KETIKA LELAH MENGEMBALIKAN KITA KEPADA PETUNJUK

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 62

“KETIKA LELAH MENGEMBALIKAN KITA KEPADA PETUNJUK”

QS. AL-KAHF AYAT 62

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا ۖ لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا

Artinya:

“Maka ketika mereka telah melewati tempat itu, Musa berkata kepada pembantunya, ‘Bawalah kemari makanan kita; sungguh, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’”

QS. Al-Kahf: 62


MUQADDIMAH

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah...

Kita sedang mengikuti perjalanan Nabi Musa عليه السلام.

Beliau sedang mencari seorang hamba Allah yang diberi ilmu yang tidak beliau miliki.

Perjalanan itu jauh.

Sebelumnya Musa telah berkata:

لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Aku tidak akan berhenti berjalan sampai aku mencapai pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan bertahun-tahun.”

Mereka telah sampai di tempat itu.

Tetapi mereka lupa bahwa ikan yang menjadi tanda telah pergi.

Mereka kemudian meneruskan perjalanan.

Dan setelah melewati tempat yang sebenarnya menjadi tujuan...

barulah Musa merasa lapar dan lelah.

Musa berkata:

آتِنَا غَدَاءَنَا

“Bawalah makanan kita.”

Lalu beliau berkata:

لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“Sungguh, kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.”

Jamaah...

Ayat yang pendek ini menyimpan pelajaran yang sangat luas.


1. PERJALANAN ILMU MEMBUTUHKAN KESABARAN DAN BEKAL

Musa adalah seorang nabi.

Tetapi beliau tetap membawa bekal.

Beliau tetap makan.

Beliau tetap merasakan lapar.

Beliau tetap merasakan lelah.

Ini menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki kebutuhan jasmani meskipun sedang melakukan perjalanan yang sangat mulia.

Imam Al-Qurthubi رحمه الله memberikan pelajaran yang sangat jelas dari ayat ini:

وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى اتِّخَاذِ الزَّادِ فِي الْأَسْفَارِ

“Dalam ayat ini terdapat dalil tentang mengambil bekal dalam perjalanan.”[1]

Al-Qurthubi bahkan menjadikan ayat ini sebagai bantahan terhadap pemahaman tawakal yang keliru, yaitu meninggalkan sebab dan bekal dengan alasan “saya bertawakal kepada Allah.”[1]

Ini prinsip penting:

Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar.

Kita bertawakal kepada Allah...

tetapi kita membawa bekal.

Kita bertawakal kepada Allah...

tetapi kita belajar sebelum ujian.

Kita bertawakal kepada Allah...

tetapi kita mempersiapkan pembelajaran.

Kita bertawakal kepada Allah...

tetapi kita bekerja.

Kita bertawakal kepada Allah...

tetapi kita menjaga kesehatan.


2. BEKAL BUKAN LAWAN TAWAKAL

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

QS. Al-Baqarah: 197

Ayat ini sangat indah.

Allah mengatakan:

وَتَزَوَّدُوا

“Berbekallah.”

Kemudian Allah memberikan bekal yang lebih tinggi:

فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Maka dalam perjalanan hidup kita ada dua macam bekal:

Bekal dunia

Makanan.

Minuman.

Uang.

Ilmu.

Keterampilan.

Kesehatan.

Bekal akhirat

Iman.

Takwa.

Salat.

Sedekah.

Zikir.

Akhlak.

Taubat.

Amal saleh.

Orang yang hanya mempersiapkan bekal dunia tetapi tidak mempersiapkan bekal akhirat...

sedang melakukan perjalanan yang sangat panjang tanpa persiapan yang paling penting.


3. MUSA BERKATA “غَدَاءَنَا” — “MAKANAN KITA”

Perhatikan pilihan kata Nabi Musa:

آتِنَا غَدَاءَنَا

“Bawalah makanan kita.”

Bukan:

آتِنِي غَدَائِي

“Bawakan makananku.”

Tetapi:

غَدَاءَنَا

“Makanan kita.”

Ini menunjukkan satu keindahan akhlak.

Musa tidak memandang makanan itu semata-mata sebagai:

“Bekalku.”

Tetapi:

“Bekal kita.”

Ia sedang bersama seorang pendamping.

Karena itu kebutuhannya menjadi kebutuhan bersama.

Di sinilah kita belajar tentang rasa kebersamaan.


4. PEMIMPIN YANG BAIK TIDAK HANYA MEMIKIRKAN DIRINYA

Jamaah rahimakumullah...

Perhatikan.

Musa adalah seorang nabi.

Musa adalah pemimpin.

Musa adalah manusia pilihan.

Tetapi beliau tidak berjalan sendirian dengan pikiran:

“Yang penting saya sampai.”

Beliau memperhatikan kebutuhan pendampingnya.

Makanan itu milik mereka bersama.

Ketika lapar, beliau meminta:

“Bawalah makanan kita.”

Inilah akhlak kepemimpinan.

Pemimpin tidak hanya bertanya:

“Apakah target saya tercapai?”

Tetapi bertanya:

“Apakah orang-orang yang bersama saya masih kuat?”

Ini berlaku bagi:

kepala sekolah,

guru,

orang tua,

ketua kelas,

ketua organisasi,

pemimpin masyarakat,

bahkan seorang kakak di dalam keluarga.


5. PEMIMPIN HARUS PEKA TERHADAP KONDISI ORANG YANG DIPIMPIN

Jamaah...

Ada pemimpin yang hanya melihat hasil.

Target tercapai.

Program selesai.

Acara berjalan.

Tetapi tidak bertanya:

“Bagaimana keadaan orang-orang yang menjalankannya?”

Padahal manusia bukan mesin.

Guru bukan mesin.

Siswa bukan mesin.

Karyawan bukan mesin.

Anak-anak bukan mesin.

Mereka bisa lapar.

Bisa lelah.

Bisa mengantuk.

Bisa jenuh.

Bisa kehilangan motivasi.

Karena itu pemimpin harus memiliki kepekaan.


6. NABI MUSA TIDAK MENGANGGAP LAPAR DAN LELAH SEBAGAI SESUATU YANG MEMALUKAN

Musa berkata:

لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا

“Sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan ini.”

Perhatikan.

Nabi Musa tidak berkata:

“Saya tidak boleh mengeluh.”

Tidak.

Beliau mengakui kondisi tubuh.

Ini bukan keluhan karena tidak ridha terhadap takdir.

Ini adalah pengakuan terhadap kebutuhan manusia.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:

نَصَبًا أَيْ تَعَبًا، وَالنَّصَبُ التَّعَبُ وَالْمَشَقَّةُ

“Nasab berarti kelelahan; dan nasab adalah rasa lelah dan kesulitan.”[1]

Al-Qurthubi juga memberikan kaidah penting:

وَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ الْإِخْبَارِ بِمَا يَجِدُهُ الْإِنْسَانُ مِنَ الْأَلَمِ وَالْأَمْرَاضِ، وَأَنَّ ذَلِكَ لَا يَقْدَحُ فِي الرِّضَا وَالتَّسْلِيمِ لِلْقَضَاءِ، إِلَّا أَنْ يَصْدُرَ عَنْ ضَجَرٍ وَسَخَطٍ

“Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa seseorang boleh memberitahukan rasa sakit atau penyakit yang sedang dialaminya. Hal itu tidak merusak sikap ridha dan tunduk kepada takdir, selama tidak disertai kejengkelan dan ketidakridhaan.”[1]

Ini penting sekali.

Islam tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura kuat.

Kita boleh berkata:

“Saya lelah.”

“Saya butuh istirahat.”

“Saya lapar.”

“Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Yang tidak boleh adalah menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk mencela Allah atau berputus asa dari rahmat-Nya.


7. RASULULLAH ﷺ JUGA MEMPERHATIKAN ORANG YANG LAPAR

Dalam Shahih al-Bukhari terdapat kisah Abu Hurairah رضي الله عنه.

Beliau mengalami rasa lapar yang sangat berat.

Beliau berkata:

فَخَرَرْتُ لِوَجْهِي مِنَ الْجَهْدِ وَالْجُوعِ

“Aku sampai jatuh tersungkur karena kelelahan dan kelaparan.”

Kemudian Rasulullah ﷺ mengetahui keadaannya, menggandeng tangannya, membawanya ke rumah, lalu memberikan makanan kepadanya.[2]

Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan agar diberikan susu kepada Abu Hurairah.[2]

Perhatikan akhlak Nabi ﷺ.

Beliau tidak mengatakan:

“Sabarlah saja.”

Beliau tidak hanya memberikan nasihat.

Beliau memenuhi kebutuhan fisiknya.

Inilah Islam.

Ketika seseorang lapar, beri makan.

Ketika seseorang haus, beri minum.

Ketika seseorang lelah, berikan kesempatan beristirahat.

Ketika seseorang sedih, dengarkan.

Ketika seseorang bingung, bimbing.


8. RAHMAT ITU BUKAN HANYA KATA-KATA

Rasulullah ﷺ bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.”[3]

Perhatikan:

ارْحَمُوا

“Sayangilah.”

Kasih sayang dalam Islam bukan sekadar perasaan.

Ia diwujudkan dalam tindakan.

Anak lapar → beri makan.

Murid kesulitan → bantu.

Teman lelah → beri kesempatan istirahat.

Pasangan kelelahan → jangan menambah beban.

Bawahan kesulitan → jangan hanya menuntut.


9. MUSA MENYEBUT “سَفَرِنَا” — PERJALANAN KITA

Musa berkata:

مِنْ سَفَرِنَا هَذَا

“Dari perjalanan kita ini.”

Sekali lagi kata:

نَا

“kita.”

Bukan hanya “perjalananku.”

Ada rasa kebersamaan.

Ini pendidikan yang sangat halus.

Dalam perjalanan hidup, jangan hanya menghitung:

“Berapa banyak yang saya kerjakan?”

Hitung juga:

“Berapa banyak orang yang saya ajak berjalan?”

“Apakah mereka kuat?”

“Apakah mereka bahagia?”

“Apakah mereka merasa dihargai?”


10. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN AGAR ORANG YANG DIPIMPIN TIDAK DIBEBANI DI LUAR KEMAMPUANNYA

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

“Apabila salah seorang di antara kalian menjadi imam bagi manusia, hendaklah ia meringankan. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah, dan orang yang memiliki kebutuhan.”[4]

Perhatikan prinsipnya.

Seorang pemimpin harus mengetahui kondisi orang yang dipimpinnya.

Bukan semua orang memiliki tenaga yang sama.

Bukan semua orang memiliki kemampuan yang sama.

Bukan semua orang memiliki kondisi yang sama.

Karena itu:

Keadilan bukan berarti memberikan beban yang sama kepada semua orang; tetapi memberikan beban sesuai kemampuan dan keadaan secara tepat.


11. DALAM PENDIDIKAN, ANAK BISA GAGAL BUKAN KARENA MALAS

Kadang-kadang seorang anak tidak mengerjakan tugas.

Guru berkata:

“Malas!”

Padahal mungkin:

dia tidak memahami materi.

Dia lelah.

Dia memiliki masalah keluarga.

Dia takut bertanya.

Dia tidak tahu bagaimana memulai.

Atau tugasnya terlalu berat.

Karena itu guru perlu bertanya:

“Apa yang membuatmu kesulitan?”

Sebelum bertanya:

“Mengapa kamu tidak mengerjakan?”

Inilah ruh dari ayat:

آتِنَا غَدَاءَنَا

Perhatikan kebutuhan manusia sebelum melanjutkan perjalanan.


12. KELELAHAN TERNYATA MENJADI SEBAB MUSA MENGINGAT IKAN

Ini bagian yang sangat menarik.

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

وَقَالَ ذَلِكَ مُوسَى فِيمَا ذُكِرَ بَعْدَ مَا جَاوَزَ الصَّخْرَةَ، حِينَ أُلْقِيَ عَلَيْهِ الْجُوعُ لِيَتَذَكَّرَ الْحُوتَ، وَيَرْجِعَ إِلَى مَوْضِعِ مَطْلَبِهِ

“Musa mengucapkan hal tersebut setelah melewati batu, ketika rasa lapar menimpanya agar ia mengingat ikan dan kembali ke tempat yang menjadi tujuannya.”[5]

Masya Allah...

Perhatikan bagaimana Allah mengatur perjalanan itu.

Musa tidak merasa lelah sebelum melewati tempat yang ditentukan.

Setelah melewatinya, barulah lapar dan lelah terasa.

Lalu lapar itu menjadi sebab ia bertanya tentang makanan.

Pertanyaan tentang makanan membuka pembicaraan tentang ikan.

Pembicaraan tentang ikan membuka ingatan tentang batu.

Ingatan tentang batu membawa mereka kembali.

Dan kembalinya mereka membawa mereka kepada hamba Allah yang dicari.

Allah bisa menggunakan satu peristiwa untuk mengarahkan kita kepada peristiwa berikutnya.


13. MENURUT AS-SA'DI, RASA LELAH ITU SENDIRI MENJADI TANDA

As-Sa'di رحمه الله menjelaskan:

فَلَمَّا جَاوَزَا غَايَتَهُمَا وَجَدَا مَسَّ التَّعَبِ

“Ketika keduanya telah melewati tujuan mereka, barulah mereka merasakan sentuhan kelelahan.”[6]

Kemudian beliau menjelaskan bahwa hal itu merupakan salah satu tanda yang menunjukkan bahwa tempat tersebut berkaitan dengan tujuan yang mereka cari.[6]

Masya Allah.

Mereka tidak sadar saat berada di sana.

Mereka baru memahami setelah melampauinya.

Maka terkadang:

Kita baru menyadari nilai sebuah petunjuk setelah kita menjauh darinya.


14. JANGAN MEREMEHKAN RASA LAPAR, LELAH, DAN KEBUTUHAN TUBUH

Islam tidak memusuhi kebutuhan tubuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak haknya.”[7]

Hadis ini mengajarkan keseimbangan.

Ada hak Allah.

Ada hak tubuh.

Ada hak keluarga.

Ada hak manusia.

Jangan sampai seseorang berkata:

“Saya sibuk berdakwah.”

Tetapi keluarganya terlantar.

“Saya sibuk bekerja.”

Tetapi tubuhnya rusak.

“Saya sibuk mengajar.”

Tetapi dirinya tidak pernah beristirahat.

“Saya sibuk belajar.”

Tetapi kesehatan diabaikan.

Islam adalah agama keseimbangan.


15. KELELAHAN BUKAN SELALU TANDA KEGAGALAN

Ada orang yang merasa bersalah ketika lelah.

“Kenapa saya capek?”

“Kenapa saya butuh istirahat?”

Padahal manusia memang memiliki batas.

Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

QS. Al-Baqarah: 286.

Kelelahan adalah informasi.

Tubuh sedang berbicara:

“Beristirahatlah.”

Pikiran sedang berkata:

“Berhentilah sebentar.”

Jiwa sedang berkata:

“Kembalilah kepada Allah.”

Maka jangan selalu melawan sinyal tubuh.

Belajarlah mendengarnya dengan bijak.


16. TETAPI ISTIRAHAT BUKAN BERARTI MENYERAH

Ada perbedaan antara:

istirahat

dan

menyerah.

Istirahat berarti:

“Berhenti sebentar agar bisa melanjutkan.”

Menyerah berarti:

“Saya tidak mau melanjutkan.”

Musa meminta makanan karena lapar.

Tetapi beliau tidak berkata:

“Saya sudah lelah, mari pulang.”

Tidak.

Beliau makan agar perjalanan dapat dilanjutkan.

Jadi:

Istirahat yang benar adalah bagian dari keberlanjutan perjuangan.


17. DALAM MENUNTUT ILMU, ADA BEKAL LAHIR DAN BATIN

Apa bekal seorang pelajar?

Bukan hanya buku.

Bukan hanya alat tulis.

Bukan hanya laptop.

Bukan hanya internet.

Tetapi juga:

1. Niat yang benar

2. Kesabaran

3. Adab kepada guru

4. Kesungguhan

5. Doa

6. Kesehatan

7. Istirahat yang cukup

8. Makanan yang halal dan baik

9. Kemauan bertanya

10. Kesediaan mengakui kesalahan

Karena ilmu tidak hanya membutuhkan kecerdasan.

Ilmu membutuhkan kesungguhan dan adab.


18. DOA NABI MUSA UNTUK ILMU

Allah mengajarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”

QS. Thaha: 114.

Perhatikan.

Yang diminta bukan:

رَبِّ زِدْنِي مَالًا

“Ya Rabbku, tambahkan hartaku.”

Tetapi:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Rabbku, tambahkanlah ilmuku.”

Karena dengan ilmu, seseorang mengetahui bagaimana menggunakan harta.

Dengan ilmu, seseorang mengetahui bagaimana menggunakan jabatan.

Dengan ilmu, seseorang mengetahui bagaimana mendidik anak.

Dengan ilmu, seseorang mengetahui bagaimana beribadah.


19. ORANG BERILMU HARUS TETAP MERASA MEMBUTUHKAN ALLAH

Perjalanan Musa adalah perjalanan seorang nabi untuk mendapatkan tambahan ilmu.

Ini sangat luar biasa.

Maka jangan sampai seorang guru merasa:

“Saya sudah tahu.”

Jangan sampai seorang ustadz merasa:

“Saya sudah menguasai semuanya.”

Jangan sampai seorang sarjana merasa:

“Saya tidak perlu belajar lagi.”

Jangan sampai seorang yang sudah lama mengaji berkata:

“Saya tidak perlu nasihat.”

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat doanya:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”


20. MUSA MENGAKUI RASA LELAH, TETAPI TIDAK MENGELUH KEPADA ALLAH DENGAN KELUHAN KEBERATAN

Ada perbedaan antara:

mengabarkan kondisi

dan

mengeluhkan Allah kepada manusia.

Musa berkata:

لَقَدْ لَقِينَا ... نَصَبًا

“Kita benar-benar mengalami kelelahan.”

Itu adalah pengakuan kondisi.

Bukan:

“Kenapa Allah menyusahkan saya?”

Bukan:

“Kenapa perjalanan ini dibuat begitu sulit?”

Bukan:

“Kenapa saya harus melakukan ini?”

Ini pelajaran tentang adab menghadapi kesulitan.

Kita boleh mengatakan:

“Saya lelah.”

Tetapi jangan sampai berkata:

“Allah tidak adil.”

Kita boleh mengatakan:

“Saya sedang kesulitan.”

Tetapi jangan sampai:

“Saya tidak percaya Allah.”


21. KETIKA LELAH, JANGAN MEMBUAT KEPUTUSAN BESAR DENGAN TERGESA-GESA

Ini pelajaran praktis.

Ketika lapar...

emosi bisa meningkat.

Ketika kurang tidur...

kesabaran bisa menurun.

Ketika tubuh lelah...

masalah kecil bisa terasa besar.

Karena itu, ketika sedang sangat lelah:

berhenti sejenak.

makan.

minum.

istirahat.

tenangkan diri.

Kemudian berpikir kembali.

Jangan mengambil keputusan besar hanya karena kondisi tubuh sedang sangat lelah.


22. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KESEIMBANGAN DALAM IBADAH

Dalam hadis yang masyhur, Nabi ﷺ menegur sikap berlebihan dalam ibadah.

Beliau bersabda:

فَوَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku salat dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barang siapa berpaling dari sunnahku, maka ia bukan bagian dariku.”[8]

Islam tidak mengajarkan manusia untuk menghancurkan dirinya demi ibadah.

Ada waktu untuk beribadah.

Ada waktu untuk tidur.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk makan.

Ada waktu untuk keluarga.

Ada waktu untuk belajar.


23. MUSA DAN YUSYA' ADALAH TIM, BUKAN DUA ORANG YANG BERJALAN SENDIRI-SENDIRI

Kisah ini juga mengajarkan kerja sama.

Musa berkata:

آتِنَا غَدَاءَنَا

“Bawalah makanan kita.”

Bukan:

“Bawakan makanan saya.”

Ada rasa:

kita.

Dalam keluarga:

bukan “masalahmu.”

Tetapi:

“masalah kita.”

Dalam sekolah:

bukan:

“Ini urusan guru.”

atau:

“Ini urusan murid.”

Tetapi:

“Ini tanggung jawab kita.”

Dalam dakwah:

bukan:

“Ini urusan ustadz.”

Tetapi:

“Ini perjuangan kita.”


24. JANGAN HANYA MENUNTUT ORANG KUAT, TETAPI BANTULAH AGAR IA KUAT

Jamaah rahimakumullah...

Ada perbedaan antara berkata:

“Kamu harus kuat.”

dan:

“Mari kita kuat bersama.”

Ada perbedaan antara:

“Jangan capek!”

dengan:

“Kalau lelah, kita istirahat sebentar.”

Ada perbedaan antara:

“Kenapa kamu tidak sanggup?”

dengan:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Inilah akhlak yang bisa kita ambil dari:

آتِنَا غَدَاءَنَا

“Bawalah makanan kita.”


25. JANGAN MALU MENGAKUI BAHWA KITA MEMBUTUHKAN ORANG LAIN

Musa seorang nabi.

Tetapi beliau tetap membutuhkan pendamping.

Beliau membutuhkan bekal.

Beliau membutuhkan perjalanan.

Beliau membutuhkan petunjuk Allah.

Ini mengajarkan:

Kemuliaan seseorang tidak membuatnya tidak membutuhkan orang lain.

Guru membutuhkan murid.

Orang tua membutuhkan anak.

Pemimpin membutuhkan anggota.

Suami membutuhkan istri.

Istri membutuhkan suami.

Manusia membutuhkan manusia lainnya.

Dan semuanya membutuhkan Allah.


26. KEBUTUHAN KEPADA ALLAH ADALAH KEMULIAAN, BUKAN KELEMAHAN

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”

QS. Fathir: 15.

Kita membutuhkan Allah untuk ilmu.

Membutuhkan Allah untuk kesehatan.

Membutuhkan Allah untuk keluarga.

Membutuhkan Allah untuk rezeki.

Membutuhkan Allah untuk istiqamah.

Membutuhkan Allah bahkan untuk bisa mengingat Allah.

Maka jangan sombong.

Kita semua adalah:

الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ

“Orang-orang yang membutuhkan Allah.”


27. ADA KALANYA ALLAH MEMBUAT KITA “LELAH” AGAR KITA BERHENTI SEJENAK DAN MENGINGAT

Ini renungan yang sangat dalam.

Musa dan Yusya' telah berjalan.

Kemudian rasa lelah datang.

Lalu mereka berhenti untuk makan.

Dan dari situ mereka mengingat ikan.

Dari ikan mereka mengingat batu.

Dari batu mereka kembali.

Dan dari kembali itulah mereka menemukan hamba Allah yang dicari.

Maka jangan selalu melihat rasa lelah sebagai musuh.

Kadang-kadang rasa lelah membuat kita:

berhenti,

berpikir,

mengoreksi,

mengingat,

dan kembali.


28. MUNGKIN KITA TERLALU JAUH BERJALAN

Jamaah...

Ada manusia yang terlalu jauh mengejar dunia.

Sampai lupa keluarga.

Ada yang terlalu sibuk mengejar karier.

Sampai lupa salat.

Ada yang terlalu sibuk mencari pengakuan manusia.

Sampai lupa mencari ridha Allah.

Ada yang terlalu sibuk mengejar uang.

Sampai lupa kesehatan.

Ada yang terlalu sibuk mengejar kesempurnaan.

Sampai lupa bersyukur.

Kemudian Allah memberikan rasa lelah.

Bukan berarti setiap kelelahan adalah hukuman.

Tidak.

Tetapi kelelahan bisa menjadi kesempatan untuk bertanya:

“Saya sebenarnya sedang berjalan menuju ke mana?”


29. BERHENTILAH SEJENAK DAN PERIKSA ARAH PERJALANAN

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

QS. Al-Hasyr: 18.

Maka sesekali kita perlu berhenti dan bertanya:

Saya sedang berjalan ke mana?

Apa yang saya kejar?

Apakah keluarga saya masih saya perhatikan?

Apakah salat saya masih terjaga?

Apakah hubungan saya dengan Al-Qur'an masih hidup?

Apakah ilmu saya bertambah?

Apakah akhlak saya membaik?

Apakah semakin dekat kepada Allah?


30. PELAJARAN UNTUK GURU DAN PENDIDIK

Bapak/Ibu guru...

Ayat ini sangat relevan dengan dunia pendidikan.

Jangan hanya mengejar:

materi selesai,

administrasi selesai,

nilai selesai,

ujian selesai.

Tetapi lihat manusia di depan kita.

Apakah mereka lelah?

Apakah mereka lapar?

Apakah mereka memahami?

Apakah mereka masih memiliki semangat?

Apakah mereka membutuhkan bantuan?

Guru bukan hanya menyampaikan materi.

Guru juga membaca kondisi murid.


31. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA

Ayah dan Bunda...

Kadang anak pulang sekolah bukan membutuhkan ceramah panjang.

Dia hanya butuh:

makan,

minum,

istirahat,

didengarkan,

dipeluk,

kemudian dibimbing.

Jangan setiap anak pulang langsung ditanya:

“Nilaimu berapa?”

“Kenapa tidak dapat ranking?”

“Sudah mengerjakan tugas?”

Terkadang tanyakan:

“Capek, Nak?”

“Sudah makan?”

“Ada yang membuatmu sedih hari ini?”

Pertanyaan sederhana bisa membuka pintu komunikasi yang sangat besar.


32. PELAJARAN UNTUK SUAMI DAN ISTRI

Ada kalanya pasangan pulang dari pekerjaan dalam keadaan sangat lelah.

Jangan langsung menumpahkan semua persoalan.

Tanyakan:

“Sudah makan?”

“Capek?”

“Mau istirahat dulu?”

Setelah tenang, baru bicara.

Ini bukan berarti semua masalah harus ditunda.

Tetapi kita belajar membaca kondisi manusia.


33. PELAJARAN UNTUK PEMIMPIN

Seorang pemimpin harus tahu kapan berkata:

“Mari kita lanjutkan.”

dan kapan berkata:

“Mari kita istirahat.”

Karena tujuan bukan hanya sampai.

Tujuan adalah sampai dengan selamat dan tetap kuat.


34. JANGAN MEREMEHKAN MAKANAN DAN BEKAL

Musa meminta:

غَدَاءَنَا

“Makanan kita.”

Islam mengajarkan kita menghargai makanan.

Allah berfirman:

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepada kalian.”

QS. Al-Baqarah: 172.

Makanan adalah nikmat.

Maka:

jangan berlebihan,

jangan mubazir,

jangan mencela makanan.

Rasulullah ﷺ apabila menyukai makanan, beliau memakannya; jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya tanpa mencelanya.[9]

Ini bagian dari adab.


35. KETIKA LAPAR, INGATLAH BAHWA ADA ORANG LAIN YANG MUNGKIN JAUH LEBIH LAPAR

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Bukanlah seorang mukmin yang sempurna ketika ia kenyang sedangkan tetangganya di sampingnya dalam keadaan lapar.”[10]

Maka makanan yang kita punya bukan hanya untuk membuat kita kenyang.

Tetapi juga bisa menjadi jalan pahala.

Ada tetangga.

Ada anak yatim.

Ada fakir miskin.

Ada teman.

Ada orang yang sedang kesulitan.


36. AYAT 62 ADALAH JEMBATAN MENUJU AYAT 63

Perhatikan urutannya.

Ayat 62:

آتِنَا غَدَاءَنَا

“Bawalah makanan kita.”

Ayat 63:

أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ

“Tidakkah engkau ingat ketika kita berlindung di batu? Sesungguhnya aku lupa ikan itu.”

Jadi rasa lapar dan permintaan makanan menjadi sebab munculnya ingatan.

Musa bertanya tentang makanan.

Yusya' kemudian mengingat ikan.

Ikan membawa mereka kembali ke tempat yang benar.

Inilah rangkaian pendidikan Allah.


37. ALLAH DAPAT MENGGUNAKAN PERISTIWA SEHARI-HARI UNTUK MEMBANGUNKAN HATI KITA

Kadang-kadang Allah tidak memberikan kita jawaban melalui sesuatu yang spektakuler.

Bisa melalui:

rasa lelah,

sebuah nasihat,

pertemuan,

kegagalan,

kesalahan,

sakit,

kehilangan,

atau sebuah pertanyaan sederhana.

Tetapi kita tidak boleh memastikan:

“Ini pasti maksud Allah.”

Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Yang benar adalah mengambil pelajaran:

“Apa yang dapat saya perbaiki dari kejadian ini?”


38. JANGAN BERHENTI DI RASA LELAH

Jamaah...

Ayat ini tidak mengajarkan:

“Kalau lelah, berhenti selamanya.”

Tetapi:

lelah → makan → istirahat → ingat → kembali → lanjutkan perjalanan.

Maka apabila kita lelah dalam belajar:

istirahat.

Kemudian belajar lagi.

Lelah dalam dakwah:

istirahat.

Kemudian lanjutkan.

Lelah mendidik anak:

istirahat.

Kemudian peluk anak kembali.

Lelah memperbaiki diri:

istirahat.

Kemudian bertaubat lagi.


39. TIGA KALIMAT UNTUK DIINGAT

Jamaah rahimakumullah...

Dari ayat ini mari kita bawa pulang tiga kalimat:

Pertama:

“Lelah bukan berarti gagal.”

Kedua:

“Istirahat bukan berarti menyerah.”

Ketiga:

“Ketika lelah, periksa kembali arah perjalanan.”

Mungkin kita hanya membutuhkan istirahat.

Mungkin kita membutuhkan makanan.

Mungkin kita membutuhkan nasihat.

Mungkin kita membutuhkan guru.

Mungkin kita membutuhkan doa.

Mungkin kita membutuhkan kembali kepada Allah.


PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah...

Nabi Musa berjalan sangat jauh.

Beliau mencari ilmu.

Beliau membawa bekal.

Beliau bersama seorang pendamping.

Beliau merasakan lapar.

Beliau merasakan lelah.

Dan rasa lelah itu justru menjadi salah satu sebab Allah mengembalikan beliau kepada tempat yang benar.

Maka jangan benci seluruh proses hanya karena ada rasa lelah.

Jangan menganggap semua kesulitan sebagai tanda bahwa Allah meninggalkan kita.

Kadang-kadang kita hanya perlu:

berhenti sebentar,

makan,

istirahat,

mengingat kembali tujuan,

dan kemudian berkata:

“Ya Allah, apakah saya masih berjalan di jalan yang benar?”

Kalau ternyata kita telah terlalu jauh...

jangan gengsi kembali.

Kalau ternyata kita salah...

jangan malu memperbaiki.

Kalau ternyata kita lelah...

jangan malu beristirahat.

Kalau ternyata kita tidak tahu...

jangan malu belajar.

Dan kalau ternyata hati kita jauh dari Allah...

jangan malu menangis dan kembali.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”

QS. Al-'Ankabut: 69.

Maka...

Jangan berhenti karena lelah.

Berhentilah untuk memulihkan tenaga.

Jangan menyerah karena salah arah.

Kembalilah kepada jalan yang benar.

Dan jangan lupa: sebaik-baik bekal perjalanan adalah takwa.


DOA

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ طَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, bantulah kami untuk menaati-Mu, mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَفِي أَعْمَارِنَا، وَفِي أَهْلِنَا، وَفِي أَعْمَالِنَا.

“Ya Allah, berkahilah waktu kami, umur kami, keluarga kami, dan amal-amal kami.”

اللَّهُمَّ إِذَا تَعِبْنَا فَأَرِحْنَا، وَإِذَا ضَعُفْنَا فَقَوِّنَا، وَإِذَا ضَلَلْنَا فَاهْدِنَا، وَإِذَا نَسِينَا فَذَكِّرْنَا.

“Ya Allah, ketika kami lelah, berilah kami istirahat; ketika kami lemah, kuatkanlah kami; ketika kami tersesat, berilah kami petunjuk; dan ketika kami lupa, ingatkanlah kami.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا أَخْطَأُوا رَجَعُوا، وَإِذَا نُبِّهُوا انْتَبَهُوا، وَإِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا، وَإِذَا أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ شَكَرُوا.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang apabila salah mau kembali, apabila diingatkan mau sadar, apabila mengetahui kebenaran mau mengamalkannya, dan apabila Engkau memberi nikmat kepada mereka, mereka bersyukur.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَنَفْسًا قَانِعَةً، وَعَمَلًا صَالِحًا.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, jiwa yang qanaah, dan amal yang saleh.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI / RUJUKAN

[1] Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 62. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bolehnya mengambil bekal dalam perjalanan serta bolehnya menyampaikan rasa sakit/kelelahan selama tidak disertai keluh kesah terhadap ketetapan Allah.

[2] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ath'imah, hadis no. 5375. Hadis Abu Hurairah tentang kondisi lapar dan perhatian Rasulullah ﷺ kepadanya.

[3] Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, dan At-Tirmidzi, Jami' at-Tirmidzi, hadis tentang kasih sayang kepada makhluk. Lafaz «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ» merupakan hadis masyhur yang diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis.

[4] Al-Bukhari dan Muslim, hadis tentang imam yang diperintahkan meringankan salat karena di antara makmum terdapat anak kecil, orang tua, orang lemah, dan orang yang memiliki kebutuhan.

[5] Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 62. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Musa mengucapkan perkataan tersebut setelah melewati batu dan rasa lapar menjadi sebab beliau mengingat ikan serta kembali ke tempat tujuan.

[6] As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf: 62. As-Sa'di menjelaskan bahwa mereka baru merasakan kelelahan setelah melewati tujuan yang dicari, dan hal tersebut termasuk tanda yang mengarahkan Musa kepada tempat yang dituju.

[7] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ash-Shaum, hadis Salman dan Abu Darda: «إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ».

[8] Al-Bukhari dan Muslim, hadis tentang tiga orang yang ingin beribadah secara berlebihan, lalu Nabi ﷺ menjelaskan keseimbangan dalam ibadah: «لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ...»

[9] Al-Bukhari dan Muslim, hadis tentang Nabi ﷺ tidak mencela makanan. Jika beliau menyukai makanan, beliau memakannya; jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.

[10] Hadis tentang tetangga yang lapar diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad dan beberapa jalur hadis lainnya. Maknanya memperkuat kewajiban memperhatikan kebutuhan orang di sekitar.


INTI PESAN CERAMAH

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا

Dari satu kalimat ini kita belajar:

Pemimpin yang baik bukan hanya tahu ke mana harus pergi, tetapi juga memperhatikan apakah orang yang berjalan bersamanya masih kuat.

Dan:

Lelah tidak selalu berarti kita harus berhenti dari tujuan; terkadang kita hanya perlu berhenti sejenak untuk makan, mengingat kembali tujuan, lalu melanjutkan perjalanan dengan arah yang benar.

والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar