JANGAN TERGESA-GESA MENILAI: DI BALIK PERISTIWA ADA HIKMAH
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 71
“JANGAN TERGESA-GESA MENILAI: DI BALIK PERISTIWA ADA HIKMAH”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita lanjutkan tadabbur kita terhadap kisah yang sangat agung dalam Surah Al-Kahf, yaitu perjalanan Nabi Musa عليه السلام bersama Khidr.
Pada ayat sebelumnya, Khidr telah memberikan sebuah syarat kepada Musa:
Jangan bertanya sampai aku sendiri menjelaskan.
Musa menyanggupi.
Tetapi baru saja perjalanan dimulai, datanglah sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan.
Mereka menaiki sebuah kapal.
Kapal itu membawa mereka tanpa meminta upah.
Tetapi ketika kapal sudah berada di tengah laut, Khidr justru merusaknya.
Musa melihat.
Musa terkejut.
Musa tidak tahan.
Lalu keluarlah perkataan:
“Apakah engkau melubanginya sehingga akan menenggelamkan penumpangnya?”
Mengapa Musa bertanya?
Karena secara lahiriah, apa yang dilakukan Khidr tampak membahayakan manusia.
Dan di sinilah kita mendapatkan pelajaran yang sangat dalam:
Manusia sering menilai berdasarkan apa yang terlihat, sedangkan Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik sebuah kejadian.
1. AYAT YANG KITA RENUNGKAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 71
فَانْطَلَقَاۗ حَتّٰٓى اِذَا رَكِبَا فِى السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۗ قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
Artinya:
“Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, ‘Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?’ Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”
Perhatikan kalimat Musa:
أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا
“Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya?”
Kemudian:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا
“Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat besar/berat.”
Musa melihat sebuah tindakan yang secara lahiriah sangat berbahaya.
2. MEREKA NAIK KAPAL TANPA MEMBAYAR
Dalam hadis sahih dijelaskan bahwa mereka berjalan di tepi laut.
Kemudian sebuah kapal lewat.
Mereka meminta agar diizinkan naik.
Para awak kapal mengenali Khidr dan membawa mereka naik tanpa meminta bayaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَانْطَلَقَا يَمْشِيَانِ عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ، فَمَرَّتْ بِهِمْ سَفِينَةٌ، فَكَلَّمُوهُمْ أَنْ يَحْمِلُوهُمْ، فَعَرَفُوا الْخَضِرَ، فَحَمَلُوهُمْ بِغَيْرِ نَوْلٍ.
Artinya:
“Maka keduanya berjalan di tepi laut. Lalu sebuah kapal melewati mereka. Keduanya meminta kepada awak kapal agar membawa mereka. Mereka mengenali Khidr, lalu membawa keduanya tanpa meminta bayaran.”
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan:
فَلَمَّا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ لَمْ يَفْجَأْ مُوسَى إِلَّا وَالْخَضِرُ قَدْ قَلَعَ مِنْهَا لَوْحًا، فَقَالَ لَهُ مُوسَى: قَوْمٌ حَمَلُونَا بِغَيْرِ نَوْلٍ، عَمَدْتَ إِلَى سَفِينَتِهِمْ فَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا؟
Artinya:
“Ketika keduanya telah berada di kapal, Musa tiba-tiba melihat Khidr mencabut sebuah papan dari kapal itu. Musa berkata kepadanya, ‘Orang-orang ini telah membawa kita tanpa meminta bayaran, tetapi engkau justru merusak kapal mereka untuk menenggelamkan para penumpangnya?’”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam kisah Musa dan Khidr).
Jamaah yang dirahmati Allah,
Perhatikan sesuatu yang indah.
Musa tidak hanya melihat kapal.
Musa melihat:
- ada manusia di dalamnya,
- ada orang yang telah berbuat baik,
- mereka telah memberikan tumpangan secara gratis,
- lalu kapal itu justru dirusak.
Secara lahiriah, sangat wajar Musa merasa heran.
3. “لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا” — MUSA MELIHAT BAHAYA YANG NYATA
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
قَالَ لَهُ مُوسَى: أَخَرَقْتَهَا بَعْدَ مَا لَجَجْنَا فِي الْبَحْرِ لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا، لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا، يَقُولُ: لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا عَظِيمًا، وَفَعَلْتَ فِعْلًا مُنْكَرًا.
Artinya:
“Musa berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melubanginya setelah kita berada di tengah laut, sehingga menyebabkan para penumpangnya tenggelam? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang besar dan melakukan perbuatan yang mungkar.’”[^1]
Imam Mujahid menafsirkan إِمْرًا sebagai:
مُنْكَرًا
“sesuatu yang mungkar.”
Sedangkan Qatadah menjelaskannya sebagai:
عَجَبًا
“sesuatu yang mengherankan.”
Ini menunjukkan bahwa Musa bereaksi berdasarkan apa yang tampak di hadapannya.
4. JANGAN TERGESA-GESA MENGANGGAP ORANG LAIN SALAH
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di sinilah ayat ini mulai menyentuh kehidupan kita.
Kadang kita melihat seseorang melakukan sesuatu.
Kita belum tahu alasan lengkapnya.
Kita belum tahu situasinya.
Kita belum tahu apa yang terjadi sebelumnya.
Tetapi kita sudah membuat kesimpulan.
“Dia memang begitu.”
“Dia pasti sengaja.”
“Dia pasti tidak peduli.”
“Dia pasti bermaksud buruk.”
Padahal kita hanya melihat satu potongan peristiwa.
Musa pun melihat sebuah tindakan yang secara lahiriah tampak salah.
Tetapi Musa belum mengetahui rahasianya.
Maka jangan cepat menghakimi.
Jangan cepat memvonis.
Jangan cepat menyimpulkan niat seseorang.
Karena:
Apa yang kita lihat belum tentu seluruh kenyataan.
5. ALLAH MELARANG KITA MENGIKUTI SESUATU TANPA ILMU
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Ayat ini sangat dekat dengan kisah Musa.
Karena mata kita hanya melihat bagian luar.
Telinga kita hanya mendengar sebagian.
Pikiran kita hanya memahami sesuai pengetahuan yang kita miliki.
Sedangkan Allah mengetahui semuanya.
6. TABAYYUN SEBELUM MENILAI
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Hujurat: 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Jamaah,
Perhatikan:
فَتَبَيَّنُوا
“Telitilah, periksalah, pastikanlah.”
Jangan langsung percaya.
Jangan langsung menyebarkan.
Jangan langsung menghukum.
Jangan langsung marah.
Cari tahu.
Tanyakan.
Dengarkan kedua sisi.
Baru kemudian mengambil sikap.
7. TETAPI APAKAH AYAT INI BERARTI KITA HARUS DIAM KETIKA MELIHAT KEMUNGKARAN?
Tidak.
Ini penting sekali.
Jangan sampai kisah Musa dan Khidr dipahami:
“Kalau melihat sesuatu yang salah, jangan menegur karena mungkin ada hikmah tersembunyi.”
Tidak demikian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.
Artinya:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim no. 49).
Maka bagaimana menggabungkan kedua hal ini?
Jawabannya:
Bedakan antara “belum mengetahui seluruh hikmah” dan “jelas mengetahui suatu kemungkaran.”
Jika sesuatu jelas haram berdasarkan syariat, jangan menjadikan kisah Khidr sebagai alasan untuk membiarkannya.
Tetapi jika kita hanya melihat sebuah kejadian yang belum jelas, maka:
tabayyun dahulu.
Inilah keseimbangannya.
8. MUSA MENGINGKARI BERDASARKAN APA YANG TAMPAK
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
فَلَمْ يَمْلِكْ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ نَفْسَهُ أَنْ قَالَ مُنْكِرًا عَلَيْهِ: أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا.
Artinya:
“Musa عليه السلام tidak mampu menahan dirinya untuk tidak mengingkari tindakan tersebut, lalu berkata, ‘Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan para penumpangnya?’”[^2]
Perhatikan ungkapan:
فَلَمْ يَمْلِكْ مُوسَى نَفْسَهُ
“Beliau tidak mampu menahan dirinya.”
Mengapa?
Karena melihat sebuah kapal dirusak di tengah laut adalah perkara yang sangat serius.
Ini bukan sekadar pertanyaan intelektual.
Ada keselamatan manusia yang dipertaruhkan.
9. ORANG BAIK PUN BISA MEMILIKI INFORMASI YANG BERBEDA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita sering menganggap:
“Kalau orang itu baik, pasti dia melihat segala sesuatu sama seperti saya.”
Belum tentu.
Dua orang yang sama-sama ikhlas bisa memiliki informasi yang berbeda.
Dua orang yang sama-sama ingin kebaikan bisa memiliki sudut pandang berbeda.
Dua orang yang sama-sama mencintai seseorang bisa berbeda dalam mengambil keputusan.
Mengapa?
Karena pengetahuan manusia terbatas.
Nabi Musa memiliki ilmu.
Khidr juga memiliki ilmu.
Tetapi Allah memberikan kepada masing-masing pengetahuan yang berbeda.
Dalam hadis tentang kisah ini, Rasulullah ﷺ menggambarkan luasnya ilmu Allah dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah.
Ketika seekor burung mematuk air laut, Khidr menjelaskan:
مَا عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِثْلُ مَا نَقَصَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْ هَذَا الْبَحْرِ.
Artinya:
“Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti air laut yang berkurang karena patukan burung kecil ini.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam kisah Musa dan Khidr).
Subhanallah!
Laut begitu luas.
Burung hanya mematuk sedikit.
Air yang berkurang hampir tidak terlihat.
Begitulah perbandingan ilmu makhluk dengan ilmu Allah.
10. JANGAN SOMBONG DENGAN SEDIKIT PENGETAHUAN
Allah berfirman:
QS. Yusuf: 76
وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ
Artinya:
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
Jamaah,
Seorang guru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui murid.
Seorang murid mungkin mengetahui sesuatu yang tidak diketahui temannya.
Seorang dokter mengetahui sesuatu yang tidak diketahui pasien.
Seorang ahli mengetahui sesuatu yang tidak diketahui masyarakat umum.
Tetapi di atas semua itu:
Allah Maha Mengetahui.
Karena itu semakin banyak ilmu seharusnya semakin banyak tawadhu'.
Bukan semakin sombong.
11. “لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا” — KATA-KATA MUSA MENUNJUKKAN KEPEKAAN TERHADAP BAHAYA
Musa berkata:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا
“Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang besar.”
Ini menunjukkan bahwa seorang muslim tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap keselamatan manusia.
Merusak kapal di tengah laut bukan perkara kecil.
Jika seseorang melihat tindakan yang secara lahiriah dapat membahayakan nyawa manusia, ia tidak boleh bersikap masa bodoh.
Islam sangat menjaga jiwa.
Allah berfirman:
QS. An-Nisa': 29
وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
Artinya:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.”
Maka keselamatan manusia adalah perkara yang serius.
12. HADIS: “TIDAK BOLEH MEMBAHAYAKAN”
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah, no. 2341; hadis ini menjadi salah satu kaidah penting dalam fikih).
Karena itu jangan memahami kisah Khidr secara serampangan.
Khidr bukan sedang mengajarkan:
“Silakan merusak milik orang lain.”
Bukan.
Ada hikmah khusus yang baru dijelaskan setelahnya.
13. DI BALIK KERUSAKAN ITU TERNYATA ADA PENYELAMATAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Inilah yang akan dijelaskan pada ayat berikutnya.
Kita baru akan mengetahui bahwa kapal tersebut milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan ada seorang raja yang merampas setiap kapal yang masih baik.
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf: 79
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا
Artinya:
“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu.”
Perhatikan.
Musa melihat:
kerusakan.
Tetapi di balik kerusakan itu ada:
perlindungan.
Musa melihat:
lubang pada kapal.
Tetapi Allah menjadikan lubang itu sebagai:
sebab keselamatan kapal.
14. TERKADANG SESUATU YANG KITA ANGGAP BURUK TERNYATA MENJADI JALAN KEBAIKAN
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 216
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Inilah salah satu ruh utama kisah Musa dan Khidr.
Allah tahu. Kita tidak tahu.
Tetapi ayat ini bukan berarti setiap musibah pasti langsung dapat kita jelaskan hikmahnya.
Kadang kita tahu hikmahnya.
Kadang kita tidak tahu.
Dan kadang hikmahnya baru terlihat setelah bertahun-tahun.
15. JANGAN MENILAI SELURUH HIDUP HANYA DARI SATU KEJADIAN
Jamaah,
Ada orang yang kehilangan pekerjaan.
Dia berkata:
“Hidup saya hancur.”
Beberapa tahun kemudian ternyata pekerjaan itu menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih baik.
Ada orang yang gagal dalam suatu rencana.
Dia berkata:
“Allah tidak sayang kepada saya.”
Padahal mungkin Allah sedang mengalihkan dirinya dari sesuatu yang lebih buruk.
Ada orang yang mengalami penolakan.
Dia merasa:
“Saya tidak berharga.”
Padahal boleh jadi penolakan itu menjadi jalan menuju kedewasaan.
Tetapi hati-hati.
Kita tidak boleh mengatakan dengan pasti:
“Setiap musibah pasti karena ini.”
Kita tidak mengetahui perkara gaib.
Yang kita katakan adalah:
Allah Maha Bijaksana, dan seorang mukmin boleh berharap ada hikmah di balik apa yang terjadi.
16. JANGAN MENGGUNAKAN “HIKMAH” UNTUK MEMBENARKAN KESALAHAN
Ini penting sekali.
Kisah kapal tidak boleh dijadikan alasan:
“Saya merusak sesuatu karena pasti ada hikmahnya.”
Tidak.
Perbuatan Khidr bukan contoh umum untuk manusia bertindak sesuka hati.
Ia merupakan bagian dari kisah khusus yang Allah sendiri jelaskan dalam wahyu.
Kita tidak boleh mengklaim:
“Saya tahu rahasia Allah.”
“Saya mendapat ilmu gaib.”
“Karena saya punya firasat, saya boleh melakukan sesuatu yang haram.”
Tidak.
Syariat tetap menjadi pedoman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.
Artinya:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka:
hikmah tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar syariat.
17. PELAJARAN UNTUK KEHIDUPAN KELUARGA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kadang seorang ayah melihat anaknya gagal.
Ayah langsung berkata:
“Kamu memang tidak serius.”
Padahal mungkin anak sedang mengalami kesulitan yang belum ia ceritakan.
Kadang seorang ibu melihat anaknya diam.
Langsung berkata:
“Kamu tidak menghormati Ibu.”
Padahal mungkin anak sedang menyimpan masalah.
Kadang suami melihat istrinya diam.
Langsung menyimpulkan:
“Dia sudah tidak peduli.”
Padahal mungkin ia sedang lelah.
Kadang istri melihat suami pulang terlambat.
Langsung berpikir macam-macam.
Padahal belum tentu.
Maka pelajaran dari kisah Musa adalah:
Jangan hanya melihat peristiwa. Carilah penjelasan.
Tanyakan.
Dengarkan.
Pahami.
18. PELAJARAN UNTUK GURU
Seorang guru juga harus belajar dari ayat ini.
Kadang murid melakukan sesuatu yang tampak salah.
Jangan selalu langsung memberi label:
“Anak malas.”
“Anak nakal.”
“Anak tidak punya masa depan.”
Tanyakan:
Mengapa?
Apa yang terjadi?
Apa kesulitannya?
Apa yang belum ia pahami?
Sebab perilaku yang terlihat kadang hanyalah permukaan.
Di balik perilaku seorang anak mungkin ada:
- kesulitan belajar,
- masalah keluarga,
- rasa takut,
- rasa tidak percaya diri,
- kebutuhan untuk didengar,
- atau ketidaktahuan.
Seorang pendidik bukan hanya melihat kesalahan.
Seorang pendidik mencari sebab dan jalan perbaikan.
19. RASULULLAH ﷺ MENGAJARKAN KELEMBUTAN DALAM MENDIDIK
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا.
Artinya:
“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Al-Bukhari no. 69 dan Muslim).
Ibnu Hajar Al-'Asqalani menjelaskan bahwa prinsip ini juga berkaitan dengan cara mendidik:
وَكَذَا تَعَلُّمُ الْعِلْمِ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ بِالتَّدْرِيجِ؛ لِأَنَّ الشَّيْءَ إِذَا كَانَ فِي ابْتِدَائِهِ سَهْلًا حُبِّبَ إِلَى مَنْ يَدْخُلُ فِيهِ.
Artinya:
“Demikian pula pembelajaran ilmu hendaknya dilakukan secara bertahap, karena sesuatu yang dimulai dengan mudah akan membuat orang yang memasukinya menjadi senang kepadanya.”[^3]
Maka guru bukan hanya mengajar materi.
Guru mendidik manusia.
20. JANGAN CEPAT MENYIMPULKAN BAHWA ALLAH TIDAK SAYANG KEPADA KITA
Jamaah,
Ini mungkin pelajaran paling dalam.
Ketika sesuatu yang kita cintai rusak, kita bertanya:
“Ya Allah, mengapa?”
Ketika rencana gagal:
“Ya Allah, mengapa?”
Ketika seseorang pergi:
“Ya Allah, mengapa?”
Ketika doa belum terwujud:
“Ya Allah, mengapa?”
Kisah kapal mengajarkan:
Tidak semua “mengapa” langsung mendapatkan jawabannya.
Musa sendiri harus menunggu penjelasan.
Demikian pula kita.
Kadang Allah menjelaskan hikmahnya segera.
Kadang setelah beberapa waktu.
Kadang setelah bertahun-tahun.
Dan mungkin ada hikmah yang baru kita pahami di akhirat.
21. “ALLAH MENGETAHUI, SEDANGKAN KITA TIDAK MENGETAHUI”
Mari kita ulangi firman Allah:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Inilah kalimat yang harus menjadi obat bagi hati.
Ketika kita belum memahami:
Allah tahu.
Ketika kita kecewa:
Allah tahu.
Ketika kita bingung:
Allah tahu.
Ketika kita menangis:
Allah tahu.
Ketika manusia tidak memahami kita:
Allah tahu.
Karena itu tawakal bukan berarti:
“Saya mengerti semuanya.”
Tawakal berarti:
“Saya belum mengerti semuanya, tetapi saya percaya Allah Mahabijaksana.”
22. TIGA SIKAP KETIKA MENGHADAPI SESUATU YANG BELUM KITA PAHAMI
PERTAMA — JANGAN TERGESA-GESA MENILAI
لَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Jangan mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
KEDUA — TABAYYUN
فَتَبَيَّنُوا
“Periksalah kebenarannya.”
KETIGA — BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
Inilah tiga sikap seorang mukmin:
Tidak gegabah.
Tidak mudah percaya.
Tidak mudah berprasangka.
Dan tidak kehilangan kepercayaan kepada Allah.
23. PENUTUP: JANGAN HANYA MELIHAT LUBANG PADA KAPAL
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bayangkan kembali kapal itu.
Musa melihat:
sebuah kapal yang dilubangi.
Yang terlihat adalah:
kerusakan.
Yang tampak adalah:
bahaya.
Yang dirasakan adalah:
kekhawatiran.
Tetapi beberapa ayat kemudian kita mengetahui:
lubang itu justru menjadi sebab kapal diselamatkan dari perampasan.
Subhanallah.
Maka boleh jadi dalam hidup kita ada “lubang kapal”.
Ada sesuatu yang rusak.
Ada rencana yang gagal.
Ada pintu yang tertutup.
Ada kesempatan yang hilang.
Ada perjalanan yang berubah.
Dan kita berkata:
“Mengapa Allah melakukan ini?”
Jawabannya mungkin belum kita ketahui.
Tetapi kisah Musa dan Khidr mengajarkan:
Jangan buru-buru menyimpulkan akhir cerita ketika Allah baru memperlihatkan satu halaman.
Kita baru membaca satu halaman.
Allah mengetahui seluruh buku.
Kita melihat satu kejadian.
Allah mengetahui seluruh perjalanan.
Kita melihat sebab.
Allah mengetahui akibat.
Kita melihat sekarang.
Allah mengetahui masa depan.
Maka:
Jangan tergesa-gesa menilai.
Jangan berbicara tanpa ilmu.
Jangan meninggalkan tabayyun.
Jangan membenarkan kemungkaran dengan alasan “mungkin ada hikmah”.
Dan jangan kehilangan husnuzan kepada Allah ketika hikmah belum terlihat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang memiliki ilmu, tetapi tetap tawadhu.
Memiliki akal, tetapi tetap tunduk kepada wahyu.
Memiliki pengetahuan, tetapi tidak sombong.
Melihat sesuatu yang salah, tetapi mengingkarinya dengan ilmu dan hikmah.
Dan ketika menghadapi sesuatu yang belum kita pahami, kita mampu berkata:
“اللَّهُ أَعْلَمُ”
“Allah lebih mengetahui.”
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَيَقِينًا صَادِقًا.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَحْكُمُونَ عَلَى النَّاسِ بِغَيْرِ عِلْمٍ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا التَّثَبُّتَ وَالتَّبَيُّنَ، وَالْحِلْمَ وَالصَّبْرَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ.
اللَّهُمَّ إِذَا أَرَيْتَنَا مَا نَكْرَهُ فَارْزُقْنَا الصَّبْرَ، وَإِذَا مَنَعْتَنَا شَيْئًا فَارْزُقْنَا الرِّضَا، وَإِذَا أَخَّرْتَ عَنَّا شَيْئًا فَارْزُقْنَا الْيَقِينَ بِحِكْمَتِكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا يَسْمَعُونَ الْحَقَّ فَيَتَّبِعُونَهُ، وَيَرَوْنَ الْخَطَأَ فَيُنْكِرُونَهُ بِالْحِكْمَةِ، وَإِذَا جَهِلُوا سَأَلُوا، وَإِذَا لَمْ يَعْلَمُوا قَالُوا: اللَّهُ أَعْلَمُ.
رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا وَهُدًى وَتُقًى وَصَلَاحًا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[^1]: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 71. Ath-Thabari menjelaskan bahwa إِمْرًا bermakna perkara besar dan perbuatan yang mungkar.
[^2]: Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Tafsir QS. Al-Kahf: 71. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Musa mengingkari tindakan Khidr karena secara lahiriah tindakan tersebut tampak dapat menyebabkan tenggelamnya para penumpang.
[^3]: Ibn Hajar Al-'Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, syarah hadis “يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا”. Penjelasan beliau menekankan pentingnya bertahap dalam pembelajaran dan kelembutan dalam pendidikan.
[^4]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Tafsir QS. Al-Kahf: 71. Al-Qurthubi meriwayatkan detail kisah kapal berdasarkan hadis sahih dan menjelaskan reaksi Musa terhadap tindakan Khidr.
[^5]: Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb Aḥādīts al-Anbiyā’, hadis no. 3401, kisah Nabi Musa dan Khidr. Hadis tersebut menjadi sumber utama penjelasan perjalanan Musa bersama Khidr.
[^6]: Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang kisah Musa dan Khidr, termasuk perumpamaan ilmu Allah dengan air laut yang dipatuk seekor burung. Riwayat tersebut juga dicantumkan dalam pembahasan tafsir Al-Qurthubi.
[^7]: Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 49, dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, tentang kewajiban mengingkari kemungkaran sesuai kemampuan.
[^8]: Sunan Ibn Mājah, Kitāb al-Aḥkām, hadis no. 2341, hadis لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ. Hadis ini menjadi salah satu dasar kaidah penting tentang larangan menimbulkan bahaya.
[^9]: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, hadis no. 69, dan Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang “يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا”. Hadis ini menjadi dasar penting dalam prinsip kelembutan dan kemudahan dalam pendidikan dan dakwah.
Post a Comment