Ketika Kerusakan Kecil Menjadi Jalan Keselamatan

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 79

Ketika Kerusakan Kecil Menjadi Jalan Keselamatan

QS. Al-Kahf Ayat 79

اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَاۗ وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

Artinya:

“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”


1. Jamaah yang dirahmati Allah...

Kita sampai pada bagian ketika Khidir mulai membuka rahasia dari tiga peristiwa yang sebelumnya membuat Nabi Musa bertanya.

Pertama, perahu dilubangi.

Kedua, seorang anak dibunuh.

Ketiga, sebuah dinding ditegakkan tanpa meminta upah.

Dan ayat 79 ini menjelaskan peristiwa pertama.

Kalau kita hanya melihat dengan mata...

Perahu itu dirusak.

Kalau kita hanya melihat secara lahir...

Khidir telah melakukan sesuatu yang merugikan pemilik perahu.

Tetapi ternyata...

kerusakan itulah yang menyelamatkan mereka dari kerugian yang jauh lebih besar.

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari kisah Musa dan Khidir:

Tidak semua yang tampak sebagai kerugian benar-benar merupakan kerugian.

Dan sebaliknya:

Tidak semua yang tampak sebagai keuntungan benar-benar merupakan keuntungan.

Allah berfirman:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)


2. Perahu itu milik orang-orang miskin

Perhatikan kata Allah:

فَكَانَتْ لِمَسَاكِيْنَ

“Perahu itu adalah milik orang-orang miskin.”

Ini menarik.

Allah tidak mengatakan bahwa perahu itu milik orang kaya.

Allah justru memperkenalkan mereka sebagai مَسَاكِيْنَ — orang-orang miskin/lemah secara ekonomi.

Mereka bekerja di laut.

Perahu itu adalah alat kehidupan mereka.

Mereka tidak memiliki banyak pilihan.

Kalau perahu itu hilang, hilang pula sumber penghasilan mereka.

Tafsir Ibn Kathir menjelaskan bahwa perahu itu dibuat cacat agar raja zalim tidak mengambilnya; dengan demikian pemiliknya yang miskin masih dapat memanfaatkannya.

Maka perhatikan baik-baik:

Khidir tidak merusak perahu milik orang kaya karena dendam.

Khidir tidak merusaknya untuk mengambil keuntungan.

Khidir tidak merusaknya karena benci kepada pemiliknya.

Kerusakan itu dilakukan dalam rangka menyelamatkan hak orang-orang lemah dari kezaliman yang lebih besar.


3. Ada raja yang merampas setiap perahu

Allah berfirman:

وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا

“Dan di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”

Raja tersebut digambarkan sebagai penguasa yang zalim.

Ia mengambil perahu bukan dengan jual beli.

Bukan dengan kerelaan.

Bukan dengan akad.

Tetapi:

غَصْبًا

secara paksa.

Ibn Kathir menjelaskan bahwa yang menjadi sasaran raja adalah perahu yang baik dan layak digunakan. Karena itu Khidir membuat perahu tersebut memiliki cacat sehingga tidak menarik bagi sang raja.

Subhanallah...

Perahu yang cacat justru menjadi perahu yang selamat.

Di sini ada pelajaran besar:

Kadang-kadang sesuatu yang kita anggap sebagai kekurangan justru menjadi sebab Allah melindungi kita.


4. Tidak semua luka adalah kehancuran

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Bayangkan pemilik perahu pulang.

Mereka melihat perahunya bocor.

Mungkin mereka berkata:

“Aduh! Siapa yang merusak perahu kita?”

Mereka mungkin kecewa.

Mereka mungkin marah.

Mereka mungkin menganggap Khidir telah merugikan mereka.

Tetapi beberapa waktu kemudian...

Mereka mengetahui:

“Ternyata kalau perahu ini tidak dibuat cacat, perahu ini akan dirampas raja.”

Maka apa yang awalnya dianggap musibah...

ternyata adalah perlindungan.

Apa yang awalnya dianggap kerusakan...

ternyata adalah penyelamatan.

Apa yang awalnya dianggap kehilangan...

ternyata adalah cara Allah mempertahankan sesuatu yang lebih besar.


5. Kita sering menilai kehidupan hanya dari satu halaman

Inilah masalah manusia.

Kita melihat satu halaman.

Allah mengetahui seluruh buku.

Kita melihat hari ini.

Allah mengetahui hari esok.

Kita melihat sebab.

Allah mengetahui akibat.

Kita melihat pintu tertutup.

Allah mengetahui pintu lain yang sedang dibuka.

Kita berkata:

“Mengapa Allah mengambil ini?”

Padahal bisa jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang jauh lebih buruk.

Kita berkata:

“Mengapa rencana saya gagal?”

Padahal bisa jadi kegagalan itu sedang menghindarkan kita dari kehancuran.

Kita berkata:

“Mengapa saya tidak mendapatkan pekerjaan itu?”

Padahal mungkin Allah sedang menyelamatkan kita dari lingkungan yang akan merusak agama kita.

Kita berkata:

“Mengapa perjalanan itu batal?”

Padahal mungkin Allah mengetahui bahaya yang tidak kita ketahui.

Kita berkata:

“Mengapa anak saya belum mendapatkan apa yang dia inginkan?”

Padahal mungkin Allah sedang mendidiknya agar tidak menjadi manusia yang diperbudak oleh keinginannya.

Kita hanya melihat perahu yang dilubangi.

Allah mengetahui raja yang sedang menunggu.


6. Tetapi hati-hati: jangan salah memahami ayat ini

Di sinilah pentingnya ilmu.

Jangan sampai seseorang berkata:

“Kalau begitu, saya boleh merusak barang orang lain karena mungkin ada hikmah tersembunyi.”

Tidak!

Kisah Khidir bukan izin bagi manusia biasa untuk melakukan sesuatu yang haram kemudian mengatakan:

“Saya punya hikmah yang tidak kalian ketahui.”

Khidir berada dalam peristiwa khusus yang Allah sendiri jelaskan dalam kisah ini.

Bahkan pada akhir kisah, Khidir berkata:

وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ

“Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
(QS. Al-Kahf: 82)

Ini sangat penting.

Maka kita tidak boleh menggunakan kisah Musa dan Khidir sebagai pembenaran untuk:

  • merusak harta orang lain,
  • mengambil hak orang lain,
  • melakukan kekerasan,
  • melanggar hukum,
  • menyakiti orang,
  • atau melakukan perbuatan haram dengan alasan “ada hikmah yang tersembunyi”.

Tidak!

Kita hidup berdasarkan syariat dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.


7. “Kami menghukumi berdasarkan yang tampak”

Ada ungkapan yang sering dikutip dalam pembahasan ini:

نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَاللّٰهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ

“Kami menetapkan berdasarkan apa yang tampak, sedangkan Allah yang mengetahui dan menangani perkara-perkara batin.”

Ungkapan ini sejalan dengan prinsip penting dalam syariat: manusia tidak diberi tugas untuk membongkar isi hati manusia.

Ada dasar yang sangat kuat dari perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dalam Sahih al-Bukhari:

إِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ... وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ، اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ

“Sekarang kami menilai kalian berdasarkan apa yang tampak dari amal kalian... sedangkan urusan batinnya bukanlah urusan kami; Allah yang akan menghisabnya.”

Maka kita tidak boleh mengatakan:

“Dia tersenyum, tetapi saya tahu hatinya sebenarnya dengki.”

“Dia bersedekah, tetapi saya tahu dia pasti riya.”

“Dia diam, tetapi saya tahu sebenarnya dia membenci saya.”

Dari mana kita tahu?

Apakah kita membelah dadanya?

Tidak.

Allah yang mengetahui isi hati.


8. Nabi ﷺ mengajarkan agar kita tidak menghakimi isi hati

Perhatikan kisah Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu.

Dalam peperangan, seseorang mengucapkan:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Tetapi Usamah tetap membunuhnya karena mengira orang tersebut mengucapkannya hanya karena takut.

Ketika berita itu sampai kepada Nabi ﷺ, beliau menegur Usamah dengan keras:

أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ؟

“Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’?”

Usamah menjawab bahwa orang tersebut mengucapkannya karena takut.

Nabi ﷺ bersabda:

أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ فَتَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا؟

“Apakah engkau telah membelah hatinya sehingga engkau mengetahui apakah ia mengucapkannya dengan sungguh-sungguh atau tidak?”

Subhanallah!

Ini pendidikan yang sangat dalam.

Kita menghukumi apa yang tampak berdasarkan aturan yang berlaku.

Adapun rahasia hati...

Allah yang mengetahuinya.


9. Lalu apa hubungannya dengan perahu?

Hubungannya sangat kuat.

Nabi Musa melihat:

“Perahu dilubangi.”

Maka berdasarkan apa yang tampak, beliau bertanya:

“Mengapa engkau merusaknya?”

Musa tidak mengetahui apa yang akan terjadi sesudahnya.

Khidir mengetahui sesuatu yang Allah ajarkan kepadanya dalam konteks kisah tersebut.

Hadis sahih tentang kisah ini menjelaskan bahwa Musa dan Khidir memiliki ilmu yang berbeda. Nabi ﷺ menggambarkan ilmu keduanya dengan perumpamaan seekor burung yang mengambil seteguk air dari laut: ilmu Musa dan Khidir dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti apa yang diambil burung itu dari lautan.

Maka manusia harus rendah hati.

Ilmu kita terbatas.

Pandangan kita terbatas.

Informasi kita terbatas.

Pengetahuan kita tentang masa depan terbatas.

Tetapi ilmu Allah sempurna.


10. Kaidah: memilih mudarat yang lebih ringan

Dari peristiwa ini para ulama membahas kaidah fikih:

الضَّرَرُ الْأَشَدُّ يُزَالُ بِالضَّرَرِ الْأَخَفِّ

“Kemudaratan yang lebih berat dihilangkan dengan menanggung kemudaratan yang lebih ringan.”

Kaidah ini juga dijelaskan dengan ungkapan:

يُخْتَارُ أَهْوَنُ الشَّرَّيْنِ

“Dipilih keburukan yang lebih ringan dari dua keburukan.”

Para ulama menjelaskan bahwa kaidah ini berlaku ketika dua mudarat benar-benar tidak dapat dihindari dan harus dilakukan penilaian yang benar terhadap tingkat bahayanya.

Dalam kisah perahu:

Mudarat pertama:

Perahu dibuat cacat.

Mudarat kedua:

Jika perahu tetap sempurna, ada kemungkinan dirampas oleh raja zalim.

Maka dalam konteks kisah tersebut:

kerusakan kecil pada perahu menjadi sebab terhindarnya kerugian yang lebih besar.


11. Tetapi kaidah ini bukan pembenaran untuk berbuat sembarangan

Ini penting sekali.

Kaidah:

الضَّرَرُ الْأَشَدُّ يُزَالُ بِالضَّرَرِ الْأَخَفِّ

bukan berarti:

“Kalau saya punya alasan, saya boleh melakukan apa saja.”

Tidak.

Harus ada:

  1. Mudarat yang benar-benar nyata atau sangat kuat indikasinya.
  2. Dua pilihan yang memang sama-sama mengandung mudarat.
  3. Tidak ada pilihan lain yang lebih baik.
  4. Mudarat yang dilakukan benar-benar lebih ringan.
  5. Tidak melanggar hak manusia tanpa alasan syar'i.
  6. Dilakukan oleh pihak yang memiliki kewenangan apabila menyangkut hukum, keselamatan, atau hak orang lain.

Karena itu, kisah Khidir tidak boleh dijadikan dalih untuk tindakan pribadi yang liar.


12. Pelajaran untuk kehidupan rumah tangga

Jamaah yang dirahmati Allah...

Kadang-kadang orang tua melihat anaknya mengalami kesulitan.

Anak berkata:

“Mengapa Ayah melarang saya?”

“Mengapa Ibu tidak mengizinkan saya?”

“Mengapa saya tidak boleh seperti teman-teman saya?”

Anak hanya melihat larangan.

Orang tua mungkin melihat bahaya yang belum dipahami anak.

Tetapi orang tua juga harus belajar dari Musa:

Jangan hanya berkata, “Saya orang tua, kamu harus patuh.”

Didiklah anak dengan penjelasan.

Bangun kepercayaan.

Ajarkan sebab dan akibat.

Karena tujuan pendidikan bukan membuat anak takut kepada orang tua.

Tetapi membuat anak mampu mengambil keputusan yang benar ketika orang tua tidak berada di sampingnya.


13. Pelajaran untuk guru

Bagi para guru...

Kadang-kadang siswa hanya melihat tugas.

Guru melihat tujuan.

Siswa berkata:

“Kenapa tugasnya banyak?”

Guru melihat:

“Saya ingin kalian terlatih.”

Siswa berkata:

“Kenapa saya harus mengulang?”

Guru melihat:

“Karena saya ingin kalian benar-benar menguasai.”

Tetapi guru juga harus berhati-hati.

Jangan semua tindakan guru dibenarkan hanya karena mengaku:

“Ini demi kebaikan kalian.”

Guru harus memiliki ilmu, hikmah, kasih sayang, dan tujuan pendidikan yang benar.

Mendidik bukan sekadar membuat siswa patuh.

Mendidik adalah membantu mereka memahami kebaikan.


14. Pelajaran bagi orang yang sedang diuji

Mungkin hari ini ada seseorang di antara jamaah yang sedang mengalami “perahu yang dilubangi”.

Usahanya gagal.

Bisnisnya menurun.

Rencananya batal.

Pekerjaannya tertunda.

Hubungannya berakhir.

Keinginannya tidak tercapai.

Ia bertanya:

“Ya Allah, mengapa?”

Jangan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah sedang menghancurkan hidup kita.

Bisa jadi...

Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.

Kita tidak tahu apa yang berada di balik “raja” kehidupan kita.

Kita tidak tahu bahaya apa yang Allah jauhkan.

Kita tidak tahu pintu apa yang akan dibuka setelah satu pintu ditutup.

Maka seorang mukmin berkata:

قَدَرُ اللَّهِ خَيْرٌ لِي، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَصْلُحُنِي

Secara makna:

“Ketetapan Allah mengandung kebaikan bagiku, dan Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku.”

Bukan berarti kita pasif.

Bukan berarti tidak boleh berusaha.

Tetapi kita berusaha sambil menyerahkan hasil kepada Allah.


15. Jangan menilai hidup dari satu kejadian

Jamaah...

Ada orang yang berkata:

“Saya gagal.”

Padahal sebenarnya dia baru mengalami satu kegagalan.

Ada yang berkata:

“Hidup saya hancur.”

Padahal mungkin hanya satu rencana yang hancur.

Ada yang berkata:

“Allah tidak sayang kepada saya.”

Padahal ia sedang berada dalam proses pendidikan Allah.

Jangan menulis kesimpulan kehidupan hanya berdasarkan satu halaman.

Nabi Musa melihat perahu rusak.

Khidir melihat perahu selamat.

Musa melihat kehilangan.

Khidir melihat perlindungan.

Musa melihat kerusakan.

Khidir melihat keselamatan.


16. Maka ketika sesuatu tidak sesuai keinginan...

Ucapkan:

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

“Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.”

Jangan langsung berkata:

“Ini pasti buruk.”

Katakan:

“Aku belum memahami seluruh hikmahnya.”

Ini bukan berarti semua musibah pasti terasa baik.

Musibah tetap bisa menyakitkan.

Kehilangan tetap bisa membuat kita menangis.

Kegagalan tetap bisa membuat hati berat.

Tetapi seorang mukmin memiliki keyakinan:

Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir.

Yang terbatas adalah pemahaman kita.


17. Ada perbedaan antara “husnuzan kepada Allah” dan “membenarkan semua kejadian”

Husnuzan kepada Allah bukan berarti mengatakan:

“Semua tindakan manusia pasti baik karena Allah mengizinkannya terjadi.”

Tidak.

Kezaliman tetap kezaliman.

Korupsi tetap dosa.

Penipuan tetap haram.

Penganiayaan tetap haram.

Merampas hak orang miskin tetap kezaliman.

Justru ayat ini memperlihatkan bahwa raja yang merampas perahu adalah pihak yang zalim.

Allah menunjukkan bagaimana kelemahan orang miskin berhadapan dengan kekuasaan yang zalim.

Maka seorang muslim tidak boleh menggunakan ayat ini untuk membenarkan kezaliman.


18. Perhatikan: Allah membela orang-orang lemah

Ini salah satu sisi paling menyentuh dari ayat ini.

Perahu itu milik:

لِمَسَاكِين

orang-orang miskin.

Mereka tidak memiliki kekuasaan.

Mereka tidak memiliki tentara.

Mereka tidak memiliki pengaruh.

Mereka hanya memiliki sebuah perahu untuk bekerja.

Tetapi Allah mengetahui keadaan mereka.

Dan Allah mengatur sebab keselamatan mereka melalui sesuatu yang pada awalnya tampak seperti kerugian.

Maka jangan pernah meremehkan orang miskin.

Jangan pernah meremehkan orang kecil.

Jangan pernah merasa:

“Dia tidak punya siapa-siapa.”

Bisa jadi...

dia memiliki Allah.

Dan ketika Allah menolong seorang hamba...

tidak ada kekuatan manusia yang mampu menghalangi.


19. Jika kita memiliki kekuasaan, jangan menjadi “raja” dalam ayat ini

Ini juga menjadi peringatan bagi siapa pun yang memiliki kekuasaan.

Kepala sekolah.

Guru.

Orang tua.

Pemimpin.

Atasan.

Pengurus.

Pejabat.

Siapa pun yang memiliki kewenangan...

Jangan sampai kekuasaan membuat kita mengambil hak orang lain.

Jangan menjadi orang yang:

يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

“Mengambil setiap perahu secara paksa.”

Karena kekuasaan adalah amanah.

Bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan.


20. Renungan paling dalam

Jamaah yang dirahmati Allah...

Coba kita bayangkan pemilik perahu itu.

Mungkin mereka melihat lubang.

Mereka memperbaikinya.

Mereka mungkin mengeluh.

Tetapi mereka tetap memiliki perahu.

Sementara kalau perahu itu tidak dilubangi...

mungkin mereka kehilangan semuanya.

Begitulah terkadang kehidupan kita.

Allah tidak selalu menyelamatkan kita dengan cara yang kita sukai.

Kadang Allah menyelamatkan kita dengan cara yang membuat kita menangis.

Kadang Allah menjaga kita dengan cara menutup pintu.

Kadang Allah melindungi kita dengan cara menunda.

Kadang Allah memberi kita sesuatu setelah terlebih dahulu mengambil sesuatu.

Dan kita berkata:

“Ya Allah, mengapa?”

Padahal seakan-akan Allah berkata:

“Karena Aku mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.”


21. Jangan buru-buru menyimpulkan takdir

Maka ketika mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai, jangan langsung berkata:

“Ini akhir.”

Bisa jadi ini awal.

Jangan berkata:

“Ini kehancuran.”

Bisa jadi ini perlindungan.

Jangan berkata:

“Allah meninggalkan saya.”

Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita.

Jangan berkata:

“Semua telah selesai.”

Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum kita lihat.

Karena:

وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”


22. Tiga pelajaran besar QS. Al-Kahf ayat 79

Pertama: Jangan cepat menilai sebuah peristiwa

Apa yang tampak buruk belum tentu buruk pada akhirnya.

Kedua: Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui

Ilmu manusia terbatas.

Maka kita membutuhkan iman, doa, istikharah, nasihat, ilmu, dan tawakal.

Ketiga: Mudarat yang lebih ringan dapat dipilih untuk menghindari mudarat yang lebih besar

Tetapi penerapannya harus berdasarkan ilmu, pertimbangan yang benar, dan kewenangan yang sah; bukan berdasarkan hawa nafsu.


23. Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Hari ini mungkin ada di antara kita yang sedang melihat “perahu kita berlubang”.

Jangan buru-buru menangis dan berkata:

“Allah menghancurkan hidupku.”

Bersabarlah.

Perbaiki apa yang bisa diperbaiki.

Berikhtiar.

Berdoa.

Bermusyawarah.

Belajar.

Kemudian serahkan hasil kepada Allah.

Karena kita tidak mengetahui apa yang berada di balik kejadian hari ini.

Mungkin sesuatu yang kita anggap sebagai kerusakan...

adalah perlindungan.

Mungkin sesuatu yang kita anggap sebagai kehilangan...

adalah penyelamatan.

Mungkin sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan...

adalah jalan menuju keberhasilan yang lebih baik.

Dan mungkin...

Allah sedang melubangi “perahu” kita agar seorang “raja” yang zalim tidak bisa merampasnya.

Maka jangan berhenti percaya kepada Allah.

Allah tahu.

Kita tidak tahu.

Allah melihat seluruh perjalanan.

Kita hanya melihat satu langkah.

Allah mengetahui akhir cerita.

Kita baru membaca satu halaman.


DOA

اللَّهُمَّ إِنَّا عَبِيدُكَ الضُّعَفَاءُ، لَا نَعْلَمُ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا، وَلَا نَقْدِرُ إِلَّا بِقُدْرَتِكَ.

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِي مَا نَكْرَهُ خَيْرٌ لَنَا فَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّابِرِينَ، وَإِنْ كَانَ فِي مَا نُحِبُّ شَرٌّ لَنَا فَاصْرِفْهُ عَنَّا وَاصْرِفْنَا عَنْهُ.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا أَنْ نَرَى بِبَصِيرَةِ الْإِيمَانِ، لَا بِعَيْنِ الْهَوَى.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَالصَّبْرَ عَلَى قَضَائِكَ، وَالرِّضَا بِقَدَرِكَ، وَالتَّوَكُّلَ عَلَيْكَ.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَمْوَالَنَا، وَأَهْلَنَا، وَأَوْلَادَنَا، وَدِينَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الَّذِينَ إِذَا أَعْطَيْتَهُمْ شَكَرُوا، وَإِذَا ابْتَلَيْتَهُمْ صَبَرُوا، وَإِذَا أَذْنَبُوا اسْتَغْفَرُوا.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Catatan rujukan

  1. Tafsir Ibn Kathir, QS. Al-Kahf: 79 — menjelaskan bahwa perahu dibuat cacat agar tidak diambil raja zalim dan tetap dapat dimanfaatkan oleh pemiliknya yang miskin.
  2. Sahih Muslim no. 2380 — hadis panjang tentang perjalanan Nabi Musa bersama Khidir dan penjelasan mengenai perahu, anak, dan dinding.
  3. Sahih al-Bukhari no. 2641 — perkataan Umar bin Khattab tentang menilai manusia berdasarkan apa yang tampak dan menyerahkan perkara batin kepada Allah.
  4. Sahih Muslim no. 96a–96b — kisah Usamah bin Zaid dan larangan mengklaim mengetahui isi hati seseorang.
  5. Kaidah fikih الضَّرَرُ الْأَشَدُّ يُزَالُ بِالضَّرَرِ الْأَخَفِّ dibahas dalam literatur kaidah fikih sebagai cabang dari prinsip menghilangkan kemudaratan.

Catatan ilmiah: ungkapan نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَاللّٰهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ sebaiknya tidak disebut begitu saja sebagai hadis Nabi ﷺ tanpa takhrij khusus. Maknanya memiliki landasan kuat dalam prinsip syariat, dan riwayat Sahih al-Bukhari dari Umar bin Khattab di atas merupakan dalil yang lebih aman untuk digunakan.

Tidak ada komentar