BELAJAR MENGAKUI KESALAHAN DAN MENJAGA ADAB DALAM MENUNTUT ILMU

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 76

“BELAJAR MENGAKUI KESALAHAN DAN MENJAGA ADAB DALAM MENUNTUT ILMU”

QS. AL-KAHF AYAT 76

قَالَ اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْ ۚ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا

Artinya:

“Dia (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sungguh, engkau telah cukup memberikan alasan kepadaku.’”

Ayat ini adalah perkataan Nabi Musa عليه السلام setelah beliau kembali melakukan sesuatu yang sebelumnya telah disepakati untuk tidak dilakukan.

Sebelumnya Khidir telah berkata:

قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia berkata, ‘Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?’”

Maka Musa tidak membela diri dengan mengatakan:

“Saya benar!”

Musa tidak berkata:

“Saya seorang nabi, jadi pertanyaan saya pasti benar.”

Musa tidak mencari-cari alasan untuk menyalahkan Khidir.

Justru Musa mengatakan:

“Kalau saya bertanya lagi setelah ini, maka jangan izinkan saya melanjutkan perjalanan bersamamu.”

Di sinilah kita belajar sesuatu yang sangat mahal:

ORANG BESAR BUKAN ORANG YANG TIDAK PERNAH SALAH.

Orang besar adalah orang yang ketika menyadari kesalahannya, ia berani mengakuinya.


I. AYAT INI ADALAH AYAT TENTANG PENYESALAN

Perhatikan perkataan Musa:

اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا

“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini...”

Ada pengakuan di sana.

Seakan-akan Musa berkata:

“Saya sadar. Saya sudah diberi kesempatan. Saya sudah diberi peringatan. Saya sudah berjanji. Tetapi saya kembali bertanya.”

Kemudian Musa melanjutkan:

فَلَا تُصٰحِبْنِيْ

“Jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu.”

Ini menunjukkan bahwa Musa tidak hanya meminta maaf secara lisan.

Beliau juga mengakui konsekuensi dari kesalahannya.

Dan ini pelajaran penting bagi kita.

Kadang-kadang kita mudah mengatakan:

“Maaf.”

Tetapi kita tidak mau menerima konsekuensi.

Kita berkata:

“Maaf, saya salah.”

Tetapi setelah itu:

“Tapi sebenarnya karena dia juga...”

“Tapi sebenarnya saya terpaksa...”

“Tapi sebenarnya keadaan...”

“Tapi sebenarnya saya tidak bermaksud...”

Maka permintaan maaf berubah menjadi pembelaan diri.

Nabi Musa mengajarkan kepada kita:

Mengakui kesalahan tidak harus disertai seribu alasan.


II. “قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا”

Musa berkata:

قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّيْ عُذْرًا

“Engkau telah cukup mendapatkan alasan dariku.”

Maknanya kurang lebih:

“Aku telah memberikan alasan yang cukup kepadamu. Engkau telah cukup memberiku kesempatan dan memaafkanku.”

Ibn Kathir menjelaskan bahwa Musa bermaksud, jika ia kembali menyela atau memprotes setelah kejadian itu, maka Khidir sudah mempunyai alasan yang cukup untuk menghentikan kebersamaan mereka.

Ibn Kathir menyampaikan:

أَيْ: إِنْ اعْتَرَضْتَ عَلَيْكَ بِشَيْءٍ بَعْدَ هَذِهِ الْمَرَّةِ فَلَا تُصَاحِبْنِي

“Yakni, jika aku kembali menyanggahmu setelah kejadian ini, maka jangan lagi aku menyertaimu.”

[Makna ini diringkas dari Tafsir Ibn Kathir.]

Pelajarannya:

Ada saatnya seseorang harus berkata:

“Saya sudah salah.”

Bukan:

“Saya tetap benar karena saya punya alasan.”

Alasan mungkin menjelaskan kesalahan kita.

Tetapi alasan tidak selalu menghapus kesalahan kita.


III. RAHASIA KEINDAHAN AKHLAK NABI MUSA

Ada satu hal yang sangat menarik.

Nabi Musa adalah seorang nabi.

Beliau bukan manusia biasa.

Namun ketika berhadapan dengan sesuatu yang belum beliau pahami, beliau dapat melakukan kesalahan dalam penilaian terhadap apa yang beliau lihat.

Dan ketika diingatkan, beliau tidak berubah menjadi sombong.

Ini sangat penting.

Sebab terkadang semakin tinggi ilmu seseorang, semakin sulit ia mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Padahal ulama dahulu sangat mengenal kalimat:

لَا أَدْرِي

“saya tidak tahu.”

Mengatakan “saya tidak tahu” bukan tanda kebodohan.

Justru sering kali itu tanda kejujuran ilmiah.


IV. NABI MUHAMMAD ﷺ MEMUJI DAN MENYAYANGI NABI MUSA

Rasulullah ﷺ ketika menceritakan kisah ini tidak merendahkan Nabi Musa.

Beliau justru mendoakannya.

Dalam Shahih Muslim, dari Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ مُوسَى، لَوْلَا أَنَّهُ عَجِلَ لَرَأَى الْعَجَبَ، وَلَكِنَّهُ أَخَذَتْهُ مِنْ صَاحِبِهِ ذَمَامَةٌ، فَقَالَ: إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي، قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا، فَلَوْ صَبَرَ لَرَأَى الْعَجَبَ.

“Semoga rahmat Allah tercurah kepada kami dan kepada Musa. Seandainya ia tidak tergesa-gesa, niscaya ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Akan tetapi, ia merasa malu kepada sahabatnya, lalu berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau menyertaiku. Sungguh, engkau telah cukup mempunyai alasan terhadapku.’ Seandainya ia bersabar, niscaya ia akan melihat sesuatu yang menakjubkan.”
(HR. Muslim, no. 2380).

Perhatikan!

Rasulullah ﷺ tidak berkata:

“Musa adalah orang yang buruk.”

Tidak.

Rasulullah ﷺ mengatakan:

رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ مُوسَى

“Semoga rahmat Allah tercurah kepada kami dan kepada Musa.”

Ini mengajarkan kepada kita:

Kesalahan seseorang tidak menghapus seluruh kebaikannya.

Seseorang bisa salah dalam satu perkara, tetapi bukan berarti seluruh dirinya buruk.

Seorang guru bisa salah.

Orang tua bisa salah.

Suami bisa salah.

Istri bisa salah.

Anak bisa salah.

Murid bisa salah.

Bahkan seorang yang sangat berilmu pun bisa salah dalam perkara yang belum diketahuinya.

Maka jangan menjadikan satu kesalahan sebagai alasan untuk menghapus seluruh kebaikan seseorang.


V. APA MAKNA “ذَمَامَةٌ”?

Dalam penjelasan ulama, kata ذَمَامَة berkaitan dengan rasa malu, merasa tidak enak, dan perasaan terbebani karena telah berulang kali melakukan sesuatu yang sebelumnya telah diperingatkan.

Al-Qurtubi menjelaskan bahwa Musa merasa malu karena kembali melakukan keberatan setelah sebelumnya diberi peringatan.

Al-Qurtubi menjelaskan:

كَأَنَّهُ اسْتَحْيَا مِنْ تَكْرَارِ مُخَالَفَتِهِ

“Seakan-akan ia merasa malu karena kembali mengulangi pelanggarannya.”

[Petikan singkat dari penjelasan Al-Qurtubi.]

Maka rasa malu yang benar bukanlah rasa malu yang membuat kita putus asa.

Tetapi rasa malu yang membuat kita berkata:

“Ya Allah, saya salah. Saya ingin memperbaikinya.”


VI. PENYESALAN YANG BENAR MELAHIRKAN PERUBAHAN

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada dua macam penyesalan.

Pertama: penyesalan yang hanya membuat kita sedih.

“Aduh, kenapa saya melakukan itu?”

Kemudian besok diulangi lagi.

Ini belum cukup.

Kedua: penyesalan yang menghasilkan perubahan.

“Saya salah. Saya tidak ingin mengulanginya.”

Inilah penyesalan yang membawa seseorang kepada perbaikan.

Allah berfirman:

وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

“Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka...”

Namun dalam konteks penyesalan, kita juga harus mengingat bahwa Allah membuka pintu taubat.

Allah berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

(QS. Az-Zumar: 53)

Maka jangan berkata:

“Saya sudah terlalu banyak salah, Allah pasti tidak mau mengampuni saya.”

Jangan!

Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat terbuka.


VII. BELAJAR MENGUCAPKAN: “SAYA SALAH”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Salah satu kalimat paling berat bagi manusia adalah:

“Saya salah.”

Karena ego berkata:

“Jangan mengaku!”

Harga diri berkata:

“Cari alasan!”

Setan berkata:

“Balikkan kesalahan itu kepada orang lain!”

Tetapi iman berkata:

“Akuilah kesalahanmu.”

Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa:

QS. AL-BAQARAH AYAT 286

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۚ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan sesuatu yang tidak sanggup kami pikul. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Yang sangat indah, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ketika doa tersebut dibaca, Allah menjawab:

قَدْ فَعَلْتُ

“Sungguh, Aku telah mengabulkannya.”

Riwayat ini terdapat dalam Shahih Muslim dan dijelaskan dalam tafsir Ibn Kathir.

Maka jangan takut mengakui:

“Ya Allah, saya salah.”

Karena Allah bukan mencari hamba yang tidak pernah salah.

Allah menghendaki hamba yang ketika salah kembali kepada-Nya.


VIII. TETAPI JANGAN MENJADIKAN “LUPA” SEBAGAI ALASAN UNTUK SEMUA KESALAHAN

Ada keseimbangan penting.

Ayat ini tidak mengajarkan bahwa setiap kesalahan boleh dibenarkan dengan mengatakan:

“Saya lupa.”

Para ulama membedakan antara lupa yang benar-benar terjadi dan kelalaian yang disengaja.

Ath-Thabari menjelaskan bahwa dalam doa:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

terdapat permohonan agar Allah tidak menghukum atas kesalahan karena lupa atau keliru, tetapi persoalan hukum yang timbul akibat suatu kesalahan dapat berbeda sesuai keadaan.

Al-Qurtubi juga menjelaskan bahwa persoalan akibat hukum dari kesalahan dan lupa memiliki rincian fiqih dan tidak semuanya otomatis gugur.

Maka:

Lupa bukan alasan untuk terus mengulangi.

Kalau lupa, perbaiki.

Kalau salah, minta maaf.

Kalau merugikan orang, kembalikan haknya.

Kalau melukai hati seseorang, obati dengan permintaan maaf dan perubahan.


IX. BELAJAR MEMAAFKAN

Ayat ini juga mengajarkan kita dari sisi lain.

Musa memohon kesempatan.

Dan Khidir memberikan kesempatan sampai batas tertentu.

Allah memuji orang-orang yang mampu memaafkan.

Allah berfirman:

QS. ALI ‘IMRAN AYAT 134

وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

Perhatikan urutannya:

كَظْمُ الْغَيْظِ

Menahan amarah.

Kemudian:

الْعَفْوُ

Memaafkan.

Kemudian:

الْإِحْسَانُ

Berbuat baik.

Ini menunjukkan bahwa akhlak Islam bukan hanya:

“Saya tidak membalas.”

Tetapi bisa naik menjadi:

“Saya memaafkan.”

Bahkan lebih tinggi:

“Saya tetap berbuat baik.”

As-Sa‘di menjelaskan bahwa memaafkan lebih tinggi daripada sekadar menahan amarah, karena memaafkan berarti meninggalkan tuntutan untuk membalas kesalahan orang yang menyakiti kita.


X. JANGAN CEPAT MENGHAKIMI ORANG

Pelajaran terbesar dari perjalanan Musa dan Khidir adalah:

Kita sering hanya melihat permukaan sebuah peristiwa.

Musa melihat:

Perahu dilubangi.

Musa belum mengetahui hikmahnya.

Musa melihat:

Seorang anak dibunuh.

Musa belum mengetahui hikmahnya.

Musa melihat:

Dinding ditegakkan tanpa meminta upah.

Musa belum mengetahui hikmahnya.

Baru pada akhir perjalanan Khidir menjelaskan semuanya.

Ini bukan berarti kita boleh menganggap semua keburukan sebagai sesuatu yang pasti mempunyai “hikmah tersembunyi”.

Tidak!

Ini kisah khusus tentang Musa dan Khidir, dengan ilmu yang Allah berikan kepada Khidir.

Kita tidak boleh menggunakan kisah ini untuk membenarkan:

  • perbuatan haram,
  • kezaliman,
  • penipuan,
  • kekerasan,
  • atau tindakan yang bertentangan dengan syariat,

dengan alasan:

“Mungkin ada hikmah yang tidak kalian ketahui.”

Syariat tetap menjadi pedoman.

Tetapi dalam perkara kehidupan yang belum jelas, kita diajarkan untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.


XI. JANGAN TERGESA-GESA MENILAI SEBELUM MENGETAHUI

Allah berfirman:

QS. AL-HUJURAT AYAT 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

(QS. Al-Hujurat: 6)

Perhatikan kata:

فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Lalu kalian menjadi menyesal atas apa yang telah kalian lakukan.”

Penyesalan sering datang setelah kita berbicara.

Setelah kita menuduh.

Setelah kita menyebarkan berita.

Setelah kita memutus hubungan.

Setelah kita mempermalukan seseorang.

Maka Al-Qur'an mengajarkan:

Tabayyun sebelum penyesalan.


XII. DI ERA MEDIA SOSIAL, AYAT INI SANGAT RELEVAN

Jamaah sekalian,

Dahulu orang tergesa-gesa hanya kepada orang yang ada di hadapannya.

Sekarang?

Satu berita bisa tersebar kepada ribuan orang dalam beberapa detik.

Satu video pendek.

Satu potongan percakapan.

Satu screenshot.

Satu caption.

Lalu kita berkata:

“Dia pasti begini.”

“Dia pasti begitu.”

Padahal kita tidak mengetahui keseluruhan cerita.

Maka sebelum menghakimi, bertanyalah:

“Apakah saya sudah mengetahui semuanya?”

Kalau belum:

Tahan.

Kalau belum jelas:

Tabayyun.

Kalau tidak perlu menyebarkan:

Diam.

Karena terkadang satu menit menahan jempol lebih menyelamatkan daripada satu jam menjelaskan permintaan maaf.


XIII. ADAB MURID KEPADA GURU

Kisah Musa dan Khidir juga merupakan pelajaran pendidikan yang sangat besar.

Musa datang untuk belajar.

Beliau adalah seorang nabi.

Tetapi beliau tetap menjadi seorang murid dalam majelis ilmu itu.

Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh merasa:

“Saya sudah pintar.”

“Saya sudah lama mengajar.”

“Saya sudah tua.”

“Saya sudah punya pengalaman.”

Karena ilmu Allah sangat luas.

Allah berfirman:

QS. YUSUF AYAT 76

وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada yang lebih mengetahui.”

Maka jangan pernah berhenti belajar.

Guru belajar.

Murid belajar.

Orang tua belajar.

Anak belajar.

Ustaz belajar.

Kiai belajar.

Semua hamba Allah tetap membutuhkan ilmu.


XIV. TETAPI ADAB BUKAN BERARTI MENGHILANGKAN PERTANYAAN

Ada satu hal yang harus kita pahami dengan benar.

Kisah Musa dan Khidir bukan berarti murid dilarang bertanya kepada guru.

Justru Al-Qur'an memuji orang yang bertanya kepada ahli ilmu.

Allah berfirman:

QS. AN-NAHL AYAT 43

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Musa bertanya bukan karena sombong.

Beliau bertanya karena ingin memahami.

Masalahnya adalah waktu, keadaan, dan kesepakatan.

Karena itu, adab seorang murid adalah:

  1. Bertanya dengan sopan.
  2. Bertanya karena ingin memahami.
  3. Tidak memotong pembicaraan.
  4. Tidak mempermalukan guru.
  5. Tidak menjadikan pertanyaan sebagai alat untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih pintar.
  6. Bersedia menerima jawaban.
  7. Tetap kritis tetapi santun.

XV. BELAJAR MENERIMA KOREKSI

Musa dikoreksi oleh Khidir.

Dan Musa tidak berkata:

“Kamu siapa berani menegur saya?”

Inilah penyakit manusia zaman sekarang.

Diberi nasihat:

“Tersinggung.”

Dikoreksi:

“Marah.”

Diberi masukan:

“Merasa diremehkan.”

Padahal koreksi bisa menjadi hadiah.

Orang yang selalu dikelilingi oleh orang yang hanya mengatakan:

“Iya.”

“Benar.”

“Bagus.”

“Mantap.”

belum tentu sedang berada dalam lingkungan yang sehat.

Kadang-kadang kita membutuhkan seseorang yang berani mengatakan:

“Asep, ini kurang tepat.”

“Ini perlu diperbaiki.”

“Jangan seperti itu.”

Dan kita harus mampu menjawab:

“Jazakallahu khairan. Saya akan memperbaikinya.”

Itulah kedewasaan.


XVI. TIDAK SEMUA KOREKSI HARUS DITERIMA SECARA BUTA

Namun kita juga harus adil.

Menerima koreksi bukan berarti setiap perkataan orang harus diterima.

Islam mengajarkan kita untuk kembali kepada:

  • Al-Qur'an,
  • Sunnah,
  • ilmu,
  • dalil,
  • dan penjelasan para ulama.

Jika dikoreksi, kita dengarkan.

Kemudian kita timbang.

Jika benar:

Terima.

Jika keliru:

Tolak dengan cara yang baik.

Inilah keseimbangan antara tawaduk dan keteguhan pada kebenaran.


XVII. KISAH INI MENGAJARKAN KITA UNTUK TIDAK MALU MEMINTA KESEMPATAN

Musa berkata:

فَلَا تُصٰحِبْنِيْ

“Jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu.”

Ini sekaligus menunjukkan kesediaan Musa menerima konsekuensi.

Tetapi sebelum benar-benar berpisah, perjalanan masih berlanjut sampai Khidir menjelaskan hikmah tiga peristiwa.

Artinya, kesempatan belajar itu sangat berharga.

Jangan cepat memutus hubungan hanya karena seseorang pernah melakukan kesalahan.

Selama masih ada:

  • kejujuran,
  • penyesalan,
  • kemauan memperbaiki diri,
  • dan kesempatan untuk berubah,

maka berikan ruang untuk perbaikan.

Allah berfirman:

QS. AN-NUR AYAT 22

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْا ۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nur: 22)

Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan Abu Bakr رضي الله عنه untuk memaafkan dan kembali berbuat baik kepada orang yang sebelumnya menyakitinya, seraya mengingat bahwa orang yang ingin mendapatkan ampunan Allah hendaknya juga belajar memaafkan.


XVIII. UNTUK PARA GURU

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bagi para guru, ayat ini memberikan pelajaran luar biasa.

Ketika murid melakukan kesalahan:

Jangan langsung berkata:

“Kamu memang anak nakal.”

Jangan memberi label:

“Kamu bodoh.”

“Kamu tidak akan berhasil.”

“Kamu memang susah diatur.”

Pisahkan antara:

anaknya

dan

kesalahannya.

Katakan:

“Perbuatanmu salah, tetapi kamu masih bisa memperbaikinya.”

Ini jauh lebih mendidik.

Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak takut kepada guru.

Tujuan pendidikan adalah membuat anak mampu memperbaiki dirinya ketika guru tidak lagi berada di sampingnya.


XIX. UNTUK PARA ORANG TUA

Jangan jadikan rumah sebagai tempat anak takut mengakui kesalahan.

Jika setiap anak berkata:

“Ayah, saya salah.”

kemudian ayah langsung marah besar,

maka suatu hari anak tidak akan mengatakan:

“Ayah, saya salah.”

Ia akan belajar:

“Saya harus menyembunyikannya.”

Maka ciptakan rumah yang memungkinkan anak berkata:

“Ayah, saya salah.”

“Ibu, saya salah.”

Kemudian orang tua mengatakan:

“Baik. Sekarang mari kita perbaiki.”

Itulah pendidikan kejujuran.


XX. UNTUK PARA MURID

Wahai anak-anak yang dirahmati Allah,

Kalau guru menegur kalian:

Jangan langsung berpikir:

“Guru tidak suka saya.”

Bisa jadi guru sedang menyelamatkan kalian.

Kalau orang tua menasihati:

Jangan langsung berpikir:

“Orang tua cerewet.”

Bisa jadi mereka sedang melihat sesuatu yang kalian belum lihat.

Kalau teman yang baik mengingatkan:

“Jangan lakukan itu.”

Jangan buru-buru marah.

Bisa jadi Allah mengirimkan nasihat melalui lisan temanmu.

Tetapi tentu, nasihat juga harus diberikan dengan cara yang baik.


XXI. JANGAN MENJADIKAN KESALAHAN SEBAGAI IDENTITAS

Ada perbedaan besar antara:

“Saya melakukan kesalahan.”

dan:

“Saya adalah orang gagal.”

Yang pertama masih membuka pintu perubahan.

Yang kedua menutup pintu perubahan.

Jangan katakan:

“Saya memang begini.”

Tetapi katakan:

“Saya sedang belajar menjadi lebih baik.”

Jangan katakan:

“Saya selalu gagal.”

Tetapi:

“Saya pernah gagal dan saya akan memperbaikinya.”

Jangan katakan:

“Saya tidak bisa.”

Tetapi:

“Saya belum bisa.”

Ini adalah mentalitas seorang mukmin yang terus bertumbuh.


XXII. SABAR BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH SALAH

Hadis Nabi ﷺ:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”

(HR. Bukhari, no. 1469).

Perhatikan:

يَتَصَبَّرْ

Ada usaha untuk bersabar.

Artinya sabar bukan sekadar sifat yang tiba-tiba turun.

Sabar dilatih.

Hari ini kita mudah marah.

Besok belajar menahan diri.

Hari ini mudah membalas.

Besok belajar diam.

Hari ini mudah menghakimi.

Besok belajar tabayyun.

Hari ini sulit menerima kritik.

Besok belajar berkata:

“Terima kasih sudah mengingatkan.”

Itulah latihan kesabaran.


XXIII. JANGAN TAKUT PADA KATA “MAAF”

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada tiga kalimat yang sering sangat berat diucapkan manusia:

1. “Saya salah.”

2. “Saya minta maaf.”

3. “Tolong maafkan saya.”

Tetapi tiga kalimat ini bisa menyelamatkan:

  • rumah tangga,
  • persahabatan,
  • hubungan guru dan murid,
  • hubungan orang tua dan anak,
  • bahkan persaudaraan.

Kadang-kadang masalah besar tidak membutuhkan argumen panjang.

Hanya membutuhkan satu kalimat:

“Saya salah. Maafkan saya.”

Dan orang yang mendengar bisa berkata:

“Saya maafkan.”

Betapa indah Islam!


XXIV. TIGA KESEIMBANGAN DALAM AYAT INI

Dari QS. Al-Kahf ayat 76 kita dapat mengambil tiga keseimbangan.

1. BERTANYA — tetapi jangan tergesa-gesa.

Bertanya adalah bagian dari mencari ilmu.

Tetapi jangan setiap hal yang belum kita pahami langsung kita vonis.


2. MENGAKUI KESALAHAN — tetapi jangan tenggelam dalam rasa bersalah.

Akui.

Perbaiki.

Bertaubat.

Lanjutkan kehidupan.

Jangan menjadikan masa lalu sebagai penjara.


3. MEMAAFKAN — tetapi bukan berarti membenarkan kesalahan.

Memaafkan adalah akhlak.

Tetapi kesalahan tetap harus diperbaiki.

Jika seseorang merusak hak orang lain, maka ia harus memperbaiki kerusakan tersebut.

Jika seseorang menyakiti orang lain, maka ia harus meminta maaf.

Jika seseorang mengambil hak orang lain, maka hak itu harus dikembalikan.

Memaafkan tidak berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.


XXV. PESAN TERBESAR AYAT 76

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikan perjalanan Musa dan Khidir.

Ayat 66:

هَلْ أَتَّبِعُكَ

“Bolehkah aku mengikutimu?”

Ada kerendahan hati.

Ayat 67:

لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Kamu tidak akan mampu bersabar.”

Ada peringatan.

Ayat 69:

سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا

“Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar.”

Ada tekad.

Ayat 70:

فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ

“Jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu.”

Ada kesepakatan.

Ayat 71:

أَخَرَقْتَهَا

Musa bertanya.

Ayat 72:

أَلَمْ أَقُلْ لَكَ

Khidir mengingatkan.

Ayat 73:

لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ

Musa meminta maaf.

Ayat 74:

أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً

Musa kembali bertanya.

Ayat 75:

أَلَمْ أَقُلْ لَّكَ

Khidir mengingatkan lagi.

Ayat 76:

إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي

Musa mengakui bahwa jika ia mengulangi lagi, maka kebersamaan mereka boleh berakhir.

Inilah perjalanan pendidikan.

Ada:

niat → belajar → diuji → salah → ditegur → minta maaf → diberi kesempatan → diuji lagi → belajar dari kesalahan.


XXVI. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudah berapa kali Allah memberi kita kesempatan?

Sudah berapa kali kita berjanji:

“Ya Allah, saya tidak akan mengulanginya.”

Tetapi kita ulangi lagi?

Sudah berapa kali kita berkata:

“Saya akan berubah.”

Tetapi perubahan itu tidak datang?

Sudah berapa kali orang tua mengingatkan?

Sudah berapa kali guru menasihati?

Sudah berapa kali pasangan mengingatkan?

Sudah berapa kali teman mengingatkan?

Dan kita tetap mengulangi hal yang sama?

Maka hari ini jangan hanya berkata:

“Saya menyesal.”

Tetapi katakan:

“Saya akan berubah.”


XXVII. JIKA PERNAH SALAH, JANGAN LARI DARI ALLAH

Jangan karena dosa kita kemudian meninggalkan shalat.

Jangan karena pernah melakukan kesalahan kemudian meninggalkan Al-Qur'an.

Jangan karena merasa tidak pantas kemudian berhenti berdoa.

Justru ketika kita jatuh, kita harus semakin dekat kepada Allah.

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”

(QS. Al-Baqarah: 222)

Allah mencintai:

التَّوَّابِينَ

orang-orang yang banyak kembali kepada-Nya.

Bukan hanya orang yang tidak pernah jatuh.


XXVIII. PENUTUP

Jamaah yang dimuliakan Allah,

QS. Al-Kahf ayat 76 mengajarkan kepada kita sebuah akhlak yang sangat mahal:

BERANI MENGAKUI KESALAHAN.

Nabi Musa mengajarkan:

Jika salah, akui.

Jika lupa, jelaskan.

Jika ditegur, dengarkan.

Jika sudah berjanji, berusahalah menepati.

Jika diberi kesempatan, jangan disia-siakan.

Jika melakukan kesalahan lagi, jangan sombong untuk meminta maaf.

Dan jika seseorang datang meminta maaf kepada kita, jangan merasa terlalu tinggi untuk memaafkan.

Karena kita semua membutuhkan ampunan Allah.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْا ۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka bahwa Allah mengampunimu?”

Maka sebelum kita meminta:

“Ya Allah, ampuni saya.”

Mari belajar mengatakan kepada manusia:

“Maafkan saya.”

Dan ketika ada orang yang meminta maaf:

“Saya maafkan karena saya juga ingin Allah mengampuni saya.”


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَتَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَهَذِّبْ أَخْلَاقَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتُقًى.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, perbaikilah hati kami, perindahlah akhlak kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu, petunjuk, dan ketakwaan.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ إِذَا أَخْطَأُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا نُصِحُوا قَبِلُوا، وَإِذَا قَدَرُوا عَفَوْا، وَإِذَا عَلِمُوا عَمِلُوا.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ketika melakukan kesalahan segera memohon ampun, ketika dinasihati mau menerima, ketika memiliki kemampuan untuk membalas memilih memaafkan, dan ketika telah mengetahui kebenaran segera mengamalkannya.”

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا التَّوَاضُعَ، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ، وَاجْعَلْنَا صَادِقِيْنَ فِي الاِعْتِذَارِ، صَادِقِيْنَ فِي التَّوْبَةِ، صَادِقِيْنَ فِي الْإِصْلَاحِ.

“Ya Allah, ajarkanlah kami kerendahan hati, karuniakanlah kepada kami kesabaran, dan jadikanlah kami orang-orang yang jujur dalam meminta maaf, jujur dalam bertaubat, dan jujur dalam memperbaiki diri.”

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


CATATAN RUJUKAN

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 76. Tafsir Al-Qurtubi menjelaskan makna فَلَا تُصَاحِبْنِي sebagai permintaan Musa agar tidak lagi disertai apabila ia kembali bertanya, sedangkan قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا menunjukkan bahwa Khidir telah mempunyai alasan yang cukup terhadap Musa.

[2] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Kahf: 76. Ibn Kathir menjelaskan bahwa Musa mengakui bahwa jika ia kembali menyanggah setelah kesempatan tersebut, maka Khidir telah mempunyai alasan untuk mengakhiri kebersamaan mereka.

[3] Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 76. Al-Qurtubi juga menghubungkan ذَمَامَة dengan rasa malu/tidak enak karena Musa kembali melakukan keberatan setelah sebelumnya diberi peringatan.

[4] Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 76. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Musa mengatakan setelah kejadian tersebut, jika ia kembali bertanya, maka Khidir boleh meninggalkannya karena alasan terhadap dirinya telah cukup.

[5] Shahih Muslim, Kitab Fadha'il, hadis no. 2380, riwayat Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه mengenai perjalanan Musa dan Khidir. Hadis tersebut memuat sabda Nabi ﷺ: رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَىٰ مُوسَى... dan penjelasan bahwa seandainya Musa bersabar, ia akan menyaksikan lebih banyak perkara menakjubkan.

[6] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah: 286. Ayat ini mengajarkan doa agar Allah tidak menghukum karena lupa atau kesalahan, sekaligus memohon ampun, rahmat, dan pertolongan.

[7] Ath-Thabari dan Al-Qurtubi, tafsir QS. Al-Baqarah: 286. Keduanya menjelaskan adanya rincian antara lupa/keliru dalam aspek dosa dan konsekuensi hukum yang mungkin tetap berbeda menurut keadaan.

[8] Al-Qur'an, QS. Ali 'Imran: 134; lihat Tafsir Ibn Kathir dan As-Sa'di. Ayat memuji orang yang menahan amarah, memaafkan manusia, dan berbuat ihsan.

[9] Al-Qur'an, QS. An-Nur: 22. Ibn Kathir menjelaskan kisah Abu Bakr رضي الله عنه yang memilih memaafkan dan kembali berbuat baik setelah Allah mengingatkannya: أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ.

[10] Shahih al-Bukhari, hadis no. 1469, tentang latihan kesabaran: وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ — “Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar.”

[11] Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat: 6, tentang kewajiban melakukan tabayyun agar tidak bertindak berdasarkan informasi yang belum jelas dan kemudian menyesal.

[12] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah: 222, tentang kecintaan Allah kepada orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.

KESIMPULAN

QS. Al-Kahf ayat 76 mengajarkan:

Jangan malu mengakui kesalahan.
Jangan mencari seribu alasan untuk membela ego.
Jangan tergesa-gesa menghakimi sesuatu yang belum kita pahami.
Jangan sombong ketika dikoreksi.
Jangan pelit memberikan maaf.
Dan jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk berubah.

Karena pada akhirnya, kita semua adalah hamba yang membutuhkan:

عَفْوَ اللَّهِ وَمَغْفِرَتَهُ وَرَحْمَتَهُ

“Maaf, ampunan, dan rahmat Allah.”

Tidak ada komentar