Goyangkan Pohon Kurma: Ikhtiar, Tawakal, dan Pertolongan Allah di Tengah Kesulitan

Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 25

“Goyangkan Pohon Kurma: Ikhtiar, Tawakal, dan Pertolongan Allah di Tengah Kesulitan”

A. Teks ayat dan terjemahannya

Surah Maryam ayat 25
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۖ
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”
QS. Maryam [19]: 25

Ayat ini merupakan bagian dari kisah Maryam binti Imran ketika menghadapi ujian yang sangat berat. Dalam keadaan lemah setelah melahirkan Nabi Isa ‘alaihissalam, Maryam diperintahkan menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buahnya jatuh dan menjadi rezeki baginya.
Ada pelajaran besar di balik perintah yang tampak sederhana ini: Allah Mahakuasa memberikan pertolongan, tetapi manusia tetap diperintahkan melakukan ikhtiar sesuai kemampuan.

B. Muqaddimah ceramah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan tetap berusaha ketika menghadapi kesulitan.

Pernahkah kita berada dalam keadaan sangat lemah, tetapi tuntutan kehidupan tetap harus dijalani? Pernahkah kita berdoa meminta pertolongan Allah, tetapi jalan keluar belum juga terlihat?
Ada orang yang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang diuji dengan sakit. Ada orang tua yang bersedih memikirkan masa depan anak-anaknya. Ada pula seseorang yang menghadapi persoalan sendirian, sementara orang lain tidak memahami beban yang dipikulnya.
Dalam keadaan seperti itu, kisah Maryam memberikan pelajaran yang sangat mendalam.

Maryam sedang menghadapi ujian besar. Ia baru melahirkan, tubuhnya lemah, dan ia berada dalam situasi yang berat. Allah memberikan ketenteraman dan rezeki kepadanya. Namun, Allah juga memerintahkannya melakukan suatu tindakan:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.”

Mengapa Allah tidak langsung menjatuhkan kurma tanpa menyuruh Maryam menggoyangkan pohon?
Di sinilah kita belajar bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang dengan cara membebaskan kita dari seluruh usaha. Terkadang, pertolongan-Nya datang ketika kita diperintahkan untuk bangkit, bergerak, berusaha, dan melakukan bagian yang sanggup kita lakukan.

Jamaah sekalian, jangan menunggu semua kesulitan hilang baru mulai melangkah. Mulailah melangkah dengan pertolongan Allah, meskipun langkah kita kecil.

C. Tafsir tahlili: Menyelami makna Surah Maryam ayat 25

1. وَهُزِّي — “Dan goyanglah”
Kata وَهُزِّي berasal dari kata هَزَّ yang berarti menggoyangkan atau menggerakkan sesuatu. Bentuk perintah ini ditujukan kepada Maryam agar ia melakukan suatu usaha nyata.

Perhatikan keadaan Maryam. Ia baru melahirkan, sedang menghadapi ujian berat, dan membutuhkan makanan. Dalam keadaan demikian, Allah memerintahkannya melakukan tindakan yang secara manusiawi mungkin terasa berat: menggoyangkan pangkal pohon kurma.

Penjelasan Imam Ath-Thabari
Imam Ath-Thabari menjelaskan makna perintah tersebut dengan ungkapan:
حَرِّكِيهَا
Artinya: “Gerakkanlah pohon itu.”
Ath-Thabari juga meriwayatkan penjelasan dari Ibnu Zaid mengenai frasa tersebut.

Maksudnya, Maryam diperintahkan menggerakkan pangkal pohon kurma supaya buahnya jatuh.¹
Penjelasan ini mengarahkan perhatian kita pada satu hal: Maryam tidak hanya diperintahkan menunggu makanan datang, tetapi juga melakukan tindakan yang diperintahkan kepadanya.
Pelajaran untuk kehidupan
Jamaah rahimakumullah,
Ada orang yang ingin mendapatkan rezeki, tetapi enggan bekerja. Ada yang ingin berhasil dalam pendidikan, tetapi tidak mau belajar. Ada yang ingin rumah tangganya membaik, tetapi tidak mau memperbaiki komunikasi. Ada yang menginginkan perubahan, tetapi terus mengulangi kebiasaan yang sama.
Kisah Maryam mengajarkan bahwa doa dan ikhtiar bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kita berdoa karena Allah adalah sumber pertolongan, dan kita berusaha karena Allah memerintahkan manusia menempuh jalan yang baik.
Namun, ikhtiar bukan berarti kita dapat memaksa hasil sesuai keinginan. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
2. إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ — “Ke arahmu, pada pangkal pohon kurma itu”
Kata جِذْع berarti batang atau pangkal batang pohon, sedangkan النَّخْلَة berarti pohon kurma.
Ayat ini secara khusus menyebut pangkal pohon kurma. Maryam diperintahkan menggerakkannya agar buah kurma jatuh mendekatinya.
Kita dapat membayangkan betapa tidak sederhananya usaha itu bagi seseorang yang baru melahirkan. Akan tetapi, perintah tersebut menjadi bagian dari rangkaian pertolongan Allah kepadanya.

Penjelasan Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi membahas frasa ini dan menjelaskan bahwa perintah menggoyangkan pohon tersebut berkaitan dengan tanda kekuasaan Allah. Beliau menuliskan:
أَمَرَهَا بِهَزِّ الْجِذْعِ الْيَابِسِ لِتَرَى آيَةً أُخْرَى فِي إِحْيَاءِ مَوَاتِ الْجِذْعِ
Artinya: “Allah memerintahkannya menggoyangkan pangkal pohon yang kering agar ia melihat tanda yang lain dalam menghidupkan batang yang mati.”²

Keterangan tentang pohon yang kering disebutkan dalam sebagian riwayat tafsir. Namun, para ahli tafsir juga mencatat pendapat lain mengenai keadaan pohon tersebut. Karena itu, yang pasti berdasarkan ayat Al-Qur’an adalah perintah menggoyangkan pangkal pohon dan turunnya kurma matang; rincian tentang keadaan awal pohon perlu dipahami sebagai keterangan dalam riwayat tafsir, bukan sebagai bunyi eksplisit ayat.
Apa hikmahnya?
Allah sebenarnya Mahakuasa menjatuhkan kurma tanpa usaha Maryam sedikit pun. Namun, Allah menetapkan perintah untuk melakukan suatu usaha.
Jangan mengukur nilai ikhtiar hanya berdasarkan besarnya tenaga yang dikeluarkan. Terkadang seseorang hanya mampu melakukan sedikit, tetapi sedikit itulah usaha terbaik yang bisa dilakukannya pada saat itu.
3. تُسَاقِطْ عَلَيْكِ — “Niscaya akan menggugurkan kepadamu”
Bagian ini menerangkan hasil yang Allah janjikan setelah perintah tersebut dilaksanakan: buah kurma akan berjatuhan kepada Maryam.
Perlu diperhatikan, bukan gerakan Maryam yang memiliki kekuatan mandiri untuk menciptakan buah. Gerakan itu merupakan sebab, sedangkan terjadinya pertolongan dan keluarnya buah berada dalam kekuasaan Allah.
Inilah perbedaan antara mengakui adanya sebab dan menganggap sebab sebagai sesuatu yang berkuasa mutlak.
Kita bekerja untuk memperoleh rezeki, tetapi yang memberi rezeki adalah Allah. Kita berobat ketika sakit, tetapi kesembuhan berada dalam ketetapan Allah. Kita belajar untuk memperoleh ilmu, tetapi kemampuan memahami dan memanfaatkan ilmu merupakan karunia Allah.
Sebab perlu ditempuh, tetapi hati tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada sebab.

4. رُطَبًا جَنِيًّا — “Buah kurma yang masak dan siap dipetik”
Kata رُطَبًا berarti kurma basah atau kurma matang. Adapun جَنِيًّا menunjukkan buah yang telah siap dipetik, segar, dan dapat langsung dinikmati.
Imam Ath-Thabari menjelaskan frasa tersebut:
رُطَبًا غَضًّا جُنِيَ مِنْ سَاعَتِهِ
Artinya: “Kata janniyy berarti buah itu telah baik dan layak dipetik.”²
Perhatikan bahwa Allah tidak sekadar menyebut makanan, tetapi menyebut kurma yang matang dan siap dinikmati. Ini memperlihatkan bentuk rahmat Allah yang sangat dekat dengan kebutuhan Maryam.
Pada ayat berikutnya, Allah memerintahkannya makan, minum, dan menenangkan hati. Dengan demikian, rangkaian ayat 24–26 memperlihatkan pertolongan yang menyentuh kebutuhan fisik sekaligus ketenteraman batin.
Pelajaran penting: pertolongan Allah bisa hadir melalui sesuatu yang sangat dekat dengan kebutuhan kita. Karena itu, jangan sampai kesedihan membuat kita hanya melihat kesulitan, sampai lupa mengenali nikmat dan jalan keluar yang masih tersedia.

D. Dalil Al-Qur’an yang menguatkan pelajaran ayat

1. Manusia diperintahkan berusaha
Allah berfirman dalam Surah An-Najm ayat 39:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Artinya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
QS. An-Najm [53]: 39
Ayat ini menegaskan nilai usaha manusia. Dalam konteks Maryam, perintah menggoyangkan pohon menjadi contoh bahwa usaha merupakan bagian dari perjalanan seorang hamba dalam menghadapi kebutuhan dan ujian.
Ayat ini tidak berarti bahwa semua hasil selalu sebanding secara langsung dengan usaha, atau bahwa setiap orang pasti memperoleh seluruh yang diinginkannya. Hasil tetap berada dalam ketetapan Allah. Namun, seorang muslim tidak menjadikan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Contoh penerapan:
Guru memohon keberkahan dalam mengajar, lalu mempersiapkan materi dan membimbing murid dengan sungguh-sungguh.
Orang tua berdoa agar anak menjadi saleh, lalu mendidik, memberi teladan, dan menjaga komunikasi.
Seseorang memohon kelapangan rezeki, lalu bekerja secara halal, mengembangkan kemampuan, dan menghindari jalan yang dilarang.

2. Bertawakal kepada Allah setelah melakukan ikhtiar

Allah berfirman dalam Surah Ath-Thalaq ayat 3:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”
QS. Ath-Thalaq [65]: 3

Tawakal bukanlah keyakinan bahwa semua keinginan pasti terpenuhi persis seperti yang kita bayangkan. Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah, menempuh sebab yang dibenarkan, dan menerima ketetapan-Nya dengan iman.
Maryam menjalankan perintah yang diberikan kepadanya. Kita pun hendaknya melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

3. Kesulitan tidak menutup kemungkinan datangnya kemudahan

Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Asy-Syarh [94]: 5–6
Allah mengulang kabar tentang kemudahan untuk menguatkan hati manusia. Kesulitan yang sedang kita alami bukan bukti bahwa Allah meninggalkan kita.
Namun, ayat ini tidak menjanjikan bahwa semua persoalan akan selesai seketika atau dengan cara yang kita tentukan sendiri. Kemudahan dapat hadir dalam berbagai bentuk: kekuatan untuk bertahan, pertolongan orang lain, terbukanya jalan penyelesaian, atau pahala dan kebaikan yang baru kita pahami kemudian.

E. Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ

1. Tawakal yang benar tidak menghalangi usaha mencari rezeki
Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Artinya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.”
HR. At-Tirmidzi, no. 2344; dinilai hasan sahih oleh Imam At-Tirmidzi. 

Perhatikan perilaku burung dalam hadis tersebut. Burung tidak tinggal diam di sarangnya sambil menunggu makanan masuk ke dalam paruhnya. Ia keluar pada pagi hari untuk mencari rezeki.
Hadis ini memberikan gambaran yang jelas bahwa tawakal dan usaha dapat berjalan beriringan.
Maryam diperintahkan menggoyangkan pohon. Burung keluar mencari makanan. Keduanya memberi pelajaran bahwa seorang hamba menempuh sebab yang tersedia, sedangkan hatinya bergantung kepada Allah.

Renungan untuk jamaah:
Kalau burung saja keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki, bagaimana mungkin manusia menjadikan tawakal sebagai pembenaran untuk meninggalkan ikhtiar yang mampu ia lakukan?
Tentu saja, kemampuan setiap orang berbeda. Orang yang sedang sakit, lanjut usia, atau memiliki keterbatasan tidak boleh dipaksa melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Pelajaran hadis ini adalah berusaha sesuai kemampuan, bukan memaksakan diri hingga membahayakan diri sendiri.
2. Bersemangat melakukan hal yang bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
Artinya: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.”
HR. Muslim, no. 2664.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ — bersemangatlah melakukan sesuatu yang bermanfaat.
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ — mintalah pertolongan kepada Allah, jangan merasa bahwa kemampuan diri adalah satu-satunya penentu.
وَلَا تَعْجِزْ — jangan menyerah pada kelemahan dengan meninggalkan usaha yang masih bisa dilakukan.
Hadis ini sangat selaras dengan pelajaran dari Maryam ayat 25. Kita berusaha, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah selama masih ada jalan yang baik dan dibenarkan.

F. Ulasan para ulama tafsir secara mendalam
1. Imam Ath-Thabari: perintah melakukan usaha
Imam Ath-Thabari, dalam Jāmi‘ al-Bayān, menjelaskan makna perintah menggoyangkan pangkal pohon. Beliau juga menghimpun beberapa riwayat mengenai keadaan pohon kurma dan cara memahami bacaan ayat tersebut.⁴
Di antara penjelasan yang beliau nukil adalah:
كَانَ جِذْعًا يَابِسًا، فَقَالَ لَهَا: هُزِّيهِ
Artinya: “Batang itu dahulu merupakan batang yang kering, lalu dikatakan kepadanya: goyangkanlah.”

Riwayat tersebut dinisbatkan kepada Ibnu Abbas melalui jalur periwayatan yang dicantumkan Ath-Thabari. Perlu dibedakan antara ayat Al-Qur’an dan riwayat penjelasannya: ayatnya memastikan perintah menggoyangkan pohon dan turunnya kurma matang, sementara rincian tentang pohon yang kering merupakan keterangan tafsir yang dinukil.
Pelajaran: jangan memperlakukan semua rincian kisah dalam riwayat tafsir seolah-olah seluruhnya dinyatakan secara eksplisit oleh Al-Qur’an. Sikap ilmiah menuntut kita membedakan teks wahyu, hadis yang sahih, dan riwayat tafsir.

2. Ibnu Katsir: rahmat Allah melalui makanan dan minuman
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan karunia kepada Maryam berupa makanan dan minuman setelah melahirkan. Dalam tafsir ayat ini, beliau menyebutkan beberapa pendapat mengenai keadaan pohon kurma. Beliau menulis:
وَالظَّاهِرُ أَنَّهَا كَانَتْ شَجَرَةً، وَلَكِنْ لَمْ تَكُنْ فِي إِبَّانِ ثَمَرِهَا
Artinya: “Yang tampak, pohon itu memang sebuah pohon, tetapi belum berada pada musim berbuahnya.”⁵
Penjelasan ini mengarahkan perhatian kepada karunia Allah yang datang kepada Maryam dalam keadaan sangat membutuhkan.
Kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Namun, kita tidak boleh menetapkan bentuk pertolongan yang harus datang. Ada kalanya pertolongan berupa rezeki, dukungan keluarga, ilmu untuk menyelesaikan masalah, atau keteguhan hati untuk melewati masa sulit.

3. Imam Al-Qurthubi: kekuasaan Allah dan makna buah yang siap dipetik

Al-Qurthubi menerangkan bahwa kata جَنِيًّا berhubungan dengan buah yang telah matang dan layak dipetik. Beliau juga membahas beberapa variasi bacaan dalam frasa تُسَاقِطْ عَلَيْكِ.²
Ulasan ini menunjukkan bahwa para ulama bukan hanya menerangkan pesan moral ayat, melainkan juga memperhatikan bahasa Arab, struktur kalimat, dan ragam bacaan Al-Qur’an.
Dari sini kita memahami bahwa makanan yang diberikan kepada Maryam bukan sekadar lambang pertolongan. Dalam kisah tersebut, makanan merupakan rezeki nyata yang dibutuhkan oleh tubuhnya.
Pelajaran: spiritualitas Islam tidak mengabaikan kebutuhan fisik manusia. Ibadah, doa, dan tawakal berjalan bersama pemenuhan kebutuhan dasar dengan cara yang halal dan baik.

4. Imam Al-Baghawi: makna perintah dan buah yang matang
Imam Al-Baghawi menerangkan:
حَرِّكِي بِجِذْعِ النَّخْلَةِ
Artinya: “Gerakkanlah pangkal pohon kurma itu.”
Beliau menjelaskan bahwa رُطَبًا جَنِيًّا bermakna kurma yang telah matang dan siap dipetik.⁶

Penjelasan ini memperkuat makna langsung ayat: ada perintah untuk bergerak, kemudian ada buah matang yang jatuh sebagai rezeki.

Kita tidak boleh mengubah kisah ini menjadi janji bahwa setiap usaha manusia akan selalu menghasilkan buah duniawi secara langsung. Al-Qur’an mengajarkan kekuasaan dan rahmat Allah, bukan rumus mekanis bahwa satu tindakan tertentu pasti menghasilkan keuntungan tertentu bagi setiap orang.

G. Lima pelajaran utama untuk kehidupan sehari-hari

1. Ikhtiar dimulai dari kemampuan yang ada
Maryam diperintahkan melakukan tindakan nyata. Kita pun memulai dari langkah yang mungkin dilakukan: menyusun rencana, meminta nasihat, belajar keterampilan, atau menyelesaikan satu masalah terlebih dahulu.
2. Tawakal berarti menyandarkan hati kepada Allah
Usaha bukan jaminan mutlak keberhasilan. Kita melakukan yang terbaik, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa kehilangan harapan.
3. Jangan meremehkan langkah kecil
Menggerakkan pangkal pohon merupakan usaha yang diperintahkan kepada Maryam. Dalam hidup kita, satu panggilan, satu halaman yang dipelajari, satu permintaan maaf, atau satu pekerjaan halal dapat menjadi awal perubahan.
4. Syukuri rezeki yang nyata
Kurma matang menjadi rezeki bagi Maryam. Kita hendaknya belajar menghargai makanan, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan pertolongan kecil yang sering luput dari perhatian.
5. Kesulitan tidak berarti ditinggalkan Allah
Maryam menghadapi keadaan yang berat, tetapi kisahnya juga memuat pertolongan Allah. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik ujian, tetapi kita dapat terus berdoa, berusaha, dan mencari pertolongan yang tepat.

H. Naskah inti ceramah siap disampaikan

Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita kembali merenungkan firman Allah:
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika ujian datang, kita tidak cukup hanya bertanya, “Mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang masih dapat aku lakukan dengan pertolongan Allah?”
Bisa jadi kita tidak mampu menyelesaikan semua masalah hari ini. Akan tetapi, kita masih dapat memperbaiki satu kebiasaan, menghubungi seseorang untuk meminta nasihat, mengerjakan tanggung jawab yang tertunda, atau memperbanyak doa dengan hati yang jujur.
Jangan meremehkan usaha kecil yang dilakukan dengan niat baik.

Seorang ayah yang tetap bekerja secara halal demi keluarganya sedang melakukan ikhtiar. Seorang ibu yang mendidik anak dengan sabar sedang melakukan ikhtiar. Seorang guru yang terus membimbing murid meskipun menghadapi banyak kesulitan sedang melakukan ikhtiar. Seorang pelajar yang kembali membuka buku setelah mengalami kegagalan sedang melakukan ikhtiar.
Kita tidak boleh memastikan bahwa semua usaha tersebut akan langsung menghasilkan apa yang kita inginkan. Namun, kita percaya bahwa usaha yang benar, disertai doa dan tawakal, tidak sia-sia di sisi Allah.

Jamaah sekalian,
Jangan sampai kita terjebak dalam dua sikap yang keliru.
Pertama, hanya mengandalkan kemampuan diri, seolah-olah keberhasilan sepenuhnya berada dalam kendali kita. Sikap ini dapat melahirkan kesombongan ketika berhasil dan keputusasaan ketika gagal.
Kedua, meninggalkan usaha dengan alasan bertawakal. Sikap ini mengabaikan tuntunan untuk menempuh sebab yang baik.
Jalan seorang mukmin adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, memohon pertolongan Allah, lalu menerima hasil dengan hati yang berserah diri.
Ketika rezeki datang, bersyukurlah. Ketika jalan keluar belum terlihat, teruslah berdoa dan mencari cara yang halal. Ketika kita tidak sanggup mengerjakan sesuatu sendirian, mintalah bantuan orang yang dapat dipercaya. Dan ketika ujian terasa sangat berat, jangan malu mencari dukungan yang tepat.
Semoga kisah Maryam membuat kita lebih kuat menjalani kehidupan: bukan karena kita merasa mampu mengatasi semuanya sendirian, melainkan karena kita mengetahui kepada siapa kita memohon pertolongan.

I. Penutup dan doa

Hadirin rahimakumullah,
Surah Maryam ayat 25 mengajarkan tiga hal yang tidak boleh kita pisahkan: ikhtiar, tawakal, dan syukur.
Ikhtiar menggerakkan kita untuk melakukan yang terbaik. Tawakal menjaga hati agar tidak bergantung secara mutlak kepada kemampuan diri. Syukur menolong kita mengenali nikmat Allah, baik ketika hidup terasa lapang maupun ketika ujian belum selesai.
Semoga kita tidak menjadi orang yang hanya pandai berharap tanpa berusaha, dan tidak pula menjadi orang yang hanya berusaha tetapi melupakan Allah.
اللَّهُمَّ يَا رَبَّنَا، قَوِّ إِيمَانَنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِك
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَيَسِّرْ لَنَا أُمُورَنَا، وَفَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا.
اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ، وَالسَّاعِينَ فِي الْخَيْرِ، وَالشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

J. Catatan kaki dan daftar rujukan
Nomor halaman kitab klasik dapat berbeda menurut penerbit, tahqiq, dan edisi. Untuk menghindari nomor halaman yang tidak terverifikasi, rujukan di bawah mencantumkan kitab dan lokasi surah/ayat atau nomor hadis yang dapat ditelusuri.
1. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam [19]: 25. Teks tafsir dapat ditelusuri melalui Tafsir Ath-Thabari, Maryam 25⁠.
2. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam [19]: 25. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, Maryam 25⁠. 
3. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, penjelasan frasa رُطَبًا جَنِيًّا dalam tafsir Surah Maryam [19]: 25. 
4. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir Surah Maryam [19]: 25, termasuk riwayat mengenai keadaan pohon dan penjelasan bahasa ayat. 
5. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam [19]: 25. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Maryam 25⁠. 
6. Al-Baghawi, Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir Surah Maryam [19]: 25. Lihat Tafsir Al-Baghawi, Maryam 25⁠. 
7. Al-Qur’an, Surah An-Najm [53]: 39; Ath-Thalaq [65]: 3; Asy-Syarh [94]: 5–6.
8. At-Tirmidzi, Al-Jāmi‘, Kitāb al-Zuhd, bab tentang tawakal kepada Allah, hadis no. 2344. Lihat Jami‘ At-Tirmidzi 2344⁠. 
9. Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664, tentang bersemangat pada hal yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, dan tidak menyerah.

Tidak ada komentar