Zalim Tidak Akan Lolos dari Pertanggungjawaban

CERAMAH TAFSIR QS. AL-KAHF AYAT 87

KETIKA KEKUASAAN DIHADAPKAN PADA KEADILAN ALLAH

Tema:

Zalim Tidak Akan Lolos dari Pertanggungjawaban


A. PEMBUKAAN

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Pada ayat sebelumnya kita belajar bahwa Allah memberikan Dzulqarnain kekuasaan.

Allah memberinya:

  • kemampuan,
  • ilmu,
  • kekuatan,
  • sarana,
  • dan kesempatan memimpin manusia.

Kemudian dia sampai kepada suatu kaum.

Allah berfirman:

قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا

“Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan terhadap mereka.”

Kemudian Dzulqarnain menjawab:

قَالَ اَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهٗ ثُمَّ يُرَدُّ اِلٰى رَبِّهٖ فَيُعَذِّبُهٗ عَذَابًا نُّكْرًا

“Dia berkata, ‘Adapun orang yang berbuat zalim, kami akan menghukumnya, kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Dia akan mengazabnya dengan azab yang sangat keras.’”

Jamaah sekalian,

Ayat ini mengajarkan satu prinsip yang sangat penting:

Manusia mungkin dapat melarikan diri dari hukuman manusia, tetapi tidak mungkin melarikan diri dari pengadilan Allah.

Kita mungkin bisa bersembunyi dari manusia.

Kita mungkin bisa menghapus bukti.

Kita mungkin bisa mengelabui orang.

Tetapi kita tidak mungkin mengelabui Allah.


B. MEMAHAMI KATA “ظَلَمَ”

Allah berfirman:

اَمَّا مَنْ ظَلَمَ

“Adapun orang yang berbuat zalim...”

Apa itu zalim?

Secara umum, ظُلْمٌ adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan melampaui batas yang benar.

Zalim tidak hanya berarti memukul atau menyakiti orang.

Zalim memiliki cakupan yang luas.

Seseorang dapat zalim kepada:

  1. Allah, dengan kesyirikan dan kekufuran.
  2. Dirinya sendiri, dengan dosa dan kemaksiatan.
  3. Orang lain, dengan mengambil hak, menyakiti, menipu, memfitnah, atau merampas.
  4. Masyarakat, dengan korupsi, kerusakan, dan penyalahgunaan amanah.
  5. Keluarga, dengan menelantarkan hak-hak mereka.
  6. Bawahan atau murid, dengan memperlakukan mereka secara tidak adil.

C. ZALIM TERBESAR ADALAH SYIRIK

Allah berfirman:

QS. Luqman: 13

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۖ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.’”

Mengapa syirik disebut:

ظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“kezaliman yang besar”?

Karena hak terbesar adalah hak Allah untuk disembah.

Allah yang menciptakan kita.

Allah yang memberikan kehidupan.

Allah yang memberikan rezeki.

Allah yang memberikan kesehatan.

Allah yang mengatur alam semesta.

Tetapi kemudian manusia memberikan ibadah kepada selain Allah.

Itulah kezaliman yang paling besar.


D. IBNU KATSIR TENTANG “مَنْ ظَلَمَ”

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang yang zalim dalam konteks ini adalah orang yang terus-menerus berada dalam kekufuran dan kesyirikan kepada Allah.[^1]

Beliau menulis:

أَيْ: مَنِ اسْتَمَرَّ عَلَى كُفْرِهِ وَشِرْكِهِ بِرَبِّهِ

“Yaitu orang yang terus-menerus berada dalam kekufuran dan kesyirikannya kepada Tuhannya.”[^1]

Namun penting untuk dipahami:

Ini adalah penafsiran konteks ayat, bukan berarti kata zalim dalam seluruh Al-Qur'an selalu hanya berarti kafir.

Kata zalim dalam Al-Qur'an memiliki cakupan yang luas.


E. AL-QUR'AN MENUNJUKKAN BANYAK BENTUK KEZALIMAN

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 229

وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Barang siapa melampaui batas-batas hukum Allah, mereka itulah orang-orang zalim.”

Maka kezaliman bukan hanya ketika seseorang mengambil uang orang lain.

Melanggar batas Allah juga merupakan kezaliman.

Misalnya:

  • meninggalkan kewajiban,
  • melakukan perkara haram,
  • mengambil hak orang lain,
  • merusak kehormatan orang,
  • berbuat curang,
  • menyalahgunakan jabatan.

F. DZULQARNAIN MENEGAKKAN KEADILAN

Dzulqarnain berkata:

فَسَوْفَ نُعَذِّبُهٗ

“Kami akan menghukumnya.”

Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak berarti membiarkan kezaliman.

Ada saatnya seseorang harus diberikan konsekuensi atas kejahatannya.

Islam tidak mengajarkan bahwa semua kesalahan harus dibiarkan atas nama kasih sayang.

Kasih sayang tanpa keadilan dapat berubah menjadi kerusakan.

Tetapi keadilan tanpa kasih sayang juga dapat berubah menjadi kekejaman.

Karena itu Islam mengajarkan keduanya.


G. KEADILAN DAN IHSAN

Allah berfirman:

QS. An-Nahl: 90

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Ada dua kata penting:

الْعَدْلِ

keadilan,

dan:

الْإِحْسَانِ

kebaikan.

Seorang pemimpin harus mampu menempatkan keduanya.


H. HUKUMAN BUKAN UNTUK MEMUASKAN DENDAM

Perhatikan bahwa Dzulqarnain tidak mengatakan:

“Saya akan menghukum karena saya membenci mereka.”

Tidak.

Dia mengatakan:

اَمَّا مَنْ ظَلَمَ

“Adapun orang yang berbuat zalim.”

Artinya ada alasan moral dan hukum.

Bukan karena:

  • dendam,
  • iri,
  • marah,
  • kebencian pribadi,
  • kepentingan kelompok.

Inilah perbedaan antara:

KEADILAN

dan

BALAS DENDAM.

Keadilan bertanya:

“Apa yang benar?”

Balas dendam bertanya:

“Bagaimana saya membuat dia menderita?”

Seorang mukmin harus memilih yang pertama.


I. JANGAN SAMPAI KEBENCIAN MENGHILANGKAN KEADILAN

Allah berfirman:

QS. Al-Ma'idah: 8

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah ketika menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Jamaah sekalian,

Ayat ini sangat berat.

Allah tidak hanya memerintahkan kita berlaku adil kepada orang yang kita cintai.

Tetapi bahkan kepada orang yang kita benci.

Karena keadilan seorang mukmin tidak boleh mengikuti emosi.


J. DZULQARNAIN MENGETAHUI BAHWA HUKUMAN DUNIA BUKAN AKHIR

Perhatikan kelanjutan ayat:

ثُمَّ يُرَدُّ اِلٰى رَبِّهٖ

“Kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya.”

Ini kalimat yang sangat dalam.

Dzulqarnain mengingatkan:

Hukuman dunia bukan akhir.

Ada pengadilan yang lebih besar.

Ada hakim yang tidak pernah salah.

Ada pengadilan yang tidak membutuhkan saksi palsu.

Ada pengadilan yang tidak dapat disuap.

Ada pengadilan yang tidak bisa dimanipulasi.

Itulah pengadilan Allah.


K. SEMUA AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH

Allah berfirman:

QS. Al-Baqarah: 156

اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.’”

Kalimat:

وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan kepada-Nya kami kembali”

bukan hanya dibaca ketika ada kematian.

Itu adalah prinsip kehidupan:

Kita berasal dari Allah.

Kita hidup dengan pemberian Allah.

Kita akan kembali kepada Allah.

Dan kita akan mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan.


L. “عَذَابًا نُّكْرًا” — AZAB YANG SANGAT BERAT

Allah berfirman:

فَيُعَذِّبُهٗ عَذَابًا نُّكْرًا

“Kemudian Dia akan mengazabnya dengan azab yang sangat keras.”

Kata:

نُكْرًا

mengandung makna sesuatu yang sangat berat, dahsyat, dan mengerikan.

Ibnu Katsir menjelaskan:

أَيْ شَدِيدًا بَلِيغًا وَجِيعًا أَلِيمًا

“Yakni azab yang sangat keras, berat, menyakitkan, dan pedih.”[^1]

Ibnu Katsir juga menyebut bahwa ayat ini mengandung penetapan tentang kebangkitan dan pembalasan.[^1]

Artinya:

Jangan mengira bahwa kehidupan dunia adalah seluruh kehidupan.

Dunia hanya sementara.

Akhirat adalah tempat pembalasan yang sebenarnya.


M. KEZALIMAN AKAN MENJADI KEGELAPAN DI HARI KIAMAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”[^2]

(HR. Muslim)

Perhatikan:

الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ

“Kezaliman adalah kegelapan.”

Bukan hanya satu kegelapan.

Tetapi ظُلُمَاتٌ — kegelapan-kegelapan.

Kezaliman di dunia mungkin terlihat seperti keuntungan.

Tetapi di akhirat bisa berubah menjadi kegelapan.

Seseorang mengambil uang haram.

Hari ini dia merasa kaya.

Tetapi jika tidak bertaubat, harta itu bisa menjadi beban di akhirat.

Seseorang menzalimi bawahan.

Hari ini dia merasa berkuasa.

Tetapi di hadapan Allah, kekuasaan itu tidak akan menyelamatkannya.


N. JANGAN MERASA AMAN KARENA TIDAK DITANGKAP MANUSIA

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ada orang berkata:

“Saya melakukan kesalahan, tetapi tidak ada yang tahu.”

Pertanyaan kita:

Apakah Allah tahu?

Ada orang berkata:

“Tidak ada kamera.”

Tetapi:

Apakah Allah tidak melihat?

Ada orang berkata:

“Buktinya tidak ada.”

Tetapi:

Apakah catatan amal tidak ada?

Allah berfirman:

QS. Qaf: 18

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

Maka seorang mukmin memiliki pengawas internal:

takwa.

Dia tidak melakukan kezaliman bukan hanya karena takut polisi.

Dia tidak menipu bukan hanya karena takut ketahuan.

Dia tidak korupsi bukan hanya karena takut pemeriksaan.

Dia meninggalkan kezaliman karena:

takut kepada Allah.


O. HADIS TENTANG MUSLIM YANG TIDAK MENZALIMI ORANG LAIN

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”[^3]

(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan:

لِسَانِهِ

“lisannya.”

وَيَدِهِ

“tangannya.”

Artinya, kezaliman tidak selalu berbentuk kekerasan fisik.

Lisan juga bisa menzalimi.

Contohnya:

  • fitnah,
  • hinaan,
  • tuduhan palsu,
  • membuka aib,
  • merendahkan,
  • menyebarkan berita bohong.

Tangan juga bisa menzalimi:

  • memukul,
  • merampas,
  • mencuri,
  • merusak,
  • mengambil hak orang lain.

Bahkan pada zaman sekarang, kita dapat memperluas pelajaran ini kepada jari-jari kita di media sosial.

Jangan sampai tangan kita selamat dari memukul orang, tetapi jari kita menzalimi orang melalui komentar dan unggahan.


P. KEZALIMAN TERHADAP HAK MANUSIA SANGAT BERBAHAYA

Jamaah sekalian,

Kalau dosa hanya antara kita dengan Allah, pintu taubat terbuka dengan kembali kepada Allah.

Tetapi kalau kita menzalimi manusia, ada hak manusia yang harus diperhatikan.

Misalnya:

Kita mengambil uang orang.

Maka jangan hanya mengatakan:

“Astaghfirullah.”

Tetapi kembalikan haknya jika memungkinkan.

Kita memfitnah seseorang.

Maka perbaiki kerusakan yang telah kita sebabkan.

Kita mengambil barang.

Kembalikan.

Kita merusak kehormatan seseorang.

Berusahalah memperbaikinya.

Inilah keseriusan masalah حقوق العباد — hak-hak manusia.


Q. JANGAN MEREMEHKAN DOSA KECIL

Ada orang berkata:

“Ah, cuma sedikit.”

“Cuma seribu.”

“Cuma satu komentar.”

“Cuma bercanda.”

“Cuma sekali.”

Padahal kezaliman tidak diukur hanya dari besar kecilnya nominal.

Pertanyaannya:

Apakah itu hak saya?

Kalau bukan hak saya, maka jangan mengambilnya.

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

اتَّقُوا الظُّلْمَ

“Jauhilah kezaliman.”[^2]

Bukan:

“Jauhilah kezaliman besar saja.”

Tetapi:

Jauhilah kezaliman.


R. KEADILAN DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Kita sering berbicara tentang keadilan pemerintah.

Tentang keadilan pemimpin.

Tentang keadilan guru.

Tentang keadilan orang tua.

Tetapi mari bertanya:

Apakah saya sudah adil kepada keluarga?

Apakah saya sudah adil kepada anak-anak?

Apakah saya sudah adil kepada murid?

Apakah saya sudah adil kepada pasangan?

Apakah saya sudah adil ketika memberikan nilai?

Apakah saya sudah adil ketika menilai orang?

Karena kadang kita sangat marah ketika dizalimi.

Tetapi kita tidak sadar bahwa kita sendiri mungkin menzalimi orang lain.


S. GURU DAN KEADILAN

Bagi seorang guru, ayat ini mengandung pesan yang sangat penting.

Ketika memberi nilai:

jangan karena suka kepada murid.

Ketika memberikan hukuman:

jangan karena emosi.

Ketika memberikan perhatian:

jangan hanya kepada murid yang pintar.

Ketika menegur:

jangan mempermalukan.

Guru harus tegas.

Tetapi ketegasan harus dibingkai oleh keadilan dan kasih sayang.

Karena seorang guru bukan hanya mengajar materi.

Guru sedang memegang amanah manusia.


T. ORANG TUA DAN KEADILAN

Begitu pula orang tua.

Jangan membandingkan anak:

“Lihat kakakmu!”

“Kamu tidak pernah bisa seperti dia!”

Kalimat seperti itu bisa melukai hati anak.

Islam mengajarkan keadilan.

Setiap anak memiliki karakter berbeda.

Ada yang cepat memahami.

Ada yang membutuhkan waktu.

Ada yang kuat secara akademik.

Ada yang kuat dalam keterampilan.

Ada yang pendiam.

Ada yang aktif.

Tugas orang tua bukan menciptakan anak yang sama.

Tetapi membimbing setiap anak menuju kebaikan sesuai potensinya.


U. PEMIMPIN HARUS INGAT AKHIRAT

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka:

  • kepala keluarga akan ditanya tentang keluarga,
  • orang tua tentang anak,
  • pemimpin tentang rakyat,
  • guru tentang amanah pendidikannya,
  • orang yang diberi jabatan tentang jabatannya.

Kekuasaan bukan hanya:

“Apa yang bisa saya lakukan?”

Tetapi:

“Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?”


V. BEDAKAN HUKUMAN DUNIA DAN AZAB AKHIRAT

Ayat 87 memiliki dua bagian:

Pertama:

فَسَوْفَ نُعَذِّبُهٗ

“Kami akan menghukumnya.”

Ini berkaitan dengan hukuman di dunia dalam konteks kekuasaan Dzulqarnain.

Kedua:

ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ

“Kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya.”

Lalu:

فَيُعَذِّبُهٗ عَذَابًا نُّكْرًا

“Kemudian Dia akan mengazabnya dengan azab yang sangat keras.”

Ini berkaitan dengan pertanggungjawaban di akhirat.

Jadi ada dua lapisan:

Keadilan dunia.

dan

Keadilan akhirat.

Tetapi jangan disalahgunakan.

Individu tidak boleh mengambil alih kewenangan hukum dan menjadikan ayat ini sebagai alasan melakukan kekerasan atau menghukum orang seenaknya.

Kisah Dzulqarnain adalah kisah seorang penguasa dalam konteks yang Allah ceritakan, bukan izin bagi setiap individu untuk menjadi hakim dan algojo.


W. PINTU TAUBAT MASIH TERBUKA

Jangan sampai ketika mendengar ayat tentang azab kita langsung merasa:

“Saya sudah terlalu banyak dosa.”

Tidak.

Selama hidup belum berakhir, pintu taubat masih terbuka.

Allah berfirman:

QS. Az-Zumar: 53

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Maka ayat 87 bukan hanya membuat kita takut.

Ayat ini juga seharusnya membuat kita:

segera kembali kepada Allah.


X. TAUBAT DARI KEZALIMAN

Kalau kita pernah menzalimi Allah dengan syirik:

segera bertauhid dan bertaubat.

Kalau kita pernah menzalimi diri:

tinggalkan maksiat.

Kalau kita pernah mengambil hak manusia:

kembalikan.

Kalau kita pernah memfitnah:

perbaiki.

Kalau kita pernah menyakiti:

minta maaf apabila itu menjadi jalan perbaikan.

Kalau kita pernah menyalahgunakan amanah:

hentikan dan perbaiki kerusakannya.

Jangan hanya berkata:

“Ya Allah, ampuni saya.”

Tetapi juga:

“Ya Allah, bantu saya memperbaiki kezaliman yang pernah saya lakukan.”


Y. RENUNGAN YANG SANGAT DALAM

Jamaah yang dirahmati Allah,

Bayangkan suatu hari nanti kita berdiri di hadapan Allah.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada pangkat.

Tidak ada gelar.

Tidak ada pengikut.

Tidak ada kekayaan.

Tidak ada pengaruh.

Yang ada hanya:

amal.

Orang yang dahulu berkuasa akan berdiri.

Orang yang dahulu dipimpin juga berdiri.

Orang yang dahulu kaya akan berdiri.

Orang yang dahulu miskin juga berdiri.

Guru dan murid berdiri.

Atasan dan bawahan berdiri.

Ayah dan anak berdiri.

Semua menunggu pengadilan Allah.

Karena itu ayat ini seolah berkata kepada kita:

Jangan gunakan kekuasaanmu untuk menzalimi.

Jangan gunakan ilmumu untuk merendahkan.

Jangan gunakan hartamu untuk menindas.

Jangan gunakan lisanmu untuk menghancurkan kehormatan.

Jangan gunakan jabatanmu untuk mengambil hak.

Karena:

ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ

“Kemudian dia akan dikembalikan kepada Tuhannya.”


Z. 10 PESAN UTAMA QS. AL-KAHF AYAT 87

1. Zalim adalah dosa yang sangat berbahaya.

2. Syirik merupakan bentuk kezaliman terbesar.

3. Kekuasaan harus digunakan untuk menegakkan keadilan.

4. Hukuman tidak boleh didasarkan pada dendam pribadi.

5. Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kebencian.

6. Setiap orang akan kembali kepada Allah.

7. Hukuman dunia bukan akhir dari pertanggungjawaban.

8. Azab akhirat jauh lebih berat daripada hukuman dunia.

9. Hak manusia tidak boleh diremehkan.

10. Sebelum datang pengadilan Allah, segera bertaubat dan memperbaiki kezaliman.


AA. PENUTUP CERAMAH

Jamaah yang dimuliakan Allah,

QS. Al-Kahf ayat 87 mengajarkan kepada kita tentang satu perkara:

Jangan pernah merasa aman karena kezaliman kita belum dibalas.

Boleh jadi dunia diam.

Tetapi Allah tidak diam.

Boleh jadi manusia lupa.

Tetapi Allah tidak lupa.

Boleh jadi bukti hilang.

Tetapi amal tidak hilang.

Boleh jadi orang yang kita zalimi tidak mampu melawan.

Tetapi dia memiliki Allah.

Dan Allah tidak pernah tidur.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”

Maka sebelum kita meminta:

“Ya Allah, mudahkan rezekiku.”

Mari kita pastikan:

kita tidak sedang mengambil rezeki orang lain.

Sebelum kita berdoa:

“Ya Allah, angkat derajatku.”

Mari kita pastikan:

kita tidak sedang merendahkan orang lain.

Sebelum kita meminta:

“Ya Allah, berkahi jabatan saya.”

Mari kita pastikan:

kita tidak sedang menyalahgunakan jabatan.

Sebelum kita berkata:

“Ya Allah, ampuni dosa saya.”

Mari kita juga bertanya:

“Siapa yang haknya pernah saya ambil?”

Kemudian kita kembalikan.

Siapa yang pernah saya sakiti?

Kita perbaiki.

Siapa yang pernah saya fitnah?

Kita luruskan.

Apa amanah yang pernah saya khianati?

Kita tunaikan kembali.

Karena orang yang cerdas bukanlah orang yang mampu lolos dari hukuman manusia.

Tetapi orang yang cerdas adalah orang yang:

bertaubat sebelum menghadap Allah.


DOA PENUTUP

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الظُّلْمِ، وَمِنْ أَنْ نَظْلِمَ أَحَدًا أَوْ نُظْلَمَ.

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari kezaliman, dari menzalimi seseorang maupun dari dizalimi.”

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالْبَغْيِ وَالظُّلْمِ.

“Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan, kedengkian, permusuhan, dan kezaliman.”

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ الْأَمَانَاتِ وَإِقَامَةِ الْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ.

“Ya Allah, bantulah kami menunaikan amanah dan menegakkan keadilan serta ihsan.”

اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا فَأَعِنَّا عَلَى أَدَاءِ حَقِّهِ، وَمَنْ ظَلَمْنَاهُ فَأَعِنَّا عَلَى الِاعْتِذَارِ إِلَيْهِ وَرَدِّ حَقِّهِ.

“Ya Allah, siapa pun yang memiliki hak atas kami, bantulah kami menunaikan haknya. Dan siapa pun yang pernah kami zalimi, bantulah kami untuk meminta maaf kepadanya dan mengembalikan haknya.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، وَارْحَمْنَا، وَاحْشُرْنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الصَّالِحِينَ.

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami, rahmatilah kami, dan kumpulkanlah kami pada hari kiamat bersama orang-orang saleh.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.


FOOTNOTE / RUJUKAN

[^1]: Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Aẓīm, tafsir QS. Al-Kahf [18]:87. Ibn Katsir menjelaskan مَنْ ظَلَمَ dalam konteks ayat sebagai orang yang terus berada dalam kekufuran dan kesyirikan, serta menjelaskan عَذَابًا نُكْرًا sebagai azab yang berat dan menyakitkan.

[^2]: Muslim bin al-Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Birr wa ash-Shilah wa al-Ādāb, hadis no. 2578. Nabi ﷺ memperingatkan bahwa kezaliman merupakan kegelapan pada hari kiamat.

[^3]: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān, hadis no. 10; maknanya juga diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ Muslim. Hadis tersebut menjelaskan bahwa seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.

[^4]: Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Aḥkām al-Qur'ān, tafsir QS. Al-Kahf [18]:87. Al-Qurthubi menafsirkan مَنْ ظَلَمَ dalam konteks ini sebagai orang yang tetap berada dalam kekufuran dan menjelaskan azab akhirat sebagai azab yang berat di Jahannam.

[^5]: Al-Qur'an, QS. Luqman [31]:13; QS. Al-Baqarah [2]:229; QS. Al-Ma'idah [5]:8; QS. An-Nahl [16]:90; QS. Qaf [50]:18; QS. Az-Zumar [39]:53.

Tidak ada komentar