Kamis, 15 Januari 2015

PANUTAN YANG BAIK



PANUTAN YANG BAIK
[
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.
          Orang-orang selalu memperhatikan contoh yang lebih tinggi yang mereka ikuti, mengikuti jejak langkahnya, dan menapak tilas sepak terjangnya. Dan tabiyah Islam memunculkan di dalam jiwa para pengikutnya usaha menuju yang lebih tinggi dan mendaki menuju puncak Islam, karena itulah di antara do'a 'ibadurrahman:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. al-Furqan:74)
Mujahid rahimahullah menjelaskan pengertian imam di sini, ia berkata: 'Pemimpin dalam taqwa, sehingga kita mengikuti generasi sebelum kita dan generasi setelah kita mengikuti kita.'[1] Pengertian hal itu bahwa orang yang menjadi panutan yang baik selalu menapak tilas langkah orang-orang sebelumnya dalam kebaikan dan menjadi panutan bagi generasi sesudahnya. Maka dia memimpin manusia dalam perbuatan baik dan orang-orang mengikutinya, sebagaimana ia selalu berusaha mengikuti orang-orang shalih dari generasi salafus shalih. Dan inilah yang menjadi penyebab kepercayaan dengannya dan mengikutinya.
          Beberapa tafsir menguatkan pengertian ini dan Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan beberapa pendapat yang mendukung pengertian ini. Sungguh hal ini merupakan kondisi pemimpin orang-orang yang berjihad, ketika Allah I menjadikannya sebagai panutan generasi sesudahnya, sebagaimana Allah I menyuruhnya agar mengikuti para nabi sebelumnya:
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.. (QS. al-An'aam :90)
          Apabila para da'i dan ustadz tidak menjadi panutan di atas level ini niscaya mereka tidak bisa mendapatkan khilafah di muka bumi. Khalilullah Ibrahim u, ketika Allah I menjadikannya sebagai pemimpin yang diikuti manusia, ia berkata: …'"(Dan saya mohon juga) dari keturunanku…' Allah I mengabarkan kepadanya bahwa di antara mereka ada yang durhaka dan zalim yang tidak berhak menjadi pemimpin Dia I berfirman : '…
لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
"Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. al-Baqarah:124)[2]
Maka apabila kita ingin supaya Allah I menolong kita dalam menegakkan imamah kubra (kepemimpinan besar/tertinggi) maka hendaklah kita memohon pertolongan kepada Allah I atas diri kita supaya kita menjadi pemimpin dalam penutan dan ikutan.
          Dan dasar segalanya dalam kepemimpinan yang menjadi panutan: bahwa kita mengajak manusia dengan perbuatan kita sebelum ucapan kita. Abdul Wahid bin Ziyad rahimahullah berkata: 'Hasan al-Bashri rahimahullah tidak mencapai apa yang telah dicapainya kecuali bahwa apabila dia menyuruh manusia dengan sesuatu dia adalah yang lebih dahulu melakukannya. Dan apabila ia melarang mereka dari sesuatu ia adalah yang paling jauh darinya.'[3] Dan tatkala Rasulullah r melemparkan cincin emasnya, orang-orang pun melemparkan cincin emas mereka (maka hal itu menunjukkan bahwa perbuatan lebih kuat pengaruhnya dari pada ucapan).[4]
          Sesungguhnya orang yang menjadi contoh yang baik meninggalkan banyak sekali  perkara yang mubah (boleh) karena berhati-hati untuk perkara agamanya, jauh dari perkara syubhat[5] dan menjauhkan diri dari tempat yang menimbulkan keraguan, karena ia membuat orang menjauh dari mengikutinya (ini sudah pasti pada para ulama dan orang yang menjadi panutan, maka mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang menyebabkan prasangka buruk terhadapnya, sekalipun ia punya alasan, karena hal itu menjadi penyebab mereka tidak mengambil manfaat dengan ilmu mereka), seperti yang dikatakan Ibnu Hajar.[6]
          Dan sesungguhnya seorang laki-laki yang menjadi panutan lebih berat terhadap musuh Allah I dari segala persiapan. Karena itulah ketika orang-orang mengharapkan (emas yang mereka infakkan di jalan Allah), ucapan Umar t adalah: 'Akan tetapi aku mengharap laki-laki seperti Abu Ubaidah bin Jarrah t, Mu'adz bin Jabal t, dan Salim Maula Abi Huzaifah t, maka aku meminta bantuan dengan mereka untuk meninggikan kalimah Allah I.'[7]
          Orang-orang tidak akan percaya denganmu dan tidak akan terpengaruh dengan ucapanmu, sedangkan engkau hidup mewah di atas kenikmatan yang tidak mereka dapatkan. Karena itulah Ali t berhati-hati untuk dirinya dan untuk pandangan manusia, maka ia memakai pakaian bertambah. Maka tatkala sebagian orang mengkritik pakaian Ali t, ia menjawab: 'Apakah urusanmu dan pakaian, ia lebih jauh dari sifat sombong dan lebih pasti bahwa seorang muslim mengikutiku.[8] Dan dalam satu riwayat ia berkata: '(Hati menjadi khusyu' dan orang yang beriman (mukmin) mengikuti dengannya). [9]
          Dan sesungguhnya orang yang turun karena berlomba dalam kenikmatan tidak akan bisa menaikit tangga taat, karena panutan itu telah mendahului dalam kebaikan dan mujahadah untuk jiwa hingga dakwah kita menjadi hidup dengan kita, karena (tidak ada kehidupan bagi pemikiran yang tidak memakai ruh manusia dan tidak menjadi makhluk hidup, melata di muka bumi dalam bentuk manusia…)[10] Maka jangan sampai seorang da'i melupakan : bahwa manusia memandang kepadanya sebagai contoh mereka yang tertinggi, yang melihat pada tingkah lakunya kebenaran dakwahnya. Maka jika ia tergelincir niscaya mereka tergelincir bersamanya. Dan jika ia kembali kepada kebenaran setelah itu terkadang mereka tidak kembali.
          Sesungguhnya sebagian dari sifat orang yang berusaha yang paling nampak agar menjadi imam bagi orang-orang bertaqwa: berhati-hati dari tingkah laku buruk yang bisa membuat masyarakat umum menjadi terfitnah, dan terkadang menyamarkan kepada orang yang berbaik sangka dengan mereka, sekalipun perbuatan itu masih dalam batas ijtihad masalah far'iyah dan rukhshah (keringanan). Karena itulah tatkala Ibnu Abbas t melihat saudaranya Ubaidullah berpuasa di hari Arafah, ia mengingatkannya dengan ucapannya 'Sesungguhnya kamu adalah para pemimpin yang dijadikan panutan.'[11] Dan tatkala Umar t melarang Abdurrahman bin Auf t memakai dua khuf di saat haji –karena mengambil rukhshah (keringanan) dalam hal itu- karena Umar t merasa khawatir bahwa orang-orang (kalangan awam) menjadi melebar dalam hal itu, ia berkata kepadanya: 'Saya menyuruhmu agar melepas keduanya (dua khuf), maka sesungguhnya aku merasa khawatir orang-orang melihatmu, lalu mengikutimu.'[12] Pendirian seperti ini terulang dalam pengingkaran Umar t kepada Thalhah t saat melihatnya memakai pakain yang diberi warna, dan ia diharamkan, ia berkata kepadanya: 'Sesungguhnya k amu –wahai jamaah- adalah para pemimpin yang orang-orang mengikuti denganmu.'[13]
          Sesungguhnya Abu Sufyan t saat masih kafir dan ditanya oleh Heraqlius tentang Rasulullah r, ia merasa takut berbohong, sedangkan dia adalah pembesar kaum, lalu orang-orang menceritakan kebohongannya, ia berkata: 'Demi Allah, kalau bukan karena merasa malu bahwa mereka mengutip pembicaraan bohongku niscaya aku berbohong tentang dia.'[14] Bukanlah 'Ibadurrahman lebih berhak dengan sifat jantan dan malu itu.
          Seorang imam dan panutan baik: tidak mengutamakan dunia di atas saudara-saudaranya, maka sesungguhnya bagi kepemimpinan itu ada pajaknya dan untuk kedudukan itu ada harganya. Dan kedudukan tinggi dalam agama tidak bisa dicapai kecuali dengan mujahadah. Karena itulah ketika Fathimah radhiyallahu 'anha binti Rasulullah r mengadukan pecah-pecah tangannya karena menggiling penggiling gandum dan meminta pembantu maka tidak diberikan.[15] Dan Rasulullah r kelaparan sehingga meletakkan batu di perutnya untuk mengurangi rasa laparnya, tidur di atas tikar hingga berbekas di punggungnya.[16] Demikianlah keadaan orang-orang shalih yang memandang imarah (kepemimpinan) adalah hutang, bukan keuntungan.
          Sebagaimana ada imamah dan panutan dalam kebaikan, maka di sana ada para pemimpin yang mengajak ke neraka, maksudnya panutan untuk kesesatan[17], dan kedua jalan itu diberikan. Apakah engkau menjadi panutan dalam petunjuk ataukah panutan kesesatan?
          Sungguh keinginan kuat menjadi panutan yang baik dan berhati-hati dari penyimpangan dari petunjuk Rasulullah r mendorong seseorang seperti Abu Bakar t untuk berkata: 'Sesungguhnya aku merasa khawatir jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya bahwa aku menjadi sesat.'[18] Dan sesungguhnya orang yang berjalan di jalur mujahadah tidak senang untuk dirinya termasuk orang yang menyalahi, yang disifatkan oleh Rasulullah r bahwa
يَقُوْلُوْنَ مَا لاَيَفْعَلُوْنَ وَيَفْعًلُوْنَ مَا لاَيُؤْمَرُوْنَ
'Mereka mengatakan yang tidak mereka lakukan dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan.'[19] Dan sesungguhnya ia berusaha agar menjadi pengikut Nabi r yang digambarkan bahwa :
يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ
 'Mereka mengambil dengan sunnahnya dan mengikuti perintahnya.'[20] Sebagaimana yang dikatakan oleh Malik bin Dinar rahimahullah: 'Sesungguhnya seorang alim apabila tidak mengamalkan ilmunya tergelincirlah nasihat dari hati, sebagaimana tergelincirnya air hujan dari batu yang licin.'[21]
          Tidak pantas orang yang memiliki akhlak (panutan yang baik) bahwa ia seorang yang penjilat (oportunis) yang berbuat jahat bersama orang-orang yang jahat. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud t, ia berkata: 'Tanamkanlah di dalam jiwamu, jika manusia (orang-orang) berbuat baik (kepadamu) bahwa kamu berbuat baik (kepada mereka), dan apabila mereka berbuat jahat (kepadamu) agar kamu menjauhi kejahatan mereka.'[22] Demikian pula tanamkanlah di dalam jiwamu bahwa jangan sampai terfitnah denganmu para penjilat dari rakyat jelata, dan janganlah selainmu menjadikanmu sebagai pemimpin dalam kesesatan. Ibnul Arabi rahimahullah berkata dalam menjelaskan sabda Nabi r:
لاَغدرَةَ أَعْظَمُ مِنْ غدرَةِ إِمَامٍ عَامَّةٍ
 '…dan tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pada pengkhianatan pemimpin yang umum.'[23]  Sesungguhnya ia menjadikannya lebih besar daripada imam, karena keterkaitannya dari yang terperdaya dengannya lebih besar, maka menjadi keji karena banyaknya.[24]
          Pemimpin di dalam kebaikan harus menegakkan kepalanya sebagai harga kepemimpinannya, dan hendaklah menjadi ringan dalam pandangannya segala sesuatu di jalan keteguhannya di saat menghadapi cobaan. Al-Buwaithi –khalifah imam Syafii- sungguh dipenjara dalam fitnah (cobaan) al-Qur`an adalah makhluk, diikat dengan rantai dan belenggu, dan ia tetap tidak mau mengatakan selain yang benar sekalipun bisikan, dan ia berkata: 'Sesungguhnya yang mengikutiku seratus ribu…dan sungguh aku mati di besiku ini, sehingga datang suatu kaum yang mengetahui bahwa sungguh telah mati dalam perkara ini suatu kaum di besi mereka (dalam penjara).[25]
          Maka semoga, jika kita berada di atas tingkatan sebagai panutan yang baik dan suri tauladan, semoga Allah I menjadikan kita para pemimpin dan menjadikan kita sebagai orang yang mewaris (dalam kebaikan), meneguhkan untuk kita di muka bumi, dan menjadikan kita sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Ringkasan:
  • 'Ibadurrahman selalu berusaha agar menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa
  • Seorang pemimpin mengikuti yang terdahulu dan menjadi panutan generasi sesudahnya.
  • Orang-orang yang tidak bisa menjadi panutan tidak akan diteguhkan untuk mereka di muka bumi.
  • Gambaran seorang pemimpin:
-      Mengajak dengan perbuatannya sebelum ucapannya.
-      Menjauhkan diri dari yang syubhat.
-      Diinginkan oleh amir yang jujur
-      Zuhud di dunia.
-      Berhati-hati dari tingkah laku yang buruk agar orang-orang tidak terfitnah dengannya.
-      Selalu jujur.
-      Mengambil jiwa dengan semangat tinggi
  • Al-Khaluf adalah yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan.
  • Seorang panutan menanamkan di dalam jiwanya untuk selalu berbuat baik, sekalipun orang-orang berbuat jahat.
  • Seorang panutan siap menghadapi cobaan.


[1]  Shahih al-Bukhari, kitab I'tisham, dari judul bab ke 2 (Fathul Bari 13/248)
[2] Dari Tafsir al-Qurthubi 2/107 saat menafsirkan firman Allah I: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia"(QS. al-Baqarah:124)
[3]  Dikutip dari mamarrul haqq 2/91 dan munthalaq hal 255.
[4]  Fathul Bari 13275 dari syarh hadits 7298, dari kitab i'tisham, bab ke 4.
[5]  Di dalam Madarijus salikin 2/26: (Maka orang yang 'arif meninggalkan banyak perkara yang mubah untuk menetapkan di atas pemeliharannya).
[6]  Fathul Bari 4/280 saat menerangkan hadits (…sesungguhnya ia adalah Shafiyah…)
[7]  Dikutip dari Mamarratul haqq (4/87)
[8]  Musnad Ahmad 1/91
[9] Dari Hayatus Shahabah
[10] Afrahur ruh karya Sayyid Quthb hal 25-26.
[11]  Musnad Ahmad 1/346
[12]  Musnad Ahmad 1/192
[13]  Muwaththa' Malik (1/326) hadits no 10 dari kitab Haji, bab ke 4.
[14]  Shahih al-Bukhari, kitab permulaan wahyu, bab ke 6, hadits no 7 (Fathul Bari 1/31).
[15] Shahih al-Bukhari, kitab keutamaan shahabat, bab ke 9, hadits no. 3705 (Fathul Bari 7/71).
[16]  Shahih al-Bukhari,kitab Mazhalim, bab ke 25, hadits no. 2468 (Fathul Bari 5/116).
[17]  Sebagaimana dalam tafsir al-Alusi 2/83, surah Qashash, ayat 41.
[18]  Shahih al-Bukhari, kitab fardhu khumus, bab 1, hadits no. 3093 (Fathul Bari 6/197).
[19]  Dikeluarkan oleh Muslim  (Jami'ul Ushul 1/326) hadits no. 108.
[20]  Referensi yang sama.
[21]  Dari Mamarratul Haqq  2/300
[22]  Misykatul Mashabih 3/1418 dan dishahihkan oleh Syaikh Albani mauquf kepada Ibnu Mas'ud t.
[23]  HR. at-Tirmidzi (Jami'ul Ushul 11/747 no. 9444 dan dihasan oleh Tirmidzi dan didha'ifkan oleh Arna`uth dan ia berkata: bagi sebagian alenianya ada syahid (penguat).
[24]  'Aridhatul Ahwadzi 9/42.
[25]  Thabaqatus Syafi'iyah 1/275 dari biografi Yusuf bin Yahya al-Buwaithi.
Poskan Komentar