Ketika Kita Salah: Mengakui, Meminta Maaf, dan Tidak Mempersulit
CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 73
“Ketika Kita Salah: Mengakui, Meminta Maaf, dan Tidak Mempersulit”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah yang dirahmati Allah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pada kesempatan ini, marilah kita tadabburi sebuah ayat yang sangat indah dari kisah perjalanan Nabi Musa عليه السلام bersama Khidir.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
QS. Al-Kahf: 73
قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا
Artinya:
“Dia (Musa) berkata, ‘Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.’”
Ayat ini pendek.
Tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang sangat besar tentang kesalahan, kelupaan, permintaan maaf, hubungan guru dan murid, serta bagaimana manusia seharusnya memperlakukan orang yang sedang belajar.
1. KONTEKS AYAT: NABI MUSA MENGAKUI KESALAHANNYA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebelum sampai kepada ayat 73, Nabi Musa telah membuat kesepakatan dengan Khidir.
Allah berfirman:
قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
“Dia berkata, ‘Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku menerangkannya kepadamu.’”
QS. Al-Kahf: 70.
Kemudian mereka menaiki sebuah kapal.
Khidir melakukan sesuatu yang secara lahiriah sangat mengejutkan: ia melubangi kapal.
Musa spontan bertanya:
اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَا ۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
“Mengapa engkau melubangi kapal itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang besar.”
QS. Al-Kahf: 71.
Khidir kemudian mengingatkan:
اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
QS. Al-Kahf: 72.
Maka Nabi Musa tidak mencari-cari alasan.
Tidak berkata:
“Pokoknya saya benar.”
Tidak berkata:
“Saya seorang nabi, jadi saya tidak mungkin salah.”
Tidak pula menyalahkan Khidir.
Beliau berkata:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku.”
Inilah salah satu akhlak besar seorang hamba:
Ketika salah, akui kesalahan.
2. ORANG MULIA BUKAN ORANG YANG TIDAK PERNAH SALAH
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Manusia bukan makhluk yang sempurna.
Kita bisa lupa.
Kita bisa keliru.
Kita bisa salah memahami sesuatu.
Kita bisa terburu-buru mengambil kesimpulan.
Bahkan seseorang yang berilmu pun tetap manusia.
Yang menjadi masalah bukan semata-mata:
“Apakah kita pernah salah?”
Tetapi:
“Apa yang kita lakukan setelah menyadari kesalahan?”
Ada orang ketika salah, langsung mencari pembenaran.
Ada orang ketika ditegur, marah.
Ada orang ketika dikoreksi, menyerang balik.
Ada orang ketika melakukan kesalahan, berkata:
“Bukan salah saya.”
Padahal jelas-jelas salah.
Ada pula orang yang mengatakan:
“Ya, saya memang salah, tetapi dia juga salah!”
Sehingga permintaan maaf berubah menjadi pembelaan diri.
Nabi Musa memberikan contoh yang berbeda.
Beliau berkata:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku.”
Ada pengakuan.
Ada permintaan maaf.
Ada kerendahan hati.
3. TAFSIR ATH-THABARI: MUSA MEMINTA AGAR TIDAK DIPERSULIT
Imam Ath-Thabari رحمه الله menjelaskan bagian:
وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا
Beliau menjelaskan:
يقول: لا تُغْشِنِي من أمري عُسْرًا، يقول: لا تُضَيِّقْ عليَّ أمري معك، وصُحبتي إيّاك.
Artinya:
“Janganlah engkau menimpakan kesulitan kepadaku dalam urusanku; maksudnya, janganlah engkau mempersempit urusanku bersamamu dan dalam persahabatanku denganmu.”
Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa Musa meminta agar kesalahan tersebut tidak membuat perjalanan belajarnya menjadi semakin sulit.
Pelajarannya:
Kesalahan seseorang seharusnya menjadi jalan untuk memperbaiki diri, bukan selalu dijadikan alasan untuk menghancurkan kesempatan orang tersebut untuk belajar.
Bayangkan seorang murid melakukan kesalahan.
Kemudian gurunya berkata:
“Sudah! Kamu tidak akan bisa!”
Apa yang terjadi?
Bisa jadi murid tersebut bukan menjadi lebih baik, tetapi justru kehilangan keberanian untuk belajar.
Karena itu, seorang guru perlu membedakan antara:
mendidik kesalahan
dan
mematahkan semangat orang yang melakukan kesalahan.
4. TAFSIR IBNU KATSIR: JANGAN MEMPERSEMPIT DAN MEMPERSULIT
Ibnu Katsir رحمه الله ketika menjelaskan ayat ini berkata:
أَيْ: لَا تُضَيِّقْ عَلَيَّ وَتُشَدِّدْ عَلَيَّ
Artinya:
“Maksudnya: janganlah engkau mempersempit dan memperberat diriku.”
Kemudian beliau menghubungkan ayat ini dengan hadis Nabi ﷺ bahwa kesalahan pertama Musa terjadi karena kelupaan.
Ini memberikan satu pelajaran penting:
Orang yang sudah mengakui kesalahan tidak selalu membutuhkan bentakan; terkadang ia membutuhkan kesempatan untuk memperbaiki diri.
5. TAFSIR AS-SA'DI: MENGAKUI KESALAHAN SEKALIGUS MEMINTA MAAF
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di رحمه الله memberikan penjelasan yang sangat indah.
Beliau berkata:
فَجَمَعَ بَيْنَ الْإِقْرَارِ بِهِ وَالْعُذْرِ مِنْهُ
Artinya:
“Maka Musa menggabungkan antara pengakuan atas kesalahan dan permohonan maaf atasnya.”
Kemudian beliau menjelaskan bahwa Musa meminta agar tidak dipersulit karena kejadian tersebut terjadi karena kelupaan, terutama pada kesalahan yang pertama.
Perhatikan.
Nabi Musa tidak berkata:
“Saya tidak salah.”
Tetapi:
“Saya salah karena lupa.”
Ini adalah perbedaan antara orang yang rendah hati dan orang yang mempertahankan ego.
6. HADIS NABI ﷺ: “YANG PERTAMA DARI MUSA TERJADI KARENA LUPA”
Dalam hadis sahih, Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menjelaskan:
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
«لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا»
قَالَ: «كَانَتِ الْأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا».
Artinya:
“Sesungguhnya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda (tentang ucapan Musa): ‘Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.’ Beliau ﷺ bersabda: ‘Kejadian yang pertama dari Musa itu terjadi karena lupa.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, no. 6672, dan juga terdapat dalam riwayat Muslim secara lebih panjang.
Jadi, ayat ini tidak hanya dijelaskan oleh para mufasir.
Nabi ﷺ sendiri memberikan penjelasan tentang kejadian tersebut.
7. LUPA DAN SALAH: ALLAH MEMBERIKAN KELAPANGAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada ayat yang sangat erat hubungannya dengan tema ini.
Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah: 286
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۖ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya. Mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’”
Dan yang sangat mengagumkan adalah jawaban Allah terhadap doa tersebut.
8. ALLAH MENJAWAB: “QAD FA'ALTU — SUNGGUH, TELAH AKU KABULKAN”
Dalam Sahih Muslim, Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa ketika ayat tersebut dibaca, Allah menjawab:
قَالَ: قَدْ فَعَلْتُ
Artinya:
“Aku telah melakukannya.”
Kemudian pada permohonan:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.”
Allah menjawab:
قَدْ فَعَلْتُ
“Aku telah melakukannya.”
Dan ketika mereka berdoa:
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat.”
Allah menjawab:
قَدْ فَعَلْتُ
“Aku telah melakukannya.”
Dan ketika mereka berdoa:
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”
Allah menjawab:
قَدْ فَعَلْتُ
“Aku telah melakukannya.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim no. 126.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Betapa luas rahmat Allah.
Hamba meminta:
“Ya Allah, jangan hukum kami karena lupa dan salah.”
Allah menjawab:
قَدْ فَعَلْتُ
“Aku telah mengabulkannya.”
9. TETAPI JANGAN SALAH MEMAHAMI: LUPA BUKAN ALASAN UNTUK TERUS BERBUAT SALAH
Di sini kita harus hati-hati.
Ayat ini bukan berarti:
“Kalau saya lupa, maka semua kesalahan pasti tidak memiliki konsekuensi.”
Tidak demikian.
Dalam fikih, terdapat rincian mengenai akibat kesalahan, kelupaan, kewajiban yang terlewat, hak manusia, dan sebagainya.
Bahkan para ulama membahas bahwa kaidah tentang kesalahan dan kelupaan tidak boleh dipahami sebagai penghapusan seluruh hukum dalam semua keadaan.
Karena itu, pesan ayat bukan:
“Saya lupa, jadi saya bebas.”
Tetapi:
“Saya lupa, saya mengakui, saya meminta maaf, dan saya memperbaiki.”
Ini jauh lebih indah.
10. HADIS TENTANG KELUPAAN: PERLU DIJELASKAN DENGAN HATI-HATI
Ada hadis yang sangat masyhur:
إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَنِ الْخَطَإِ وَالنِّسْيَانِ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku dalam perkara kesalahan, kelupaan, dan sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.”
Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dan digunakan oleh para ulama dalam pembahasan fikih. Namun, status dan kekuatan sanad setiap jalurnya dibahas oleh para ahli hadis, sehingga hadis ini sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya landasan dalam masalah hukum.
Karena itu, dalam ceramah kita, landasan yang lebih kuat dan jelas adalah:
- QS. Al-Kahf ayat 73;
- QS. Al-Baqarah ayat 286;
- Sahih Muslim 126;
- Sahih al-Bukhari 6672 tentang kisah Musa dan Khidir.
Ini membuat pembahasan kita lebih kokoh.
11. PELAJARAN BESAR: JANGAN MALU MEMINTA MAAF
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Lihatlah Nabi Musa.
Beliau seorang nabi.
Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi.
Tetapi ketika melakukan kesalahan dalam perjalanan tersebut, beliau berkata:
لَا تُؤَاخِذْنِي
“Janganlah engkau menghukumku.”
Ini adalah pelajaran tentang kerendahan hati.
Kadang-kadang yang membuat seseorang sulit meminta maaf bukan karena ia tidak tahu bahwa dirinya salah.
Tetapi karena egonya terlalu besar.
Ada orang yang lebih rela kehilangan sahabat daripada mengatakan:
“Saya salah.”
Ada yang rela hubungan keluarga rusak daripada berkata:
“Maafkan saya.”
Ada guru yang sulit mengakui bahwa dirinya keliru.
Ada orang tua yang merasa meminta maaf kepada anak akan menurunkan kewibawaannya.
Padahal tidak.
Meminta maaf tidak menurunkan kemuliaan.
Justru meminta maaf menunjukkan kedewasaan.
12. GURU JUGA PERLU MEMBERI RUANG UNTUK KESALAHAN
Ayat ini sangat relevan bagi dunia pendidikan.
Nabi Musa sedang belajar.
Khidir sedang mengajarkan sesuatu.
Musa melakukan kesalahan.
Lalu Musa meminta:
وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا
“Janganlah engkau membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku.”
Maka ada prinsip pendidikan yang sangat penting:
Jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk menghentikan proses belajar.
Seorang murid mungkin:
- salah menjawab;
- salah membaca;
- salah memahami;
- lupa tugas;
- lupa materi;
- terburu-buru;
- melakukan pelanggaran;
- atau belum mampu mencapai target.
Tugas guru bukan sekadar menunjukkan:
“Kamu salah!”
Tetapi membantu murid memahami:
“Mengapa salah, bagaimana memperbaikinya, dan bagaimana agar tidak mengulanginya.”
Kesalahan harus menjadi bahan belajar, bukan sekadar bahan hukuman.
13. ORANG TUA JUGA PERLU BELAJAR MEMAAFKAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
Anak-anak kita juga manusia.
Mereka lupa.
Mereka salah.
Mereka kadang berjanji lalu lupa.
Mereka kadang melakukan sesuatu yang membuat orang tua kecewa.
Tentu bukan berarti semua kesalahan dibiarkan.
Tidak.
Tetapi pendidikan membutuhkan keseimbangan antara:
ketegasan dan kasih sayang.
Ada saatnya anak perlu ditegur.
Ada saatnya perlu diberi konsekuensi.
Tetapi ada pula saatnya anak membutuhkan kalimat:
“Ayah/Ibu tahu kamu salah. Tapi Ayah/Ibu tetap sayang. Sekarang kita perbaiki bersama.”
Kalimat seperti itu bisa menyelamatkan hati seorang anak.
14. JANGAN MEMPERSULIT ORANG YANG SUDAH BERUSAHA MEMPERBAIKI DIRI
Perhatikan kata:
وَلَا تُرْهِقْنِي
“Janganlah engkau membebaniku.”
Ada orang yang sudah meminta maaf.
Sudah mengakui kesalahan.
Sudah berusaha berubah.
Tetapi kesalahannya terus diungkit.
Kemarin salah, diungkit.
Sebulan lalu salah, diungkit.
Setahun lalu salah, diungkit.
Akhirnya seseorang merasa:
“Saya sudah berubah, tetapi di mata mereka saya tetap menjadi orang yang dulu.”
Jamaah,
Kalau Allah membuka pintu taubat bagi manusia, jangan kita menjadi manusia yang menutup pintu perubahan bagi saudaranya.
Allah berfirman:
QS. Az-Zumar: 53
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Ayat ini tidak berarti dosa boleh diremehkan. Justru ayat ini membuka pintu taubat dan perubahan.
15. KESALAHAN TIDAK HARUS MENJADI IDENTITAS SESEORANG
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Kamu melakukan kesalahan.”
dengan:
“Kamu adalah orang yang selalu salah.”
Yang pertama mengoreksi perilaku.
Yang kedua menyerang identitas.
Dalam pendidikan, ini sangat penting.
Jangan mengatakan kepada anak:
“Kamu memang anak nakal!”
Lebih baik:
“Perbuatanmu kali ini salah. Mari kita perbaiki.”
Jangan mengatakan kepada murid:
“Kamu memang bodoh!”
Tetapi:
“Jawabanmu belum tepat. Mari kita cari di mana letak kesalahannya.”
Jangan mengatakan:
“Kamu tidak akan pernah berubah!”
Tetapi:
“Kesalahan ini harus diperbaiki. Saya percaya kamu bisa belajar.”
Inilah pendidikan yang membangun.
16. MUSA TIDAK MEMINTA IZIN UNTUK TERUS SALAH
Ada hal yang sangat penting.
Musa berkata:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
Tetapi permintaan maaf Musa bukan berarti:
“Saya akan terus melakukan hal yang sama.”
Justru setelah itu perjalanan berlanjut.
Artinya:
Meminta maaf harus diikuti dengan perubahan.
Kalau seseorang berkata:
“Maaf.”
Tetapi terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa usaha memperbaiki, maka permintaan maafnya kehilangan makna.
Taubat bukan sekadar ucapan.
Taubat melahirkan perubahan.
17. ALLAH TIDAK MEMBEBANI DI LUAR KEMAMPUAN
Kita kembali kepada QS. Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ini bukan berarti kehidupan akan selalu mudah.
Bukan berarti orang beriman tidak akan mengalami ujian.
Tetapi Allah tidak menzalimi hamba-Nya.
Karena itu, ketika menghadapi ujian, jangan berkata:
“Allah tidak sayang kepada saya.”
Justru kita belajar berkata:
“Ya Allah, Engkau mengetahui kemampuan hamba-Mu. Berikanlah kekuatan agar aku mampu melewati ujian ini.”
18. ADA PERBEDAAN ANTARA “SULIT” DAN “TIDAK BOLEH”
Ini juga penting dalam kehidupan.
Allah mengajarkan kemudahan, tetapi bukan berarti semua yang sulit harus ditinggalkan.
Shalat mungkin terasa berat bagi sebagian orang.
Bangun Subuh mungkin terasa berat.
Menuntut ilmu mungkin terasa berat.
Mendidik anak mungkin terasa berat.
Mengendalikan emosi mungkin terasa berat.
Tetapi sesuatu yang berat belum tentu buruk.
Karena itu:
“Jangan mempersulit” bukan berarti “jangan memberi tantangan.”
Guru boleh memberikan tugas.
Orang tua boleh memberikan aturan.
Pemimpin boleh memberikan tanggung jawab.
Tetapi jangan memberikan beban secara zalim, tanpa mempertimbangkan kemampuan dan tujuan pendidikan.
19. JANGAN CEPAT MENGHAKIMI ORANG YANG KITA TIDAK PAHAMI
Kisah Musa dan Khidir memiliki pelajaran epistemologis yang sangat dalam.
Musa melihat sebuah tindakan.
Secara lahiriah, tindakan tersebut tampak bermasalah.
Musa belum mengetahui keseluruhan informasi.
Maka ia bereaksi berdasarkan apa yang ia ketahui.
Ini mengajarkan:
Pengetahuan kita terbatas.
Allah berfirman:
QS. Al-Isra': 85
وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
Artinya:
“Mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit.’”
Maka jangan terlalu cepat berkata:
“Saya sudah tahu semuanya.”
“Saya tahu kenapa dia melakukan itu.”
“Saya tahu apa maksud sebenarnya.”
Padahal informasi yang kita miliki mungkin hanya sebagian.
20. NAMUN KETERBATASAN PENGETAHUAN BUKAN ALASAN UNTUK MEMBENARKAN KEMUNGKARAN
Di sini kita harus seimbang.
Kisah Musa dan Khidir tidak boleh digunakan untuk membenarkan setiap tindakan yang secara lahiriah salah dengan alasan:
“Mungkin ada hikmah tersembunyi.”
Tidak.
Kisah Khidir memiliki konteks khusus yang Allah jelaskan kemudian.
Allah berfirman tentang kapal:
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَانَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَرَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَاۤءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا
Artinya:
“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap perahu.”
QS. Al-Kahf: 79.
Jadi hikmah yang tersembunyi tersebut bukan sekadar dugaan manusia.
Allah kemudian menjelaskannya.
Maka kita tidak boleh menggunakan kisah ini sebagai pembenaran untuk:
- kezaliman;
- penipuan;
- pelanggaran hukum;
- mengambil hak orang;
- atau melakukan kemungkaran.
21. PELAJARAN UNTUK SEORANG GURU
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dari ayat ini kita dapat mengambil beberapa prinsip pendidikan.
Pertama: Beri ruang untuk mengakui kesalahan.
Murid yang takut mengakui kesalahan akan belajar menyembunyikan kesalahan.
Kedua: Jangan mempermalukan murid.
Kesalahan bisa dikoreksi tanpa merusak harga diri.
Ketiga: Bedakan kesalahan dengan identitas.
“Perbuatanmu salah” berbeda dengan “kamu anak yang buruk.”
Keempat: Berikan kesempatan memperbaiki.
Jangan tutup pintu hanya karena satu kesalahan.
Kelima: Ketegasan tetap diperlukan.
Memaafkan bukan berarti tidak ada aturan.
22. PELAJARAN UNTUK SEORANG MURID
Bagi para pelajar, ayat ini juga sangat penting.
Jika kalian melakukan kesalahan:
Jangan lari.
Jangan berbohong.
Jangan menyalahkan teman.
Jangan mencari kambing hitam.
Belajarlah mengatakan:
“Ustadz, saya salah.”
“Ustadzah, saya lupa.”
“Saya minta maaf.”
Kemudian:
“Saya akan memperbaikinya.”
Itulah keberanian.
Bukan keberanian untuk melawan guru.
Tetapi keberanian untuk menundukkan ego.
23. PELAJARAN UNTUK ORANG TUA
Ayah dan Bunda,
Ketika anak datang dan mengatakan:
“Ayah, saya salah.”
Jangan langsung membalas:
“Makanya!”
“Sudah Ibu bilang!”
“Kamu memang begitu!”
Tahan sebentar.
Tarik napas.
Kemudian katakan:
“Terima kasih sudah jujur. Sekarang mari kita perbaiki.”
Kalimat sederhana itu dapat mengajarkan anak bahwa:
jujur itu aman.
Kalau setiap kali anak jujur ia dihancurkan, kelak ia akan belajar berbohong.
24. PELAJARAN UNTUK SUAMI DAN ISTRI
Ayat ini juga berlaku dalam rumah tangga.
Ketika suami salah, jangan gengsi meminta maaf.
Ketika istri salah, jangan gengsi mengakui.
Jangan menunggu siapa yang lebih dahulu meminta maaf.
Karena dalam rumah tangga bukan soal:
“Siapa yang menang?”
Tetapi:
“Bagaimana rumah tangga ini diselamatkan?”
Ada kalanya kalimat:
“Maaf, tadi saya salah.”
lebih kuat daripada seribu argumentasi.
25. PELAJARAN UNTUK PERSAHABATAN
Ada sahabat yang pernah salah kepada kita.
Kalau kesalahannya sudah diakui dan ia berusaha memperbaiki, jangan terus-menerus menjadikannya senjata.
Allah berfirman:
QS. An-Nur: 22
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ini bukan berarti kita membiarkan kezaliman.
Tetapi jika seseorang benar-benar menyesal dan memperbaiki diri, maka memberi kesempatan adalah bagian dari akhlak mulia.
26. TIGA KALIMAT YANG SEHARUSNYA MUDAH DIUCAPKAN
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dari QS. Al-Kahf ayat 73, mari kita biasakan tiga kalimat.
Pertama:
أَنَا أَخْطَأْتُ
“Aku telah melakukan kesalahan.”
Kedua:
أَنَا آسِفٌ
“Aku minta maaf.”
Ketiga:
سَأُصْلِحُ خَطَئِي
“Aku akan memperbaiki kesalahanku.”
Tiga kalimat ini sederhana.
Tetapi sangat berat bagi ego.
Karena itu, orang yang mampu mengucapkannya dengan tulus adalah orang yang sedang belajar menundukkan hawa nafsunya.
27. EMPAT LANGKAH KETIKA KITA MELAKUKAN KESALAHAN
Mari kita jadikan QS. Al-Kahf ayat 73 sebagai pedoman praktis.
1. AKUI
Jangan lari dari kenyataan.
“Saya salah.”
2. JELASKAN SEJUJURNYA
Jika memang lupa, katakan lupa.
Jika memang keliru, katakan keliru.
Jangan membuat alasan palsu.
3. MINTA MAAF
Katakan:
“Saya mohon maaf.”
4. PERBAIKI
Kesalahan yang sudah diakui harus diikuti tindakan perbaikan.
Karena tujuan meminta maaf bukan sekadar agar masalah selesai.
Tujuannya adalah:
agar diri kita menjadi lebih baik.
28. JANGAN MEMPERMALUKAN ORANG YANG SUDAH BERTOBAT
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada orang yang dahulu buruk.
Tetapi sekarang sudah berubah.
Jangan terus berkata:
“Dulu kamu begini.”
“Dulu kamu begitu.”
“Bukankah kamu dulu seperti itu?”
Kalau Allah telah membuka jalan perubahan, jangan kita tutup dengan masa lalu.
Nabi ﷺ bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertobat.”
Hadis ini masyhur dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majah, dan maknanya sesuai dengan prinsip umum syariat tentang taubat.
Maka ukuran manusia bukan:
“Apakah dia pernah salah?”
Tetapi:
“Apakah setelah salah dia kembali kepada Allah?”
29. RENUNGAN: KITA SEMUA PERNAH MENJADI MUSA
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kalau kita jujur kepada diri sendiri, kita semua pernah berada pada posisi Nabi Musa.
Pernah menilai sesuatu sebelum mengetahui seluruh ceritanya.
Pernah bertanya sebelum waktunya.
Pernah terburu-buru.
Pernah salah memahami.
Pernah lupa.
Pernah berjanji tetapi gagal menepati karena kelalaian.
Pernah menyakiti orang.
Pernah membuat orang tua kecewa.
Pernah membuat pasangan kecewa.
Pernah membuat murid kecewa.
Pernah membuat guru kecewa.
Maka mari belajar dari Nabi Musa:
Jangan gengsi.
Katakan:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku.”
Dan:
وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا
“Janganlah engkau membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku.”
30. DAN KITA JUGA PERNAH MENJADI KHIDIR
Tetapi di sisi lain, kadang-kadang kita berada pada posisi Khidir.
Ada orang yang melakukan kesalahan kepada kita.
Lalu dia meminta maaf.
Pertanyaannya:
Apakah kita mau memaafkan?
Apakah kita mau memberikan kesempatan?
Apakah kita mau mendidiknya?
Apakah kita mau membantunya memperbaiki diri?
Jangan sampai kita menuntut:
“Allah harus mengampuni saya.”
Tetapi kita berkata kepada orang lain:
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Bukankah Allah berfirman:
أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Tidakkah kalian suka bahwa Allah mengampuni kalian?”
QS. An-Nur: 22.
Kalau kita ingin Allah mengampuni kita, mari belajar mengampuni orang lain dalam perkara yang memang layak dimaafkan.
31. PENUTUP: JANGAN BIARKAN EGO MENGALAHKAN KEBENARAN
Jamaah yang dirahmati Allah,
QS. Al-Kahf ayat 73 mengajarkan kepada kita sebuah akhlak yang sangat mahal:
BERANI MENGAKUI KESALAHAN.
Nabi Musa adalah seorang nabi.
Namun beliau tetap mengatakan:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku.”
Maka siapa kita sehingga begitu sulit mengatakan:
“Saya salah.”
Siapa kita sehingga begitu berat mengatakan:
“Saya minta maaf.”
Dan siapa kita sehingga tidak mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki dirinya?
Mari kita pulang dari majelis ini membawa tiga pesan:
Pertama:
Kalau kita salah, akui.
Kedua:
Kalau kita salah kepada manusia, minta maaf.
Ketiga:
Kalau orang lain benar-benar menyesal dan ingin berubah, berikan ruang untuk memperbaiki diri.
Karena kita semua adalah manusia.
Kita bisa lupa.
Kita bisa salah.
Kita bisa jatuh.
Tetapi Allah membuka pintu untuk kembali.
DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَجَاوَزْ عَنْ سَيِّئَاتِنَا، وَاعْفُ عَنَّا فِيمَا أَخْطَأْنَا وَنَسِينَا.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskan kesalahan-kesalahan kami, dan maafkanlah kami atas apa yang kami lakukan karena kesalahan dan kelupaan.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا أَخْطَؤُوا اعْتَرَفُوا، وَإِذَا أَذْنَبُوا اسْتَغْفَرُوا، وَإِذَا ظُلِمُوا عَفَوْا، وَإِذَا عَاهَدُوا وَفَوْا.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ketika melakukan kesalahan mau mengakuinya, ketika berdosa segera memohon ampun, ketika disakiti mampu memaafkan, dan ketika berjanji mampu menepatinya.”
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَحِلْمًا وَتَوَاضُعًا.
“Ya Allah, ajarkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, berikan manfaat kepada kami melalui ilmu yang Engkau ajarkan, dan tambahkan kepada kami ilmu, kesabaran, dan kerendahan hati.”
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَخْلَاقَنَا، وَأَصْلِحْ أَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَتَلَامِيذَنَا.
“Ya Allah, perbaikilah hati kami, perbaikilah akhlak kami, perbaikilah keluarga kami, anak-anak kami, dan para murid kami.”
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.”
رَبَّنَا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
CATATAN RUJUKAN / FOOTNOTE
[1] Al-Qur'an, QS. Al-Kahf [18]: 73. Makna ayat dan konteksnya menunjukkan Musa meminta agar kesalahannya karena lupa tidak dijadikan sebab untuk mempersulit kelanjutan perjalanannya.
[2] Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 73. Ath-Thabari menjelaskan bahwa Musa meminta agar urusannya bersama Khidir tidak dipersempit dan tidak dibebani kesulitan.
[3] Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf: 73. Ibn Katsir menjelaskan: “لا تضيق علي وتشدد علي” — “Jangan mempersempit dan memperberat diriku.”
[4] Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, Taysīr al-Karīm ar-Rahmān, tafsir QS. Al-Kahf: 73. As-Sa'di menekankan bahwa Musa menggabungkan pengakuan terhadap kesalahan dan permohonan maaf.
[5] Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Kahf: 73. Al-Qurthubi menyebut adanya dua penafsiran tentang “بِمَا نَسِيتُ”: salah satunya bahwa Musa benar-benar lupa lalu meminta maaf; pendapat lainnya memahami ungkapan tersebut sebagai bentuk ma‘ārīdh.
[6] Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, no. 6672. Hadis Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه menjelaskan bahwa kejadian pertama Musa dalam rangkaian perjalanan tersebut adalah karena lupa: “كَانَتِ الْأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا.”
[7] Muslim, Shahīh Muslim, no. 126. Hadis Ibnu Abbas رضي الله عنهما tentang doa QS. Al-Baqarah: 286 dan jawaban Allah “قَدْ فَعَلْتُ” — “Aku telah mengabulkannya.”
[8] Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah [2]: 286. Ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya serta memuat doa agar tidak dihukum karena lupa atau kesalahan.
[9] Al-Qur'an, QS. Az-Zumar [39]: 53. Ayat tentang keluasan rahmat dan ampunan Allah bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
[10] Al-Qur'an, QS. An-Nur [24]: 22. Ayat tentang memaafkan dan berlapang dada: “أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ” — “Tidakkah kalian suka bahwa Allah mengampuni kalian?”
[11] Al-Qur'an, QS. Al-Isra' [17]: 85. Ayat yang mengingatkan manusia bahwa pengetahuan yang diberikan kepadanya hanyalah sedikit.
[12] Riwayat tentang “رُفِعَ عَنْ أُمَّتِيَ الْخَطَأُ وَالنِّسْيَانُ...” memiliki beberapa jalur dan pembahasan sanad di kalangan ahli hadis. Karena itu, kaidah tersebut tidak digunakan di sini sebagai satu-satunya dalil, tetapi diposisikan sebagai penguat setelah dalil Al-Qur'an dan hadis sahih.
Post a Comment