Ketika Kesabaran Diuji: Belajar Menerima Peringatan dan Mengendalikan Diri
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 75
“Ketika Kesabaran Diuji: Belajar Menerima Peringatan dan Mengendalikan Diri”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan melatih hati agar selalu tunduk kepada kebenaran.
Pada kesempatan ini, marilah kita melanjutkan tadabbur kisah Nabi Musa عليه السلام bersama Khidir dalam Surah Al-Kahf.
Kita sampai pada ayat ke-75.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 75
قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Artinya:
“Dia berkata, ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?’”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini sangat pendek.
Hanya beberapa kata.
Tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat besar:
Bagaimana menghadapi peringatan.
Bagaimana menghadapi kegagalan dalam bersabar.
Bagaimana menghadapi sesuatu yang belum kita pahami.
Dan yang paling penting:
Kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan emosi, tetapi kemampuan menahan diri agar tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan sebelum mengetahui hakikat perkara.
1. KITA KEMBALI MELIHAT URUTAN KISAHNYA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebelum sampai kepada ayat 75, Musa sudah membuat kesepakatan dengan Khidir.
Khidir berkata:
فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku menerangkannya kepadamu.”
QS. Al-Kahf: 70.
Musa menyanggupi.
Kemudian terjadi peristiwa pertama.
Khidir melubangi kapal.
Musa berkata:
اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
“Mengapa engkau melubangi kapal itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang besar.”
QS. Al-Kahf: 71.
Khidir mengingatkan:
اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah aku katakan bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
QS. Al-Kahf: 72.
Musa meminta maaf:
لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku.”
QS. Al-Kahf: 73.
Kemudian terjadi peristiwa kedua.
Khidir membunuh seorang anak.
Musa kembali berkata:
اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ ۗ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”
QS. Al-Kahf: 74.
Maka Khidir berkata:
اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”
QS. Al-Kahf: 75.
Perhatikan.
Pada ayat 72:
أَلَمْ أَقُلْ
“Bukankah sudah aku katakan?”
Pada ayat 75:
أَلَمْ أَقُلْ لَكَ
“Bukankah sudah aku katakan kepadamu?”
Ada penekanan.
2. MENGAPA KHIDIR MENGULANGI PERINGATANNYA?
Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
فَأَكَّدَ أَيْضًا فِي التَّذْكَارِ بِالشَّرْطِ الْأَوَّلِ
Artinya:
“Maka Khidir kembali menegaskan dalam mengingatkan Musa tentang syarat yang pertama.”
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Khidir kembali mengingatkan Musa kepada kesepakatan awal yang telah mereka buat.
Jamaah,
Ini pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan.
Peringatan yang diulang tidak selalu berarti kebencian.
Kadang seseorang mengingatkan kita berulang kali karena ia ingin kita selamat.
Guru mengingatkan murid.
Orang tua mengingatkan anak.
Suami mengingatkan istri.
Istri mengingatkan suami.
Teman mengingatkan sahabat.
Kadang kita merasa:
“Kenapa selalu saya yang diingatkan?”
Padahal mungkin justru karena:
orang tersebut masih peduli kepada kita.
3. AL-QURTHUBI: MUSA TIDAK MENGETAHUI HIKMAH DI BALIK PERBUATAN KHIDIR
Imam Al-Qurthubi رحمه الله menjelaskan:
أَيْ إِنَّكَ يَا مُوسَى لَا تُطِيقُ أَنْ تَصْبِرَ عَلَى مَا تَرَى مِنْ عِلْمِي؛ لِأَنَّ الظَّوَاهِرَ الَّتِي هِيَ عِلْمُكَ لَا تُعْطِيهِ، وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا تَرَاهُ خَطَأً وَلَمْ تُخْبَرْ بِوَجْهِ الْحِكْمَةِ فِيهِ؟
Artinya:
“Wahai Musa, engkau tidak mampu bersabar terhadap apa yang engkau lihat dari pengetahuanku, karena hal-hal lahiriah yang menjadi pengetahuanmu tidak menunjukkan hikmah tersebut. Bagaimana engkau akan bersabar terhadap sesuatu yang engkau lihat sebagai kesalahan, sementara engkau belum diberi tahu tentang sisi hikmah dan kebenaran di baliknya?”
Ini sangat dalam.
Musa tidak melihat seluruh informasi.
Musa hanya melihat lahiriah peristiwa.
Khidir mengetahui sesuatu yang belum diketahui Musa.
Maka masalahnya bukan karena Musa tidak memiliki ilmu.
Musa adalah nabi dan memiliki ilmu yang besar.
Masalahnya adalah:
Pengetahuan Musa tentang perkara tersebut belum lengkap.
4. TIDAK MENGETAHUI SELURUH INFORMASI MEMBUAT KITA MUDAH SALAH MENILAI
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ini terjadi setiap hari.
Kita melihat seseorang tidak menyapa.
Kita langsung berkata:
“Dia sombong.”
Padahal mungkin dia sedang mempunyai masalah.
Kita melihat seorang murid tidak mengerjakan tugas.
Kita langsung berkata:
“Dia malas.”
Padahal mungkin ada persoalan yang tidak kita ketahui.
Kita melihat seorang guru mengambil keputusan.
Kita berkata:
“Guru itu tidak adil.”
Padahal kita tidak mengetahui seluruh pertimbangannya.
Kita melihat orang tua melarang sesuatu.
Kita berkata:
“Orang tua tidak mengerti saya.”
Padahal mungkin mereka melihat sesuatu yang belum kita lihat.
Maka ayat ini mengajarkan:
Jangan samakan apa yang kita lihat dengan seluruh kebenaran.
5. TETAPI SABAR BUKAN BERARTI MEMATIKAN AKAL
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada kesalahpahaman yang harus kita luruskan.
Belajar sabar bukan berarti:
“Jangan pernah bertanya.”
Bukan.
Belajar sabar bukan berarti:
“Terima semua tindakan orang lain.”
Bukan.
Belajar sabar bukan berarti:
“Kalau sesuatu tampak salah, kita tidak boleh mengingkarinya.”
Bukan.
Musa sendiri menunjukkan bahwa ia memiliki prinsip.
Ketika melihat pembunuhan, ia bertanya:
أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً
“Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih?”
Jadi:
Sabar bukan berarti kehilangan prinsip.
Sabar adalah kemampuan mengendalikan diri agar kita tidak bertindak melampaui batas.
6. SABAR ADALAH KEKUATAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Baqarah: 153
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Perhatikan.
Allah tidak mengatakan:
“Orang yang sabar adalah orang yang lemah.”
Justru:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Sabar adalah kekuatan.
7. AS-SA'DI: SABAR ITU MENAHAN DIRI
Syaikh As-Sa'di رحمه الله menjelaskan makna sabar:
فَالصَّبْرُ هُوَ: حَبْسُ النَّفْسِ وَكَفُّهَا عَمَّا تَكْرَهُ
Artinya:
“Sabar adalah menahan diri dan mengendalikannya dari sesuatu yang tidak disukainya.”
Beliau kemudian membagi sabar menjadi tiga:
صَبْرُهَا عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ حَتَّى تُؤَدِّيَهَا، وَعَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ حَتَّى تَتْرُكَهَا، وَعَلَى أَقْدَارِ اللَّهِ الْمُؤْلِمَةِ فَلَا تَتَسَخَّطَهَا
Artinya:
“Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah hingga ia menunaikannya; sabar untuk meninggalkan maksiat kepada Allah hingga ia meninggalkannya; dan sabar menghadapi takdir Allah yang menyakitkan tanpa berkeluh kesah terhadapnya.”
Maka sabar bukan hanya:
“Diam ketika mendapat masalah.”
Sabar memiliki dimensi yang luas:
- sabar menjalankan ketaatan;
- sabar meninggalkan dosa;
- sabar menghadapi ujian;
- sabar dalam belajar;
- sabar mendidik anak;
- sabar menghadapi manusia;
- sabar menunggu hasil.
8. RASULULLAH ﷺ: “ORANG YANG BERUSAHA BERSABAR AKAN DIBERI KESABARAN”
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Artinya:
“Barang siapa berusaha untuk bersabar, Allah akan menjadikannya mampu bersabar. Dan tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari no. 1469 dari Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه.
Perhatikan kalimat:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ
“Barang siapa berusaha bersabar.”
Ini berarti sabar bukan hanya sifat bawaan.
Sabar dapat dilatih.
9. KESABARAN TUMBUH DENGAN LATIHAN
Jamaah,
Ada orang berkata:
“Saya memang orangnya tidak sabaran.”
Seolah-olah tidak sabar adalah identitas permanen.
Padahal Nabi ﷺ mengajarkan:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan membuatnya mampu bersabar.”
Maka mulai dari hal kecil.
Ketika marah:
diam sebentar.
Ketika menerima pesan yang membuat emosi:
jangan langsung membalas.
Ketika mendengar berita:
jangan langsung menyebarkan.
Ketika melihat sesuatu:
jangan langsung menuduh.
Ketika mendapat masalah:
ambil wudhu, salat, berdoa, kemudian berpikir.
Itulah latihan sabar.
10. KATA “لَكَ” MENGANDUNG PENEGASAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada keindahan bahasa dalam ayat ini.
Allah tidak hanya mengabadikan:
أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ
Tetapi:
أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ
“Bukankah sudah aku katakan kepadamu...”
Al-Qurthubi dan sejumlah mufasir memperhatikan penambahan لَكَ sebagai bentuk penegasan dan pengkhususan peringatan kepada Musa. Tafsir Al-Wasit juga menjelaskan bahwa kata tersebut menambah penekanan dalam pengingatannya.
Ini menunjukkan:
Peringatan kedua lebih tegas daripada peringatan pertama.
Mengapa?
Karena Musa sudah pernah melakukan kesalahan yang sama dalam hal tidak mampu menahan diri dari bertanya.
11. PERINGATAN PERTAMA BISA MENJADI NASIHAT
Ketika seseorang pertama kali melakukan kesalahan, kita bisa mengatakan:
“Jangan diulangi.”
Dengan lembut.
Tetapi ketika kesalahan yang sama terus berulang, nasihat mungkin perlu lebih tegas.
Bukan karena kita membenci orang tersebut.
Tetapi karena:
peringatan yang tidak pernah diikuti perubahan akan kehilangan makna.
Seorang guru perlu mengetahui kapan:
- menasihati;
- mengingatkan;
- menegur;
- memberikan konsekuensi;
- dan memberi kesempatan kembali.
12. TEGAS TIDAK SAMA DENGAN KASAR
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Khidir berkata:
أَلَمْ أَقُلْ لَكَ
“Bukankah sudah kukatakan kepadamu?”
Kalimat ini tegas.
Tetapi tidak terdapat celaan panjang.
Tidak ada penghinaan.
Tidak ada:
“Kamu memang bodoh.”
“Kamu tidak pernah bisa belajar.”
“Kamu tidak pantas menjadi muridku.”
Ini pelajaran bagi para pendidik.
Tegas boleh. Menghina jangan.
Menegur boleh.
Merendahkan jangan.
Memberi konsekuensi boleh.
Mematikan harapan jangan.
13. SEORANG GURU BUKAN HANYA MENGAJARKAN ILMU, TETAPI JUGA KESABARAN
Jamaah,
Perhatikan hubungan Musa dan Khidir.
Musa datang untuk belajar.
Tetapi pelajaran yang didapat bukan hanya:
“Ini ilmunya.”
Musa juga sedang belajar:
- adab;
- kesabaran;
- keterbatasan pengetahuan;
- menahan diri;
- menerima proses;
- dan memahami bahwa tidak semua ilmu langsung terbuka.
Kadang-kadang seorang murid belajar lebih banyak dari:
cara guru menghadapi kesalahan
daripada dari isi buku yang diajarkan.
14. MURID JUGA HARUS BELAJAR MENERIMA KOREKSI
Jamaah yang dirahmati Allah,
Musa adalah seorang nabi.
Tetapi ketika Khidir mengingatkannya, Musa tidak mengatakan:
“Saya tidak mau dikoreksi.”
Musa justru terus belajar.
Ini adab seorang pencari ilmu.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 9
اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya:
“Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dengan bersujud dan berdiri, karena takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya, sama dengan orang yang tidak demikian? Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Ilmu yang benar seharusnya melahirkan:
kerendahan hati.
15. JANGAN MENJADI ORANG YANG ANTI-KOREKSI
Ada orang yang ingin belajar.
Tetapi hanya mau belajar dari orang yang selalu mengatakan:
“Kamu benar.”
Begitu dikoreksi:
“Tidak!”
Begitu dinasihati:
“Jangan menggurui!”
Begitu diberi dalil:
“Saya punya pendapat sendiri.”
Jamaah,
Kalau kita ingin berkembang, kita harus memiliki keberanian untuk berkata:
“Mungkin saya salah.”
Kalimat itu bukan kelemahan.
Itu tanda kedewasaan intelektual.
16. TETAPI KITA JUGA HARUS MEMBEDAKAN KOREKSI DENGAN PENGHINAAN
Tidak semua orang yang mengkritik kita otomatis benar.
Maka ketika dikoreksi:
dengarkan.
Kemudian:
periksa.
Kemudian:
timbang dengan ilmu.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 18
الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya:
“Yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Jadi sikap seorang mukmin:
tidak anti-kritik, tetapi juga tidak menerima semua kritik tanpa pertimbangan.
17. SABAR TIDAK BOLEH DIPISAHKAN DARI ILMU
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kisah Musa dan Khidir memberikan keseimbangan:
Musa punya ilmu.
Khidir punya ilmu.
Tetapi masing-masing memiliki keterbatasan.
Dalam hadis disebutkan Khidir berkata kepada Musa:
يَا مُوسَى، إِنِّي عَلَىٰ عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ، وَأَنْتَ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ اللَّهُ لَا أَعْلَمُهُ
Artinya:
“Wahai Musa, aku memiliki suatu pengetahuan dari pengetahuan Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki suatu pengetahuan yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Hadis ini terdapat dalam kisah Musa dan Khidir yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Maka:
Jangan sombong dengan ilmu yang kita miliki.
18. ILMU KITA SANGAT SEDIKIT
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Jamaah,
Seorang guru memiliki ilmu.
Seorang ustaz memiliki ilmu.
Seorang profesor memiliki ilmu.
Seorang ulama memiliki ilmu.
Tetapi dibandingkan ilmu Allah:
semuanya sangat sedikit.
Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin rendah hatinya.
19. SABAR DALAM MENGHADAPI HAL YANG BELUM KITA PAHAMI
Ini inti ayat.
Musa melihat:
- kapal dilubangi;
- anak dibunuh.
Musa belum mengetahui hikmahnya.
Maka kesabarannya diuji.
Dalam kehidupan kita juga demikian.
Ada peristiwa yang kita belum mengerti:
“Kenapa saya gagal?”
“Kenapa saya ditolak?”
“Kenapa usaha saya belum berhasil?”
“Kenapa anak saya seperti ini?”
“Kenapa Allah belum mengabulkan doa saya?”
“Kenapa orang yang saya percaya justru mengecewakan?”
Kita tidak selalu mendapatkan jawabannya hari itu.
Tetapi kita belajar:
Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
20. ALLAH MENGETAHUI, KITA TIDAK MENGETAHUI
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 216
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini bukan berarti kita tidak boleh berusaha mencari penjelasan.
Tetapi mengajarkan:
Jangan menganggap pengetahuan kita sempurna.
21. SABAR BUKAN BERARTI PASIF
Jamaah,
Ada orang salah memahami tawakal dan sabar.
“Saya sabar saja.”
Tetapi tidak berusaha.
“Saya tawakal saja.”
Tetapi tidak belajar.
“Saya serahkan kepada Allah.”
Tetapi tidak memperbaiki diri.
Ini bukan sabar yang benar.
Sabar berarti:
tetap melakukan yang benar meskipun sulit.
Maka:
- belajar meskipun sulit;
- mengajar meskipun lelah;
- mendidik meskipun anak belum berubah;
- berdakwah meskipun belum banyak yang mengikuti;
- menjaga salat meskipun sibuk;
- meninggalkan maksiat meskipun hawa nafsu menarik.
Itulah sabar.
22. TABAYYUN ADALAH BENTUK KESABARAN
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurat: 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Mengapa tabayyun membutuhkan kesabaran?
Karena manusia cenderung ingin cepat:
cepat percaya,
cepat marah,
cepat menyimpulkan,
cepat menyebarkan.
Sedangkan Islam mengajarkan:
tahan dulu.
periksa dulu.
dengarkan dulu.
pahami dulu.
Itulah sabar.
23. MEDIA SOSIAL MEMBUTUHKAN SABAR
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini sangat relevan dengan zaman kita.
Hari ini seseorang bisa menerima sebuah pesan hanya dalam beberapa detik.
Kemudian langsung:
forward.
Padahal belum tentu benar.
Kita melihat potongan video.
Langsung mengambil kesimpulan.
Kita membaca judul.
Langsung marah.
Kita melihat komentar.
Langsung ikut menghina.
Padahal mungkin kita hanya melihat:
satu menit dari cerita yang berlangsung berjam-jam.
Maka jadilah Muslim yang sabar:
“Saya belum tahu seluruh ceritanya.”
Kalimat sederhana ini bisa menyelamatkan kita dari banyak dosa.
24. PERINGATAN KEDUA HARUS MEMBUAT KITA BERUBAH
Jamaah,
Musa mendapatkan peringatan kedua.
Ini mengajarkan:
Peringatan bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menghasilkan perubahan.
Kalau seseorang sudah ditegur:
jangan hanya berkata:
“Ya.”
Tetapi berubah.
Kalau guru mengatakan:
“Jangan terlambat.”
Maka usahakan tidak terlambat.
Kalau orang tua mengatakan:
“Jangan bermain HP sampai larut.”
Maka belajar mengendalikan diri.
Kalau Allah berfirman:
“Jangan mendekati zina.”
Maka jangan mencari jalan menuju zina.
Ilmu tanpa perubahan hanya menjadi informasi.
25. MUSA AKAN MENDAPAT PERINGATAN TERAKHIR
Setelah ayat 75, Musa berkata:
QS. Al-Kahf: 76
قَالَ اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِيْ ۖ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا
Artinya:
“Dia (Musa) berkata, ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah engkau memperbolehkanku menyertaimu. Sungguh, engkau telah mendapatkan alasan yang cukup dariku.’”
Ini menunjukkan bahwa Musa sadar:
“Aku sudah diberi peringatan.”
Maka ia menetapkan konsekuensi atas dirinya sendiri.
Ini adalah bentuk tanggung jawab.
26. KESALAHAN TIDAK BOLEH SELALU DIULANGI DENGAN ALASAN YANG SAMA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada perbedaan antara:
sekali salah karena lupa
dan
terus-menerus salah tetapi selalu memakai alasan yang sama.
Musa berkata pada ayat 73:
بِمَا نَسِيتُ
“Karena aku lupa.”
Tetapi pada ayat 75, peristiwanya kembali terjadi.
Maka peringatan menjadi lebih tegas.
Ini mengajarkan kita:
Kalau sudah tahu kesalahan kita, jangan jadikan kesalahan yang sama sebagai kebiasaan.
27. KESABARAN DALAM RUMAH TANGGA
Ayat ini juga sangat relevan dalam keluarga.
Suami kadang perlu sabar menghadapi kekurangan istri.
Istri perlu sabar menghadapi kekurangan suami.
Orang tua perlu sabar mendidik anak.
Anak perlu sabar menghadapi nasihat orang tua.
Tetapi sabar bukan berarti:
membiarkan kezaliman.
Sabar berarti:
mengendalikan diri sambil mencari jalan yang benar.
Kalau ada masalah, bicara.
Kalau ada kesalahan, koreksi.
Kalau ada konflik, musyawarah.
Kalau ada pelanggaran berat, cari penyelesaian yang sesuai syariat dan hukum.
28. KESABARAN SEORANG GURU
Bagi para guru, ayat ini sangat penting.
Kadang seorang guru sudah mengatakan:
“Jangan terlambat.”
Tetapi besok terlambat lagi.
Sudah mengatakan:
“Jangan membawa HP saat pembelajaran.”
Tetapi diulangi lagi.
Sudah menjelaskan:
“Jangan menyontek.”
Tetapi masih terjadi.
Maka guru harus memiliki dua hal:
رحمة — kasih sayang
dan
حزم — ketegasan.
Jangan hanya keras.
Jangan pula hanya lembut.
Pendidikan membutuhkan keduanya.
29. KESABARAN SEORANG PELAJAR
Bagi murid:
Kalau materi belum dipahami:
jangan menyerah.
Kalau nilai belum bagus:
jangan putus asa.
Kalau pernah dimarahi guru:
jangan langsung membenci guru.
Kalau dikoreksi:
ambil yang bermanfaat.
Kalau gagal:
belajar lagi.
Karena:
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan membuatnya mampu bersabar.”
30. KESABARAN DALAM MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran yang panjang.
Ada materi yang baru dipahami setelah berkali-kali dipelajari.
Ada hafalan yang baru melekat setelah diulang puluhan kali.
Ada kitab yang tidak bisa dipahami hanya dengan satu kali membaca.
Ada guru yang memberikan tugas berkali-kali.
Ada kesalahan yang kita ulang.
Jangan berhenti.
Karena ilmu tidak selalu datang dengan cepat.
Allah berfirman:
QS. Thaha: 114
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya:
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
Perhatikan.
Allah tidak mengajarkan Nabi ﷺ berdoa:
“Ya Allah, jadikan aku langsung mengetahui semuanya.”
Tetapi:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah ilmuku.”
Artinya:
ilmu adalah perjalanan.
31. KESABARAN DAN TAWAKAL
Jamaah,
Ketika sesuatu belum kita pahami, jangan langsung berburuk sangka kepada Allah.
Kita berusaha.
Kita mencari ilmu.
Kita bertanya.
Kita tabayyun.
Kemudian kita bertawakal.
Allah berfirman:
QS. At-Talaq: 3
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖ ۚ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
32. JANGAN TERBURU-BURU MEMINTA HASIL
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kadang-kadang kita ingin:
doa hari ini → jawaban hari ini.
belajar hari ini → langsung pintar.
mendidik anak hari ini → langsung berubah.
berdakwah hari ini → langsung banyak pengikut.
Padahal Allah mengajarkan kita melalui banyak proses.
Kisah Musa dan Khidir juga merupakan perjalanan.
Ada:
- kapal;
- anak;
- tembok;
- dan akhirnya penjelasan.
Musa harus melewati proses sebelum mengetahui hikmahnya.
Maka jangan menyerah hanya karena kita belum melihat hasil.
33. JANGAN MENILAI PERJALANAN SEBELUM SAMPAI PADA AKHIRNYA
Jamaah,
Kita sering menilai satu bab kehidupan ketika bukunya belum selesai.
Hari ini kita berkata:
“Ini musibah.”
Bertahun-tahun kemudian baru sadar:
“Allah menyelamatkan saya melalui musibah itu.”
Hari ini:
“Saya kehilangan.”
Beberapa tahun kemudian:
“Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”
Tetapi hati-hati:
Ini bukan berarti setiap penderitaan pasti kita ketahui hikmahnya di dunia.
Sebagian hikmah mungkin tidak pernah kita ketahui sampai akhirat.
Tugas kita:
sabar, beriman, berusaha, dan tetap berada di jalan Allah.
34. PUNCAK PELAJARAN: SABAR TERHADAP SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI
Jamaah yang dirahmati Allah,
Inilah inti QS. Al-Kahf ayat 75.
Khidir berkata:
اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?”
Bukan berarti:
“Musa adalah orang yang buruk.”
Bukan.
Tetapi:
Musa sedang menghadapi sesuatu yang berada di luar informasi yang ia miliki.
Dan itu terjadi kepada kita setiap hari.
Kita juga sering berada dalam posisi Musa.
Kita melihat sebagian.
Allah mengetahui seluruhnya.
Kita mengetahui sebab.
Allah mengetahui akibat.
Kita mengetahui hari ini.
Allah mengetahui hari esok.
Kita melihat pintu tertutup.
Allah mengetahui pintu lain yang akan dibuka.
35. TETAPI KITA TIDAK BOLEH MENGKLAIM MENGETAHUI YANG GAIB
Ini penting.
Jangan berkata:
“Allah pasti menghendaki saya melakukan ini.”
“Allah pasti memberikan hikmah ini.”
“Kejadian ini pasti karena dosa orang itu.”
Tanpa dalil.
Kisah Khidir adalah kisah khusus yang Allah wahyukan kepada kita.
Khidir sendiri pada akhir kisah mengatakan:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
QS. Al-Kahf: 82.
Maka manusia biasa tidak boleh mengklaim memiliki pengetahuan gaib seperti itu.
36. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Ketika dinasihati, apakah saya mau mendengar?
Ketika dikoreksi, apakah saya langsung marah?
Ketika menghadapi sesuatu yang belum saya pahami, apakah saya langsung menuduh?
Ketika mendapat ujian, apakah saya langsung berputus asa?
Ketika doa belum terkabul, apakah saya berburuk sangka kepada Allah?
Ketika belajar sesuatu yang sulit, apakah saya menyerah?
Jika jawabannya “ya”, maka kita perlu belajar dari QS. Al-Kahf ayat 75.
37. LIMA KALIMAT UNTUK MELATIH KESABARAN
Mulai hari ini, mari biasakan lima kalimat:
1.
“Saya belum tahu seluruh ceritanya.”
2.
“Saya perlu tabayyun.”
3.
“Saya tidak harus langsung bereaksi.”
4.
“Saya boleh bertanya dengan adab.”
5.
“Allah mengetahui apa yang belum saya ketahui.”
Lima kalimat ini bisa menyelamatkan kita dari banyak kesalahan.
38. PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 75 bukan sekadar cerita tentang Nabi Musa dan Khidir.
Ini adalah cermin bagi kita.
Berapa kali kita sudah diperingatkan tetapi mengulangi kesalahan?
Berapa kali kita terlalu cepat marah?
Berapa kali kita mengambil kesimpulan sebelum mengetahui seluruh cerita?
Berapa kali kita menolak nasihat hanya karena ego?
Berapa kali kita berkata:
“Saya tahu!”
Padahal sebenarnya kita belum tahu?
Mari belajar dari Musa.
Belajar dari Khidir.
Belajar tentang sabar.
Belajar tentang ilmu.
Belajar tentang adab.
Belajar tentang keterbatasan manusia.
Dan belajar mengatakan:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Maka ketika kita belum memahami sesuatu:
jangan sombong.
Ketika kita dikoreksi:
jangan langsung marah.
Ketika kita diuji:
jangan cepat menyerah.
Ketika kita diberi peringatan:
jangan langsung merasa diserang.
Dan ketika kita belum mengetahui seluruh hikmah:
bersabarlah sambil terus mencari ilmu.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صَبْرًا جَمِيلًا، وَقَلْبًا مُطْمَئِنًّا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا.
“Ya Allah, karuniakan kepada kami kesabaran yang indah, hati yang tenang, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang saleh.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, berikan manfaat kepada kami dari ilmu yang Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَاضِعِينَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sabar, orang-orang yang rendah hati, dan orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya.”
اللَّهُمَّ إِذَا نُصِحْنَا فَافْتَحْ قُلُوبَنَا لِلْحَقِّ، وَإِذَا أَخْطَأْنَا فَارْزُقْنَا شَجَاعَةَ الِاعْتِرَافِ، وَإِذَا ابْتُلِينَا فَارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْيَقِينَ.
“Ya Allah, ketika kami dinasihati, bukakan hati kami untuk menerima kebenaran; ketika kami salah, karuniakan keberanian untuk mengakuinya; dan ketika kami diuji, karuniakan kepada kami kesabaran dan keyakinan.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 75. Ayat ini mengabadikan teguran Khidir kepada Musa setelah peristiwa pembunuhan anak.
[2] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 75. Ath-Thabari menjelaskan bahwa teguran tersebut berkaitan dengan perbuatan Khidir yang belum dipahami Musa secara menyeluruh: “على ما ترى من أفعالي التي لم تحط بها خبرا” — “atas apa yang engkau lihat dari perbuatanku yang belum engkau kuasai pengetahuannya.”
[3] Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 75. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Khidir kembali menegaskan dan mengingatkan Musa tentang syarat pertama yang telah mereka sepakati.
[4] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 75. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Musa sulit bersabar karena melihat tindakan yang menurut pengetahuan lahiriahnya tampak salah, sedangkan ia belum mengetahui sisi hikmah di baliknya.
[5] Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Kahf: 75. As-Sa'di menjelaskan bahwa Khidir mengingatkan Musa kembali tentang ketidakmampuannya bersabar terhadap tindakan Khidir yang belum dapat dipahami Musa secara menyeluruh.
[6] At-Tafsīr al-Wasīṭ, tafsir QS. Al-Kahf: 75. Penambahan kata لَكَ dipahami sebagai bentuk penegasan dan pengkhususan peringatan kepada Musa.
[7] Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 1469, dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه: “وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ” — “Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan membuatnya mampu bersabar; dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
[8] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 153. Allah memerintahkan orang beriman meminta pertolongan dengan sabar dan salat serta menjanjikan kebersamaan-Nya dengan orang-orang yang sabar.
[9] Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Baqarah: 153. As-Sa'di membagi sabar menjadi sabar dalam ketaatan, meninggalkan maksiat, dan menghadapi takdir yang menyakitkan.
[10] Al-Qur'an, QS. Az-Zumar [39]: 9 dan 18. Kedua ayat tersebut menunjukkan kemuliaan ilmu dan sikap orang yang mau mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik.
[11] Al-Qur'an, QS. Al-Isra' [17]: 85: “وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا” — “Kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
[12] Hadis kisah Musa dan Khidir dalam Shahīh al-Bukhārī dan Shahīh Muslim, yang memuat pernyataan Khidir kepada Musa: “إِنِّي عَلَى عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ...” — “Aku memiliki ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui...”
[13] Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 6. Ayat tentang tabayyun dan larangan mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum diverifikasi.
[14] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 216: “وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ” — “Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
[15] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 82. Pada akhir kisah, Khidir berkata: “وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي” — “Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.” Ayat ini menjadi batas penting agar kisah Khidir tidak digunakan sebagai pembenaran bagi seseorang untuk mengklaim pengetahuan gaib atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat.
[16] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 70–76 sebagai konteks keseluruhan. Ayat 75 harus dibaca bersama ayat 70, 72, 73, 74, dan 76 agar teguran Khidir tidak dipahami sebagai teguran yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari kesepakatan belajar antara Musa dan Khidir.
Post a Comment