Semua Terjadi Karena Kehendak Allah, Tidak Ada Kekuatan Kecuali Dengan Pertolongan Allah. (مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ)
“Semua Terjadi Karena Kehendak Allah, Tidak Ada Kekuatan Kecuali Dengan Pertolongan Allah”
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tafsir QS. Al-Kahf Ayat 39
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Kita melanjutkan perjalanan tadabbur Surah Al-Kahf.
Kita sudah sampai pada kisah dua orang pemilik kebun.
Salah satunya kaya.
Kebunnya indah.
Hasilnya banyak.
Anaknya banyak.
Kemudian kekayaan itu membuatnya lupa diri.
Pada ayat 35 dia berkata:
مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selamanya.”
Pada ayat 36 dia berkata:
وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً
“Aku kira hari Kiamat tidak akan terjadi.”
Kemudian sahabatnya yang beriman menegurnya.
Pada ayat 37:
أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ
“Apakah engkau ingkar kepada Tuhan yang menciptakanmu dari tanah?”
Pada ayat 38 dia menyatakan identitas imannya:
لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي
“Tetapi Dialah Allah, Rabb-ku.”
Dan:
وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
“Aku tidak mempersekutukan Rabb-ku dengan sesuatu pun.”
Sekarang pada ayat 39, sahabat yang beriman memberikan satu nasihat yang sangat praktis:
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ ۙ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’?”
Jamaah...
Ayat ini mengajarkan kepada kita:
Ketika melihat nikmat, jangan hanya kagum kepada nikmatnya. Kagumlah kepada Pemberi nikmat.
1. AYAT UTAMA
Allah berfirman:
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًا
“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’ (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.”
QS. Al-Kahf: 39
Ayat ini bukan sekadar mengajarkan sebuah ucapan.
Ayat ini mengajarkan cara pandang terhadap nikmat.
Ada orang melihat rumah lalu berkata:
“Wah, rumah saya bagus karena saya bekerja keras.”
Ada yang melihat usahanya:
“Ini semua hasil strategi saya.”
Melihat anak:
“Anak saya berhasil karena pendidikan saya.”
Melihat kebun:
“Ini semua karena kemampuan saya.”
Sedangkan seorang mukmin berkata:
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ini terjadi karena Allah menghendakinya.”
Lalu:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
2. “مَا شَاءَ اللَّهُ” BUKAN SEKADAR UCAPAN
Jamaah...
Sering kali kita mengucapkan:
Masya Allah.
Tetapi apakah kita memahami maknanya?
مَا شَاءَ اللَّهُ
Secara makna:
“Apa yang Allah kehendaki.”
Artinya:
“Ya Allah, apa yang ada di hadapanku ini terjadi dengan kehendak-Mu.”
Rumah ini ada karena kehendak-Mu.
Kebun ini tumbuh karena kehendak-Mu.
Anak-anak ini hadir karena kehendak-Mu.
Kesehatan ini karena kehendak-Mu.
Ilmu ini karena kehendak-Mu.
Rezeki ini karena kehendak-Mu.
Keberhasilan ini karena kehendak-Mu.
Maka Masya Allah adalah pengakuan bahwa kita bukan pemilik mutlak atas nikmat.
Kita hanya menerima amanah.
3. TAFSIR ATH-THABARI: “APA YANG ALLAH KEHENDAKI ITULAH YANG TERJADI”
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
يَقُولُ عَزَّ ذِكْرُهُ: وَهَلَّا إِذْ دَخَلْتَ بُسْتَانَكَ فَأَعْجَبَكَ مَا رَأَيْتَ مِنْهُ، قُلْتَ: مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ
“Allah Yang Mahaperkasa berfirman: Mengapa ketika engkau memasuki kebunmu lalu engkau kagum dengan apa yang engkau lihat di dalamnya, engkau tidak mengatakan: ‘Apa yang Allah kehendaki, itulah yang terjadi.’”
Ath-Thabari juga menjelaskan bagian:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
dengan makna bahwa tidak ada kekuatan bagi manusia untuk melakukan ketaatan dan mengelola urusannya kecuali dengan pertolongan Allah.
[1] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 39.
Maka jamaah...
Kita punya kemampuan, tetapi kemampuan itu pemberian Allah.
4. TAFSIR IBNU KATSIR: KETIKA KAGUM, INGAT ALLAH
Ibnu Katsir berkata:
هَذَا تَحْضِيضٌ وَحَثٌّ عَلَى ذَلِكَ
“Ini merupakan dorongan dan anjuran untuk melakukan hal tersebut.”
Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa kagum terhadap keadaan dirinya, hartanya, anaknya atau nikmat yang dimilikinya, maka hendaknya dia mengingat Allah dan mengatakan:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa sebagian salaf mengambil pelajaran dari ayat ini agar seseorang mengucapkan kalimat tersebut ketika melihat sesuatu dari keadaan atau hartanya yang membuatnya kagum.
[2] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 39.
Jadi ayat ini mengajarkan:
Kagum boleh. Lupa kepada Allah jangan.
Senang boleh.
Bangga boleh dalam batas yang benar.
Tetapi jangan sampai rasa bangga berubah menjadi:
ujub, sombong, dan merasa semuanya hasil diri sendiri.
5. TAFSIR AL-QURTHUBI: “LA QUWWATA ILLA BILLAH”
Al-Qurthubi menjelaskan:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ أَيْ مَا اجْتَمَعَ لَكَ مِنَ الْمَالِ فَهُوَ بِقُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَقُوَّتِهِ لَا بِقُدْرَتِكَ وَقُوَّتِكَ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah. Harta yang terkumpul untukmu adalah dengan kekuasaan dan kekuatan Allah, bukan semata-mata dengan kemampuan dan kekuatanmu.”
Al-Qurthubi kemudian memberikan gambaran yang sangat kuat:
وَلَوْ شَاءَ لَنَزَعَ الْبَرَكَةَ مِنْهُ فَلَمْ يَجْتَمِعْ
“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia mencabut keberkahan darinya sehingga harta itu tidak akan terkumpul.”
[3] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 39.
Jamaah...
Ini sangat dalam.
Kita sering menghitung:
“Saya bekerja 10 jam.”
Tetapi kita lupa:
Allah yang membuat tubuh kita mampu bekerja 10 jam.
Kita menghitung:
“Saya punya modal sekian.”
Tetapi kita lupa:
Allah yang memberi kesempatan sehingga modal itu berkembang.
Kita menghitung:
“Saya punya strategi.”
Tetapi kita lupa:
Allah yang membuat strategi itu berhasil.
6. APAKAH BERARTI KITA TIDAK BOLEH MENGAKU “SAYA BEKERJA KERAS”?
Tidak.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi manusia pasif.
Islam mengajarkan:
ikhtiar maksimal + tawakal total.
Kita bekerja.
Kita belajar.
Kita berobat.
Kita berdagang.
Kita bertani.
Kita mengajar.
Kita membangun.
Tetapi hati mengatakan:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Jadi kalimat ini bukan alasan untuk malas.
Justru kalimat ini membuat kita:
berusaha tanpa sombong,
berhasil tanpa ujub,
gagal tanpa putus asa.
7. “LA QUWWATA ILLA BILLAH” ADALAH SENJATA ORANG BERIMAN
Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟
“Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah perbendaharaan dari perbendaharaan surga?”
Abu Musa menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
Nabi ﷺ bersabda:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
HR. Bukhari dan Muslim.
Ini adalah hadis sahih.
Dan riwayat Muslim memuat dialog bahwa kalimat tersebut merupakan salah satu kanz min kunūz al-jannah — perbendaharaan dari perbendaharaan surga. Al-Qurthubi juga mengutip hadis ini dalam tafsir ayat 39.
[4] HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه.
Perhatikan...
Ayat menggunakan:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Hadis sahih menggunakan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Keduanya mengandung pengakuan bahwa:
kemampuan dan perubahan keadaan manusia bergantung kepada Allah.
8. APA MAKNA “LA HAWLA”?
حَوْل
mengandung makna daya, kemampuan untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.
Maka ketika kita mengatakan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
seakan-akan kita berkata:
“Ya Allah, aku tidak memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan tanpa pertolongan-Mu.”
Ingin berubah dari malas menjadi rajin?
Allah yang menolong.
Ingin berubah dari maksiat menjadi taat?
Allah yang menolong.
Ingin berubah dari miskin menjadi berkecukupan?
Allah yang menolong.
Ingin berubah dari lemah menjadi kuat?
Allah yang menolong.
Ingin istiqamah?
Allah yang menolong.
Maka jangan hanya mengandalkan diri sendiri.
Tetapi jangan pula meninggalkan usaha.
9. “MASYA ALLAH” DAN “LA QUWWATA ILLA BILLAH”
Dua kalimat ini sangat indah jika direnungkan bersama.
مَا شَاءَ اللَّهُ
Apa yang Allah kehendaki.
Ini mengajarkan:
mengakui kehendak Allah.
Kemudian:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.
Ini mengajarkan:
mengakui kelemahan diri.
Jadi ada dua kesadaran:
Allah Mahakuasa.
Kita lemah.
Allah memberi.
Kita menerima.
Allah mengatur.
Kita menjalani.
Allah memiliki.
Kita hanya diberi amanah.
10. INILAH OBAT UJUB
Jamaah...
Ujub adalah ketika seseorang kagum kepada dirinya sendiri.
“Hebat juga saya.”
“Kalau bukan saya, tidak mungkin berhasil.”
“Tidak ada yang sehebat saya.”
“Saya paling pintar.”
“Saya paling berpengalaman.”
“Saya yang membuat semuanya berhasil.”
Maka obatnya:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Karena kalimat ini memindahkan pusat perhatian:
dari “saya”
kepada
“Allah.”
11. JANGAN SALAH PAHAM: MASYA ALLAH BUKAN MANTRA
Ini penting.
Kita jangan mengubah zikir menjadi semacam mantra otomatis.
Mengucapkan:
Masya Allah
bukan sekadar agar sesuatu tidak terkena bahaya.
Makna utamanya adalah:
mengakui bahwa nikmat tersebut berasal dari kehendak Allah.
Jadi ketika melihat rumah kita:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Bukan karena kita takut rumah itu rusak.
Tetapi karena kita mengakui:
“Ya Allah, rumah ini adalah nikmat-Mu.”
Ketika melihat anak:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Bukan sekadar supaya anak tidak terkena sesuatu.
Tetapi:
“Ya Allah, anak ini amanah-Mu.”
Ketika melihat usaha:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Artinya:
“Ya Allah, keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Ini karena kehendak dan pertolongan-Mu.”
12. HUBUNGANNYA DENGAN SYUKUR
Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
QS. Ibrahim: 7
Maka Masya Allah bukan hanya ucapan lisan.
Ia seharusnya melahirkan:
syukur dalam hati,
pujian di lisan,
ketaatan dalam perbuatan.
13. SYUKUR BUKAN HANYA “ALHAMDULILLAH”
Syukur memiliki konsekuensi.
Jika Allah memberikan mata:
gunakan untuk melihat yang halal.
Jika Allah memberikan telinga:
gunakan untuk mendengar kebaikan.
Jika Allah memberikan harta:
gunakan untuk sedekah dan kebaikan.
Jika Allah memberikan ilmu:
ajarkan.
Jika Allah memberikan jabatan:
gunakan untuk keadilan.
Jika Allah memberikan anak:
didik menjadi hamba Allah.
Maka jangan mengatakan:
“Ini nikmat dari Allah.”
tetapi digunakan untuk melawan Allah.
Itu bukan syukur yang sempurna.
14. ALLAH BISA MEMBERI DAN MENGAMBIL
Al-Qurthubi mengingatkan bahwa semua harta yang terkumpul berada di bawah kekuasaan Allah.
Allah mampu memberi.
Allah mampu mencabut.
Allah mampu memperluas.
Allah mampu menyempitkan.
Allah berfirman:
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Katakanlah, ‘Ya Allah, Pemilik kerajaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’”
QS. Ali 'Imran: 26
Maka...
jangan sombong ketika naik.
Dan:
jangan putus asa ketika turun.
Karena yang mengatur keadaan adalah Allah.
15. “AKU LEBIH SEDIKIT DARIMU”
Bagian akhir ayat sangat menarik:
إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
“Jika engkau melihatku lebih sedikit darimu dalam harta dan anak.”
Sahabat yang beriman mengakui kenyataan.
Dia tidak pura-pura kaya.
Dia tidak berkata:
“Saya sebenarnya lebih kaya daripada kamu.”
Tidak.
Dia berkata:
“Ya, secara duniawi mungkin saya lebih sedikit.”
Tetapi...
sedikit harta bukan berarti sedikit kemuliaan.
Sedikit anak bukan berarti sedikit keberkahan.
Sedikit pengikut bukan berarti sedikit nilai.
Sedikit fasilitas bukan berarti sedikit pahala.
16. INILAH KESALAHAN UKURAN MANUSIA
Manusia sering mengukur:
besar rumah = sukses.
besar penghasilan = sukses.
banyak anak = sukses.
banyak pengikut = sukses.
jabatan tinggi = sukses.
Padahal Allah mengajarkan ukuran yang berbeda.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
QS. Al-Hujurat: 13
Jadi:
banyak belum tentu mulia.
sedikit belum tentu hina.
Yang menentukan adalah:
takwa.
17. AS-SA'DI: APA YANG ADA DI SISI ALLAH LEBIH BAIK
Syaikh As-Sa'di menjelaskan tentang sikap sahabat mukmin:
فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ، خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
Beliau menjelaskan bahwa meskipun orang beriman itu lebih sedikit harta dan anaknya, apa yang diharapkan dari kebaikan dan kemurahan Allah jauh lebih utama daripada seluruh kenikmatan dunia yang diperebutkan manusia.
[5] As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Al-Kahf: 39 dan rangkaian ayat kisah dua kebun.
Maka orang mukmin tidak berkata:
“Saya miskin, berarti saya gagal.”
Tidak.
Dia berkata:
“Kalau dunia saya sedikit, semoga akhirat saya banyak.”
18. NIKMAT YANG PALING BESAR BUKAN KEBUN
Pemilik kebun mengira kebunnya adalah nikmat terbesar.
Tetapi sahabatnya memahami bahwa nikmat terbesar adalah:
iman.
Karena kebun bisa hilang.
Rumah bisa terbakar.
Uang bisa habis.
Anak bisa pergi.
Jabatan bisa dicopot.
Kesehatan bisa berubah.
Tetapi kalau iman masih ada...
kita masih memiliki harta yang paling mahal.
Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ia bukan hanya zikir ketika susah.
Ia juga zikir ketika berhasil.
19. ZIKIR KETIKA MENDAPAT NIKMAT
Ketika melihat anak kita yang sehat:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika melihat rumah yang telah lama kita impikan:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika usaha berkembang:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika siswa berhasil:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika anak hafal Al-Qur'an:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika kita sembuh:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika mendapatkan rezeki:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tetapi yang paling penting:
bukan hanya lisannya yang mengucapkan.
Hatinya juga harus mengakui:
“Ya Allah, ini dari-Mu.”
20. HADIS “PERBENDAHARAAN SURGA”
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟
“Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah perbendaharaan dari perbendaharaan surga?”
Aku menjawab:
بَلَى
“Tentu.”
Beliau bersabda:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه.
Ibnu Katsir juga menyebutkan hadis ini ketika menafsirkan QS. Al-Kahf ayat 39.
[6] HR. Al-Bukhari dan Muslim, hadis Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه tentang “kanz min kunūz al-jannah”.
21. CATATAN PENTING TENTANG HADIS YANG DISEBUTKAN DALAM TAFSIR TAHLILI
Dalam bahan tafsir yang kita gunakan terdapat hadis:
مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فِي أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ فَيَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، إِلَّا دَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ كُلَّ آفَةٍ حَتَّى تَأْتِيَهُ مَنِيَّتُهُ
“Tidaklah Allah memberikan kepada seorang hamba suatu nikmat berupa keluarga, harta atau anak, kemudian ia mengucapkan ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’, kecuali Allah menghindarkannya dari berbagai musibah sampai datang ajalnya.”
Riwayat ini memang disebutkan oleh sejumlah kitab, termasuk Syu'ab al-Iman karya Al-Baihaqi dan Al-Mu'jam al-Awsath karya Ath-Thabrani.
Namun, sanad hadis ini tidak sekuat hadis sahih tentang “لا حول ولا قوة إلا بالله”. Ibnu Katsir sendiri setelah menyebutkan riwayat tersebut mengutip penilaian Abu al-Fath Al-Azdi bahwa jalurnya tidak sahih.
Karena itu dalam ceramah:
lebih aman menjadikan QS. Al-Kahf:39 dan hadis sahih “لا حول ولا قوة إلا بالله” sebagai dalil utama.
Sedangkan hadis tentang “ما أنعم الله...” dapat disebut sebagai riwayat yang dinukil dalam sebagian kitab, dengan menjelaskan status sanadnya.
Ini penting agar materi ceramah tetap ilmiah dan aman secara hadis.
22. JANGAN MENJADIKAN ZIKIR SEBAGAI JAMINAN MAGIS
Jamaah...
Ada kesalahpahaman yang harus diluruskan.
Kita tidak mengatakan:
“Kalau mengucapkan Masya Allah, rumah pasti tidak akan rusak.”
Tidak demikian.
Kita tidak mengatakan:
“Kalau mengucapkan La quwwata illa billah, harta pasti tidak akan hilang.”
Tidak.
Karena Allah tetap mempunyai ketetapan-Nya.
Para nabi pun diuji.
Para sahabat pun kehilangan harta.
Orang saleh pun mengalami musibah.
Makna zikir adalah:
mengakui Allah, bersyukur kepada Allah, bergantung kepada Allah, dan menerima ketetapan Allah.
23. KALIMAT INI MENGHANCURKAN KESOMBONGAN
Ketika seseorang berkata:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Dia sedang mengatakan:
“Ini bukan semata-mata karena saya.”
Ketika berkata:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Dia mengatakan:
“Saya tidak memiliki kekuatan secara mandiri.”
Maka dua kalimat ini seperti menghancurkan dua penyakit:
Penyakit pertama:
Ujub.
“Semua karena saya.”
Obatnya:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Penyakit kedua:
Merasa berkuasa sendiri.
“Saya mampu melakukan semuanya.”
Obatnya:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
24. DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI
Jamaah...
Orang beriman boleh kaya.
Bahkan bisa menjadi orang yang sangat kaya.
Tetapi hatinya berkata:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Karena dia tahu harta adalah titipan.
Dia berkata:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Karena dia tahu dirinya tidak mampu menjaga nikmat tanpa pertolongan Allah.
Maka prinsipnya:
punya harta, tetapi tidak dimiliki harta.
punya jabatan, tetapi tidak diperbudak jabatan.
punya rumah, tetapi tidak menjadikan rumah sebagai tujuan hidup.
punya anak, tetapi tidak menjadikan anak sebagai pengganti Allah.
25. KETIKA ANAK MENJADI SUMBER KESOMBONGAN
Ayat ini menyebut:
مَالًا وَوَلَدًا
“Harta dan anak.”
Dua hal yang paling sering menjadi kebanggaan manusia.
“Anak saya sekolah di sana.”
“Anak saya begini.”
“Anak saya punya prestasi.”
“Anak saya hafal sekian juz.”
Alhamdulillah.
Tetapi jangan sampai prestasi anak menjadi alasan kita merendahkan anak orang lain.
Ucapkan:
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ini karunia Allah.”
Kemudian:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Anak adalah amanah.
Bukan alat untuk membangun gengsi.
26. KETIKA RUMAH MENJADI SUMBER KESOMBONGAN
Ada orang membeli rumah.
Awalnya:
“Alhamdulillah, saya punya rumah.”
Lama-lama:
“Rumah saya lebih besar dari rumah dia.”
Kemudian:
“Kenapa rumah dia seperti itu?”
Akhirnya nikmat berubah menjadi kesombongan.
Ayat ini mengajarkan:
Ketika masuk rumah:
ingat Allah.
Ketika melihat keindahan:
ingat Allah.
Ketika melihat nikmat:
ingat Allah.
Karena nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi fitnah.
27. KETIKA PEKERJAAN MENJADI SUMBER KESOMBONGAN
Kita bekerja.
Kita naik jabatan.
Kita memperoleh penghasilan.
Jangan lupa:
siapa yang memberi kesehatan?
siapa yang memberi kesempatan?
siapa yang memberi orang-orang yang mendukung?
siapa yang memberi umur?
siapa yang menahan kita dari kecelakaan?
siapa yang mengatur rezeki?
Maka:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Dan:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
28. KETIKA GAGAL, KALIMAT INI JUGA MENJADI PENGUAT
Ayat ini bukan hanya untuk orang yang sukses.
Ketika usaha gagal:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika rencana tidak berhasil:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ketika kehilangan sesuatu:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bukan berarti kita tidak boleh sedih.
Sedih itu manusiawi.
Tetapi jangan sampai kesedihan membuat kita menyalahkan Allah.
Kita berkata:
“Ya Allah, saya sudah berusaha. Engkau lebih tahu apa yang terbaik.”
Inilah tawakal.
29. DUA SISI TAUHID DALAM AYAT INI
Ayat 39 mengajarkan dua sisi:
Pertama: mengakui nikmat
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ini terjadi atas kehendak Allah.”
Kedua: mengakui kelemahan
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.”
Kalau dua hal ini hidup dalam hati...
ketika sukses:
tidak sombong.
Ketika gagal:
tidak putus asa.
Ketika kaya:
tidak lupa diri.
Ketika miskin:
tidak hina diri.
Ketika dipuji:
tidak mabuk pujian.
Ketika dicela:
tidak hancur.
30. PELAJARAN UNTUK PENDIDIK
Jamaah...
Ayat ini sangat relevan bagi guru.
Ketika siswa berhasil:
Jangan hanya berkata:
“Karena saya mengajar dengan baik.”
Katakan:
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ini karunia Allah.”
Kemudian:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Guru berusaha.
Siswa belajar.
Orang tua mendukung.
Tetapi taufik dari Allah.
Maka keberhasilan pendidikan harus melahirkan:
syukur, bukan kesombongan.
31. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Ketika anak mendapatkan prestasi:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Ketika anak hafal Al-Qur'an:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Ketika anak diterima sekolah:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Ketika anak mendapatkan pekerjaan:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Tetapi setelah itu:
didik anak agar tahu bahwa semua keberhasilan berasal dari Allah.
Jangan hanya mengatakan:
“Kamu hebat.”
Tambahkan:
“Alhamdulillah, Allah yang memberikan kemampuan.”
Dengan demikian anak belajar rendah hati.
32. DUNIA BUKAN MILIK MUTLAK KITA
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”
QS. An-Nahl: 53
Kalimat ini sejalan dengan:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Apa pun yang kita punya...
asalnya dari Allah.
Kesehatan dari Allah.
Keluarga dari Allah.
Ilmu dari Allah.
Harta dari Allah.
Waktu dari Allah.
Bahkan kemampuan kita untuk bersyukur pun merupakan taufik dari Allah.
33. JANGAN SAMPAI KITA SEPERTI PEMILIK KEBUN
Jamaah...
Kesalahan pemilik kebun bukan karena dia memiliki kebun.
Kesalahannya karena:
dia lupa kepada Pemilik sebenarnya.
Dia menganggap kebun akan abadi.
Dia meragukan hari kiamat.
Dia membanggakan harta.
Dia merendahkan saudaranya.
Dia tidak mengucapkan:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Maka kita harus belajar.
Ketika mendapatkan nikmat:
jangan langsung melihat diri sendiri.
Lihat Allah.
Ketika melihat keberhasilan:
jangan hanya melihat usaha.
Lihat taufik Allah.
Ketika melihat harta:
jangan hanya melihat jumlah.
Lihat amanah.
34. RENUNGAN YANG SANGAT DALAM
Jamaah...
Coba kita bayangkan:
Apa yang kita miliki sekarang, 100 tahun yang lalu ada di tangan siapa?
Rumah kita?
Belum menjadi milik kita.
Tanah kita?
Belum menjadi milik kita.
Mobil kita?
Belum ada.
Pekerjaan kita?
Belum ada.
Anak kita?
Belum ada.
Bahkan tubuh kita yang sekarang kita banggakan...
belum ada.
Kemudian Allah menghadirkan semuanya.
Dan beberapa puluh tahun lagi...
semuanya akan berpindah tangan lagi.
Maka:
kita bukan pemilik mutlak.
Kita hanya:
penjaga sementara.
35. MAKA UCAPKAN “MASYA ALLAH” DENGAN HATI
Bukan sekadar:
Ma-sya-Allah.
Tetapi:
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ya Allah, aku mengakui kehendak-Mu.”
Bukan sekadar:
La quwwata illa billah.
Tetapi:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Ya Allah, aku mengakui kelemahanku dan kekuatan-Mu.”
Inilah zikir yang mengubah cara kita memandang kehidupan.
36. PENUTUP
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Pemilik kebun memiliki:
harta.
anak.
kebun.
kemewahan.
Tetapi dia kehilangan:
syukur.
tawadhu.
keyakinan akhirat.
Sahabatnya mungkin memiliki lebih sedikit:
harta.
anak.
fasilitas.
Tetapi dia memiliki:
tauhid.
iman.
syukur.
tawakal.
Maka siapa yang lebih kaya?
Dunia mengatakan:
“Yang memiliki kebun.”
Iman mengatakan:
“Yang memiliki Allah.”
Karena itu ketika kita melihat nikmat, jangan berkata dalam hati:
“Ini karena saya.”
Tetapi katakan:
مَا شَاءَ اللَّهُ
Dan ketika kita menyadari kelemahan kita:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Ya Allah...
Jika Engkau memberi kami harta, jadikan harta itu sarana ketaatan.
Jika Engkau memberi kami anak, jadikan mereka anak yang saleh.
Jika Engkau memberi kami ilmu, jadikan ilmu itu bermanfaat.
Jika Engkau memberi kami jabatan, jadikan kami amanah.
Jika Engkau memberi kami keberhasilan, jauhkan kami dari kesombongan.
Jika Engkau memberi kami nikmat, jadikan kami orang-orang yang bersyukur.
Jika Engkau mengambil sebagian nikmat kami, jadikan kami orang-orang yang bersabar.
Dan jangan Engkau biarkan nikmat dunia membuat kami lupa kepada-Mu.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُغْتَرِّينَ بِنِعَمِكَ.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang bersyukur dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang tertipu oleh nikmat-nikmat-Mu.”
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا، وَأَعِنَّا عَلَىٰ شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
“Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami dan bantulah kami untuk bersyukur kepada-Mu, mengingat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
Dan ajarkan hati kami untuk selalu berkata:
مَا شَاءَ اللَّهُ، لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Semua terjadi atas kehendak Allah; tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]:39. Ayat tersebut menjadi dasar utama pembahasan tentang mengaitkan nikmat dengan kehendak dan kekuasaan Allah.
[2] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:39. Ath-Thabari menjelaskan bahwa ketika pemilik kebun merasa kagum dengan apa yang dilihatnya, seharusnya ia mengatakan bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi; beliau juga menjelaskan makna “لا قوة إلا بالله” sebagai pengakuan bahwa kekuatan dalam melakukan ketaatan dan mengurus berbagai urusan berasal dari Allah.
[3] Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:39. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan dorongan agar seseorang mengucapkan “ما شاء الله لا قوة إلا بالله” ketika merasa kagum terhadap keadaan dirinya, harta atau anaknya.
[4] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:39. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa harta yang terkumpul adalah dengan kekuasaan Allah, bukan semata-mata karena kekuatan manusia.
[5] As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:39 dan rangkaian kisah dua kebun. As-Sa‘di menekankan bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal daripada kenikmatan dunia.
[6] HR. Al-Bukhari dan Muslim, hadis Abu Musa Al-Asy‘ari رضي الله عنه tentang sabda Nabi ﷺ: “لا حول ولا قوة إلا بالله” sebagai kanz min kunūz al-jannah (perbendaharaan dari perbendaharaan surga). Riwayat sahih ini juga dikutip oleh Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi dalam tafsir QS. Al-Kahf:39.
[7] HR. Ahmad dan beberapa kitab hadis mengenai riwayat Anas رضي الله عنه: “ما أنعم الله على عبد نعمة...”. Riwayat ini memang tercantum dalam sejumlah sumber, tetapi kualitas sanadnya diperselisihkan; Ibnu Katsir menyebut penilaian bahwa jalur tersebut tidak sahih. Karena itu ia tidak dijadikan sebagai dalil utama dalam materi ini.
[8] Al-Qur'an, QS. Ibrahim [14]:7, tentang syukur dan bertambahnya nikmat.
[9] Al-Qur'an, QS. An-Nahl [16]:53: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ — “Segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”
[10] Al-Qur'an, QS. Ali ‘Imran [3]:26, tentang Allah sebagai Pemilik kerajaan, Yang memberi dan mencabut kekuasaan serta memuliakan dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki.
[11] Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]:13, tentang ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah, yaitu ketakwaan, bukan kekayaan atau status sosial.
🌿 KESIMPULAN BESAR QS. AL-KAHF AYAT 39
Ayat ini sebenarnya mengajarkan empat perubahan cara berpikir:
1. Dari “INI MILIKKU”
menjadi:
مَا شَاءَ اللَّهُ
“Ini terjadi atas kehendak Allah.”
2. Dari “AKU YANG KUAT”
menjadi:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah.”
3. Dari “AKU LEBIH BAIK”
menjadi:
“Mungkin aku lebih sedikit di dunia, tetapi kemuliaan ditentukan oleh takwa.”
4. Dari “DUNIA ADALAH SEGALANYA”
menjadi:
“Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
Maka kalimat yang paling tepat untuk membawa pulang pesan ayat ini adalah:
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Ketika berhasil, ucapkan.
Ketika mendapat nikmat, ucapkan.
Ketika kagum kepada anak, ucapkan.
Ketika melihat rumah, ucapkan.
Ketika melihat usaha berkembang, ucapkan.
Dan ketika gagal serta merasa lemah, jangan lupa:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.
Karena orang yang benar-benar memahami kalimat ini akan belajar satu hal:
Dia bekerja dengan tangannya, tetapi dia tidak menyembah hasil pekerjaannya.
Dia menikmati nikmatnya, tetapi dia tidak melupakan Pemberi nikmatnya.
Dia berusaha sekuat tenaga, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah.
Post a Comment