman dan pepohonan hingga kebun menjadi tanah gundul yang licin.

[3] Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 40.

Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kata ḥusbān memiliki beberapa kemungkinan makna dalam bahasa Arab, di antaranya sesuatu yang dilemparkan dari langit, awan, petir, dan azab. Beliau juga menyebut bahwa “lebih baik daripada kebunmu” dapat dipahami sebagai kebaikan di akhirat, dan ada pula pendapat yang memahaminya dalam konteks dunia.

[4] Tafsir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, QS. Al-Kahf: 40.

As-Sa‘di menjelaskan:

أَيْ عَلَى جَنَّتِكَ الَّتِي طَغَيْتَ بِهَا وَغَرَّتْكَ

“Yaitu terhadap kebunmu yang menyebabkan engkau melampaui batas dan tertipu.”

Kemudian beliau menjelaskan:

حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ أَيْ عَذَابًا، بِمَطَرٍ عَظِيمٍ أَوْ غَيْرِهِ

Ḥusbānan dari langit, yaitu azab, berupa hujan yang sangat besar atau yang lainnya.”

Akibatnya:

اقْتُلِعَتْ أَشْجَارُهَا، وَتَلِفَتْ ثِمَارُهَا، وَغَرِقَ زَرْعُهَا، وَزَالَ نَفْعُهَا

“Pepohonannya tercabut, buah-buahannya rusak, tanamannya tenggelam, dan manfaatnya pun hilang.”

[5] Tafsir Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, QS. Al-Kahf: 40.

Al-Baghawi menyebut beberapa penjelasan ulama tentang ḥusbānan, antara lain azab, api, atau sesuatu seperti petir yang menghancurkan kebun. Adapun ṣa‘īdan zalaqan berarti tanah yang gundul dan licin tanpa tumbuhan.

[6] Ṣaḥīḥ Muslim no. 2956.

Hadis:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Hadis ini diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dan terdapat dalam Ṣaḥīḥ Muslim no. 2956.

[7] QS. Al-Hadid: 20.

Ayat ini sangat relevan dengan gambaran kebun dalam QS. Al-Kahf. Allah menggambarkan dunia dengan tanaman yang awalnya mengagumkan, kemudian menguning dan akhirnya menjadi hancur.

[8] QS. Al-Qasas: 77.

Ayat ini menjadi penyeimbang agar pembahasan tentang zuhud tidak dipahami sebagai larangan memiliki dunia. Allah memerintahkan manusia mencari akhirat melalui nikmat dunia, sekaligus tidak melupakan bagian yang halal dari dunia.


Inti pesan QS. Al-Kahf ayat 40

Jangan tertipu dengan kebun yang sedang hijau, karena Allah mampu mengubahnya menjadi tanah yang gundul.

Jangan sombong ketika diberi, karena semua pemberian adalah titipan.

Jangan putus asa ketika kehilangan, karena Allah mampu mengganti dengan sesuatu yang lebih baik.

Jangan ukur kemuliaan dengan banyaknya harta, tetapi dengan dekatnya hati kepada Allah.

Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati kita.

Tidak ada komentar