KEKUASAAN, KEADILAN, DAN PILIHAN UNTUK BERBUAT BAIK

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 86

KEKUASAAN, KEADILAN, DAN PILIHAN UNTUK BERBUAT BAIK

Firman Allah سبحانه وتعالى

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَّوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا ۝

“Hingga ketika dia telah sampai ke tempat matahari terbenam, dia melihatnya terbenam di dalam mata air yang hitam berlumpur, dan dia mendapati suatu kaum di sana. Kami berfirman, ‘Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan terhadap mereka.’”
(QS. Al-Kahf [18]: 86)


1. PEMBUKAAN: KEKUASAAN ADALAH UJIAN

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada ayat sebelumnya Allah menceritakan bahwa Dzulqarnain diberi kekuasaan, kemampuan, ilmu, dan berbagai sarana.

Allah berfirman:

اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

“Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.”

Kemudian:

فَاَتْبَعَ سَبَبًا

“Maka dia pun menempuh suatu jalan.”

Sekarang pada ayat 86, perjalanan itu membawa Dzulqarnain sampai ke arah barat.

Di sana dia bertemu sebuah kaum.

Dan di sinilah ujian kekuasaan dimulai.

Karena memiliki kekuasaan adalah satu perkara, tetapi menggunakan kekuasaan dengan benar adalah perkara yang jauh lebih berat.

Banyak orang mampu memimpin.

Tetapi tidak semuanya mampu berlaku adil.

Banyak orang mampu menghukum.

Tetapi tidak semuanya mampu menahan diri.

Banyak orang mampu memerintah.

Tetapi tidak semuanya mampu menggunakan kekuasaan untuk kebaikan.

Dzulqarnain diberi kekuasaan, tetapi kekuasaan itu tidak menjadikannya sombong.

Justru kekuasaan menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan kebaikan.


2. MEMAHAMI KALIMAT “مَغْرِبَ الشَّمْسِ”

Allah berfirman:

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ

“Hingga ketika dia telah sampai ke tempat matahari terbenam.”

Yang dimaksud adalah tempat paling barat yang dicapai dalam perjalanan Dzulqarnain.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Dzulqarnain menempuh jalan sampai ke batas wilayah yang dapat ditempuh manusia dari arah barat. Adapun mencapai tempat matahari secara fisik di langit bukanlah maksud ayat tersebut.

Ini penting.

Al-Qur'an tidak sedang mengajarkan bahwa Dzulqarnain berjalan sampai menyentuh matahari.


3. APA MAKNA “عَيْنٍ حَمِئَةٍ”?

Allah berfirman:

وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ

“Dia melihatnya terbenam di dalam mata air yang hitam berlumpur.”

Kata:

حَمِئَةٍ

berasal dari حَمَأَة, yaitu lumpur atau endapan tanah berwarna gelap.

Para ulama qira'at juga menyebut adanya bacaan:

عَيْنٍ حَامِيَةٍ

yang bermakna:

“mata air yang panas.”

Ath-Thabari menjelaskan bahwa kedua bacaan tersebut memiliki makna yang dapat diterima: satu menggambarkan sifat airnya yang berlumpur, sedangkan yang lain menggambarkan sifatnya yang panas. Bahkan keduanya tidak harus dipertentangkan.

Al-Qurthubi juga menjelaskan adanya dua bacaan tersebut dan maknanya.


4. APAKAH MATAHARI BENAR-BENAR MASUK KE DALAM LAUT?

Ini pertanyaan yang sering muncul.

Apakah Al-Qur'an mengatakan matahari benar-benar masuk ke dalam mata air?

Jawabannya: tidak demikian cara memahami ayat ini.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Dzulqarnain melihat matahari seolah-olah terbenam di tempat tersebut, sebagaimana seseorang yang berada di tepi laut melihat matahari seakan-akan tenggelam ke dalam laut.

Al-Qurthubi juga menjelaskan bahwa maksudnya bukan Dzulqarnain sampai kepada benda matahari dan menyentuhnya.

Maka kita dapat memberikan contoh sederhana:

Ketika kita berdiri di pantai dan melihat matahari terbenam di ufuk laut, kita mengatakan:

“Matahari tenggelam di laut.”

Padahal kita memahami bahwa itu adalah gambaran penglihatan dari posisi kita.

Demikian pula ayat ini.


5. PELAJARAN PENTING: JANGAN MELAMPAUI BATAS WAHYU

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada pelajaran ilmiah yang sangat penting.

Tafsir Tahlili yang kita baca menyebut wilayah seperti Tunisia, Maroko, dan pantai Afrika sebelah barat.

Namun Al-Qur'an sendiri tidak menyebut nama-nama tersebut.

Maka ketika menyampaikan ceramah, sebaiknya kita mengatakan:

“Sebagian penafsiran atau riwayat menyebut demikian.”

Bukan:

“Allah memastikan Dzulqarnain melewati Tunisia dan Maroko.”

Karena seorang muslim harus membedakan:

wahyu yang pasti

dengan

pendapat tafsir atau riwayat sejarah.

Allah berfirman:

QS. Al-Isra': 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Ayat ini mengajarkan integritas ilmiah.

Kalau kita tidak tahu, katakan:

“Allah lebih mengetahui.”

Itu bukan kelemahan.

Itu justru ilmu.


6. DZULQARNAIN BERTEMU SEBUAH KAUM

Allah berfirman:

وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا

“Dan dia mendapati suatu kaum di sana.”

Dzulqarnain sekarang berhadapan dengan manusia.

Inilah titik penting.

Perjalanan geografis berubah menjadi ujian kepemimpinan.

Dia memiliki kekuatan.

Dia memiliki tentara.

Dia memiliki kekuasaan.

Dia dapat melakukan sesuatu terhadap kaum tersebut.

Lalu datanglah ketetapan:

قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ

“Kami berfirman, ‘Wahai Zulkarnain!’”


7. DUA PILIHAN: MENGHUKUM ATAU BERBUAT BAIK

Allah berfirman:

اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا

“Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Inilah ujian seorang penguasa:

Ketika engkau mampu menghukum, apakah engkau akan menghukum dengan adil atau mengikuti hawa nafsu?

Allah memberikan Dzulqarnain pilihan antara:

تُعَذِّبَ

“menghukum”

dan:

تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا

“mengambil jalan kebaikan terhadap mereka.”

Tetapi ayat berikutnya menunjukkan bahwa Dzulqarnain tidak memilih secara sembarangan.

Dia membedakan antara orang yang zalim dan orang yang beriman dan beramal saleh.


8. KEKUASAAN HARUS BERDIRI DI ATAS KEADILAN

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 90

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Perhatikan dua kata:

الْعَدْلِ — keadilan

الْإِحْسَانِ — kebaikan

Pemimpin membutuhkan keduanya.

Kalau hanya keras tanpa keadilan, menjadi kezaliman.

Kalau hanya lembut tanpa ketegasan, bisa menjadi kelemahan.

Islam mengajarkan:

adil ketika harus tegas, dan ihsan ketika kebaikan lebih tepat.


9. JANGAN MEMAHAMI AYAT SEBAGAI IZIN MEMBUNUH SEMUA ORANG YANG TIDAK BERIMAN

Ini bagian yang sangat penting dalam menyampaikan ayat.

Tafsir yang Bapak sertakan menyebut bahwa Dzulqarnain diberi pilihan untuk menghukum mereka apabila menolak tauhid.

Namun jangan menyampaikan ayat ini dengan pemahaman sederhana:

“Setiap orang kafir boleh dibunuh.”

Itu tidak benar sebagai kaidah umum.

Kisah Dzulqarnain harus dipahami dalam konteks kekuasaan dan ketetapan khusus yang Allah berikan kepadanya, kemudian dijelaskan oleh ayat berikutnya tentang siapa yang zalim dan siapa yang beriman serta beramal saleh.

Kita tidak boleh mengubah kisah seorang penguasa dalam Al-Qur'an menjadi legitimasi bagi individu untuk melakukan kekerasan.

Hukum, penegakan keadilan, dan peperangan memiliki aturan syariat, otoritas, sebab, batas, dan pertanggungjawaban yang tidak boleh diserahkan kepada hawa nafsu individu.


10. ISLAM MEMERINTAHKAN KEADILAN BAHKAN KEPADA ORANG YANG TIDAK KITA SUKAI

Allah berfirman:

QS. Al-Ma'idah: 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Perhatikan kalimat:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا

“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil.”

Ini prinsip yang sangat tinggi.

Keadilan tidak boleh tergantung kepada:

  • suka atau tidak suka,
  • kaya atau miskin,
  • keluarga atau bukan,
  • teman atau lawan,
  • kelompok sendiri atau kelompok lain.

Keadilan harus karena Allah.


11. NABI ﷺ MELARANG KEZALIMAN

Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis qudsi:

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi.”

(HR. Muslim)

Perhatikan:

فَلَا تَظَالَمُوا

“Maka janganlah kalian saling menzalimi.”

Ini berlaku dalam:

  • keluarga,
  • sekolah,
  • masyarakat,
  • organisasi,
  • pekerjaan,
  • pemerintahan,
  • perdagangan.

Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar peluang dia menzalimi.

Karena itu semakin besar pula kebutuhan kepada takwa.


12. KEKUATAN SEORANG MUKMIN BUKAN UNTUK KESOMBONGAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.”

Kemudian Nabi ﷺ mengajarkan:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Bersungguh-sungguhlah dalam perkara yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”[^1]

Hadis ini sangat sesuai dengan kisah Dzulqarnain.

Allah memberinya kekuatan.

Tetapi kekuatan tersebut bukan untuk kesombongan.

Kekuatan adalah untuk:

  • melindungi,
  • menegakkan keadilan,
  • menyelesaikan masalah,
  • membangun,
  • membimbing,
  • dan menebarkan kebaikan.

13. KEKUASAAN BUKAN KESEMPATAN MEMUASKAN EGO

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada orang ketika tidak memiliki kekuasaan, dia terlihat sangat lembut.

Tetapi setelah diberi jabatan, berubah.

Ketika menjadi atasan, berubah.

Ketika menjadi ketua, berubah.

Ketika memiliki uang, berubah.

Ketika memiliki pengaruh, berubah.

Mengapa?

Karena kekuasaan membuka apa yang sebelumnya tersembunyi di dalam hati.

Dzulqarnain berbeda.

Semakin besar kekuasaannya, semakin tampak keadilannya.

Inilah teladan.


14. PEMIMPIN HARUS MEMBEDAKAN ANTARA TEGAS DAN ZALIM

Tegas tidak sama dengan zalim.

Tegas:

memberikan hukuman sesuai aturan.

Zalim:

menghukum karena dendam pribadi.

Tegas:

menjaga disiplin.

Zalim:

mempermalukan manusia.

Tegas:

mengatakan kesalahan dengan jujur.

Zalim:

menghancurkan kehormatan orang lain.

Tegas:

memberikan konsekuensi.

Zalim:

memberikan hukuman melebihi kesalahan.

Maka seorang pemimpin harus selalu bertanya:

“Apakah keputusan saya lahir dari keadilan atau dari emosi?”


15. GURU JUGA MEMILIKI “KEKUASAAN”

Jamaah,

Jangan kira ayat ini hanya berbicara tentang raja.

Seorang guru memiliki kekuasaan terhadap kelas.

Guru dapat:

  • memberi nilai,
  • memberi teguran,
  • memberi konsekuensi,
  • menentukan aturan,
  • memengaruhi masa depan peserta didik.

Karena itu guru harus meneladani prinsip Dzulqarnain:

kekuatan untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan emosi.

Ketika murid salah:

jangan langsung berpikir,

“Bagaimana saya menghukum dia?”

Tetapi tanyakan:

“Bagaimana saya memperbaiki dia?”

Inilah:

تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا

“Mengambil jalan kebaikan terhadap mereka.”


16. ORANG TUA JUGA HARUS ADIL

Ayah dan ibu memiliki kekuasaan dalam rumah.

Tetapi anak bukan objek pelampiasan.

Allah berfirman:

QS. At-Tahrim: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Perhatikan:

Allah tidak mengatakan:

“Kuasailah keluargamu.”

Tetapi:

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ

“Jagalah dirimu dan keluargamu.”

Maka kepemimpinan keluarga adalah perlindungan dan pendidikan, bukan sekadar kekuasaan.


17. DAKWAH HARUS MENGANDUNG HIKMAH

Ketika Dzulqarnain bertemu suatu kaum, persoalannya bukan hanya:

“Bagaimana mengalahkan mereka?”

Tetapi:

“Bagaimana menghadapi mereka?”

Ini sejalan dengan firman Allah:

QS. An-Nahl: 125

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.”

Maka dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran.

Dakwah juga membutuhkan:

  • hikmah,
  • cara yang baik,
  • kesabaran,
  • ilmu,
  • keteladanan.

18. “حُسْنًا” — MEMILIH JALAN KEBAIKAN

Allah menggunakan ungkapan:

أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

“Engkau mengambil jalan kebaikan terhadap mereka.”

Perhatikan kata:

حُسْنًا

Sesuatu yang baik.

Maka ketika Allah memberikan kita kekuasaan, mari bertanya:

Apakah kehadiran saya membuat orang menjadi lebih baik?

Kalau menjadi kepala sekolah:

apakah sekolah menjadi lebih baik?

Kalau menjadi guru:

apakah murid menjadi lebih baik?

Kalau menjadi orang tua:

apakah anak menjadi lebih baik?

Kalau menjadi ketua:

apakah anggota menjadi lebih baik?

Kalau menjadi orang kaya:

apakah orang di sekitar merasakan manfaat?

Kalau menjadi orang berilmu:

apakah ilmu kita membuat orang semakin dekat kepada Allah?

Itulah ukuran keberhasilan.


19. KEKUASAAN ADALAH UJIAN SYUKUR

Allah berfirman:

QS. Ibrahim: 7

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”

Syukur terhadap kekuasaan bukan hanya berkata:

“Alhamdulillah saya punya jabatan.”

Syukur yang sebenarnya adalah:

menggunakan jabatan untuk kebaikan.

Syukur terhadap ilmu:

mengajarkannya.

Syukur terhadap harta:

menggunakannya di jalan halal.

Syukur terhadap kesehatan:

menggunakannya dalam ketaatan.

Syukur terhadap pengaruh:

menggunakannya untuk maslahat.


20. JANGAN MENJADI FIR'AUN KETIKA MENDAPAT KEKUASAAN

Al-Qur'an memberikan contoh kebalikan Dzulqarnain:

Fir'aun.

Allah berfirman:

QS. Al-Qashash: 4

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya terpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dzulqarnain dan Fir'aun sama-sama memiliki kekuasaan.

Tetapi hasilnya berbeda.

Fir'aun: kekuasaan melahirkan kesombongan dan kerusakan.

Dzulqarnain: kekuasaan menjadi sarana keadilan dan kemaslahatan.

Jadi bukan sekadar:

“Apakah kita punya kekuasaan?”

Pertanyaannya:

“Kekuasaan itu membuat kita menjadi siapa?”


21. KEKUASAAN YANG BESAR HARUS DISERTAI KERENDAHAN HATI

Allah berfirman:

QS. Al-Qashash: 83

تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ini sangat relevan.

Allah tidak melarang manusia memiliki kekuasaan.

Yang tercela adalah:

عُلُوًّا

kesombongan dan keinginan meninggikan diri,

serta:

فَسَادًا

kerusakan.

Maka:

Kekuasaan bukan masalah. Kesombonganlah masalahnya.

Kekayaan bukan masalah. Kesombongan dan penyalahgunaannya yang menjadi masalah.

Ilmu bukan masalah. Kesombongan dengan ilmu yang menjadi masalah.


22. PELAJARAN BESAR DARI AYAT 86

Dari ayat ini kita dapat mengambil sekurang-kurangnya 10 pelajaran:

1. Kekuasaan adalah amanah.

Bukan hak untuk bertindak sesuka hati.

2. Kemampuan harus digunakan.

Dzulqarnain tidak berhenti setelah mendapatkan sarana.

3. Pemimpin akan diuji.

Ujian terbesar bukan ketika tidak punya kekuasaan, tetapi ketika memiliki kekuasaan.

4. Keadilan harus menjadi prinsip.

Tidak boleh menghukum karena dendam.

5. Hukuman memiliki tempatnya.

Islam tidak meniadakan ketegasan.

6. Kebaikan juga memiliki tempatnya.

Tidak semua masalah diselesaikan dengan hukuman.

7. Dakwah membutuhkan hikmah.

Tujuan bukan sekadar memenangkan perdebatan.

8. Jangan menyampaikan sesuatu sebagai fakta wahyu jika tidak ditegaskan wahyu.

Ini adalah adab ilmiah.

9. Jangan menyalahgunakan kisah Al-Qur'an untuk membenarkan kekerasan pribadi.

Kisah Dzulqarnain adalah bagian dari ketetapan dan kepemimpinannya, bukan lisensi bagi individu untuk menghukum orang lain.

10. Ukuran keberhasilan pemimpin adalah maslahat.

Bukan seberapa banyak orang takut kepadanya.


23. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Jika Allah memberikan saya kekuasaan, apakah saya akan adil?

Jika Allah memberikan saya harta:

apakah saya akan berbagi?

Jika Allah memberikan saya ilmu:

apakah saya akan mengajarkan?

Jika Allah memberikan saya jabatan:

apakah saya akan amanah?

Jika Allah memberikan saya murid:

apakah saya akan mendidik dengan kasih sayang?

Jika Allah memberikan saya keluarga:

apakah saya akan melindungi mereka?

Jika Allah memberikan saya pengaruh:

apakah saya akan menggunakannya untuk kebaikan?

Karena pada akhirnya:

semua yang Allah berikan akan dipertanggungjawabkan.


24. PENUTUP: JADILAH KUAT, TETAPI TETAP ADIL

Jamaah yang dimuliakan Allah,

QS. Al-Kahf ayat 86 mengajarkan kepada kita:

Dzulqarnain memiliki kekuasaan.

Tetapi dia tidak menjadi sombong.

Dia memiliki kemampuan.

Tetapi tidak sewenang-wenang.

Dia memiliki kekuatan.

Tetapi kekuatannya tidak digunakan untuk memuaskan hawa nafsu.

Dia bertemu sebuah kaum.

Dia menghadapi pilihan.

Dan kisah itu membawa kita kepada satu prinsip:

Kekuatan harus tunduk kepada kebenaran.

Kekuasaan harus tunduk kepada keadilan.

Ilmu harus tunduk kepada takwa.

Harta harus tunduk kepada syariat.

Jabatan harus tunduk kepada amanah.

Dan seorang mukmin ketika memiliki kekuatan berkata dalam hatinya:

“Ini bukan milikku sepenuhnya.”

“Ini amanah Allah.”

Karena itu mari kita berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ قُوَّةً فِي الْحَقِّ، وَعَدْلًا فِي الْحُكْمِ، وَإِخْلَاصًا فِي الْعَمَلِ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kekuatan dalam membela kebenaran, keadilan dalam mengambil keputusan, dan keikhlasan dalam beramal.”

اللَّهُمَّ إِذَا مَنَحْتَنَا قُوَّةً فَلَا تَجْعَلْهَا سَبَبًا لِظُلْمِ عِبَادِكَ، وَإِذَا مَنَحْتَنَا عِلْمًا فَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْكِبْرِ، وَإِذَا مَنَحْتَنَا مَالًا فَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْغَفْلَةِ.

“Ya Allah, apabila Engkau memberikan kami kekuatan, jangan jadikan kekuatan itu sebab kami menzalimi hamba-hamba-Mu. Apabila Engkau memberikan kami ilmu, jangan jadikan ilmu itu sebab kesombongan. Apabila Engkau memberikan kami harta, jangan jadikan harta itu sebab kelalaian.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عِبَادًا إِذَا قَدَرُوا عَدَلُوا، وَإِذَا أُعْطُوا شَكَرُوا، وَإِذَا ابْتُلُوا صَبَرُوا، وَإِذَا أَخْطَؤُوا اسْتَغْفَرُوا.

“Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba-Mu yang ketika memiliki kekuasaan berlaku adil, ketika diberi nikmat bersyukur, ketika diuji bersabar, dan ketika berbuat salah segera memohon ampun.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE

[^1]: Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, hadis no. 2664. Hadis ini menjadi dasar penting tentang kekuatan seorang mukmin, mengambil sebab, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak bersikap lemah.

[^2]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:86. Ath-Thabari menjelaskan dua qira'at: حَمِئَةٍ dengan makna tempat yang memiliki lumpur/endapan hitam dan حَامِيَةٍ dengan makna panas. Beliau menilai kedua makna tersebut dapat diterima dan tidak saling bertentangan.

[^3]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:86. Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Dzulqarnain mencapai batas wilayah yang dapat ditempuh dari arah barat dan melihat matahari seolah-olah terbenam di tempat tersebut.

[^4]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:86. Al-Qurthubi membahas perbedaan qira'at حَمِئَةٍ dan حَامِيَةٍ, serta penjelasan bahwa maksud ayat bukanlah Dzulqarnain mencapai benda matahari secara fisik.

[^5]: Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:86. Penafsiran ayat menempatkan perjalanan Dzulqarnain dalam konteks penggunaan kemampuan yang Allah berikan dan pelaksanaan kepemimpinan terhadap masyarakat yang ditemuinya.

[^6]: QS. An-Nahl [16]:90 — prinsip umum bahwa Allah memerintahkan الْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ (keadilan dan ihsan).

[^7]: QS. Al-Ma'idah [5]:8 — prinsip bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh menyebabkan seseorang meninggalkan keadilan.

[^8]: QS. Al-Qashash [28]:83 — larangan mencari kesombongan dan kerusakan di bumi serta penegasan bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang bertakwa.

Tidak ada komentar