Ketika Tembok yang Kokoh Tak Dapat Ditembus: Kekuatan Ikhtiar dan Kekuasaan Allah
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
QS. Al-Kahf Ayat 97 — Ketika Tembok yang Kokoh Tak Dapat Ditembus: Kekuatan Ikhtiar dan Kekuasaan Allah
1. Pembukaan
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang beriman, berilmu, bertanggung jawab, dan mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya.
Pada kesempatan ini, kita akan merenungkan firman Allah dalam Surah Al-Kahf ayat 97. Ayat ini merupakan kelanjutan kisah Dzulqarnain, seorang pemimpin yang menggunakan kemampuan dan sarana yang Allah berikan untuk melindungi suatu kaum dari kerusakan yang ditimbulkan oleh Ya’juj dan Ma’juj.
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perlindungan yang kokoh membutuhkan perencanaan, ilmu, kerja nyata, dan kesungguhan. Namun, kita juga harus memahami bahwa sehebat apa pun hasil karya manusia, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah Swt.
2. Membaca ayat dan memahami maknanya
Allah Swt. berfirman:
فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا ٩٧
Artinya:
“Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat mendakinya dan tidak dapat (pula) melubanginya.” (QS. Al-Kahf [18]: 97).
Ayat ini menggambarkan keberhasilan pembangunan penghalang yang dibuat oleh Dzulqarnain. Setelah besi disusun dan diperkuat dengan tembaga cair sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya, Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu melewati penghalang tersebut dengan dua cara yang disebutkan dalam ayat.
Pertama, mereka tidak mampu mendakinya dari atas. Kedua, mereka tidak mampu membuat lubang untuk menembusnya.
Ada dua kata penting dalam ayat ini:
- يَظْهَرُوهُ — yazharūhu, maksudnya mendaki, menaiki, atau melewati penghalang itu dari atas.
- نَقْبًا — naqban, artinya lubang atau usaha melubangi sesuatu hingga dapat ditembus.
Dengan demikian, ayat ini menjelaskan dua bentuk hambatan yang berhasil diatasi melalui pembangunan penghalang: mencegah orang melewatinya dari atas dan mencegah mereka menembusnya dengan membuat lubang.
Perlu kita perhatikan, Al-Qur’an tidak sekadar menceritakan sebuah bangunan yang kuat. Al-Qur’an mengajak kita merenungkan bagaimana ilmu, kepemimpinan, kerja bersama, dan pertolongan Allah dapat digunakan untuk melindungi kehidupan manusia.
3. Penjelasan para ulama tafsir
A. Tafsir Imam Ath-Thabari
Imam Ath-Thabari menjelaskan makna ayat tersebut dengan menyebutkan bahwa Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu menaiki penghalang yang dibangun Dzulqarnain hingga mencapai sisi seberangnya.
Beliau menafsirkan:
فَمَا اسْطَاعَ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ أَنْ يَعْلُوا الرَّدْمَ الَّذِي جَعَلَهُ ذُو الْقَرْنَيْنِ حَاجِزًا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَنْ دُونَهُمْ مِنَ النَّاسِ
Artinya secara ringkas:
“Maka Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu menaiki penghalang yang dibuat Dzulqarnain sebagai pemisah antara mereka dan manusia yang berada di sisi lainnya.”
Imam Ath-Thabari kemudian menjelaskan kata naqban sebagai usaha membuat lubang pada penghalang itu.[1]
Pelajaran yang dapat kita ambil:
Penghalang itu berfungsi karena mampu mencegah jalan masuk yang sebelumnya menjadi ancaman. Dalam kehidupan sehari-hari, perlindungan juga harus dirancang sesuai dengan bahaya yang hendak dicegah.
Sekolah, misalnya, tidak cukup hanya membuat peraturan tertulis. Peraturan harus disertai pengawasan, pembinaan, lingkungan yang aman, serta keterlibatan guru dan orang tua. Dalam kehidupan bermasyarakat, pencegahan kerusakan juga membutuhkan kerja nyata, bukan hanya imbauan.
B. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan:
يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَنَّهُمْ مَا قَدَرُوا عَلَى أَنْ يَصْعَدُوا فَوْقَ هَذَا السَّدِّ وَلَا قَدَرُوا عَلَى نَقْبِهِ مِنْ أَسْفَلِهِ
Artinya:
“Allah Ta’ala mengabarkan tentang Ya’juj dan Ma’juj bahwa mereka tidak mampu memanjat penghalang ini dan tidak pula mampu melubanginya dari bagian bawahnya.”
Beliau juga menerangkan bahwa ayat tersebut menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk menembus penghalang itu.[2]
Dari penjelasan ini, kita memahami bahwa keberhasilan suatu perlindungan tidak hanya bergantung pada penampilan luarnya, tetapi juga pada kekuatan dan ketepatan pembuatannya.
Dalam bahasa kehidupan, kita perlu membedakan antara sesuatu yang tampak kokoh dan sesuatu yang benar-benar dirancang untuk menjalankan fungsinya. Rumah, jembatan, bangunan sekolah, sistem keamanan, bahkan tata kelola organisasi membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang bertanggung jawab.
Namun, kita tidak boleh mengubah kisah ini menjadi klaim teknis yang tidak disebutkan Al-Qur’an. Ayat tersebut menerangkan hasil dan fungsi penghalang, bukan memberikan seluruh rincian ukuran, lokasi, atau metode rekayasa bangunannya.
C. Tafsir As-Sa’di
Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan:
أَيْ: فَمَا لَهُمْ اسْتِطَاعَةٌ وَلَا قُدْرَةٌ عَلَى الصُّعُودِ عَلَيْهِ لِارْتِفَاعِهِ، وَلَا عَلَى نَقْبِهِ لِإِحْكَامِهِ وَقُوَّتِهِ
Artinya:
“Maksudnya, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendakinya karena ketinggiannya, dan tidak pula mampu melubanginya karena penghalang itu dibuat dengan kokoh dan kuat.”[3]
Penjelasan ini menegaskan dua unsur yang penting: bentuk penghalang yang menghalangi pendakian dan kekuatan penghalang yang mencegah penembusan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada pelajaran besar di sini. Jika kita ingin melindungi sesuatu yang berharga, kita harus mengenali ancaman dan menyiapkan langkah yang sesuai. Keamanan keluarga tidak cukup dengan rasa sayang tanpa pendidikan. Pendidikan anak tidak cukup dengan nasihat tanpa teladan. Menjaga keimanan tidak cukup dengan pengakuan lisan tanpa ilmu dan amal.
Niat baik harus disertai ikhtiar yang benar.
4. Dalil pertama: besi memiliki kekuatan dan manfaat
Allah Swt. berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
Artinya:
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” (QS. Al-Hadid [57]: 25).
Ayat ini menyebutkan dua hal penting tentang besi: kekuatan dan manfaatnya. Dalam kisah Dzulqarnain, besi menjadi bahan utama pembangunan penghalang, kemudian diperkuat dengan tembaga cair sebagaimana disebutkan dalam ayat 96.
Akan tetapi, perhatikan pula konteks Surah Al-Hadid ayat 25. Allah tidak hanya menyebutkan kekuatan besi, tetapi juga pengutusan para rasul, kitab, neraca, dan keadilan.
Artinya, kekuatan material seharusnya digunakan untuk mendukung keadilan dan kemaslahatan, bukan untuk menindas manusia.
Ilmu, teknologi, kekayaan, dan kekuasaan adalah sarana. Nilai kebaikannya bergantung pula pada tujuan dan cara penggunaannya.
Orang yang memiliki ilmu hendaknya menggunakannya untuk memberi manfaat. Orang yang memiliki kekuasaan hendaknya melindungi yang lemah. Orang yang memiliki harta hendaknya membantu kebutuhan masyarakat.
Jangan sampai manusia berhasil membangun sesuatu yang kuat secara fisik, tetapi lemah dalam kejujuran dan keadilan.
5. Dalil kedua: berikhtiar sesuai kemampuan
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ وَلَا تَعْجَزْ.
Artinya:
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa tidak berdaya.” (HR. Muslim, no. 2664).[4]
Hadis ini sangat sesuai untuk direnungkan bersama kisah Dzulqarnain.
Ada tiga arahan Nabi ﷺ yang perlu kita perhatikan.
Pertama, اِحْرِصْ عَلَىٰ مَا يَنْفَعُكَ — bersungguh-sungguhlah terhadap hal yang bermanfaat.
Jangan menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak membawa kebaikan. Gunakan waktu untuk belajar, bekerja, memperbaiki keluarga, mengembangkan kemampuan, dan membantu orang lain.
Kedua, وَاسْتَعِنْ بِاللّٰهِ — mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ikhtiar tidak berarti merasa mampu melakukan segala sesuatu tanpa Allah. Kita berusaha dengan kemampuan yang diberikan-Nya, berdoa, dan menyerahkan hasil kepada-Nya.
Ketiga, وَلَا تَعْجَزْ — jangan menyerah dalam ketidakberdayaan.
Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Jika satu cara tidak berhasil, evaluasi dan cari cara lain yang benar. Jika belum memiliki ilmu, belajarlah. Jika belum mampu sendiri, mintalah bantuan kepada orang yang tepat.
Hadis ini bukan ajakan untuk memaksakan diri tanpa batas. Ia mengajarkan kesungguhan yang disertai pertolongan Allah, pertimbangan yang benar, dan usaha yang bermanfaat.
6. Dalil ketiga: bekerja bersama untuk mengatasi masalah
Dalam kisah Dzulqarnain, kaum yang terancam tidak hanya mengeluh. Mereka datang meminta pertolongan dan menawarkan bantuan. Dzulqarnain kemudian berkata dalam QS. Al-Kahf ayat 95:
قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا
Artinya:
“Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka.’” (QS. Al-Kahf [18]: 95).
Perhatikan kalimat فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ — “Maka bantulah aku dengan kekuatan.”
Dzulqarnain memiliki kepemimpinan dan kemampuan, tetapi ia tetap melibatkan masyarakat dalam pekerjaan itu. Ada pembagian peran: pemimpin mengarahkan, masyarakat membantu, bahan dikumpulkan, dan pekerjaan dilaksanakan.
Ini adalah pelajaran tentang gotong royong dan tanggung jawab bersama.
Sekolah tidak akan maju hanya karena kepala sekolah bekerja. Guru, tenaga kependidikan, murid, dan orang tua juga perlu berkontribusi. Keluarga tidak akan kuat jika seluruh tanggung jawab diserahkan kepada satu orang. Masyarakat tidak akan aman jika semua orang hanya menunggu pihak lain bertindak.
Bekerja bersama bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Setiap orang dapat berperan sesuai kemampuan, keahlian, dan tanggung jawabnya.
7. Dalil keempat: Allah menolong hamba yang menolong sesamanya
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ.
Artinya:
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim, no. 2699).[5]
Hadis ini mengajarkan bahwa membantu orang lain adalah amal yang mulia. Pertolongan tidak harus berupa uang atau pekerjaan besar. Menyumbangkan tenaga, berbagi pengetahuan, memberikan nasihat yang benar, menjaga keamanan lingkungan, dan membantu orang yang sedang kesulitan juga merupakan bentuk pertolongan.
Dalam kisah Dzulqarnain, masyarakat bekerja bersama membangun penghalang untuk mencegah bahaya. Dalam kehidupan kita, bentuk kerja sama bisa berbeda, tetapi prinsip kebaikannya tetap relevan: gunakan kemampuan untuk menjaga dan memberi manfaat kepada orang lain.
Namun, membantu sesama harus dilakukan dengan cara yang benar. Kita tidak boleh menolong dalam perbuatan zalim atau kerusakan. Pertolongan yang baik adalah pertolongan yang membawa maslahat dan tidak melanggar ketentuan Allah.
8. Dalil kelima: ketangguhan manusia tetap berada di bawah kekuasaan Allah
Allah Swt. berfirman dalam ayat berikutnya:
قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا ٩٨
Artinya:
“Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu benar.’” (QS. Al-Kahf [18]: 98).
Ayat 97 menjelaskan keberhasilan penghalang itu menahan Ya’juj dan Ma’juj. Ayat 98 mengingatkan bahwa penghalang tersebut bukan kekuatan yang berdiri sendiri dan tidak akan mengalahkan ketetapan Allah.
Dzulqarnain tidak menyombongkan keberhasilannya. Ia berkata, هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي — “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
Inilah adab seorang pemimpin yang beriman: bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan kemampuan yang dimiliki, kemudian mengakui bahwa nikmat dan keberhasilan berasal dari Allah.
Pelajaran ini penting bagi kita. Ketika usaha berhasil, jangan sombong. Ketika ilmu bertambah, jangan merendahkan orang lain. Ketika jabatan meningkat, jangan lupa bahwa jabatan adalah amanah. Ketika keluarga berada dalam keadaan baik, jangan merasa bahwa semuanya semata-mata karena kehebatan kita.
Kita wajib berusaha, tetapi tidak boleh menganggap diri sebagai penguasa mutlak atas hasil.
9. Hadis tentang terbukanya sedikit penghalang Ya’juj dan Ma’juj
Dalam hadis sahih, Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah terbangun dalam keadaan terkejut dan bersabda:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ.
Lalu beliau membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Artinya:
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Celakalah orang-orang Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah dibuka dari penghalang Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim; riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).[6]
Hadis ini mengingatkan bahwa kisah Ya’juj dan Ma’juj bukan sekadar cerita tentang konstruksi sebuah bangunan. Ada peringatan tentang peristiwa besar yang berkaitan dengan tanda-tanda akhir zaman.
Kita perlu berhati-hati dalam memahaminya. Hadis ini tidak memberi izin kepada kita untuk menebak-nebak lokasi penghalang secara pasti, menunjuk bangsa tertentu sebagai Ya’juj dan Ma’juj tanpa dasar yang sah, atau menentukan waktu kemunculan mereka berdasarkan dugaan.
Sikap seorang muslim adalah mengimani berita yang sahih, mempelajari penjelasan ulama, mengambil pelajaran darinya, dan tidak memastikan perkara gaib tanpa dalil.
Hadis ini juga menunjukkan bahwa ketika Nabi ﷺ mengingatkan tentang bahaya, beliau mengajak umat untuk sadar dan waspada. Kesadaran terhadap akhirat hendaknya mendorong kita memperbaiki iman dan amal, bukan sibuk menyebarkan spekulasi.
10. Apa yang dapat kita pelajari dari dua cara yang gagal ditempuh Ya’juj dan Ma’juj?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat 97 menyebut dua cara untuk melewati penghalang: mendaki dan melubangi. Kedua cara itu tidak berhasil.
Dari sini, kita dapat mengambil beberapa pelajaran praktis.
Pertama, kenali masalah sebelum menentukan solusi.
Dzulqarnain tidak mengandalkan kata-kata saja. Ia memahami ancaman dan membangun penghalang yang sesuai dengan kebutuhan. Kita pun perlu mengenali akar masalah sebelum mengambil keputusan.
Jika anak kehilangan semangat belajar, jangan langsung melabelinya sebagai malas. Perhatikan kesulitan belajar, suasana rumah, pergaulan, pola tidur, dan pendekatan mengajar. Jika lingkungan tidak aman, cari titik rawan dan perbaiki sistem perlindungannya.
Kedua, lakukan pekerjaan dengan standar yang baik.
Pekerjaan yang dilakukan asal-asalan sering kali tidak mampu menyelesaikan masalah. Dalam pendidikan, guru perlu menyiapkan pembelajaran yang jelas. Dalam pekerjaan, seseorang perlu menjaga kualitas. Dalam keluarga, orang tua perlu konsisten dalam mendidik.
Ketiga, jangan bekerja sendirian jika masalah membutuhkan kerja bersama.
Dzulqarnain melibatkan masyarakat. Kita juga perlu membangun kerja sama yang sehat, membagi tugas, dan saling mendukung.
Keempat, jangan menyombongkan keberhasilan.
Dzulqarnain mengakui bahwa hasil pekerjaannya merupakan rahmat Allah. Maka keberhasilan harus melahirkan syukur, bukan kesombongan.
Kelima, jangan menganggap keberhasilan dunia sebagai jaminan kekekalan.
Bangunan, jabatan, kekayaan, dan kekuatan manusia memiliki batas. Karena itu, gunakan semua nikmat untuk beribadah, berbuat adil, menjaga amanah, dan mempersiapkan kehidupan akhirat.
11. Renungan untuk keluarga, sekolah, dan masyarakat
Mari kita bawa pesan ayat ini ke dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam keluarga, bangunlah penghalang dari kerusakan moral melalui pendidikan iman, komunikasi yang baik, keteladanan, dan pengawasan yang penuh kasih sayang.
Di sekolah, bangunlah perlindungan bagi murid melalui budaya disiplin, adab, pencegahan perundungan, pembelajaran yang bermakna, dan kerja sama dengan orang tua.
Di tengah masyarakat, bangunlah keamanan dan persaudaraan melalui kejujuran, kepedulian, aturan yang adil, serta keberanian mencegah kemungkaran dengan cara yang benar.
Di dalam diri sendiri, bangunlah penghalang terhadap dosa dengan ilmu, salat, zikir, pergaulan yang baik, dan kesungguhan untuk bertobat ketika melakukan kesalahan.
Penghalang fisik dalam kisah Dzulqarnain melindungi suatu kaum dari ancaman yang mereka hadapi. Adapun penghalang moral dalam kehidupan kita bukanlah tembok dari besi, melainkan iman, ilmu, akhlak, dan amal saleh yang terus dipelihara.
12. Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 97 mengajarkan bahwa penghalang yang dibangun Dzulqarnain berhasil mencegah Ya’juj dan Ma’juj mendakinya maupun melubanginya. Para mufasir menjelaskan bahwa keberhasilan itu berkaitan dengan ketinggian dan kekuatan penghalang tersebut.
Dari kisah ini, kita belajar tentang pentingnya ilmu, perencanaan, kualitas kerja, kepemimpinan yang bertanggung jawab, dan gotong royong. Kita juga belajar bahwa keberhasilan bukan alasan untuk sombong, karena semua kemampuan dan nikmat berasal dari Allah.
Marilah kita berusaha membangun perlindungan yang baik bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Jangan hanya mengeluh ketika menghadapi masalah. Kenali persoalannya, cari jalan keluarnya, ajak orang lain bekerja sama, dan mohon pertolongan kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kuat imannya, bermanfaat ilmunya, baik akhlaknya, dan tulus pengabdiannya.
Doa penutup
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللّٰهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَعَمَلًا صَالِحًا وَإِخْلَاصًا.
اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَمُجْتَمَعَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالشُّرُورِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يَنْفَعُونَ النَّاسَ وَيَعْمَلُونَ بِمَا يُرْضِيكَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Catatan kaki dan rujukan kitab
[1] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 97. Teks Arab yang dikutip di atas merupakan petikan dari penjelasan beliau; terjemahan disampaikan berdasarkan maknanya.
[2] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 97. Lihat pula penjelasan beliau tentang riwayat-riwayat yang berkaitan dengan penghalang Ya’juj dan Ma’juj. Tidak semua riwayat yang beredar mengenai penghalang tersebut berstatus sahih.
[3] Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 97.
[4] Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis no. 2664, tentang keutamaan mukmin yang kuat, kesungguhan dalam perkara bermanfaat, memohon pertolongan Allah, dan larangan bersikap tidak berdaya.
[5] Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Dzikr wa al-Du‘ā’ wa al-Tawbah wa al-Istighfār, hadis no. 2699, tentang pertolongan Allah kepada hamba yang menolong saudaranya.
[6] Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Anbiyā’, riwayat Zainab binti Jahsy tentang terbukanya sebagian kecil penghalang Ya’juj dan Ma’juj; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan wa Asyrāṭ al-Sā‘ah, riwayat yang sepadan.
Catatan: Nomor halaman dan penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi atau penerbit. Kutipan tafsir di atas disajikan sebagai petikan singkat atau terjemahan makna dari kitab rujukan; untuk penelitian akademik, cocokkan dengan edisi kitab yang digunakan.
Post a Comment