Rahmat Allah, Kepastian Janji-Nya, dan Peringatan agar Tidak Lalai

MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN

QS. Al-Kahf Ayat 98 — Rahmat Allah, Kepastian Janji-Nya, dan Peringatan agar Tidak Lalai

1. Pembukaan

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta senantiasa memperbaiki iman dan amal saleh.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan tadabur Surah Al-Kahf, khususnya ayat 98, yang mengisahkan perkataan Dzulqarnain setelah berhasil membangun penghalang untuk melindungi suatu kaum dari ancaman Ya’juj dan Ma’juj.

Ayat ini pendek, tetapi mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ada tiga pesan besar yang akan kita renungkan.

Pertama, keberhasilan adalah rahmat Allah, bukan alasan untuk menyombongkan diri.

Kedua, setiap janji Allah pasti benar, meskipun manusia belum mengetahui kapan terjadinya.

Ketiga, kebaikan harus dijaga dan kerusakan tidak boleh dibiarkan merajalela.

2. Teks ayat dan terjemahannya

Allah Swt. berfirman:

قَالَ هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْۚ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَۚ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا ۗ

Artinya:

“Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar.’” (QS. Al-Kahf [18]: 98).

Mari kita perhatikan empat bagian penting dari ayat ini.

  1. هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْ — “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
  2. فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ رَبِّيْ — “Apabila janji Tuhanku telah datang.”
  3. جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَ — “Dia akan menjadikannya hancur luluh.”
  4. وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا — “Dan janji Tuhanku itu benar.”

Ayat ini memperlihatkan sikap Dzulqarnain setelah menyelesaikan pekerjaan besar. Ia tidak berkata, “Lihatlah, betapa hebatnya aku!” Ia tidak menganggap kekuatan dan keberhasilannya sebagai hasil kemampuan dirinya semata. Sebaliknya, ia berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”

Inilah akhlak seorang pemimpin yang beriman: bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan kemampuan dengan bertanggung jawab, kemudian mengakui bahwa pertolongan dan keberhasilan berasal dari Allah.

3. Tafsir kata-kata penting dalam ayat

A. هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْ — Ini adalah rahmat dari Tuhanku

Kata رَحْمَةٌ berarti rahmat, kasih sayang, dan karunia. Dzulqarnain memahami bahwa penghalang yang dibangunnya menjadi sarana perlindungan bagi masyarakat yang terancam.

Rahmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk kekayaan atau kemudahan hidup. Rahmat-Nya juga dapat hadir melalui ilmu, pemimpin yang adil, orang-orang yang saling membantu, kemampuan menyelesaikan masalah, dan perlindungan dari bahaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang guru yang membimbing murid dengan baik merupakan nikmat. Orang tua yang mendidik anak dengan penuh tanggung jawab merupakan nikmat. Lingkungan yang aman, persaudaraan yang terjaga, dan kesempatan memperbaiki diri juga merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Karena itu, jangan mengukur rahmat Allah hanya dengan banyaknya harta. Terkadang, rahmat terbesar adalah ketika Allah memberikan kita kemampuan untuk mengatasi kesulitan dan menjaga orang lain dari bahaya.

B. فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي — Apabila janji Tuhanku telah datang

Dzulqarnain mengetahui bahwa penghalang itu tidak akan bertahan selamanya. Ada ketetapan Allah yang akan datang pada waktu yang telah ditentukan-Nya.

Manusia dapat membangun rumah, jembatan, benteng, dan berbagai sarana perlindungan. Akan tetapi, tidak ada satu pun hasil karya manusia yang menjadikan manusia berkuasa atas seluruh ketetapan Allah.

Pelajaran ini bukan berarti kita tidak perlu membangun atau menjaga sesuatu. Justru kita harus bekerja sebaik mungkin, sembari menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki batas dan semua urusan kembali kepada Allah.

C. جَعَلَهٗ دَكَّاۤءَ — Dia menjadikannya hancur luluh

Kata دَكَّاءَ dalam konteks ayat ini menunjukkan keadaan yang diratakan atau dihancurkan hingga penghalang itu tidak lagi berfungsi sebagaimana sebelumnya.

Ayat ini menegaskan bahwa ketika waktu yang dijanjikan Allah tiba, penghalang tersebut tidak akan mampu menghalangi ketetapan-Nya.

Kita tidak perlu berspekulasi mengenai lokasi pasti penghalang itu atau mengklaim bahwa suatu bangunan tertentu pada zaman modern adalah penghalang yang dimaksud. Yang ditegaskan oleh ayat ialah kepastian janji Allah dan keterbatasan segala sesuatu di hadapan kehendak-Nya.

D. وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا — Janji Tuhanku itu benar

Kata حَقًّا menunjukkan sesuatu yang benar dan pasti. Janji Allah bukanlah ancaman kosong, bukan pula perkataan yang dapat dibatalkan oleh kelemahan atau perubahan keadaan.

Orang beriman meyakini kebenaran janji Allah, tetapi tidak menetapkan sendiri waktu terjadinya perkara gaib tanpa dalil yang sahih.

4. Penjelasan para ulama tafsir

A. Tafsir Ibnu Katsir: penghalang itu merupakan rahmat bagi manusia

Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ بِالنَّاسِ حَيْثُ جَعَلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ حَائِلًا يَمْنَعُهُمْ مِنَ الْعَيْثِ فِي الْأَرْضِ وَالْفَسَادِ

Artinya:

“(Itu merupakan rahmat) bagi manusia, karena Dia menjadikan penghalang antara mereka dan Ya’juj dan Ma’juj yang mencegah mereka melakukan kerusakan di bumi.”

Kemudian Ibnu Katsir menerangkan makna جَعَلَهُ دَكَّاءَ:

أَيْ سَاوَاهُ بِالْأَرْضِ

Artinya:

“Yakni, Dia meratakannya dengan tanah.”[1]

Dari penjelasan Ibnu Katsir, kita memahami dua hal.

Pertama, penghalang itu merupakan rahmat karena melindungi masyarakat dari ancaman kerusakan. Dengan demikian, kekuatan dan teknologi seharusnya digunakan untuk menjaga kehidupan, bukan menimbulkan kezaliman.

Kedua, penghalang itu mempunyai batas. Ketika ketetapan Allah tiba, ia tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk membangun sesuatu secara lahiriah, tetapi melupakan tujuan kebaikannya. Bangunan yang megah tidak otomatis menjadikan masyarakat berakhlak mulia. Kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia jujur. Kekuasaan yang besar tidak otomatis menghasilkan keadilan.

Semua sarana itu harus diarahkan untuk kemaslahatan dan dijalankan dengan tanggung jawab.

B. Tafsir Ath-Thabari: janji Allah pasti terlaksana

Ath-Thabari menjelaskan makna bagian ayat:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ

Beliau menerangkan bahwa ketika janji Allah mengenai waktu keluarnya kaum tersebut tiba, penghalang itu akan diratakan dengan tanah.[2]

Dalam menjelaskan penutup ayat, Ath-Thabari menegaskan makna kepastian janji Allah, yaitu bahwa janji-Nya benar dan tidak akan meleset dari ketetapan-Nya.

Penjelasan ini membawa kita pada satu prinsip akidah: manusia tidak mengetahui seluruh perkara gaib, sedangkan Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

Karena itu, kita tidak boleh mengarang tanggal, tahun, atau tempat tertentu untuk peristiwa akhir zaman. Tugas kita adalah beriman kepada berita yang sahih dan mempersiapkan diri dengan amal saleh.

C. Tafsir Al-Qurthubi: apa makna “dakka”?

Al-Qurthubi menjelaskan:

قَوْلُهُ تَعَالَى: جَعَلَهُ دَكَّاءَ أَيْ مُسْتَوِيًا بِالْأَرْضِ

Artinya:

“Firman Allah, ‘Dia menjadikannya dakka’, yakni menjadikannya rata dengan tanah.”[3]

Beliau juga menyebutkan adanya penjelasan tentang waktu terjadinya janji tersebut, antara lain dikaitkan dengan hari kiamat atau waktu keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.

Pelajaran dari penjelasan ini ialah bahwa para ulama membahas makna kata dan hubungan ayat dengan peristiwa yang diberitakan Allah. Dalam perkara yang memiliki lebih dari satu penjelasan tafsir, kita hendaknya menyampaikan pendapat secara hati-hati, bukan mengubah salah satu penjelasan menjadi kepastian yang tidak didukung dalil.

5. Dalil Al-Qur’an: nikmat harus diakui sebagai karunia Allah

Allah Swt. berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Artinya:

“Segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah. Kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl [16]: 53).

Ayat ini sejalan dengan ucapan Dzulqarnain, هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْ — “Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”

Ketika memperoleh keberhasilan, kita harus mengakui karunia Allah. Ketika memperoleh ilmu, jangan merasa paling pandai. Ketika mendapatkan kedudukan, jangan merasa paling mulia. Ketika memiliki harta, jangan meremehkan orang yang belum memilikinya.

Syukur bukan hanya ucapan alhamdulillah. Syukur juga berarti menggunakan nikmat untuk kebaikan.

Jika Allah memberikan ilmu, ajarkanlah. Jika Allah memberikan harta, gunakanlah untuk memenuhi kebutuhan yang benar dan membantu sesama. Jika Allah memberikan kedudukan, tegakkanlah keadilan. Jika Allah memberikan kemampuan memimpin, lindungilah orang yang berada dalam tanggung jawab kita.

6. Dalil Al-Qur’an: janji Allah tidak pernah meleset

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 9, penggalan ayat).

Janji Allah pasti benar. Namun, keyakinan itu harus disertai adab dalam berbicara tentang perkara gaib. Kita meyakini apa yang diberitakan Allah dan Rasul-Nya, tetapi tidak boleh memastikan rincian yang tidak diterangkan oleh dalil.

Dalam konteks Surah Al-Kahf ayat 98, Dzulqarnain tidak menyebutkan tanggal tertentu tentang hancurnya penghalang itu. Ia menyatakan kepastian janji Allah tanpa mengaku mengetahui seluruh waktu dan rinciannya.

Inilah keseimbangan iman: yakin terhadap kebenaran wahyu, tetapi rendah hati terhadap keterbatasan pengetahuan manusia.

7. Dalil Al-Qur’an: Ya’juj dan Ma’juj dalam rangkaian ayat berikutnya

Allah Swt. berfirman:

حَتّٰىٓ اِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ وَهُمْ مِّنْ كُلِّ حَدَبٍ يَّنْسِلُوْنَ ۙ ۝٩٦

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ۝٩٧

Artinya:

“Hingga apabila (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), ‘Alangkah celakanya kami! Sungguh, kami benar-benar lengah tentang ini, bahkan kami benar-benar orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 96–97).

Ayat ini menggambarkan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj serta kedekatan janji yang benar. Para ulama menghubungkan ayat-ayat ini dengan pembahasan tentang tanda-tanda akhir zaman.

Ibnu Katsir menjelaskan penggalan:

وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

Artinya:

“Dan mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.”[4]

Ayat ini mengingatkan bahwa peristiwa akhir zaman merupakan bagian dari perkara gaib yang harus dipahami berdasarkan wahyu. Kita tidak boleh menetapkan bahwa bangsa, negara, atau kelompok tertentu pada masa kini adalah Ya’juj dan Ma’juj hanya berdasarkan kemiripan atau dugaan.

Yang lebih penting bagi kehidupan kita adalah mengambil peringatan dari wahyu: jangan lalai dari akhirat, jangan merasa dunia akan berlangsung selamanya, dan jangan menunda tobat.

8. Hadis sahih tentang terbukanya sebagian penghalang Ya’juj dan Ma’juj

Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah terbangun dalam keadaan terkejut dan bersabda:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ.

Kemudian beliau membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

Zainab berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

Artinya:

“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Celakalah orang-orang Arab karena keburukan yang telah dekat. Hari ini telah terbuka dari penghalang Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.”

Zainab bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang saleh?”

Beliau menjawab, “Ya, apabila keburukan telah banyak.” (HR. Al-Bukhari, no. 3346; lihat pula HR. Muslim, no. 2880).[5]

Hadis ini memuat dua pelajaran besar.

Pertama, kita harus meyakini berita Rasulullah ﷺ tentang Ya’juj dan Ma’juj.

Nabi ﷺ memberitakan bahwa sebagian penghalang telah terbuka. Kita menerima berita tersebut sebagai bagian dari perkara gaib yang disampaikan melalui wahyu. Namun, hadis ini tidak menyebutkan bahwa penyerbuan bangsa tertentu dalam sejarah adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.

Kedua, kesalehan pribadi tidak boleh membuat masyarakat merasa aman ketika kerusakan dibiarkan meluas.

Zainab bertanya apakah orang-orang saleh akan tetap terkena kebinasaan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika keburukan meluas, akibatnya dapat menimpa masyarakat secara luas.

Kata الْخَبَثُ dalam hadis ini menunjuk pada keburukan, kerusakan, dan kemungkaran yang meluas. Hadis ini bukan berarti setiap orang saleh otomatis menerima hukuman yang sama dalam arti akhirat. Para ulama membedakan antara musibah yang menimpa suatu masyarakat di dunia dan perhitungan amal setiap individu di hadapan Allah.

Pesan praktisnya jelas: jangan hanya sibuk memperbaiki diri sendiri, tetapi tidak peduli ketika kezaliman dan kerusakan merusak lingkungan sekitar. Kita perlu menasihati, mendidik, membantu, dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan serta dengan cara yang benar.

9. Ulasan ulama tentang hadis “apabila keburukan telah banyak”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani membahas hadis ini dalam Fath al-Bārī, syarah atas Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, pada pembahasan tentang fitnah dan tanda-tanda kiamat.[6]

Pokok pelajaran yang dijelaskan para ulama dari hadis tersebut adalah bahwa kerusakan yang meluas dapat menjadi sebab datangnya bencana yang dampaknya tidak terbatas pada para pelaku kerusakan saja. Karena itu, umat tidak boleh menganggap enteng kemungkaran yang dilakukan secara terbuka dan terus-menerus.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya:

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 25).

Ayat ini memberikan peringatan agar masyarakat tidak membiarkan kezaliman berkembang tanpa upaya memperbaikinya.

Akan tetapi, kita harus berhati-hati: tidak setiap bencana tertentu boleh langsung dinyatakan sebagai hukuman Allah atas dosa kelompok tertentu. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah di balik setiap musibah. Yang diperintahkan kepada kita adalah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, menegakkan keadilan, dan menolong mereka yang terkena dampak musibah.

10. Mengapa Dzulqarnain tidak menyombongkan keberhasilannya?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita bayangkan keadaan setelah pembangunan penghalang itu selesai. Masyarakat yang sebelumnya terancam memperoleh perlindungan. Dzulqarnain berhasil menyelesaikan pekerjaan besar dengan memanfaatkan bahan, tenaga, ilmu, dan kerja sama.

Dalam keadaan seperti itu, manusia mungkin tergoda untuk membanggakan dirinya. Namun, Dzulqarnain justru berkata:

هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْ

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”

Ada tiga sikap yang dapat kita teladani.

Pertama, rendah hati ketika berhasil.

Jangan menganggap keberhasilan sebagai bukti bahwa kita lebih mulia daripada orang lain. Banyak faktor yang memungkinkan keberhasilan: pertolongan Allah, pendidikan, kerja sama, dukungan keluarga, kesempatan, dan usaha orang-orang di sekitar kita.

Kedua, bertanggung jawab atas nikmat.

Jika Allah memberikan kemampuan, gunakan untuk kebaikan. Jangan gunakan kecerdasan untuk menipu, jabatan untuk menindas, atau kekayaan untuk merendahkan orang lain.

Ketiga, sadar bahwa segala sesuatu memiliki batas.

Kekuatan fisik, jabatan, kekayaan, dan kehidupan dunia tidak kekal. Karena itu, jangan menunda amal saleh seolah-olah kita memiliki waktu yang tidak terbatas.

11. Pelajaran sejarah: jangan menyamakan bangsa Mongol dengan Ya’juj dan Ma’juj tanpa dalil

Dalam sebagian uraian sejarah populer, serangan bangsa Mongol pada abad ke-13 dikaitkan dengan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Namun, kaitan seperti ini perlu ditanggapi secara hati-hati.

Secara sejarah, Baghdad ditaklukkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Jengis Khan adalah tokoh Mongol dari generasi sebelumnya dan telah wafat pada tahun 1227 M.[7]

Peristiwa penaklukan Baghdad merupakan peristiwa sejarah yang nyata dan membawa kehancuran besar. Namun, tidak ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa peristiwa itu adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih.

Karena itu, saat menyampaikan ceramah, lebih aman dan ilmiah jika dikatakan:

“Sejarah memperlihatkan bahwa bangsa-bangsa yang kuat sekalipun dapat menimbulkan kehancuran besar ketika kekuasaan tidak dikendalikan oleh keadilan. Peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran tentang bahaya kezaliman dan rapuhnya peradaban. Akan tetapi, kita tidak boleh memastikan bahwa suatu penyerbuan dalam sejarah merupakan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj tanpa dalil yang tegas.”

Kita boleh mengambil ibrah dari sejarah, tetapi tidak boleh menjadikan analogi sejarah sebagai kepastian akidah.

12. Dalil tentang pentingnya keadilan dan tidak berbuat kerusakan

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاۤئِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl [16]: 90).

Ayat ini mengajarkan bahwa membangun masyarakat yang aman tidak cukup dengan kekuatan fisik. Masyarakat juga membutuhkan keadilan, ihsan, kepedulian, dan pengendalian diri.

Penghalang yang kuat dapat melindungi suatu kaum dari ancaman tertentu. Akan tetapi, masyarakat yang dipenuhi ketidakadilan, kebencian, korupsi, dan kezaliman akan menghadapi kerusakan dari dalam.

Maka, marilah kita membangun dua macam perlindungan: perlindungan lahiriah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan dan perlindungan moral melalui iman, keadilan, pendidikan, serta akhlak.

13. Penerapan dalam kehidupan sehari-hari

A. Dalam keluarga

Jadikan rumah sebagai tempat yang aman bagi iman dan akhlak. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik, memberi teladan, mengawasi pergaulan anak dengan bijaksana, serta menanamkan tanggung jawab.

Jangan menunggu anak menghadapi masalah besar baru memberikan perhatian. Perlindungan terbaik sering dimulai dari pendidikan dan pendampingan sejak dini.

B. Dalam pendidikan

Guru dan sekolah hendaknya menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan mendukung perkembangan murid. Peraturan perlu disertai keteladanan dan pembinaan. Ketika terjadi perundungan atau pelanggaran, jangan membiarkannya menjadi kebiasaan.

Perlindungan bukan berarti menutup-nutupi kesalahan. Perlindungan berarti mencegah bahaya, menegakkan aturan secara adil, dan memberi kesempatan kepada murid untuk memperbaiki diri.

C. Dalam masyarakat

Jangan bersikap masa bodoh ketika melihat kezaliman atau kerusakan. Bantu orang yang membutuhkan, tegakkan kebenaran dengan cara yang bijaksana, dan hindari menyebarkan berita yang belum jelas.

Masyarakat yang baik bukanlah masyarakat yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan masyarakat yang mau memperbaiki masalah dengan ilmu, keadilan, dan tanggung jawab.

D. Dalam kehidupan pribadi

Bangunlah benteng iman melalui salat, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, memilih pergaulan yang baik, dan bertobat ketika melakukan kesalahan.

Jangan merasa aman dari dosa hanya karena pernah melakukan banyak kebaikan. Sebaliknya, jangan berputus asa dari rahmat Allah ketika pernah berbuat salah. Teruslah memperbaiki diri selama Allah masih memberikan kesempatan hidup.

14. Renungan: apakah kita hanya membangun benteng di luar diri?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Dzulqarnain membangun penghalang untuk melindungi masyarakat dari ancaman yang datang dari luar. Kita pun memerlukan perlindungan lahiriah dalam kehidupan.

Namun, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: apakah kita sudah membangun perlindungan di dalam hati?

Kita mungkin memiliki rumah yang kuat, tetapi apakah keluarga kita terlindungi dari kebohongan dan pertengkaran? Kita mungkin memiliki sekolah yang tertata, tetapi apakah kita telah membangun budaya jujur dan saling menghormati? Kita mungkin memiliki banyak pengetahuan, tetapi apakah pengetahuan itu membuat kita semakin rendah hati?

Benteng fisik tidak menggantikan iman. Aturan tidak menggantikan keteladanan. Nasihat tidak menggantikan amal nyata.

Karena itu, marilah kita membangun kehidupan dengan seimbang: bekerja keras, menjaga keamanan, menegakkan keadilan, memperkuat iman, dan senantiasa mengakui rahmat Allah.

15. Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

QS. Al-Kahf ayat 98 memberikan pelajaran yang mendalam melalui perkataan Dzulqarnain:

هٰذَا رَحْمَةٌ مِّنْ رَّبِّيْ

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”

Kalimat ini mengajarkan syukur dan kerendahan hati. Dzulqarnain tidak menafikan usaha manusia, tetapi ia tidak memisahkan keberhasilannya dari rahmat Allah.

Kemudian ia berkata:

وَكَانَ وَعْدُ رَبِّيْ حَقًّا

“Dan janji Tuhanku itu benar.”

Kalimat ini mengajarkan keyakinan kepada ketetapan Allah. Apa yang Allah janjikan pasti terjadi sesuai kehendak dan waktu yang ditentukan-Nya.

Maka, jangan sombong ketika berhasil, jangan putus asa ketika menghadapi kesulitan, dan jangan lalai ketika kehidupan terasa aman. Gunakan nikmat Allah untuk membangun kebaikan, menjaga sesama, dan mempersiapkan bekal akhirat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, teguh dalam iman, adil dalam bertindak, dan senantiasa memperbaiki diri.

Doa penutup

اللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى نِعَمِكَ، وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، الْمُعْتَرِفِينَ بِفَضْلِكَ، الْمُتَوَاضِعِينَ لِجَلَالِكَ.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَاحْفَظْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَمُجْتَمَعَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْفَسَادِ وَالظُّلْمِ.

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعِلْمَ النَّافِعَ، وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ، وَالْقَلْبَ الْخَاشِعَ، وَاللِّسَانَ الصَّادِقَ.

اللّٰهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرًا لَنَا مِنَ الدُّنْيَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Catatan kaki dan rujukan kitab

[1] Isma‘il bin ‘Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 98. Petikan Arab yang digunakan berasal dari penjelasan beliau mengenai rahmat bagi manusia dan makna dakka sebagai keadaan yang rata dengan tanah.

[2] Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 98. Lihat pembahasan tentang makna janji Allah dan diratakannya penghalang ketika waktu yang ditetapkan tiba.

[3] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]: 98. Pembahasan mencakup makna dakka dan penjelasan tentang waktu yang dimaksud oleh janji Allah.

[4] Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Anbiya’ [21]: 96–97.

[5] Muhammad bin Isma‘il Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīts al-Anbiyā’, bab tentang kisah Ya’juj dan Ma’juj, hadis no. 3346; Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan wa Asyrāṭ al-Sā‘ah, hadis no. 2880.

[6] Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, syarah hadis tentang terbukanya penghalang Ya’juj dan Ma’juj serta meluasnya keburukan.

[7] Untuk konteks sejarah penaklukan Baghdad, lihat kajian sejarah tentang pengepungan Baghdad tahun 1258 M oleh pasukan Hulagu Khan. Peristiwa tersebut harus dibedakan dari keluarnya Ya’juj dan Ma’juj yang dibahas dalam dalil-dalil akhir zaman.

Catatan ilmiah: Terjemahan kutipan tafsir di atas merupakan terjemahan makna. Nomor halaman dapat berbeda menurut edisi kitab. Untuk penyampaian publik, hindari menyebut bangsa Mongol sebagai Ya’juj dan Ma’juj atau memastikan suatu peristiwa sejarah sebagai pemenuhan tanda akhir zaman tanpa dalil yang tegas.

Tidak ada komentar