Jumat, 05 Desember 2014

Beberapa Wasiat Bagi Penuntut Ilmu



Beberapa Wasiat Bagi Penuntut Ilmu
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi awa sallam adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Ini adalah beberapa wasiat yang aku peruntukkan bagi  diriku dan para saudaraku, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan manfaat yang besar dengan wasiat ini, dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla melimpahkan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh bagi kita semua.
Wasiat pertama: Tetap semangat dalam menuntut ilmu syara’.
قال الله تعالى:  âقُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أولو الألباب á [ الزمر: 9]
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakAllah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla yang dapat menerima pelajaran. QS. Al-Zumar: 9
قال الله تعالى:   âيَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ á  [ المجادلة : 11]
“...niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS. Al-Mujadilah: 11.
Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam berkata: Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla suatu kebaikan maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberikan kepadanya kepahaman dalam agama”.[1]
Sebagian ahlul ilmi berkata: Orang yang tidak diberikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepahaman di dalam agama berarti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menghendaki kebaikan baginya”. Diriwayatkan oleh Al-Darimi dengan sanad yang baik dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan para nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar”.[2]
Al-Auza’i berkata: Manusia  yang memliki kemuliaan di tengah masyarakat kami adalah pribadi yang berilmu, dan orang selain mereka tidak ada artinya”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Dan para ulama adalah orang yang tetap komitment dengan perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla hingga hari kiamat. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu’awiyah dan Tsauban bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku ini yang selalu komitment dengan kebenaran, tidak akan memudharatkan mereka orang yang mengacau mereka  sehingga datang keputusan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mereka tetap komitmen atas perkara tersebut”.[3] Di dalam sebuah riwyat disebutkan: Mereka tetap komitment pada perintah -Nya”.[4]
Imam Ahmad bin Hambal berkata: Kalau bukan ahli hadits maka aku tidak mengetahui siapakah orang selain mereka?”.
Dan Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam telah membritahukan bahwa di akhir zaman kelak ilmu itu akan terangkat, dan kebodohan menyebar dan terangkatnya ilmu di tandai dengan matinya orang yang membawanya.
Diriwayatkan oleh Al-bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan mengambilnya secara langsung dari mereka, namun -Dia akan mencabut ilmu itu dengan dicabutnya nyawa para ulama, sehingga apabila orang alim sudah tidak tersisa maka manusia menunjuk pemimpin yang bodoh, dan mereka ditanya tentang suatu masalah maka mereka sesat dan menyesatkan”.[5]
Dalam keadaan seperti ini maka mengajarkan dan belajar ilmu agama menjadi wajib dan pasti. Dan hendaklah disadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah mempelajari kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, Al-Qur’anul Karim, maka hendaklah kita bersemangat untuk menghapal, memahami, merenungkan dan beramal dengannya. Begitu juga dengan mempelajari sunnah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan memperdalamnya. Hendaklah kita mengambil ilmu itu dari ahlinya, mereka adalah para ulama salaf yang shaleh, dan para ulama yang diberikan petunjuk oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga kita tidak terjebak ke dalam fatwa yang menyesatkan dan hawa nafsu yang membinasakan.
                Wasiat kedua: Berdakwah kepada Allah Azza Wa Jalla.
قال الله تعالى : â قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ  á  [ يوسف: 108]
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". QS. Yusuf: 108.
قال الله تعالى : â وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ á  [ فصلت: 33]
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”. QS. Fushilat: 33
Di dalam shahih Muslim dari Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bahwa berkata kepada Ali radhiyallahu anhu: “Sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan petunjuk bagi seseorang karena usahamu maka itu lebih baik bagimu dari onta merah”.[6]
Banyak orang yang salah dalam memahami hadits ini, di mana seseorang berdakwah dan berani berfatwa padahal dirinya adalah orang yang paing bodoh, terkadang mereka berdalil dengan sebuah hadits dari Rasulullah Salallahu’alaihi alaihi wa sallam “Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.[7] Dia tidak mengetahui bahwa menyampaikan satu ayat dari firman Allah Shubhanahu wa ta’alla dan hadits Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam tidak boleh diwujdukan kecuali setelah mengetahui perkataan para ulama tafsir dan para pensyarah hadits berdasarkan pada metode yang benar yang diperbolehkan oleh para ulama dan dijelaskan bagi penuntut ilmu.
Berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tugas para Nabi dan Rasul utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan kesejahteraan kepada mereka. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal pada saat beliau diutus kepada penduduk Yaman untuk berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla: Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, maka serulah mereka kepada persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sesungguhnya aku adalah utusan -Nya, dan jika mereka mentaatimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menwajibkan kepada mereka shalat lima waktu....... sehingga akhir hadits”.[8]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.[9]
Ibnul Qoyyim rahimullah berkata: Jika berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tingkatan tugas yang paling agung dan utama bagi seorang hamba, maka dia tidak bisa terwujud kecuali dengan penguasaan ilmu yang tinggi, bahkan kesempurnaan dakwah membutuhkan kecukupan ilmu yang tinggi. Cukuplah ini sebagai kemuliaan ilmu dan Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan karunia   -Nya kepada siapapun yang dikehendaki -Nya”.[10]
Syekh Abdul Aziz rahimhullah berkata: Yang wajib bagi mereka yang mampu dari kalangan para ulama, penguasa kaum muslimin, para da’i adalah berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga dirinya sampai pada tingktan orang yang menyampaikan dakwah kepada seluruh alam di seluruh penjuru dunia ini. Penyampaian dakwah inilah yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di dalam firman -Nya.
قال الله تعالى : â يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ á  [ المائدة: 67 ]
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat -Nya. QS. Al-Ma’idah: 67.
Rasul berkewajiban untuk menyampaikan, semua Rasul semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan shalawat dan salam kepada mereka juga memiliki tugas untuk menyampaikan dan begitu juga dengan para pengikut mereka, para Rasul hendaklah mereka menyamapaikan dakwah ini…”.[11]
                Wasiat ketiga: Menjaga waktu. Kalau kita perhatikan banyak para pemuda yang tidak menghiraukan bagaimana cara memanfaatkan waktunya, memanfaatkan waktu muda dan masa aktif. Engkau melihat mereka tenggelam dalam tidur yang lelap berjam-jam yang tidak sesuai kebutuhkan, sementara yang lain menyia-nyiakan waktunya untuk membaca lembaran-lembaran Koran dalam waktu yang lama sementara yang lain, mondar-mandir mengunjungi temannya dan lain sebagainya.
Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Barzah Al-Aslami bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Salallhu’alaihi sallam bersabda: Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dirinya akan ditanya di sisi Tuhannya tentang lima hal: tentang umurnya, apakah dia habiskan, masa mudanya, apakah dimanfaatkan, tentang hartanya dari manakah didapatkannya dan kemanakah disalurkan dan tentang ilmunya apakah yang diperbuat dengannya”.[12]
Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok  dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad Salallhu’alaihi wa sallam bersabda: Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, hidupmu sebelum matimu, hidupmu sebelum matimu dan waktu sehatmu sebelum sakitmu serta masa kayamu sebelum datangnya masa kemiskinanmu”.[13]
Sorang penyair berkata:
Waktu adalah sesuatu yang paling berharga untuk dijaga
Namun aku melihat, dia paling mudah engkau sia-siakan
Wasiat keempat: Berakhlak yang baik.
قال الله تعالى : â وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا  á  [ الإسراء: 53]
Dan katakanlah kepada hamba-hamba -Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. QS. Al-Isro’: 53
Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat pada timbangan amal seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla membenci orang yang suka berkata kotor lagi keji”.[14]
Ibnul Mubarok berkata: Akhlak yang baik terwujud dengan wajah berseri-seri, berbuat yang makruf, menahan diri mengganggu orang lain dan bersabar atas kekasaran orang lain terhadap dirinya”.
Dengan prilaku inilah Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam berwasiat kepada para shahabatnya di dalam hadits Abi Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhillahu anhuma di dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallhu’allaihi wa sallam: Bertqwalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di manapun kamu berada, dan balaslah perbautan buruk dengan kebaikan niscaya dia akan menghapuskannya dan berakhlaklah terhadap orang lain dengan akhlak yang mulia”.[15]
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam memadukan antara bertqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan akhlak yang baik, sebab dengan taqwa maka hubungan antara seorang hamba dengan tuhannya akan harmonis dan akhlak yang baik juga akan menciptakan keharmonisan hubungan antara seorang hamba dengan makhluk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lain”.[16]
Dan keimanan seorang hamba tidak akan sempurna sampai dirinya diberikan taufiq kepada akhlak yang baik. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik prilakunya terhadap keluarganya”.[17]
Dan Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang paling baik akhlaknya dan barangsiapa yang ingin mendapat petunjuk kepada akhlak yang baik maka tauladanilah akhlak Beliau. Dari Anas bin Malik Rhadiyallahu’anhu, dia berkata: Aku telah berkhidmah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dan aku belum pernah mendengar beliau berkata cih, dan beliau tidak pernah berkata: Kenapa kamu perbuat ini” pada perkara yang telah terlanjur aku lakukan dan tidak pernah pula aku mendengar beliau berkata: Kenapa kamu tidak mengerjakan ini?. Terhadap perkara yang terlanjur aku tinggalkan”.[18]
                Wasiat kelima: Berpegang teguh dengan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla.
قال الله تعالى : â وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ á  [ الحجر: 99]
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini ajal.QS. Al-Hijir: 99.
Maksudnya adalah kematian. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Nabi Isa Alihis salam:
قال الله تعالى : â وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا á  [ مريم: 31]
 “...dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan menunaikan) zakat selama aku hidup”. QS. Maryam: 31.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah radhillahu anha bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Wahai Tuhan yang Membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku pada agama -Mu dan ketaatan kepada -Mu”.[19]
Dan telah disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada agama Allah Shubhanahu wa ta’alla di akhir zaman, mereka akan hidup terasing, namun dengan itu mereka mendapat pahala seperti yang didapatkan oleh para shahabat Rasulullah Shhalallhu’alaihi wa sallam pada saat Islam masih asing, pahala sebesar itu mereka dapatkan karena kesabaran mereka atas katerasingan tersebut. Diriawayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar Rhadiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: Islam itu muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang yang asing”.[20]
Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa mereka adalah manusia yang shaleh di tengah-tengah manusia yang buruk, orang yang berseberangan dengan mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka”.[21]
Dan disbutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bahwa orang yang berpegang teguh dengan agama mereka di akhir zaman kelak sama seperti orang yang memegang bara api dan mereka mendapat pahala sama seperti pahala limapuluh para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbuat ibadah yang sama. Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Abi Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bersabda pada saat disebutkan tentang amar ma’ruf nahi mungkar: Sesungguhnya hari-hari di belakang kalian adalah hari-hari yang harus dihadapi dengan kesabaran, dan bersabar pada hari itu sama seperti orang yang menggenggam bara api, orang berbuat amal ibadah pada saat itu akan mendapat pahala sama seperti pahala lima puluh orang lelaki yang berbuat ibadah seperti ibadah yang mereka kerjakan. Dan yang lain memberikan tambahan kepadaku berkata: Wahai Rasulullah apakah pahala lima puluh dari kalangan mereka?. Rasulullah Shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pahala limapuluh orang dari kalian”.[22]
                Maka aku berwasiat kepada diriku dan kepada seluruh sudaraku untuk teguh di dalam tuntunan yang dipegang oleh Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam dan bersabar atas yang demikian itu.
قال الله تعالى : â وَالْعَصْرِ 1 إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 á  [ العصر:  1- 3]
 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. QS. Al-Ashr: 1-3.
قال الله تعالى : â قال تعالى: وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىَ يَحْكُمَ اللّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ  á  [ يونس: 109]
Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.QS. Yunus: 109.
قال الله تعالى : â وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ  á  [ القصص: 83]
Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.  QS. Al-Qoshos: 83.
Tidak diragukan lagi bahwa seorang muslim pada masa sekarang ini dihadapkan dengan berbagai godaan syhawat dan kelezatan fana dunia yang begitu dahsyat. Namun barangsiapa yang memohon pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla niscaya -Dia akan menolongnya dan barangsiapa yang bersabar maka Allah Shubhanahu wa ta’alla  akan menjadikannya sabar.

قال الله تعالى : â وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ á  [ العنكبوت: 69]
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. QS. Al-Ankabut: 69.
Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kita termasuk golongan mereka. Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.




[1] Al-Bukhari no: 3116 dan Muslim no: 1037
[2] HR. Al-Darimi 1/110 no: 342
[3] Shahih Muslim no: 1920 dan shahih Bukhari no: 71
[4] Shahih Bukhari no: 71
[5] [5] Shahih Muslim no: 2673 dan shahih Bukhari no: 100
[6] Shahih Muslim: 4/1872 no: 2406
[7] Shahih Bukhari no: 3426
[8] Shahih Muslim no: 19 dan shahih Bukhari no: 1458
[9] Shahih Bukhari no: 3426
[10] Tafsirul Qoyyim: halaman: 319
[11] Majmu’ fatawa wa maqolat mutanawwi’ah, sykeh Abdul Aziz bin Baz rahimhullah 1/333 diambil dari kitab nudhratun na’im 5/1950 -1960
[12] Sunan Turmudzi: 4/612 no: 7846
[13] Mustadrok Al-Hakim 4/341 no: 7846
[14] HR. Al-Turmudzi 4/362 no: 2002 dan dia berkata hadits hasan shahih
[15] Sunan Turmudzi: 4/355 no: 1987 dan dia berkata: Hadits hasan shahih
[16] Al-Fawid halaman: 84-85
[17] HR. Turmudzi 3/466 dan dia berkata: Hadits hasan shahih
[18] Sunan Turmudzi 4/368 no: 2015 dan asalnya adalah as-shahihaini
[19] Musnad Imam Ahmad: 6/251
[20] Muslim 1/130 no: 145
[21] Musnad Imam Ahamad: 2/177
[22] HR. Abu Dawud: 4/123 no: 4341
Poskan Komentar