Tenangkan Hatimu, Syukuri Nikmat Allah, dan Serahkan Pembelaan kepada-Nya

Materi Ceramah Tafsir Surah Maryam Ayat 26

“Tenangkan Hatimu, Syukuri Nikmat Allah, dan Serahkan Pembelaan kepada-Nya”

A. Teks ayat dan terjemahannya
Surah Maryam ayat 26 :
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚ فَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ
Artinya:
“Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.’”
QS. Maryam [19]: 26

Ayat ini melanjutkan kisah Maryam setelah Allah memberikan pertolongan kepadanya. Pada ayat sebelumnya, Maryam diperintahkan menggoyangkan pangkal pohon kurma sehingga buah yang matang jatuh untuknya. Kemudian datang perintah agar ia makan, minum, menenangkan hati, dan tidak menanggapi pertanyaan manusia dengan berbicara seperti biasa.

Ada empat pesan besar dalam ayat ini:
1. Islam mengakui kebutuhan jasmani dan pentingnya menjaga kondisi diri.
2. Nikmat Allah semestinya disambut dengan syukur dan ketenangan.
3. Tidak semua tuduhan harus dijawab dengan perdebatan.
4. Ketika manusia tidak mampu menjelaskan seluruh keadaan, ia tetap dapat menyerahkan urusannya kepada Allah.

B. Muqaddimah ceramah
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah kaum muslimin rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang bersyukur ketika mendapat nikmat, bersabar ketika menerima ujian, dan tetap menjaga adab ketika menghadapi perkataan manusia.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Pernahkah kita berada dalam keadaan yang membuat hati sangat gelisah, sementara kita merasa tidak sanggup menjelaskan keadaan kita kepada semua orang?
Pernahkah kita difitnah, disalahpahami, atau dinilai hanya berdasarkan sesuatu yang tampak di permukaan, padahal orang lain tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya?

Dalam keadaan seperti itu, manusia sering tergoda untuk membela diri dengan kemarahan, menjawab setiap komentar, dan berusaha membuat semua orang percaya kepadanya. Padahal, semakin banyak berbicara, terkadang semakin panjang pula perdebatan.

Al-Qur’an menghadirkan kisah Maryam, seorang perempuan salehah yang menghadapi ujian luar biasa. Ia membawa seorang bayi kepada kaumnya, sementara mereka tidak mengetahui hakikat peristiwa yang dialaminya.

Namun, Allah tidak membiarkan Maryam tanpa petunjuk. Allah memerintahkannya makan, minum, menenangkan hati, dan tidak berbicara kepada manusia pada hari itu.

Perhatikan firman Allah:
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
“Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau.”
Seolah-olah kita diajarkan bahwa ketika menghadapi ujian besar, jangan sampai seluruh perhatian kita habis untuk memikirkan penilaian manusia. Tetaplah menjaga diri, menerima pertolongan Allah, dan menjalankan petunjuk-Nya.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan banyak bicara. Namun, diam pun harus dilakukan dengan hikmah, bukan untuk menyembunyikan kezaliman atau melarikan diri dari tanggung jawab.

C. Tafsir tahlili: Menyelami makna setiap bagian ayat

1. فَكُلِي — “Maka makanlah”
Kata فَكُلِي merupakan kata perintah kepada Maryam agar makan. Dalam konteks ayat sebelumnya, makanan yang dimaksud adalah kurma matang yang Allah jadikan rezeki baginya.
Allah tidak hanya memberikan penghiburan secara batin, tetapi juga mengarahkan Maryam memenuhi kebutuhan tubuhnya setelah melahirkan.

Imam Ath-Thabari menjelaskan:
فَكُلِي مِنَ الرُّطَبِ الَّذِي يَتَسَاقَطُ عَلَيْكِ
Artinya: “Maka makanlah kurma basah yang berjatuhan kepadamu.”¹ 
Perhatikan, jamaah sekalian, Allah memerintahkan Maryam untuk makan. Ini mengingatkan kita bahwa manusia memiliki kebutuhan jasmani yang harus diperhatikan. Menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan yang halal dan baik, serta memberikan waktu untuk memulihkan tenaga bukanlah tanda lemahnya iman.

Terkadang seseorang begitu sibuk memikirkan persoalan hidup sampai lupa makan, kurang tidur, atau mengabaikan kesehatannya. Padahal, menjaga tubuh juga bagian dari tanggung jawab seorang hamba.
Pelajaran: ketika menghadapi masalah, jangan sampai kita mengabaikan kebutuhan dasar yang membantu kita tetap sehat dan mampu menjalankan kewajiban.

2. وَاشْرَبِي — “Dan minumlah”
Allah juga memerintahkan Maryam untuk minum. Dalam rangkaian ayat sebelumnya, Allah telah menyebut adanya aliran air di dekatnya.
Imam Ath-Thabari menerangkan:
وَاشْرَبِي مِنْ مَاءِ السَّرِيِّ الَّذِي جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ
Artinya: “Dan minumlah dari air yang mengalir yang telah dijadikan Tuhanmu di bawahmu.”¹ 
Perintah makan dan minum memperlihatkan bahwa pertolongan Allah dalam kisah Maryam menyentuh kebutuhan yang nyata. Allah memberikan jalan untuk memperoleh makanan dan minuman, bukan sekadar menyuruhnya mengabaikan rasa lapar dan haus.

Di sini terdapat pelajaran penting bagi orang yang sedang menghadapi tekanan hidup. Kita boleh menangis, berdoa, dan memohon pertolongan Allah. Namun, kita juga perlu melakukan hal-hal praktis yang diperlukan untuk menjaga diri.
Jika sakit, berobatlah dengan cara yang tepat. Jika kelelahan, beristirahatlah sesuai kebutuhan. Jika menghadapi persoalan yang sulit, carilah nasihat dari orang yang amanah dan kompeten.

Ikhtiar semacam ini tidak bertentangan dengan tawakal. Justru, kita berusaha menjaga amanah tubuh dan kehidupan yang Allah berikan.

3. وَقَرِّي عَيْنًا — “Dan tenteramkanlah hatimu”
Inilah salah satu bagian paling menyentuh dari ayat ini.
Ungkapan قَرِّي عَيْنًا secara bahasa mengandung makna ketenteraman dan kegembiraan hati. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan ini dapat dipahami sebagai “tenangkanlah hatimu”, “berbahagialah”, atau “jadilah tenteram”.
Imam Al-Baghawi menjelaskan:
وَقَرِّي عَيْنًا أَيْ طِيبِي نَفْسًا
Artinya: “Dan tenteramkanlah hatimu, yakni jadilah lapang dan baik keadaan jiwamu.”² 
Imam Al-Qurthubi juga menjelaskan makna ungkapan ini sebagai perintah agar Maryam menjadi tenteram dan bergembira. Beliau menghubungkannya dengan kelahiran anaknya, Nabi Isa ‘alaihissalam.³ 

Mengapa Maryam perlu ditenangkan?
Karena ujian yang dihadapinya bukan hanya persoalan fisik. Ia juga menghadapi beban batin, kekhawatiran tentang penilaian masyarakat, serta kemungkinan munculnya tuduhan yang menyakitkan.
Dengan demikian, perintah untuk menenangkan hati merupakan bagian penting dari rangkaian pertolongan Allah kepadanya.

Ada orang yang tubuhnya berada di rumah, tetapi pikirannya terus berkelana memikirkan persoalan. Ia sedang makan, tetapi pikirannya memikirkan ucapan orang. Ia sedang beribadah, tetapi hatinya disibukkan oleh kekhawatiran tentang masa depan.
Tidak semua masalah dapat selesai dalam satu malam. Tidak semua orang akan segera memahami keadaan kita. Namun, jangan biarkan kecemasan menguasai seluruh kehidupan sehingga kita tidak lagi mampu merasakan nikmat yang masih ada.

Menenangkan hati bukan berarti berpura-pura bahagia atau menyangkal kenyataan. Menenangkan hati berarti menghadapi kenyataan dengan iman, berusaha menyelesaikan masalah, dan tidak membiarkan rasa takut mengambil alih seluruh pikiran kita.

4. فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا — “Jika engkau melihat seseorang dari kalangan manusia”
Bagian ini mengalihkan perhatian dari pemulihan diri kepada kemungkinan Maryam bertemu dengan orang-orang yang bertanya tentang dirinya dan anak yang dibawanya.

4. فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا — “Jika engkau melihat seseorang dari kalangan manusia”
Bagian ini mengalihkan perhatian dari pemulihan diri kepada kemungkinan Maryam bertemu dengan orang-orang yang bertanya tentang dirinya dan anak yang dibawanya.
Dalam keadaan seperti itu, Maryam diperintahkan menyampaikan bahwa ia bernazar untuk menahan diri dari berbicara pada hari itu.

Imam Ath-Thabari menjelaskan:
Kita perlu memahami latar kisah ini. Maryam akan kembali kepada kaumnya dengan membawa seorang bayi, sementara mereka belum mengetahui penjelasan mengenai kelahirannya. Situasi itu sangat berat bagi dirinya.
Namun, petunjuk yang diberikan kepadanya bukan perintah untuk berdebat dengan semua orang. Ia diarahkan untuk menjalankan suatu tindakan khusus yang berkaitan dengan keadaan dan ketentuan syariat pada zamannya.

Pelajaran untuk masa kini:
ketika menghadapi pertanyaan atau tuduhan, kita perlu mempertimbangkan kapan harus menjelaskan, kapan harus menunggu, dan kapan sebaiknya tidak menanggapi provokasi.
Tidak semua komentar harus dibalas. Tetapi jika kita memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan fakta, melindungi orang yang dizalimi, atau menyelesaikan urusan hukum, kita tetap perlu memberikan penjelasan dengan cara yang benar.

5. فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا — “Maka katakanlah, sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih”
Kata صَوْمًا secara bahasa berkaitan dengan menahan diri. Dalam ayat ini, para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menahan diri dari berbicara, bukan semata-mata puasa dari makan dan minum.
Ibnu Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dinukil menjelaskan kata shauman dalam ayat ini dengan makna diam atau menahan ucapan. Imam Ath-Thabari menghimpun sejumlah riwayat tersebut dalam tafsirnya.¹ 

Imam Al-Baghawi menjelaskan:
نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا أَيْ صَمْتًا
Artinya: “Aku bernazar untuk Tuhan Yang Maha Pengasih dengan puasa, yakni menahan diri dari berbicara.”² 
Mengapa Maryam diarahkan untuk tidak berbicara?
Para ulama tafsir menyebutkan beberapa penjelasan. Di antaranya, Maryam berada dalam keadaan yang sangat sulit untuk menjelaskan peristiwa kelahiran anaknya kepada masyarakat. Dalam kisah tersebut, Allah kemudian memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya melalui Nabi Isa yang berbicara ketika masih bayi, sebagaimana diterangkan pada ayat berikutnya.
Perlu diperhatikan bahwa perintah diam dalam kisah Maryam adalah bagian dari petunjuk khusus pada syariat terdahulu, bukan dasar untuk menetapkan bahwa seorang muslim sekarang disyariatkan bernazar tidak berbicara seharian.
Dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ, yang dituntunkan adalah menjaga lisan: berbicara dengan baik dan menahan ucapan yang buruk, bukan menjadikan diam mutlak sebagai ibadah tersendiri.
6. فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا — “Maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini”
Bagian terakhir menegaskan bentuk tindakan yang harus dilakukan Maryam: ia tidak berbicara kepada manusia pada hari itu.
Menurut penjelasan para mufasir, perkataan فَقُولِي (“maka katakanlah”) dapat dipahami sebagai pemberitahuan kepada orang yang bertanya, sementara bagian “aku tidak akan berbicara” menunjukkan bahwa Maryam selanjutnya menahan diri dari percakapan. Sejumlah tafsir menjelaskan bahwa pemberitahuan itu dapat dilakukan dengan isyarat.⁴

Kita tidak perlu menyimpulkan bahwa diam selalu menjadi pilihan terbaik dalam semua keadaan. Yang perlu kita ambil adalah hikmah di balik pengaturan respons Maryam terhadap situasi yang sangat khusus.
Ada kalanya diam menjadi cara untuk menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat. Ada kalanya penjelasan singkat lebih baik daripada pembelaan panjang. Ada pula keadaan ketika seseorang wajib berbicara untuk menyampaikan kebenaran, memberi kesaksian, mencegah bahaya, atau meminta haknya.
Karena itu, ukuran yang benar bukanlah “selalu bicara” atau “selalu diam”, melainkan memilih tindakan yang paling tepat berdasarkan kebenaran, tanggung jawab, dan kemaslahatan.

D. Dalil Al-Qur’an yang menguatkan pesan ayat
1. Hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah :
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
QS. Ar-Ra‘d [13]: 28
Ayat ini menjelaskan bahwa zikir kepada Allah merupakan jalan penting untuk memperoleh ketenteraman batin. Ketika menghadapi tekanan, seorang muslim dapat memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, beristigfar, berdoa, dan mengingat janji Allah.
Namun, ketenteraman tidak selalu berarti seluruh rasa sedih langsung hilang. Seorang mukmin tetap dapat merasa sedih, takut, atau cemas. Yang diharapkan adalah agar ia memiliki pegangan spiritual untuk menghadapi perasaan itu dengan lebih baik.
2. Allah bersama orang-orang yang sabar
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah [2]: 153

Allah memerintahkan dua jalan penting: sabar dan salat.
Sabar bukan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung. Sabar berarti tetap taat kepada Allah, mengendalikan diri dari tindakan yang salah, dan berusaha menyelesaikan masalah melalui cara yang dibenarkan.
Salat menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya. Dalam salat, kita mengakui kelemahan diri, memohon petunjuk, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
3. Setiap ucapan manusia dicatat
Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Ayat ini mengingatkan kita agar berhati-hati ketika berbicara, terutama saat sedang marah atau merasa disakiti.
Jangan sampai karena ingin membela diri, kita justru berdusta, memfitnah balik, membuka aib yang tidak perlu, atau mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain.
Jika harus menjelaskan sesuatu, sampaikan fakta dengan jujur dan proporsional. Jika belum mengetahui kebenaran suatu berita, jangan terburu-buru menyebarkannya.

4. Allah memberikan ketenangan dan jalan keluar kepada hamba-Nya
Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
QS. Ath-Thalaq [65]: 2–3, 

Ayat ini menumbuhkan harapan agar kita tidak berputus asa. Jalan keluar bisa datang dengan cara yang tidak kita duga. Namun, ayat ini bukan jaminan bahwa setiap persoalan selesai seketika atau persis seperti yang kita inginkan.
Tugas kita adalah menjaga takwa, menempuh cara yang halal, berdoa, dan tetap berusaha. Adapun bentuk dan waktu pertolongan berada dalam kebijaksanaan Allah.

E. Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ

1. Berbicara yang baik atau memilih diam
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
HR. Al-Bukhari, no. 6018 dan 6475; juga diriwayatkan oleh Muslim, no. 47.
Hadis ini merupakan pedoman penting dalam memahami pelajaran dari kisah Maryam.
Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan kita untuk tidak berbicara sama sekali. Beliau mengajarkan agar ucapan kita bernilai baik. Jika perkataan yang hendak disampaikan tidak membawa manfaat dan justru berpotensi menimbulkan dosa atau kerusakan, diam lebih selamat.
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menjelaskan hadis ini dalam Fatḥ al-Bārī pada pembahasan tentang menjaga lisan. Inti penjelasannya adalah anjuran untuk berkata baik dan memperingatkan bahaya ucapan yang tidak terjaga.⁵

Penerapan dalam kehidupan:
1. Ketika marah, tenangkan diri sebelum berbicara.
2.Ketika menerima kabar yang belum jelas, periksa kebenarannya.
3. Ketika berbeda pendapat, sampaikan argumen tanpa menghina.
4. Ketika tidak mampu menjawab suatu pertanyaan, katakan dengan jujur bahwa kita belum mengetahui jawabannya.

 2. Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
Artinya: “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh menimbulkan bahaya bagi orang lain.”
Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Ibnu Majah, no. 2340; dinilai hasan melalui sejumlah jalur oleh para ulama hadis.
Hadis ini membantu kita memahami pentingnya menjaga diri ketika menghadapi tekanan. Jangan sampai keinginan membela diri membuat kita melakukan sesuatu yang merusak kesehatan, keselamatan, atau hubungan dengan orang lain.
Menjaga ketenangan bukan berarti mengabaikan masalah. Jika seseorang mengalami fitnah, kekerasan, atau perlakuan tidak adil, ia boleh mencari bantuan, meminta perlindungan, dan menempuh jalur yang benar.

3. Meminta pertolongan Allah dan tetap melakukan yang bermanfaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
Artinya: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.”
HR. Muslim, no. 2664.

Hadis ini menyempurnakan pelajaran dari Maryam ayat 26. Seorang muslim bukan hanya belajar menahan ucapan, tetapi juga terus melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Jika ada masalah yang harus diselesaikan, carilah langkah yang tepat. Jika ada kesalahan yang perlu diperbaiki, perbaikilah. Jika ada hak yang harus diperjuangkan, tempuhlah cara yang dibenarkan. Dan jika ada persoalan yang berada di luar kendali kita, mohonlah pertolongan Allah sambil menjaga hati dari keputusasaan.

F. Ulasan para ulama tafsir
1. Imam Ath-Thabari: makan, minum, dan ketenteraman jiwa
Dalam Jāmi‘ al-Bayān, Ath-Thabari menjelaskan bahwa perintah makan dan minum berkaitan dengan kurma dan air yang Allah sediakan bagi Maryam. Adapun وَقَرِّي عَيْنًا beliau jelaskan sebagai ketenteraman dan kegembiraan hati setelah kelahiran anaknya.¹ 
Penjelasan ini memperlihatkan bahwa pertolongan Allah kepada Maryam mencakup kebutuhan fisik dan batin.
Kita tidak seharusnya memisahkan keduanya secara berlebihan. Manusia membutuhkan iman, tetapi juga memerlukan makanan, minuman, istirahat, dukungan, dan lingkungan yang aman.

2. Imam Al-Baghawi: makna “qarrī ‘ainan” dan “shauman”
Al-Baghawi menjelaskan:
وَقَرِّي عَيْنًا أَيْ طِيبِي نَفْسًا
Artinya: “Tenteramkanlah hatimu, yakni jadilah lapang dan baik keadaan jiwamu.”
Beliau juga menerangkan bahwa shauman pada bagian akhir ayat bermakna shamtan, yakni menahan diri dari berbicara.² 
Dua penjelasan ini berhubungan erat: Maryam diperintahkan menenangkan hati, lalu diberi petunjuk bagaimana menghadapi manusia dalam situasi khusus yang dialaminya.
Pelajaran untuk kita ialah pentingnya mengelola perasaan sekaligus memilih respons yang tepat. Menenangkan hati tidak cukup hanya dengan berharap masalah hilang; kita juga perlu mengikuti petunjuk Allah dalam bertindak.

3. Imam Al-Qurthubi: makna ketenteraman dan nazar diam
Dalam Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Al-Qurthubi membahas ungkapan وَقَرِّي عَيْنًا sebagai perintah untuk memperoleh ketenteraman dan kegembiraan. Beliau juga menguraikan makna shaum sebagai menahan diri, termasuk menahan diri dari berbicara dalam konteks ayat ini.³ 
Ulasan bahasa ini penting karena kata shaum tidak selalu dipahami hanya sebagai puasa makan dan minum. Makna kata tersebut perlu ditentukan berdasarkan konteks dan penjelasan para ulama.
Akan tetapi, kita harus membedakan makna ayat dalam syariat terdahulu dari hukum ibadah dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ. Ayat ini tidak menjadi dasar untuk menjadikan diam sepanjang hari sebagai ritual ibadah tersendiri bagi umat Islam.
4. Ibnu Katsir: diam Maryam dan tanda kekuasaan Allah
Ibnu Katsir menerangkan bahwa Maryam diarahkan untuk memberitahukan kepada orang yang bertanya bahwa ia bernazar menahan diri dari berbicara. Beliau juga menjelaskan bahwa petunjuk ini berkaitan dengan keadaan khusus Maryam dan syariat terdahulu.⁴ 
Kisah ini berlanjut pada ayat berikutnya, ketika Maryam menunjuk kepada anaknya dan kaumnya mempertanyakan bagaimana mereka bisa berbicara dengan bayi. Kemudian Nabi Isa berbicara dengan izin Allah.
Dengan demikian, pembelaan terhadap Maryam tidak bergantung semata-mata pada kemampuan Maryam menjawab setiap tuduhan. Allah memperlihatkan tanda kekuasaan-Nya melalui peristiwa yang luar biasa.
Pelajaran ini tidak berarti bahwa setiap orang yang difitnah harus selalu diam. Kita belajar bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui jalan yang tidak terduga, sambil tetap menjalankan tanggung jawab yang dibebankan kepada kita.

G. Memahami batasan syariat: Apakah kita boleh bernazar untuk diam?
Bagian ini penting agar pelajaran dari Maryam ayat 26 tidak disalahpahami.
Ayat tersebut menceritakan tindakan Maryam dalam konteks syariat dan keadaan khusus pada zamannya. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa menahan diri dari berbicara dalam kisah ini merupakan bagian dari petunjuk khusus yang diberikan kepadanya.
Bagian ini penting agar pelajaran dari Maryam ayat 26 tidak disalahpahami.
Ayat tersebut menceritakan tindakan Maryam dalam konteks syariat dan keadaan khusus pada zamannya. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa menahan diri dari berbicara dalam kisah ini merupakan bagian dari petunjuk khusus yang diberikan kepadanya.
Imam Ath-Thabari menghimpun riwayat dari Qatadah yang menerangkan bahwa diam semacam itu merupakan tanda khusus bagi Maryam dan putranya. Riwayat tersebut juga membedakan keadaan itu dari praktik yang boleh dijadikan kebiasaan ibadah oleh orang lain.¹
Dalam syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ, kita tidak menjadikan diam sepanjang hari sebagai ibadah khusus dengan meniru secara langsung praktik tersebut. Sebaliknya, kita diperintahkan menjaga lisan, berkata baik, dan tidak melakukan ucapan yang berdosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
HR. Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no. 47. 
Jadi, apabila seseorang ingin menjaga diri dari ucapan yang buruk, ia dapat memilih diam dari perkataan yang tidak bermanfaat. Akan tetapi, diam bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban berbicara, misalnya menyampaikan kesaksian yang benar, menjelaskan hak orang yang dizalimi, atau memberikan informasi yang diperlukan untuk mencegah bahaya.
Kesimpulannya: yang kita teladani dari kisah Maryam adalah ketaatan kepada petunjuk Allah, ketenangan dalam menghadapi ujian, dan kehati-hatian dalam merespons manusia. Adapun hukum nazar dan praktik diam sebagai ibadah harus merujuk kepada syariat Nabi Muhammad ﷺ.

H. Lima pelajaran utama untuk kehidupan sehari-hari
1. Jaga diri ketika menghadapi masalah
Perintah makan dan minum mengingatkan kita agar tidak mengabaikan kebutuhan tubuh. Menghadapi ujian membutuhkan tenaga, kejernihan berpikir, dan dukungan yang tepat.
2. Belajar menenangkan hati
Jangan biarkan penilaian manusia mengambil alih seluruh kehidupan. Berdoa, berzikir, salat, mencari nasihat, dan menyelesaikan masalah secara bertahap merupakan bagian dari ikhtiar.
3. Pikirkan akibat ucapan sebelum berbicara
Jangan menjawab tuduhan dengan fitnah balik. Sampaikan fakta secara jujur, hindari penghinaan, dan pilih waktu yang tepat untuk menjelaskan persoalan.
4. Diam harus disertai hikmah
Diam bisa mencegah pertengkaran, tetapi tidak boleh digunakan untuk membiarkan kezaliman. Ketika kebenaran dan hak orang lain membutuhkan penjelasan, berbicaralah dengan cara yang benar.
5. Serahkan hasil kepada Allah
Kita tidak mampu mengendalikan semua penilaian manusia. Yang dapat kita lakukan ialah menjaga kebenaran, memperbaiki tindakan, berdoa, dan mempercayakan hasil akhirnya kepada Allah.

I. Naskah inti ceramah siap disampaikan

Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita renungkan kembali firman Allah:
فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا
“Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau.”
Perintah ini datang kepada Maryam ketika ia menghadapi ujian yang sangat berat. Ia bukan hanya membutuhkan makanan dan minuman, tetapi juga membutuhkan ketenteraman hati.
Betapa seringnya manusia hari ini mengalami hal serupa.
Ada orang yang terlihat tersenyum, tetapi hatinya sedang memikirkan persoalan keluarga. Ada orang yang terlihat tenang, tetapi sebenarnya sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Ada pula seseorang yang berusaha melakukan kebaikan, tetapi tetap menjadi sasaran prasangka dan perkataan orang lain.
Ketika keadaan seperti itu datang, jangan buru-buru menganggap bahwa hidup kita telah berakhir. Jangan pula menyimpulkan bahwa Allah tidak menyayangi kita hanya karena ujian belum selesai.
Maryam mengajarkan kepada kita bahwa seorang hamba tetap perlu menerima pertolongan Allah, menjaga diri, dan menjalani petunjuk-Nya di tengah kesulitan.

Jamaah sekalian,
Perhatikan pula bagaimana Maryam diarahkan untuk tidak berbicara kepada manusia pada hari itu.
Kita tidak boleh sembarangan meniru bentuk praktik tersebut sebagai ibadah dalam syariat kita. Namun, kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya menjaga lisan dan memilih respons dengan bijaksana.
Berapa banyak perselisihan keluarga yang menjadi semakin besar karena seseorang tidak mampu menahan ucapan ketika marah?
Berapa banyak persahabatan yang rusak karena perkataan yang disampaikan tanpa berpikir?
Berapa banyak persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan baik, tetapi justru semakin rumit karena masing-masing pihak ingin menang dalam perdebatan?
Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan kepada diri sendiri: apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah perlu disampaikan sekarang? Apakah cara penyampaiannya akan membantu menyelesaikan masalah atau justru memperburuknya?
Jika perkataan kita benar dan bermanfaat, sampaikan dengan baik. Jika kita belum mengetahui faktanya, jangan terburu-buru berbicara. Jika kita sedang marah, berikan diri kita waktu untuk menenangkan hati.
Namun, jangan pula menggunakan diam sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab. Jika ada orang yang dizalimi, kita perlu membantu dengan cara yang benar. Jika ada persoalan yang membutuhkan penjelasan, kita perlu menjelaskan secara jujur. Jika ada kesalahan yang kita lakukan, kita perlu mengakuinya dan memperbaikinya.
Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita berada di jalan yang benar. Kita juga tidak harus membuat semua orang menyukai kita agar dapat menjalani kehidupan dengan tenang.
Yang paling penting adalah menjaga hubungan dengan Allah, memperbaiki akhlak, melaksanakan kewajiban, dan tidak mengorbankan kebenaran demi memperoleh pujian manusia.
Terkadang, jalan keluar datang setelah kita menjelaskan persoalan dengan baik. Terkadang, persoalan memerlukan waktu untuk menjadi terang. Terkadang pula, kita harus bersabar sambil mencari pertolongan dan perlindungan yang tepat.
Jangan putus asa.
Jika hati gelisah, ingatlah Allah. Jika tubuh lelah, istirahatlah dengan baik. Jika masalah terasa berat, mintalah bantuan. Jika harus berbicara, berbicaralah dengan benar. Jika tidak ada manfaat dalam perdebatan, jangan biarkan lisan membawa kita kepada dosa.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang tenteram, lisan yang terjaga, dan kemampuan untuk menghadapi ujian dengan iman dan kebijaksanaan.

J. Penutup dan doa
Hadirin rahimakumullah,
Surah Maryam ayat 26 mengajarkan kepada kita tiga hal: menjaga diri, menenangkan hati, dan menjaga lisan.
Makan dan minum mengingatkan kita agar merawat amanah tubuh. Perintah menenangkan hati mengingatkan kita agar tidak dikuasai kecemasan. Petunjuk tentang diam mengingatkan kita untuk berhati-hati ketika merespons perkataan manusia.
Semoga kita menjadi hamba yang tidak mudah berputus asa, tidak mudah melukai orang lain dengan ucapan, dan tidak menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama kehidupan.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَأَنْزِلِ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِنَا، وَارْزُقْنَا الصَّبْرَ وَالْحِكْمَةَ وَحُسْنَ الْخُلُقِ.
اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَاحْفَظْنَا مِنْ ظُلْمِ النَّاسِ وَظُلْمِ أَنْفُسِنَا، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا صِدْقًا وَخَيْرًا وَإِصْلَاحًا.
اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنَّا مَهْمُومًا فَفَرِّجْ هَمَّهُ، وَمَنْ كَانَ مَكْرُوبًا فَنَفِّسْ كَرْبَهُ، وَمَنْ كَانَ مَظْلُومًا فَانْصُرْهُ بِالْحَقِّ، وَاهْدِنَا جَمِيعًا إِلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

K. Catatan kaki dan daftar rujukan
Nomor halaman kitab klasik dapat berbeda menurut penerbit dan edisi. Karena itu, rujukan di bawah mencantumkan kitab serta lokasi ayat atau nomor hadis agar mudah ditelusuri.
1. Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam [19]: 26. Teks dapat ditelusuri melalui Tafsir Ath-Thabari, Maryam 26⁠
2. Al-Baghawi, Ma‘ālim al-Tanzīl, tafsir Surah Maryam [19]: 26. Lihat Tafsir Al-Baghawi, Maryam 26⁠. 
3. Al-Qurthubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir Surah Maryam [19]: 26. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, Maryam 26⁠. 
4. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Surah Maryam [19]: 26. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Maryam 26⁠. 
5. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fatḥ al-Bārī bi Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, pembahasan hadis menjaga lisan dalam Kitāb al-Adab; rujuk pula Sahih Al-Bukhari no. 6018 dan 6475. 
6. Al-Qur’an, Surah Maryam [19]: 24–29; Ar-Ra‘d [13]: 28; Al-Baqarah [2]: 153; Qaf [50]: 18; Ath-Thalaq [65]: 2–3.
7. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Adab dan Kitāb al-Riqāq, hadis no. 6018 dan 6475 tentang berkata baik atau diam. 
8. Muslim bin Al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, hadis no. 47 tentang menjaga ucapan, dan hadis no. 2664 tentang bersemangat pada hal yang bermanfaat serta memohon pertolongan Allah.
9. Ibnu Majah, Sunan Ibn Mājah, hadis no. 2340, tentang prinsip tidak menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar