Bahasa Menjadi Ujian: Belajar Memahami, Menghargai, dan Menolong Sesama
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
QS. Al-Kahf Ayat 93 — Ketika Perbedaan Bahasa Menjadi Ujian: Belajar Memahami, Menghargai, dan Menolong Sesama
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، رَسُولِ الرَّحْمَةِ وَالْهُدَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Artinya:
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dengan pujian yang sepadan dengan nikmat-nikmat-Nya dan mencukupi tambahan karunia-Nya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, pembawa rahmat dan petunjuk, beserta keluarga dan seluruh sahabat beliau.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Di antara tanda ketakwaan adalah menjaga lisan, menghormati sesama manusia, bersikap adil kepada orang yang berbeda dengan kita, dan menggunakan kemampuan yang Allah berikan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Pada kesempatan ini, kita melanjutkan kajian Surah Al-Kahf, yaitu ayat 93. Ayat ini menceritakan perjalanan Zulkarnain hingga sampai di antara dua penghalang atau gunung. Di tempat itu, ia menjumpai suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa perjalanan hidup akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda bahasa, kebiasaan, pengetahuan, dan cara berkomunikasi. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan mereka. Justru di situlah kesabaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab kita diuji.
B. Teks ayat dan terjemahan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا
Artinya:
“Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang (kedua gunung itu) suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan.” (QS. Al-Kahf [18]: 93).
Ayat ini menggambarkan tiga keadaan.
Pertama, Zulkarnain telah menempuh perjalanan panjang hingga mencapai suatu wilayah di antara dua penghalang atau gunung.
Kedua, di tempat tersebut ia menemukan suatu kaum yang memiliki kesulitan dalam memahami pembicaraan.
Ketiga, keadaan kaum itu menjadi bagian penting dari rangkaian kisah berikutnya. Pada ayat 94, mereka menyampaikan masalah yang mereka hadapi akibat kerusakan Ya’juj dan Ma’juj serta meminta bantuan Zulkarnain.
Perhatikan, hadirin. Ayat 93 tidak hanya menceritakan tempat yang didatangi Zulkarnain, tetapi juga mempertemukan kita dengan sebuah persoalan manusiawi: bagaimana kita bersikap ketika berhadapan dengan orang yang sulit kita pahami?
C. Penjelasan kata demi kata
1. حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ — Hingga ketika dia sampai
Ungkapan ini menunjukkan bahwa Zulkarnain melanjutkan perjalanan sampai mencapai suatu tempat tertentu. Perjalanan yang panjang membawanya bertemu dengan masyarakat yang memiliki keadaan berbeda dari tempat-tempat yang sebelumnya ia datangi.
Pelajarannya, perjalanan hidup sering mempertemukan kita dengan persoalan yang tidak kita duga. Kita mungkin merasa mampu menghadapi suatu keadaan, tetapi ketika memasuki lingkungan baru, kita perlu belajar memahami situasinya terlebih dahulu.
2. بَيْنَ السَّدَّيْنِ — Di antara dua penghalang atau gunung
Kata as-saddayn ditafsirkan oleh sejumlah ulama sebagai dua gunung atau penghalang yang membatasi suatu celah. Para mufasir juga menyampaikan beberapa keterangan mengenai lokasi tersebut, tetapi nama tempat yang pasti tidak disebutkan secara tegas dalam ayat.
Karena itu, ketika menjelaskan lokasi perjalanan Zulkarnain, kita perlu membedakan antara keterangan Al-Qur’an dan perkiraan geografis yang muncul dalam riwayat tafsir.
3. وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا — Dia mendapati suatu kaum di dekat atau di balik keduanya
Kata min dūnihimā dalam konteks ini dijelaskan sebagai tempat di sisi atau di balik kedua penghalang tersebut. Zulkarnain kemudian berjumpa dengan sekelompok manusia yang memiliki kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.
4. لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا — Mereka hampir tidak memahami pembicaraan
Kata yafqahūna berkaitan dengan memahami atau mengerti. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kaum tersebut mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang lain, antara lain karena perbedaan bahasa atau cara bertutur.
Dalam penjelasan qiraat, terdapat pula bacaan yang memberi makna bahwa mereka sulit membuat orang lain memahami pembicaraan mereka. Kedua penjelasan ini menunjukkan adanya hambatan komunikasi.¹
Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa kaum tersebut memiliki kecerdasan rendah. Kesulitan memahami bahasa orang lain tidak sama dengan kurangnya kecerdasan. Seseorang bisa sangat cakap dalam bidangnya, tetapi mengalami kesulitan ketika berkomunikasi menggunakan bahasa yang tidak dikenalnya.
D. Ulasan para ulama tafsir
1. Imam Ath-Thabari رحمه الله
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا﴾ يَقُولُ عَزَّ ذِكْرُهُ: وَجَدَ مِنْ دُونِ السَّدَّيْنِ قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلَ قَائِلٍ سِوَى كَلَامِهِمْ.
Artinya:
“Firman-Nya, ‘Dia mendapati di dekat kedua penghalang itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan,’ maksudnya, dia mendapati suatu kaum yang hampir tidak memahami perkataan seseorang selain pembicaraan mereka sendiri.”¹
Imam Ath-Thabari juga membahas perbedaan bacaan pada kata yafqahūna dan yufqihūna. Beliau menjelaskan bahwa kedua bacaan memiliki dasar dan makna yang dapat diterima: kaum itu dapat mengalami kesulitan memahami perkataan orang lain, dan dapat pula mengalami kesulitan membuat orang lain memahami perkataan mereka.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa komunikasi bukan sekadar mengeluarkan suara. Komunikasi membutuhkan kemampuan memahami dan menyampaikan maksud.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin berbicara dengan jelas menurut kebiasaannya sendiri, tetapi lawan bicaranya belum tentu memahami. Karena itu, ketika pesan tidak tersampaikan, kita perlu mengevaluasi cara berbicara, bukan langsung menyalahkan orang yang mendengar.
2. Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا﴾ أَيْ: لِاسْتِعْجَامِ كَلَامِهِمْ وَبُعْدِهِمْ عَنِ النَّاسِ.
Artinya:
“Firman-Nya, ‘Dia mendapati di dekat kedua penghalang itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan,’ maksudnya karena bahasa mereka sulit dipahami dan mereka jauh dari masyarakat lain.”²
Penjelasan ini mengarahkan perhatian kita kepada perbedaan bahasa dan keadaan lingkungan mereka. Suatu masyarakat yang lama hidup dengan bahasa atau kebiasaan tertentu mungkin tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang dari wilayah lain.
Dari sini kita belajar untuk tidak tergesa-gesa menghakimi seseorang hanya karena cara bicaranya berbeda, logatnya tidak sama, atau ia kesulitan menjelaskan maksudnya.
Ada orang yang tidak fasih berbicara, tetapi baik akhlaknya. Ada orang yang tidak menguasai bahasa tertentu, tetapi memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Ada pula orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami penjelasan, tetapi mampu bekerja dengan sangat baik setelah mendapatkan arahan yang tepat.
Maka, perbedaan kemampuan berkomunikasi bukan alasan untuk merendahkan martabat manusia.
3. Imam As-Sa‘di رحمه الله
Imam As-Sa‘di menjelaskan:
وَجَدَ مِنْ دُونِ السَّدَّيْنِ قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا، لِعُجْمَةِ أَلْسِنَتِهِمْ، وَاسْتِعْجَامِ أَذْهَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ.
Artinya:
“Dia mendapati di dekat kedua penghalang itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan, karena bahasa mereka yang asing dan kesulitan memahami yang mereka alami.”³
As-Sa‘di juga menjelaskan dalam rangkaian tafsir ayat 92–93 bahwa Allah telah memberikan kepada Zulkarnain berbagai sarana, termasuk kemampuan yang membantunya berkomunikasi dengan kaum tersebut.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa pertemuan Zulkarnain dengan masyarakat yang berbeda tidak berhenti pada kesulitan komunikasi. Kisah berlanjut dengan adanya dialog dan penyampaian masalah yang membutuhkan penyelesaian.
Kita dapat mengambil pelajaran bahwa hambatan komunikasi tidak seharusnya membuat kita berhenti berusaha memahami. Kita dapat menggunakan bahasa yang lebih sederhana, memberikan contoh, menggunakan tulisan atau gambar, meminta bantuan penerjemah, dan memastikan bahwa pesan benar-benar dipahami.
E. Dalil Al-Qur’an: Allah menciptakan manusia dengan bahasa dan keadaan yang beragam
1. Perbedaan bahasa merupakan tanda kebesaran Allah
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Artinya:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasa kalian dan warna kulit kalian. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 22).
Perhatikan bahwa Allah menyebut perbedaan bahasa sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Dengan demikian, keberagaman bahasa bukan alasan untuk saling merendahkan.
Kita mengenal berbagai bahasa di dunia. Bahkan dalam satu bahasa pun terdapat perbedaan logat, pilihan kata, dan cara menyampaikan maksud. Semua itu menjadi bagian dari keragaman manusia.
Bagi seorang pendidik, ayat ini mengingatkan bahwa peserta didik memiliki latar belakang, kemampuan, dan cara memahami materi yang beragam. Guru perlu menjelaskan dengan cara yang dapat dipahami, bukan sekadar menyampaikan materi lalu menyalahkan siswa yang belum mengerti.
Bagi masyarakat, ayat ini mengajarkan agar kita menghargai perbedaan bahasa dan tidak menjadikannya sebagai ukuran tunggal kecerdasan atau kemuliaan seseorang.
2. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَّأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَّقَبَائِلَ لِتَعَارَفُواۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa keragaman manusia seharusnya menjadi jalan untuk saling mengenal, bukan saling menghina.
Kita mungkin berbeda bahasa, kebiasaan, pendidikan, atau lingkungan. Namun, perbedaan itu tidak menjadikan seseorang otomatis lebih mulia daripada orang lain. Kemuliaan di sisi Allah berkaitan dengan ketakwaan, bukan semata-mata asal-usul atau kemampuan berbicara.
Maka, ketika berhadapan dengan orang yang kesulitan memahami bahasa kita, jangan menertawakannya. Ketika bertemu seseorang yang belum menguasai ilmu tertentu, jangan mempermalukannya. Berikan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
3. Berkomunikasi dengan hikmah dan nasihat yang baik
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
اُدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Ayat ini mengajarkan bahwa cara menyampaikan pesan harus disesuaikan dengan keadaan orang yang diajak bicara.
Hikmah berarti menempatkan perkataan dan tindakan pada tempat yang tepat. Nasihat yang baik disampaikan dengan cara yang membangun, bukan mempermalukan. Perdebatan dilakukan dengan cara yang paling baik, bukan dengan makian dan penghinaan.
Dalam konteks pendidikan, guru hendaknya menjelaskan pelajaran dengan bahasa yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Dalam keluarga, orang tua hendaknya menasihati anak dengan cara yang membimbing. Dalam masyarakat, kita perlu menjelaskan perbedaan dengan tenang dan tetap menjaga adab.
F. Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ
1. Memudahkan dan tidak mempersulit
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا.
Artinya:
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).⁴
Hadis ini memberikan pedoman penting dalam berkomunikasi.
Jika seseorang belum memahami penjelasan kita, cobalah menggunakan kalimat yang lebih sederhana. Jika penjelasan pertama belum berhasil, gunakan contoh lain. Jika orang yang kita ajak bicara memiliki keterbatasan bahasa, carilah cara yang lebih sesuai.
Memudahkan bukan berarti menghilangkan kebenaran atau membiarkan kesalahan. Memudahkan berarti menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat dan tidak menambah kesulitan yang tidak diperlukan.
Seorang guru, misalnya, tetap perlu menjaga standar pembelajaran. Namun, ia dapat memberikan penjelasan bertahap, contoh konkret, latihan tambahan, dan kesempatan bertanya bagi siswa yang belum memahami materi.
2. Berkata baik atau diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).⁵
Hadis ini mengajarkan tanggung jawab terhadap lisan.
Ketika bertemu seseorang yang sulit memahami perkataan kita, jangan menjadikan keadaan itu sebagai bahan ejekan. Jangan mengucapkan kata-kata yang mempermalukan orang lain. Jika belum mampu membantu, setidaknya jangan menambah kesulitan mereka dengan ucapan yang menyakitkan.
Di zaman sekarang, menjaga lisan juga mencakup menjaga tulisan dan komentar di media sosial. Kita tidak boleh menghina seseorang hanya karena logatnya berbeda, tata bahasanya belum baik, atau ia salah mengucapkan suatu kata.
Ucapan yang baik dapat membuka pintu dialog. Ucapan yang kasar dapat menutup pintu komunikasi.
3. Menyayangi sesama manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.
Artinya:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya Dia yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).⁶
Hadis ini mengingatkan kita untuk memperlakukan sesama dengan kasih sayang. Kasih sayang bukan hanya diberikan kepada orang yang mirip dengan kita atau orang yang mudah kita pahami.
Kasih sayang juga tampak ketika kita sabar mendengarkan orang yang berbicara dengan lambat, membantu orang yang kesulitan menjelaskan maksudnya, atau mendampingi seseorang yang belum memahami suatu persoalan.
Jika Allah memberi kita kemampuan berbahasa, gunakanlah untuk menyampaikan kebaikan. Jika Allah memberi kita ilmu, gunakanlah untuk membimbing. Jika Allah memberi kita kedudukan, gunakanlah untuk melindungi dan menolong.
G. Pelajaran komunikasi dari kisah Zulkarnain
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ayat 93 menjadi pintu masuk menuju ayat berikutnya. Pada ayat 94, kaum tersebut menyampaikan persoalan mereka kepada Zulkarnain. Artinya, meskipun komunikasi mereka memiliki hambatan, mereka akhirnya dapat menyampaikan kebutuhan dan meminta pertolongan.
Dari rangkaian ayat ini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran.
Pertama, jangan buru-buru menghakimi orang yang sulit kita pahami.
Kesulitan komunikasi dapat disebabkan oleh perbedaan bahasa, kebiasaan, lingkungan, atau cara menyampaikan pesan. Kita perlu mencari tahu penyebabnya sebelum membuat penilaian.
Kedua, carilah cara agar pesan dapat dipahami.
Komunikasi yang baik tidak hanya bergantung pada kepandaian berbicara, tetapi juga pada kesediaan menyesuaikan cara penyampaian. Gunakan bahasa sederhana, contoh, tulisan, gambar, atau bantuan penerjemah bila diperlukan.
Ketiga, dengarkan kebutuhan orang lain.
Jangan hanya menuntut orang lain memahami kita. Kita juga harus berusaha memahami mereka. Kadang-kadang, seseorang tidak membutuhkan ceramah panjang; ia membutuhkan kesempatan untuk menjelaskan masalahnya dan didengarkan dengan sungguh-sungguh.
Keempat, kemampuan adalah amanah.
Jika kita memiliki ilmu, bahasa, pengalaman, atau kekuasaan yang lebih besar, jangan gunakan kelebihan itu untuk mempermalukan orang lain. Gunakanlah untuk mempermudah urusan mereka dan membantu menyelesaikan persoalan.
H. Penerapan dalam kehidupan sehari-hari
1. Dalam dunia pendidikan
Di kelas, ada siswa yang cepat memahami pelajaran dan ada yang membutuhkan pengulangan. Ada yang berani bertanya dan ada yang malu. Ada yang mudah menjelaskan jawabannya secara lisan, tetapi lebih baik ketika menulis.
Guru perlu menghindari label yang merendahkan. Jangan langsung menyebut siswa malas atau tidak cerdas hanya karena ia belum memahami penjelasan. Periksa kembali cara mengajar, berikan contoh tambahan, dan cari tahu bagian yang belum dipahami.
2. Dalam keluarga
Orang tua dan anak terkadang berbeda cara berkomunikasi. Anak mungkin sulit menjelaskan perasaannya, sementara orang tua terburu-buru memberikan nasihat.
Luangkan waktu untuk mendengar sampai selesai. Ajukan pertanyaan dengan tenang. Jangan menjadikan kesulitan anak mengungkapkan pikiran sebagai alasan untuk langsung memarahinya.
3. Dalam masyarakat
Ketika bertemu orang dari daerah atau budaya yang berbeda, bersikaplah sopan. Jangan menjadikan logat, bahasa, atau kebiasaan mereka sebagai bahan olok-olok.
Jika terjadi kesalahpahaman, klarifikasi dengan baik. Tanyakan maksudnya sebelum mengambil kesimpulan. Jangan menyebarkan cerita yang belum dipastikan kebenarannya.
4. Dalam kepemimpinan
Pemimpin yang baik perlu memastikan bahwa informasi dan arahan dapat dipahami oleh orang yang menerima tugas. Instruksi yang rumit dan tidak jelas dapat menimbulkan kesalahan.
Karena itu, sampaikan tujuan, langkah, batas tanggung jawab, dan hasil yang diharapkan secara jelas. Berikan kesempatan untuk bertanya dan pastikan bahwa pihak yang menerima arahan benar-benar memahaminya.
5. Dalam dakwah
Dakwah bukan hanya tentang benar atau salahnya isi pesan, tetapi juga tentang cara menyampaikan kebenaran. Gunakan dalil dengan tepat, bahasa yang baik, dan cara yang sesuai dengan keadaan orang yang diajak bicara.
Jangan menjadikan perbedaan pemahaman sebagai alasan untuk menghina. Sampaikan kebenaran dengan tegas pada prinsipnya, tetapi tetap menjaga adab dan keadilan.
I. Renungan: apakah kita berusaha memahami orang lain?
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
- Apakah kita bersedia mendengarkan orang yang berbicara dengan lambat?
- Apakah kita sabar menjelaskan kembali ketika orang lain belum memahami?
- Apakah kita pernah merendahkan seseorang hanya karena bahasanya berbeda?
- Apakah ilmu dan kemampuan kita digunakan untuk membantu atau justru mempermalukan?
- Apakah kita sudah memikirkan cara agar nasihat yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik?
Kita sering ingin dipahami, tetapi terkadang lupa berusaha memahami orang lain. Kita ingin orang lain bersabar terhadap kekurangan kita, tetapi terkadang tidak sabar menghadapi kekurangan mereka.
Kisah kaum dalam QS. Al-Kahf ayat 93 mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keadaan yang beragam. Tidak semua orang mempunyai kemampuan komunikasi yang sama. Tidak semua orang memahami sesuatu dengan cara yang sama.
Karena itu, jangan menjadikan kelebihan kita sebagai alasan untuk sombong. Jadikan kelebihan itu sebagai sarana untuk memberi manfaat.
J. Kesimpulan
Dari QS. Al-Kahf ayat 93, kita dapat mengambil lima pelajaran utama:
- Perbedaan bahasa dan cara berkomunikasi adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan bijaksana.
- Kesulitan memahami pembicaraan bukan bukti bahwa seseorang tidak cerdas atau tidak bermartabat.
- Komunikasi yang baik memerlukan kesabaran, kemampuan mendengar, dan kesediaan menyesuaikan cara penyampaian.
- Ilmu, bahasa, dan kekuasaan adalah amanah yang harus digunakan untuk kebaikan.
- Jangan merendahkan orang yang berbeda; berusahalah memahami dan membantu mereka.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang baik lisannya, luas kesabarannya, lembut sikapnya, dan bermanfaat bagi sesama.
K. Doa penutup
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
Artinya:
“Ya Allah, ajarilah kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ حَسِّنْ أَخْلَاقَنَا، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَقُولُونَ الْحَقَّ بِحِكْمَةٍ وَرَحْمَةٍ، وَيُحْسِنُونَ إِلَى عِبَادِكَ.
Artinya:
“Ya Allah, perbaikilah akhlak kami, sucikanlah lisan kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan kasih sayang, serta berbuat baik kepada hamba-hamba-Mu.”
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
Artinya:
“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Artinya:
“Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Catatan kaki dan kitab rujukan
- Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 93. Ath-Thabari menjelaskan makna kaum yang sulit memahami pembicaraan dan membahas dua bacaan pada kata yafqahūna/yufqihūna. Lihat juga Tafsir Ath-Thabari, QS. Al-Kahf: 93.
- Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 93. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Kahf: 93.
- ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 92–93. Lihat Tafsir As-Sa‘di, QS. Al-Kahf: 93.
- Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-‘Ilm, bab mengenai memudahkan dan tidak mempersulit; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Jihād wa as-Siyar. Hadis “Permudahlah dan jangan mempersulit” diriwayatkan dengan redaksi yang sepadan dalam kedua kitab.
- Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab; Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Īmān. Hadis “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
- Abu Dawud, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Adab; At-Tirmidzi, Al-Jāmi‘, Abwāb al-Birr wa aṣ-Ṣilah. Hadis tentang kasih sayang kepada makhluk di bumi.
Catatan ilmiah: Terjemahan ayat dan hadis merupakan terjemahan makna. Kutipan tafsir Arab dipilih dari penjelasan para ulama yang dirujuk; nomor halaman dapat berbeda menurut edisi. Al-Qur’an tidak menyebut secara pasti nama modern wilayah tempat Zulkarnain bertemu kaum tersebut. Karena itu, rincian geografis yang terdapat dalam sebagian tafsir diperlakukan sebagai keterangan riwayat, bukan kepastian ayat.
Post a Comment