Kasih Sayang, Kesucian Jiwa, dan Ketakwaan:Tiga Pilar Kepribadian Mukmin
MATERI CERAMAH TAFSIR AL-QUR’AN
SURAH MARYAM AYAT 13
Kasih Sayang, Kesucian Jiwa, dan Ketakwaan:
Tiga Pilar Kepribadian Mukmin
Dilengkapi dalil Al-Qur’an, hadis, penjelasan ulama, dan catatan rujukan
A. Muqaddimah Ceramah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah SWT. Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan adalah dengan mempelajari Al-Qur’an, memahami kandungannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan ini, kita akan membahas kandungan Surah Maryam ayat 13, yang menjelaskan tiga sifat mulia Nabi Yahya عليه السلام, yaitu kasih sayang, kesucian jiwa, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketiga sifat ini sangat penting untuk membangun kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan umat yang diridai Allah.
B. Ayat Utama: Surah Maryam Ayat 13
وَحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةً ۖ وَكَانَ تَقِيًّا
Terjemahan: “Dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam [19]: 13)
1. Makna kata ḥanānan
Kata حَنَانًا (ḥanānan) bermakna kasih sayang, kelembutan hati, dan belas kasih. Allah menganugerahkan kepada Nabi Yahya hati yang penuh kasih, sehingga beliau tidak bersikap kasar terhadap sesama, melainkan memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain.
Kasih sayang dalam Islam bukan sekadar perasaan yang tersimpan di dalam hati. Kasih sayang harus diwujudkan melalui tindakan nyata: membantu orang miskin, menyantuni anak yatim, menghormati orang tua, mendidik anak dengan kelembutan, serta tidak merendahkan orang yang sedang mengalami kesulitan.
2. Makna kata zakāh
Kata زَكَاةً (zakāh) dalam ayat ini dipahami oleh para ahli tafsir sebagai kesucian dan kebaikan jiwa. Dalam konteks Nabi Yahya, maknanya mencakup kesucian dari dosa, kebersihan hati, serta kemuliaan akhlak.
Kesucian jiwa bukan berarti seseorang merasa dirinya paling suci. Justru, orang yang sungguh-sungguh menjaga kesucian hati akan semakin berhati-hati terhadap kesombongan, riya, kedengkian, kebohongan, dan perbuatan yang mendatangkan murka Allah.
3. Makna kata taqiyyan
Kata تَقِيًّا (taqiyyan) berarti orang yang bertakwa. Takwa bukan hanya terlihat dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari ketaatan dalam seluruh aspek kehidupan.
Orang bertakwa menjaga salatnya, kejujurannya, lisannya, amanahnya, hubungan keluarganya, dan hak-hak orang lain. Ia berusaha menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, baik ketika dilihat manusia maupun ketika sendirian.
Pelajaran utama ayat ini: kasih sayang membimbing hubungan kita dengan sesama, kesucian jiwa menjaga kualitas batin, dan ketakwaan mengarahkan seluruh kehidupan agar sesuai dengan kehendak Allah.
C. Penjelasan Para Ulama Tafsir
1. Tafsir Imam ath-Thabari: kasih sayang adalah anugerah Allah
Imam Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir ath-Thabari menjelaskan makna firman Allah:
وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا
Terjemahan: Dan kasih sayang dari sisi Kami.
Rujukan: Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Maryam: 13.
Beliau meriwayatkan penjelasan Qatadah:
رَحْمَةٌ مِنْ عِنْدِنَا
Terjemahan: Rahmat dari sisi Kami.
Ath-Thabari juga menyebutkan penjelasan Mujahid:
تَعَطُّفًا مِنْ رَبِّهِ عَلَيْهِ
Terjemahan: Kasih kelembutan dari Tuhannya kepada dirinya.
Ulasan ceramah: Kasih sayang bukan sekadar hasil pendidikan keluarga atau pengaruh lingkungan. Ia juga merupakan nikmat Allah yang harus kita syukuri dan pelihara. Ada orang yang memiliki harta berlimpah, tetapi sulit tergerak membantu orang miskin. Ada orang yang berilmu tinggi, tetapi kata-katanya melukai perasaan orang lain. Karena itu, kita perlu berdoa agar Allah melembutkan hati kita dan mewujudkan kasih sayang dalam perbuatan.
2. Tafsir Imam Ibnu Katsir: kasih sayang dan kesucian harus berjalan bersama
Ibnu Katsir menjelaskan kata ḥanānan dengan makna kasih sayang dan kelembutan, sedangkan zakāh mengandung makna kesucian dari keburukan dan dosa.
فَالْحَنَانُ هُوَ الْمَحَبَّةُ فِي شَفَقَةٍ وَمَيْلٍ
Terjemahan: Hanan adalah kasih sayang yang disertai kepedulian dan kecenderungan hati.
Rujukan: Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam: 13.
فَالزَّكَاةُ الطَّهَارَةُ مِنَ الدَّنَسِ وَالْآثَامِ وَالذُّنُوبِ
Terjemahan: Zakāh adalah kesucian dari kotoran, pelanggaran, dan dosa.
Ulasan ceramah: Pribadi yang mulia tidak cukup hanya memiliki hati yang lembut. Ia juga harus menjaga kebersihan moralnya. Kasih sayang tanpa prinsip kebenaran bisa berubah menjadi pembiaran terhadap kemaksiatan. Sebaliknya, keinginan menegakkan kebenaran tanpa kasih sayang bisa berubah menjadi kekasaran. Orang tua, guru, pemimpin, dan pendakwah perlu menyeimbangkan kasih sayang dengan kebenaran dan kebijaksanaan.
3. Tafsir Imam al-Qurthubi: kesucian jiwa, keberkahan, dan ketaatan
وَالزَّكَاةُ التَّطْهِيرُ وَالْبَرَكَةُ وَالتَّنْمِيَةُ فِي وُجُوهِ الْخَيْرِ وَالْبِرِّ
Terjemahan: Zakāh bermakna penyucian, keberkahan, dan pertumbuhan dalam berbagai bentuk kebaikan dan kebajikan.
Rujukan: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam: 13.
وَكَانَ تَقِيًّا أَيْ مُطِيعًا لِلَّهِ تَعَالَى
Terjemahan: Dan dia adalah orang yang bertakwa, yakni orang yang taat kepada Allah Ta‘ala.
Ulasan ceramah: Kesucian jiwa bukan sekadar meninggalkan dosa. Kesucian harus menghasilkan pertumbuhan kebaikan. Orang yang menjaga hatinya semestinya semakin jujur, amanah, rendah hati, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain.
4. Tafsir Syekh as-Sa‘di: takwa berarti menjalankan perintah dan meninggalkan larangan
أَيْ فَاعِلًا لِلْمَأْمُورِ، تَارِكًا لِلْمَحْظُورِ
Terjemahan: Yaitu melaksanakan perkara yang diperintahkan dan meninggalkan perkara yang dilarang.
Rujukan: As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. Maryam: 13.
Ulasan ceramah: Takwa mencakup dua hal sekaligus: melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Takwa harus terlihat dalam ibadah, pekerjaan, pendidikan, keluarga, pergaulan, dan hubungan sosial.
D. Dalil Al-Qur’an tentang Kasih Sayang
1. Surah Ali ‘Imran ayat 159: kelembutan merupakan rahmat Allah
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ
Terjemahan: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159, kutipan bagian ayat).
Penjelasan: Dalam keluarga, kelembutan membuat anggota keluarga merasa aman untuk berbicara. Dalam pendidikan, kelembutan membantu peserta didik menerima nasihat. Dalam dakwah, kelembutan membuka jalan bagi orang untuk memahami kebenaran. Kelembutan bukan berarti membenarkan semua tindakan; kebenaran tetap disampaikan dengan hikmah.
2. Surah at-Taubah ayat 128: Rasulullah ﷺ sangat menyayangi umatnya
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Terjemahan: “Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, serta penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. at-Taubah [9]: 128).
Penerapan: Orang tua memperhatikan keselamatan agama dan akhlak anak; guru memperhatikan karakter peserta didik; tokoh masyarakat memperhatikan warga yang kesulitan; pendakwah berharap orang mendapat petunjuk, bukan dipermalukan.
3. Surah al-Anbiya ayat 107: rahmat merupakan misi kerasulan
وَمَا أَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Terjemahan: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).
Ulasan: Seorang Muslim hendaknya menghadirkan manfaat dan mencegah kezaliman sesuai kemampuannya. Kasih sayang diwujudkan dengan membantu orang sakit, menjaga lingkungan, menyantuni orang miskin, menghormati tetangga, dan memperlakukan sesama dengan adil.
E. Dalil Sunnah tentang Kasih Sayang dan Kelembutan
1. Hadis tentang menyayangi makhluk
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Terjemahan: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Zat yang di langit akan menyayangi kalian.”
Rujukan: HR. Abu Dawud no. 4941 dan at-Tirmidzi no. 1924; at-Tirmidzi menilai hadis ini hasan sahih.
Penjelasan: Kasih sayang mencakup kepedulian kepada manusia dan makhluk lain, termasuk hewan. Contohnya memberi makanan kepada orang kelaparan, membantu tetangga yang terkena musibah, menjenguk orang sakit, menjaga hewan, dan memperbaiki hubungan keluarga.
2. Hadis tentang keutamaan kelembutan
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
Terjemahan: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.”
Rujukan: HR. Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, no. 2594 dalam penomoran yang umum digunakan.
Ulasan: Nasihat yang benar dapat kehilangan manfaat apabila disampaikan dengan hinaan dan cacian. Orang tua menasihati tanpa merendahkan anak; guru membimbing dengan sabar; pihak yang berselisih mencari penyelesaian adil tanpa memperbesar permusuhan. Kelembutan tidak berarti membiarkan kezaliman.
F. Dalil Al-Qur’an tentang Kesucian Jiwa
1. Surah asy-Syams ayat 9–10: menyucikan jiwa
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا
Terjemahan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams [91]: 9–10).
طَهَّرَ نَفْسَهُ مِنَ الذُّنُوبِ، وَنَقَّاهَا مِنَ الْعُيُوبِ، وَرَقَّاهَا بِطَاعَةِ اللَّهِ
Terjemahan: Ia menyucikan jiwanya dari dosa, membersihkannya dari berbagai kekurangan, dan meningkatkan kualitasnya melalui ketaatan kepada Allah.
Rujukan: As-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. asy-Syams: 9.
Ulasan: Penyakit hati yang perlu diwaspadai antara lain riya, hasad, takabur, ujub, dan dendam. Cara membersihkan jiwa ialah memperbanyak istigfar, memperbaiki niat, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, bersedekah, dan melakukan evaluasi diri.
2. Surah al-Baqarah ayat 197: takwa adalah bekal terbaik
وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰى وَاتَّقُوْنِ يٰٓأُولِي الْأَلْبَابِ
Terjemahan: “Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. al-Baqarah [2]: 197, kutipan bagian ayat).
Penjelasan: Harta, jabatan, dan kedudukan duniawi tidak dapat menggantikan ketakwaan. Semua itu dapat menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan benar. Orang bertakwa berusaha memperoleh rezeki halal, menjaga amanah, menunaikan hak keluarga, membantu sesama, dan mempersiapkan amal akhirat.
G. Dalil Sunnah tentang Kebersihan Hati dan Takwa
1. Allah menilai hati dan amal manusia
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ
Terjemahan: “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian.”
Rujukan: HR. Muslim no. 2564, bagian dari hadis tentang hati dan amal.
Ulasan: Penampilan luar bukan satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Kebersihan hati, keikhlasan, dan amal saleh penting. Namun, hati yang baik harus tercermin dalam ketaatan dan perbuatan yang benar.
2. Takwa bersemayam di dalam hati dan tercermin dalam perilaku
التَّقْوَى هَاهُنَا
Terjemahan: “Takwa itu ada di sini.” Rasulullah ﷺ mengucapkannya sambil menunjuk ke arah dada beliau sebanyak tiga kali.
Rujukan: HR. Muslim no. 2564.
Pelajaran: Takwa dalam hati bukan alasan mengabaikan kewajiban lahiriah. Ketakwaan yang benar mendorong seseorang menjaga hak Allah dan hak sesama manusia, tidak merasa lebih mulia karena status sosial, kekayaan, keturunan, atau kedudukan, serta menghindari sikap merendahkan orang lain.
H. Hubungan Tiga Sifat Nabi Yahya dalam Kehidupan
1. Kasih sayang — ḥanānan
Hubungan dengan sesama: membantu yang membutuhkan, menghormati orang tua, mendidik anak dengan kelembutan, menjaga silaturahmi, dan tidak menyakiti orang lain.
2. Kesucian jiwa — zakāh
Hubungan dengan diri sendiri: menjaga keikhlasan, membersihkan hati dari kesombongan, menghindari kedengkian, bertobat ketika bersalah, dan memperbaiki akhlak.
3. Ketakwaan — taqiyyan
Hubungan dengan Allah: menjaga salat, mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, mencari rezeki halal, dan menunaikan amanah.
Ketiga sifat tersebut saling melengkapi. Kasih sayang tanpa kebersihan jiwa dapat tercampur dengan kepentingan pribadi. Kesucian jiwa tanpa ketaatan yang nyata dapat berhenti sebagai pengakuan. Ketakwaan yang benar mendorong manusia untuk semakin bersih hatinya dan semakin baik perlakuannya kepada sesama.
I. Keteladanan Nabi Yahya dan Pelajaran Pendidikan
يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍ وَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
Terjemahan: “Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (QS. Maryam [19]: 12).
Pelajaran pendidikan: (1) Ilmu harus membentuk akhlak; anak yang cerdas perlu dibimbing agar ilmunya digunakan untuk kebaikan. (2) Disiplin harus disertai kasih sayang, keteladanan, nasihat, dan pendampingan. (3) Keberhasilan pendidikan diukur secara menyeluruh, termasuk kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, dan kepedulian.
J. Langkah Praktis Membentuk Pribadi Mulia
• Membiasakan berbicara dengan santun dan menghindari ucapan yang menyakiti.
• Menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu orang yang membutuhkan.
• Membaca Al-Qur’an dan memahami maknanya secara rutin.
• Melakukan muhasabah sebelum tidur: memeriksa kesalahan dan memperbaikinya.
• Menjaga salat serta berusaha meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah.
• Meminta maaf ketika berbuat salah dan memaafkan orang lain jika memungkinkan.
• Mendidik keluarga dengan keteladanan, kasih sayang, dan ketegasan yang adil.
K. Kesimpulan Ceramah
Jamaah yang dirahmati Allah SWT. Surah Maryam ayat 13 memberikan gambaran yang sangat indah tentang kepribadian Nabi Yahya عليه السلام. Allah menganugerahkan kepadanya kasih sayang, kesucian, dan ketakwaan.
Pertama, jadilah pribadi yang penuh kasih sayang. Jangan biarkan kesibukan, kekayaan, jabatan, atau perbedaan pendapat membuat kita kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Kedua, bersihkanlah hati dan jiwa. Jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan, tetapi melupakan kejujuran, keikhlasan, kerendahan hati, dan kebersihan akhlak.
Ketiga, tingkatkan ketakwaan. Jalankan perintah Allah dan tinggalkan larangan-Nya. Jadikan agama sebagai pedoman dalam beribadah, bekerja, mendidik keluarga, dan bermasyarakat.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang lembut hatinya, bersih jiwanya, dan teguh ketakwaannya. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang penuh kasih sayang, anak-anak kita tumbuh dalam kebaikan, dan masyarakat kita hidup dalam keadilan serta persaudaraan.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً، وَنُفُوسًا زَكِيَّةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً، وَتَقْوَى صَادِقَةً، وَأَخْلَاقًا حَسَنَةً.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالْحَسَدِ وَالْكِبْرِ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْمُتَّقِينَ، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَمُجْتَمَعَنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami hati yang penyayang, jiwa yang suci, amal yang saleh, ketakwaan yang tulus, dan akhlak yang baik. Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari riya, kedengkian, dan kesombongan. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh dan bertakwa. Perbaikilah keluarga, keturunan, dan masyarakat kami. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Amin ya Rabbal ‘alamin.
L. Catatan Kaki dan Daftar Kitab Rujukan
1. 1. Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam ayat 13. Tautan penelusuran: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura19-aya13.html
2. 2. Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam ayat 13. Tautan penelusuran: https://quran.com/19:13/tafsirs/ar-tafsir-ibn-kathir
3. 3. Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam ayat 13. Tautan penelusuran: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura19-aya13.html
4. 4. Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Maryam ayat 13.
5. 5. Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, tafsir QS. asy-Syams ayat 9.
6. 6. Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‘ats, Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Adab, hadis no. 4941.
7. 7. Muhammad bin Isa at-Tirmidzi, Al-Jāmi‘/Sunan at-Tirmidzi, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah, hadis no. 1924.
8. 8. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah wa al-Ādāb, hadis no. 2564 tentang hati, takwa, dan larangan merendahkan sesama.
9. 9. Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah wa al-Ādāb, hadis tentang keutamaan kelembutan, no. 2594 dalam penomoran yang umum digunakan.
Catatan ilmiah: Kutipan perkataan para mufasir di atas merupakan kutipan singkat dalam bahasa Arab beserta terjemahannya. Uraian aplikatif dalam materi ini adalah penjelasan dan pengembangan untuk kebutuhan ceramah, bukan kutipan langsung dari kitab-kitab tersebut. Nomor halaman dapat berbeda menurut edisi dan penerbit; untuk penerbitan ilmiah, cocokkan kembali teks, edisi, jilid, dan halaman kitab yang digunakan.
Post a Comment