Allah Memberi Sarana, Kita Wajib Menempuh Jalan Ikhtiar
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 85
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia pun menempuh suatu jalan.”
Tema:
Allah Memberi Sarana, Kita Wajib Menempuh Jalan Ikhtiar
A. PEMBUKAAN
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada manusia yang banyak memiliki kemampuan, tetapi tidak bergerak.
Ada yang memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya.
Ada yang memiliki kesempatan, tetapi tidak memanfaatkannya.
Ada yang memiliki harta, tetapi tidak menggunakannya untuk kebaikan.
Ada yang memiliki jabatan, tetapi tidak menjalankan amanah.
Ada yang memiliki teknologi, tetapi justru menggunakannya untuk kemaksiatan.
Padahal Allah telah memberikan kepadanya “sabab”—jalan, sarana, kemampuan, kesempatan, ilmu, dan berbagai sebab untuk mencapai tujuan.
Allah kemudian menggambarkan Dzulqarnain dengan kalimat yang sangat singkat:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia pun menempuh suatu jalan.”
Perhatikan!
Allah tidak hanya mengatakan bahwa Dzulqarnain memiliki sarana.
Tetapi Allah mengatakan:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
Ia mengikuti, menempuh, menggunakan sebab itu.
Inilah pelajaran besar:
Sarana yang tidak digunakan tidak akan menghasilkan perubahan.
Ilmu harus diikuti amal.
Kesempatan harus diikuti tindakan.
Kemampuan harus diikuti tanggung jawab.
Dan tawakal kepada Allah harus berjalan bersama ikhtiar.
B. MEMAHAMI AYAT
Allah berfirman:
QS. Al-Kahf: 85
فَاَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia pun menempuh suatu jalan.”
Ayat ini sangat pendek.
Hanya tiga kata:
فَـ — maka/lalu,
أَتْبَعَ — dia mengikuti atau menempuh,
سَبَبًا — suatu sebab/jalan/sarana.
Tetapi tiga kata ini mengandung prinsip kehidupan yang sangat besar.
Pada ayat sebelumnya Allah berfirman:
QS. Al-Kahf: 84
اِنَّا مَكَّنَّا لَهٗ فِى الْاَرْضِ وَاٰتَيْنٰهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا ۙ
“Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.”
Setelah Allah memberikan:
مَكَّنَّا — kekuasaan dan kemampuan,
dan
سَبَبًا — berbagai sarana,
maka Dzulqarnain melakukan:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia menempuh jalan itu.”
Jadi terdapat rangkaian:
Allah memberi kemampuan → Allah memberi sarana → manusia menggunakan sarana → tujuan ditempuh dengan izin Allah.
C. APA MAKNA “سَبَبًا”?
Kata السَّبَبُ secara bahasa berarti sesuatu yang menjadi jalan atau sarana untuk mencapai sesuatu yang lain.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “sabab” dalam ayat ini mencakup berbagai sarana yang Allah berikan kepada Dzulqarnain.
Tafsir Ath-Thabari
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa “sabab” berkaitan dengan sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan, termasuk ilmu yang dengannya seseorang mengetahui jalan menuju apa yang hendak dicapainya.[^1]
Beliau menyebut:
مَا يَتَسَبَّبُ إِلَيْهِ وَهُوَ الْعِلْمُ بِهِ
“Sesuatu yang menjadi sarana untuk mencapai tujuan, yaitu pengetahuan tentangnya.”[^1]
Artinya, sarana tidak selalu berupa benda.
Ilmu adalah sarana.
Pengalaman adalah sarana.
Perencanaan adalah sarana.
Kekuatan adalah sarana.
Teknologi adalah sarana.
Jabatan adalah sarana.
Harta adalah sarana.
Kesehatan adalah sarana.
Tetapi semuanya adalah amanah dari Allah.
D. IBNU KATSIR: DZULQARNAIN TIDAK HANYA DIBERI KEKUASAAN
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan kepada Dzulqarnain kekuasaan dan kemampuan yang besar serta berbagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuannya.[^2]
Di antara penjelasan pentingnya adalah bahwa Allah memberikan kepadanya berbagai sebab dan jalan untuk mencapai apa yang dia kehendaki.
Maka Dzulqarnain bukan tipe manusia yang berkata:
“Saya sudah punya kemampuan.”
Tetapi dia berkata dengan tindakan:
“Kalau Allah telah memberikan kemampuan, saya akan menggunakannya.”
Inilah perbedaan antara potensi dan prestasi.
Potensi adalah apa yang Allah titipkan.
Prestasi adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan titipan tersebut.
E. AS-SA'DI: KEMAMPUAN HARUS DIIKUTI PENGGUNAAN SEBAB
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di memberikan pelajaran yang sangat indah ketika menafsirkan ayat ini.
Beliau menjelaskan bahwa Allah memberikan Dzulqarnain berbagai sarana yang mengantarkannya kepada tujuan. Namun sarana itu harus digunakan dengan benar.[^3]
Beliau menjelaskan:
فَإِذَا اجْتَمَعَتِ الْقُدْرَةُ عَلَى السَّبَبِ الْحَقِيقِيِّ وَالْعَمَلُ بِهِ حَصَلَ الْمَقْصُودُ
“Apabila kemampuan terhadap sebab yang sebenarnya disertai dengan menggunakannya, tercapailah tujuan.”[^3]
Ini luar biasa.
Kadang masalah kita bukan karena Allah tidak memberikan jalan.
Tetapi karena kita tidak mau berjalan.
Kita meminta hasil, tetapi tidak menempuh sebab.
Kita berdoa ingin berhasil, tetapi tidak mau belajar.
Kita berdoa ingin sehat, tetapi tidak menjaga diri.
Kita ingin anak saleh, tetapi tidak mendidiknya.
Kita ingin murid berprestasi, tetapi tidak membimbingnya.
Kita ingin kehidupan berubah, tetapi tidak mengubah kebiasaan.
Padahal:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia pun menempuh suatu jalan.”
F. IKHTIAR TIDAK BERTENTANGAN DENGAN TAWAKAL
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada orang yang salah memahami tawakal.
Dia berkata:
“Saya tawakal kepada Allah.”
Tetapi sebenarnya dia tidak mau berusaha.
Padahal tawakal bukan berarti meninggalkan sebab.
Tawakal adalah hati bersandar kepada Allah sementara anggota badan menempuh sebab yang dibenarkan syariat.
Nabi ﷺ bersabda:
Hadis tentang mengambil sebab
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”[^4]
Perhatikan urutannya:
احْرِصْ
“Bersemangatlah.”
Kemudian:
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Mintalah pertolongan kepada Allah.”
Kemudian:
وَلَا تَعْجِزْ
“Jangan menjadi lemah.”
Jadi Islam tidak mengajarkan:
usaha tanpa Allah.
Dan Islam juga tidak mengajarkan:
doa tanpa usaha.
Tetapi:
berusaha sambil meminta pertolongan Allah.
G. DZULQARNAIN: CONTOH MANUSIA YANG BERGERAK
Ayat 85 menggambarkan karakter Dzulqarnain.
Allah memberikan kepadanya kekuasaan.
Allah memberikan sarana.
Allah memberikan kemampuan.
Kemudian dia bergerak.
Ini adalah karakter seorang pemimpin.
Seorang pemimpin tidak hanya mempunyai jabatan.
Dia mempunyai visi.
Dia melihat masalah.
Dia mencari jalan.
Dia menggunakan kemampuan.
Dia mengambil keputusan.
Dan dia bergerak untuk menyelesaikan persoalan.
Karena itu ayat ini sangat relevan bagi:
- pemimpin,
- guru,
- orang tua,
- pengusaha,
- pelajar,
- santri,
- dai,
- dan siapa pun yang diberi amanah.
H. ILMU ADALAH “سَبَب”
Jamaah sekalian,
Salah satu “sabab” terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah ilmu.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 9
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Ilmu adalah jalan.
Tetapi ilmu yang tidak diamalkan belum sempurna manfaatnya.
Karena itu ulama mengatakan bahwa ilmu seharusnya melahirkan amal.
Kita jangan hanya bertanya:
“Apa yang saya ketahui?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang sudah saya lakukan dengan apa yang saya ketahui?”
Kita tahu salat itu wajib.
Apakah kita menjaga salat?
Kita tahu ghibah itu dosa.
Apakah kita menjaga lisan?
Kita tahu sedekah itu mulia.
Apakah kita mau berbagi?
Kita tahu Al-Qur'an adalah petunjuk.
Apakah kita membacanya?
Inilah makna:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
Mengetahui jalan, kemudian menempuhnya.
I. JANGAN MENUNGGU SEMPURNA UNTUK BERBUAT BAIK
Ada orang berkata:
“Nanti kalau ilmu saya sudah banyak, saya akan mulai.”
Tidak.
Belajarlah sambil mengamalkan apa yang sudah benar-benar kita ketahui.
Ada yang berkata:
“Nanti kalau sudah kaya, saya akan bersedekah.”
Belum tentu.
Mulailah dengan apa yang ada.
Ada yang berkata:
“Nanti kalau anak saya besar, baru saya ajari agama.”
Jangan.
Pendidikan dimulai sejak dini.
Ada yang berkata:
“Nanti kalau sudah tua, saya akan bertaubat.”
Tidak ada jaminan umur.
Allah berfirman:
QS. Al-Hadid: 21
سَابِقُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
“Berlomba-lombalah kamu mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seperti luas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang besar.”
Perhatikan:
سَابِقُوا
“Berlomba-lombalah!”
Artinya:
bergerak.
Jangan terlalu banyak menunda.
J. SARANA BISA MENJADI NIKMAT ATAU FITNAH
Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah memberi manusia berbagai sarana.
Tetapi sarana itu bisa menjadi:
1. Jalan menuju kebaikan
atau
2. Jalan menuju keburukan.
Contohnya teknologi.
Handphone bisa menjadi:
- sarana membaca Al-Qur'an,
- belajar,
- berdakwah,
- mencari ilmu,
- bekerja.
Tetapi bisa juga menjadi:
- pintu pornografi,
- fitnah,
- ghibah,
- perjudian,
- penipuan,
- kecanduan.
Berarti masalahnya bukan hanya:
“Apakah saya mempunyai sarana?”
Tetapi:
“Untuk apa saya menggunakan sarana yang Allah berikan?”
K. KEKUASAAN ADALAH AMANAH
Allah memberikan Dzulqarnain kekuasaan.
Namun kekuasaan bukan berarti seseorang bebas melakukan apa saja.
Allah berfirman:
QS. Al-Anfal: 28
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
Kalau harta adalah ujian,
maka jabatan juga ujian.
Kalau anak adalah amanah,
maka murid yang dipercayakan kepada guru juga amanah.
Kalau kekuasaan adalah pemberian Allah,
maka kekuasaan harus digunakan untuk keadilan.
L. DZULQARNAIN TIDAK BERHENTI PADA KEKUASAAN
Ada pelajaran penting dari susunan kisah ini.
Allah berfirman:
مَكَّنَّا لَهُ
“Kami memberi kedudukan kepadanya.”
Lalu:
وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
“Kami memberikan kepadanya berbagai sarana.”
Kemudian:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia menempuh jalan.”
Jadi:
Pemberian Allah → tanggung jawab manusia.
Semakin besar kemampuan,
semakin besar pula tanggung jawab.
Semakin luas ilmu,
semakin besar amanah untuk mengajarkannya.
Semakin tinggi jabatan,
semakin besar tanggung jawab terhadap rakyat atau orang yang dipimpin.
Semakin banyak harta,
semakin besar kesempatan untuk berinfak.
Semakin luas pengaruh,
semakin besar kewajiban menjaga pengaruh tersebut dari kebatilan.
M. BUKAN HANYA BERDOA, TETAPI MENEMPUH SEBAB
Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang sangat jelas.
Ketika hendak melakukan perjalanan, seseorang tidak mengatakan:
“Saya tawakal, jadi tidak perlu mempersiapkan kendaraan.”
Tidak.
Persiapan adalah bagian dari ikhtiar.
Ketika hendak menghadapi musuh, Nabi ﷺ menyiapkan strategi.
Ketika sakit, manusia diperintahkan mencari pengobatan.
Ketika ingin memperoleh ilmu, seseorang harus belajar.
Ketika ingin memperoleh rezeki, seseorang harus bekerja dengan cara yang halal.
Inilah keseimbangan Islam:
الدُّعَاءُ مَعَ الْعَمَلِ
Doa bersama amal.
التَّوَكُّلُ مَعَ الْأَخْذِ بِالْأَسْبَابِ
Tawakal bersama mengambil sebab.
N. TETAPI JANGAN MENYEMBAH SEBAB
Namun ada keseimbangan kedua.
Jangan sampai kita bergantung kepada sebab dan melupakan Allah.
Misalnya:
“Saya berhasil karena kepandaian saya.”
“Saya kaya karena kerja keras saya.”
“Saya sembuh karena dokter.”
“Saya sukses karena relasi saya.”
Benarkah?
Semua itu adalah sebab.
Tetapi siapa yang memberikan kemampuan untuk bekerja?
Siapa yang memberikan kesehatan?
Siapa yang memberikan kecerdasan?
Siapa yang membuka jalan?
Siapa yang menciptakan manusia yang membantu kita?
Allah.
Karena itu ketika memperoleh nikmat, seorang mukmin berkata sebagaimana perkataan Nabi Sulaiman:
QS. An-Naml: 40
قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ۖ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ
“Dia berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa kufur, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.’”
Ini prinsip penting:
Gunakan sebab, tetapi jangan bergantung kepada sebab.
Gunakan dokter, tetapi hati bergantung kepada Allah.
Gunakan pekerjaan, tetapi rezeki diyakini berasal dari Allah.
Gunakan ilmu, tetapi jangan sombong dengan ilmu.
Gunakan jabatan, tetapi jangan merasa menjadi Tuhan.
O. TENTANG PERJALANAN DZULQARNAIN KE ARAH BARAT
Ayat 85 sendiri hanya menyebut:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia menempuh suatu jalan.”
Ayat berikutnya menjelaskan bahwa perjalanan itu berlanjut hingga mencapai tempat terbenamnya matahari menurut pandangan manusia:
QS. Al-Kahf: 86
حَتّٰٓى اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَّوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا
“Hingga ketika dia telah sampai ke tempat matahari terbenam, dia melihatnya terbenam di dalam mata air yang hitam berlumpur, dan dia mendapati suatu kaum di sana. Kami berfirman, ‘Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan terhadap mereka.’”
Penting untuk dipahami:
Ayat ini tidak mengharuskan kita memahami bahwa matahari secara hakiki masuk ke dalam sebuah mata air.
Ungkapan tersebut menggambarkan apa yang terlihat oleh Dzulqarnain dari tempat ia berada, sebagaimana seseorang yang berdiri di tepi laut melihat matahari seolah-olah tenggelam di cakrawala laut.
Karena itu, jangan menjadikan ayat ini sebagai dasar untuk klaim geografis yang tidak ditegaskan Al-Qur'an.
Demikian pula, Al-Qur'an tidak menyebut nama negara modern yang dilalui Dzulqarnain.
Maka kita berhenti pada batas yang ditetapkan wahyu.
P. JANGAN MEMAKSAKAN DETAIL SEJARAH YANG TIDAK PASTI
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ini juga pelajaran ilmiah dari ayat ini.
Kita harus membedakan:
Apa yang ditegaskan Al-Qur'an
dengan
Apa yang merupakan dugaan sejarah.
Al-Qur'an memastikan bahwa Dzulqarnain:
- diberi kekuasaan,
- diberi berbagai sarana,
- menempuh jalan,
- melakukan perjalanan ke arah barat,
- bertemu suatu kaum,
- dan memimpin dengan hukum yang adil.
Adapun:
- tepatnya siapa Dzulqarnain secara sejarah,
- lokasi persis perjalanan,
- nama negara modern yang dilewati,
- detail geografis lainnya,
tidak semuanya dijelaskan secara pasti dalam Al-Qur'an.
Maka seorang muslim harus memiliki adab ilmiah:
Jika Allah tidak menjelaskan secara pasti, jangan kita pastikan secara pasti.
Q. APA YANG HARUS KITA LAKUKAN DENGAN “سَبَب” KITA?
Sekarang mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Allah memberi kita apa?
Allah memberi kita:
mata.
Apa yang kita gunakan untuk melihat?
telinga.
Apa yang kita dengarkan?
akal.
Apa yang kita pikirkan?
waktu.
Untuk apa kita gunakan?
harta.
Ke mana kita belanjakan?
ilmu.
Apa yang kita lakukan dengannya?
jabatan.
Untuk siapa kita gunakan?
teknologi.
Untuk kebaikan atau kemaksiatan?
Inilah pertanyaan dari QS. Al-Kahf ayat 85.
R. “سَبَب” UNTUK GURU
Bagi seorang guru, “sabab” itu bisa berupa:
- ilmu,
- buku,
- pengalaman,
- teknologi,
- metode pembelajaran,
- media,
- waktu,
- komunikasi,
- keteladanan.
Jangan hanya memiliki perangkat pembelajaran.
Gunakan.
Jangan hanya memiliki ilmu.
Ajarkan.
Jangan hanya membuat administrasi.
Jadikan pembelajaran benar-benar memberi perubahan kepada peserta didik.
Karena seorang guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi.
Guru sedang menggunakan “sabab” yang Allah berikan untuk membentuk manusia.
S. “سَبَب” UNTUK ORANG TUA
Orang tua juga diberi berbagai sebab:
- rumah,
- waktu,
- kasih sayang,
- nasihat,
- teladan,
- pendidikan,
- doa.
Maka jangan hanya berkata:
“Semoga anak saya menjadi anak saleh.”
Tetapi tempuh sebabnya.
Ajak salat.
Bacakan Al-Qur'an.
Berikan teladan.
Dengarkan masalahnya.
Ajarkan adab.
Berikan lingkungan yang baik.
Doakan.
Karena pendidikan anak membutuhkan doa sekaligus ikhtiar.
T. “سَبَب” UNTUK ANAK MUDA
Wahai anak-anak muda,
Allah memberikan kalian:
- usia,
- kesehatan,
- tenaga,
- kecerdasan,
- teknologi,
- kesempatan belajar.
Jangan habiskan semuanya untuk sesuatu yang tidak berguna.
Gunakan masa muda sebelum datang masa tua.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang banyak manusia yang tertipu oleh dua nikmat:
Hadis
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.”[^5]
Maka jangan sampai ketika kesehatan hilang kita berkata:
“Seandainya dahulu saya gunakan kesehatan untuk kebaikan.”
Dan jangan sampai ketika kesempatan hilang kita berkata:
“Seandainya dahulu saya gunakan waktu dengan baik.”
Hari ini adalah sabab.
Gunakan sebelum ia pergi.
U. RUMUS KEHIDUPAN DARI QS. AL-KAHF 84–85
Kita bisa mengambil sebuah rumus sederhana:
1. Allah memberikan kemampuan
مَكَّنَّا لَهُ
“Kami memberi kedudukan/kemampuan kepadanya.”
2. Allah memberikan sarana
وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
“Kami memberikan kepadanya berbagai sarana.”
3. Manusia wajib bergerak
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Maka dia menempuh jalan.”
4. Hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Jadi:
Kenali nikmat → gunakan sarana → tempuh jalan → berdoa → bertawakal → bersabar → serahkan hasil kepada Allah.
V. JANGAN TAKUT MEMULAI
Kadang kita tidak memulai karena takut gagal.
Tetapi Dzulqarnain memberikan pelajaran:
jalan harus ditempuh.
Kita tidak tahu seluruh perjalanan.
Kita hanya perlu mengambil langkah yang benar berikutnya.
Seorang pelajar tidak langsung menjadi ahli.
Dia mulai dari membaca.
Seorang guru tidak langsung sempurna.
Dia terus belajar.
Seorang pengusaha tidak langsung besar.
Dia memulai dari usaha kecil.
Seorang dai tidak langsung menjadi ulama.
Dia belajar, membaca, memahami, dan berdakwah sesuai kemampuannya.
Yang penting:
Jangan berhenti hanya karena perjalanan masih panjang.
W. PENUTUP: “فَأَتْبَعَ سَبَبًا”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ayat ini pendek.
Tetapi kalau kita renungkan, ia seakan-akan berkata kepada kita:
Allah sudah memberikanmu jalan.
Maka berjalanlah.
Allah sudah memberikanmu ilmu.
Maka amalkanlah.
Allah sudah memberikanmu kesehatan.
Maka gunakanlah untuk kebaikan.
Allah sudah memberikanmu waktu.
Maka jangan sia-siakan.
Allah sudah memberikanmu harta.
Maka manfaatkan untuk kebaikan.
Allah sudah memberikanmu teknologi.
Maka gunakan sebagai sarana dakwah dan ilmu.
Allah sudah memberikanmu amanah.
Maka tunaikan dengan jujur.
Allah sudah memberikanmu kesempatan.
Maka jangan terus menunda.
Karena kehidupan tidak berubah hanya dengan keinginan.
Kita membutuhkan doa.
Kita membutuhkan tawakal.
Tetapi kita juga harus:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
“Menempuh jalan yang telah Allah bukakan.”
Dan setelah kita menempuh jalan itu, jangan sombong ketika berhasil.
Katakan:
هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي
“Ini adalah karunia Tuhanku.”
Jangan putus asa ketika gagal.
Katakan:
Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Jangan berhenti berusaha.
Jangan meninggalkan doa.
Jangan menyembah sebab.
Dan jangan meninggalkan sebab dengan alasan tawakal.
Berjalanlah dengan ikhtiar.
Bersandarlah kepada Allah.
Gunakan sebab.
Serahkan hasil kepada Allah.
Itulah salah satu pesan besar dari:
فَأَتْبَعَ سَبَبًا
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِاسْتِعْمَالِ نِعَمِكَ فِي طَاعَتِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
“Ya Allah, berilah kami taufik untuk menggunakan nikmat-nikmat-Mu dalam ketaatan kepada-Mu. Bantulah kami untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَعَمَلًا صَالِحًا.
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah manfaat kepada kami dengan ilmu yang telah Engkau ajarkan, dan tambahkanlah kepada kami ilmu serta amal saleh.”
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَفِي أَعْمَارِنَا، وَفِي أَمْوَالِنَا، وَفِي عِلْمِنَا، وَفِي أَعْمَالِنَا.
“Ya Allah, berkahilah waktu kami, umur kami, harta kami, ilmu kami, dan amal-amal kami.”
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
“Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[^1]: Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–85. Ath-Thabari menjelaskan sabab sebagai sesuatu yang menjadi sarana menuju tujuan, termasuk pengetahuan tentang jalan tersebut.
[^2]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–85. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan Dzulqarnain kekuasaan besar dan berbagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuannya.
[^3]: Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84–85. Penekanannya adalah bahwa kemampuan terhadap suatu sebab harus disertai penggunaan sebab tersebut untuk mencapai tujuan.
[^4]: HR. Muslim, Shahīh Muslim, Kitāb al-Qadar, hadis tentang nasihat Nabi ﷺ kepada Ibn Abbas: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.”
[^5]: HR. al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, Kitāb ar-Riqāq, hadis tentang dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.
[^6]: Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:84. Al-Qurthubi menjelaskan makna sabab secara bahasa sebagai sesuatu yang menjadi jalan untuk sampai kepada sesuatu yang lain, lalu makna tersebut digunakan secara lebih luas untuk berbagai sarana.
Post a Comment