Senin, 19 Agustus 2013

As-hamad, Penguasa Yang Maha Sempurna dan Tempat Bergantung Segala Sesuatu




As-hamad, Penguasa Yang Maha Sempurna dan Tempat Bergantung Segala Sesuatu


Segala puji hanya untuk Allah Ta'ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya

DASAR PENETAPAN
Nama Allah Azza wa Jalla yang agung ini disebutkan dalam ayat berikut ini :
قال الله تعالى: ﴿ قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  ﴾ [الإخلاص: 1-2] 
Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada -Nya segala sesuatu) [al-Ikhlash/112:1-2].

Dan dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabat Radhiyallahu anhum: “Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga (dari) al-Qur`an dalam satu malam?” Maka para Sahabat Radhiyallahu anhum merasakan hal itu sangat berat sehingga berkata: “Siapa di antara kami yang mampu (melakukan) hal itu, wahai Rasulullah?”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Surat) Allah al-Wahid (Yang Maha Esa) ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada -Nya segala sesuatu) adalah (sebanding dengan) sepertiga al-Qur`an”[1].
MAKNA ASH-SHAMAD SECARA BAHASA
Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah al-qashdu (tujuan). Maksudnya, orang yang dinamakan dengan ini adalah pemimpin yang dituju (dijadikan rujukan) dalam semua urusan. Kemudian Ibnu Faris rahimahullah menyatakan, “Allah yang maha agung kemuliaan -Nya adalah ash-Shamad karena semua doa dan permohonan hamba -Nya ditujukan kepada -Nya”.
Al-Fairuz Abadi rahimahullah menjelaskan bahwa termasuk makna ash-Shamad secara bahasa adalah as-sayyid (pemimpin) karena selalu dituju (dijadikan rujukan), juga berarti yang kekal dan mulia.
Demikian juga Ibnu Manzhur rahimahullah menyebutkan bahwa makna ash-Shamad adalah yang dituju dan dijadikan sandaran. Sementara itu, Ibnul Atsir rahimahullah berkata, “Nama Allah ash-Shamad artinya as-sayyid (penguasa) yang mencapai puncak kemahakuasaan. Ada yang berpendapat: artinya adalah yang maha kekal abadi, dan ada yang mengatakan: artinya adalah yang dituju (oleh semua makhluk) dalam segala kebutuhan mereka.” Oleh karena itu, (dahulu) bangsa Arab menamakan para pemimpin mereka dengan ‘ash-shamad’ karena menjadi tempat tujuan orang-orang yang mempunyai keperluan dan (sifat) kepemimpinan terhimpun pada (diri) mereka”.
PENJABARAN MAKNA NAMA ASH-SHAMAD
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam tafsir beliau meriwayatkan keterangan seorang sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu yang berkata, “Ash-Shamad adalah penguasa yang maha sempurna kekuasaan -Nya, maha mulia yang sempurna kemuliaan -Nya, maha agung yang sempurna keagungan    -Nya, maha penyantun yang sempurna sifat kesantunan -Nya, maha kaya yang sempurna kekayaan -Nya, maha perkasa yang sempurna keperkasaan -Nya, maha mengetahui yang sempurna pengetahuan    -Nya, dan maha bijaksana yang sempurna hikmah/kebijaksanaan        -Nya. Dialah yang maha sempurna dalam semua bentuk kemuliaan dan kekuasaan. Dialah Allah Shubhanahu wa ta’alla yang maha suci dan sifat-sifat ini hanyalah pantas (diperuntukkan) bagi -Nya.”  
Lebih lanjut, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah memaparkan, “ash-Shamad adalah penguasa yang sempurna kekuasaannya. Oleh karena itu, dulu orang Arab menamakan pemimpin mereka dengan nama ini, karena banyaknya sifat terpuji (yang terkumpul) pada diri orang (tokoh) tersebut…Jadi, ash-Shamad adalah dzat yang dituju (dijadikan sandaran) oleh hati manusia dalam ketakutan dan pengharapan (mereka), karena banyaknya sifat baik dan terpuji (yang terhimpun) padanya. Karenanya, mayoritas Ulama Salaf, di antaranya ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu berkata: “ash-Shamad adalah penguasa yang maha sempurna kekuasaan          -Nya…”.
Senada dengan itu, Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Allah Shubhanahu wa Ta’ala, -Dialah penguasa tunggal, tempat menyandarkan segala kesulitan dan kebutuhan, -Dialah Yang Maha Suci dan Tinggi dari (menyerupai) sifat-sifat makhluk, seperti makan, minum dan sebagainya…”. Keterangan di atas menunjukkan bahwa ash-Shamad adalah termasuk nama Allah Shubhanahu wa Ta’ala yang menunjukkan makna beberapa sifat (kemuliaan), dan bukan hanya satu sifat. Ini sekaligus menggambarkan betapa banyak sifat keagungan dan kesempurnaan milik Allah Azza wa Jalla.
Atas dasar itu, keterangan para Ulama Salaf dalam mengartikan nama Allah Shubhanahu wa Ta’ala yang agung ini (ash-Shamad) berbeda-beda, sebagaimana yang disampaikan oleh imam Ibnu Jarir ath-Thabari dan Imam Ibnu Katsir. Dan semua makna yang dipaparkan adalah benar dan hanya pantas diperuntukkan bagi Allah Azza wa Jalla. Hal ini ditegaskan oleh Imam Abul Qasim ath-Thabrani rahimahullah dalam pernyataannya: “Semua makna tersebut adalah benar dan merupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.”
Imam al-Bagawi rahimahullah berkata, “Yang lebih tepat adalah mengartikan kata ash-Shamad dengan semua makna yang diterangkan (oleh para Ulama), karena kata ini mencakup (semua) makna tersebut. Maka, ini mengandung kensekuensi tidak ada (yang berhak disebut) ash-Shamad kecuali Allah Shubhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Agung dan Kuasa atas segala sesuatu. Nama ini khusus (diperuntukkan) bagi -Nya semata. Dialah yang memiliki nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi.”




PENGARUH POSITIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ASH-SHAMAD.
Jika seorang hamba mengetahui bahwa Allah Shubhanahu wa Ta’ala, memiliki semua sifat mulia dan sempurna, -Dia Maha Perkasa dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengalahkan -Nya,         -Dialah tempat bersandar dan bergantung semua makhluk -Nya, sehingga tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan     -Nya kecuali dengan kembali kepada -Nya, dan -Dialah satu-satunya yang dituju oleh semua makhluk untuk memenuhi segala kebutuhan, permintaan dan pengharapan mereka, maka ini akan menjadikan hamba tersebut selalu bersandar kepada -Nya semata, tidak meminta pemenuhan hajatnya kecuali kepada -Nya, tidak beribadah kecuali hanya kepada -Nya, serta tidak meminta pertolongan dan berserah diri dalam segala urusannya kecuali hanya kepada -Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman:
قال الله تعالى: ﴿ ثُمَّ رُدُّوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ مَوۡلَىٰهُمُ ٱلۡحَقِّۚ أَلَا لَهُ ٱلۡحُكۡمُ وَهُوَ أَسۡرَعُ ٱلۡحَٰسِبِينَ ٦٢   [النمل: 62] 

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya) [an-Naml/27:62].
Inilah makna sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya, “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada       -Nya”[16].
Bahkan ini merupakan inti kandungan dari al-Qur’an yang suci, yang tertuang pada firman Allah Azza wa Jalla :
قال الله تعالى: ﴿  إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ [الفاتحة: 5] 
Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan [al-Fatihah/1:5].
Salah seorang Ulama Salaf berkata, “Surat al-Fatihah adalah rahasia (inti kandungan) al-Qur’an dan rahasia (inti kandungan) al-Fatihah adalah kalimat (ayat) ini”.



Posting Komentar