Ketika Mata Terbuka dan Telinga Mendengar, tetapi Kesempatan Beriman Telah Berakhir

Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 38

Tema: “Ketika Mata Terbuka dan Telinga Mendengar, tetapi Kesempatan Beriman Telah Berakhir”


A. Ayat utama dan terjemahannya

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ ۖ يَوْمَ يَأْتُونَنَا لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya:

“Alangkah tajam pendengaran mereka dan alangkah terang penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.”

QS. Maryam \[19\]: 38

B. Muqaddimah ceramah

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَأَرْسَلَ إِلَيْنَا رَسُولَهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْزَلَ عَلَيْنَا كِتَابَهُ الْقُرْآنَ هُدًى وَرَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan kesediaan menggunakan nikmat pendengaran, penglihatan, akal, dan hati untuk mengenal kebenaran serta mengamalkannya.

Pada kesempatan ini, kita merenungkan firman Allah dalam Surah Maryam ayat 38. Ayat ini menggambarkan keadaan manusia ketika kelak berhadapan langsung dengan Allah pada hari kiamat. Saat itu, segala sesuatu yang dahulu diingkari menjadi nyata. Mereka mendengar dengan sangat jelas dan melihat dengan sangat terang. Namun, bagi orang-orang yang terus-menerus menolak kebenaran, kesadaran itu datang ketika kesempatan untuk memperbaiki kehidupan dunia telah berlalu.

Pertanyaan penting bagi kita: Jangan-jangan telinga kita selama ini mendengar ayat-ayat Allah, tetapi tidak mau menaati-Nya? Jangan-jangan mata kita melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, tetapi hati kita tetap lalai?

Ayat ini bukan hanya peringatan bagi orang-orang kafir pada masa lalu. Ayat ini juga menjadi nasihat bagi setiap manusia agar tidak menunda taubat, tidak meremehkan kebenaran, dan tidak menyia-nyiakan kehidupan sebelum datangnya hari pertanggungjawaban.

C. Tafsir tahlili Surah Maryam ayat 38

1\. Makna “Alangkah tajam pendengaran mereka dan alangkah terang penglihatan mereka”

Frasa pertama ayat ini berbunyi:

أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ

Ungkapan tersebut merupakan gaya bahasa Arab yang menunjukkan kekaguman atau penegasan tentang betapa kuatnya pendengaran dan betapa tajamnya penglihatan mereka pada hari kiamat. Mereka akan menyaksikan kenyataan yang dahulu mereka ingkari.

Di dunia, sebagian manusia mendengar dakwah para rasul, tetapi tidak mau menerima. Mereka menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi tidak mengambil pelajaran. Ketika kehidupan akhirat hadir di hadapan mereka, tidak ada lagi keraguan tentang kebenaran yang dahulu mereka tolak.

Ayat ini bukan berarti semua orang yang memiliki gangguan pendengaran atau penglihatan secara fisik sedang berada dalam kesesatan. Yang dicela adalah sikap batin: menolak petunjuk meskipun kebenaran telah sampai kepadanya.

2\. Keterangan para ulama tafsir

a. Imam ath-Thabari

Dalam Jāmi‘ al-Bayān, ath-Thabari menjelaskan ungkapan ayat ini dalam kaitannya dengan keadaan orang-orang yang mendengar dan melihat secara jelas ketika menyaksikan azab serta kenyataan akhirat. Mereka dahulu tidak mengambil manfaat dari pendengaran dan penglihatan ketika petunjuk datang di dunia.

Teks ayat yang menjadi pokok pembahasan:

> أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا

Artinya: “Alangkah tajam pendengaran mereka dan alangkah terang penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami.”

Pelajaran: Kemampuan mendengar dan melihat tidak cukup jika tidak disertai kesediaan menerima kebenaran. Penjelasan ini merupakan ringkasan makna tafsir ath-Thabari, bukan kutipan panjang verbatim.¹

b. Imam al-Qurthubi

Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, al-Qurthubi membahas ayat ini dalam konteks terbukanya kenyataan bagi orang-orang yang dahulu berpaling dari petunjuk. Pada hari kiamat, mereka tidak dapat lagi berdalih bahwa kebenaran tidak jelas bagi mereka.

Pelajaran: Jangan mengukur keberhasilan hidup hanya dengan banyaknya informasi yang didengar atau dilihat. Ukurlah juga dengan seberapa jauh informasi yang benar itu mengubah sikap dan amal kita.²

c. Ibnu Katsir

Dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan keadaan orang-orang zalim yang kelak menyaksikan perkara yang sebelumnya mereka dustakan. Saat itu, kenyataan menjadi terang, tetapi kejelasan tersebut tidak lagi memberi mereka kesempatan untuk mengulang kehidupan dunia.

Pelajaran: Penyesalan yang bermanfaat adalah penyesalan yang melahirkan taubat sekarang, bukan penyesalan setelah kematian.³

3\. Makna “Tetapi orang-orang zalim pada hari ini berada dalam kesesatan yang nyata”

Bagian kedua ayat berbunyi:

لَٰكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: “Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini berada dalam kesesatan yang nyata.”

Kata الْيَوْمَ dalam konteks ini menunjuk pada kehidupan dunia, tempat manusia masih mempunyai kesempatan untuk memilih, belajar, beriman, memperbaiki kesalahan, dan bertaubat.

Adapun الظَّالِمُونَ berarti orang-orang yang berbuat zalim. Dalam konteks ayat ini, yang paling utama dibicarakan ialah mereka yang menolak kebenaran Allah dan mendustakan hari kebangkitan. Kezaliman juga mempunyai bentuk lain, seperti menzalimi sesama, merampas hak orang lain, dan terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa mau memperbaiki diri.

Sementara itu, ضَلَالٍ مُبِينٍ berarti kesesatan yang nyata: jalan yang menjauhkan manusia dari petunjuk dan mengantarkannya pada kerugian akhirat.

Jamaah sekalian, selama masih hidup, pintu untuk memperbaiki diri belum tertutup. Jangan menunggu sampai ajal datang untuk mengakui bahwa Al-Qur’an benar, salat itu wajib, kejujuran itu penting, dan hak orang lain harus ditunaikan.

D. Dalil Al-Qur’an: pendengaran, penglihatan, dan hati adalah amanah

1\. QS. Al-Isra’ ayat 36 — Semua akan dimintai pertanggungjawaban

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Artinya:

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

QS. Al-Isra’ \[17\]: 36

Ayat ini menjelaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati bukan sekadar bagian dari tubuh. Semuanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

* Pendengaran: Apakah kita mendengarkan nasihat, ilmu, dan bacaan Al-Qur’an, atau justru sengaja mencari perkataan yang merusak?

* Penglihatan: Apakah mata kita gunakan untuk membaca, belajar, dan menolong, atau untuk memandang hal-hal yang diharamkan?

* Hati: Apakah hati kita menerima kebenaran, atau dipenuhi kesombongan dan kebencian?

Maka, ayat ini mengajarkan bahwa ilmu dan informasi harus diikuti sikap bertanggung jawab. Tidak semua yang terdengar layak dipercaya, tidak semua yang terlihat harus ditiru, dan tidak semua yang diinginkan hati boleh dilakukan.

2\. QS. Al-A‘raf ayat 179 — Memiliki indra tetapi tidak mengambil pelajaran

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولٰٓئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya:

“Sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

QS. Al-A‘raf \[7\]: 179

Ayat ini tidak mencela manusia karena kekurangan fisik. Yang dicela ialah kelalaian dalam menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memahami petunjuk Allah.

Seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi, pendidikan luas, dan penglihatan yang sehat, tetapi tetap merugi jika kesombongan membuatnya menolak kebenaran. Sebaliknya, orang yang sederhana tetapi ikhlas menerima petunjuk dan mengamalkannya dapat menjadi hamba yang mulia di sisi Allah.

3\. QS. Qaf ayat 22 — Tabir kelalaian tersingkap

لَقَدْ كُنْتَ فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَآءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيْدٌ

Artinya:

“Sungguh, engkau dahulu benar-benar lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi matamu), sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam.”

QS. Qaf \[50\]: 22

Ayat ini sangat dekat maknanya dengan Surah Maryam ayat 38. Di dunia, manusia dapat lalai terhadap kematian, kebangkitan, hisab, surga, dan neraka. Ketika tabir itu disingkapkan, kebenaran tampak jelas.

Perhatikan kalimat فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ — “Kami singkapkan darimu tutupmu.” Tabir yang menutupi manusia bukan berarti kebenaran tidak pernah disampaikan. Bisa jadi kebenaran telah datang, tetapi manusia tenggelam dalam kesibukan, hawa nafsu, dan anggapan bahwa kehidupan dunia akan berlangsung selamanya.

Renungan: Jangan sampai kita baru sungguh-sungguh memperhatikan akhirat ketika tabir telah tersingkap dan amal tidak lagi dapat ditambah.

4\. QS. Al-Haqqah ayat 30–33 — Gambaran hukuman bagi orang yang ingkar

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ۝ ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ ۝ ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ ۝ إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ الْعَظِيمِ

Artinya:

“(Allah berfirman), ‘Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar.’”

QS. Al-Haqqah \[69\]: 30–33

Ayat ini menggambarkan kerasnya hukuman yang diterima orang tertentu karena kekufuran dan keingkarannya. Ini merupakan peringatan agar manusia tidak meremehkan iman dan pertanggungjawaban akhirat.

Kita tidak boleh gegabah memastikan nasib akhir seseorang tertentu. Penetapan hukuman dan keadaan akhir setiap individu berada dalam ilmu dan keadilan Allah. Tugas kita adalah mengambil peringatan, memperbaiki amal, dan mengajak manusia kepada petunjuk dengan cara yang bijaksana.

5\. QS. Az-Zumar ayat 54 — Segera kembali kepada Allah

وَأَنِيبُوٓا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Artinya:

“Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.”

QS. Az-Zumar \[39\]: 54

Inilah jalan keluar dari kelalaian: kembali kepada Allah sebelum kesempatan berakhir. Taubat tidak harus menunggu seseorang merasa dirinya sempurna. Justru orang yang menyadari kekurangannya perlu segera kembali, memohon ampun, meninggalkan dosa, dan memperbaiki hak-hak manusia yang pernah dilanggarnya.

E. Dalil dari Sunnah: jangan menunda taubat dan jangan meremehkan amal

1\. Allah menerima taubat sebelum datangnya kematian

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.”

HR. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitab ad-Da‘awāt; hadis ini dinilai hasan oleh at-Tirmidzi.

Hadis ini menegaskan bahwa manusia masih memiliki kesempatan bertaubat selama belum memasuki keadaan sakaratul maut yang menjadi batas penerimaan taubat.

Jangan berkata, “Nanti saja kalau sudah tua saya akan rajin salat.” Jangan berkata, “Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar agama.” Tidak ada jaminan seseorang mencapai usia tua, dan tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba.

Taubat yang benar bukan sekadar ucapan istigfar. Taubat harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, tekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain jika dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia.

2\. Allah membentangkan kesempatan taubat siang dan malam

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya.”

HR. Muslim, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Taubah, hadis tentang penerimaan taubat.

Ungkapan “membentangkan tangan-Nya” adalah redaksi hadis yang harus diimani sebagaimana layaknya sifat Allah, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa membahas hakikatnya dengan spekulasi.

Hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Siang dan malam menjadi kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Akan tetapi, kesempatan itu bukan alasan untuk terus berbuat dosa dengan sengaja, sebab manusia tidak mengetahui kapan batas hidupnya dan kapan tanda-tanda besar akhir zaman tiba.

3\. Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Artinya:

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan terhadap Allah.”

HR. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah. Riwayat ini masyhur dalam pembahasan muhasabah dan persiapan akhirat.

Hadis ini mengajarkan bahwa kecerdasan sejati bukan hanya cepat memahami urusan dunia. Kecerdasan yang sempurna juga membuat seseorang memperhitungkan akibat perbuatannya setelah kematian.

Orang yang bijaksana bertanya kepada dirinya:

* Apakah salat saya sudah terjaga?

* Apakah penghasilan saya halal?

* Apakah ada orang yang saya sakiti?

* Apakah ilmu yang saya miliki telah saya amalkan?

* Jika malam ini menjadi malam terakhir saya, bekal apa yang telah saya siapkan?

Muhasabah seperti ini membantu manusia memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan hati sebelum datangnya hari ketika semua amal diperlihatkan.

4\. Jangan menunda amal saleh

Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا، هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ

Artinya:

“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang tujuh perkara: kemiskinan yang membuat lupa, kekayaan yang melampaui batas, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan pikiran, kematian yang datang tiba-tiba, Dajjal—seburuk-buruk perkara gaib yang ditunggu—atau hari kiamat; dan hari kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”

HR. At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, Kitāb az-Zuhd, bab bersegera melakukan amal saleh sebelum datangnya fitnah.

Hadis ini mengingatkan bahwa keadaan manusia dapat berubah. Saat sehat, seseorang dapat beribadah dengan mudah; saat sakit, kemampuannya mungkin berkurang. Ketika memiliki waktu luang, ia dapat belajar; ketika kesibukan dan usia bertambah, kesempatan itu dapat menyempit.

Karena itu, jangan menunggu keadaan ideal untuk berbuat baik. Mulailah dari amal yang mampu dilakukan hari ini.

F. Penjelasan tambahan dari kitab-kitab ulama

1\. Tafsir ath-Thabari: kenyataan akhirat akan disaksikan secara langsung

Ayat yang dibahas:

> أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا

Artinya: “Alangkah tajam pendengaran mereka dan alangkah terang penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami.”

Pokok penjelasan Jāmi‘ al-Bayān adalah bahwa ungkapan tersebut menggambarkan betapa jelasnya pendengaran dan penglihatan mereka ketika berhadapan dengan kenyataan akhirat. Mereka yang dahulu mengabaikan peringatan akan mengetahui akibat dari penolakan mereka.¹

Ulasan untuk ceramah: Kebenaran tidak selalu kurang jelas; terkadang manusialah yang enggan menerimanya. Ketika nasihat disampaikan, ia merasa terganggu. Ketika ayat dibacakan, ia mencari alasan untuk berpaling. Namun, kelak ia tidak dapat menghindari kenyataan.

2\. Tafsir al-Qurthubi: jangan tertipu oleh penundaan hukuman

Al-Qurthubi, ketika membahas Surah Maryam ayat 38, menempatkan ayat ini dalam konteks penyingkapan keadaan manusia di akhirat. Penundaan hukuman di dunia tidak berarti bahwa kezaliman luput dari pengetahuan Allah.²

Ulasan untuk ceramah: Ada orang yang berdusta tetapi tetap kaya, menipu tetapi tampak berhasil, atau berbuat zalim tetapi belum menerima akibatnya. Jangan menyimpulkan bahwa perbuatannya dibenarkan hanya karena hukuman belum terlihat. Dunia adalah tempat ujian, sedangkan keadilan Allah mencakup kehidupan akhirat.

3\. Tafsir Ibnu Katsir: kesempatan dunia tidak boleh disia-siakan

Ibnu Katsir menghubungkan ayat ini dengan keadaan orang-orang yang dahulu lalai dan baru menyaksikan kenyataan secara jelas ketika menghadap Allah.³

Ulasan untuk ceramah: Kita tidak perlu menunggu sampai melihat azab untuk percaya kepada peringatan Allah. Iman kepada perkara gaib berarti mempercayai berita Allah dan Rasul-Nya berdasarkan wahyu yang benar, lalu menjadikannya pedoman kehidupan.

4\. Imam an-Nawawi: taubat harus dilakukan sebelum terlambat

Dalam Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, Imam an-Nawawi menyusun bab-bab mengenai taubat dan keutamaan kembali kepada Allah. Salah satu dasar utamanya adalah firman Allah:

> وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur \[24\]: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk orang yang dikenal melakukan dosa besar. Semua orang beriman diperintahkan untuk bertaubat, sebab setiap manusia memiliki kekurangan dan membutuhkan ampunan Allah.

Ulasan untuk ceramah: Jangan merasa terlalu baik untuk bertaubat, dan jangan pula merasa terlalu berdosa untuk kembali kepada Allah. Yang perlu dilakukan ialah jujur mengakui kesalahan, berhenti dari dosa, dan memperbaiki diri.

G. Renungan: bagaimana jika hari ini adalah kesempatan terakhir?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bayangkan seseorang yang selama hidupnya mengabaikan salat. Ketika diperingatkan, ia menjawab, “Nanti kalau sudah tua.” Bayangkan seseorang yang terbiasa memfitnah. Ketika dinasihati, ia berkata, “Memang saya seperti ini.” Bayangkan seseorang yang mengambil hak orang lain. Ketika diminta mengembalikan, ia terus mencari alasan.

Waktu berjalan. Usia bertambah. Kesehatan berubah. Kesempatan yang dahulu dianggap panjang ternyata sangat terbatas.

Ketika kematian tiba, barulah seseorang menyadari bahwa harta tidak dapat menggantikan amal, jabatan tidak dapat membatalkan hisab, dan penyesalan tidak dapat memutar kembali waktu.

Allah menggambarkan penyesalan orang yang meminta kesempatan kembali dalam firman-Nya:
حَتّٰى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّيٓ أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Artinya:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”
QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100
Perhatikan, yang diminta bukan tambahan harta, bukan tambahan jabatan, bukan kesempatan untuk membalas orang yang menyakitinya. Ia meminta dikembalikan agar dapat beramal saleh.
Mengapa? Karena pada saat itu ia mengetahui nilai amal yang selama di dunia sering diremehkan.
Jangan sampai kita menjadi orang yang baru menyadari mahalnya waktu ketika waktu telah habis. Selama masih hidup, perbaiki salat. Selama masih hidup, minta maaf. Selama masih hidup, kembalikan hak orang lain. Selama masih hidup, pelajari Al-Qur’an dan amalkan tuntunannya.

H. Lima langkah praktis agar tidak menjadi orang yang lalai

1. Gunakan telinga untuk menerima nasihat
Dengarkan Al-Qur’an, hadis, dan nasihat orang saleh dengan hati yang terbuka. Jangan hanya mencari ceramah yang menyenangkan perasaan, tetapi hindari nasihat yang menegur kesalahan kita.

2. Gunakan mata untuk mengambil pelajaran
Perhatikan pergantian siang dan malam, pertumbuhan manusia, perubahan usia, dan kematian. Semua itu mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak kekal.

3. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman
Jangan berhenti pada membaca atau mendengarkan. Pelajari maknanya, renungkan pesannya, kemudian terapkan dalam ibadah, keluarga, pekerjaan, dan hubungan sosial.

4. Segera perbaiki hubungan dengan Allah dan manusia
Tunaikan salat, tinggalkan maksiat, minta maaf atas kesalahan, kembalikan hak orang lain, dan jangan menunda kewajiban yang sudah jelas.

5. Lakukan muhasabah setiap hari
Sebelum tidur, periksa kembali salat, perkataan, pekerjaan, dan perlakuan kita kepada orang lain. Akui kesalahan, beristigfar, dan rencanakan perbaikan untuk hari berikutnya.

Surah Maryam ayat 38 mengajarkan bahwa suatu hari nanti manusia akan melihat dan mendengar kenyataan akhirat dengan sangat jelas. Namun, bagi orang yang terus-menerus menolak petunjuk, kejelasan itu tidak lagi menjadi kesempatan untuk memilih jalan yang benar.

Selagi kita masih hidup, jangan sia-siakan pendengaran untuk mendengar kebatilan, jangan sia-siakan penglihatan untuk melihat kemaksiatan, dan jangan biarkan hati tertutup oleh kesombongan.

Jangan menunggu kematian untuk menghargai salat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai keluarga. Jangan menunggu datangnya azab untuk percaya kepada peringatan Allah. Jangan menunggu rambut memutih untuk mulai memperbaiki diri.

Kita memang tidak dapat mengetahui berapa lama lagi umur kita. Akan tetapi, kita masih dapat menentukan apa yang kita lakukan dengan waktu yang tersisa.

Semoga sebelum mata kita menyaksikan akhirat, hati kita telah beriman; sebelum telinga kita mendengar penyesalan, telinga kita telah menerima nasihat; dan sebelum amal kita ditutup, kita telah memperbanyak taubat dan amal saleh.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

J. Doa penutup

اللّٰهُمَّ أَجِرْنَا مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

K. Catatan kaki dan daftar rujukan

Berikut rujukan utama untuk pendalaman materi. Nomor halaman dapat berbeda menurut cetakan dan tahqiq yang digunakan; karena itu, rujukan tafsir sebaiknya ditelusuri berdasarkan nama kitab dan tafsir Surah Maryam ayat 38.
Ath-Thabari, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 38. Rujukan untuk penjelasan ungkapan asma‘ bihim wa abṣir dan keadaan manusia ketika menghadap Allah.
1. Ath-Thabari, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 38. Rujukan untuk penjelasan ungkapan asma‘ bihim wa abṣir dan keadaan manusia ketika menghadap Allah.
2. Al-Qurthubi, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS. Maryam [19]: 38. Rujukan untuk pembahasan makna ayat dan keadaan orang-orang yang berpaling dari petunjuk.
3. Ibnu Katsir, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Maryam [19]: 38. Rujukan untuk hubungan ayat dengan kenyataan akhirat dan penyesalan orang yang mengingkari kebenaran.
4. An-Nawawi, Yaḥyā ibn Syaraf. Riyāḍ aṣ-Ṣāliḥīn, Kitāb at-Taubah. Rujukan untuk pembahasan taubat, penyesalan, dan keharusan kembali kepada Allah.
5. Al-Qur’an al-Karim: QS. Maryam [19]: 38; QS. Al-Isra’ [17]: 36; QS. Al-A‘raf [7]: 179; QS. Qaf [50]: 22; QS. Al-Haqqah [69]: 30–33; QS. Az-Zumar [39]: 54; QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100; dan QS. An-Nur [24]: 31.
6. Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb at-Taubah: hadis tentang Allah menerima taubat hamba dan membentangkan kesempatan taubat.
7. Sunan at-Tirmidzi, Kitāb ad-Da‘awāt dan Kitāb Ṣifat al-Qiyāmah: hadis tentang penerimaan taubat dan pentingnya mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian.

Tidak ada komentar