TETAP BERBUAT BAIK WALAUPUN TIDAK DIHARGAI

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 77

TETAP BERBUAT BAIK WALAUPUN TIDAK DIHARGAI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini kita melanjutkan perjalanan Nabi Musa عليه السلام bersama Khidir dalam Surah Al-Kahf.

Kita telah sampai pada ayat ke-77.

Sebuah ayat yang kelihatannya sederhana.

Dua orang musafir datang ke sebuah negeri.

Mereka lapar.

Mereka meminta makanan.

Penduduk negeri menolak menjamu mereka.

Kemudian mereka menemukan sebuah dinding yang hampir roboh.

Khidir memperbaikinya.

Tidak meminta upah.

Tidak meminta ucapan terima kasih.

Tidak meminta penghargaan.

Tidak meminta penduduk negeri tersebut membalas kebaikannya.

Musa kemudian berkata:

“Kalau engkau mau, engkau bisa meminta upah atas pekerjaan itu.”

Dari sini muncul satu pertanyaan besar:

Mengapa seseorang masih mau berbuat baik kepada orang yang bahkan tidak berbuat baik kepadanya?

Inilah salah satu pelajaran terbesar dari ayat ini.


I. MEMBACA AYAT

Allah berfirman:

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَتَيَآ اَهْلَ قَرْيَةٍ ِۨاسْتَطْعَمَآ اَهْلَهَا فَاَبَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ ۗقَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

“Lalu keduanya berjalan, hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka tidak mau menjamu keduanya. Kemudian keduanya mendapati sebuah dinding yang hampir roboh di negeri itu, lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, ‘Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.’”

(QS. Al-Kahf: 77).

Ayat ini menggambarkan sebuah keadaan yang sangat manusiawi.

Mereka lapar.

Mereka meminta makanan.

Tetapi ditolak.

Kemudian mereka melihat sebuah dinding yang hampir roboh.

Khidir memperbaikinya.

Dan Musa berkata:

لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.”


II. MEREKA DATANG SEBAGAI MUSAFIR

Perhatikan firman Allah:

اِسْتَطْعَمَآ اَهْلَهَا

“Mereka berdua meminta makanan kepada penduduknya.”

Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar membutuhkan makanan.

Mereka bukan sedang meminta kemewahan.

Mereka bukan meminta hadiah.

Mereka hanya membutuhkan makanan sebagai musafir.

Tetapi:

فَاَبَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا

“Mereka menolak menjamu keduanya.”

Di sinilah ujian akhlak dimulai.


III. AL-QUR'AN MENGKRITIK SIFAT KIKIR TERHADAP TAMU

Para mufassir menjelaskan bahwa penduduk negeri tersebut dicela karena menolak menjamu dua musafir yang datang kepada mereka.

Al-Qurtubi menjelaskan bahwa penolakan tersebut menunjukkan sifat لُؤْمٌ وَبُخْلٌ — kehinaan akhlak dan kekikiran — serta mengaitkannya dengan hak seorang musafir untuk mendapatkan penghormatan dan jamuan.

Al-Qurtubi juga menyebut perkataan Qatadah:

شَرُّ الْقُرَى الَّتِي لَا تُضَيِّفُ الضَّيْفَ وَلَا تَعْرِفُ لِابْنِ السَّبِيلِ حَقَّهُ

“Seburuk-buruk negeri adalah negeri yang penduduknya tidak menjamu tamu dan tidak mengetahui hak seorang musafir.”

(Dinukil Al-Qurtubi dalam tafsir QS. Al-Kahf: 77).

Jamaah yang dirahmati Allah,

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita beribadah kepada Allah.

Islam juga mengajarkan bagaimana kita memperlakukan manusia.

Salah satunya:

MEMULIAKAN TAMU.


IV. MEMULIAKAN TAMU ADALAH BAGIAN DARI IMAN

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

(HR. Bukhari no. 6138).

Perhatikan hubungan yang dibuat Nabi ﷺ:

Iman → memuliakan tamu.

Seakan-akan Rasulullah ﷺ mengajarkan:

“Kalau iman ada di dalam hati, ia harus terlihat dalam akhlak.”

Iman bukan hanya ucapan.

Iman harus memiliki buah.

Dan salah satu buah iman adalah:

memuliakan manusia.


V. AL-QUR'AN MENGAJARKAN KITA TELADAN NABI IBRAHIM

Allah juga menceritakan Nabi Ibrahim عليه السلام ketika menerima tamu.

Allah berfirman:

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ ضَيْفِ اِبْرٰهِيْمَ الْمُكْرَمِيْنَ ۙ ۝٢٤

اِذْ دَخَلُوْا عَلَيْهِ فَقَالُوْا سَلٰمًا ۗقَالَ سَلٰمٌ ۗقَوْمٌ مُّنْكَرُوْنَ ۝٢٥

فَرَاغَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ فَجَاۤءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ ۙ ۝٢٦

فَقَرَّبَهٗٓ اِلَيْهِمْ قَالَ اَلَا تَأْكُلُوْنَ ۝٢٧

“Sudahkah sampai kepadamu cerita tamu-tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salam.’ Dia menjawab, ‘Salam.’ Mereka adalah orang-orang yang belum dikenalnya. Kemudian diam-diam dia pergi menemui keluarganya, lalu membawa anak sapi gemuk. Kemudian dia mendekatkannya kepada mereka, seraya berkata, ‘Mengapa kamu tidak makan?’”

(QS. Adz-Dzariyat: 24–27).

Perhatikan akhlak Ibrahim.

Tamu datang.

Ibrahim tidak mengatakan:

“Siapa kalian?”

“Kalian dari mana?”

“Ada kepentingan apa?”

Beliau segera menyiapkan makanan.

Bahkan:

بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ

“anak sapi yang gemuk.”

Artinya, beliau memberikan yang baik.

Inilah akhlak Islam.


VI. PENDUDUK NEGERI ITU MENOLAK, TETAPI KHIDIR TETAP BERBUAT BAIK

Sekarang kita kembali kepada ayat.

Ini bagian yang sangat menarik.

Penduduk negeri itu:

tidak menjamu mereka.

Tetapi ketika Khidir melihat dinding hampir roboh, dia memperbaikinya.

Mengapa?

Bukankah penduduknya buruk?

Bukankah mereka kikir?

Bukankah mereka tidak memberikan makanan?

Kalau menggunakan logika manusia:

“Kalau mereka tidak baik kepadaku, buat apa saya baik kepada mereka?”

Tetapi Khidir tidak berpikir seperti itu.

Dan di sinilah kita belajar:

KEBAIKAN SEORANG MUKMIN TIDAK BOLEH SEPENUHNYA TERGANTUNG PADA PERLAKUAN ORANG LAIN.


VII. JANGAN MENUNGGU ORANG BAIK DULU BARU KITA BAIK

Ini penyakit yang sering muncul dalam kehidupan.

“Dia tidak menyapa saya, maka saya tidak akan menyapanya.”

“Dia tidak menghargai saya, maka saya tidak akan menghargainya.”

“Dia tidak membantu saya, maka saya tidak akan membantu dia.”

“Dia pernah menyakiti saya, maka saya tidak akan berbuat baik kepadanya.”

Kalau semua orang berpikir seperti itu, kapan kebaikan dimulai?

Islam mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi.

Allah berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan, seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.”

(QS. Fussilat: 34).

Ayat ini tidak mengajarkan kita menjadi lemah.

Ayat ini mengajarkan:

Jangan biarkan keburukan orang lain mengubah akhlakmu menjadi buruk.


VIII. KALAU ORANG LAIN BURUK, JANGAN IKUT MENJADI BURUK

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ada dua kemungkinan ketika kita diperlakukan buruk.

Pertama:

Kita membalas keburukan dengan keburukan.

Akibatnya:

dua orang menjadi buruk.

Kedua:

Kita tetap menjaga akhlak.

Akibatnya:

keburukan berhenti pada kita.

Inilah kekuatan seorang mukmin.

Orang lain boleh membawa api.

Tetapi kita tidak wajib ikut terbakar.

Orang lain boleh membawa kemarahan.

Tetapi kita tidak wajib ikut marah.

Orang lain boleh berkata kasar.

Tetapi kita tidak wajib membalas dengan kata kasar.


IX. TETAPI BERBUAT BAIK BUKAN BERARTI MEMBIARKAN KEZALIMAN

Ini harus dipahami dengan benar.

Berbuat baik tidak berarti:

membiarkan orang menzalimi kita terus-menerus.

Islam tetap mengajarkan keadilan.

Jika seseorang mengambil hak kita, kita boleh menuntut hak.

Jika seseorang melakukan kezaliman, kita boleh mencari perlindungan.

Jika seseorang melakukan pelanggaran, kita boleh melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

Tetapi:

jangan membalas kezaliman dengan kezaliman.

Berbuat baik bukan berarti tidak punya batas.

Berbuat baik berarti:

akhlak kita tetap berada di bawah kendali syariat, bukan di bawah kendali emosi.


X. MENGAPA KHIDIR MEMPERBAIKI DINDING?

Allah berfirman:

فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ

“Keduanya mendapatkan sebuah dinding yang hampir roboh, lalu dia menegakkannya.”

Ibn Kathir menjelaskan bahwa makna يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ adalah dinding itu hampir jatuh atau roboh, sedangkan Khidir menegakkannya kembali. Dalam riwayat hadis, ia memperbaikinya dengan tangannya.

Al-Qurtubi menjelaskan bahwa ungkapan “dinding ingin roboh” merupakan gaya bahasa, karena dinding tentu tidak mempunyai kehendak seperti manusia; maksudnya adalah dinding tersebut sudah miring dan hampir jatuh.

Ini menunjukkan sesuatu yang menarik:

KHIDIR MELIHAT KERUSAKAN DAN SEGERA MEMPERBAIKINYA.


XI. ORANG BAIK TIDAK HANYA PANDAI MENGKRITIK

Ini pelajaran besar.

Ada orang yang ketika melihat dinding hampir roboh berkata:

“Wah, dindingnya jelek.”

“Siapa yang membangun?”

“Kenapa tidak dirawat?”

“Ini salah pemiliknya.”

Tetapi Khidir?

Dia memperbaikinya.

Ini perbedaan antara:

ORANG YANG SUKA MENGKRITIK

dan

ORANG YANG SUKA MEMPERBAIKI.

Jamaah sekalian,

Di sekolah, di rumah, di masyarakat, jangan hanya menjadi orang yang mengatakan:

“Ini salah.”

Belajarlah mengatakan:

“Mari kita perbaiki.”

Jangan hanya:

“Sekolah ini kurang.”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Jangan hanya:

“Anak-anak sekarang susah.”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk mendidik mereka?”

Jangan hanya:

“Masyarakat sekarang berubah.”

Tetapi:

“Apa kontribusi saya?”


XII. DINDING ITU SIMBOL SESUATU YANG HAMPIR RUNTUH

Dinding bisa kita jadikan bahan renungan.

Ada dinding rumah yang hampir runtuh.

Tetapi dalam kehidupan kita juga ada “dinding” yang hampir runtuh.

Ada:

dinding rumah tangga.

Sudah retak karena komunikasi.

Ada:

dinding persahabatan.

Sudah retak karena salah paham.

Ada:

dinding iman.

Sudah retak karena dosa.

Ada:

dinding pendidikan.

Sudah retak karena anak kehilangan perhatian.

Ada:

dinding masyarakat.

Sudah retak karena hilangnya kepedulian.

Pertanyaannya:

Apakah kita menjadi orang yang menambah keretakan atau orang yang memperbaiki?


XIII. KHIDIR TIDAK MEMINTA UPAH

Setelah melihat Khidir memperbaiki dinding, Musa berkata:

قَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

“Dia berkata, ‘Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.’”

Musa berpikir secara manusiawi.

Mereka lapar.

Mereka baru saja ditolak.

Mereka membutuhkan makanan.

Sekarang ada pekerjaan yang dilakukan.

Maka sangat wajar jika Musa berkata:

“Kalau pekerjaan ini diberi upah, kita bisa membeli makanan.”

Ibn Kathir menjelaskan bahwa perkataan Musa menunjukkan: karena penduduk negeri itu tidak menjamu mereka, pekerjaan tersebut setidaknya dapat menjadi sarana memperoleh upah untuk kebutuhan mereka.

Maka perkataan Musa bukan sekadar persoalan uang.

Ada pertimbangan kebutuhan.


XIV. BEKERJA DAN MENERIMA UPAH BUKAN SESUATU YANG TERCELA

Ini juga penting.

Islam tidak mengatakan bahwa bekerja mendapatkan upah itu buruk.

Allah berfirman:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰى ۝٣٩ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰى ۝٤٠ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰى ۝٤١

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan, kemudian dia akan diberi balasan yang paling sempurna.”

(QS. An-Najm: 39–41).

Islam menghargai usaha.

Islam menghargai profesi.

Islam menghargai pekerjaan.

Islam tidak mengajarkan seseorang menjadi beban bagi orang lain jika ia mampu bekerja.


XV. PROFESIONALITAS DALAM BEKERJA

Musa memberikan satu pelajaran penting:

Pekerjaan yang dilakukan memiliki nilai.

Jika seseorang memperbaiki rumah kita, kita membayar.

Jika seseorang mengajar, ada haknya.

Jika seseorang bekerja, ada upahnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”

Riwayat ini sangat masyhur dalam pembahasan hak pekerja; namun untuk kehati-hatian ilmiah, lafaz ini tidak termasuk riwayat yang saya jadikan dalil utama di sini karena kualitas dan jalur periwayatannya diperselisihkan oleh para ulama hadis.

Prinsip yang kuat adalah larangan menzalimi hak pekerja.

Dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah menjadi lawan pada hari kiamat bagi orang yang mengambil manfaat dari seorang pekerja lalu tidak memberikan haknya. Karena itu, dalam masalah upah, Islam sangat menekankan amanah dan keadilan.


XVI. JANGAN MENGERJAKAN SESUATU DENGAN BURUK HANYA KARENA TIDAK DIAWASI

Ada pelajaran lain dari Khidir.

Penduduk negeri tidak melihatnya sebagai orang yang harus ia layani.

Tidak ada yang memuji.

Tidak ada yang mengawasi.

Tidak ada yang memberikan penghargaan.

Tetapi ia tetap memperbaiki dinding.

Inilah:

IHSAN.

Berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Karena kita yakin:

Allah melihat.

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.”

(QS. An-Nisa': 1).

Kalau seseorang bekerja hanya karena takut kepada kepala sekolah, maka ketika kepala sekolah pergi, ia mungkin berhenti bekerja.

Kalau seseorang mengajar hanya karena ingin dipuji murid, ketika tidak dipuji, ia kecewa.

Kalau seseorang bersedekah hanya karena ingin difoto, ketika kamera tidak ada, ia berhenti.

Tetapi orang yang bekerja karena Allah:

dilihat atau tidak dilihat manusia, ia tetap berusaha.


XVII. INILAH MAKNA IHSAN

Rasulullah ﷺ menjelaskan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

(HR. Bukhari dan Muslim, hadis Jibril).

Inilah kekuatan seorang mukmin.

Bukan:

“Siapa yang melihat saya?”

Tetapi:

“Apakah Allah ridha dengan apa yang saya lakukan?”


XVIII. KETIKA KEBAIKAN KITA TIDAK DIHARGAI

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ini bagian yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Pernahkah kita melakukan sesuatu untuk orang lain, tetapi tidak dihargai?

Pernah.

Pernah membantu seseorang, tetapi dia tidak berterima kasih?

Pernah.

Pernah mengajar murid dengan sungguh-sungguh, tetapi murid tidak memahami?

Pernah.

Pernah menjadi orang tua yang berkorban, tetapi anak tidak menyadarinya?

Pernah.

Pernah menjadi pasangan yang berusaha menjaga rumah tangga, tetapi usaha itu seperti tidak terlihat?

Pernah.

Lalu hati berkata:

“Sudahlah. Tidak perlu berbuat baik lagi.”

Maka ingat Khidir.

Dia memperbaiki dinding meskipun penduduk negeri tidak menjamunya.

Mengapa?

Karena nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh ucapan terima kasih manusia.


XIX. JANGAN MENCARI BALASAN DARI MANUSIA

Allah berfirman tentang orang-orang yang ikhlas:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah; kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”

(QS. Al-Insan: 9).

Ini bukan berarti setiap pekerjaan duniawi harus tanpa upah.

Tidak.

Ayat ini berbicara tentang keikhlasan dalam memberi.

Maksudnya:

Ketika kita melakukan kebaikan sebagai sedekah atau pertolongan, jangan jadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.

Kalau orang berterima kasih:

Alhamdulillah.

Kalau tidak:

Allah tahu.


XX. ALLAH TIDAK PERNAH MENYIA-NYIAKAN KEBAIKAN

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. At-Taubah: 120).

Dan Allah juga berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Maknanya sangat kuat:

Manusia boleh lupa. Allah tidak lupa.

Manusia boleh tidak berterima kasih.

Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal.

Manusia boleh tidak melihat perjuangan kita.

Allah melihat.

Manusia boleh tidak mengetahui air mata kita.

Allah mengetahui.


XXI. JANGAN BERHENTI BERBUAT BAIK HANYA KARENA PERNAH DISAKITI

Allah berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.”

(QS. Fussilat: 34).

Perhatikan:

Allah tidak berkata:

“Balaslah kejahatan dengan kejahatan.”

Tetapi:

اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ

“Tolaklah dengan cara yang lebih baik.”

Inilah akhlak tingkat tinggi.


XXII. KISAH DINDING DAN ANAK YATIM

Kita sebenarnya belum sampai kepada ayat 82, tetapi ayat 77 menjadi pintu untuk memahami hikmah yang nanti akan dijelaskan.

Allah berfirman dalam ayat 82:

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا ۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan mengeluarkan simpanan mereka sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Itulah penjelasan tentang sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.”

(QS. Al-Kahf: 82).

Perhatikan:

Dinding itu diperbaiki sebelum harta itu menjadi milik mereka secara terbuka.

Anak-anak yatim itu bahkan mungkin belum tahu bahwa ada harta di bawah dinding.

Tetapi Allah menjaga hak mereka.


XXIII. KEBAIKAN ORANG TUA BISA MENJADI SEBAB PERLINDUNGAN ANAK

Perhatikan:

وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًا

“Sedangkan ayah mereka adalah orang yang saleh.”

Ini salah satu ayat yang sangat menyentuh.

Kesalehan orang tua memiliki dampak besar kepada anak.

Tidak berarti anak otomatis saleh hanya karena orang tuanya saleh.

Tetapi ayat ini menunjukkan adanya perhatian dan rahmat Allah kepada dua anak yatim tersebut yang dikaitkan dengan kesalehan ayah mereka.

Maka jangan pernah meremehkan amal saleh.

Mungkin shalat kita hari ini menjadi sebab Allah menjaga anak kita suatu hari nanti.

Mungkin sedekah kita hari ini menjadi sebab Allah membuka jalan bagi keluarga kita.

Mungkin satu kebaikan yang tidak diketahui manusia menjadi sebab datangnya pertolongan Allah.


XXIV. KITA TIDAK TAHU AKIBAT SEBUAH KEBAIKAN

Jamaah sekalian,

Khidir memperbaiki dinding.

Secara lahiriah:

hanya dinding.

Tetapi ternyata di baliknya:

ada harta anak yatim.

Dan di balik harta itu:

ada masa depan dua anak yatim.

Dan di balik masa depan itu:

ada rahmat Allah.

Ini mengajarkan kita:

Jangan remehkan kebaikan kecil.

Satu nasihat.

Satu senyuman.

Satu makanan.

Satu bantuan.

Satu doa.

Satu jam mengajar dengan sabar.

Satu kali memaafkan.

Satu kali menahan marah.

Kita tidak tahu apa yang Allah tuliskan dari kebaikan tersebut.


XXV. JANGAN MENGUKUR KEBERHASILAN DARI PUJIAN

Khidir tidak mendapatkan tepuk tangan.

Tidak ada:

“Masya Allah, hebat!”

Tidak ada:

“Terima kasih, Ustaz.”

Tidak ada:

“Jasa Anda luar biasa.”

Tidak ada penghargaan.

Tetapi dinding berdiri.

Itu sudah cukup.

Maka dalam kehidupan:

Jangan selalu bertanya:

“Apakah orang menghargai saya?”

Tanyakan:

“Apakah Allah menerima amal saya?”

Karena penghargaan manusia bersifat sementara.

Pahala Allah kekal.


XXVI. JANGAN MENJADI BAIK HANYA KEPADA ORANG YANG BAIK KEPADA KITA

Rasulullah ﷺ mengajarkan akhlak yang lebih tinggi.

Ketika seseorang berbuat baik kepada kita, mudah bagi kita untuk membalas.

Tetapi ketika seseorang menyakiti kita, kemudian kita masih mampu menjaga akhlak, di situlah kualitas iman diuji.

Allah berfirman:

وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

(QS. Ali ‘Imran: 134).

Maka:

Jangan biarkan perilaku buruk seseorang menentukan siapa diri kita.

Kalau dia kasar, kita tidak harus kasar.

Kalau dia pelit, kita tidak harus pelit.

Kalau dia tidak menghargai, kita tidak harus kehilangan akhlak.


XXVII. TETAPI KEBAIKAN HARUS DILAKUKAN DENGAN HIKMAH

Ada satu keseimbangan lagi.

Tidak semua bantuan kepada seseorang selalu baik jika dilakukan tanpa pertimbangan.

Kita harus melihat:

  • apakah bantuan itu benar-benar bermanfaat,
  • apakah tidak menimbulkan kerusakan,
  • apakah tidak membantu maksiat,
  • apakah tidak membuat seseorang bergantung secara tidak sehat,
  • dan apakah sesuai kemampuan kita.

Karena Islam bukan hanya mengajarkan:

berbuat baik.

Tetapi:

berbuat baik dengan benar.


XXVIII. PELAJARAN UNTUK GURU

Para guru memiliki banyak “dinding” yang harus ditegakkan.

Ada murid yang hampir kehilangan semangat.

Ada murid yang hampir menyerah.

Ada murid yang hampir merasa:

“Saya bodoh.”

“Saya tidak mampu.”

“Saya tidak akan berhasil.”

Guru mungkin hanya memberikan satu kalimat:

“Kamu sebenarnya bisa.”

Kalimat sederhana itu bisa menjadi “dinding” yang menyelamatkan masa depan seorang anak.

Guru mungkin tidak melihat hasilnya sekarang.

Tetapi bertahun-tahun kemudian, murid itu mungkin berkata:

“Ustaz dulu pernah mengatakan kepada saya bahwa saya bisa.”

Dan satu kalimat itu mengubah hidupnya.


XXIX. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA

Ayah dan ibu juga sering membangun “dinding” anak-anak.

Setiap kali kita:

  • mendidik,
  • menasihati,
  • mendoakan,
  • membimbing,
  • mengajarkan shalat,
  • mengajarkan Al-Qur'an,

kita sedang membangun sesuatu.

Hasilnya mungkin tidak terlihat sekarang.

Tetapi jangan berhenti.

Karena kita tidak tahu kapan Allah akan memperlihatkan hasilnya.


XXX. PELAJARAN UNTUK KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Jangan hanya bertanya:

“Apa yang sudah masyarakat berikan kepada saya?”

Sesekali tanyakan:

“Apa yang sudah saya berikan kepada masyarakat?”

Jangan hanya:

“Sekolah harus memperhatikan saya.”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk sekolah?”

Jangan hanya:

“Masjid harus bersih.”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk kebersihan masjid?”

Jangan hanya:

“Masyarakat tidak peduli.”

Tetapi:

“Mari saya mulai peduli.”


XXXI. TIGA LEVEL KEBAIKAN

Dari ayat ini kita dapat membedakan tiga tingkat.

LEVEL PERTAMA:

Berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita.

Ini mudah.

LEVEL KEDUA:

Berbuat baik kepada orang yang netral kepada kita.

Ini lebih baik.

LEVEL KETIGA:

Tetap menjaga kebaikan ketika kita tidak diperlakukan dengan baik.

Ini membutuhkan jiwa besar.

Dan itulah salah satu pelajaran dari Khidir.


XXXII. JANGAN MENUNGGU DIBALAS

Allah berfirman:

وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ

“Dan apa pun harta yang kamu infakkan, maka kebaikannya kembali kepada dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”

(QS. Al-Baqarah: 272).

Perhatikan:

kebaikan itu kembali kepada kita.

Mungkin bukan melalui orang yang kita bantu.

Mungkin bukan dalam bentuk yang kita harapkan.

Tetapi Allah mampu mengembalikannya melalui jalan yang sama sekali tidak kita duga.


XXXIII. JANGAN KECEWA KETIKA TIDAK DIUCAPKAN “TERIMA KASIH”

Ada orang yang berkata:

“Saya sudah banyak membantu dia, tapi dia tidak pernah berterima kasih.”

Maka kita jawab:

Kalau kita membantu untuk mendapatkan ucapan:

“Terima kasih.”

kita sedang menggantungkan kebahagiaan kepada manusia.

Tetapi kalau kita membantu karena:

“Saya ingin Allah ridha,”

maka ucapan manusia menjadi bonus.

Bukan tujuan.


XXXIV. KETIKA MANUSIA TIDAK MELIHAT, ALLAH MELIHAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan satu kebaikan pun yang dilakukan seorang mukmin. Ia diberi balasan atasnya di dunia dan diberi pahala atasnya di akhirat.”

(HR. Muslim).

Maka jangan takut berbuat baik.

Jangan takut tidak dihargai.

Jangan takut tidak disebut.

Jangan takut tidak dipuji.

Karena:

Allah melihat.


XXXV. PENUTUP: JADILAH ORANG YANG MENEGAKKAN DINDING

Jamaah yang dirahmati Allah,

Surah Al-Kahf ayat 77 mengajarkan kepada kita:

Ketika orang lain menolakmu:

jangan otomatis menjadi penolak.

Ketika orang lain tidak menghargaimu:

jangan kehilangan akhlak.

Ketika orang lain tidak berbuat baik:

jangan berhenti menjadi baik.

Ketika melihat sesuatu hampir runtuh:

jangan hanya mengkritik.

Kalau mampu:

tegakkan.

Kalau ada rumah tangga hampir runtuh:

jadilah orang yang memperbaiki.

Kalau persaudaraan hampir runtuh:

jadilah orang yang mendamaikan.

Kalau anak hampir runtuh semangatnya:

jadilah orang yang menguatkan.

Kalau murid hampir menyerah:

jadilah orang yang memberi harapan.

Kalau iman hampir runtuh:

kembalilah kepada Al-Qur'an dan Allah.

Karena mungkin kita tidak tahu:

di balik “dinding” yang kita tegakkan hari ini, ada masa depan seseorang yang sedang Allah selamatkan.


RENUNGAN TERAKHIR

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

Dinding apa yang sedang hampir roboh di sekitar saya?

Apakah rumah tangga saya?

Apakah hubungan saya dengan orang tua?

Apakah hubungan saya dengan anak?

Apakah hubungan saya dengan pasangan?

Apakah hubungan saya dengan teman?

Apakah iman saya?

Apakah semangat belajar saya?

Apakah semangat ibadah saya?

Apakah ada seseorang di sekitar kita yang sebenarnya hampir runtuh, tetapi kita justru sibuk menghakiminya?

Mungkin Allah tidak meminta kita menjadi orang yang menyelesaikan semua masalah.

Mungkin Allah hanya meminta:

“Tegakkan satu dinding.”

Satu kebaikan.

Satu nasihat.

Satu bantuan.

Satu doa.

Satu maaf.

Satu senyuman.

Satu kesempatan.

Dan jangan meremehkan satu kebaikan.

Karena kita tidak pernah tahu:

kebaikan kecil mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah yang besar.


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbuat ihsan, jadikanlah kami pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan.”

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ فِي أَعْمَالِنَا، وَلَا تَجْعَلْ أَعْمَالَنَا لِغَيْرِ وَجْهِكَ.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam amal-amal kami dan janganlah Engkau jadikan amal kami untuk selain mencari wajah-Mu.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُصْلِحُونَ وَلَا يُفْسِدُونَ، وَيَبْنُونَ وَلَا يَهْدِمُونَ، وَيَجْمَعُونَ وَلَا يُفَرِّقُونَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang memperbaiki dan tidak merusak, yang membangun dan tidak meruntuhkan, yang menyatukan dan tidak memecah-belah.”

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ بُيُوتَنَا، وَأَصْلِحْ أَوْلَادَنَا، وَأَصْلِحْ زَوْجَاتِنَا، وَأَصْلِحْ مُجْتَمَعَنَا، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا.

“Ya Allah, perbaikilah rumah-rumah kami, anak-anak kami, pasangan kami, masyarakat kami, dan hati kami.”

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا نَنْتَظِرُ شُكْرَ النَّاسِ، بَلْ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِرِضَاكَ.

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang yang menunggu ucapan terima kasih manusia. Jadikan hati kami bergantung kepada keridaan-Mu.”

اللَّهُمَّ إِذَا رَأَيْنَا جِدَارًا يَكَادُ أَنْ يَنْقَضَّ فَوَفِّقْنَا لِإِقَامَتِهِ، وَإِذَا رَأَيْنَا قَلْبًا يَكَادُ أَنْ يَنْكَسِرَ فَوَفِّقْنَا لِجَبْرِهِ.

“Ya Allah, ketika kami melihat sebuah dinding yang hampir roboh, berilah kami kemampuan untuk menegakkannya. Dan ketika kami melihat hati yang hampir hancur, berilah kami kemampuan untuk menguatkannya.”

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

“Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE

[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 77. Ayat menjadi dasar utama pembahasan tentang perjalanan Musa dan Khidir, penolakan penduduk negeri, serta perbaikan dinding.

[2] Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Kahf: 77. Ibn Kathir menjelaskan bahwa penduduk negeri tersebut digambarkan sebagai orang yang kikir, sementara Khidir menegakkan kembali dinding yang hampir roboh; Musa kemudian mengusulkan agar pekerjaan tersebut diberi upah.

[3] Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 77. Ath-Thabari menjelaskan bahwa keduanya meminta makanan kepada penduduk negeri tetapi tidak diberi, kemudian menemukan dinding yang hampir jatuh.

[4] Al-Qurtubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Al-Kahf: 77. Al-Qurtubi membahas celaan terhadap penduduk yang tidak menjamu tamu serta sejumlah persoalan mengenai hak tamu dan musafir.

[5] Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, hadis 2380. Riwayat Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه memuat kisah lengkap Musa dan Khidir sampai peristiwa dinding, serta sabda Nabi ﷺ: يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis 6138: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ — perintah memuliakan tamu sebagai bagian dari iman.

[7] Shahih al-Bukhari, hadis 6135, tentang hak tamu dan batas-batas jamuan.

[8] Shahih Muslim, hadis 48, tentang memuliakan tetangga dan tamu serta menjaga ucapan.

[9] Al-Qur'an, QS. Adz-Dzariyat: 24–27, kisah Nabi Ibrahim dalam memuliakan para tamu.

[10] Al-Qur'an, QS. Fussilat: 34, prinsip membalas keburukan dengan cara yang lebih baik.

[11] Al-Qur'an, QS. Al-Insan: 9, prinsip memberi karena mengharap wajah Allah dan bukan mengharapkan balasan manusia.

[12] Al-Qur'an, QS. Ali 'Imran: 134, tentang menahan amarah, memaafkan, dan berbuat ihsan.

[13] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf: 82, penjelasan Khidir bahwa dinding tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terdapat simpanan mereka; perbaikan dinding merupakan rahmat Allah. Riwayat Shahih Muslim juga memuat penjelasan ini.

[14] Al-Qur'an, QS. An-Nisa': 1, tentang Allah sebagai pengawas manusia.

[15] Hadis Jibril tentang ihsan, diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika tidak mampu melihat-Nya maka yakin bahwa Allah melihat kita.


INTI PESAN QS. AL-KAHF AYAT 77

Jangan hanya menjadi orang yang melihat dinding hampir roboh.

Jadilah orang yang berusaha menegakkannya.

Jangan hanya mengkritik keluarga yang retak—jadilah pembawa kedamaian.

Jangan hanya menyalahkan murid yang lemah—jadilah guru yang menguatkan.

Jangan hanya mengeluhkan masyarakat—jadilah bagian dari perbaikannya.

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena manusia tidak menghargai.

Karena manusia mungkin tidak melihat kebaikan kita, tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakannya.

Tidak ada komentar