KETIKA KELUPAAN MENJADI JALAN MENUJU PETUNJUK ALLAH
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 61
“KETIKA KELUPAAN MENJADI JALAN MENUJU PETUNJUK ALLAH”
QS. AL-KAHF AYAT 61
اللَّهُ أَعْلَمُ، قَالَ اللهُ تَعَالَى:
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا
Artinya:
“Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu ikan itu mengambil jalannya ke laut.”
(QS. Al-Kahf: 61)
MUQADDIMAH
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah...
Hari ini kita melanjutkan perjalanan tadabbur Surah Al-Kahf.
Kita telah menyaksikan bagaimana Nabi Musa عليه السلام memiliki semangat luar biasa untuk mencari ilmu.
Beliau berkata:
لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Aku tidak akan berhenti berjalan sampai aku mencapai pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan bertahun-tahun.”
Musa عليه السلام tidak berkata:
“Kalau dekat saya berangkat.”
“Kalau mudah saya belajar.”
“Kalau tidak capek saya teruskan.”
Tidak!
Beliau berkata:
لَا أَبْرَحُ
“Aku tidak akan berhenti.”
Tetapi ternyata, setelah perjalanan panjang itu, ada sesuatu yang sangat menarik.
Ketika sampai di tempat yang dicari...
mereka lupa ikan.
Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا
“Maka ketika mereka sampai di pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya.”
Di sinilah ada pelajaran besar:
Tidak semua kejadian yang tampak seperti kesalahan kecil berarti perjalanan kita gagal. Kadang-kadang Allah sedang mengarahkan kita melalui sesuatu yang tidak kita sadari.
1. MEREKA SUDAH SAMPAI, TETAPI BELUM MENYADARI BAHWA MEREKA SUDAH SAMPAI
Perhatikan ayat:
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا
“Ketika keduanya sampai pada pertemuan dua laut.”
Mereka sudah berada di tempat yang dicari.
Tetapi mereka belum sadar.
Mengapa?
Karena tanda yang Allah jadikan petunjuk adalah ikan.
Allah telah memberikan petunjuk kepada Musa:
“Di mana ikan itu hilang, di situlah tempat yang engkau cari.”
Dalam hadis sahih, Nabi ﷺ menjelaskan kisah tersebut.
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«فَقَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ لِي بِهِ؟ قَالَ: تَأْخُذُ حُوتًا فَتَجْعَلُهُ فِي مِكْتَلٍ، فَحَيْثُمَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَهُوَ ثَمَّ»
Artinya:
“Musa bertanya, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku dapat menemukannya?’ Allah berfirman, ‘Bawalah seekor ikan dan masukkan ke dalam sebuah wadah. Di mana engkau kehilangan ikan itu, maka di situlah tempatnya.’”[1]
Hadis ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan merupakan bagian dari penjelasan Nabi ﷺ tentang perjalanan Musa mencari al-Khidr.
Perhatikan jamaah...
Allah tidak memberikan kepada Musa peta lengkap.
Allah tidak mengatakan:
“Pergilah ke koordinat sekian.”
Tidak.
Allah hanya memberikan tanda.
Dan terkadang kehidupan kita juga demikian.
Allah tidak selalu memberikan kepada kita seluruh peta kehidupan.
Allah memberikan petunjuk langkah demi langkah.
2. ALLAH TIDAK SELALU MEMBERIKAN KITA SELURUH JAWABAN DI AWAL
Ini penting.
Kita sering berkata:
“Ya Allah, tunjukkan seluruh jalan hidupku.”
“Ya Allah, beritahu apa yang akan terjadi lima tahun lagi.”
“Ya Allah, beritahu apakah pilihan ini benar.”
Tetapi Allah mengajarkan kepada kita melalui kisah Musa:
Tidak semua jawaban diberikan sekaligus.
Musa hanya diberikan sebuah tanda:
“Ketika ikan itu hilang, di situlah tempatnya.”
Kemudian Musa berjalan.
Berjalan.
Berjalan.
Dan ketika tanda itu terjadi, mereka bahkan sempat tidak menyadarinya.
Ini mengajarkan:
Jangan menuntut Allah menjelaskan seluruh masa depan sebelum kita mau melangkah.
Kita diperintahkan:
ikhtiar, doa, tawakal, lalu mengikuti petunjuk Allah.
3. “نَسِيَا حُوتَهُمَا” — MEREKA LUPA IKANNYA
Allah berfirman:
نَسِيَا حُوتَهُمَا
“Mereka berdua lupa ikan mereka.”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa secara riwayat, ikan tersebut berada bersama Yusya'.
Imam Ath-Thabari رحمه الله berkata:
(نَسِيَا حُوتَهُمَا) يعني بقوله: نسيا: تركا.
“Firman Allah, ‘keduanya lupa ikan mereka’, maksudnya adalah keduanya meninggalkannya.”[2]
Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa penyandaran kata “lupa” kepada keduanya tidak mesti berarti keduanya secara bersamaan memegang dan melupakan ikan tersebut. Ikan itu dibawa oleh salah seorang dari mereka, tetapi perjalanan tersebut merupakan urusan bersama sehingga bahasa Al-Qur'an menyandarkan peristiwa itu kepada keduanya.
Imam Al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan:
وَإِنَّمَا كَانَ النِّسْيَانُ مِنَ الْفَتَى وَحْدَهُ فَقِيلَ: الْمَعْنَى نَسِيَ أَنْ يُعَلِّمَ مُوسَى بِمَا رَأَى مِنْ حَالِهِ، فَنُسِبَ النِّسْيَانُ إِلَيْهِمَا لِلصُّحْبَةِ.
“Yang lupa sebenarnya adalah pemuda itu seorang diri. Maka dikatakan bahwa maknanya adalah: ia lupa memberitahukan Musa tentang apa yang ia lihat pada ikan tersebut. Lalu kelupaan itu disandarkan kepada keduanya karena adanya kebersamaan dalam perjalanan.”[3]
Ini sangat menarik.
Artinya, kita tidak boleh tergesa-gesa menjadikan ayat ini sebagai celaan kepada Nabi Musa atau Yusya'.
Ini adalah kelupaan manusiawi dalam sebuah perjalanan yang penuh kelelahan.
4. LUPA ITU MANUSIAWI
Jamaah yang dirahmati Allah...
Manusia memang bisa lupa.
Kita lupa meletakkan kunci.
Lupa menyimpan HP.
Lupa membawa sesuatu.
Lupa pesan seseorang.
Bahkan dalam ibadah pun manusia bisa lupa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوا أَوْ يَعْمَلُوا بِهِ
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku terhadap apa yang terlintas dalam hati mereka, selama mereka tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.”[4]
Dan Allah berfirman dalam doa kaum mukminin:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.”
Dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa Allah menjawab:
قَدْ فَعَلْتُ
“Aku telah melakukannya.”
Artinya, Allah mengabulkan doa tersebut. Nabi ﷺ meriwayatkan bahwa Allah tidak menghukum umat ini karena lupa dan kesalahan yang tidak disengaja.[5]
Maka jangan mudah mengatakan:
“Dia lupa, berarti dia tidak peduli.”
Tidak selalu.
Ada perbedaan antara:
lupa dan lalai.
Lupa bisa terjadi tanpa disengaja.
Sedangkan lalai adalah ketika seseorang mengabaikan sesuatu yang seharusnya ia perhatikan.
5. TETAPI ADA SATU HAL YANG LEBIH MENARIK: IKAN ITU MENJADI TANDA
Allah berfirman:
فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا
“Lalu ikan itu mengambil jalannya ke laut.”
Kata:
سَرَبًا
menunjukkan suatu jalan atau lorong.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
السَّرَبُ الْمَسْلَكُ
“Al-sarab adalah jalan atau lintasan.”[6]
Imam As-Sa'di رحمه الله berkata:
فَاتَّخَذَ ذَلِكَ الْحُوتُ سَبِيلَهُ، أَيْ: طَرِيقَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا، وَهَذَا مِنَ الْآيَاتِ.
“Ikan itu mengambil jalannya di laut sebagai sebuah lintasan. Dan hal tersebut merupakan salah satu tanda (kekuasaan Allah).”[7]
Jadi, ikan yang tampaknya hanya makanan untuk perjalanan ternyata menjadi tanda petunjuk.
Masya Allah...
Sesuatu yang mereka bawa sebagai bekal justru Allah jadikan sebagai petunjuk menuju tujuan.
6. KADANG-KADANG PETUNJUK ALLAH ADA DI DEPAN MATA, TETAPI KITA BELUM MENYADARINYA
Ini pelajaran yang sangat dalam.
Musa dan Yusya' sudah sampai.
Tandanya sudah terjadi.
Ikan sudah pergi.
Tetapi mereka belum sadar.
Mereka bahkan melanjutkan perjalanan.
Jamaah...
Berapa banyak manusia dalam hidupnya sebenarnya sudah mendapatkan petunjuk, tetapi belum menyadarinya?
Allah sudah mempertemukannya dengan guru.
Allah sudah mempertemukannya dengan nasihat.
Allah sudah mempertemukannya dengan ayat.
Allah sudah mempertemukannya dengan orang yang mengingatkan.
Allah sudah mempertemukannya dengan sebuah kejadian.
Tetapi dia berkata:
“Ah, kebetulan.”
Padahal bisa jadi itu adalah teguran Allah.
Namun kita harus hati-hati.
Tidak boleh setiap kejadian langsung kita klaim:
“Ini pasti tanda Allah.”
Tidak.
Kita tidak mengetahui perkara gaib tanpa dalil.
Yang benar:
Kita mengambil ibrah dari kejadian, tetapi tidak mengklaim mengetahui kehendak gaib Allah secara pasti.
7. ALLAH MENGAJARKAN MANUSIA MELALUI PROSES
Lihat perjalanan Musa.
Ayat 60:
لَا أَبْرَحُ
“Aku tidak akan berhenti.”
Ayat 61:
نَسِيَا حُوتَهُمَا
“Mereka lupa ikan.”
Ayat 62:
لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا
“Sungguh kita telah mengalami kelelahan dalam perjalanan kita ini.”
Ayat 63:
فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ
“Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”
Ayat 64:
ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Itulah yang kita cari.”
Kemudian mereka kembali.
Perhatikan alurnya:
berangkat → lelah → lupa → berjalan lebih jauh → menyadari → kembali → menemukan tujuan.
Ini adalah pendidikan dari Allah.
Tidak semua perjalanan menuju ilmu berjalan lurus tanpa kesalahan.
8. JANGAN BERHENTI HANYA KARENA PERNAH SALAH
Ini salah satu pelajaran terbesar.
Ada orang yang berkata:
“Saya pernah gagal.”
“Saya pernah salah.”
“Saya pernah lupa.”
“Saya pernah salah mengambil keputusan.”
Lalu berhenti.
Musa tidak begitu.
Ketika diketahui bahwa tanda itu ternyata sudah dilewati, beliau berkata:
ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ
“Itulah yang selama ini kita cari.”
Lalu:
فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا
“Maka keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.”
QS. Al-Kahf: 64.
Artinya:
Ketika kita sadar telah melewati titik yang benar, jangan gengsi untuk kembali.
Kadang-kadang yang membuat manusia gagal bukan karena salah jalan.
Tetapi karena gengsi kembali ke jalan yang benar.
9. ORANG BERILMU PUN HARUS TERUS BELAJAR
Perjalanan Nabi Musa ini juga menunjukkan besarnya adab terhadap ilmu.
Allah berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
QS. Thaha: 114.
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ... أَمَرَهُ بِمَسْأَلَتِهِ مِنْ فَوَائِدِ الْعِلْمِ مَا لَا يَعْلَمُ.
“Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta kepada-Nya tambahan manfaat ilmu yang belum beliau ketahui.”[8]
Imam As-Sa'di memberikan penjelasan yang sangat indah:
فَإِنَّ الْعِلْمَ خَيْرٌ، وَكَثْرَةُ الْخَيْرِ مَطْلُوبَةٌ، وَهِيَ مِنَ اللَّهِ، وَالطَّرِيقُ إِلَيْهَا الِاجْتِهَادُ، وَالشَّوْقُ لِلْعِلْمِ، وَسُؤَالُ اللَّهِ، وَالِاسْتِعَانَةُ بِهِ، وَالِافْتِقَارُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ وَقْتٍ.
“Ilmu adalah kebaikan. Memperbanyak kebaikan merupakan sesuatu yang dituntut. Dan ilmu itu berasal dari Allah. Jalan untuk mendapatkannya adalah kesungguhan, kerinduan terhadap ilmu, meminta kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, dan merasa membutuhkan-Nya setiap waktu.”[9]
Maka orang berilmu bukan orang yang berkata:
“Saya sudah tahu.”
Tetapi orang berilmu semakin sadar:
“Masih banyak yang belum saya tahu.”
10. NABI MUSA PUN DIBERIKAN PELAJARAN UNTUK TIDAK MERASA MENGETAHUI SEGALANYA
Rasulullah ﷺ menceritakan:
فَقَالَ: أَنَا أَعْلَمُ النَّاسَ، فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَى اللَّهِ
“Musa menjawab, ‘Aku adalah orang yang paling mengetahui.’ Maka Allah menegurnya karena ia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah.”
Kemudian Allah memberitahukan bahwa ada seorang hamba Allah yang diberikan ilmu yang tidak diberikan kepada Musa.[10]
Ini bukan berarti Nabi Musa sombong dalam arti manusia yang congkak.
Tetapi terdapat pelajaran tentang nisbah ilmu kepada Allah.
Sebab manusia mengetahui sesuatu hanya karena Allah memberinya pengetahuan.
Allah berfirman:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
QS. Al-Isra': 85.
Maka semakin tinggi ilmu seseorang...
Seharusnya semakin tinggi pula kerendahan hatinya.
11. KISAH INI MENGAJARKAN ADAB GURU DAN MURID
Perhatikan siapa yang berjalan?
Musa bersama seorang pemuda.
Mereka berjalan bersama.
Mereka makan bersama.
Mereka mengalami kelelahan bersama.
Kemudian mereka belajar dari perjalanan tersebut.
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menyebut pendamping Musa sebagai:
يُوشَعَ بْنَ نُونٍ
Yusya' bin Nun.[11]
Ini mengajarkan bahwa perjalanan mencari ilmu membutuhkan pendamping, pembimbing, dan kesabaran.
Tidak semua ilmu harus ditemukan sendirian.
Ada ilmu yang membutuhkan guru.
Ada ilmu yang membutuhkan pengalaman.
Ada ilmu yang membutuhkan perjalanan.
Ada ilmu yang membutuhkan waktu.
Dan ada ilmu yang baru dipahami setelah kita mengalami sendiri.
12. GURU JANGAN MEREMEHKAN MURID YANG LUPA
Ada pelajaran besar bagi para pendidik.
Yusya' lupa.
Tetapi kisah itu tidak menjadikan kita diajari untuk mencaci Yusya'.
Jangan setiap kesalahan murid dibalas dengan:
“Dasar bodoh!”
“Sudah diajari berkali-kali kok lupa!”
“Memang tidak bisa!”
Tidak.
Seorang guru harus membedakan antara:
anak yang tidak tahu,
anak yang lupa,
anak yang belum mampu,
dan
anak yang sengaja tidak mau.
Semua tidak boleh diperlakukan sama.
13. ORANG TUA JUGA PERLU BELAJAR MEMAHAMI KELUPAAN ANAK
Anak lupa membawa buku.
Lupa mengerjakan tugas.
Lupa jadwal.
Lupa pesan orang tua.
Lalu orang tua langsung marah:
“Kamu memang tidak bisa dipercaya!”
Padahal mungkin masalahnya bukan karakter.
Mungkin anak sedang lelah.
Mungkin terlalu banyak beban.
Mungkin belum memiliki sistem mengingat yang baik.
Maka pendidikan bukan sekadar menghukum kesalahan.
Pendidikan adalah membantu anak belajar dari kesalahan.
14. TETAPI JANGAN MENJADIKAN “LUPA” SEBAGAI ALASAN UNTUK TERUS LALAI
Di sini kita harus adil.
Islam tidak mengatakan:
“Karena lupa itu manusiawi, maka tidak perlu bertanggung jawab.”
Tidak.
Jika lupa, kita memperbaiki.
Jika salah, kita memperbaiki.
Jika lupa mengerjakan kewajiban, kita segera mengerjakannya sesuai tuntunan syariat.
Jika lupa meminta maaf, segera meminta maaf.
Jika lupa belajar, mulai belajar kembali.
Jangan menjadikan:
“Saya lupa.”
sebagai tameng untuk menutupi:
“Saya memang tidak peduli.”
Itu berbeda.
15. SALAH SATU CIRI ORANG BERIMAN ADALAH MAU KEMBALI KETIKA DIINGATKAN
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.”
QS. Ali 'Imran: 135.
Perhatikan:
tidak terus-menerus.
Orang beriman bisa salah.
Tetapi tidak betah dalam kesalahan.
Bisa lupa.
Tetapi ketika diingatkan, ia kembali.
Bisa tersesat.
Tetapi ketika tahu jalan yang benar, ia berbalik.
16. JANGAN MALU UNTUK KEMBALI
Jamaah rahimakumullah...
Ada orang yang sebenarnya tahu dirinya salah.
Tetapi tidak mau kembali karena gengsi.
Suami tahu dirinya salah kepada istri.
Tetapi gengsi meminta maaf.
Istri tahu dirinya salah kepada suami.
Tetapi gengsi meminta maaf.
Guru sadar ucapannya kepada murid terlalu keras.
Tetapi gengsi meminta maaf.
Orang tua sadar telah salah mendidik anak.
Tetapi gengsi mengakuinya.
Anak sadar telah menyakiti orang tua.
Tetapi gengsi meminta maaf.
Padahal orang besar bukan orang yang tidak pernah salah.
Orang besar adalah orang yang mau kembali ketika sadar bahwa dirinya salah.
17. “IKAN YANG HILANG” MENJADI TANDA BAHWA MEREKA HARUS BERHENTI
Perjalanan Musa memiliki tanda.
Allah tidak membiarkan mereka mencari tanpa petunjuk.
Demikian pula kehidupan kita.
Allah telah memberikan petunjuk utama:
Al-Qur'an dan Sunnah.
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
QS. Al-Isra': 9.
Jadi jangan mencari petunjuk hidup hanya dari:
tren,
media sosial,
pendapat manusia,
popularitas,
jumlah pengikut,
atau apa yang sedang viral.
Kembalilah kepada:
Al-Qur'an.
Sunnah.
Ilmu.
Doa.
Istikharah.
Nasihat ulama yang terpercaya.
18. TANDA PETUNJUK TERBESAR BUKAN SELALU KENYAMANAN
Ini juga penting.
Jangan berpikir:
“Kalau jalan ini mudah berarti Allah ridha.”
Belum tentu.
“Kalau jalan ini sulit berarti Allah tidak menghendaki.”
Belum tentu.
Musa justru mengalami perjalanan panjang, kelelahan, lupa, kembali lagi, baru kemudian bertemu hamba Allah yang dicari.
Jadi:
Kesulitan dalam perjalanan tidak selalu berarti kita berada di jalan yang salah.
Kadang-kadang kesulitan adalah bagian dari pendidikan Allah.
19. ALLAH MENGAJARKAN KITA UNTUK SABAR DALAM PROSES
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
QS. Ali 'Imran: 200.
Mencari ilmu membutuhkan sabar.
Mendidik anak membutuhkan sabar.
Memperbaiki rumah tangga membutuhkan sabar.
Menghafal Al-Qur'an membutuhkan sabar.
Mengubah kebiasaan buruk membutuhkan sabar.
Bertaubat membutuhkan sabar.
20. JANGAN MENYERAH KARENA PERNAH LUPA
Jamaah yang dimuliakan Allah...
Mungkin ada di antara kita yang berkata:
“Saya dulu rajin mengaji, sekarang sudah jauh.”
“Saya dulu rajin tahajud, sekarang berat.”
“Saya dulu rajin membaca Al-Qur'an, sekarang jarang.”
“Saya dulu menjaga lisan, sekarang sering terpeleset.”
“Saya dulu dekat dengan Allah, sekarang hati terasa jauh.”
Jangan putus asa.
Kalau sadar telah jauh...
kembali.
Kalau sadar telah lupa...
ingat kembali.
Kalau sadar telah salah...
perbaiki.
Kalau sadar telah melewati jalan yang benar...
balikkan langkah.
Seperti Musa dan Yusya'.
Mereka kembali.
21. ADA SATU DOA YANG SANGAT PENTING
Allah mengajarkan:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
QS. Thaha: 114.
Jangan hanya berdoa:
“Ya Allah, tambahkan hartaku.”
Berdoalah:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Jangan hanya:
“Ya Allah, naikkan jabatan saya.”
Tetapi:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Jangan hanya:
“Ya Allah, mudahkan urusanku.”
Tetapi:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Karena ilmu yang benar akan membimbing kita menggunakan harta.
Ilmu akan membimbing kita menggunakan jabatan.
Ilmu akan membimbing kita mendidik anak.
Ilmu akan membimbing kita beribadah.
22. RENUNGAN UNTUK PARA PELAJAR
Anak-anak kaum muslimin...
Jangan malu kalau belum tahu.
Yang memalukan bukan tidak tahu.
Yang berbahaya adalah:
tidak tahu tetapi tidak mau belajar.
Jangan malu bertanya.
Jangan malu mengulang.
Jangan malu salah.
Jangan malu memperbaiki.
Nabi Musa saja melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan ilmu.
Maka jangan merasa:
“Belajar itu membosankan.”
“Guru itu cerewet.”
“Pelajaran itu tidak penting.”
Kita tidak pernah tahu ilmu mana yang suatu hari menyelamatkan hidup kita.
Satu ayat bisa mengubah keputusan.
Satu hadis bisa menghentikan dosa.
Satu nasihat guru bisa mengubah masa depan.
Satu ilmu bisa menjadi sebab keselamatan seseorang.
23. RENUNGAN UNTUK PARA GURU
Wahai para guru...
Kita juga belajar dari Musa.
Guru bukan manusia yang mengetahui segala sesuatu.
Guru juga harus terus belajar.
Guru juga harus mengatakan:
لَا أَعْلَمُ
“Saya tidak tahu.”
Kemudian mencari tahu.
Itu bukan kelemahan.
Itu kejujuran ilmiah.
Dan guru harus menanamkan kepada murid:
“Mari kita belajar bersama.”
Bukan:
“Saya paling tahu.”
24. RENUNGAN UNTUK ORANG TUA
Ayah dan Bunda...
Jangan hanya bertanya kepada anak:
“Sudah dapat nilai berapa?”
Tanyakan juga:
“Apa yang kamu pelajari hari ini?”
“Apa yang belum kamu pahami?”
“Apa kesalahanmu hari ini?”
“Apa yang ingin kamu perbaiki besok?”
Karena pendidikan bukan sekadar membuat anak mendapatkan nilai.
Pendidikan adalah membuat anak mau terus belajar dan mau memperbaiki diri.
25. PELAJARAN BESAR DARI IKAN ITU
Mari kita simpulkan.
Ikan itu:
dibawa untuk menjadi bekal,
tetapi Allah menjadikannya tanda.
Mereka:
lupa kepada ikan,
tetapi Allah tidak membiarkan mereka kehilangan arah selamanya.
Mereka:
berjalan terlalu jauh,
tetapi mereka diperintahkan untuk kembali.
Mereka:
kelelahan,
tetapi perjalanan ilmu tidak berhenti.
Maka...
Jangan takut terhadap proses.
Jangan putus asa karena kesalahan.
Jangan sombong dengan ilmu.
Jangan malu bertanya.
Jangan gengsi untuk kembali.
Dan jangan berhenti belajar.
PENUTUP
Jamaah rahimakumullah...
Surah Al-Kahf ayat 61 mengajarkan kepada kita satu kalimat yang sangat dalam:
Kadang-kadang kita baru memahami petunjuk Allah setelah kita menyadari sesuatu yang kita lewatkan.
Musa dan Yusya' tidak langsung memahami tanda itu.
Mereka berjalan.
Kemudian berhenti.
Kemudian menyadari.
Kemudian kembali.
Lalu menemukan apa yang dicari.
Begitulah hidup.
Mungkin hari ini kita sedang merasa tersesat.
Jangan putus asa.
Mungkin kita merasa terlalu jauh.
Kembalilah.
Mungkin kita merasa terlalu banyak kesalahan.
Bertaubatlah.
Mungkin kita merasa sudah terlambat belajar.
Mulailah.
Mungkin kita merasa sudah terlalu tua untuk berubah.
Tidak.
Selama nyawa belum sampai tenggorokan...
pintu kembali kepada Allah masih terbuka.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
QS. Az-Zumar: 53.
Maka...
Kalau lupa, ingat kembali.
Kalau salah, perbaiki.
Kalau tersesat, kembali.
Kalau tidak tahu, belajar.
Kalau lelah, istirahat—bukan menyerah.
Dan setiap kali kita membuka kitab ilmu, mari kita ucapkan:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
DOA
اللَّهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا صَحِيحًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا.
“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, karuniakan kepada kami pemahaman yang benar, amal yang saleh, dan hati yang khusyuk.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ.
“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.”
اللَّهُمَّ إِذَا نَسِينَا فَذَكِّرْنَا، وَإِذَا أَخْطَأْنَا فَاغْفِرْ لَنَا، وَإِذَا ضَلَلْنَا فَاهْدِنَا، وَإِذَا ضَعُفْنَا فَقَوِّنَا.
“Ya Allah, apabila kami lupa maka ingatkanlah kami. Apabila kami salah maka ampunilah kami. Apabila kami tersesat maka berilah kami petunjuk. Apabila kami lemah maka kuatkanlah kami.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, berilah manfaat kepada kami dengan ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا إِذَا ذُكِّرُوا تَذَكَّرُوا، وَإِذَا أَخْطَأُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا ضَلُّوا رَجَعُوا، وَإِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا.
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang apabila diingatkan mereka mau mengingat, apabila melakukan kesalahan mereka memohon ampun, apabila tersesat mereka kembali, dan apabila mengetahui kebenaran mereka mengamalkannya.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN KAKI / RUJUKAN
[1] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tafsir, hadis no. 4725. Hadis ini memuat kisah perjalanan Nabi Musa bersama Yusya' bin Nun dan petunjuk berupa ikan.
[2] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 61. Ath-Thabari menjelaskan makna نَسِيَا dengan “meninggalkan” dan menerangkan alasan penyandaran perbuatan kepada keduanya.
[3] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 61. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang secara langsung lupa memberitahukan Musa adalah pemuda tersebut, tetapi kelupaan dinisbatkan kepada keduanya karena mereka bersama dalam perjalanan.
[4] Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 127a.
[5] Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 126, tentang doa رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا dan jawaban Allah قَدْ فَعَلْتُ.
[6] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 61; beliau menjelaskan السَّرَبُ sebagai المَسْلَكُ, yaitu jalan atau lintasan.
[7] Abdurrahman as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, Tafsir QS. Al-Kahf: 61. As-Sa‘di menyebut kejadian ikan tersebut sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah.
[8] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, Tafsir QS. Thaha: 114.
[9] As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, Tafsir QS. Thaha: 114; beliau mengaitkan bertambahnya ilmu dengan kesungguhan, kerinduan kepada ilmu, doa, dan meminta pertolongan Allah.
[10] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis no. 4725, riwayat Ubay bin Ka‘ab tentang Nabi Musa, al-Khidr, dan perjalanan menuju Majma‘ al-Bahrayn.
[11] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis no. 4725. Hadis tersebut menyebut pendamping Nabi Musa sebagai Yusha‘ bin Nun.
Catatan ilmiah
Rincian seperti “mata air kehidupan (عين الحياة)”, bagaimana tepatnya ikan hidup kembali, atau gambaran fisik air yang membentuk lorong, terdapat dalam sejumlah riwayat tafsir. Namun, untuk ceramah ini, rincian tersebut tidak dijadikan pokok keyakinan karena Al-Qur'an dan hadis sahih yang menjadi landasan utama cukup untuk menetapkan bahwa ikan tersebut menjadi tanda perjalanan dan mengambil jalannya ke laut. Ibn Kathir dan beberapa kitab tafsir memang menyebut rincian-rincian tersebut dalam pembahasan ayat ini.
Yang paling kokoh dari kisah ini adalah sebagaimana hadis sahih: Musa membawa ikan, ikan tersebut keluar ketika mereka berada di batu, mengambil jalannya ke laut, Yusya' lupa memberitahu Musa, lalu mereka melanjutkan perjalanan hingga Musa menyadari bahwa tempat itulah yang mereka cari.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Post a Comment