Jangan Bersedih: Ketika Pertolongan Allah Datang di Tengah Kesulitan
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
SURAH MARYAM AYAT 24
“Jangan Bersedih: Ketika Pertolongan Allah Datang di Tengah Kesulitan”
A. Teks Ayat dan Terjemahan
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا
Artinya: “Maka dia (Jibril atau Isa, menurut perbedaan penafsiran ulama) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.’” (QS. Maryam [19]: 24).
Ayat ini merupakan kelanjutan kisah Maryam ketika menghadapi persalinan dalam kesendirian dan kesedihan. Pada ayat ke-24, datang seruan yang menenangkan: “Janganlah engkau bersedih.” Pesan utamanya: kesulitan yang sedang dialami tidak selalu menjadi akhir cerita; pertolongan Allah dapat datang melalui ketenangan, petunjuk, kemudahan, dan sebab-sebab nyata.
B. Muqaddimah Ceramah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabatnya.”
Hadirin yang dirahmati Allah, ada saat ketika seseorang merasa bahwa masalah hidupnya terlalu berat. Ia sudah berusaha, tetapi jalan keluar belum tampak. Ia sudah berdoa, tetapi hatinya masih gelisah. Ia ingin kuat, tetapi air matanya terus mengalir.
Dalam keadaan seperti itu, terkadang yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang atau celaan, melainkan kalimat yang menguatkan: “Jangan bersedih. Engkau tidak sendirian. Pertolongan Allah tetap ada.” Kalimat ini mengingatkan kita kepada Maryam. Ia menghadapi rasa sakit persalinan, kesendirian, dan kecemasan tentang penilaian masyarakat. Di tengah keadaan itu, datang seruan: أَلَّا تَحْزَنِي — “Janganlah engkau bersedih.”
C. Tafsir Tahlili: Penjelasan Setiap Bagian Ayat
1. فَنَادَاهَا — “Maka dia berseru kepadanya”
Para ulama berbeda pendapat tentang sosok yang menyeru Maryam. Pendapat pertama menyebut Malaikat Jibril, yang menyampaikan penghiburan dan kabar pertolongan dari Allah. Pendapat kedua menyebut Nabi Isa عليه السلام, yang ketika itu telah dilahirkan dan berbicara dengan izin Allah. Ath-Thabari memilih pendapat bahwa yang menyeru adalah Isa, sedangkan sejumlah ulama lain menafsirkan bahwa yang menyeru adalah Jibril.
Apa pun pendapat yang diikuti, pesan yang jelas ialah bahwa Allah memberikan penghiburan kepada Maryam pada saat ia mengalami kesulitan. Pertolongan Allah kadang hadir melalui kabar yang menenangkan hati, seseorang yang memberikan dukungan, atau petunjuk tentang langkah selanjutnya.
2. مِنْ تَحْتِهَا — “Dari tempat yang rendah”
Frasa ini dipahami sebagai keterangan tempat: suara itu datang dari bawah atau dari tempat yang lebih rendah daripada posisi Maryam. Berdasarkan perbedaan penafsiran tentang siapa yang menyeru, maknanya juga dapat dikaitkan dengan Isa yang berada di bawah Maryam setelah dilahirkan. Al-Baghawi menyebutkan kedua pendapat tersebut.
Kita tidak perlu memastikan rincian geografis yang tidak diterangkan secara tegas oleh Al-Qur’an. Pelajarannya: Allah mengetahui keadaan hamba-Nya, bahkan ketika tidak ada manusia yang menyaksikan penderitaannya.
3. أَلَّا تَحْزَنِي — “Janganlah engkau bersedih”
Kata taḥzanī berasal dari kata yang bermakna bersedih. Larangan bersedih dalam konteks ini merupakan penguatan bagi Maryam agar tidak larut dalam kecemasan dan kehilangan harapan. As-Sa‘di menjelaskan bahwa seruan tersebut menenangkan kegelisahan Maryam dan meneguhkan hatinya.
Islam tidak mengajarkan bahwa orang beriman tidak boleh menangis. Kesedihan adalah bagian dari pengalaman manusia. Yang perlu dijaga ialah agar kesedihan tidak memutus hubungan dengan Allah, tidak mendorong tindakan yang membahayakan diri, dan tidak membuat seseorang menutup diri dari pertolongan yang baik.
4. قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا — “Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu”
Kata sariyyā ditafsirkan oleh banyak ulama sebagai anak sungai atau aliran air kecil. Ath-Thabari memilih makna aliran air kecil; Ibnu Katsir mencatat pendapat serupa. Ada pula pendapat lain: sebagian ulama memahami sariyyā sebagai Isa sendiri, dengan makna seorang yang mulia atau terhormat. Al-Qurthubi membahas kedua kemungkinan tersebut.
Pesan utamanya: pertolongan Allah bukan hanya berupa kata-kata yang menguatkan hati, tetapi juga dapat berupa pemenuhan kebutuhan konkret. Tawakal dan ikhtiar tidak bertentangan: berdoa kepada Allah sekaligus mencari bantuan, berobat, dan mengambil langkah yang memungkinkan.
D. Dalil Al-Qur’an yang Menguatkan Pesan Ayat
1. Nabi Ya‘qub mengadukan kesedihan kepada Allah
قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dia (Ya‘qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf [12]: 86).
Ayat ini menunjukkan bahwa mengadukan kesedihan kepada Allah bukan tanda kelemahan iman. Nabi Ya‘qub menyampaikan dukanya, tetapi tetap menjaga harapan kepada Allah. Kita boleh berdoa, menangis, dan menceritakan kesulitan kepada orang yang dipercaya.
2. Pertolongan Allah datang bersama kesulitan
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarḥ [94]: 5–6).
Ayat ini menanamkan harapan. Kemudahan tidak selalu berarti masalah selesai seketika; ia bisa hadir melalui jalan keluar, keteguhan hati, bantuan orang lain, atau kemampuan menjalani ujian dengan lebih baik.
3. Meminta pertolongan dengan sabar dan salat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar ialah menjaga diri tetap dalam ketaatan, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan yang merusak, dan terus menempuh jalan yang benar meskipun prosesnya berat.
4. Allah tidak meninggalkan Nabi Muhammad ﷺ
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak pula membencimu. Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.” (QS. Aḍ-Ḍuḥā [93]: 3–4).
Ayat ini berbicara langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ. Pelajaran umumnya: jangan menganggap masa sulit sebagai bukti bahwa Allah telah meninggalkan kita. Teruslah berdoa, memperbaiki ikhtiar, dan memohon petunjuk-Nya.
E. Dalil Sunnah Nabi ﷺ
1. Doa berlindung dari kegelisahan dan kesedihan
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari lilitan utang dan tekanan orang lain.”
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ad-Da‘awāt, hadis no. 6369 dalam penomoran yang umum digunakan.[1]
Hadis ini relevan dengan pesan “jangan bersedih”. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar dilindungi dari kegelisahan dan kesedihan. Doa merupakan ikhtiar, tetapi bukan pengganti usaha: masalah utang, kesehatan, keluarga, atau pekerjaan juga perlu ditangani dengan langkah yang sesuai.
2. Kesusahan seorang Muslim tidak sia-sia
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, atau dukacita—bahkan duri yang menusuknya—melainkan Allah menghapus sebagian kesalahan-kesalahannya karenanya.”
Sumber: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 5641–5642; Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2573.[2]
Hadis ini memberi harapan bahwa penderitaan tidak harus sia-sia di sisi Allah. Namun, ia tidak berarti kita harus membiarkan penderitaan tanpa mencari solusi. Berobat, meminta bantuan, dan melindungi diri dari bahaya tetap merupakan ikhtiar penting.
3. Bersungguh-sungguh, meminta pertolongan Allah, dan tidak lemah
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
Artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
Sumber: Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664.[3]
Hadis ini tepat untuk menjelaskan hubungan tawakal dan ikhtiar. Kita memohon pertolongan Allah, mengerjakan hal yang bermanfaat, dan tidak menyerah ketika menghadapi hambatan.
F. Ulasan Para Ulama Tafsir Klasik
1. Imam Ath-Thabari
وَأَوْلَى الْقَوْلَيْنِ عِنْدَنَا بِالصَّوَابِ قَوْلُ مَنْ قَالَ: عُنِيَ بِهِ الْجَدْوَلُ
Terjemahan makna: “Pendapat yang lebih tepat menurut kami adalah pendapat yang memaknainya sebagai aliran sungai kecil.”
Ath-Thabari mencatat perbedaan pendapat tentang siapa yang menyeru Maryam. Dalam pembahasan sariyyā, beliau memilih makna aliran air kecil. Kehadiran air dipahami sebagai bagian dari pertolongan Allah kepada Maryam.
Rujukan: Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 24.[4]
2. Ibnu Katsir
السَّرِيُّ: النَّهْرُ
Terjemahan: “As-sariyy adalah sungai.”
Ibnu Katsir mencatat pendapat bahwa sariyyā adalah sungai, serta perbedaan pendapat mengenai sosok yang menyeru Maryam. Pelajaran pentingnya: pertolongan Allah hadir dalam kisah ini melalui penghiburan dan kebutuhan yang nyata.
Rujukan: Ismail ibn Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 24.[5]
3. Al-Baghawi
وَالسَّرِيُّ: النَّهْرُ الصَّغِيرُ
Terjemahan: “As-sariyy adalah sungai kecil.”
Al-Baghawi menyebut dua pendapat tentang siapa yang menyeru Maryam dan menjelaskan sariyy sebagai sungai kecil. Rincian tambahan tentang bagaimana air muncul harus diperlakukan sebagai riwayat tafsir, bukan seluruhnya sebagai keterangan eksplisit Al-Qur’an.
Rujukan: Al-Husain ibn Mas‘ud Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Maryam [19]: 24.[6]
4. Imam Al-Qurthubi
أَلَّا تَحْزَنِي تَفْسِيرُ النِّدَاءِ
Terjemahan: “Frasa ‘janganlah engkau bersedih’ merupakan penjelasan tentang isi seruan tersebut.”
Al-Qurthubi menerangkan bahwa inti seruan kepada Maryam adalah penghiburan. Ia juga membahas dua pemaknaan sariyyā: anak sungai dan Isa sebagai sosok yang mulia. Ketika seseorang mengalami masalah, kita perlu menguatkan dan membantu, bukan menambah beban.
Rujukan: Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 24.[7]
5. Syaikh As-Sa‘di
سَكَنَ الْمَلَكُ رَوْعَهَا وَثَبَّتَ جَأْشَهَا
Terjemahan makna: “Malaikat menenangkan kegelisahannya dan meneguhkan hatinya.”
As-Sa‘di menonjolkan aspek penghiburan: Maryam membutuhkan bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi juga ketenteraman hati. Pertolongan dapat berupa kebutuhan fisik yang terpenuhi, ketakutan yang berkurang, pikiran yang lebih jernih, dan kemampuan untuk melanjutkan langkah.
Rujukan: Abdurrahman ibn Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Maryam [19]: 24.[8]
G. Hubungan Ayat 24 dengan Ayat 25–26
QS. Maryam [19]: 25
وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
Artinya: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah menerima penghiburan dan kabar adanya air, Maryam juga diperintahkan melakukan tindakan. Tawakal bukan berdiam diri tanpa usaha; kita berdoa dan mengambil langkah yang mampu dilakukan.
QS. Maryam [19]: 26
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا
Artinya: “Maka makan, minum, dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’”
Rangkaian ayat memperlihatkan penghiburan, petunjuk untuk mengambil makanan, dan perintah untuk makan serta minum. Ketika menghadapi masalah, seseorang mungkin membutuhkan dukungan emosional, bantuan praktis, dan waktu untuk memulihkan kekuatan.
H. Naskah Ceramah Siap Disampaikan
Hadirin yang dimuliakan Allah, marilah kita merenungkan satu kalimat yang sangat pendek, tetapi mengandung penghiburan yang dalam. Allah mengisahkan keadaan Maryam ketika ia sedang menghadapi persalinan dan kesedihan yang berat. Kemudian terdengarlah seruan: أَلَّا تَحْزَنِي — “Janganlah engkau bersedih.”
Bayangkan keadaan Maryam pada saat itu. Ia sedang mengalami rasa sakit, berada jauh dari keluarganya, dan menghadapi kecemasan tentang bagaimana masyarakat akan memandang dirinya. Ia membutuhkan ketenangan, pertolongan, dan kekuatan untuk menghadapi apa yang akan terjadi berikutnya.
Hadirin, dari kisah ini kita belajar bahwa kesedihan bukanlah sesuatu yang hanya dialami oleh orang yang jauh dari Allah. Maryam adalah perempuan pilihan yang dimuliakan Allah, tetapi ia tetap mengalami kesulitan. Jangan menganggap seseorang tidak beriman hanya karena ia menangis atau mengakui bahwa hidupnya sedang berat.
Orang yang kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Orang yang sabar bukan berarti tidak pernah merasa lelah. Orang yang bertawakal bukan berarti tidak membutuhkan bantuan. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi kesedihan itu: tetap memohon pertolongan Allah, menempuh jalan yang baik, dan tidak menutup pintu bagi bantuan yang bermanfaat.
Allah menyampaikan bahwa di bawah Maryam telah disediakan sariyyā, yang dipahami banyak ulama sebagai aliran air kecil. Allah bukan hanya memberikan kalimat penghiburan, tetapi juga menunjukkan pertolongan yang nyata. Bagi orang yang baru saja menjalani persalinan, air adalah kebutuhan penting. Allah mengetahui kebutuhan hamba-Nya.
Dari sini kita belajar bahwa rahmat Allah dapat hadir melalui banyak jalan. Ada yang mendapatkan jalan keluar dari masalah ekonomi. Ada yang memperoleh pertolongan dari sahabat. Ada yang menemukan pengobatan yang tepat. Ada yang memperoleh kekuatan setelah sekian lama merasa putus asa. Kita tidak selalu mengetahui bagaimana pertolongan itu akan datang, tetapi kita tetap diperintahkan untuk berharap dan berikhtiar.
Maryam kemudian diperintahkan menggoyang pangkal pohon kurma. Ini menjadi pelajaran bahwa tawakal tidak sama dengan berdiam diri tanpa usaha. Kita memohon kepada Allah, lalu mengambil langkah yang mampu kita lakukan. Jika sakit, berobatlah. Jika ada masalah keluarga, carilah jalan penyelesaian yang baik. Jika beban terasa terlalu berat, mintalah bantuan orang yang dapat dipercaya.
Hadirin yang dirahmati Allah, kita juga perlu belajar menjadi orang yang menguatkan, bukan orang yang menambah beban. Ketika ada saudara yang sedang bersedih, jangan terburu-buru menyalahkannya. Ketika ada anak yang sedang takut, jangan langsung meremehkan perasaannya. Ketika ada teman yang sedang menghadapi kesulitan, jangan hanya berkata, “Sabar saja,” kemudian meninggalkannya tanpa bantuan.
Terkadang, kita bisa menjadi jalan pertolongan yang Allah hadirkan bagi orang lain. Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua masalahnya, tetapi kita dapat mendengarkan, membantu semampunya, mendoakan, dan menemaninya mencari solusi.
Ingatlah doa Nabi ﷺ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ — “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.” Doa ini mengajarkan bahwa kita boleh memohon kepada Allah agar hati dilindungi dari kegelisahan dan kesedihan. Kita tidak perlu berpura-pura selalu kuat. Kita perlu menjaga hubungan dengan Allah, sekaligus melakukan ikhtiar yang benar.
Maka, apabila hari ini ada di antara kita yang sedang menghadapi ujian, jangan menyimpulkan bahwa hidup telah berakhir. Jangan mengukur seluruh masa depan hanya dari kesulitan yang sedang dialami. Ambillah satu langkah baik yang dapat dilakukan hari ini. Berdoalah. Carilah dukungan. Lakukan ikhtiar. Dan tetaplah berharap kepada rahmat Allah.
Kisah Maryam mengingatkan kita bahwa kesulitan bukan satu-satunya bagian dari cerita. Setelah kesulitan itu, Al-Qur’an juga menceritakan pertolongan, petunjuk, dan pemeliharaan Allah. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar, orang-orang yang tidak mudah kehilangan harapan, dan pribadi-pribadi yang mampu menenangkan hati orang lain ketika mereka sedang diuji. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
I. Doa Penutup
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَنَسْأَلُكَ قُلُوبًا مُطْمَئِنَّةً، وَنُفُوسًا رَاضِيَةً، وَصُدُورًا مُنْشَرِحَةً بِذِكْرِكَ، وَأَمَلًا صَادِقًا فِي رَحْمَتِكَ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan. Kami memohon kepada-Mu hati yang tenteram, jiwa yang rida, dada yang lapang dengan mengingat-Mu, dan harapan yang tulus terhadap rahmat-Mu.”
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ عُسْرٍ يُسْرًا
Artinya: “Ya Allah, lapangkanlah kegelisahan kami, hilangkanlah kesusahan kami, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami, sayangilah mereka yang lemah, mudahkanlah urusan kami, jadikanlah bagi kami jalan keluar dari setiap kesempitan dan kemudahan dari setiap kesulitan.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
J. Catatan Kaki dan Daftar Rujukan
1. [1] Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ad-Da‘awāt, hadis tentang doa berlindung dari kegelisahan dan kesedihan, no. 6369 dalam penomoran yang umum digunakan.
2. [2] Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis tentang kesusahan yang menghapus sebagian dosa, no. 5641–5642; Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2573.
3. [3] Muslim ibn al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664.
4. [4] Muhammad ibn Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 24. Teks dapat ditelaah di: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura19-aya24.html
5. [5] Ismail ibn Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 24. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura19-aya24.html
6. [6] Al-Husain ibn Mas‘ud Al-Baghawi, Ma‘ālim at-Tanzīl, tafsir QS. Maryam [19]: 24. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura19-aya24.html
7. [7] Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 24. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura19-aya24.html
8. [8] Abdurrahman ibn Nashir As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Maryam [19]: 24. https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura19-aya24.html
Catatan ilmiah: Nomor halaman kitab tafsir klasik berbeda menurut edisi, penerbit, dan tahqiq. Rujukan di atas menggunakan nama kitab dan ayat yang ditafsirkan agar mudah diperiksa. Kutipan Arab dari kitab tafsir dipilih secara ringkas; untuk karya ilmiah formal, cocokkan kembali redaksi, jilid, dan halaman dengan edisi kitab yang digunakan.
Post a Comment