Selasa, 02 Desember 2014

Pembunuh Sembilan Puluh Sembilan Nyawa



Pembunuh Sembilan Puluh Sembilan Nyawa
Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Adalah orang sebelum kalian, ada yang pernah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa. Maka dirinya bertanya kepada orang-orang disekitarnya, siapa orang yang paling alim di muka bumi, lantas dirinya di tunjukan kepada seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya, lalu ia menceritakan kepadanya, bahwa dirinya pernah membunuh Sembilan puluh Sembilan nyawa, apakah masih ada pintu taubat?! Rahib tersebut spontan menjawab: "Tidak ada taubat bagimu". Lalu rahib tersebut pun di bunuhnya, sehingga genap menjadi seratus nyawa, jiwa yang telah di bunuhnya.
Kemudian ia bertanya kembali siapa orang yang paling alim di muka bumi, maka dirinya di kasih tahu untuk mendatangi seorang yang berilmu. Iapun menceritakan bahwa dirinya telah membunuh seratus orang, lalu bertanya apakah masih ada taubat? Orang alim tersebut menjawab: "Ya, pintu taubat masih terbuka untukmu. Tidak ada yang menghalangi dirimu untuk taubat?! Tapi engkau harus pergi ke negeri ini dan itu, karena sesungguhnya di sana para penduduknya senang menyembah Allah Ta'ala, beribadahlah bersama mereka, dan jangan sekali-kali kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk".
Orang tersebut lalu pergi menuju negeri yang di nasehatkan oleh orang alim itu, sehingga ketika sampai di tengah jalan, ajal datang menjemputnya, maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih. Malaikat rahmat berkata: "Dia telah datang dalam keadaan bertaubat dan hatinya condong untuk kembali kepada Allah Ta'ala". Malaikat adzab tidak mau kalah, ia mengatakan: "Sesungguhnya dia tidak pernah mengerjakan amal kebajikan sedikitpun".
Maka datanglah kepada mereka seorang malaikat yang menyerupai sosok manusia, untuk menghukumi atas mereka semua. Malaikat tersebut mengatakan: "Ukurlah jarak antara kedua negeri tersebut, mana jarak keduanya yang paling dekat dengannya, maka itu untuknya". Para malaikat tersebut mengukur dan mendapati bahwa dirinya sudah dekat dengan negeri yang menjadi tujuannya, sehingga ruhnya di bawa oleh malaikat rahmat.
Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.


Kisah Nabi Musa alaihissalam
Nabi Musa alaihissalam dan Malaikat Maut
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia bercerita: "Telah bersabda Rasulallahu Shalallahu 'alaihi wa sallam:
"Nabi Musa 'alaihi sallam dulu pernah didatangi malaikat maut, lalu berkata kepadanya: "Penuhi panggilan Rabbmu".
            Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan: "Maka Musa 'alaihi sallam memukul mata malaikat maut tadi, sampai terlepas. Akhirnya malaikat tersebut kembali menghadap Allah Azza wa jalla, lalu mengadu kepada -Nya, seraya mengatakan: "Sesungguhnya Engkau telah mengutus hamba kepada seseorang yang belum ingin meninggal, dan ia telah memukul mataku". Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla mengembalikan matanya. Lalu berfirman kepadanya: "Kembalilah kamu kepada hamba -Ku, lantas katakan padanya, kamu ingin hidup? Kalau sekiranya kamu ingin tetap hidup maka letakan kedua tanganmu di atas bulu sapi jantan, apa yang tertutupi oleh tanganmu, maka satu helai sama dengan hidupmu satu tahun".
Kemudian ia kembali kepada Musa, lalu mengatakan seperti yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, Musa bertanya: "Setelah itu apa?, Malaikat tersebut menjawab: "Setelah itu kamu mati!. Musa mengatakan: "Bahkan sekarang, Ya Allah, matikanlah diriku di tempat yang suci dekat dengan bebatuan".
Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Demi Allah, kalau sekiranya saya berada di sisinya, tentu akan saya beritahu kalian kuburannya yang berada di sisi jalan di tumpukan bukit berpasir yang berwarna merah".
Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Nabi Musa alaihissalam dan Batu
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulallahu Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Dulu kebiasaan yang terjadi di kalangan Bani Isra'il adalah mereka biasa mandi dalam keadaan telanjang bulat, yang satu sama lain bisa saling melihat auratnya masing-masing. Adapun Musa 'alaihi sallam maka beliau biasa mandi dengan menyendiri. Sehingga pada suatu ketika kaumnya berkata: "Demi Allah, tidaklah Musa enggan mandi bersama kita melainkan karena dirinya punya aib".
Pada suatu hari Musa ‘alaihissalam pergi mandi di sungai lalu meletakan bajunya di atas sebuah batu, ketika ia sedang mandi, batu tersebut berjalan dengan membawa bajunya. Maka Musa mengejarnya, sambil berteriak: "Wahai batu, bajuku! wahai batu, bajuku!, sedangkan kaumnya yang sedang memperhatikan dirinya akhirnya melihat Musa tanpa berpakaian, sehingga mereka saling mengatakan: "Demi Allah, Musa tidak terkena penyakit apa-apa".
Akhirnya Musa dapat mengejar batu tersebut lalu berdiri di atasnya, dan mengambil pakaiannya, kemudian memukul batu tersebut".
Abu Hurairah mengatakan: "Sungguh demi Allah Shubhanahu wa ta’alla, sesungguhnya di atas batu tersebut ada bekas enam atau tujuh pukulan yang di lakukan oleh Musa 'alaihi sallam, kemudian turun ayat:

قال الله تعالى : { يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ ءَاذَوۡاْ مُوسَىٰ فَبَرَّأَهُ ٱللَّهُ مِمَّا قَالُواْۚ وَكَانَ عِندَ ٱللَّهِ وَجِيهٗا} [سورة الأحزاب : 69 ].
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah."  (QS al-Ahzab: 69).
Hadits ini shahih di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.






Poskan Komentar