KETIKA PERPISAHAN MEMBUKA RAHASIA HIKMAH
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 78
KETIKA PERPISAHAN MEMBUKA RAHASIA HIKMAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita sampai pada sebuah ayat yang sangat dalam.
Ayat ke-78 dari Surah Al-Kahf.
Sebuah ayat tentang perpisahan.
Tetapi menariknya, perpisahan dalam ayat ini bukan sekadar berakhirnya perjalanan.
Perpisahan ini menjadi pintu menuju:
penjelasan,
pemahaman,
dan terbukanya hikmah.
Selama perjalanan, Nabi Musa عليه السلام melihat tiga kejadian:
Perahu dilubangi.
Seorang anak dibunuh.
Sebuah dinding ditegakkan.
Secara lahiriah, semuanya sulit dipahami.
Musa bertanya.
Musa memprotes.
Musa merasa tidak mampu bersabar.
Sampai akhirnya Khidir berkata:
“Inilah perpisahan antara aku dengan engkau.”
Tetapi setelah itu Khidir berkata:
“Aku akan memberitahukan kepadamu penjelasan atas apa yang selama ini tidak mampu engkau sabari.”
Maka ayat ini mengajarkan kepada kita:
TIDAK SEMUA YANG KITA BENCi HARI INI, KITA PAHAMI HIKMAHNYA HARI INI.
Kadang-kadang hikmah baru terlihat:
setelah waktu berlalu.
I. AYAT YANG MENJADI TITIK PERPISAHAN
Allah berfirman:
قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَۚ سَاُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
“Dia berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya.’”
(QS. Al-Kahf: 78).
Perhatikan dua bagian penting:
Pertama:
هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ
“Ini adalah perpisahan antara aku dan engkau.”
Kedua:
سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Aku akan memberitahukan kepadamu penjelasan atas apa yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”
Jadi ada dua hal:
perpisahan
kemudian
penjelasan.
Seolah-olah Allah ingin mengajarkan:
Ada sesuatu yang baru bisa dipahami setelah kita melewati suatu proses.
II. PERPISAHAN INI BUKAN TIBA-TIBA
Kita harus mengingat ayat sebelumnya.
Musa sendiri telah mengatakan:
اِنْ سَاَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍۢ بَعْدَهَا فَلَا تُصٰحِبْنِيْ ۚ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَّدُنِّيْ عُذْرًا
“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sungguh, engkau telah cukup menerima alasan dariku.”
(QS. Al-Kahf: 76).
Maka ketika Musa kembali berkata:
لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا
“Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”
Khidir berkata:
هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ
“Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”
As-Sa‘di menjelaskan bahwa Musa sendiri telah menetapkan syarat tersebut sebelumnya, sehingga setelah pelanggaran berikutnya tidak ada lagi alasan untuk melanjutkan kebersamaan.
Pelajarannya:
Setiap janji mempunyai konsekuensi.
Jangan mudah berkata:
“Saya janji.”
“Saya tidak akan mengulanginya.”
“Kalau saya lakukan lagi, silakan beri sanksi.”
Karena sebuah janji bukan sekadar kata-kata.
Janji adalah tanggung jawab.
III. KHIDIR TIDAK LANGSUNG PERGI
Ada sesuatu yang sangat indah.
Khidir berkata:
هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ
Tetapi tidak berhenti di situ.
Dia melanjutkan:
سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Aku akan memberitahukan kepadamu penjelasannya.”
Artinya:
Perpisahan tidak selalu berarti meninggalkan seseorang dalam kebingungan.
Kadang seseorang harus berpisah, tetapi tetap memberikan penjelasan yang diperlukan.
Ini merupakan adab dalam hubungan manusia.
Kalau harus berpisah:
jangan meninggalkan luka tanpa penjelasan jika penjelasan itu memang diperlukan dan memungkinkan.
Kalau harus menghentikan kerja sama:
sampaikan dengan baik.
Kalau harus mengakhiri hubungan:
jangan mempermalukan.
Kalau harus memberikan keputusan:
jelaskan dengan hikmah.
IV. MAKNA “تَأْوِيل”
Allah menggunakan kata:
تَأْوِيْل
“Ta'wil.”
Dalam konteks ayat ini, maksudnya adalah penjelasan mengenai hakikat dan akibat dari peristiwa-peristiwa yang sebelumnya belum dipahami Musa.
Ath-Thabari menjelaskan maknanya sebagai pemberitahuan tentang kesudahan/akibat dari tindakan-tindakan Khidir yang sebelumnya tidak dapat Musa pahami dan sabari.
Ungkapan Ath-Thabari secara ringkas:
بِمَا يَئُولُ إِلَيْهِ عَاقِبَةُ أَفْعَالِي
“Dengan apa yang menjadi kesudahan dari perbuatan-perbuatanku.”
Ini sangat penting.
Karena kadang-kadang kita hanya melihat:
kejadian.
Allah mengetahui:
akibatnya.
Kita melihat:
hari ini.
Allah mengetahui:
besok.
Kita melihat:
satu bagian cerita.
Allah mengetahui:
seluruh cerita.
V. MANUSIA MELIHAT POTONGAN, ALLAH MENGETAHUI KESELURUHAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Bayangkan seseorang melihat seorang dokter melakukan operasi.
Dia melihat:
tubuh dibedah.
Kalau dia tidak tahu ilmu kedokteran, mungkin dia berpikir:
“Mengapa tubuh orang ini dilukai?”
Tetapi dokter mengetahui:
ada penyakit yang harus diangkat.
Seseorang melihat seorang petani memotong sebagian tanaman.
Dia berkata:
“Mengapa dipotong?”
Petani tahu:
pemangkasan itu agar tanaman tumbuh lebih baik.
Seorang guru memberikan tugas berat kepada murid.
Murid berkata:
“Guru terlalu keras.”
Guru mungkin mengetahui:
“Saya sedang mempersiapkannya menghadapi ujian.”
Kita sering menilai proses dari satu potongan kecil.
Allah mengetahui:
keseluruhannya.
VI. ALLAH BERFIRMAN: BISA JADI KITA MEMBENCI SESUATU YANG BAIK
Allah berfirman:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216).
Perhatikan kalimat terakhir:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Inilah salah satu kunci memahami perjalanan Musa dan Khidir.
Bukan berarti setiap kejadian buruk pasti kita sukai.
Bukan berarti kita tidak boleh berusaha mengubah keadaan.
Tetapi:
kita mengakui keterbatasan pengetahuan kita di hadapan ilmu Allah.
VII. BUKAN BERARTI PASRAH TANPA USAHA
Ada kesalahan pemahaman yang harus dihindari.
Ketika kita berkata:
“Allah pasti punya hikmah.”
bukan berarti:
“Saya tidak perlu berusaha.”
Ketika sakit:
berobat.
Ketika lapar:
mencari makanan.
Ketika punya masalah:
mencari solusi.
Ketika dizalimi:
mencari perlindungan dan keadilan.
Ketika gagal:
mengevaluasi.
Kemudian setelah ikhtiar:
bertawakal kepada Allah.
Hikmah tidak berarti pasif.
Hikmah berarti:
berusaha sambil mengakui bahwa hasil akhir berada di tangan Allah.
VIII. HADIS TENTANG KETERBATASAN ILMU MANUSIA
Dalam hadis panjang tentang Musa dan Khidir, Rasulullah ﷺ menyampaikan perbandingan yang sangat indah.
Setelah Khidir menjelaskan berbagai kejadian, terdapat gambaran tentang burung yang mengambil air dari laut.
Kemudian Khidir berkata:
يَا مُوسَى، مَا عِلْمِي وَعِلْمُكَ فِي عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِثْلُ مَا نَقَصَ هَذَا الْعُصْفُورُ مِنْ هَذَا الْبَحْرِ
“Wahai Musa, ilmu yang aku miliki dan ilmu yang engkau miliki dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti air laut yang berkurang karena diambil oleh burung ini.”
Riwayat kisah Musa dan Khidir tersebut terdapat dalam Shahih Muslim no. 2380, dan hadis tersebut juga memuat rangkaian tiga peristiwa serta penjelasan Khidir.
Subhanallah!
Ilmu kita mungkin banyak.
Tetapi dibandingkan ilmu Allah?
Sangat sedikit.
IX. MAKA JANGAN SOMBONG DENGAN ILMU
Allah berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, masih ada yang lebih mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76).
Orang pintar harus tetap rendah hati.
Guru harus tetap belajar.
Ustaz harus tetap belajar.
Dosen harus tetap belajar.
Orang tua harus tetap belajar.
Anak harus belajar.
Karena tidak ada manusia yang mengetahui segala sesuatu.
X. KETIKA KITA TIDAK MEMAHAMI KEPUTUSAN ALLAH
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ada saat-saat dalam kehidupan kita ketika kita bertanya:
“Ya Allah, mengapa?”
Mengapa saya gagal?
Mengapa orang yang saya cintai pergi?
Mengapa usaha ini tidak berhasil?
Mengapa doa saya belum terkabul?
Mengapa saya harus mengalami ujian ini?
Mengapa jalan saya tidak seperti yang saya harapkan?
Pertanyaan itu manusiawi.
Tetapi jangan sampai pertanyaan berubah menjadi:
“Allah tidak adil.”
Itulah yang harus kita hindari.
Karena Allah berfirman:
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُوْنَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.”
(QS. Al-Anbiya': 23).
Kita boleh mencari hikmah.
Kita boleh bertanya kepada ulama.
Kita boleh merenung.
Tetapi tetap ada batas:
hamba tetap hamba, Allah tetap Rabb.
XI. KISAH MUSA MENGAJARKAN ADAB TERHADAP ILMU
Musa adalah seorang nabi.
Namun ketika bertemu seorang hamba yang Allah beri ilmu khusus, Musa datang sebagai seorang penuntut ilmu.
Allah berfirman:
قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?’”
(QS. Al-Kahf: 66).
Musa tidak mengatakan:
“Saya nabi.”
Tetapi:
“Bolehkah saya belajar?”
Inilah adab.
XII. ILMU MEMBUTUHKAN KESABARAN
Allah berfirman:
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.’”
(QS. Thaha: 114).
Perhatikan:
Allah tidak memerintahkan Nabi ﷺ untuk berdoa:
“Ya Allah, tambahkan hartaku.”
Dalam ayat ini:
رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
“Ya Rabb, tambahkanlah aku ilmu.”
Tetapi ilmu membutuhkan:
- kesabaran,
- waktu,
- pengulangan,
- guru,
- latihan,
- pengalaman,
- dan kerendahan hati.
XIII. PERPISAHAN BISA MENJADI BAGIAN DARI PENDIDIKAN
Kadang-kadang seorang guru harus mengatakan:
“Cukup sampai di sini.”
Bukan karena membenci murid.
Tetapi karena ada batas.
Kadang orang tua harus mengatakan:
“Ayah tidak bisa membiarkan kamu terus seperti ini.”
Bukan karena tidak sayang.
Tetapi karena kasih sayang juga membutuhkan batas.
Kadang seseorang harus keluar dari sebuah lingkungan.
Kadang sebuah kerja sama harus berakhir.
Kadang sebuah hubungan harus diselesaikan.
Tidak semua perpisahan berarti kegagalan.
Ada perpisahan yang merupakan:
akhir dari satu tahap dan awal dari tahap yang lebih matang.
XIV. “FIRAQ” TIDAK SELALU BERARTI KEBENCIAN
Allah berfirman:
هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنَكَ
“Inilah perpisahan antara aku dan engkau.”
Perhatikan Khidir tidak mengatakan:
“Aku membencimu.”
Tidak.
Tidak ada penghinaan.
Tidak ada caci maki.
Tidak ada mempermalukan Musa.
Hanya:
“Ini adalah perpisahan.”
Ini adalah pelajaran penting dalam menyelesaikan hubungan.
Kalau suatu hubungan memang harus berakhir:
berakhirlah dengan adab.
Kalau harus berpisah:
jangan saling menghancurkan.
Kalau harus berbeda:
jangan saling menghina.
Karena pernah bersama bukan berarti ketika berpisah kita harus menjadi musuh.
XV. ADAB DALAM MENGAKHIRI SEBUAH HUBUNGAN
Islam mengajarkan akhlak bahkan ketika hubungan sedang sulit.
Allah berfirman:
وَاِنْ يَّتَفَرَّقَا يُغْنِ اللّٰهُ كُلًّا مِّنْ سَعَتِهٖ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ وَاسِعًا حَكِيْمًا
“Jika keduanya berpisah, Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari karunia-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya lagi Mahabijaksana.”
(QS. An-Nisa': 130).
Ayat ini berbicara dalam konteks rumah tangga, tetapi memberikan satu prinsip:
Perpisahan tidak berarti Allah berhenti mengurus kehidupan kita.
Ada kalanya sebuah pintu ditutup.
Tetapi Allah membuka pintu lain.
XVI. JANGAN MEMAKSA SESUATU YANG SUDAH HARUS BERAKHIR
Ada manusia yang terlalu takut dengan perpisahan.
Dia mempertahankan sesuatu yang memang sudah waktunya selesai.
Padahal:
- sebuah fase selesai,
- sebuah pekerjaan selesai,
- sebuah perjalanan selesai,
- sebuah hubungan selesai,
- sebuah kesempatan selesai.
Maka jangan selalu menganggap:
“Kalau berakhir berarti saya gagal.”
Tidak selalu.
Bisa jadi:
Allah sedang memindahkan kita kepada fase berikutnya.
XVII. PERPISAHAN MUSA DAN KHIDIR JUSTRU MEMBUKA ILMU
Ini bagian yang paling indah.
Selama bersama:
Musa melihat tindakan.
Setelah sampai pada perpisahan:
Musa mendapatkan penjelasan.
Artinya:
Kadang kita baru memahami nilai sebuah perjalanan setelah perjalanan itu selesai.
Ketika masih menjadi murid:
kita belum memahami mengapa guru begitu tegas.
Setelah menjadi dewasa:
kita baru sadar.
Ketika masih menjadi anak:
kita merasa orang tua terlalu keras.
Setelah memiliki anak:
kita mulai memahami.
Ketika masih berada dalam ujian:
kita merasa hidup sangat berat.
Beberapa tahun kemudian:
kita melihat bahwa ujian itu ternyata membentuk kita.
XVIII. TIGA PERISTIWA, TIGA HIKMAH
Sekarang kita memasuki penjelasan yang akan dibuka pada ayat 79–82.
PERTAMA: PERAHU
Allah berfirman:
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا
“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu.”
(QS. Al-Kahf: 79).
Apa yang Musa lihat?
Kerusakan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Perlindungan.
Perahu dilubangi agar tidak dirampas seluruhnya.
Kadang:
kerugian kecil menyelamatkan kita dari kerugian yang jauh lebih besar.
XIX. KEDUA: ANAK
Allah berfirman:
وَاَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ اَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا
“Adapun anak muda itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran.”
(QS. Al-Kahf: 80).
Kemudian Allah berfirman:
فَاَرَدْنَآ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا
“Kemudian kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan anak yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya.”
(QS. Al-Kahf: 81).
Ini adalah perkara yang sangat berat bagi manusia.
Tetapi ayat ini mengingatkan:
Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Namun perlu ditegaskan:
Kisah ini tidak boleh dijadikan pembenaran bagi manusia untuk melakukan kekerasan atau membunuh seseorang berdasarkan dugaan tentang masa depannya.
Itu bukan hak manusia.
Peristiwa Khidir adalah bagian dari kisah yang Allah sendiri jelaskan sebagai sesuatu yang tidak dilakukan atas kehendak pribadi Khidir.
XX. KETIGA: DINDING
Allah berfirman:
وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا
“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh.”
(QS. Al-Kahf: 82).
Kemudian:
فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ
“Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya sebagai rahmat dari Tuhanmu.”
(QS. Al-Kahf: 82).
Kemudian kalimat yang sangat penting:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
Inilah kunci!
XXI. KHIDIR SENDIRI MENEGASKAN: “BUKAN ATAS KEHENDAKKU SENDIRI”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kalimat:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ
harus menjadi pagar agar kita tidak salah memahami kisah ini.
Tidak boleh seseorang berkata:
“Saya juga punya ilmu batin seperti Khidir.”
“Saya tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu.”
“Saya mendapat ilham, maka saya boleh melakukan apa saja.”
Tidak!
Kisah Musa dan Khidir bukan lisensi untuk mengklaim ilmu gaib.
Yang gaib milik Allah.
Allah berfirman:
قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ
“Katakanlah, tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65).
Maka jangan menggunakan kisah Khidir untuk membenarkan klaim-klaim mistik.
XXII. KITA TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN “HIKMAH TERSEMBUNYI” UNTUK MEMBENARKAN KEMAKSIATAN
Ini sangat penting.
Jika syariat mengatakan:
haram,
maka kita tidak boleh berkata:
“Mungkin ada hikmah.”
Jika syariat melarang:
kezaliman,
kita tidak boleh berkata:
“Mungkin ini ilmu ladunni.”
Jika manusia tidak mengetahui sesuatu:
bukan berarti dia boleh mengarang-ngarang jawaban.
Kisah Khidir adalah kasus khusus yang Allah ceritakan.
Dan Khidir sendiri berkata:
وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
Maka:
Jangan gunakan kisah Khidir untuk membenarkan perilaku yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
XXIII. ALLAH MENGETAHUI, KITA TIDAK MENGETAHUI
Inilah inti ayat 78.
Allah berfirman:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Ini bukan kalimat untuk mematikan akal.
Ini kalimat untuk merendahkan ego di hadapan ilmu Allah.
Kita tetap berpikir.
Kita tetap belajar.
Kita tetap mencari sebab.
Kita tetap berikhtiar.
Tetapi kita sadar:
pengetahuan kita terbatas.
XXIV. JIKA DOA BELUM DIKABULKAN
Kadang kita berkata:
“Saya sudah berdoa, mengapa belum dikabulkan?”
Mungkin kita hanya melihat:
“Allah belum memberi.”
Tetapi Allah mengetahui:
“Apa yang terbaik untuk diberikan.”
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa seorang mukmin terus berdoa dan tidak tergesa-gesa.
Beliau ﷺ bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa tetapi belum juga dikabulkan untukku.’”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dari:
“Apa yang Allah berikan.”
Kadang kasih sayang Allah juga hadir melalui:
apa yang Allah cegah.
XXV. BISA JADI PENOLAKAN ADALAH PERLINDUNGAN
Ada orang yang berkata:
“Saya gagal mendapatkan pekerjaan itu.”
Mungkin.
Tetapi bisa jadi Allah menyelamatkannya dari lingkungan yang buruk.
Ada yang berkata:
“Saya tidak mendapatkan sesuatu yang saya inginkan.”
Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kepada sesuatu yang lebih baik.
Ada yang berkata:
“Hubungan itu berakhir.”
Mungkin sakit.
Tetapi bisa jadi Allah sedang menyelamatkan hati.
Kita tidak boleh memastikan setiap kejadian tertentu pasti memiliki satu hikmah tertentu tanpa dalil.
Tetapi kita boleh memiliki:
husnuzan kepada Allah.
XXVI. HUSNUZAN KEPADA ALLAH
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Maka ketika diuji, jangan berkata:
“Allah membenciku.”
Tetapi katakan:
“Ya Allah, aku belum memahami hikmah-Mu, tetapi aku percaya Engkau Maha Bijaksana.”
Ketika sesuatu tertunda:
“Ya Allah, aku belum tahu mengapa, tetapi aku percaya kepada-Mu.”
Ketika sesuatu pergi:
“Ya Allah, jika Engkau mengambilnya, aku percaya Engkau mengetahui apa yang aku tidak ketahui.”
Itulah tawakal.
XXVII. PERPISAHAN DENGAN KHIDIR ADALAH PELAJARAN TENTANG BATAS
Ada pelajaran lain.
Tidak semua perjalanan harus berlangsung selamanya.
Ada guru yang kita temui untuk satu fase.
Ada teman yang hadir untuk satu fase.
Ada pekerjaan yang menjadi jembatan menuju fase berikutnya.
Ada pengalaman yang Allah berikan untuk mendidik kita.
Setelah pelajaran selesai:
perjalanan berubah.
Jangan selalu memaksa sesuatu untuk bertahan hanya karena kita takut kehilangan.
XXVIII. ADA ORANG YANG DATANG UNTUK MENGAJARKAN, BUKAN UNTUK MENETAP
Ini sangat indah untuk direnungkan.
Ada orang yang Allah kirim dalam hidup kita:
untuk mengajarkan kesabaran.
Ada yang mengajarkan:
keikhlasan.
Ada yang mengajarkan:
keberanian.
Ada yang mengajarkan:
cara memaafkan.
Ada yang mengajarkan:
bahwa kita tidak boleh terlalu bergantung kepada manusia.
Setelah pelajaran itu selesai, hubungan bisa berubah.
Tetapi pelajarannya tetap tinggal.
XXIX. JANGAN MENYESALI SEMUA PERPISAHAN
Ada perpisahan yang menyakitkan.
Tetapi tidak semua perpisahan adalah musibah.
Kadang:
perpisahan adalah perlindungan.
Kadang:
perpisahan adalah pendidikan.
Kadang:
perpisahan adalah perpindahan menuju kedewasaan.
Kadang:
perpisahan adalah cara Allah membuka pintu baru.
Tetapi kita tetap harus berhati-hati:
Jangan setiap perpisahan langsung kita klaim:
“Ini pasti hikmah tertentu.”
Kita tidak mengetahui yang gaib.
Cukuplah kita berkata:
“Aku percaya Allah Mahabijaksana dan aku akan menjalani bagian yang menjadi tanggung jawabku.”
XXX. PELAJARAN UNTUK GURU
Guru juga belajar dari ayat ini.
Ada saat guru menjelaskan:
murid belum memahami.
Ada saat guru memberikan tugas:
murid mengeluh.
Ada saat guru memberi aturan:
murid merasa berat.
Jangan selalu berharap murid langsung memahami alasan di balik semua pendidikan.
Tetapi guru juga harus melakukan tugasnya:
menjelaskan pada waktu yang tepat.
Karena pendidikan bukan hanya memberikan aturan.
Pendidikan juga memberikan:
makna.
XXXI. PELAJARAN UNTUK MURID
Wahai para pelajar,
Tidak semua hal yang dilakukan guru langsung kalian pahami.
Tetapi bukan berarti guru selalu benar dalam segala hal.
Maka:
- hormati guru,
- bertanya dengan santun,
- dengarkan penjelasan,
- gunakan akal,
- ikuti kebenaran,
- dan tetap kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Jadilah murid yang:
rendah hati tetapi tidak kehilangan daya pikir.
XXXII. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Orang tua sering menghadapi pertanyaan:
“Mengapa saya tidak boleh?”
“Mengapa harus belajar?”
“Mengapa harus shalat?”
“Mengapa harus disiplin?”
Anak mungkin belum memahami seluruh hikmah.
Maka orang tua jangan hanya berkata:
“Karena Ayah bilang!”
Ajarkan:
“Karena Allah mengajarkan demikian.”
Kemudian jelaskan hikmahnya sesuai usia anak.
XXXIII. PELAJARAN UNTUK ORANG YANG SEDANG DIUJI
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kalau hari ini kita sedang menghadapi sesuatu yang belum kita pahami, jangan buru-buru menyimpulkan:
“Allah tidak sayang kepada saya.”
Bisa jadi kita sedang berada di bagian cerita yang belum selesai.
Musa melihat perahu rusak.
Belum tahu keselamatannya.
Musa melihat seorang anak terbunuh.
Belum tahu penggantinya.
Musa melihat dinding ditegakkan.
Belum tahu harta anak yatim.
Demikian pula kita.
Kita mungkin sedang berada di:
ayat 77 kehidupan kita.
Kita belum sampai pada:
ayat 82.
Maka jangan menghakimi seluruh cerita hanya berdasarkan satu ayat kehidupan.
XXXIV. JANGAN BERHENTI DI “MENGAPA?”
Pertanyaan:
“Mengapa ini terjadi?”
adalah manusiawi.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Lanjutkan:
“Apa yang Allah ingin saya pelajari?”
“Apa yang harus saya perbaiki?”
“Apa kewajiban saya sekarang?”
“Bagaimana saya tetap taat?”
Itulah cara seorang mukmin menghadapi ujian.
XXXV. EMPAT KALIMAT YANG PERLU KITA PEGANG
Ketika kita tidak memahami sesuatu, katakan:
1.
اللَّهُ أَعْلَمُ
“Allah lebih mengetahui.”
2.
لَا أَعْلَمُ
“Saya tidak tahu.”
3.
سَأَتَعَلَّمُ
“Saya akan belajar.”
4.
سَأَصْبِرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Saya akan bersabar, insya Allah.”
Empat kalimat ini bisa menyelamatkan kita dari kesombongan ilmu.
XXXVI. INTI DARI QS. AL-KAHF AYAT 78
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita simpulkan.
PERTAMA — PERPISAHAN ADALAH BAGIAN DARI KEHIDUPAN
Tidak semua kebersamaan berlangsung selamanya.
KEDUA — TIDAK SEMUA HIKMAH LANGSUNG TERLIHAT
Kadang kita baru memahami setelah waktu berlalu.
KETIGA — ILMU MANUSIA TERBATAS
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”
KEEMPAT — SABAR BUKAN BERARTI TIDAK BOLEH BERTANYA
Kita boleh mencari penjelasan.
Tetapi jangan tergesa-gesa menghakimi.
KELIMA — JANGAN MENGGUNAKAN “HIKMAH TERSEMBUNYI” UNTUK MEMBENARKAN MAKSIAT
Kisah Khidir adalah peristiwa khusus dengan ilmu dan perintah Allah.
KEENAM — SETELAH IKHTIAR, SERAHKAN HASIL KEPADA ALLAH
Karena kita tidak mengetahui seluruh akibat dari sebuah peristiwa.
XXXVII. RENUNGAN PENUTUP
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami:
perpisahan.
Ada yang kehilangan seseorang.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang kehilangan kesempatan.
Ada yang kehilangan sesuatu yang sangat dicintai.
Ada yang doanya belum terwujud.
Ada yang rencananya gagal.
Ada yang hidupnya tidak berjalan sesuai harapan.
Mungkin kita sedang bertanya:
“Mengapa, Ya Allah?”
Tidak apa-apa menangis.
Tidak apa-apa merasa sedih.
Tidak apa-apa mengakui bahwa kita belum memahami.
Tetapi jangan tinggalkan Allah.
Katakan:
“Ya Allah, aku belum memahami seluruh cerita ini.”
Kemudian:
“Tetapi aku percaya Engkau mengetahuinya.”
Katakan:
“Ya Allah, aku belum melihat hikmahnya.”
Kemudian:
“Tetapi aku percaya Engkau Mahabijaksana.”
Katakan:
“Ya Allah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Kemudian:
“Tetapi aku percaya Engkau mengetahui apa yang terbaik.”
Itulah hati seorang mukmin.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, berilah kami manfaat dari ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah kepada kami ilmu.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عِنْدَ الْبَلَاءِ، وَالشُّكْرَ عِنْدَ النَّعْمَاءِ، وَالرِّضَا عِنْدَ الْقَضَاءِ.
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran ketika mendapat ujian, rasa syukur ketika mendapat nikmat, dan keridaan ketika menerima ketetapan-Mu.”
اللَّهُمَّ إِنَّا لَا نَعْلَمُ مَا تَعْلَمُ، وَلَا نَرَى مَا تَرَى، فَاجْعَلْ قُلُوبَنَا مُطْمَئِنَّةً بِحِكْمَتِكَ، وَرَاضِيَةً بِقَضَائِكَ، وَمُتَوَكِّلَةً عَلَيْكَ.
“Ya Allah, kami tidak mengetahui apa yang Engkau ketahui dan kami tidak melihat apa yang Engkau lihat. Maka jadikanlah hati kami tenang dengan hikmah-Mu, ridha terhadap ketetapan-Mu, dan bertawakal kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ إِنْ أَغْلَقْتَ لَنَا بَابًا فَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابًا مِنْ رَحْمَتِكَ، وَإِنْ مَنَعْتَ عَنَّا شَيْئًا فَاجْعَلْ فِي مَنْعِكَ خَيْرًا، وَإِنْ أَخَذْتَ مِنَّا شَيْئًا فَارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْيَقِينَ.
“Ya Allah, jika Engkau menutup bagi kami sebuah pintu, bukakan bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu. Jika Engkau menahan sesuatu dari kami, jadikanlah dalam penahanan-Mu itu kebaikan. Jika Engkau mengambil sesuatu dari kami, karuniakanlah kesabaran dan keyakinan kepada kami.”
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
FOOTNOTE / RUJUKAN
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 78. Ayat ini menjadi dasar utama pembahasan tentang perpisahan Musa dan Khidir serta penjelasan terhadap perkara yang sebelumnya tidak mampu Musa sabari.
[2] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Kahf: 78. Ibn Kathir menjelaskan bahwa perpisahan terjadi karena Musa sendiri telah menetapkan syarat pada ayat 76: jika ia kembali bertanya setelah itu, maka kebersamaan berakhir.
[3] Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 78. Ath-Thabari menerangkan تَأْوِيل sebagai penjelasan tentang kesudahan atau akibat dari perbuatan-perbuatan Khidir yang sebelumnya tidak dapat Musa pahami dan sabari.
[4] Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 77–78. Al-Qurtubi menghubungkan perpisahan tersebut dengan perkataan Musa tentang upah setelah sebelumnya menetapkan bahwa pertanyaan berikutnya akan menjadi sebab berakhirnya kebersamaan.
[5] As-Sa'di, Taisir al-Karim ar-Rahman, tafsir QS. Al-Kahf: 78. As-Sa'di menjelaskan bahwa Musa telah menetapkan syarat terhadap dirinya sendiri sehingga tidak tersisa alasan untuk melanjutkan kebersamaan; setelah itu Khidir menjelaskan hikmah di balik perkara yang Musa ingkari.
[6] Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, hadis 2380, riwayat Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه mengenai perjalanan Musa dan Khidir. Riwayat ini memuat rangkaian peristiwa perahu, anak, dinding, serta sabda Nabi ﷺ: يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى.
[7] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah: 216, tentang keterbatasan pengetahuan manusia: وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ — “Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
[8] Al-Qur'an, QS. Yusuf: 76, tentang keterbatasan ilmu manusia: وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ — “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”
[9] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 79–82, merupakan penjelasan Khidir atas tiga peristiwa yang membuat Musa sulit bersabar: perahu, anak, dan dinding.
[10] Shahih Muslim 2380, dalam rangkaian kisah Musa dan Khidir, menggambarkan betapa terbatasnya ilmu Musa dan Khidir dibandingkan ilmu Allah melalui perumpamaan air laut yang berkurang karena diambil burung.
[11] Al-Qur'an, QS. An-Naml: 65, tentang perkara gaib: لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ — tidak ada yang mengetahui perkara gaib secara mutlak kecuali Allah.
[12] Al-Qur'an, QS. Thaha: 114, doa Nabi ﷺ: رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا — “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”
[13] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 82, secara eksplisit menegaskan: وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ — “Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.” Ayat ini menjadi pagar penting agar kisah Khidir tidak digunakan untuk membenarkan klaim ilmu gaib atau tindakan yang bertentangan dengan syariat.
KESIMPULAN BESAR
QS. Al-Kahf ayat 78 mengajarkan kepada kita:
Tidak semua perpisahan adalah kehancuran.
Tidak semua kehilangan adalah keburukan.
Tidak semua penolakan adalah hukuman.
Tidak semua kegagalan adalah akhir.
Dan tidak semua hikmah harus kita pahami pada hari yang sama ketika peristiwa terjadi.
Kita boleh bertanya.
Kita boleh sedih.
Kita boleh menangis.
Kita boleh mencari penjelasan.
Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, seorang mukmin berkata:
اللَّهُ أَعْلَمُ
“Allah lebih mengetahui.”
Dan kemudian:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik tempat berserah.”
Karena kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Allah mengetahui seluruh kitab kehidupan kita.
Post a Comment