Senin, 15 Desember 2014

Merenungi Firman Allah dalam Surat At-Thur



Merenungi Firman Allah dalam Surat At-Thur
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ

Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,

Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya… Amma Ba’du:
Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.  (QS. Al-Thur: 21)
Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT memberitahukan tentang karunia, pemberian, anugrah dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya  serta kebaikan Allah SWT kepada mereka: Apabila orang-orang yang beriman diikuti oleh keluarga-keluarga mereka dengan keimanan maka mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka dalam tingkatan surga, sekalipun amal-amal mereka tidak sampai pada tingkatan tersebut agar bapak-bapak mereka merasa senang dengan keberadaan anak-anak mereka bersama mereka pada tingkatan yang sama, Allah SWT akan mengumpulkan mereka dengan wajah yang paling baik, Allah SWT  mengangkat orang yang kurang amal shalehnya dengan mereka yang amalanya sempurna dan tidak mengurangi dari jumlah amal mereka sedikitpun dan tidak pula tingkatan mereka, agar tingkatan mereka menjadi sama antara dirinya dengan yang lain”.[1]
Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi mengangkat derajat keturunan orang-orang yang beriman pada tingakatan yang didapatkannya di dalam surga sekalipun di antara mereka ada yang amalnya kurang agar mereka senang dengan kebersamaan mereka dengan para keturunan mereka, kemudian beliau membaca firman Allah SWT:                     وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ
Dan orang-orang yang beriman, serta anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan,
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah karunia  Allah Ta’ala kepada anak-anak karena keberkahan amal bapak-bapak mereka. Adapun karunia Allah SWT bagi anak-anak untuk bapak-bapak mereka karena do’a anak-anak mereka adalah, seperti apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya dari hadits Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mengangkat derajat seorang hamba yang shaleh di dalam surga, dan hamba itu bertanya: Wahai Tuhanku bagaimana aku bisa mendaptakan derajat ini?. Maka Allah berfirman: Karena istighfar anakmu bagimu”.([2])[3]
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila anak Adam meninggal maka akan terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak shaleh yang selalu berdo’a untuk kedua orang tuanya”.[4]
Allah SWT berfirman:
 كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Al-Thur: 21.)
Setelah Allah SWT menyebutkan berbagai bentuk karunia -Nya, dan pengangkatan derajat keturunan kepada tingkat bapak padahal tanpa dibarengi dengan amal, kemudian Allah SWT menyebutkan bentuk keadilan Allah SWT, bahwa Dia tidak akan mengazab seseorang karena dosa orang lain, Allah SWT berfirman:                 كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ atau seseorang tergantung dengan amalnya dan tidak menanggung dosa orang lain, baik dosa bapak-bapaknya atau anaknya, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan,berada di dalam surga, mereka saling menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa”. (QS. Al-Mudatsir: 38-41).
Beberapa faedah yang dapat dipetik dari ayat ini adalah:
Pertama: Diikutkannya keturunan seorang mu’min kepada derajat bapaknya dengan syarat keimanan. Adapun jika tidak beriman maka anak keturunan tidak mendapat manfaat apapun dengan kesalehan bapaknya, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُواْ عَنْهَا لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula)mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.  (QS. Al-A’rof: 40)
Allah SWT berfirman:
 فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat. (QS. AlMudatsir: 48)
          Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya dari hadits Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ibrahim bertemu dengan bapaknya, Azar pada hari kiamat dan pada wajah Azar terdapat bintik hitam dan kusam seperti abu maka Ibrahim berkata kepadanya: Bukankah aku telah berkata kepadamu agar engkau tidak menolak ajakanku?. Bapaknya berkata: Pada hari ini aku tidak menolak ajakanmu. Ibrahim berkata: Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak menghinakanku pada hari mereka dibangkitkan, dan adakah kehinaan yang lebih hina dari kehinaan ayahku  yang dijauhkan (dari rahmat-Mu?) maka Allah berfirman: Aku telah mengharamkan surga atas orang-orang kafir, lalu dikatakan: Wahai Ibrahim apa yang ada di bawah kedua kakimu?, lalu Ibrahim menoleh dan tiba-tiba seekor anjing hutan yang telah berlumuran dengan najis  yang menjijikkan lalu diambillah kaki tangannya lalu dicampakkan ke dalam api neraka”.[5]
Kedua: Sesungguhnya karunia Allah SWT itu amat luas, Dia tidak memberikan pengurangan sedikitpun dari amal seorang yang beriman bahkan Allah SWT melipat gandakannya dengan lipatan yang banyak. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“…dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.  (QS. Al-Thur: 21)
Allah SWT berfirman:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لاَ أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”. (QS. Ali Imron: 195).
Allh SWT berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا
“Dan barang siapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan ada pengurangan haknya”. (Thaha: 112.)
Allah SWT berfirman:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika )amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah  Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. Al-Anbiya’: 47)
Ketiga: Keadilan Allah SWT. Dia tidak akan menyiksa seorang hamba karena dosa orang lain. Allah SWT berfirman:
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 141).
Allah SWT berfirman:                                             أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,( Al-Najm: 38).
Keempat: Ayat ini sebagai kabar gembira yang besar sehingga orang-orang yang beriman bergembira dengannya. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat -Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus: 58)
Kelima: Memperhatikan pendidikan anak dengan pendidikan yang islami, seperti mengajarkan kepada mereka tata cara beribadah, menganjurkan secara kontinyu, memasukkan mereka ke sekolah tahfizul Qur’an dan mengajarkan mereka adab-adab yang baik, akhlak yang mulia, menjauhkan mereka dari perbuatan yang diharamkan serta mendo’akan mereka agar selalu mendapat kebaikan  dan petunjuk, sehingga mereka, mendapat kebaikan di dunia dan akherat. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqon: 74).
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat pada saat usia mereka tujuh tahun dan pukullah mereka pada saat telah mencapai usia sepuluh tahun dan pisahkanlah antara mereka dalam ranjang tidur mereka”.[6]
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Utsman bin Affan RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.[7]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad saw dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.




.




[1] Tafsir Ibnu Katsir: 4/241
[2] Tafsir Ibnu Katsir: 4/242
[3] Musnad Imam Ahmad: 16/356-357 dan para muhaqiqun berkata: Haditsnya hasan, dan ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya: 4/242, sanadnya hasan.
[4] Muslim di dalam kitab shahihnya: no: 1631
[5] Shahih Bukhari: 2/459 no: 3350
[6] Sunan Abu Dawud: 1/133 no: 495
[7] Al-Bukhari: no: 5027
Poskan Komentar