Menjaga Kesucian Jiwa, Keberanian Mengingkari Kemungkaran, dan Batas Pengetahuan Manusia
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 74
“Menjaga Kesucian Jiwa, Keberanian Mengingkari Kemungkaran, dan Batas Pengetahuan Manusia”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pada kesempatan ini, marilah kita melanjutkan tadabbur kisah Nabi Musa عليه السلام dan Khidir dalam Surah Al-Kahf.
Sampailah kita pada ayat yang sangat mengguncangkan hati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 74
فَانْطَلَقَا ۗ حَتّٰٓى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ ۙ قَالَ اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً ۢبِغَيْرِ نَفْسٍۗ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا
Artinya:
“Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, ‘Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.’”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kalau kita membaca ayat ini sekilas, muncul pertanyaan besar:
Mengapa Khidir membunuh seorang anak?
Dan lebih besar lagi pertanyaannya:
Apakah tindakan tersebut boleh dijadikan contoh bagi manusia?
Jawabannya harus sangat hati-hati.
Kisah ini bukan pembenaran bagi manusia untuk membunuh.
Justru kisah ini mengajarkan kepada kita tentang:
- kemuliaan dan kesucian jiwa manusia;
- keberanian menyatakan bahwa suatu perbuatan adalah kemungkaran;
- keterbatasan pengetahuan manusia;
- bahwa ilmu Allah meliputi sesuatu yang tidak diketahui manusia;
- bahwa peristiwa khusus dalam kisah Khidir tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar syariat.
1. MUSA MELIHAT SESUATU YANG SANGAT BERAT
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebelumnya Musa telah melihat Khidir melubangi kapal.
Musa berkata:
اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
“Mengapa engkau melubangi kapal itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang besar.”
Kemudian Musa meminta maaf.
Tetapi sekarang terjadi sesuatu yang jauh lebih berat.
Khidir membunuh seorang anak.
Maka Musa berkata:
اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً ۢبِغَيْرِ نَفْسٍ
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?”
Lalu Musa menambahkan:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا
“Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”
Perhatikan jamaah.
Musa tidak berkata:
“Ah, mungkin ada hikmah.”
Musa tidak berkata:
“Karena saya sedang belajar, maka saya tidak boleh mengatakan apa-apa.”
Musa memiliki kecemburuan terhadap kebenaran.
Ketika melihat sesuatu yang secara lahiriah merupakan pembunuhan terhadap jiwa yang tidak diketahui melakukan kejahatan yang membenarkan pembunuhan, Musa spontan mengingkarinya.
2. “نَفْسًا زَكِيَّةً” — JIWA YANG SUCI
Allah menggunakan ungkapan:
نَفْسًا زَكِيَّةً
“Jiwa yang suci.”
Ibnu Katsir menjelaskan:
أَيْ صَغِيرَةً لَمْ تَعْمَلِ الْحَنَثَ، وَلَمْ تَحْمِلْ إِثْمًا بَعْدُ
Artinya:
“Yaitu seorang yang masih kecil, yang belum melakukan dosa dan belum memikul dosa.”
Ibnu Katsir juga menyebutkan beberapa riwayat mengenai bagaimana Khidir membunuh anak tersebut, tetapi beliau menutup rincian tersebut dengan:
وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Dan Allah lebih mengetahui.”
Ini pelajaran penting.
Al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci bagaimana pembunuhan itu dilakukan.
Maka kita tidak perlu sibuk memastikan:
“Apakah kepalanya dipenggal?”
“Apakah dicekik?”
“Apakah dibenturkan?”
Rincian tersebut tidak menjadi inti pesan ayat.
Yang menjadi inti adalah:
Allah ingin kita memahami hikmah kisahnya, bukan sibuk dengan detail yang tidak diberikan wahyu.
3. ATH-THABARI: “نَفْسًا زَكِيَّةً”
Imam Ath-Thabari menjelaskan perbedaan qira'at pada kata زَكِيَّةً / زَاكِيَةً.
Beliau menjelaskan:
المُطَهَّرَةُ الَّتِي لَا ذَنْبَ لَهَا، وَلَمْ تُذْنِبْ قَطُّ لِصِغَرِهَا
Artinya:
“Yaitu jiwa yang bersih, yang tidak memiliki dosa dan belum pernah melakukan dosa karena usianya masih kecil.”
Ath-Thabari juga menyebut adanya qira'at lain yang memberi makna jiwa yang telah bersih atau bertobat.
Artinya, perhatian Musa tertuju kepada kehormatan jiwa manusia.
4. ISLAM SANGAT MENGHORMATI KEHIDUPAN
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Al-Qur'an menjelaskan prinsip yang sangat besar tentang kehidupan manusia.
Allah berfirman:
QS. Al-Ma'idah: 32
مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗ وَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ
Artinya:
“Oleh karena itu Kami tetapkan suatu hukum bagi Bani Israil bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
Ayat ini menunjukkan betapa beratnya perkara menghilangkan jiwa tanpa alasan yang dibenarkan.
Maka jangan pernah menjadikan kisah Khidir sebagai dalih untuk melakukan kekerasan.
5. HADIS: DARAH SEORANG MUSLIM TIDAK BOLEH DITUMPAHKAN SEMBARANGAN
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، إِلَّا بِإِحْدَىٰ ثَلَاثٍ: النَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ
Artinya:
“Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah dan bahwa aku adalah Rasulullah, kecuali karena salah satu dari tiga perkara: jiwa dibalas dengan jiwa, orang yang telah menikah melakukan zina, dan orang yang keluar dari agama serta meninggalkan jamaah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Perlu ditekankan: hadis ini membahas ketentuan hukum, bukan izin bagi individu untuk melakukan pembunuhan sendiri. Pelaksanaan hukuman dalam hukum Islam bukan urusan orang perorangan, melainkan terkait otoritas dan prosedur hukum yang sah.
6. MENGAPA MUSA BERKATA “نُكْرًا”?
Musa mengatakan:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا
“Engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”
Kata نُكْرًا berasal dari akar kata yang berkaitan dengan sesuatu yang diingkari dan dianggap sangat buruk.
Al-Qurthubi menjelaskan:
قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ... لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا
Ia menjelaskan bahwa Musa mengingkari pembunuhan tersebut karena yang terlihat olehnya adalah seorang anak yang tidak diketahui telah melakukan perbuatan yang membenarkan pembunuhan.
7. “إِمْرًا” DAN “نُكْرًا” — MANA YANG LEBIH BERAT?
Ini menarik.
Ketika Khidir melubangi kapal pada ayat 71, Musa berkata:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
“Engkau telah melakukan sesuatu yang besar.”
Pada ayat 74:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا
“Engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”
Para ulama berbeda dalam menjelaskan mana yang lebih berat secara lafaz dan konteks.
Al-Qurthubi menukil beberapa pendapat. Sebagian ulama memandang نُكْرًا lebih kuat dalam pengingkaran karena pembunuhan telah benar-benar terjadi; sementara pendapat lain melihat إِمْرًا dapat menggambarkan bahaya besar yang mengancam seluruh penumpang kapal.
Maka kita tidak perlu memaksakan satu kesimpulan yang tidak disepakati.
Yang jelas:
Musa merasakan pembunuhan itu sebagai sesuatu yang jauh lebih berat secara moral dan keagamaan.
8. AS-SA'DI: MUSA DIGERAKKAN OLEH “الْحَمِيَّةُ الدِّينِيَّةُ”
Syaikh As-Sa'di رحمه الله memberikan ungkapan yang sangat indah:
فَاشْتَدَّ بِمُوسَى الْغَضَبُ، وَأَخَذَتْهُ الْحَمِيَّةُ الدِّينِيَّةُ حِينَ قَتَلَ غُلَامًا صَغِيرًا لَمْ يُذْنِبْ
Artinya:
“Musa sangat marah, dan terdorong oleh kecemburuan terhadap agama ketika Khidir membunuh seorang anak kecil yang belum melakukan dosa.”
Kemudian As-Sa'di membedakan kejadian pertama dengan kejadian kedua:
وَكَانَتِ الْأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا، وَهَذِهِ غَيْرُ نِسْيَانٍ، وَلَكِنْ عَدَمُ صَبْرٍ
Artinya:
“Kejadian pertama dari Musa terjadi karena lupa, sedangkan yang ini bukan karena lupa, tetapi karena ketidakmampuannya untuk bersabar.”
Ini penting.
Musa bukan sekadar bertanya karena penasaran.
Ia melihat sesuatu yang secara lahiriah sangat serius.
9. HADIS NABI ﷺ TENTANG PERISTIWA INI
Kisah ini dijelaskan secara panjang dalam hadis sahih.
Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda dalam kisah perjalanan Musa dan Khidir:
فَخَرَجَا مِنَ السَّفِينَةِ، فَبَيْنَمَا هُمَا يَمْشِيَانِ عَلَى السَّاحِلِ، إِذْ أَبْصَرَ الْخَضِرُ غُلَامًا يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ، فَأَخَذَ الْخَضِرُ بِرَأْسِهِ، فَاقْتَلَعَهُ بِيَدِهِ فَقَتَلَهُ، قَالَ لَهُ مُوسَى: أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ، لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا. قَالَ: أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا؟ قَالَ: إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي، قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا.
Artinya:
“Kemudian keduanya keluar dari kapal. Ketika keduanya berjalan di tepi pantai, Khidir melihat seorang anak sedang bermain bersama anak-anak lainnya. Khidir memegang kepala anak itu lalu mencabutnya dengan tangannya dan membunuhnya. Musa berkata kepadanya, ‘Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena ia telah membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.’ Khidir berkata, ‘Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?’ Musa berkata, ‘Jika setelah ini aku bertanya kepadamu tentang sesuatu, maka jangan lagi engkau menyertaiku. Sungguh, engkau telah mendapatkan alasan untuk meninggalkanku.’”
Hadis ini terdapat dalam Sahih al-Bukhari no. 3401.
10. MUSA TIDAK MEMBELA EGO, TETAPI MEMBELA PRINSIP
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perhatikan kalimat Musa:
أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً
“Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih?”
Musa tidak berkata:
“Kenapa engkau tidak memberitahuku?”
Yang dipermasalahkan Musa adalah:
kehidupan manusia.
Ini mengajarkan kita:
Jangan kehilangan kepekaan moral hanya karena kita sedang belajar.
Belajar sabar bukan berarti menjadi manusia tanpa prinsip.
Belajar memahami orang lain bukan berarti menghapus batas halal dan haram.
Belajar rendah hati bukan berarti membiarkan kezaliman.
11. TETAPI ADA ILMU YANG TIDAK DIKETAHUI MUSA
Di sinilah kisah ini menjadi sangat dalam.
Musa melihat apa yang terjadi.
Khidir mengetahui sesuatu yang Musa tidak ketahui.
Dalam hadis Nabi ﷺ disebutkan bahwa Khidir berkata kepada Musa:
يَا مُوسَى، إِنِّي عَلَىٰ عِلْمٍ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ عَلَّمَنِيهِ لَا تَعْلَمُهُ أَنْتَ، وَأَنْتَ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَّمَكَهُ اللَّهُ لَا أَعْلَمُهُ
Artinya:
“Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki suatu pengetahuan dari pengetahuan Allah yang Dia ajarkan kepadaku yang tidak engkau ketahui, dan engkau memiliki suatu pengetahuan yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak aku ketahui.”
Ini terdapat dalam hadis kisah Musa dan Khidir dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Perhatikan keseimbangannya.
Khidir tidak berkata:
“Aku tahu semuanya.”
Tetapi:
“Aku memiliki sebagian ilmu yang Allah ajarkan kepadaku.”
Musa juga memiliki ilmu yang Khidir tidak memilikinya.
Semua ilmu berasal dari Allah.
12. JANGAN SOMBONG DENGAN ILMU
Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 85
وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
Ayat ini seharusnya membuat orang berilmu menjadi semakin rendah hati.
Semakin banyak ilmu:
semakin sadar betapa luasnya ilmu Allah.
Semakin banyak membaca:
semakin sadar betapa banyak yang belum kita ketahui.
Semakin menjadi guru:
semakin sadar bahwa dirinya juga seorang murid.
13. PERUMPAMAAN BURUNG DAN LAUT
Dalam hadis yang sama, Rasulullah ﷺ menyampaikan perumpamaan yang sangat indah.
Khidir berkata kepada Musa:
مَا نَقَصَ عِلْمِي وَعِلْمُكَ مِنْ عِلْمِ اللَّهِ إِلَّا مِثْلَ مَا نَقَصَ هٰذَا الْعُصْفُورُ مِنَ الْبَحْرِ حِينَ نَقَرَ فِيهِ
Artinya:
“Ilmuku dan ilmumu tidak mengurangi ilmu Allah kecuali seperti berkurangnya air laut karena burung kecil ini mematuknya.”
Rasulullah ﷺ menjelaskan perumpamaan tersebut dalam hadis kisah Musa dan Khidir.
Bayangkan.
Laut sangat luas.
Kemudian seekor burung datang.
Ia mematuk air laut sekali.
Berapa banyak air laut yang berkurang?
Hampir tidak terlihat.
Begitulah perbandingan ilmu seluruh makhluk dengan ilmu Allah.
14. JANGAN GUNAKAN KISAH KHIDIR UNTUK MEMBENARKAN KEJAHATAN
Ini bagian yang sangat penting.
Jamaah,
Jangan ada orang berkata:
“Khidir membunuh anak karena ada hikmah tersembunyi. Berarti kalau saya membunuh seseorang, mungkin juga ada hikmah.”
Tidak boleh.
Mengapa?
Karena kita bukan Khidir.
Kita tidak menerima wahyu khusus yang memberitahukan perkara gaib tersebut.
Dan Khidir sendiri menjelaskan pada akhir kisah:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
“Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.”
QS. Al-Kahf: 82.
Ini kunci yang sangat penting.
Khidir tidak bertindak berdasarkan:
- hawa nafsu;
- dugaan;
- emosi;
- kebencian;
- ramalan;
- atau klaim pengetahuan gaib pribadi.
Ia bertindak berdasarkan perkara yang Allah ajarkan kepadanya dalam kisah tersebut.
Karena itu, manusia biasa tidak boleh mengklaim:
“Saya tahu Allah menghendaki ini.”
Lalu menjadikan klaim tersebut alasan melakukan kezaliman.
15. HADIS TENTANG ANAK TERSEBUT
Dalam riwayat Abu Dawud, terdapat hadis dari Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
الْغُلَامُ الَّذِي قَتَلَهُ الْخَضِرُ طُبِعَ كَافِرًا، وَلَوْ عَاشَ لَأَرْهَقَ أَبَوَيْهِ طُغْيَانًا وَكُفْرًا
Artinya:
“Anak yang dibunuh oleh Khidir telah ditetapkan dalam keadaan kafir, dan seandainya ia hidup, niscaya ia akan membebani kedua orang tuanya dengan kedurhakaan dan kekufuran.”
Riwayat ini terdapat dalam Sunan Abi Dawud no. 4705; Al-Albani menilainya sahih pada sumber tersebut.
Riwayat lain dalam Jami' at-Tirmidzi menyebut:
الْغُلَامُ الَّذِي قَتَلَهُ الْخَضِرُ طُبِعَ يَوْمَ طُبِعَ كَافِرًا
Artinya:
“Anak yang dibunuh oleh Khidir telah ditetapkan sejak awal penciptaannya sebagai orang kafir.”
Riwayat ini terdapat dalam Jami' at-Tirmidzi no. 3150.
Tetapi kita harus memahami hadis ini sebagai penjelasan khusus mengenai anak dalam kisah Khidir, bukan sebagai dalil bahwa manusia boleh menentukan masa depan iman seseorang atau mengambil tindakan terhadap seseorang berdasarkan dugaan.
16. ALLAH MENGETAHUI APA YANG KITA TIDAK KETAHUI
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 216
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Inilah salah satu pesan terbesar dari kisah Musa dan Khidir.
Kita hanya melihat potongan cerita.
Allah mengetahui seluruh cerita.
17. TETAPI JANGAN MENGGUNAKAN “ALLAH TAHU” UNTUK MEMATIKAN TABAYYUN
Jamaah,
Ada kesalahan lain.
Karena kita tahu manusia terbatas, jangan kemudian mengatakan:
“Tidak perlu mencari tahu.”
“Tidak perlu bertanya.”
“Tidak perlu tabayyun.”
Justru Allah memerintahkan kita untuk melakukan verifikasi.
Allah berfirman:
QS. Al-Hujurat: 6
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Maka prinsipnya:
Tidak tahu semuanya → jangan sombong.
Tetapi juga:
Tidak tahu semuanya → jangan berhenti mencari kebenaran.
18. KITA TIDAK BOLEH MEMBUNUH BERDASARKAN DUGAAN
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 33
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُوْمًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهٖ سُلْطٰنًا فَلَا يُسْرِفْ فِّي الْقَتْلِ ۗ اِنَّهٗ كَانَ مَنْصُوْرًا
Artinya:
“Janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Barang siapa dibunuh secara zalim, sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan.”
Ayat ini mempertegas bahwa kehidupan manusia memiliki kehormatan dan bahwa pembunuhan tidak boleh dilakukan berdasarkan kehendak pribadi.
19. KISAH INI BUKAN TENTANG “BOLEH MEMBUNUH ANAK”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kalau kita salah membaca kisah ini, kita bisa mengambil kesimpulan yang sangat berbahaya.
Padahal pesan utamanya bukan:
“Khidir membunuh anak.”
Tetapi:
“Allah mengetahui hikmah yang tidak diketahui manusia.”
Bukan:
“Manusia boleh melakukan apa saja.”
Tetapi:
“Peristiwa luar biasa dalam kisah Khidir terjadi atas dasar ilmu dan perintah Allah yang khusus.”
Bukan:
“Jangan percaya apa yang terlihat.”
Tetapi:
“Jangan sombong menganggap penglihatan kita telah mencakup seluruh kenyataan.”
20. KISAH INI JUGA MENGAJARKAN KEADILAN
Musa berkata:
بِغَيْرِ نَفْسٍ
“Bukan karena dia membunuh orang lain.”
Artinya Musa mempertimbangkan alasan hukum.
Musa tidak sekadar melihat:
“Khidir melakukan sesuatu.”
Tetapi Musa bertanya:
Apa alasan yang membenarkannya?
Ini adalah prinsip penting dalam kehidupan:
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang terjadi?”
Tetapi juga:
“Apa dasar kita menilai sesuatu?”
21. JANGAN CEPAT MENUDUH
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan kesalahan yang jauh lebih ringan tetapi dampaknya besar.
Melihat seseorang berbicara dengan orang tertentu:
“Pasti ada hubungan.”
Melihat guru melakukan sesuatu:
“Pasti ada maksud buruk.”
Melihat orang tua mengambil keputusan:
“Pasti tidak memahami saya.”
Melihat teman tidak membalas pesan:
“Pasti dia membenci saya.”
Padahal kita tidak mengetahui keseluruhan cerita.
Kisah Musa dan Khidir mengajarkan:
Jangan menyamakan potongan informasi dengan seluruh kebenaran.
22. NAMUN JANGAN PULA KEHILANGAN KEBERANIAN MENOLAK KEMUNGKARAN
Di sisi lain, jangan sampai ayat ini membuat kita menjadi manusia yang apatis.
Musa tetap mengatakan:
لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا
“Engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar.”
Artinya:
Kesabaran bukan berarti kehilangan prinsip.
Orang beriman harus memiliki kemampuan membedakan:
- mana yang benar;
- mana yang salah;
- mana yang belum diketahui;
- mana yang membutuhkan tabayyun;
- dan mana yang memang jelas dilarang.
23. GURU: AJARKAN MURID MEMBEDAKAN “SAYA TIDAK TAHU” DAN “ITU SALAH”
Ini sangat penting dalam pendidikan.
Seorang murid perlu belajar mengatakan:
“Saya belum tahu.”
bukan:
“Itu pasti salah.”
Sebaliknya, guru juga perlu mengajarkan:
“Kalau belum tahu, cari tahu.”
Namun ketika sesuatu sudah jelas salah menurut dalil, jangan mengatakan:
“Mungkin ada hikmah tersembunyi.”
Kita kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
24. ORANG TUA: JANGAN MENDIDIK ANAK DENGAN KETAKUTAN YANG BERLEBIHAN
Ayat ini juga relevan untuk orang tua.
Jangan setiap kesalahan anak langsung dianggap sebagai:
“Anak ini akan menjadi buruk.”
“Anak ini tidak akan berhasil.”
“Anak ini masa depannya hancur.”
Kita tidak mengetahui masa depan.
Allah yang mengetahui.
Tugas kita adalah:
mendidik, membimbing, mendoakan, dan memberikan lingkungan yang baik.
Jangan menghakimi masa depan seorang anak berdasarkan satu kesalahan hari ini.
25. MUSA MENGAJARKAN KITA UNTUK PEDULI PADA YANG LEMAH
Perhatikan siapa yang dibunuh dalam kisah ini:
غُلَامًا
Seorang anak.
Musa langsung menunjukkan perhatian.
Ini mengajarkan bahwa masyarakat beriman harus memiliki perhatian terhadap mereka yang lemah:
- anak-anak;
- orang miskin;
- yatim;
- orang tua;
- orang yang tidak mampu membela diri.
Islam bukan hanya tentang ibadah pribadi.
Islam juga tentang menjaga hak makhluk Allah.
26. KEHORMATAN JIWA ADALAH AMANAH
Allah berfirman:
QS. Al-An'am: 151
وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ
Artinya:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.”
Maka seorang Muslim harus menjadi manusia yang:
- tidak mudah melakukan kekerasan;
- tidak mudah mengancam;
- tidak mudah menumpahkan darah;
- tidak mudah menyebarkan kebencian;
- dan tidak menjadikan emosi sebagai alasan untuk bertindak zalim.
27. MENGAPA KHIDIR TIDAK MENJELASKAN SEJAK AWAL?
Jamaah,
Ini juga bagian dari pendidikan.
Khidir mengetahui bahwa Musa belum memahami hikmah di balik tindakan tersebut.
Karena itu, penjelasan baru diberikan setelah rangkaian peristiwa selesai.
Di sinilah kita belajar bahwa:
Tidak semua hikmah langsung kita pahami.
Kadang-kadang:
kita baru memahami pendidikan orang tua setelah dewasa.
Kita baru memahami nasihat guru setelah bertahun-tahun.
Kita baru memahami mengapa suatu kesempatan hilang setelah waktu berlalu.
Kita baru memahami mengapa Allah mengarahkan kita melalui jalan tertentu setelah melihat hasil akhirnya.
Tetapi sekali lagi:
Ini bukan berarti semua kejadian yang buruk harus dianggap baik.
Kita tetap menggunakan syariat, akal sehat, ilmu, dan tabayyun.
28. “ALLAH MENGETAHUI, KITA TIDAK MENGETAHUI”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Inilah kalimat yang sangat penting:
وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
QS. Al-Baqarah: 216.
Kalimat ini bukan untuk membuat kita pasif.
Kalimat ini untuk membuat kita rendah hati.
Kita tetap berusaha.
Tetap belajar.
Tetap tabayyun.
Tetap mengambil sebab.
Tetap menegakkan keadilan.
Tetapi hati kita tidak sombong.
Karena kita sadar:
“Saya tidak mengetahui seluruh perkara.”
29. EMPAT PELAJARAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 74
Mari kita simpulkan.
PERTAMA — JIWA MANUSIA MEMILIKI KEHORMATAN
Jangan meremehkan kehidupan manusia.
KEDUA — KEMUNGKARAN HARUS DIINGKARI DENGAN ILMU
Musa menunjukkan keberanian moral ketika melihat sesuatu yang secara lahiriah sangat salah.
KETIGA — ILMU MANUSIA TERBATAS
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah Allah.
KEEMPAT — KETERBATASAN ILMU BUKAN ALASAN UNTUK MEMBENARKAN KEZALIMAN
Kisah Khidir bukan izin untuk melakukan tindakan haram dengan alasan “mungkin ada hikmah.”
30. RENUNGAN UNTUK DIRI KITA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang belum kita pahami:
Apakah kita langsung menuduh?
Atau kita mencari informasi?
Ketika kita mengetahui seseorang melakukan kesalahan:
Apakah kita langsung menyebarkannya?
Atau kita menasihatinya?
Ketika kita mendapatkan ilmu:
Apakah kita menjadi rendah hati?
Atau semakin merasa paling tahu?
Ketika kita menjadi guru:
Apakah kita mau belajar dari murid?
Ketika menjadi orang tua:
Apakah kita mau mendengarkan anak?
Ketika menjadi pemimpin:
Apakah kita sadar bahwa pengetahuan kita terbatas?
Kisah Musa dan Khidir mengajarkan kita:
Semakin berilmu, semakin sadar bahwa ilmu Allah jauh lebih luas.
31. PENUTUP
Jamaah yang dimuliakan Allah,
QS. Al-Kahf ayat 74 memang ayat yang berat.
Tetapi di balik beratnya kisah tersebut terdapat pelajaran yang sangat dalam.
Musa melihat pembunuhan seorang anak dan berkata:
اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً
“Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih?”
Musa menunjukkan bahwa hati seorang beriman tidak boleh mati terhadap ketidakadilan.
Tetapi kisah ini kemudian mengajarkan:
Apa yang kita lihat belum tentu seluruh kenyataan.
Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Maka kita membutuhkan dua sifat sekaligus:
KETEGASAN DALAM KEBENARAN
dan
KERENDAHAN HATI DALAM PENGETAHUAN.
Jangan menjadi manusia yang:
“Sedikit tahu, tetapi merasa tahu semuanya.”
Dan jangan pula menjadi manusia yang:
“Tidak tahu, tetapi berani mengambil keputusan yang membahayakan orang lain.”
Belajarlah.
Tabayyunlah.
Tundukkan ego.
Hormati kehidupan.
Hormati ilmu.
Hormati batas-batas syariat.
Dan serahkan perkara gaib kepada Allah.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَاضِعِينَ لَكَ.
“Ya Allah, hiasilah kami dengan ilmu dan iman, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang rendah hati kepada-Mu.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا.
“Ya Allah, ajarkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, berikan manfaat kepada kami dari ilmu yang Engkau ajarkan, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
اللَّهُمَّ احْفَظْ دِمَاءَنَا وَأَعْرَاضَنَا وَأَمْوَالَنَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَأُسَرَنَا وَمُجْتَمَعَنَا مِنَ الظُّلْمِ وَالْفَسَادِ.
“Ya Allah, jagalah darah kami, kehormatan kami, dan harta kami. Jagalah anak-anak kami, keluarga kami, dan masyarakat kami dari kezaliman dan kerusakan.”
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ وَالتَّوَاضُعَ وَالتَّثَبُّتَ فِي الْحُكْمِ.
“Ya Allah, karuniakan kepada kami hikmah, kerendahan hati, dan ketelitian dalam mengambil keputusan.”
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَحْكُمُونَ عَلَى النَّاسِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَلَا مِمَّنْ يَظْلِمُونَ أَحَدًا بِسَبَبِ الْجَهْلِ وَالظَّنِّ.
“Ya Allah, jangan jadikan kami orang-orang yang menghakimi manusia tanpa ilmu, dan jangan jadikan kami orang-orang yang menzalimi seseorang karena kebodohan dan prasangka.”
رَبَّنَا زِدْنَا عِلْمًا، وَاهْدِنَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ.
“Ya Tuhan kami, tambahkanlah ilmu kepada kami dan tunjukilah kami kepada kebenaran dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
FOOTNOTE / RUJUKAN KITAB
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 74. Ayat menjadi dasar utama pembahasan tentang peristiwa Khidir membunuh seorang غُلَام dan reaksi Nabi Musa.
[2] Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 74. Ath-Thabari membahas makna نَفْسًا زَكِيَّةً / زَاكِيَةً, antara lain sebagai jiwa yang bersih dari dosa karena belum melakukan dosa.
[3] Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 74. Ibn Katsir menjelaskan bahwa Musa melihat pembunuhan tersebut sebagai sesuatu yang lebih berat dan menerangkan makna نَفْسًا زَكِيَّةً sebagai jiwa yang belum melakukan dosa. Beliau juga menyebut beberapa riwayat mengenai cara pembunuhan tanpa memastikan salah satunya sebagai satu-satunya rincian yang pasti.
[4] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 74. Al-Qurthubi membahas makna زَكِيَّةً, perbedaan pendapat mengenai usia anak tersebut, serta perbedaan penafsiran tentang kata نُكْرًا dan إِمْرًا.
[5] Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Kahf: 74. As-Sa'di menekankan bahwa Musa terdorong oleh al-hamiyyah ad-diniyyah ketika melihat seorang anak dibunuh, serta membedakan kejadian pertama yang disebabkan lupa dengan kejadian ini yang disebabkan sulitnya bersabar.
[6] Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 3401, Kitāb Ahādīth al-Anbiyā', Bāb Hadīts al-Khadir ma‘a Mūsā. Hadis panjang Ubay bin Ka'ab menjelaskan keseluruhan perjalanan Musa dan Khidir, termasuk peristiwa pembunuhan anak dan pertanyaan Musa.
[7] Muslim, Shahīh Muslim, no. 2380, Kitāb al-Faḍā'il. Riwayat tersebut menegaskan bahwa Musa yang dimaksud adalah Musa Bani Israil dan menjelaskan pertemuannya dengan Khidir.
[8] Abu Dawud, Sunan Abī Dāwūd, no. 4705. Hadis Ubay bin Ka'ab menjelaskan keadaan anak tersebut dan hikmah yang kemudian dijelaskan dalam rangkaian kisah. Riwayat pada sumber yang diperiksa dinilai sahih oleh Al-Albani.
[9] At-Tirmidzi, Jāmi‘ at-Tirmidhī, no. 3150. Riwayat dari Ubay bin Ka'ab mengenai anak yang dibunuh Khidir.
[10] Al-Qur'an, QS. Al-Ma'idah [5]: 32. Ayat tentang beratnya menghilangkan jiwa tanpa alasan yang dibenarkan.
[11] Al-Qur'an, QS. Al-Isra' [17]: 33. Larangan membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.
[12] Al-Qur'an, QS. Al-An'am [6]: 151. Larangan membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali berdasarkan hak.
[13] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 216. Ayat tentang keterbatasan pengetahuan manusia: وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ.
[14] Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 6. Dasar pentingnya tabayyun sebelum mengambil kesimpulan berdasarkan berita.
[15] Al-Qur'an, QS. Al-Isra' [17]: 85. Penegasan bahwa ilmu manusia sangat terbatas dibandingkan ilmu Allah.
[16] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 82. Pernyataan Khidir pada akhir kisah: وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي — “Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri.” Ayat ini sangat penting untuk memahami bahwa tindakan Khidir dalam kisah tersebut tidak boleh dipisahkan dari pengetahuan dan perintah khusus yang Allah berikan kepadanya.
Post a Comment