KETIKA NERAKA SUDAH DI DEPAN MATA
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 53
“KETIKA NERAKA SUDAH DI DEPAN MATA”
Saat Tidak Ada Lagi Tempat untuk Berpaling
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
Jamaah yang dirahmati Allah...
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Karena kehidupan yang sedang kita jalani ini bukanlah kehidupan terakhir.
Rumah yang kita tempati akan kita tinggalkan.
Kendaraan yang kita banggakan akan kita tinggalkan.
Pekerjaan akan kita tinggalkan.
Jabatan akan kita tinggalkan.
Harta akan kita tinggalkan.
Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat pun pada suatu hari akan kembali menjadi tanah.
Dan kita akan berdiri di hadapan Allah سبحانه وتعالى.
Pada ayat sebelumnya, Allah menggambarkan orang-orang musyrik yang dahulu mereka panggil sebagai sekutu-sekutu Allah ternyata tidak mampu memberikan pertolongan sedikit pun.
Kemudian Allah memperlihatkan kepada kita pemandangan yang jauh lebih mengerikan.
Allah berfirman:
وَرَاَ الْمُجْرِمُوْنَ النَّارَ فَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مُّوَاقِعُوْهَا وَلَمْ يَجِدُوْا عَنْهَا مَصْرِفًا ٥٣
Artinya:
“Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya.”
(QS. Al-Kahf: 53)
Ayat ini pendek.
Tetapi kandungannya sangat berat.
1. “وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ”
Allah mengatakan:
وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ
“Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka.”
Jamaah...
Bayangkan seseorang yang selama hidupnya mendengar tentang neraka.
Ia mendengar khutbah tentang neraka.
Ia membaca Al-Qur'an tentang neraka.
Ia mendengar hadis tentang neraka.
Tetapi dahulu semuanya hanya menjadi berita.
Kemudian tiba waktunya ketika berita itu berubah menjadi penglihatan.
Dulu ia mendengar:
“Ada neraka.”
Sekarang ia melihat neraka.
Dulu ia membaca:
“Ada azab.”
Sekarang ia berada di hadapan azab.
Dulu ia mendengar:
“Akhirat itu benar.”
Sekarang kebenaran itu berada di depan matanya.
2. KATA “الْمُجْرِمُونَ” ADALAH PERINGATAN
Allah tidak mengatakan sekadar:
النَّاسُ
“Manusia.”
Tetapi:
الْمُجْرِمُونَ
“Orang-orang yang melakukan kejahatan/dosa.”
Dalam konteks ayat, para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud terutama adalah orang-orang yang melakukan kekufuran dan kesyirikan serta orang-orang yang telah berhak mendapatkan azab.
Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan:
وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ يَوْمَئِذٍ، يَعْنِي: عَايَنَ الْمُشْرِكُونَ النَّارَ.
Artinya:
“Orang-orang yang berdosa melihat neraka pada hari itu; maksudnya, orang-orang musyrik menyaksikan neraka.”[1]
Imam Al-Baghawi juga menjelaskan:
(وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ) أَيْ الْمُشْرِكُونَ
Artinya:
“Orang-orang yang berdosa melihat neraka, yaitu orang-orang musyrik.”[2]
Ini harus dipahami dengan tepat.
Ayat ini bukan alasan bagi seorang muslim untuk merasa aman dari dosa-dosa besar.
Sebaliknya, ia adalah peringatan agar manusia jangan bermain-main dengan maksiat, terutama jangan sampai mati dalam keadaan kufur dan syirik.
3. “فَظَنُّوا” — MEREKA MENGETAHUI DENGAN PASTI
Allah berfirman:
فَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مُّوَاقِعُوْهَا
“Lalu mereka menyangka bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya.”
Mengapa Allah menggunakan kata:
ظَنُّوا
“mereka menyangka”?
Apakah mereka masih ragu?
Tidak.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata zhann dalam konteks ini bermakna yaqin, keyakinan yang sangat kuat.
Ath-Thabari menukil perkataan Qatadah:
فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا، قَالَ: عَلِمُوا.
Artinya:
“Tentang firman Allah, ‘mereka menyangka bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya,’ Qatadah berkata: ‘Mereka mengetahui dengan pasti.’”[1]
Al-Qurthubi juga menjelaskan:
فَظَنُّوا هُنَا بِمَعْنَى الْيَقِينِ وَالْعِلْمِ
Artinya:
“Kata zhann di sini bermakna keyakinan dan pengetahuan yang pasti.”[3]
Jadi gambaran ayatnya sangat mengerikan.
Saat itu tidak ada lagi:
“Barangkali tidak.”
Tidak ada lagi:
“Mungkin saya selamat.”
Tidak ada lagi:
“Mungkin ini hanya ancaman.”
Semuanya menjadi nyata.
4. “مُوَاقِعُوهَا” — MEREKA AKAN JATUH KE DALAMNYA
Allah berfirman:
أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا
“Bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya.”
Kata مُوَاقِعُوهَا memberikan gambaran tentang bertemunya mereka dengan neraka.
Al-Qurthubi menjelaskan:
وَالْمُوَاقَعَةُ مُلَابَسَةُ الشَّيْءِ بِشِدَّةٍ
Artinya:
“Muwāqa‘ah adalah bertemu atau mengalami sesuatu dengan sangat kuat.”[3]
Jamaah...
Ini bukan seperti melihat api dari televisi.
Bukan seperti melihat foto kebakaran.
Bukan seperti melihat api dari kejauhan.
Tetapi mereka menyadari:
“Api itu adalah tempat yang akan kami masuki.”
5. MEREKA TIDAK MENEMUKAN TEMPAT UNTUK BERLINDUNG
Allah berfirman:
وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا
“Dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya.”
Apa arti مَصْرِفًا?
Ath-Thabari menjelaskan:
وَلَمْ يَجِدُوا مِنْ مَوَاقِعَتِهَا بُدًّا
Artinya:
“Mereka tidak menemukan jalan untuk menghindari kedatangan mereka kepadanya.”[1]
Al-Qurthubi menjelaskan:
أَيْ مَهْرَبًا لِإِحَاطَتِهَا بِهِمْ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ
Artinya:
“Yaitu tempat untuk melarikan diri, karena neraka telah mengepung mereka dari setiap sisi.”[3]
Subhanallah...
Di dunia, kalau kita menghadapi bahaya, kita masih bisa lari.
Kalau rumah terbakar, kita bisa keluar.
Kalau kendaraan rusak, kita bisa berhenti.
Kalau penyakit datang, kita bisa mencari dokter.
Kalau menghadapi masalah, kita bisa mencari bantuan.
Tetapi pada saat itu:
Tidak ada tempat lari.
6. IBNU KATSIR: RASA TAKUT ITU SENDIRI SUDAH MENJADI AZAB
Ibnu Katsir رحمه الله memberikan renungan yang sangat dalam.
Beliau mengatakan:
فَإِنَّ تَوَقُّعَ الْعَذَابِ وَالْخَوْفَ مِنْهُ قَبْلَ وُقُوعِهِ، عَذَابٌ نَاجِزٌ
Artinya:
“Sesungguhnya menunggu datangnya azab dan takut terhadapnya sebelum azab itu benar-benar terjadi sudah merupakan azab yang segera dirasakan.”[4]
Bayangkan.
Neraka belum mereka masuki.
Tetapi mereka sudah melihatnya.
Mereka sudah tahu.
Mereka sudah yakin.
Mereka sudah tidak mempunyai jalan keluar.
Ketakutan itu sendiri menjadi penderitaan.
7. GAMBARAN NERAKA DALAM AL-QUR'AN
Allah memberikan gambaran yang sangat kuat dalam Surah Al-Mulk:
وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ٦ إِذَآ أُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُ ٧ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ ٨
Artinya:
“Dan bagi orang-orang yang kufur kepada Tuhannya ada azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu bergolak, hampir meledak karena marah. Setiap kali sekumpulan orang-orang kafir dilemparkan ke dalamnya, para penjaganya bertanya kepada mereka, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu seorang pemberi peringatan?’”
(QS. Al-Mulk: 6–8)
Perhatikan pertanyaan malaikat penjaga:
أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
“Bukankah telah datang kepada kalian seorang pemberi peringatan?”
Artinya, azab bukanlah kezaliman.
Allah telah mengutus rasul.
Allah telah menurunkan kitab.
Allah telah memberikan akal.
Allah telah memberikan kesempatan.
Allah telah memperingatkan.
8. MEREKA SENDIRI MENGAKUI KESALAHANNYA
Allah melanjutkan:
قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيْرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِيْ ضَلَالٍ كَبِيْرٍ ٩
“Mereka menjawab, ‘Benar, sungguh seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakannya dan kami berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu hanyalah dalam kesesatan yang besar.”’”
(QS. Al-Mulk: 9)
Kemudian mereka mengatakan:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ ١٠
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’”
(QS. Al-Mulk: 10)
Jamaah...
Perhatikan penyesalan itu:
لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ
“Seandainya dahulu kami mau mendengar.”
Bukan berarti mereka tidak mempunyai telinga.
Mereka mempunyai telinga.
Tetapi mereka tidak mau menerima kebenaran.
Kemudian:
أَوْ نَعْقِلُ
“Atau kami mau menggunakan akal.”
Mereka mempunyai akal.
Tetapi akal tidak mereka gunakan untuk tunduk kepada kebenaran.
9. JANGAN MENUNDA TAUBAT SAMPAI NERAKA TERLIHAT
Inilah pesan yang sangat penting.
Sekarang kita belum melihat neraka.
Dan itu adalah kesempatan.
Sekarang kita masih bisa menangis.
Masih bisa istighfar.
Masih bisa salat.
Masih bisa memperbaiki kehidupan.
Masih bisa meminta maaf.
Masih bisa mengembalikan hak orang lain.
Masih bisa meninggalkan dosa.
Masih bisa bertobat.
Jangan menunggu sampai semuanya terlihat.
Karena ketika neraka sudah terlihat, kesempatan untuk kembali telah berakhir.
10. ALLAH MASIH MEMBUKA PINTU TAUBAT
Allah berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ٥٣
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Perhatikan keseimbangan Al-Qur'an.
QS. Al-Kahf 53 menakut-nakuti kita dengan neraka.
QS. Az-Zumar 53 membuka pintu harapan.
Takut tanpa harapan bisa membuat seseorang putus asa.
Harapan tanpa rasa takut bisa membuat seseorang meremehkan dosa.
Maka seorang mukmin hidup di antara:
الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ
rasa takut dan harapan.
Takut kepada azab Allah.
Tetapi berharap kepada rahmat Allah.
11. RAHMAT ALLAH MASIH TERBUKA SELAMA KITA HIDUP
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah عز وجل membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertobat, sampai matahari terbit dari barat.”
(HR. Muslim no. 2759)
Jamaah...
Kalau malam ini kita berdosa, masih ada kesempatan bertobat.
Kalau kemarin kita salah, masih ada kesempatan bertobat.
Kalau bertahun-tahun kita jauh dari Allah, selama nyawa belum sampai tenggorokan dan pintu taubat belum tertutup, jangan berputus asa dari rahmat Allah.
12. TETAPI JANGAN MENJADIKAN RAHMAT ALLAH SEBAGAI ALASAN UNTUK TERUS BERMAKSIAT
Ada orang berkata:
“Allah Maha Pengampun.”
Benar.
Tetapi kemudian ia sengaja melakukan dosa.
Besok ia ulangi lagi.
Lalu berkata:
“Nanti saya bertobat.”
Ini bukan cara memahami rahmat Allah.
Rahmat Allah seharusnya membuat kita segera kembali, bukan semakin berani berbuat dosa.
Orang yang benar-benar takut kepada neraka akan berkata:
“Ya Allah, saya ingin pulang sebelum terlambat.”
13. API DUNIA SAJA SUDAH MENAKUTKAN
Rasulullah ﷺ menggambarkan panasnya neraka.
Beliau bersabda:
نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ
Para sahabat berkata:
وَاللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً يَا رَسُولَ اللَّهِ
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا
Artinya:
“Api kalian yang dinyalakan oleh anak Adam hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahanam.”
Para sahabat berkata:
“Demi Allah, api dunia saja sudah cukup, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda:
“Api neraka dilebihkan atasnya dengan enam puluh sembilan bagian, yang masing-masing sama panasnya dengan api dunia.”
(HR. Bukhari no. 3265 dan Muslim no. 2843)
Jamaah...
Kita terkena sedikit minyak panas saja sudah berteriak.
Kita tersentuh knalpot saja langsung menarik tangan.
Kita terkena air panas saja langsung mencari obat.
Lalu bagaimana dengan neraka yang Allah gambarkan dengan begitu dahsyat?
Maka jangan meremehkan dosa.
14. JANGAN BERKATA: “DOSANYA KECIL”
Sering kali setan memperdaya manusia bukan dengan mengatakan:
“Lakukan dosa besar.”
Tidak.
Kadang setan berkata:
“Cuma sekali.”
“Cuma melihat.”
“Cuma satu komentar.”
“Cuma satu kebohongan.”
“Cuma mengambil sedikit.”
“Cuma meninggalkan salat sekali.”
“Cuma membuka sesuatu yang haram sebentar.”
Jamaah...
Masalahnya bukan hanya ukuran dosa.
Masalahnya adalah:
kepada siapa kita sedang bermaksiat?
Kita sedang melanggar perintah Allah.
Karena itu seorang mukmin tidak meremehkan dosa.
15. SETIAP AMAL AKAN KEMBALI KEPADA PELAKUNYA
Allah telah mengingatkan kita dalam ayat sebelumnya:
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰهَا ۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ٤٩
“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celakanya kami! Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada di hadapan mereka. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”
(QS. Al-Kahf: 49)
Kemudian ayat 53 memperlihatkan:
catatan amal → pengadilan → neraka.
Maka jangan menunggu hari itu untuk menyadari bahwa dosa itu nyata.
16. ORANG YANG CERDAS ADALAH ORANG YANG BERTOBAT SEBELUM TERLAMBAT
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan digunakan para ulama dalam pembahasan muhasabah.
Maka orang cerdas bukan sekadar orang yang pintar menghitung uang.
Orang cerdas bukan sekadar orang yang mempunyai gelar.
Orang cerdas adalah orang yang bertanya:
“Kalau saya mati malam ini, sudah siapkah saya bertemu Allah?”
17. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Setelah mendengar tentang neraka, jangan hanya takut.
Jadikan rasa takut itu sebagai tenaga untuk berubah.
Pertama: Jaga tauhid
Jangan mempersekutukan Allah.
Jangan menggantungkan ibadah kepada selain Allah.
Kedua: Jaga salat
Salat adalah hubungan kita dengan Allah.
Jangan biarkan pekerjaan, bisnis, sekolah, jabatan atau kesibukan memutuskan hubungan kita dengan Allah.
Ketiga: Tinggalkan dosa yang kita ketahui
Jangan menunggu dosa menjadi besar.
Tinggalkan sekarang.
Keempat: Segera bertaubat
Jangan berkata:
“Nanti kalau sudah tua.”
Kita tidak tahu apakah kita akan sampai tua.
Kelima: Kembalikan hak manusia
Kalau pernah mengambil hak orang, kembalikan.
Kalau pernah menyakiti, minta maaf.
Kalau pernah memfitnah, perbaiki fitnah itu.
Keenam: Perbanyak amal saleh
Salat.
Sedekah.
Membaca Al-Qur'an.
Berbakti kepada orang tua.
Mendidik anak.
Membantu sesama.
Menuntut ilmu.
Semua itu menjadi bekal.
18. JANGAN HANYA TAKUT KEPADA NERAKA, TETAPI RINDULAH KEPADA SURGA
Islam tidak mengajarkan kita hanya takut.
Allah juga memberikan kabar gembira.
Allah berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”
(QS. Fussilat: 30)
Jadi hidup seorang mukmin berada di antara:
takut kepada neraka
dan
berharap kepada surga.
Takut mendorong kita meninggalkan dosa.
Harapan mendorong kita melakukan kebaikan.
19. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA
[Jamaah, perlahan...]
Bayangkan...
Suatu hari nama kita dipanggil.
Bukan untuk menerima gaji.
Bukan untuk menerima penghargaan.
Bukan untuk menerima jabatan.
Tetapi untuk menghadap Allah.
Kemudian seluruh amal dibuka.
Apa yang selama ini kita sembunyikan...
terlihat.
Apa yang kita pikir tidak ada yang tahu...
Allah tahu.
Apa yang kita anggap kecil...
ternyata tercatat.
Kemudian kita melihat sesuatu yang selama ini kita dengar:
النَّار
Neraka.
Dan saat itu kita ingin kembali.
Kita berkata:
“Ya Allah, kembalikan aku.”
Tetapi waktu telah selesai.
Maka...
jangan tunggu besok untuk bertobat dari dosa yang bisa kita tinggalkan hari ini.
20. PENUTUP: NERAKA MASIH BELUM KITA LIHAT — DAN ITULAH KESEMPATAN KITA
Jamaah yang dirahmati Allah...
QS. Al-Kahf ayat 53 bukan sekadar ayat untuk membuat kita takut.
Ia adalah alarm sebelum terlambat.
Sekarang kita belum melihat neraka.
Maka bertobatlah.
Sekarang kita belum melihat malaikat maut.
Maka siapkanlah bekal.
Sekarang kita masih bisa bersujud.
Maka perbanyaklah sujud.
Sekarang kita masih bisa membaca Al-Qur'an.
Maka dekatilah Al-Qur'an.
Sekarang kita masih bisa meminta maaf.
Maka mintalah maaf.
Sekarang kita masih bisa mengembalikan hak manusia.
Maka kembalikanlah.
Sekarang kita masih bisa mengatakan:
رَبِّ اغْفِرْ لِي
“Ya Rabb, ampunilah aku.”
Maka katakanlah.
Karena kelak akan tiba masa ketika orang-orang yang melihat neraka ingin kembali.
Tetapi tidak bisa.
Maka jangan menjadi orang yang baru sadar ketika kesempatan telah habis.
DOA
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari neraka.”
اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ.
“Ya Allah, selamatkanlah kami dari neraka dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang saleh.”
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا، وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, kesalahan-kesalahan kami dalam urusan kami, dan teguhkanlah langkah kami.”
اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا، وَاغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا، وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا.
“Ya Allah, terimalah taubat kami dengan taubat yang sebenar-benarnya. Ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu dan yang akan datang, yang kami sembunyikan maupun yang kami tampakkan.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ.
“Ya Allah, jadikanlah akhir perkataan kami di dunia: Laa ilaaha illallah.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرَوْنَ النَّارَ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَصْرِفًا.
“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang melihat neraka dan tidak menemukan jalan untuk berpaling darinya.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
CATATAN KAKI / RUJUKAN
[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 53. Ath-Thabari menjelaskan bahwa ظنوا dalam ayat ini bermakna mereka mengetahui dengan pasti bahwa mereka akan memasukinya, dan مصرف bermakna tempat untuk berpaling atau menghindar.
[^2]: Al-Husain bin Mas‘ud al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 53. Al-Baghawi menjelaskan المجرمون sebagai orang-orang musyrik dan ظنوا sebagai أيقنوا — mereka menjadi yakin bahwa mereka akan masuk neraka.
[^3]: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 53. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ظنوا di sini bermakna keyakinan dan bahwa مصرفا berarti tempat berlindung atau jalan untuk menghindar dari neraka.
[^4]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 53. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ketika orang-orang yang berdosa melihat neraka, mereka memastikan bahwa mereka akan memasukinya; bahkan ketakutan dan penantian azab sebelum azab terjadi telah menjadi penderitaan bagi mereka.
[^5]: Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 53. As-Sa‘di menjelaskan bahwa setelah hisab dan pemisahan manusia berdasarkan amal, para pelaku kejahatan melihat Jahanam dan yakin akan memasukinya, sementara mereka tidak menemukan jalan untuk berpaling darinya.
[^6]: Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 3265; Muslim, Shahīh Muslim, no. 2843, tentang panasnya api Jahanam dibandingkan api dunia.
[^7]: Muslim bin al-Hajjaj, Shahīh Muslim, no. 2759, hadis Abu Musa رضي الله عنه tentang luasnya kesempatan taubat yang Allah berikan kepada hamba sebelum matahari terbit dari barat.
[^8]: Al-Qur'an, QS. Al-Mulk [67]: 6–10, tentang azab Jahanam, suara neraka, pertanyaan para penjaga neraka, dan pengakuan para penghuninya bahwa dahulu mereka tidak mau mendengar dan berpikir.
[^9]: Al-Qur'an, QS. Az-Zumar [39]: 53, tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah dan perintah untuk kembali kepada-Nya. Ath-Thabari juga menjelaskan konteks ayat ini sebagai seruan kepada orang-orang yang telah melampaui batas agar tidak berputus asa dan segera kembali kepada Allah.
Post a Comment