KETIKA KEKAYAAN MELAHIRKAN KESOMBONGAN
🌿 KETIKA KEKAYAAN MELAHIRKAN KESOMBONGAN
“Aku Kira Kebun Ini Tidak Akan Binasa Selamanya”
Tafsir QS. Al-Kahf Ayat 35
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
A. MUQADDIMAH
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita lanjutkan tadabbur kita terhadap kisah dua pemilik kebun dalam Surah Al-Kahf.
Pada ayat sebelumnya kita melihat bagaimana Allah menggambarkan seseorang yang memiliki dua kebun yang luar biasa subur.
Tetapi pada ayat 35, persoalannya mulai berubah.
Yang tadinya hanya memiliki kebun, sekarang kebun mulai memiliki hatinya.
Yang tadinya hanya memiliki harta, sekarang harta melahirkan kesombongan.
Allah ﷻ berfirman:
B. QS. AL-KAHF AYAT 35
وَدَخَلَ جَنَّتَهٗ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖۚ قَالَ مَآ اَظُنُّ اَنْ تَبِيْدَ هٰذِهٖٓ اَبَدًاۙ
Artinya:
“Dan dia memasuki kebunnya dengan sikap merugikan dirinya sendiri (karena angkuh dan kafir); dia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.’”
Perhatikan kalimat Allah:
وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ
“Sedangkan dia adalah orang yang menzalimi dirinya sendiri.”
Pertanyaannya:
Mengapa orang yang memiliki kebun yang indah justru disebut menzalimi dirinya sendiri?
Karena masalahnya bukan pada kebunnya.
Masalahnya adalah cara dia memandang kebun tersebut.
Dia tidak melihatnya sebagai:
“Ini adalah nikmat Allah.”
Tetapi melihatnya sebagai:
“Ini milikku.”
Dia tidak melihat:
“Allah yang memberikan.”
Tetapi merasa:
“Aku yang mampu.”
Dia tidak berpikir:
“Suatu hari semuanya akan berakhir.”
Tetapi berkata:
مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هٰذِهِ أَبَدًا
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selamanya.”
C. “ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ” — DIA SEBENARNYA SEDANG MERUGIKAN DIRINYA SENDIRI
Allah tidak mengatakan:
“وَهُوَ ظَالِمٌ لِجَنَّتِهِ”
“Dia menzalimi kebunnya.”
Tetapi:
وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ
“Dia menzalimi dirinya sendiri.”
Ini sangat dalam.
Karena dosa, kesombongan, kekufuran dan kelalaian pada akhirnya tidak merugikan Allah sedikit pun.
Allah tidak membutuhkan kita.
Kitalah yang membutuhkan Allah.
Allah ﷻ berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۖوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
QS. Fathir: 15
Artinya:
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”
Maka ketika manusia sombong kepada Allah, sebenarnya dia sedang menghancurkan dirinya sendiri.
D. KENAPA ORANG KAYA ITU DISEBUT “ZALIM TERHADAP DIRINYA”?
Imam Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menunjukkan bahwa orang itu masuk ke kebunnya dalam keadaan:
ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ بِالْكُفْرِ وَالطُّغْيَانِ
Artinya:
“Dia menzalimi dirinya sendiri dengan kekufuran dan sikap melampaui batas.” [1]
Jadi, kekayaan bukanlah dosa.
Tetapi kekayaan yang melahirkan kekufuran dan kesombongan itulah yang membinasakan.
Seseorang boleh mempunyai:
- rumah besar,
- kebun luas,
- kendaraan bagus,
- usaha berkembang,
- tabungan banyak,
tetapi jangan sampai semua itu membuatnya berkata dalam hati:
“Saya tidak membutuhkan Allah.”
E. “مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هٰذِهِ أَبَدًا”
“AKU KIRA INI TIDAK AKAN BINASA SELAMANYA”
Inilah penyakit terbesar manusia:
Merasa sesuatu yang kita miliki akan bertahan selamanya.
Ketika masih muda:
“Saya masih punya banyak waktu.”
Ketika sehat:
“Nanti saja ibadahnya.”
Ketika kaya:
“Harta saya aman.”
Ketika memiliki jabatan:
“Jabatan ini akan lama.”
Ketika mempunyai rumah:
“Ini rumah saya selamanya.”
Ketika memiliki keluarga:
“Keluarga saya akan selalu bersama saya.”
Padahal Allah sudah mengingatkan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ
QS. Ali 'Imran: 185
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
Tidak ada yang abadi di dunia.
F. DUNIA MEMANG TERLIHAT ABADI KETIKA KITA SEDANG MENIKMATINYA
Ketika seseorang sedang menikmati masa muda, dia merasa masa muda akan panjang.
Ketika seseorang sedang sehat, dia merasa kesehatan akan selalu ada.
Ketika bisnis sedang maju, dia merasa keuntungan akan terus datang.
Ketika keluarga sedang lengkap, dia merasa mereka akan selalu berkumpul.
Tetapi waktu terus berjalan.
Rambut berubah.
Tenaga berkurang.
Anak-anak tumbuh.
Orang tua pergi.
Harta berpindah tangan.
Dan akhirnya manusia sendiri dipanggil oleh Allah.
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
QS. Ar-Rahman: 26–27
Artinya:
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
Maka ayat 35 ini sebenarnya sedang menghancurkan sebuah ilusi:
“Apa yang kita miliki hari ini tidak akan kita miliki selamanya.”
G. KEKAYAAN TIDAK SALAH, TETAPI MERASA AMAN DENGAN KEKAYAAN ITULAH YANG BERBAHAYA
Ada perbedaan besar antara:
“Saya memiliki harta.”
dan
“Harta saya akan menjamin kehidupan saya.”
Yang pertama bisa menjadi nikmat.
Yang kedua bisa menjadi kesombongan.
Allah menceritakan perkataan manusia:
وَمَآ اَظُنُّ السَّاعَةَ قَاۤىِٕمَةً ۙ وَّلَىِٕنْ رُّدِدْتُّ اِلٰى رَبِّيْ لَاَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنْقَلَبًا
QS. Al-Kahf: 36
Artinya:
“Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan terjadi. Dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada ini.”
Perhatikan perkembangan pikirannya.
Ayat 35:
“Kebun ini tidak akan binasa.”
Ayat 36:
“Hari Kiamat saya kira tidak akan terjadi.”
Kemudian:
“Kalaupun saya kembali kepada Tuhan, saya akan mendapatkan yang lebih baik.”
Inilah ketika kesombongan terhadap dunia berkembang menjadi kesalahan dalam memandang akhirat.
H. KOMENTAR IMAM ATH-THABARI
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa orang tersebut telah berlaku zalim terhadap dirinya karena kesombongannya terhadap nikmat yang Allah berikan.
Dalam tafsirnya beliau menjelaskan makna:
وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ
yakni ia melakukan kezaliman terhadap dirinya dengan kekufuran dan kesombongan, karena tidak menunaikan hak Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya. [2]
Pelajarannya:
Nikmat memiliki hak.
Kalau Allah memberikan ilmu, ada hak ilmu.
Kalau Allah memberikan kesehatan, ada hak kesehatan.
Kalau Allah memberikan harta, ada hak harta.
Kalau Allah memberikan jabatan, ada hak jabatan.
Kalau Allah memberikan anak, ada hak anak.
Kalau Allah memberikan umur, ada hak umur.
Maka pertanyaannya bukan sekadar:
“Apa yang Allah berikan kepada kita?”
Tetapi:
“Apa yang sudah kita lakukan dengan pemberian Allah tersebut?”
I. KESALAHAN PERTAMA:
MERASA SEMUA HASIL KARENA KEMAMPUAN SENDIRI
Inilah salah satu penyakit pemilik kebun.
Dia melihat kebun yang subur.
Dia melihat hasil panen.
Dia melihat kekayaannya.
Dia melihat kemampuan pekerjanya.
Kemudian dia lupa kepada Dzat yang menciptakan:
- tanah,
- air,
- matahari,
- udara,
- benih,
- kemampuan manusia,
- dan hukum-hukum alam.
Padahal Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِّنْ نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ
QS. An-Nahl: 53
Artinya:
“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”
Maka kalau kita sukses, jangan berkata:
“Saya hebat.”
Tetapi katakan:
“Alhamdulillah, Allah memberi saya kemampuan.”
Bukan berarti kita tidak boleh mengakui usaha.
Kita tetap bekerja keras.
Tetapi kita sadar:
Usaha adalah sebab. Allah adalah pemberi hasil.
J. NASIHAT UNTUK ORANG YANG SUKSES
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kalau Allah sedang memberikan kesuksesan kepada kita, jangan sampai kesuksesan tersebut membuat kita lupa kepada Allah.
Ketika bisnis berkembang:
shalat jangan berkurang.
Ketika penghasilan bertambah:
sedekah jangan berkurang.
Ketika jabatan naik:
tawadhu jangan berkurang.
Ketika rumah semakin besar:
masjid jangan semakin jauh.
Ketika kendaraan semakin bagus:
orang tua jangan dilupakan.
Ketika rekening semakin banyak:
zakat jangan ditinggalkan.
Itulah kesuksesan yang sebenarnya.
K. KISAH QARUN: CONTOH LAIN KEKAYAAN YANG MELAHIRKAN KESOMBONGAN
Allah juga menceritakan Qarun.
Ketika Qarun diberi kekayaan yang sangat besar, orang-orang menasihatinya:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
QS. Al-Qashash: 77
Artinya:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”
Namun Qarun menjawab:
اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْ
QS. Al-Qashash: 78
Artinya:
“Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
Kalimatnya sangat mirip dengan penyakit manusia sepanjang zaman:
“Saya sukses karena saya pintar.”
“Saya kaya karena saya kerja keras.”
“Saya berhasil karena saya punya strategi.”
Semua itu mungkin benar sebagai sebab.
Tetapi jangan lupakan Musabbib al-Asbab — Allah, Dzat yang menciptakan dan mengatur seluruh sebab.
L. IBNU KATSIR: JANGAN TERTIPU DENGAN SEBAB
Dalam tafsir kisah Qarun, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Qarun mengklaim kekayaan tersebut diperolehnya karena kemampuan dan pengetahuannya sendiri.
Beliau menyebut perkataan Qarun:
أَيْ لَا أَحْتَاجُ إِلَى مَا تَقُولُونَ، وَقَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ بِمَا أَنَا فِيهِ لِعِلْمِهِ أَنِّي أَهْلٌ لِذَلِكَ
Artinya:
“Seakan-akan dia berkata: Aku tidak membutuhkan apa yang kalian nasihatkan, karena Allah memberikan kepadaku apa yang aku miliki disebabkan pengetahuan-Nya bahwa aku memang layak mendapatkannya.” [3]
Ini adalah bentuk penyakit hati:
Merasa diri memang pantas mendapatkan semuanya.
Padahal seorang mukmin mengatakan:
“Ya Allah, kalau bukan karena-Mu, saya tidak punya apa-apa.”
M. HADIS: KEKAYAAN SEJATI BUKAN BANYAKNYA HARTA
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya:
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
HR. Bukhari dan Muslim. [4]
Luar biasa.
Ada orang yang memiliki sedikit tetapi merasa cukup.
Ada orang yang memiliki banyak tetapi selalu merasa kurang.
Yang satu memiliki:
غِنَى النَّفْسِ
kekayaan jiwa.
Yang lain memiliki:
فَقْرَ النَّفْسِ
kemiskinan jiwa.
N. ORANG YANG TIDAK PERNAH MERASA CUKUP
Ada orang yang berkata:
“Kalau penghasilan saya 5 juta, saya akan tenang.”
Penghasilannya menjadi 5 juta.
Kemudian:
“Kalau 10 juta, pasti tenang.”
Dapat 10 juta.
“Kalau 20 juta.”
Dapat 20 juta.
Kemudian:
“Kalau punya rumah kedua.”
Punya.
“Kalau punya kendaraan yang lebih bagus.”
Punya.
Tetapi ketenangan tidak datang.
Mengapa?
Karena yang kosong bukan rekeningnya.
Yang kosong adalah hatinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Artinya:
“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah, dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.”
HR. Bukhari dan Muslim. [5]
Ini bukan berarti manusia dilarang memiliki harta.
Tetapi manusia harus berhati-hati terhadap keserakahan yang tidak pernah selesai.
O. BAGAIMANA CARA AGAR HARTA TIDAK MEMBUAT SOMBONG?
1. Selalu ingat dari mana harta berasal
مِنَ اللّٰهِ
“Dari Allah.”
2. Ingat bahwa harta hanya titipan
Allah ﷻ berfirman:
وَاٰتُوْهُمْ مِّنْ مَّالِ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اٰتٰىكُمْ
QS. An-Nur: 33
Artinya:
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.”
Perhatikan ungkapan Al-Qur'an:
مَالِ اللّٰهِ
“harta Allah.”
Kita hanyalah pemegang amanah.
3. Perbanyak mengingat kematian
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Artinya:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan,” yaitu kematian.
HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah. [6]
Kematian mengajarkan kita:
Rumah besar akan ditinggalkan.
Mobil akan ditinggalkan.
Kebun akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan.
Rekening akan ditinggalkan.
Yang ikut bersama kita hanyalah amal.
P. HARTA AKAN DITANYAKAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ ... وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ
Artinya:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya ... tentang hartanya: dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya.”
HR. Tirmidzi. [7]
Perhatikan dua pertanyaan:
Dari mana harta diperoleh?
Halal atau haram?
Ke mana harta dibelanjakan?
Untuk kebaikan atau kemaksiatan?
Maka orang kaya yang cerdas bukanlah orang yang hanya pandai:
mengumpulkan harta.
Tetapi pandai:
mempertanggungjawabkan harta.
Q. JANGAN SAMPAI KITA MENJADI “PEMILIK KEBUN” DI ZAMAN SEKARANG
Kita mungkin tidak memiliki kebun anggur.
Tetapi kita mungkin memiliki:
🏠 rumah,
🚗 kendaraan,
💰 tabungan,
🏪 usaha,
📱 bisnis online,
🌾 sawah,
🏢 jabatan,
🎓 pendidikan,
👨👩👧👦 keluarga,
atau bahkan popularitas dan pengikut di media sosial.
Semua itu bisa menjadi “kebun” kita.
Pertanyaannya:
Apakah kita mengatakan dengan hati, “Ini semua karena saya”?
Ataukah:
“Alhamdulillah, ini semua pemberian Allah.”
R. JANGAN TUNGGU HARTA HILANG UNTUK MENGENAL ALLAH
Ini salah satu tragedi manusia.
Ketika sehat:
lupa Allah.
Ketika sakit:
“Ya Allah!”
Ketika kaya:
lupa Allah.
Ketika bangkrut:
“Ya Allah!”
Ketika punya jabatan:
lupa Allah.
Ketika jabatan hilang:
“Ya Allah!”
Padahal seorang mukmin seharusnya mengenal Allah:
saat lapang maupun sempit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Artinya:
“Kenalilah Allah pada saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu pada saat sulit.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya. [8]
Maka jangan hanya dekat kepada Allah ketika membutuhkan pertolongan.
Dekatlah kepada Allah ketika hidup sedang baik-baik saja.
S. KESOMBONGAN SERING DIMULAI DARI KALIMAT KECIL
Kesombongan tidak selalu dimulai dengan kalimat:
“Saya lebih hebat daripada kalian!”
Kadang dimulai dengan:
“Saya memang lebih tahu.”
“Saya memang lebih sukses.”
“Saya memang lebih kaya.”
“Saya bisa tanpa bantuan siapa-siapa.”
“Kalau bukan karena saya, tidak akan jadi.”
Hati-hati!
Kalimat seperti itu bisa menjadi pintu kesombongan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya:
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
HR. Muslim. [9]
Jadi sombong bukan hanya memakai pakaian mahal.
Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
T. APAKAH BOLEH MENIKMATI HARTA?
Tentu boleh.
Allah ﷻ berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِ
QS. Al-A'raf: 32
Artinya:
“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’”
Islam bukan agama yang menyuruh manusia sengaja hidup miskin.
Tetapi Islam mengajarkan:
Nikmati dunia tanpa diperbudak dunia.
Pakai pakaian bagus, tetapi jangan sombong.
Punya kendaraan bagus, tetapi jangan meremehkan orang lain.
Punya rumah bagus, tetapi jangan lupa masjid.
Punya usaha besar, tetapi jangan tinggalkan shalat.
Punya uang banyak, tetapi jangan lupa zakat dan sedekah.
U. RENUNGAN PALING DALAM
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita bayangkan pemilik kebun tersebut berdiri di tengah kebunnya.
Dia melihat:
🍇 anggur yang subur.
🌴 kurma yang tinggi.
🌾 tanaman yang melimpah.
💧 air yang mengalir.
Kemudian dia berkata:
مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هٰذِهِ أَبَدًا
“Aku kira kebun ini tidak akan binasa selamanya.”
Tetapi siapa yang mengetahui apa yang terjadi keesokan harinya?
Allah.
Dan siapa yang mengetahui berapa lama kita akan menikmati rumah kita?
Allah.
Siapa yang mengetahui berapa lama kita akan memegang jabatan?
Allah.
Siapa yang mengetahui berapa lama kesehatan kita?
Allah.
Siapa yang mengetahui kapan kita dipanggil?
Allah.
Karena itu jangan pernah berkata dengan hati:
“Ini akan selalu menjadi milikku.”
Katakan:
“Ya Allah, selama Engkau titipkan kepadaku, bantu aku menjaganya dengan amanah. Dan ketika Engkau mengambilnya, jadikan hatiku tetap ridha kepada-Mu.”
V. EMPAT KALIMAT YANG HARUS DIHINDARI
❌ “Saya kaya karena saya hebat.”
Ganti dengan:
✅ “Allah memberi saya kemampuan.”
❌ “Harta ini akan selalu ada.”
Ganti dengan:
✅ “Harta ini hanya titipan.”
❌ “Saya tidak membutuhkan siapa-siapa.”
Ganti dengan:
✅ “Saya membutuhkan Allah dan membutuhkan manusia.”
❌ “Saya sudah aman dengan apa yang saya miliki.”
Ganti dengan:
✅ “Saya harus terus memperbaiki amal sebelum bertemu Allah.”
W. PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 35 mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat dalam:
Yang membuat manusia binasa bukan sekadar memiliki dunia, tetapi ketika dunia membuatnya lupa kepada Pencipta dunia.
Pemilik kebun memiliki kekayaan.
Tetapi dia kehilangan rasa membutuhkan Allah.
Dia memiliki kebun.
Tetapi kehilangan syukur.
Dia memiliki harta.
Tetapi kehilangan kesadaran bahwa harta itu sementara.
Dia melihat kebunnya.
Tetapi tidak melihat Allah sebagai Pemberi nikmat.
Maka marilah kita belajar.
Kalau Allah memberi kita kekayaan:
jadilah kaya yang bersyukur.
Kalau Allah memberi kita ilmu:
jadilah orang berilmu yang tawadhu.
Kalau Allah memberi kita jabatan:
jadilah pemimpin yang amanah.
Kalau Allah memberi kita kesehatan:
gunakan untuk beribadah.
Kalau Allah memberi kita anak:
didik mereka menjadi hamba Allah.
Dan kalau Allah memberi kita umur:
jangan habiskan seluruh umur hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan.
Karena suatu hari nanti kita akan meninggalkan semuanya.
Dan pada saat itu kita akan sadar:
Rumah bukan milik kita.
Tanah bukan milik kita.
Kebun bukan milik kita.
Jabatan bukan milik kita.
Harta bukan milik kita.
Semuanya hanyalah titipan Allah.
Yang benar-benar menjadi milik kita adalah:
amal yang kita bawa menghadap Allah.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang memiliki dunia di tangan, tetapi Allah tetap menjadi pemilik hati kita.
DOA
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا.
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَمْوَالِنَا، وَأَعْمَالِنَا، وَأَوْقَاتِنَا، وَأَهْلِنَا.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ أَمْوَالَنَا فِي أَيْدِينَا، وَلَا تَجْعَلْهَا فِي قُلُوبِنَا.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا سَبَبًا لِكِبْرِنَا وَغَفْلَتِنَا، بَلِ اجْعَلْهَا سَبَبًا لِشُكْرِنَا وَقُرْبِنَا مِنْكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
📚 FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[1] إسماعيل بن عمر بن كثير، تفسير القرآن العظيم، تفسير سورة الكهف، الآية 35. Penjelasan Ibnu Katsir mengenai ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ dikaitkan dengan kekufuran dan sikap melampaui batas.
[2] محمد بن جرير الطبري، جامع البيان عن تأويل آي القرآن، تفسير سورة الكهف، الآية 35. Ath-Thabari menjelaskan keadaan pemilik kebun sebagai orang yang menzalimi dirinya dengan kekufuran terhadap nikmat Allah.
[3] إسماعيل بن عمر بن كثير، تفسير القرآن العظيم، تفسير سورة القصص، الآية 78. Penjelasan mengenai perkataan Qarun إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي dan kesombongannya terhadap sebab-sebab kekayaan.
[4] محمد بن إسماعيل البخاري، صحيح البخاري، كتاب الرقاق، باب الغنى غنى النفس؛ ومسلم بن الحجاج، صحيح مسلم، كتاب الزكاة، باب ليس الغنى عن كثرة العرض.
[5] صحيح البخاري، كتاب الرقاق، باب ما يتقى من فتنة المال؛ وصحيح مسلم، كتاب الزكاة، باب لو أن لابن آدم واديين لابتغى ثالثًا.
[6] محمد بن عيسى الترمذي، سنن الترمذي، كتاب الزهد، باب ما جاء في ذكر الموت، hadis tentang memperbanyak mengingat penghancur kenikmatan.
[7] سنن الترمذي، كتاب صفة القيامة والرقائق والورع، hadis tentang pertanyaan terhadap umur, ilmu, harta dan tubuh pada hari kiamat.
[8] سنن الترمذي، كتاب صفة القيامة والرقائق والورع، hadis tentang mengenal Allah ketika lapang: تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ.
[9] مسلم بن الحجاج، صحيح مسلم، كتاب الإيمان، باب تحريم الكبر وبيانه، hadis: الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
[10] عبد الرحمن بن ناصر السعدي، تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان، تفسير سورة الكهف، الآيات 32–44, tentang perumpamaan dua pemilik kebun, nikmat dunia, kesombongan dan kehancuran kenikmatan dunia.
🌱 INTI PESAN CERAMAH
“Jangan sampai kita memiliki kebun tetapi kehilangan Allah; jangan sampai kita memiliki harta tetapi kehilangan syukur; jangan sampai kita membangun kehidupan dunia sedemikian kuatnya hingga lupa bahwa suatu hari kita sendiri akan meninggalkannya.”
Post a Comment