Ketika Allah Menjaga Iman Orang Tua Melalui Ketetapan yang Tidak Kita Pahami

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 80

Ketika Allah Menjaga Iman Orang Tua Melalui Ketetapan yang Tidak Kita Pahami

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah...

Hari ini kita memasuki ayat ke-80 dari Surah Al-Kahf.

Ayat ini merupakan penjelasan Khidir kepada Nabi Musa tentang peristiwa kedua yang sebelumnya sangat sulit dipahami oleh Musa.

Sebelumnya Musa melihat seorang anak dibunuh.

Secara lahiriah, pertanyaan Musa sangat manusiawi:

“Mengapa anak yang tidak membunuh siapa pun dibunuh?”

Namun ternyata ada ilmu yang tidak diketahui Musa.

Allah berfirman:

QS. Al-Kahf: 80

وَاَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ اَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا ۚ

“Dan adapun anak muda itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir dia akan memaksa keduanya kepada kesesatan dan kekafiran.”
(QS. Al-Kahf: 80)

Ayat ini sangat dalam.

Karena ayat ini bukan sekadar berbicara tentang seorang anak.

Ayat ini berbicara tentang:

  • cinta orang tua kepada anak,
  • bahaya ketika cinta tidak dikendalikan iman,
  • keterbatasan pengetahuan manusia,
  • takdir Allah,
  • perlindungan Allah terhadap iman,
  • dan keyakinan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.

1. Anak adalah nikmat, tetapi anak juga ujian

Perhatikan bahwa Allah terlebih dahulu mengatakan:

فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ

“Kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin.”

Allah menyebut iman kedua orang tuanya sebelum menjelaskan keadaan anak tersebut.

Ini memberikan renungan yang sangat dalam.

Anak memang nikmat.

Tetapi anak juga ujian.

Allah berfirman:

QS. At-Taghabun: 15

اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu. Dan di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Artinya bukan anak adalah sesuatu yang buruk.

Tidak!

Anak adalah karunia.

Tetapi cara kita mencintai anak dapat menjadi ujian bagi iman kita.

Apakah karena anak kita kemudian meninggalkan salat?

Apakah karena anak kita takut menegakkan prinsip agama?

Apakah karena anak kita malu terhadap Islam?

Apakah karena anak kita ingin sesuatu kemudian orang tua menghalalkan segala cara?

Di sinilah cinta kepada anak harus berada di bawah cinta kepada Allah.


2. Cinta kepada anak jangan sampai mengalahkan cinta kepada Allah

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Ada orang tua yang sangat mencintai anaknya.

Ketika anaknya salah, dia berkata:

“Namanya juga anak.”

Ketika anak meninggalkan salat:

“Nanti kalau sudah besar juga sadar.”

Ketika anak bergaul dengan lingkungan buruk:

“Yang penting dia bahagia.”

Ketika anak meminta sesuatu yang haram:

“Yang penting anak saya tidak kecewa.”

Hati-hati!

Cinta seperti itu dapat berubah menjadi fitnah.

Karena cinta yang benar bukan sekadar membuat anak bahagia.

Cinta yang benar adalah berusaha menyelamatkan anak sampai kepada Allah.

Allah berfirman:

QS. At-Tahrim: 6

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Maka orang tua bukan hanya bertanggung jawab terhadap:

sekolah anak,

makanan anak,

pakaian anak,

masa depan pekerjaan anak.

Tetapi juga bertanggung jawab terhadap:

iman anak.


3. Anak dapat menjadi sebab orang tua terseret

Allah berfirman:

فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا

“Kami khawatir dia akan membebani keduanya dengan kesesatan dan kekafiran.”

Para mufasir menjelaskan bahwa anak tersebut, berdasarkan ilmu Allah, apabila terus hidup akan menjadi sebab kedua orang tuanya terseret kepada kedurhakaan dan kekafiran.

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa konteks ayat menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa kecintaan atau kebutuhan orang tua kepada anak dapat menyebabkan mereka mengikuti anak tersebut dalam kekufuran.

Ibn Kathir juga menjelaskan:

يَحْمِلُهُمَا حُبُّهُ عَلَى مُتَابَعَتِهِ عَلَى الْكُفْرِ

“Kecintaan mereka kepadanya dapat membawa mereka untuk mengikutinya dalam kekufuran.”

Ini bukan berarti setiap anak yang buruk pasti menjadikan orang tuanya kafir.

Tidak!

Ayat ini menceritakan kasus khusus yang Allah ketahui secara khusus.

Tetapi prinsip pendidikannya sangat penting:

Lingkungan keluarga saling memengaruhi.

Anak memengaruhi orang tua.

Orang tua memengaruhi anak.

Teman memengaruhi anak.

Lingkungan memengaruhi keluarga.

Karena itu Islam sangat memperhatikan siapa yang menjadi teman, guru, teladan, dan lingkungan anak.


4. Jangan salah memahami kata “kafir” pada anak dalam kisah ini

Ada satu persoalan penting.

Hadis Nabi ﷺ menjelaskan tentang anak yang dibunuh Khidir:

إِنَّ الْغُلَامَ الَّذِي قَتَلَهُ الْخَضِرُ طُبِعَ كَافِرًا، وَلَوْ عَاشَ لَأَرْهَقَ أَبَوَيْهِ طُغْيَانًا وَكُفْرًا

“Sesungguhnya anak yang dibunuh Khidir telah ditetapkan dalam keadaan kafir; seandainya dia hidup, niscaya dia akan membebani kedua orang tuanya dengan kedurhakaan dan kekafiran.”

Riwayat ini terdapat dalam Sahih Muslim no. 2661.

Namun para ulama membahas keadaan anak tersebut secara hati-hati.

Al-Qurthubi mencatat bahwa hadis tersebut menjadi dasar pembahasan apakah anak itu masih belum baligh atau sudah baligh ketika peristiwa terjadi.

Karena itu kita tidak perlu mengarang rincian yang tidak dijelaskan Al-Qur'an.

Kita tidak perlu sibuk mencari:

Siapa nama anak itu?

Berapa umurnya?

Bagaimana persisnya ia dibunuh?

Apa bentuk kekafirannya?

Yang paling penting adalah pelajaran yang Allah kehendaki dari kisah tersebut.


5. Ini bukan pembenaran membunuh anak karena dianggap akan menjadi buruk

Ini wajib dijelaskan dengan tegas.

Jangan sampai ada orang memahami ayat ini:

“Kalau anak diperkirakan akan menjadi buruk, berarti boleh disingkirkan.”

Sama sekali tidak!

Itu pemahaman yang batil.

Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Kita tidak mengetahui masa depan seseorang.

Kita tidak boleh menghukum seseorang berdasarkan dugaan bahwa suatu hari dia akan melakukan dosa.

Dan manusia biasa tidak memiliki kewenangan Khidir dalam peristiwa tersebut.

Bahkan pada akhir penjelasan Khidir, ia berkata:

QS. Al-Kahf: 82

وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah penjelasan dari apa yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”

Ini adalah kunci memahami seluruh kisah.

Khidir tidak bertindak berdasarkan hawa nafsunya.

Peristiwa itu merupakan perkara khusus yang Allah berikan kepadanya.

Maka:

kisah Khidir bukan lisensi untuk mengklaim ilmu gaib.

Bukan lisensi melakukan kekerasan.

Bukan lisensi membunuh.

Bukan lisensi melanggar syariat.


6. Allah mengetahui masa depan, manusia tidak

Inilah pelajaran aqidah yang sangat besar.

Allah mengetahui:

  • apa yang telah terjadi,
  • apa yang sedang terjadi,
  • dan apa yang akan terjadi.

Sedangkan manusia tidak.

Allah berfirman:

QS. Luqman: 34

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya hanya Allah yang mengetahui tentang Hari Kiamat; Dia menurunkan hujan; Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Maka jangan pernah berkata:

“Saya tahu pasti masa depan anak ini.”

Tidak.

Kita boleh melihat tanda-tanda.

Kita boleh mendidik.

Kita boleh mencegah bahaya.

Tetapi ilmu tentang perkara gaib secara mutlak adalah milik Allah.


7. Hikmah besar: Allah menjaga iman orang tua

Inilah inti ayat.

Khidir menjelaskan bahwa tindakan itu berkaitan dengan keselamatan agama kedua orang tua.

Perhatikan:

Allah tidak hanya menyelamatkan harta mereka.

Allah tidak hanya menyelamatkan kesehatan mereka.

Allah tidak hanya menyelamatkan kehidupan dunia mereka.

Tetapi Allah menjaga:

IMAN MEREKA.

Dan ini menunjukkan bahwa keselamatan agama adalah nikmat terbesar.

Kita sering berdoa:

“Ya Allah, sehatkan saya.”

Itu baik.

“Ya Allah, lancarkan rezeki saya.”

Itu baik.

“Ya Allah, mudahkan pekerjaan saya.”

Itu baik.

Tetapi jangan lupa doa yang lebih besar:

“Ya Allah, selamatkan iman saya dan iman keluarga saya.”

Karena apa gunanya tubuh sehat kalau iman rusak?

Apa gunanya harta banyak kalau hati jauh dari Allah?

Apa gunanya anak sukses secara dunia tetapi kehilangan salat dan tauhid?


8. Allah mengajarkan bahwa kehilangan tidak selalu berarti kehancuran

Ayat ini sangat dekat dengan QS. Al-Kahf ayat 79 yang kita bahas sebelumnya.

Pada ayat 79:

Perahu dilubangi → agar pemiliknya tidak kehilangan perahu.

Pada ayat 80:

Anak diambil → agar orang tuanya tidak kehilangan iman.

Keduanya memiliki pola yang sama:

Ada sesuatu yang tampak sebagai kehilangan, tetapi Allah mengetahui ada keselamatan yang lebih besar di baliknya.

Inilah sebabnya Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 216

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini bukan berarti setiap musibah otomatis terasa baik.

Tetapi maknanya:

Keterbatasan pengetahuan kita membuat kita tidak selalu mampu mengetahui seluruh hikmah sebuah ketetapan Allah.


9. Hadis: urusan seorang mukmin selalu mengandung kebaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”

HR. Muslim no. 2999.

Perhatikan baik-baik.

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan:

“Seorang mukmin selalu mendapatkan apa yang dia sukai.”

Tidak.

Tetapi:

Seorang mukmin selalu dapat mengubah keadaan yang terjadi kepadanya menjadi jalan kebaikan melalui iman.

Mendapat nikmat → syukur.

Mendapat musibah → sabar.

Mendapat ujian → tawakal.

Mendapat dosa → taubat.

Mendapat keberhasilan → tidak sombong.


10. Hadis yang sangat sesuai dengan tafsir ayat ini

Riwayat yang dikutip dalam Tafsir Ibn Kathir berbunyi:

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ

“Aku kagum terhadap keadaan seorang mukmin; sesungguhnya Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin kecuali ketetapan itu baik baginya.”

Riwayat ini berasal dari Anas bin Malik dan terdapat dalam Musnad Ahmad, Abu Ya'la, dan Ibn Hibban; para peneliti hadis yang dikutip dalam sumber tersebut menilainya sahih.

Namun ada hadis yang kedudukannya lebih kuat dan lebih masyhur untuk tema ini, yaitu hadis Suhaib dalam Sahih Muslim no. 2999 yang telah kita baca sebelumnya.

Maka dalam ceramah, hadis Muslim tersebut lebih baik dijadikan dalil utama.


11. Tetapi “baik” bukan berarti kita dilarang bersedih

Ini juga penting.

Ketika seorang mukmin kehilangan anak, jangan mengatakan:

“Jangan sedih, ini pasti baik.”

Kalimat seperti itu bisa melukai hati orang yang sedang berduka.

Islam tidak melarang kesedihan.

Nabi ﷺ sendiri menangis ketika putranya Ibrahim meninggal.

Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا

“Sesungguhnya mata berlinang dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Tuhan kami.”

HR. al-Bukhari dan Muslim.

Maka:

menangis bukan berarti tidak ridha.

bersedih bukan berarti tidak beriman.

Yang menjadi masalah adalah ketika kesedihan membuat kita menuduh Allah tidak adil.

Seorang mukmin boleh menangis.

Boleh merasa kehilangan.

Boleh merasa sakit.

Tetapi hatinya tetap berkata:

“Ya Allah, aku belum memahami hikmahnya, tetapi aku percaya kepada-Mu.”


12. Qatadah: orang tua itu bahagia ketika anak lahir dan bersedih ketika anak meninggal

Ibn Kathir menukil perkataan Qatadah tentang kisah ini:

قَدْ فَرِحَ بِهِ أَبَوَاهُ حِينَ وُلِدَ، وَحَزِنَا عَلَيْهِ حِينَ قُتِلَ

“Kedua orang tuanya bergembira ketika dia dilahirkan dan bersedih ketika dia dibunuh.”

Kemudian Qatadah mengarahkan pelajaran kepada kerelaan terhadap ketetapan Allah.

Bayangkan...

Ketika anak itu lahir:

ayah dan ibunya bahagia.

Mereka mungkin berkata:

“Alhamdulillah, anak kami lahir.”

Mereka mungkin membayangkan masa depannya.

Mungkin menjadi orang saleh.

Mungkin menjadi guru.

Mungkin menjadi pemimpin.

Mungkin menjadi penghafal Al-Qur'an.

Tetapi ternyata perjalanan hidupnya berbeda.

Dan orang tuanya harus menerima sebuah ketetapan yang sangat berat.

Ini mengajarkan:

Tidak semua yang kita cintai akan tinggal bersama kita selamanya.


13. Cinta orang tua kepada anak harus dibimbing oleh ilmu

Jamaah...

Di sinilah pelajaran parenting yang sangat penting.

Jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar anak saya bahagia?”

Tetapi bertanyalah:

“Bagaimana agar anak saya menjadi hamba Allah?”

Jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar anak saya sukses?”

Tetapi:

“Bagaimana agar kesuksesannya tidak menjauhkannya dari Allah?”

Jangan hanya bertanya:

“Bagaimana agar anak saya diterima masyarakat?”

Tetapi:

“Bagaimana agar anak saya diterima Allah?”

Karena standar kesuksesan seorang muslim bukan hanya:

nilai tinggi,

sekolah bagus,

pekerjaan hebat,

gaji besar,

jabatan tinggi.

Tetapi:

iman yang kokoh,

akhlak yang baik,

ibadah yang benar,

dan husnul khatimah.


14. Nabi mengajarkan tanggung jawab pendidikan keluarga

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya...”

HR. al-Bukhari dan Muslim.

Maka menjadi ayah bukan hanya mencari nafkah.

Menjadi ibu bukan hanya mengurus rumah.

Menjadi orang tua adalah amanah pendidikan.


15. Jangan takut kepada anak ketika mendidiknya

Kadang-kadang orang tua takut kepada anak.

Takut anak marah.

Takut anak kecewa.

Takut anak tidak mau pulang.

Takut anak mengatakan:

“Ayah kuno!”

“Ibu tidak memahami saya!”

Akhirnya semua keinginan anak dituruti.

Padahal kasih sayang tidak selalu berarti mengatakan:

“Iya.”

Kadang kasih sayang justru mengatakan:

“Tidak.”

Ketika anak meminta sesuatu yang haram:

“Tidak.”

Ketika anak ingin meninggalkan salat:

“Tidak.”

Ketika anak ingin bergaul dengan lingkungan yang merusak:

“Tidak.”

Tetapi katakan “tidak” dengan:

ilmu,

kasih sayang,

keteladanan,

komunikasi,

dan doa.


16. Tetapi jangan menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk menyalahkan anak

Ini juga sangat penting.

Jangan mengatakan:

“Anak saya rusak karena anak itu.”

“Anak saya jauh dari agama karena teman-temannya.”

Memang lingkungan memiliki pengaruh.

Tetapi orang tua tetap harus melakukan pendidikan.

Allah memberi manusia kemampuan memilih.

Maka pendidikan harus diarahkan pada pembentukan:

iman,

akal sehat,

akhlak,

kemampuan mengambil keputusan,

dan ketahanan menghadapi pengaruh buruk.

Anak tidak cukup hanya dijauhkan dari keburukan.

Ia harus dibekali kemampuan mengenali keburukan dan menolaknya.


17. Jangan putus asa terhadap anak

Ada orang tua yang melihat anaknya sekarang:

tidak rajin salat,

suka membantah,

sulit dinasihati,

terpengaruh teman,

kecanduan gawai,

atau mulai jauh dari agama.

Kemudian orang tua berkata:

“Sudah tidak bisa diperbaiki.”

Jangan!

Kita tidak mengetahui masa depan.

Kita bukan Khidir.

Kita tidak mengetahui takdir anak.

Yang kita ketahui adalah:

kita wajib mendidik.

kita wajib mendoakan.

kita wajib menjadi teladan.

kita wajib menciptakan lingkungan yang baik.

Dan setelah itu kita bertawakal kepada Allah.


18. Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui

Inilah kalimat yang harus kita tanamkan:

وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ketika seorang anak belum seperti yang kita harapkan:

Allah tahu.

Ketika pendidikan kita belum menunjukkan hasil:

Allah tahu.

Ketika kita telah berusaha tetapi anak masih sulit:

Allah tahu.

Ketika kita kehilangan sesuatu yang kita cintai:

Allah tahu.

Ketika kita tidak mengerti mengapa sebuah kejadian terjadi:

Allah tahu.

Maka tugas kita bukan mengetahui semua rahasia Allah.

Tugas kita adalah:

taat kepada Allah dalam perkara yang kita ketahui.


19. Jangan mengklaim mengetahui perkara gaib

Kisah ini juga menjadi benteng aqidah.

Ada orang yang berkata:

“Saya punya firasat bahwa anak ini nanti begini.”

“Saya mendapat ilham bahwa orang ini akan melakukan itu.”

“Saya tahu masa depan seseorang.”

Hati-hati.

Pengetahuan manusia sangat terbatas.

Allah berfirman:

QS. An-Naml: 65

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

“Katakanlah, tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.”

Maka kisah Khidir jangan dijadikan legitimasi untuk dukun, paranormal, ramalan, atau klaim ilmu gaib.

Khidir bukan contoh manusia yang bebas mengakses perkara gaib.

Peristiwa itu merupakan kekhususan yang dijelaskan oleh wahyu dalam kisah tersebut.


20. Pelajaran untuk orang tua: selamatkan iman sebelum mengejar prestasi

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kita sering sangat serius memikirkan pendidikan anak.

Kita cari sekolah bagus.

Cari guru bagus.

Cari les.

Cari kursus.

Cari program bahasa.

Cari program teknologi.

Semua itu baik.

Tetapi jangan sampai:

anak pintar tetapi tidak salat.

anak cerdas tetapi tidak jujur.

anak berprestasi tetapi sombong.

anak menguasai teknologi tetapi tidak mengenal Allah.

Karena tujuan pendidikan seorang muslim bukan sekadar:

membuat anak menjadi hebat di hadapan manusia.

Tetapi:

membuat anak menjadi hamba yang dicintai Allah.


21. Pelajaran bagi guru

Bagi para guru...

Kita mungkin melihat seorang siswa sebagai:

“anak nakal.”

Tetapi jangan berhenti pada label.

Lihat prosesnya.

Cari sebabnya.

Bangun hubungan.

Berikan teladan.

Beri kesempatan berubah.

Karena kita tidak mengetahui masa depan seorang anak.

Anak yang hari ini sulit diatur...

bisa jadi beberapa tahun kemudian menjadi orang yang sangat bermanfaat.

Maka guru jangan mudah mematikan harapan seorang siswa dengan kalimat:

“Kamu memang tidak akan jadi apa-apa.”

Bisa jadi kalimat itu justru menjadi luka yang dibawa anak bertahun-tahun.

Guru harus menjadi orang yang berkata:

“Kamu bisa berubah. Mari kita perbaiki bersama.”


22. Pelajaran untuk anak-anak

Dan bagi anak-anak...

Jangan pernah merasa:

“Orang tua saya terlalu banyak mengatur.”

Bisa jadi sebagian larangan itu lahir dari kekhawatiran.

Orang tua memang tidak selalu benar.

Guru juga tidak selalu benar.

Tetapi jangan membalas nasihat dengan kesombongan.

Allah memerintahkan anak untuk tetap berbuat baik kepada orang tua, bahkan ketika ada perbedaan dalam perkara agama.

Allah berfirman:

QS. Luqman: 15

وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖوَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Ini menunjukkan keseimbangan Islam:

taat kepada Allah adalah yang tertinggi,

tetapi:

berbuat baik kepada orang tua tetap wajib.


23. Ketika Allah mengambil sesuatu yang kita cintai

Jamaah...

Ada saatnya Allah mengambil sesuatu yang sangat kita cintai.

Kita bertanya:

“Ya Allah, mengapa?”

Tidak semua pertanyaan langsung mendapatkan jawaban.

Nabi Ya'qub ketika kehilangan Yusuf menangis dan bersedih.

Tetapi kesedihannya tidak membuatnya berhenti berharap kepada Allah.

Ia berkata:

QS. Yusuf: 86

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dia berkata, ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”

Perhatikan!

Boleh sedih.

Tetapi jangan kehilangan Allah.

Boleh menangis.

Tetapi jangan kehilangan tawakal.

Boleh bertanya.

Tetapi jangan menuduh Allah.


24. Inilah iman terhadap takdir

Iman kepada takdir bukan berarti:

“Saya tidak perlu berusaha.”

Bukan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ...

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan merasa lemah...”

Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Itulah ketetapan Allah dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

HR. Muslim no. 2664.

Jadi rumusnya:

Ikhtiar + doa + tawakal + sabar.

Bukan pasrah tanpa usaha.


25. Renungan terakhir

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Coba kita bayangkan kedua orang tua dalam ayat ini.

Mereka mencintai anaknya.

Mereka mungkin tidak memahami mengapa sesuatu terjadi.

Mereka hanya tahu:

“Kami kehilangan anak.”

Tetapi Allah mengetahui:

“Aku sedang menjaga iman kalian.”

Mereka melihat:

kehilangan.

Allah mengetahui:

perlindungan.

Mereka melihat:

kesedihan.

Allah mengetahui:

keselamatan yang lebih besar.

Mereka melihat:

akhir sebuah kehidupan.

Allah mengetahui:

awal dari sebuah rahmat yang belum mereka pahami.

Dan pada ayat berikutnya Allah menjelaskan:

QS. Al-Kahf: 81

فَاَرَدْنَآ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا

“Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan anak yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya.”

Subhanallah...

Allah mengambil sesuatu, tetapi Allah juga mampu menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.


26. Maka jangan putus asa terhadap ketetapan Allah

Mungkin hari ini kita sedang kehilangan sesuatu.

Mungkin pekerjaan.

Mungkin harta.

Mungkin kesempatan.

Mungkin hubungan.

Mungkin rencana.

Mungkin sesuatu yang sangat kita cintai.

Jangan buru-buru berkata:

“Allah tidak sayang kepada saya.”

Katakan:

“Ya Allah, aku belum memahami hikmahnya, tetapi aku percaya Engkau Maha Mengetahui.”

Katakan:

“Ya Allah, kalau ini baik untuk agamaku, pertahankanlah. Kalau ini buruk bagi agamaku, jauhkanlah dan gantilah dengan yang lebih baik.”

Karena seorang mukmin tidak hanya meminta:

“Ya Allah, berikan apa yang saya inginkan.”

Tetapi ia belajar berdoa:

“Ya Allah, berikan apa yang Engkau tahu terbaik bagi saya.”


PENUTUP

Jamaah yang dirahmati Allah...

QS. Al-Kahf ayat 80 mengajarkan kepada kita:

Pertama

Anak adalah nikmat sekaligus ujian.

Kedua

Cinta kepada anak harus berada di bawah cinta kepada Allah.

Ketiga

Keselamatan iman lebih berharga daripada keselamatan dunia.

Keempat

Manusia tidak mengetahui seluruh hikmah di balik takdir Allah.

Kelima

Kita boleh bersedih ketika kehilangan, tetapi jangan kehilangan husnuzan kepada Allah.

Keenam

Kisah Khidir adalah peristiwa khusus dan tidak boleh dijadikan alasan untuk kekerasan, pembunuhan, atau klaim mengetahui perkara gaib.

Ketujuh

Orang tua wajib berusaha menjaga agama anak, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.

Dan yang paling penting:

Jangan menilai kasih sayang Allah hanya dari apa yang kita dapatkan.

Kadang kasih sayang Allah hadir dalam bentuk pemberian.

Kadang dalam bentuk penundaan.

Kadang dalam bentuk penghalangan.

Kadang dalam bentuk kehilangan.

Tetapi orang beriman yakin:

اللَّهُ أَعْلَمُ، وَأَنَا لَا أَعْلَمُ.

“Allah lebih mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui.”

Maka ketika takdir Allah datang dan kita belum memahami hikmahnya, katakan:

حَسْبِيَ اللَّهُ، وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ.

“Cukuplah Allah bagiku, dan kepada-Nya aku bertawakal.”


DOA

اللَّهُمَّ احْفَظْ إِيمَانَنَا، وَاحْفَظْ إِيمَانَ أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا.

“Ya Allah, jagalah iman kami, dan jagalah iman keluarga serta anak-anak kami.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَوْلَادَنَا فِتْنَةً لَنَا، بَلِ اجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.

“Ya Allah, jangan jadikan anak-anak kami sebagai fitnah bagi kami. Jadikanlah mereka penyejuk mata kami dan jadikan mereka termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”

اللَّهُمَّ رَبِّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

“Ya Allah, Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

اللَّهُمَّ إِنَّا لَا نَعْلَمُ مَا فِي الْغَدِ، وَلَكِنَّكَ أَنْتَ تَعْلَمُ مَا كَانَ وَمَا يَكُونُ وَمَا سَيَكُونُ.

اللَّهُمَّ فَاخْتَرْ لَنَا، وَلَا تُخَيِّرْنَا لِأَنْفُسِنَا، وَدَبِّرْ لَنَا فَإِنَّا لَا نُحْسِنُ التَّدْبِيرَ.

“Ya Allah, kami tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok, tetapi Engkau mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Ya Allah, pilihkanlah yang terbaik untuk kami. Jangan serahkan kami kepada pilihan diri kami sendiri. Aturlah urusan kami, karena kami tidak pandai mengatur diri kami.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلَى قَضَائِكَ، وَالرِّضَا بِقَدَرِكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَحُسْنَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami kesabaran atas ketetapan-Mu, keridaan terhadap takdir-Mu, husnuzan kepada-Mu, dan tawakal yang baik kepada-Mu.”

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


CATATAN ILMIAH DAN FOOTNOTE RUJUKAN

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 80. Ayat menjadi dasar utama pembahasan bahwa kedua orang tua anak tersebut adalah orang beriman dan terdapat kekhawatiran terhadap pengaruh anak tersebut terhadap agama mereka.

[2] Tafsir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Al-Kahf: 80. Ath-Thabari menjelaskan bahwa anak tersebut berada dalam keadaan kufur dan bahwa “طُغْيَانًا” berkaitan dengan sikap melampaui batas terhadap Allah.

[3] Tafsir Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, QS. Al-Kahf: 80. Ibn Kathir menghubungkan ayat dengan hadis Ubay bin Ka‘b dari Nabi ﷺ tentang anak yang dibunuh Khidir, serta menjelaskan bahwa kecintaan orang tua kepadanya dapat menjadi sebab mereka mengikuti kekufurannya.

[4] Tafsir al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, QS. Al-Kahf: 80. Al-Qurthubi membahas keadaan anak tersebut dan kemungkinan persoalan baligh berdasarkan riwayat yang ada; hal ini menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam menentukan rincian yang tidak ditegaskan Al-Qur'an.

[5] Tafsir as-Sa‘di, Taysīr al-Karīm ar-Raḥmān, QS. Al-Kahf: 80. As-Sa‘di menjelaskan bahwa berdasarkan ilmu yang diberikan kepada Khidir, apabila anak itu tetap hidup ia akan menjadi sebab orang tuanya terseret kepada kedurhakaan dan kekufuran; Allah kemudian menggantinya dengan yang lebih baik.

[6] Sahih Muslim no. 2661, hadis Ubay bin Ka‘b. Nabi ﷺ menjelaskan tentang anak yang dibunuh Khidir dan kaitannya dengan keadaan kedua orang tuanya.

[7] Sahih Muslim no. 2999, hadis Shuhaib ar-Rumi. Hadis “عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ” menjadi dalil utama bahwa seorang mukmin mendapatkan kebaikan melalui syukur ketika memperoleh nikmat dan melalui sabar ketika memperoleh musibah.

[8] Sahih Muslim no. 2664, hadis Abu Hurairah. Nabi ﷺ mengajarkan untuk mengambil sebab yang bermanfaat, meminta pertolongan Allah, tidak lemah, dan menerima ketetapan Allah setelah berusaha.

[9] QS. Al-Baqarah: 216. Ayat menegaskan keterbatasan pengetahuan manusia terhadap akibat suatu perkara dan kesempurnaan ilmu Allah.

[10] QS. At-Tahrim: 6. Menjadi dasar kewajiban menjaga diri dan keluarga dari sebab-sebab kebinasaan akhirat.

[11] QS. Luqman: 15. Menunjukkan keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan tetap berbuat baik kepada orang tua.

[12] QS. An-Naml: 65. Menjadi dasar bahwa ilmu gaib secara mutlak adalah milik Allah; karena itu kisah Khidir tidak boleh digunakan untuk membenarkan klaim manusia mengetahui masa depan secara mutlak.

[13] QS. Al-Kahf: 81–82. Ayat berikutnya menjelaskan bahwa Allah mengganti anak tersebut dengan yang lebih baik dan bahwa tindakan Khidir bukan berdasarkan kemauan pribadinya.

Catatan penting

Ungkapan “Allah tidak menetapkan bagi seorang mukmin suatu ketetapan kecuali baik baginya” memang memiliki riwayat yang dinilai sahih dari Anas melalui Ahmad, Abu Ya'la, dan Ibn Hibban. Namun untuk penyampaian ceramah, hadis “عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ...” dari Sahih Muslim no. 2999 lebih kuat dan lebih lengkap untuk menjelaskan hubungan nikmat–syukur–musibah–sabar.

Dan yang paling penting: ayat ini tidak boleh dipahami bahwa seorang manusia boleh membunuh atau menyakiti anak karena memperkirakan masa depannya buruk. Kisah Khidir merupakan peristiwa khusus yang pada akhirnya ditegaskan sebagai tindakan yang bukan berasal dari kehendak pribadinya: وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ.

Tidak ada komentar