Terus Melangkah, Menempuh Jalan Kebaikan, dan Mengambil Sebab
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
QS. Al-Kahf Ayat 92 — Terus Melangkah, Menempuh Jalan Kebaikan, dan Mengambil Sebab
A. Muqaddimah
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Artinya:
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Tuhan kita. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Takwa bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesungguhan dalam menjalankan amanah, kejujuran dalam bekerja, kesabaran menghadapi ujian, dan keteguhan dalam menempuh jalan kebaikan.
Pada kesempatan ini, kita akan melanjutkan kajian Surah Al-Kahf, khususnya ayat 92, yang menceritakan perjalanan Zulkarnain.
Ayat ini hanya terdiri atas tiga kata, tetapi mengandung pelajaran besar tentang perjalanan hidup, ikhtiar, kepemimpinan, dan pentingnya terus bergerak menuju tujuan yang benar.
B. Teks ayat dan terjemahan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا
Artinya:
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).” (QS. Al-Kahf [18]: 92).
Ayat ini melanjutkan kisah Zulkarnain setelah ia menempuh perjalanan ke arah barat dan kemudian ke arah timur. Setelah itu, ia kembali menempuh jalan lain.
Al-Qur’an tidak menjelaskan secara terperinci setiap langkah perjalanan tersebut. Akan tetapi, ayat berikutnya menjelaskan bahwa ia akhirnya sampai di antara dua penghalang atau gunung, lalu bertemu suatu kaum yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi kerusakan yang ditimbulkan Ya’juj dan Ma’juj.
Dengan demikian, ayat 92 merupakan penghubung penting antara perjalanan Zulkarnain sebelumnya dan tugas berikutnya.
C. Penjelasan kata demi kata
1. ثُمَّ — Kemudian
Kata thumma menunjukkan urutan, dengan makna “kemudian” atau “setelah itu”. Kata ini menandakan bahwa perjalanan Zulkarnain berlanjut setelah tahapan sebelumnya.
Dalam kehidupan, banyak tujuan tidak selesai dalam satu langkah. Seseorang menyelesaikan satu pekerjaan, kemudian melanjutkan pekerjaan berikutnya. Ia menghadapi satu ujian, lalu bersiap menghadapi ujian lain.
Keberhasilan pada satu tahap bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keberhasilan seharusnya menjadi bekal untuk melanjutkan tanggung jawab berikutnya.
2. أَتْبَعَ سَبَبًا — Menempuh suatu jalan
Kata sababan dalam konteks ini ditafsirkan sebagai jalan, rute, persinggahan, atau sarana yang mengantarkan seseorang menuju tujuan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa Zulkarnain kembali menempuh berbagai jalan dan persinggahan. Dalam riwayat tafsir yang beliau bawakan dari Ibnu Abbas, kata sababan dijelaskan dengan manzilan, yakni tempat persinggahan. Dari Qatadah, maknanya dijelaskan sebagai jalan-jalan dan penanda tempat di bumi.¹
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah bahwa sebuah perjalanan memerlukan arah dan sarana. Untuk mencapai tujuan, seseorang perlu menentukan langkah, menyiapkan bekal, dan bersedia melanjutkan perjalanan ketika satu tahap telah selesai.
D. Ulasan para ulama tafsir
1. Imam Ath-Thabari رحمه الله
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: ثُمَّ سَارَ وَسَلَكَ ذُو الْقَرْنَيْنِ طُرُقًا وَمَنَازِلَ.
Artinya:
“Allah Yang Mahatinggi menyebutkan bahwa kemudian Zulkarnain berjalan dan menempuh berbagai jalan serta tempat persinggahan.”¹
Dalam penjelasan riwayat tafsirnya, disebutkan pula:
عَنْ قَتَادَةَ: مَنَازِلُ الْأَرْضِ وَمَعَالِمُهَا.
Artinya:
“Dari Qatadah: tempat-tempat persinggahan di bumi dan tanda-tanda jalannya.”¹
Ulasan ini menunjukkan bahwa perjalanan Zulkarnain bukan sekadar berpindah tanpa arah. Ia menempuh rute-rute yang membawanya menuju tujuan berikutnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang memiliki cita-cita juga perlu memahami tahapan yang harus ditempuh. Orang yang ingin menjadi guru, misalnya, perlu belajar, berlatih, menambah kompetensi, dan menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Orang yang ingin membangun keluarga yang baik perlu belajar, memberi teladan, dan bersabar dalam mendidik.
Tujuan yang baik memerlukan jalan yang baik pula.
2. Imam Ibnu Katsir رحمه الله
Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan ringkas:
قَوْلُهُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ: ﴿ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا﴾ أَيْ: ثُمَّ سَلَكَ طَرِيقًا مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ.
Artinya:
“Firman Allah Yang Mahatinggi ketika mengabarkan tentang Zulkarnain, ‘Kemudian dia menempuh suatu jalan,’ maksudnya, kemudian ia menempuh jalan dari kawasan timur bumi.”²
Penjelasan Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan rangkaian perjalanan Zulkarnain yang telah disebutkan sebelumnya.
Kita perlu berhati-hati ketika menjelaskan lokasi perjalanan itu. Al-Qur’an tidak menyebut secara tegas nama negara modern yang dilalui Zulkarnain. Sebagian mufasir memberikan perkiraan arah dan wilayah berdasarkan penafsiran mereka terhadap rangkaian ayat, tetapi perkiraan tersebut tidak boleh disamakan dengan kepastian yang dinyatakan Al-Qur’an.
Pelajaran utamanya bukanlah memastikan peta perjalanan Zulkarnain secara terperinci, melainkan memahami bagaimana ia melanjutkan perjalanan dan kemudian menghadapi kebutuhan masyarakat yang dijumpainya.
3. Imam Al-Qurthubi رحمه الله
Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
تَقَدَّمَ مَعْنَاهُ أَنَّ أَتْبَعَ وَاتَّبَعَ بِمَعْنًى، أَيْ سَلَكَ طَرِيقًا وَمَنَازِلَ.
Artinya:
“Maknanya telah dijelaskan sebelumnya, bahwa atba‘a dan ittaba‘a memiliki makna yang sama, yaitu menempuh jalan dan tempat-tempat persinggahan.”³
Penjelasan ini memperkuat pemahaman bahwa kata sababan berhubungan dengan jalan atau rute yang ditempuh.
Dalam konteks kehidupan, jalan menuju keberhasilan tidak selalu mudah. Ada jalan yang menuntut kesabaran, ada jalan yang memerlukan ilmu, dan ada jalan yang membutuhkan bantuan orang lain.
Karena itu, orang beriman tidak cukup hanya menginginkan hasil. Ia juga harus memperhatikan cara memperoleh hasil tersebut. Tujuan yang baik tidak membenarkan cara yang haram, zalim, atau merugikan orang lain.
E. Dalil Al-Qur’an: Allah memerintahkan manusia berusaha
1. Berusaha setelah memiliki tujuan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
Artinya:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 39–40).
Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya usaha dan tanggung jawab. Seseorang tidak seharusnya hanya mengharapkan hasil tanpa menjalankan proses yang diperlukan.
Seorang siswa tidak cukup hanya berharap memperoleh nilai yang baik; ia perlu belajar. Seorang guru tidak cukup hanya mengharapkan peserta didik berhasil; ia perlu mempersiapkan pembelajaran. Seorang pemimpin tidak cukup hanya menginginkan masyarakat sejahtera; ia perlu mengambil keputusan dan melaksanakan amanah.
Namun, ayat ini tidak berarti bahwa manusia pasti memperoleh semua yang diinginkannya di dunia. Hasil akhir berada dalam ketetapan Allah. Yang dituntut dari kita adalah melakukan usaha yang benar, lalu menerima hasilnya dengan iman dan kesabaran.
2. Allah memerintahkan manusia untuk bekerja
Allah berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. Kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah [9]: 105).
Ayat ini menggabungkan dua hal penting: bekerja dan menyadari pengawasan Allah.
Kita diperintahkan untuk beramal, bukan hanya berbicara. Namun, amal itu harus dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah mengetahui apa yang kita kerjakan.
Zulkarnain terus melanjutkan perjalanan. Kita pun harus melanjutkan ikhtiar dalam bidang masing-masing. Jika ada kekurangan, perbaiki. Jika ada kesalahan, bertobatlah. Jika ada tugas yang belum selesai, tunaikan dengan cara yang benar.
3. Berusaha dengan ilmu, bukan sekadar dugaan
Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰۤئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
Ayat ini mengajarkan bahwa perjalanan dan pengambilan keputusan harus disertai kehati-hatian. Kita tidak boleh mengubah dugaan menjadi fakta, apalagi menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Dalam mengkaji kisah Zulkarnain, misalnya, kita harus membedakan antara informasi yang disebutkan Al-Qur’an dan perkiraan geografis yang berasal dari penafsiran. Sikap ilmiah seperti ini merupakan bagian dari amanah terhadap ilmu.
F. Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ
1. Bersemangat mengambil hal yang bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ.
Artinya:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim, no. 2664).⁴
Hadis ini sangat sesuai dengan pelajaran dari QS. Al-Kahf ayat 92.
Ada tiga arahan penting dalam hadis tersebut.
Pertama, احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ — Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat.
Jangan menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi agama dan kehidupan kita. Tentukan tujuan yang baik, kemudian fokuslah pada hal-hal yang membantu mencapainya.
Kedua, وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ — Mohonlah pertolongan kepada Allah.
Usaha manusia tidak berdiri sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Allah, baik untuk memperoleh kemudahan maupun untuk menjaga diri dari kesombongan ketika berhasil.
Ketiga, وَلَا تَعْجَزْ — Jangan merasa lemah.
Jangan menyerah hanya karena menghadapi kesulitan. Evaluasi cara yang digunakan, perbaiki kekurangan, mintalah bantuan yang diperlukan, dan lanjutkan usaha selama jalan yang ditempuh benar.
2. Menempuh jalan untuk mencari ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
Artinya:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).⁵
Hadis ini menggunakan kata salaka ṭarīqan, yaitu menempuh suatu jalan. Makna jalan dalam hadis ini berkaitan dengan usaha mencari ilmu, baik melalui perjalanan fisik maupun proses belajar yang sungguh-sungguh.
Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran. Seseorang perlu membaca, mendengar penjelasan, bertanya kepada orang yang berilmu, mengulang pelajaran, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh.
Bagi guru, hadis ini mengingatkan bahwa proses belajar tidak boleh berhenti. Bagi peserta didik, hadis ini menumbuhkan semangat untuk terus belajar. Bagi orang tua, hadis ini mendorong mereka mendukung pendidikan anak-anaknya.
Tentu saja, hadis tersebut tidak berarti setiap perjalanan otomatis menjadikan seseorang berilmu. Jalan itu harus benar-benar digunakan untuk mencari ilmu yang bermanfaat, disertai niat yang baik dan kesungguhan.
G. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ada orang yang berkata, “Kalau sudah takdir Allah, mengapa kita harus berusaha?” Ada pula yang mengaku bertawakal, tetapi tidak menyiapkan apa pun untuk mencapai tujuannya.
Pemahaman seperti ini perlu diluruskan. Tawakal bukan meninggalkan usaha. Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan sebab-sebab yang dibenarkan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِۗ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya:
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).
Perhatikan urutannya: setelah bermusyawarah dan membulatkan tekad, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk bertawakal.
Artinya, tawakal berjalan bersama ikhtiar, bukan menggantikannya.
Zulkarnain menempuh jalan demi jalan. Kita tidak perlu mengarang rincian yang tidak disebutkan wahyu tentang persiapan perjalanannya. Akan tetapi, rangkaian ayat memperlihatkan bahwa ia terus bergerak menuju tempat berikutnya hingga berjumpa dengan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Demikian pula dalam hidup kita. Jika ingin mendidik anak dengan baik, pelajari cara mendidik yang benar. Jika ingin mengajar dengan baik, persiapkan materi dan evaluasi pembelajaran. Jika ingin menyelesaikan masalah masyarakat, kumpulkan informasi, bermusyawarah, dan bertindak dengan adil.
Setelah ikhtiar yang benar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.
H. Pelajaran kepemimpinan dari perjalanan Zulkarnain
Kisah Zulkarnain tidak berhenti pada perjalanan geografis. Dalam ayat-ayat selanjutnya, ia bertemu suatu kaum yang mengeluhkan kerusakan Ya’juj dan Ma’juj, kemudian meminta bantuannya untuk membangun penghalang.
Dari rangkaian kisah tersebut, kita dapat mengambil sejumlah pelajaran.
1. Pemimpin harus bersedia melanjutkan tugas.
Tanggung jawab tidak selesai hanya karena satu keberhasilan telah dicapai. Pemimpin perlu mengevaluasi keadaan, melihat kebutuhan yang belum terpenuhi, dan melanjutkan pekerjaan yang bermanfaat.
2. Pemimpin harus mendengar kebutuhan masyarakat.
Ketika masyarakat menghadapi persoalan, seorang pemimpin yang baik tidak hanya sibuk dengan kepentingannya sendiri. Ia berusaha memahami masalah dan mencari penyelesaian yang benar.
3. Masalah harus ditangani dengan langkah yang nyata.
Nasihat dan rencana penting, tetapi masalah juga memerlukan tindakan. Dalam kisah berikutnya, Al-Qur’an menggambarkan pembangunan penghalang melalui bahan dan proses yang disebutkan secara jelas.
4. Keberhasilan tidak boleh melahirkan kesombongan.
Setelah suatu pekerjaan berhasil, seorang mukmin tidak lupa bahwa kemampuan dan kesempatan berasal dari Allah. Ia bersyukur, mengevaluasi kekurangan, dan bersiap menunaikan amanah berikutnya.
I. Penerapan dalam kehidupan sehari-hari
Bagi peserta didik: Jangan berhenti belajar hanya karena sudah memahami satu bab. Lanjutkan ke materi berikutnya, perbaiki bagian yang belum dipahami, dan jangan malu bertanya.
Bagi guru: Jangan berhenti mengembangkan kompetensi setelah menyelesaikan satu pelatihan. Evaluasi pembelajaran, perhatikan kebutuhan siswa, dan terus memperbaiki metode mengajar.
Bagi orang tua: Pendidikan anak adalah perjalanan panjang. Ketika anak mengalami kesulitan, jangan langsung menyerah atau melabelinya gagal. Cari penyebabnya, bimbing dengan sabar, dan bekerja sama dengan pihak yang dapat membantu.
Bagi pemimpin: Selesaikan satu tanggung jawab dengan baik, kemudian lanjutkan amanah berikutnya. Jangan hanya membuat rencana; lakukan langkah nyata, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi orang yang sedang menghadapi ujian: Jika satu jalan tidak berhasil, evaluasi dan cari jalan lain yang halal. Jangan langsung menyimpulkan bahwa semua usaha sia-sia. Bisa jadi yang perlu diperbaiki adalah strategi, waktu, atau cara meminta bantuan.
J. Renungan penutup: jangan berhenti di tengah perjalanan
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kehidupan kita juga merupakan perjalanan. Ada tahap belajar, bekerja, membangun keluarga, mendidik anak, membantu masyarakat, dan mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Dalam perjalanan itu, terkadang kita merasa lelah. Terkadang hasil tidak sesuai harapan. Terkadang orang lain tidak memahami perjuangan kita. Namun, seorang mukmin harus terus berusaha dalam jalan yang benar.
Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ:
احْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ.
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.”
Jangan hanya memiliki keinginan; tempuhlah jalannya. Jangan hanya berdoa; lakukan ikhtiar yang benar. Jangan hanya membuat rencana; laksanakan dengan sungguh-sungguh. Dan jangan hanya mengandalkan kemampuan sendiri; mintalah pertolongan Allah.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak mudah menyerah dalam kebaikan, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan.
K. Kesimpulan
Dari QS. Al-Kahf ayat 92, kita dapat mengambil lima pelajaran utama:
- Perjalanan menuju tujuan memerlukan langkah yang berkelanjutan. Selesaikan satu tahap, lalu lanjutkan tanggung jawab berikutnya.
- Tujuan yang baik harus ditempuh melalui jalan yang benar. Cara yang digunakan sama pentingnya dengan hasil yang ingin dicapai.
- Ikhtiar dan tawakal harus berjalan bersama. Berusaha dengan sungguh-sungguh, memohon pertolongan Allah, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya.
- Ilmu harus membimbing tindakan. Jangan mengandalkan dugaan semata; pelajari keadaan dan carilah cara yang tepat.
- Keberhasilan adalah amanah. Gunakan kemampuan dan kesempatan untuk memberi manfaat, bukan untuk menyombongkan diri.
L. Doa penutup
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
Artinya:
“Ya Allah, berilah kami taufik untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridai. Bantulah kami agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عَزِيمَةً فِي الْخَيْرِ، وَصَبْرًا عِنْدَ الْبَلَاءِ، وَإِخْلَاصًا فِي الْعَمَلِ، وَتَوَكُّلًا صَادِقًا عَلَيْكَ.
Artinya:
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami tekad dalam kebaikan, kesabaran ketika menghadapi ujian, keikhlasan dalam beramal, dan tawakal yang tulus kepada-Mu.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Artinya:
“Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Nabi kami Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Catatan kaki dan kitab rujukan
- Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 92. Beliau menjelaskan sababan sebagai jalan dan persinggahan, serta mencantumkan riwayat dari Ibnu Abbas dan Qatadah. Lihat juga penjelasan daring pada Tafsir Ath-Thabari, QS. Al-Kahf: 92.
- Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 92. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Kahf: 92.
- Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 92. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, QS. Al-Kahf: 92.
- Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664 menurut penomoran yang umum digunakan.
- Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb adz-Dzikr wa ad-Du‘ā’ wa at-Taubah wa al-Istighfār, hadis no. 2699 menurut penomoran yang umum digunakan.
Catatan ilmiah: Redaksi ayat Al-Qur’an dan hadis ditampilkan dalam bahasa Arab beserta terjemahan maknanya. Kutipan tafsir dipilih dari penjelasan ulama yang dirujuk; perbedaan edisi dapat memengaruhi nomor halaman dan sebagian redaksi. Untuk penerbitan buku, cocokkan kembali kutipan dengan edisi kitab yang digunakan. Penyebutan Armenia dan Azerbaijan dalam sebagian uraian geografis tidak dinyatakan secara eksplisit dalam ayat ini sehingga tidak diperlakukan sebagai kepastian wahyu.
Post a Comment