ILMU, TEKNOLOGI, DAN GOTONG ROYONG DALAM MEMBANGUN PERADABAN

MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN

QS. AL-KAHF AYAT 96

ILMU, TEKNOLOGI, DAN GOTONG ROYONG DALAM MEMBANGUN PERADABAN

Tema: Memadukan iman, ilmu, keterampilan, kepemimpinan, dan kerja sama untuk kemaslahatan bersama.


I. MUQADDIMAH

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah Swt.,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menggunakan segala nikmat yang diberikan-Nya untuk kebaikan.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan tadabur Surah Al-Kahf, khususnya ayat 96. Ayat ini mengisahkan bagaimana Zulkarnain membangun penghalang untuk melindungi suatu kaum dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj.

Yang menarik, Al-Qur’an tidak hanya menceritakan tujuan pembangunan itu. Al-Qur’an juga menyebut bahan dan tahapan pengerjaannya: potongan-potongan besi disusun di antara dua sisi gunung, api dinyalakan dan ditiupkan, kemudian tembaga cair dituangkan ke atas besi yang telah dipanaskan.

Dari kisah ini kita dapat merenungkan bahwa pekerjaan besar membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia memerlukan ilmu, perencanaan, bahan, keterampilan, tenaga, kepemimpinan, dan kerja sama.

Ada pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan kita: iman tidak menghalangi kemajuan, ilmu tidak boleh terlepas dari akhlak, dan kemampuan hendaknya digunakan untuk melindungi serta menyejahterakan manusia.

II. QS. AL-KAHF AYAT 96 DAN TERJEMAHANNYA

Teks ayat

اٰتُوْنِيْ زُبَرَ الْحَدِيْدِۗ حَتّٰىٓ اِذَا سَاوٰى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوْا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَعَلَهٗ نَارًاۙ قَالَ اٰتُوْنِيْٓ اُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا ۗ

Artinya

“Berilah aku potongan-potongan besi!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulkarnain) berkata, “Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya.”

(QS. Al-Kahf [18]: 96)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 95. Sebelumnya, Zulkarnain telah berkata kepada kaum tersebut:

فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ

“Maka bantulah aku dengan kekuatan.”

Sekarang, ayat 96 menunjukkan bagaimana kekuatan itu dikerahkan. Zulkarnain meminta bahan, mengatur penyusunan besi, memerintahkan agar api ditiup, lalu meminta tembaga cair untuk dituangkan.

Perhatikan urutan tersebut. Ada bahan yang disiapkan, pekerjaan yang dilaksanakan secara bertahap, instruksi yang diberikan, dan hasil yang hendak dicapai.

Kisah ini mengajarkan bahwa tujuan yang baik perlu diwujudkan melalui ikhtiar yang terarah.

III. PENJELASAN KATA-KATA PENTING

1. زُبَرَ الْحَدِيدِ — Potongan-potongan besi

Kata zubur merupakan bentuk jamak dari zubrah, yang berarti potongan atau bongkahan besi.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

وَالزُّبَرُ: جَمْعُ زُبْرَةٍ، وَهِيَ الْقِطْعَةُ مِنْهُ.

Artinya:

“Az-zubar adalah bentuk jamak dari zubrah, yaitu satu potongan besi.”

Penjelasan ini menunjukkan bahwa Zulkarnain memerlukan bahan yang nyata untuk membangun penghalang. Ia tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi meminta bahan yang dibutuhkan untuk mewujudkan gagasan tersebut.

Pelajaran bagi kita: setiap pekerjaan memerlukan sumber daya yang sesuai. Pendidikan membutuhkan guru, bahan ajar, dan sarana. Pelayanan kesehatan membutuhkan tenaga ahli dan peralatan. Pembangunan fasilitas umum membutuhkan bahan, tenaga, dan perencanaan.

Niat baik perlu disertai persiapan yang memadai. Semangat saja tidak cukup jika kebutuhan dasar pekerjaan tidak diperhitungkan.

2. حَتَّىٰ إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ — Hingga sama rata di antara kedua sisi gunung

Kata aṣ-ṣadafayn dalam penjelasan para mufasir merujuk kepada dua sisi gunung yang mengapit tempat pembangunan penghalang.

Imam ath-Thabari menerangkan bahwa besi disusun di antara kedua sisi tersebut sampai mencapai ketinggian yang diperlukan. Ibnu Katsir juga menjelaskan penyusunan besi hingga sejajar dengan kedua gunung. citeturn973623search13turn973623search2

Tahapan ini mengandung pelajaran tentang ketelitian. Zulkarnain tidak sekadar menumpuk bahan tanpa arah. Ia mengarahkan pekerjaan agar susunan besi mencapai ukuran yang diperlukan.

Dalam pekerjaan apa pun, ketelitian sangat penting. Bangunan memerlukan ukuran yang tepat. Pembelajaran membutuhkan tujuan yang jelas. Pengelolaan keuangan membutuhkan pencatatan yang cermat. Program sosial membutuhkan sasaran dan evaluasi.

3. قَالَ انْفُخُوا — Dia berkata, “Tiuplah!”

Perintah ini berkaitan dengan proses pemanasan. Dalam penjelasan mufasir, api ditiup dengan alat peniup agar panasnya semakin kuat.

As-Sa‘di menjelaskan:

قَالَ انْفُخُوا، أَيْ: أَوْقِدُوهَا إِيقَادًا عَظِيمًا، وَاسْتَعْمِلُوا لَهَا الْمَنَافِيخَ لِتَشْتَدَّ.

Artinya:

“Ia berkata, ‘Tiuplah,’ yakni nyalakanlah api dengan kuat dan gunakanlah alat-alat peniup agar panasnya semakin kuat.”

Penjelasan ini menggambarkan bahwa pembangunan tersebut memerlukan proses teknis, bukan hanya bahan mentah.

Dalam kehidupan kita, sebuah pekerjaan sering membutuhkan tahapan persiapan sebelum hasilnya dapat dicapai. Besi perlu diproses; ilmu perlu dipelajari dan dilatih; keterampilan perlu dikembangkan; dan sebuah program perlu diuji sebelum diterapkan secara luas.

4. حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا — Hingga besi itu menjadi merah menyala

Maksudnya, besi dipanaskan hingga menjadi sangat panas dan tampak seperti api.

Ayat ini mengajarkan pentingnya memahami proses. Bahan yang digunakan tidak serta-merta menghasilkan bentuk akhir yang diinginkan. Ada tahapan yang harus dilakukan dengan tepat.

Dalam pendidikan, seorang murid tidak langsung menguasai ilmu hanya karena mendengar penjelasan sekali. Ia perlu memahami, berlatih, memperoleh umpan balik, dan memperbaiki kekurangan.

Dalam kehidupan, keberhasilan juga membutuhkan kesabaran menjalani tahapan yang diperlukan.

5. قِطْرًا — Tembaga cair

Kata qiṭran dalam penjelasan mayoritas mufasir pada ayat ini dipahami sebagai tembaga yang dilelehkan.

Ibnu Katsir menukil penjelasan sejumlah ulama tafsir bahwa qiṭr yang dimaksud adalah tembaga. As-Sa‘di juga menerangkan bahwa tembaga tersebut dicairkan untuk dituangkan pada susunan besi. citeturn973623search2turn973623search12

Dalam kisah ini, tembaga cair digunakan sebagai bagian dari proses pembentukan penghalang yang kokoh. Kita tidak perlu memperluas ayat menjadi uraian teknis metalurgi modern yang tidak dijelaskannya. Yang dapat kita simpulkan dengan aman ialah bahwa Zulkarnain memanfaatkan bahan dan proses tertentu untuk memperkuat bangunan yang sedang dibuat.

Pelajarannya: gunakan bahan, teknologi, dan metode yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan yang tersedia.


IV. PENJELASAN PARA ULAMA TAFSIR

1. Imam Ath-Thabari: Pekerjaan dimulai dengan bahan dan tahapan yang jelas

Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menjelaskan bagian awal ayat:

وَالزُّبْرَةُ: الْقِطْعَةُ مِنَ الْحَدِيدِ.

Artinya:

“Zubrah adalah satu potongan besi.”

Dalam penafsiran ayat ini, ath-Thabari juga menerangkan bahwa potongan-potongan besi disusun di antara kedua sisi gunung hingga mencapai posisi yang diperlukan. citeturn973623search6turn973623search13

Ulasan:

Penjelasan tersebut menolong kita memahami bahwa pekerjaan Zulkarnain melibatkan bahan yang jelas dan langkah yang terarah. Ia meminta potongan besi, lalu menyusunnya sampai mencapai ketinggian yang diperlukan.

Pelajaran bagi seorang pemimpin adalah pentingnya mengubah tujuan besar menjadi langkah-langkah yang dapat dilaksanakan.

Misalnya, jika sekolah ingin meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, program itu tidak cukup diumumkan sebagai cita-cita. Perlu dilakukan pemetaan kemampuan murid, penyediaan guru pembimbing, penyusunan jadwal, penentuan metode, dan evaluasi berkala.

Tujuan yang baik menjadi lebih mungkin dicapai ketika diterjemahkan menjadi pekerjaan yang terencana.

Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.

2. Imam Ibnu Katsir: Besi disusun, dipanaskan, lalu diberi tembaga

Ibnu Katsir menjelaskan:

حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ، أَيْ وَضَعَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ مِنَ الْأَسَاسِ حَتَّى إِذَا حَاذَى بِهِ رُءُوسَ الْجَبَلَيْنِ طُولًا وَعَرْضًا.

Artinya:

“Hingga ketika ia menyamakan antara kedua sisi gunung, maksudnya ia meletakkan sebagian besi di atas sebagian lainnya mulai dari dasar, sampai susunannya sejajar dengan bagian atas kedua gunung dari sisi panjang dan lebarnya.”

Ibnu Katsir kemudian menjelaskan perintah untuk meniup api dan menuangkan tembaga cair pada susunan besi tersebut. citeturn973623search2

Ulasan:

Dari penjelasan ini, kita memahami adanya urutan pekerjaan: penyusunan bahan, pemanasan, dan penuangan tembaga. Setiap tahap mempunyai peran dalam menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukan.

Namun, kita harus membedakan uraian tafsir dengan rekonstruksi teknik modern. Al-Qur’an memberikan inti kisah dan tahapan pentingnya, bukan rancangan teknik lengkap dengan ukuran, perhitungan struktur, atau prosedur keselamatan sebagaimana dalam dokumen rekayasa masa kini.

Pelajaran yang dapat diterapkan adalah menghormati proses dan keahlian. Jangan menganggap semua pekerjaan bisa dilakukan tanpa persiapan. Jangan pula menyerahkan pekerjaan teknis kepada orang yang tidak memiliki kemampuan yang diperlukan.

Rujukan: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.

3. Syekh Abdurrahman as-Sa‘di: Sarana digunakan untuk memperkuat penghalang

As-Sa‘di menjelaskan:

فَلَمَّا ذَابَ النُّحَاسُ، الَّذِي يُرِيدُ أَنْ يُلْصِقَهُ بَيْنَ زُبَرِ الْحَدِيدِ، قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا.

Artinya:

“Ketika tembaga yang hendak ia gunakan untuk melekatkan bagian-bagian besi itu telah mencair, ia berkata, ‘Bawalah kepadaku agar aku tuangkan tembaga cair itu ke atasnya.’”

As-Sa‘di menerangkan bahwa proses tersebut menjadikan penghalang semakin kokoh dan mampu melindungi kaum itu dari bahaya yang mereka hadapi. citeturn973623search12

Ulasan:

Dalam kisah ini, kemampuan teknis digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Zulkarnain tidak membangun sesuatu hanya demi kemegahan, tetapi untuk mengatasi ancaman yang telah disampaikan kepadanya.

Ini memberikan pelajaran tentang tujuan penggunaan ilmu dan teknologi. Kemampuan manusia seharusnya diarahkan pada manfaat yang nyata, bukan semata-mata kebanggaan atau keuntungan pribadi.

Ilmu yang digunakan untuk melindungi manusia adalah ilmu yang membawa manfaat. Teknologi yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan dapat menjadi sarana kebaikan. Akan tetapi, jika kemampuan digunakan untuk menipu, merusak, atau menindas, maka kemampuan itu kehilangan arah moralnya.

Rujukan: As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.


V. DALIL AL-QUR’AN: ILMU DAN KETERAMPILAN UNTUK KEMASLAHATAN

1. QS. Al-Hadid ayat 25: Besi dan manfaat bagi manusia

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya:

“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa.”

(QS. Al-Hadid [57]: 25)

Ulasan:

Ayat ini menyebut besi sebagai bahan yang memiliki kekuatan dan berbagai manfaat bagi manusia. Pada ayat Al-Kahf 96, besi digunakan dalam pembangunan penghalang yang melindungi suatu kaum.

Kita tidak boleh menyamakan seluruh konteks kedua ayat itu, tetapi keduanya mengingatkan kita bahwa bahan dan kemampuan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

Ayat Al-Hadid juga menghubungkan besi dengan keadilan. Ini penting: kekuatan tidak cukup hanya kuat secara fisik; penggunaannya perlu diarahkan oleh nilai yang benar.

Kekuatan tanpa keadilan dapat menjadi alat penindasan. Teknologi tanpa tanggung jawab dapat menimbulkan bahaya. Sebaliknya, ilmu dan sarana yang digunakan secara adil dapat menjadi jalan untuk membangun dan melindungi kehidupan.

2. QS. An-Nahl ayat 90: Keadilan dan ihsan sebagai pedoman

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

(QS. An-Nahl [16]: 90)

Ulasan:

Ayat ini memberikan pedoman moral dalam menggunakan kemampuan. Keadilan mengharuskan kita memberikan hak kepada yang berhak. Ihsan mendorong kita melakukan kebaikan melebihi sekadar memenuhi kewajiban minimal.

Dalam kisah Zulkarnain, pembangunan penghalang diarahkan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat yang menghadapi ancaman. Dalam kehidupan sekarang, kita dapat menerapkan nilai tersebut dengan menggunakan keahlian dan kewenangan untuk menghadirkan keselamatan, memperbaiki pelayanan, dan mengurangi kesulitan orang lain.

3. QS. Al-Qasas ayat 77: Jangan membuat kerusakan

Allah Swt. berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللّٰهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya:

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

(QS. Al-Qasas [28]: 77)

Ulasan:

Ayat ini mengajarkan agar nikmat dunia digunakan untuk tujuan yang baik. Harta, ilmu, dan kemampuan tidak harus dipertentangkan dengan akhirat. Semuanya dapat menjadi sarana kebaikan apabila diperoleh dan digunakan secara benar.

Zulkarnain memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk membangun perlindungan. Kita pun dapat menggunakan ilmu, teknologi, dan sumber daya untuk membangun fasilitas pendidikan, meningkatkan keselamatan, menjaga lingkungan, dan membantu masyarakat.


VI. DALIL SUNNAH: BERUSAHA, MENINGKATKAN KEMAMPUAN, DAN MEMINTA PERTOLONGAN ALLAH

1. Hadis tentang orang beriman yang kuat

Rasulullah saw. bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجَزْ.

Artinya:

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.”

(HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, no. 2664)

Ulasan:

Hadis ini tidak hanya berbicara tentang kekuatan fisik. Kekuatan dapat mencakup iman, tekad, kemampuan berpikir, ilmu, dan keterampilan yang bermanfaat.

Perhatikan kesesuaiannya dengan pelajaran QS. Al-Kahf 96. Zulkarnain tidak berhenti pada pernyataan bahwa ia ingin membantu. Ia memerintahkan agar bahan disiapkan, proses dilaksanakan, dan masyarakat ikut bekerja.

Hadis ini mengajarkan tiga hal:

  • Bersungguh-sungguhlah melakukan sesuatu yang bermanfaat.
  • Mintalah pertolongan Allah.
  • Jangan menyerah sebelum mengupayakan langkah yang benar.

Dalam dunia pendidikan, seorang guru perlu meningkatkan kompetensi. Murid perlu belajar dengan tekun. Pemimpin perlu memperbaiki kemampuan mengambil keputusan. Masyarakat perlu mengembangkan keterampilan yang bermanfaat.

Namun, kekuatan harus disertai iman dan akhlak. Keterampilan yang tinggi tidak membenarkan seseorang menyalahgunakan ilmunya.

2. Hadis tentang membantu sesama

Rasulullah saw. bersabda:

وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.

Artinya:

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”

(HR. Muslim, no. 2699 dalam penomoran yang umum digunakan)

Ulasan:

Zulkarnain mengajak masyarakat membantu pembangunan penghalang. Ia menggunakan kemampuan kepemimpinannya dan menggerakkan tenaga orang lain untuk mencapai tujuan yang sama.

Hadis ini mengingatkan bahwa menolong sesama merupakan amal yang besar nilainya. Bantuan tidak selalu berupa uang. Bantuan dapat berupa tenaga, ilmu, waktu, pengalaman, atau keterampilan.

Di sekolah, seseorang dapat membantu dengan membimbing murid yang kesulitan. Di masyarakat, warga dapat bergotong royong memperbaiki fasilitas umum. Dalam keluarga, anggota keluarga dapat saling membantu menyelesaikan pekerjaan dan menghadapi kesulitan.

3. Hadis tentang memudahkan pekerjaan orang lain

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللّٰهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Artinya:

“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.”

(HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2699; bagian dari hadis tentang membantu sesama)

Ulasan:

Hadis ini mengajarkan keutamaan mengurangi kesulitan orang lain. Kaum yang menemui Zulkarnain menghadapi persoalan yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Pembangunan penghalang merupakan usaha untuk mengurangi ancaman tersebut.

Dalam kehidupan kita, membantu sesama dapat berarti menyelesaikan masalah secara nyata: memberikan akses pendidikan, membantu korban bencana, memperbaiki fasilitas berbahaya, atau mengembangkan sistem yang membuat pelayanan masyarakat lebih mudah.

Kebaikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita berbicara tentang kepedulian, tetapi juga dari usaha yang sungguh-sungguh untuk mengurangi kesulitan orang lain.


VII. PELAJARAN KEPEMIMPINAN DARI CARA ZULKARNAIN BEKERJA

1. Ia mengetahui apa yang diperlukan

Zulkarnain meminta potongan besi, bukan bahan yang tidak relevan dengan pekerjaan yang hendak dilakukan.

Pelajarannya, pemimpin perlu memahami masalah sebelum menentukan tindakan. Jangan terburu-buru membuat keputusan tanpa mengetahui kebutuhan, kemampuan, dan risiko.

2. Ia menyusun pekerjaan secara bertahap

Ayat menyebut penyusunan besi, pemanasan, dan penuangan tembaga. Rangkaian ini menunjukkan adanya tahapan yang perlu dilakukan untuk mencapai hasil.

Pelajarannya, pekerjaan besar memerlukan rencana yang masuk akal dan pembagian langkah yang jelas.

3. Ia memberi instruksi

Zulkarnain memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk meniup api dan menyediakan bahan berikutnya.

Pelajarannya, seorang pemimpin perlu menyampaikan instruksi yang jelas dan memastikan setiap orang memahami tugasnya.

4. Ia memanfaatkan kemampuan banyak orang

Kisah ini tidak menggambarkan Zulkarnain bekerja sendirian. Ia meminta masyarakat membantu dengan kekuatan, kemudian memberikan perintah sesuai kebutuhan pekerjaan.

Pelajarannya, kerja sama dapat menyatukan berbagai kemampuan. Satu orang mungkin ahli merencanakan, orang lain ahli mengerjakan, dan orang lain lagi menyediakan bahan atau mengawasi mutu.

5. Ia menggunakan kemampuan untuk melindungi masyarakat

Tujuan pembangunan penghalang adalah melindungi masyarakat dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj.

Pelajarannya, keberhasilan teknis perlu dihubungkan dengan tujuan moral. Bangunan yang kuat, sistem yang canggih, dan kemampuan yang tinggi akan lebih bermakna jika digunakan untuk menjaga keselamatan serta menghadirkan kemaslahatan.


VIII. PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEKARANG

1. Dalam dunia pendidikan

Sekolah yang baik dibangun melalui kerja sama. Kepala sekolah memberikan arah, guru merancang pembelajaran, tenaga kependidikan mendukung administrasi, orang tua mendampingi anak, dan murid ikut menjaga kedisiplinan.

Jika ingin meningkatkan kualitas belajar, kita perlu menyusun langkah yang jelas, menyiapkan sumber daya, membagi tanggung jawab, dan mengevaluasi hasil.

2. Dalam pengembangan teknologi

Teknologi seharusnya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan. Akan tetapi, penggunaannya harus disertai tanggung jawab.

Kita dapat memanfaatkan teknologi untuk memperbaiki pelayanan, mengembangkan bahan pembelajaran, meningkatkan akses informasi, dan mempermudah pekerjaan. Kita juga perlu menghindari penyalahgunaan teknologi untuk menipu, merugikan, atau merendahkan orang lain.

3. Dalam pembangunan masyarakat

Gotong royong bukan hanya mengumpulkan orang untuk bekerja. Gotong royong juga membutuhkan pembagian tugas, pengelolaan bahan, kepemimpinan, dan tujuan yang disepakati.

Jika membangun fasilitas umum, misalnya, masyarakat perlu mengetahui kebutuhan, sumber dana, standar keselamatan, dan pihak yang bertanggung jawab. Kerja sama yang teratur biasanya lebih efektif daripada usaha yang tidak direncanakan.

4. Dalam kehidupan pribadi

Jangan hanya mengharapkan hasil besar tanpa mau menjalani proses. Belajar memerlukan waktu. Keterampilan memerlukan latihan. Akhlak memerlukan pembiasaan. Kepercayaan memerlukan konsistensi.

Kita perlu sabar menjalani tahapan, bersedia memperbaiki kekurangan, dan meminta pertolongan Allah.


IX. RENUNGAN: APA YANG SEDANG KITA BANGUN?

Hadirin yang dirahmati Allah,

Zulkarnain membangun penghalang yang dibutuhkan masyarakat. Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita bangun dalam kehidupan ini?

Apakah kita sedang membangun keluarga yang penuh kasih sayang?

Apakah kita sedang membangun sekolah yang aman, tertib, dan berakhlak?

Apakah kita sedang membangun masyarakat yang saling membantu?

Apakah kita sedang membangun ilmu dan keterampilan yang bermanfaat?

Ataukah tanpa sadar kita justru membangun penghalang di antara sesama manusia melalui kesombongan, kebencian, dan sikap tidak mau bekerja sama?

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kemampuan tidak cukup hanya dimiliki. Kemampuan perlu diarahkan kepada tujuan yang benar.

Ilmu tanpa akhlak dapat disalahgunakan.

Kekuasaan tanpa amanah dapat menimbulkan kezaliman.

Teknologi tanpa tanggung jawab dapat membawa bahaya.

Namun, ilmu yang disertai iman, kekuasaan yang dijalankan dengan adil, dan teknologi yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi sarana untuk memperbaiki kehidupan.

Maka, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kemampuan saya?”

Tanyakan juga, “Siapa yang dapat saya bantu dengan kemampuan yang Allah berikan?”

Jangan hanya bangga karena mampu mengerjakan sesuatu sendiri. Belajarlah mengajak orang lain bekerja sama.

Jangan hanya bersemangat pada awal pekerjaan. Peliharalah ketekunan hingga pekerjaan selesai.

Dan jangan hanya memikirkan hasil. Pastikan prosesnya juga benar, aman, dan bermanfaat.


X. KESIMPULAN

Dari QS. Al-Kahf ayat 96, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting.

Pertama, tujuan yang baik membutuhkan ikhtiar nyata. Zulkarnain meminta bahan dan mengatur tahapan pembangunan penghalang.

Kedua, ilmu dan keterampilan sangat penting. Pekerjaan yang rumit membutuhkan pemahaman terhadap bahan, proses, dan kebutuhan.

Ketiga, kerja sama memperkuat kemampuan manusia. Zulkarnain tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri, tetapi mengajak masyarakat berkontribusi.

Keempat, pemimpin harus mampu mengarahkan pekerjaan. Instruksi yang jelas dan tahapan yang teratur membantu pekerjaan berjalan menuju tujuan.

Kelima, teknologi harus digunakan untuk kemaslahatan. Kemampuan yang besar akan bernilai ketika diarahkan untuk melindungi dan membantu sesama.

Keenam, iman harus berjalan bersama usaha. Seorang Muslim berdoa dan memohon pertolongan Allah, sekaligus berusaha menggunakan sebab-sebab yang benar.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman, berilmu, terampil, amanah, dan bersedia bekerja sama dalam kebaikan.

XI. DOA PENUTUP

اللّٰهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.

Artinya:

“Ya Allah, berilah kami manfaat melalui ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”

اللّٰهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَوَفِّقْنَا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا وَقُوَّتَنَا وَمَهَارَاتِنَا سَبَبًا لِنَفْعِ عِبَادِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. Bimbinglah kami untuk beramal saleh dan jadikan ilmu, kekuatan, serta keterampilan kami sebagai sarana memberi manfaat kepada hamba-hamba-Mu.”

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْفَسَادِ وَالظُّلْمِ وَسُوءِ اسْتِعْمَالِ الْعِلْمِ وَالْقُوَّةِ.

Artinya:

“Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dan masyarakat kami. Jadikanlah kami orang-orang yang bekerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan. Lindungilah kami dari kerusakan, kezaliman, dan penyalahgunaan ilmu serta kekuatan.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN KAKI DAN DAFTAR RUJUKAN

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Kahf [18]: 95–97.
  2. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Hadid [57]: 25; QS. An-Nahl [16]: 90; QS. Al-Qasas [28]: 77.
  3. Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.
  4. Ibnu Katsir, Isma‘il bin ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.
  5. As-Sa‘di, Abdurrahman bin Nashir. Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 96.
  6. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang orang beriman yang kuat dan perintah untuk berusaha dalam hal yang bermanfaat.
  7. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 2699 dalam penomoran yang umum digunakan, tentang keutamaan menolong sesama.
  8. Nomor halaman dan jilid kitab tafsir dapat berbeda menurut edisi. Untuk penggunaan akademik atau penerbitan, cocokkan kembali teks Arab, halaman, dan rincian bibliografi dengan edisi kitab yang dipakai.
  9. Terjemahan kutipan tafsir dalam naskah ini merupakan terjemahan makna. Penjelasan yang diberi label “ulasan” merupakan rangkuman dan penerapan pelajaran tafsir, bukan kutipan verbatim dari kitab.

Tidak ada komentar