Minggu, 07 Desember 2014

Keyakinan Seputar Bulan Shafar



Keyakinan Seputar Bulan Shafar

Dengan menyebut nama Allah.
Segala puji hanya bagi Allah. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat serta para pengikutnya yang setia sampai akhir zaman
Adapun selanjutnya:

Wahai manusia, kini kita berada di akhir hari-hari dari bulan Muharam, menyongsong bulan Allah Shafar.
Bulan demi bulan susul menyusul mendekatkan kita kepada ajal.
(Sya'ir):
          Berlalu kepada kita hari demi hari silih berganti
          Mengantarkan ajal-ajal kita dan kita menyaksikannya
          Tidak kembali masa muda yang telah berlalu
          Dan tidak akan hilang ketuaan yang menyusahkan ini

Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan menyongsong bulan ini, bulan Shafar.

Renungan pertama: Bahwa bulan ini tidak ubahnya bulan-bulan lain yang dua belas. Sebagaimana yang Allah I firmankan di dalam kitab-Nya, al-Quran,

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS.at-Taubah:36)
Nabi r juga bersabda tentangnya,
((إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا))
"Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdapat dua belas bulan..." [Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Bakroh t]

Renungan kedua: Apa yang ada pada orang-orang musyrik mengenai bulan ini.

Pertama: orang-orang musyrik umat jahiliah dahulu menghalalkan bulan Shafar selama setahun dan mengharamkannya di tahun berikutnya[1], sebagai pengganti bulan Muharam yang mereka halalkan. Maka Allah U menjelaskan bahwa perbuatan mereka itu yaitu menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan menambah kekufuran mereka. Allah U berfirman,

"Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan pengundur-unduran itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain. agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah haramkan, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. At-Taubah:37)

Dan sebagaimana yang valid dari Ibnu Abbas t dalam Shahihain, Nabi r bersabda,
((كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّ الْعُمْرَةَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ مِنْ أَفْجَرِ الْفُجُورِ فِي الْأَرْضِ وَيَجْعَلُونَ الْمُحَرَّمَ صَفَرًا وَيَقُولُونَ إِذَا بَرَا الدَّبَرْ وَعَفَا الْأَثَرْ وَانْسَلَخَ صَفَرْ حَلَّتْ الْعُمْرَةُ لِمَنْ اعْتَمَرْ))
"Dahulu (umat jahiliah) menganggap berumroh pada bulan-bulan haji adalah perbuatan yang paling keji di mungka bumi, mereka menjadikan bulan Muharam sebagai bulan Shafar dan mengatakan "Jika luka (yang ada di punggung onta disebabkan perjalanan haji) sudah sembuh, jejak telah hilang dan masuk bulan Shafar, dihalalkan berumrah bagi orang yang berumrah."
[Hadits riwayat al-Bukhari no.1489 dan Muslim no.1240]

Kedua: umat jahiliah menganggap sial bulan Shafar. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Ibnu Abbas terdahulu dan sebagaimana yang valid di dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah t, dari Nabi r bahwa beliau bersabda,
((لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَر))
"Tidak ada wabah (yang menyebar secara sendirinya), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga bulan Shafar (yang membawa sial)."
Sabda Nabi r di atas ditafsiri: bahwa apa yang diyakini oleh umat Jahiliah dari anggapan sialnya bulan Shafar ditolak dan dilarang oleh syari'at dengan sabdanya r "Tidak ada Shafar". Ibnu Rajab menguatkan penafsiran ini.

Renungan ketiga: Hukum menganggap sial bulan Shafar.

Menganggap sial bulan Shafar atau selainnya dari waktu, tempat, suara atau penampakan adalah syirik kepada Allah U.
Nabi r bersabda,
((الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ))
"Thiyaroh (meramal nasib) adalah syirik, meramal nasib adalah syirik."
[Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Turmudzi dari hadits Abdullah bin Mas'ud t dan disahihkan oleh al-Albani –rahimahullah-]
Thiyaroh adalah meramal kesialan/keberuntungan yang dilakukan oleh orang Arab dengan menggunakan burung. Jika melihat burung datang dari arah belakang mereka misalnya, mereka akan membatalkan rencana, baik perjalanan, akad nikah atau yang lainnya. Segala anggapan sial karena melihat, waktu, tempat atau mendengar sesuatu berarti telah terjerumus kedalam tathoyyur (meramal nasib) yang merupakan syirik kepada Allah U.
Nas-nas (keterangan-keterangan) al-Quran dan sunah melarang dan menjelaskan bahwa hal itu adalah sifat musuh-musuh Allah dan rasul-Nya. Firman-Nya I,
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS.al-A'raaf:131)
Ayat ini merupakan penjelasan bahwa kaum Musa jika mereka berada dalam kelimpahan dan keluasan rizki mengatakan, 'Kami berhak mendapatkannya karena usaha kami'. Tetapi jika ditimpakan kemarau, paceklik dan semisalnya mereka melemparkan kesialan kepada rasul mereka, Musa u dan para pengikutnya. Maka Allah U menjelaskan bahwa apa yang menimpa mereka sesungguhnya itu dari sisi Allah U sebagai balasan perbuatan buruk mereka. Allah berfirman
"13. Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. 14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya Kami adalah orang-orang di utus kepadamu".15. Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka".16. Para utusan berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya Kami adalah orang yang diutus kepada kamu".17. dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas".18. Mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami"19. Para utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". (QS.Yaasiin:13-19)
Ayat di atas menjelaskan anggapan kesialan suatu penduduk negeri dengan rasul mereka. Maka Allah I menjelaskan bahwa kesialan itu ada pada mereka, maksudnya disebabkan adanya kekufuran dan kemaksiatan mereka kepada rasul mereka
Telah valid dalam Shahih Muslim dari hadits Muawiyah Ibnu Hakam as-Salami t, beliau berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur (meramal nasib)," Rasulullah r bersabda,
((ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ))
"Yang demikian itu didapati seseorang dari kalian dalam hatinya, maka janganlah membuat kalian berpaling (dari rencana kalian)." [Al hadits]

Renungan keempat: penjelasan bahwa umat ini (Islam) akan mengikuti kebiasaan umat jahiliah dalam masalah ini.
Sungguh orang yang memperhatikan keadaan kelompok-kelompok dari umat ini akan terheran dan melihat kebenaran apa yang dikabarkan oleh Nabi r dari hadits Abu Sa'id dalam Shahihain dengan sabdanya,
((لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حذو القذة بالقذة حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ))
"Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhab[2]  sungguh kalian akan memasukinya."
Para sahabatpun bertanya "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara?" Rasul menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" [Al-hadits]
Dalam lafadz yang dikeluarkan di dalam Shahihain,
((لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ))
"Sungguh kalian akan melakukan kebiasaan orang-orang sebelum kalian"
Ada sekelompok orang di negeri Islam yang beranggapan sial dengan sebagian waktu seperti pada bulan Shafar, mereka tidak melangsungkan akad nikah dan tidak melakukan perjalanan karena menganggap sial bulan tersebut. Pada hari Rabu di akhir bulan ini mereka merayakannya dengan perayaan yang besar, mengadakan walimah-walimah dengan makanan khusus dan berbagai jajanan, bertamasya ke pantai atau ke tempat-tempat rekreasi untuk meluapkan kegembiraan bersamaan usainya bulan Shafar dan berakhirnya hari Rabu terakhir di bulan itu.
Sekelompok orang Islam yang lain beranggapan sial dengan sebagian bintang dan orbit bulan. Mereka tidak melakukan perjalanan dan tidak melangsungkan akad nikah.
Semoga Allah merahmati Umar bin Abdul Aziz yang melakukan perjalanan pada bulan Shafar, ketika sebagian orang yang bersamanya berkata, "Wahai Amirul mukminin, lihatlah kepada bulan, begitu baik dan indahnya." memaksudkan pada posisi ad-Dubroon –posisi bulan yang dianggap penyebab kesialan- berharap Umar –rahimahullah- mengerti apa yang dimaksudkannya.
Umar bin Abdulaziz berkata, "Kita tidak keluar karena matahari tidak pula karena bulan, tetapi kita keluar bertawakal kepada Allah U.
Sebagian umat Islam yang lain beranggapan sial dengan suara beberapa binatang, seperti suara burung gagak atau burung hantu. Mereka akan membatalkan atau kembali dari perjalanan yang sedang dilakukan ketika mendengar suara-suara itu.
Semoga Allah meridhoi Ibnu Abbas ketika mendengar seseorang berkata, "Kebaikan, kebaikan jika burung gagak bersuara!" Ibnu Abbas berkata, "Tidak ada kebaikan tidak pula keburukan (disebabkan suara-suara itu)." Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid –rahimahullah- atau Ikrimah dan berkata, "Janganlah engkau menemaniku!" (Ditujukan kepada orang yang memiliki pemikiran sial tersebut)
Sebagian umat Islam yang lain beranggapan sial dengan tempat-tempat tertentu melebihi orang-orang kafir yang beranggapan sial dengan sebagian angka dan warna, yang kesemuanya merupakan keyakinan jahiliah yang dibatalkan dan dilarang oleh Islam. Sesungguhnya milik Allahlah segala sesuatu dan kepadaNyalah segala sesuatu itu kembali. Tidak ada daya dan upaya selain dari Allah U.

Renungan kelima: penjelasan mengenai sifat-sifat orang yang beriman dan orang yang menetapi tauhid, bahwa mereka akan masuk surga tanpa dihisab dan diazab
Di antara sifat-sifat orang beriman dari para nabi dan orang-orang shalih yang terbesar adalah tawakal (berserah diri) kepada Allah U dengan tidak menoleh kepada reaksi yang terjadi di alam semesta yang Allah ciptakan ini; artinya mereka menyandarkannya kepada Allah U diiringi mengambil sebab-sebab yang syar'i untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, bukan menjadikan (isyarat-isyarat itu) sebagai petunjuk kebaikan atau keburukan. Dengan keilmuan dan keimanan mereka, mereka sadar bahwa semua itu terjadi dengan takdir Allah U; artinya mendapatkan kebaikan ataupun keburukan tidak ada hubungannya dengan tempat dari tempat-tempat, aktivitas burung, suara hewan dan semisalnya. Semua makhluk Allah U teratur dengan pengaturannya dan tunduk dengan kekuasaannya U. Dengan demikian hati mereka bergantung dan bertawakal kepada Allah U, sehingga ketawakalan itu membuahkan hilangnya perasaan-perasaan yang memang biasa terbesit pada setiap insan sebagai perasaan yang manusiawi.
Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud t, "Tidak ada dari kita melainkan (mengalaminya), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal."
Itu dikatakannya setelah meriwayatkan hadits Rasulullah r yang sabdanya, "Thiyaroh (meramal nasib) adalah syirik, meramal nasib adalah syirik."
Allah I menyebutkan mengenai Nabi Musa di dalam kitab-Nya,
"Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhan-ku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS.as-Syu'aaraa:61-62)
Demikian pula yang Allah I sebutkan mengenai Nabi kita Muhammad r di dalam al-Quran,
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah), ketika  keduanya berada dalam gua salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (QS.at-Taubah:40)
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar di dalam Shahihain, Nabi r berkata kepada Abu Bakar,
((مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا))
"Apa dugaanmu dengan dua orang yang Allah menjadi ketiga dari mereka."
Rasulullah r berkata kepada orang yang menghunuskan pedang kepadanya dan bertanya, "Siapa yang dapat menolongmu?!" Nabi menjawab, "Allah!" Maka pedang itupun terjatuh dari tangan orang itu, lalu Rasulullah r mengambil pedang itu.." [Al-hadits]
Nabi Ibrahim, khalilullah (kekasih Allah) u terakhir kata yang diucapkan ketika berada di dalam api yang membakarnya,
((حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ))
[hasbunallah wa ni'malwaqiil]
Artinya:
"Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung."
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas t.
Demikian pula para sahabat Rasulullah r yang dikhabarkan oleh Allah I di dalam al-Quran,
"(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung'." (QS.Ali Imran:173)
Allah U berfirman di dalam kitabnya menyifati orang-orang yang beriman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah merekalah mereka bertawakkal." (QS.al-Anfaal:2)
Nabi r telah menjelaskan akan adanya 70.000 dari umat ini yang akan masuk surga tanpa dihisab dan diazab. Telah valid di dalam Shahihain dari hadits Ibnu Abbas t dari Nabi r,
((هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ))
"Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah[3], tidak berobat dengan api, tidak meramal nasib, dan kepada Tuhan mereka berserah diri."
Nas-nas yang menjelaskan bahwa tawakal kepada Allah U adalah sifat orang-orang yang beriman banyak sekali, ia merupakan syarat keimanan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah I di dalam kitab-Nya,
"Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS.al-Maidah:23)
Dalam firman-Nya yang diungkapkan oleh Nabi Musa,
"Berkata Musa: "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." (QS.Yunus:84)
Sedangkan perasaan sial adalah sifat dari orang-orang kafir dan musyrik, musuh kerasulan dan para rasul.


[1] Menghalalkan disini maksudnya membolehkan peperangan dan pertumpahan darah. Dalam hitungan bulan hijriah terdapat beberapa bulan haram, artinya haram melakukan peperangan dan pertumpahan darah, dimana setiap peperangan yang terjadi dibulan-bulan itu dihentikan. –pent.
[2] Hewan sejenis kadal yang hidup di padang pasir. Tinggal di dalam lubang yang dibuatnya sendiri.
[3] Ruqyah adalah pengobatan dengan menggunakan bacaan al-Quran atau doa dari hadits Nabi r atau kalimat yang jelas maknanya dan tidak mengandung kesyirikan. Maksudnya adalah bersabar dengan sakit yang dideritanya. Sakitnya itu tidak membuatnya meminta orang lain mengobatinya dengan cara rugyah. Jika ada yang meruqyahnya tanpa permintaan darinya, sebagian ulama mengatakan dia masih berhak mendapat keutamaan ini. –pent.
Poskan Komentar