Jumat, 20 Februari 2015

Menggapai Hidup Bahagia



Menggapai Hidup Bahagia

Segala puji bagi Allah, Pelindung orang-orang shalih dan shalihah. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (tuhan yang haq untuk disembah) melainkan Allah semata, Pencipta bumi dan langit. Dan aku bersaksi bahwa penghulu dan nabi kami, Muhammad adalah utusan-Nya yang terpilih untuk sebaik-baik seluruh risalah. Semoga Allah berkenan mencurahkan shalawat kepadanya, keluarga, dan para sahabatnya, serta kepada segenap orang-orang yang berjalan di atas manhajnya hingga hari dimana langit terpecah dan bumi terbelah (kiamat kelak).  Amma ba’du :

Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Di awal penyampaian ini, aku bermohon kepada Allah yang Maha Agung agar berkenan memberikan balasan kepada saudara-saudaraku yang mulia sebagai penyelenggara pertemuan ini dengan limpahan kebaikan dan dengan sebaik-baiknya ganjaran serta balasan. Aku bermohon kepada-Nya Ta’ala agar berkenan menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang dirahmati dan mengaruniakan taufik-Nya kepada kita berupa perkataan yang benar dan amal shalih yang tertuntun.

Wahai saudara-saudara yang kucintai karena Allah :

Berbicara mengenai kehidupan yang baik (al-hayah ath-thaiyibah) merupakan pembicaraan (mengenai suatu model kehidupan) yang seyogyanya setiap kita menjalani hidupnya (ke arah itu). Kehidupan, kalau tidak manusia yang menguasainya, maka manusia yang akan dikuasainya.  Berlalunya (unsur-unsur kehidupan, yaitu) waktu demi waktu, kesempatan demi kesempatan, hari demi hari, dan tahun demi tahunnya atas manusia, maka kalau tidak ia mengantarkan manusia kepada kecintaan dan keridhaan-Nya, sehingga akhirnya tergolong orang-orang yang sukses (di dunia) dan tergolong penghuni surga (di akhirat). Atau ia berlalu atas manusia, kemudian mengantarkan manusia menuju kobaran api neraka dan kepada kemurkaan Yang Maha Esa lagi Yang Pembuat Perhitungan.( ad-Dayyan).
Kehidupan, kalau tidak membuat anda tertawa sesaat, untuk selanjutnya menjadikan anda menangis sepanjang masa. Atau sebaliknya membuat anda menangis sebentar, untuk selanjutnya menjadikan anda tersenyum sepanjang masa. Kehidupan, kalau tidak sebagai sebuah kenikmatan bagi manusia, maka sebagai bencana baginya. Demikianlah kehidupan yang dulu pernah dijalani oleh orang-orang generasi pertama, para orang tua, nenek-nenek moyang, dan para pendahulu. Kemudian mereka berpulang kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala yang mereka kerjakan.
Kehidupan pengertiannya adalah segala momentum hidup yang anda arungi dan seluruh waktu yang anda jalani.  Dan kita dikesempatan hidup yang kita jalani ini, kalaulah tidak kita menguasainya, maka kita yang akan menjadi korbannya.
Kehidupan –wahai saudara yang kucintai karena-Nya-...., Allah menjadikannya sebagai ujian dan tribulasi. Tribulasi yang menampakkan hakikat sejati para hamba-Nya, maka yang berhasil dengan rahmat Allah merupakan orang yang berbahagia, sementara yang terhalang dari ridha Allah merupakan orang yang celaka dan terlempar (dari rahmat-Nya). Setiap waktu kehidupan yang anda arungi, kalau tidak menyebabkan Allah ridha terhadap anda, maka sebaliknya. Wal ‘iyadzu billah (berlindung kepada Allah dari keadaan semacam itu). Kalau tidak mendekatkan anda kepada Allah, atau menjauhkan anda dari-Nya.
Terkadang anda menjalani hidup dalam satu momentum dari sekian momentum-momentum yang mengespresikan rasa cinta dan ketaatan kepada Allah, sehingga dimaafkan kesalahan-kesalahan hidup anda dengannya, dan  diampuni dosa-dosa yang pernah terjadi sepanjang umur anda dengannya. Terkadang anda menjalani hidup anda dalam satu momentum yang menyimpangkan diri anda dari jalan Allah, dan menjauhkan diri anda dari ketaatan kepada-Nya, yaitu momentum yang menyebabkan anda masuk ke dalam kelompok manusia yang celaka kehidupannya. (Kita bermohon kepada Allah akan kesalamatan dan kesehatan).

Di kehidupan ini (selalu) ada dua penyeru :
Penyeru (da’i) yang (senantiasa) mengajak kepada kasih sayang Allah (rahmatillah), keridhaan-Nya (ridhwanillah) dan kecintaan kepada-Nya (mahabbatillah).. Adapun penyeru yang kedua, adalah yang mengajak kepada segala yang kontradiksi dengan hal tersebut. Syahwat yang (senantiasa) mengajak kepada perbuatan jahat, atau dorongan seruan kepada akhir yang buruk.
Namun terkadang manusia menjalani hidup dalam satu momentum dari kehidupannya yang menyebabkan ia menangis dengan tangisan penyesalan atas sikapnya yang berlebih-lebihan di sisi Rabbnya, maka Allah mengganti kesalahan-kesalahannya dengan kebaikan-kebaikan, disebabkan tangisannya ini.
Berapa banyak orang yang berbuat dosa, berapa banyak orang yang melakukan kesalahan, dan berapa banyak orang yang telah jauh (dari ajaran agama), sepanjang (hidupnya) mereka berjalan menjauh meninggalkan Rabb mereka, maka mereka menjadi jauh dari rahmat Allah dan meninggalkan keridhaan-Nya. Lalu datanglah kepadanya masa dan momentum berikutnya, yaitu masa dan momentum yang kita maknai dengan suatu kehidupan yang baik, sehingga tumpahlah air mata penyesalan mereka, memicu teriakan rintihan di dalam hati, lalu orang tersebut merasa bahwa sungguh sepanjang hidupnya ia merasakan keterasingan dari Allah, dan sungguh sepanjang hidupnya ia merasa absen dari (ketaatan kepada)-Nya. Semua itu terjadi agar ia mengikrarkan, “Sungguh aku (harus) bertaubat kepada Allah, kembali kepada rahmat Allah dan keridhaan-Nya.”
Inilah masa yang merupakan kunci kebahagiaan bagi manusia, yaitu masa penyesalan. Sebagaimana para ulama menyatakan, “Sesungguhnya manusia terkadang berbuat dosa, dengan berbagai dosa yang banyak. Namun sekiranya ia jujur dalam penyesalannya dan jujur dalam taubatnya, (niscaya) Allah akan mengganti berbagai kesalahannya dengan berbagai kebaikan. Maka kehidupannya akan menjadi baik dengan kebaikan penyesalannya tersebut dan dengan kejujuran apa yang didapati di dalam hatinya dari rasa duka dan rintihan sakit."
Kami bermohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang mulia, agar berkenan menghidupkan penyeru yang mengajak ke rahmat-Nya ini di dalam hati-hati kami, dan rintihan sakit ini yang kami rasakan dari tindakan yang berlebih-lebihan di sisi-Nya.

Saudara yang kucintai karena Allah, kita menghendaki setiap kita untuk melontarkan sebuah pertanyaan kepada dirinya (masing-masing) mengenai malam dan siangnya?
-          Berapa banyak malam-malamnya yang ia hidupkan? dan berapa lama waktu yang digunakannya?
-          Berapa banyak ia tertawa dalam kehidupan ini, dan apakah tertawanya ini merupakan tertawa yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ?
-          Berapa banyak ia telah bersenang-senang di kehidupan ini, dan apakah kesenangan ini merupakan kesenangan yang diridhai oleh Allah Azza wa Jalla ?
-          Berapa banyak orang yang bergadang di malam hari, dan apakah bergadangnya ini merupakan bergadang yang menjadikan Allah menyukaimu? Berapa banyak .... ? Dan berapa banyak .... ?
-          Pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya sendiri.
Terkadang manusia terbersit, kenapa saya mempertanyakan pertanyaan ini?
Benar, anda melontarkan pertanyaan ini karena tidaklah terlihat di pelupuk mata, dan tidak pula di kehidupan yang anda lalui, melainkan anda bolak-balik berada dalam kenikmatan Ilahi. Maka diantara bukti munculnya rasa malu dan tersipu-sipu manusia terhadap Allah, bahwa manusia tersebut merasakan besarnya nikmat Allah yang dilimpahkan kepada dirinya dalam hidupnya.
Diantara bentuk tersipu malu kepada Allah, yaitu kita sadar bahwa  kita makan dari makanan karunia Allah, kita mengambil air dari minuman-minuman ciptaan Allah, dan bahwa kita berteduh dengan langit Allah, dan bahwa kita berjalan di atas hamparan-Nya, dan bahwa kita merasakan silih berganti (kenikmatan) dalam kasih sayang-Nya, lalu apa yang akan kita persembahkan di sisi-Nya? Manusia bertanya kepada dirinya sendiri.
Para dokter medis berkata, “Sesungguhnya di dalam hati manusia ada suatu materi, sekiranya ia bertambah 1% atau berkurang 1% (saja) maka (cukup untuk) menyebabkan kematian seketika." Maka kelembutan, kasih sayang, serta kehalusan, dan keramahan dari Allah yang menjadikan manusia menerima silih berganti kenikmatan di dalam kehidupannya.
Manusia bertanya kepada dirinya sendiri mengenai kasih sayang Allah. Ketika manusia dikaruniai pendengaran, penglihatan dan kekuatan baginya, lalu :
-          Siapa yang memelihara pendengarannya?
-         Siapa yang memelihara penglihatannya.?
-         Siapa yang memelihara akalnya?
-         Siapa yang memelihara ruhnya?
-         Ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Siapa yang menjaga semua ini?”
-         “Siapa yang mengkarunikan kesehatan dan keselamatan?”
Orang-orang yang menderita sakit, mereka tak berdaya dan merasa kepedihan. Sementara Allah hendak membuat kita senang dengan kenikmatan-kenikmatan ini, hendak membuat kita senang dengan kesehatan, kebugaran, keamanan, keselamatan. kesemuannya itu semata-mata agar kita hidup dengan kehidupan yang baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki hambanya dalam 2 (dua) perkara :
-          Perkara pertama, melakukan segenap kewajiban-Nya.
-          Perkara kedua, meninggalkan segala larangan-Nya
Ada yang mengatakan bahwa kedekatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla menimbulkan kehidupan yang menyakitkan, atau kehidupan yang sempit. Sungguh ini merupakan dugaan yang salah terhadap Allah. Demi Allah, kehidupan (bisa) baik (hanya) dengan kedekatan kepada Allah, maka tidak akan pernah baik kehidupan ini dengan sesuatu apapun selain (dengan)-Nya.Kehidupan (bisa) baik (hanya) dengan melaksanakan segenap kewajiban-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya, maka -demi Allah- maka tidak akan pernah baik kehidupan ini dengan sesuatu apapun selain dengannya. Manusia mencoba menikmati kehidupan seluruhnya, maka sesungguhnya –demi Allah- dia tidak akan menemukan kehidupan yang paling baik daripada kelezatan penyembahan kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Anda diperintah dengan dua perkara, kalau tidak perkara yang datang kepadamu untuk kamu kerjakan atau tidak kamu kerjakan.
Sekiranya anda melakukan suatu perkara dalam kehidupan ini, tanyalah kepada diri anda, “Apakah Allah Azza wa Jalla telah mengizinkanmu untuk melakukannya?”, “Perkara apa yang kamu lakukan?”. Karena pada hakikatnya, semua jasad milik Allah, semua hati milik Allah, dan semua ruh milik Allah. Maka sudah sepatutnya bagi manusia, sekiranya hendak melangkah ke depan atau ke belakang, ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah Allah ridha kepadanya, sekiranya ia hendak melangkah ke depan, (jika iya) maka melangkahlah ke depan. Atau Allah tidak ridha terhadapnya, maka mundurlah. Demi Allah,  tidaklah seorang manusia melangkah maju atau pun mundur, demi mengharap rahmat Allah, melainkan Allah akan menjadikannya ia bahagia. Dengan demikian, kebahagiaan yang sejati dan kehidupan yang baik dapat tercapai (hanya) dengan dekat kepada Allah.
Dekat ke siapa? Dekat kepada Maha Raja, Penguasa seluruh langit dan bumi. Seluruh perintah adalah perintah-Nya, seluruh makhluk adalah makhluk-Nya, dan seluruh pengelolaan merupakan tata kelola-Nya. Sementara anda akan menjumpai manusia tampak selalu dalam kondisi tertekan dan kelelahan. Anda akan menjumpai pribadi yang senantiasa memenuhi hawa nafsunya, namun –demi Allah- anda akan dapati orang yang paling menikmati pemuasan hawa nafsunya, adalah mereka yang paling banyak merasakan sakit jiwanya. Mereka yang paling banyak tertekan kejiwaannya, mereka yang paling banyak terguncang kehidupannya.
Pergi dan amatilah orang yang paling terkaya, anda akan dapati ia adalah orang yang paling banyak begadangnya di malam hari dalam kehidupan. Kenapa ? Karena Allah menjadikan kenyamanan jiwa dengan mendekat kepada-Nya. Dan menjadikan kelezatan hidup dengan mendekat kepada-Nya. Menjadikan kesenangan hidup dalam kesenangan bersama-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Satu shalat saja yang dilakukan manusia yang merupakan bagian dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, seusai melakukan rukuk, sujud, dan sikap ibadahnya yang lain kepada Rabb-Nya, sekedar keluar dari masjid, ia akan merasakan kenyamanan jiwa. Demi Allah, sekiranya ia membelanjakan segenap harta dunianya, (niscaya) tidaklah ia sanggup mendapatkan jalan untuk menenangkan jiwanya.
Kehidupan yang baik (hanya) dengan mendekat kepada Allah, kehidupan yang nyaman (hanya dengan) mendekat kepada Allah. Sekiranya kehidupan yang baik (hanya) dengan mendekat kepada Allah, lalu dengan siapa kehidupan dapat menjadi baik?

Ada 3 (tiga) penghalang yang merintangi anda dari upaya mendakatkan diri kepada Allah :
  • Pertama adalah nafsu syahwat. (Yaitu) nafsu syahwat yang membatasi ruang anda dengan kedekatan kepada Allah.
  • Kedua adalah persangkaan yang buruk terhadap Allah.
  • Ketiga adalah setan yang telah berjanji terhadap dirinya untuk menjauhkan anda dari Allah Azza wa Jalla.
Adapun nafsu syahwat, ia adalah kelezatan sesaat dan kepedihan abadi. Syahwat, diantaranya syahwat bersenda gurau dan bermain-main, dimana Allah Azza wa Jalla mensifati kehidupan dunia ini dengan senda gurau dan permainan.  Namun berapa banyak pribadi-pribadi yang suka bersenda gurau dan bermain-main, sekarang dibolak-balik dalam siksa kubur. Berapa banyak pribadi-pribadi yang suka bersenda gurau dan bermain-main, anda lihat sekarang tampak terhimpit dalam kesempitan kubur. Berapa banyak orang, sekarang yang lahad dan kubur mereka menghimpit mereka, dan mereka berharap diberikan satu kesempatan waktu untuk dapat menginat Allah dan menaati-Nya.
Tiadalah anda mengetahui nilai kehidupan ini, dan tidak pula nilai nafsu syahwat ini yang mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah, mlainkan jika anda telah berpisah dari kehidupan dunia ini. Dan anda tidak akan merasa menyesal dengan sebenar-benarnya penyesalan, sekiranya anda berpisah dengan kehidupan dunia ini. Manusia akan mengetahui nilai nafsu syahwat atau penghambat-penghambat lainnya, sekiranya telah berpisah dari kehidupan ini. Sekedar datang lalu berpisah, ia menangis dengan tangis penyesalan, dan manusia berkata, “Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shaleh terhadap yang telah aku lakukan.” Ia berharap, “Sekiranya ia dapat kembali (ke dunia) agar ia dapat menambahkan (catatan kebajikan) pada lembaran amalnya.” Dan janganlah manusia tertipu, dan ia mengatakan “Sesungguhnya waktu masih panjang, karena dia masih muda.” Demi Allah Azza wa Jalla, kita tidak (bermaksud) mengharamkan nafsu syahwat dan tidak pula kita melarang untuk menikmati kelezatannya. Bahkan syahwat memiliki tempat tertentu, kedudukan yang aman dan selamat lagi bersih. Dan untuk syahwat ada tempat tersendiri yang tidak diizinkan bagi anda untuk menempatkan syahwat anda pada selain tempat ini.

Selanjutnya perkara kedua, termasuk penghalang-penghalang adalah buruk sangka terhadap Allah. Sebagian manusia, jika anda katakan kepadanya, “Aku komit terhadap (ajaran) Allah.” Lantas berkata kepada anda : “Wahai saudaraku, kenapa (ucapan) kamu menyesakkan diriku? Wahai saudaraku!! Kehidupan, biarkan aku menikmati kehidupan ini, biarkan aku begadang, aku menikmati begadangku, aku pergi dan datang, dan aku menikmati kepergianku tanpa ada ikatan dan batasan apapun.” Ia merasa bahwa kehidupan menjadi sempit lagi memedihkan sekiranya mendekat kepada Allah. Demi Allah, dan demi Allah, kami bersaksi kepada Allah bahwa tidak ada yang lebih baik (di dunia ini) dari mendekat kepada Allah.
Barangsiapa yang hendak mencoba kelezatan mendekatkan diri kepada Allah, maka tingkatkanlah ketaatannya kepada Allah Azza wa Jalla, tingkatkanlah keshalihannya, dan tingkatkanlah amalan-amalan yang disukai Allah Azza wa Jalla, maka kesemuanya itu akan mengajaknya kepada keridhaan Allah hingga ia merasakan waktu-waktunya dengan kelezatan 'ubudiyah hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Adapun perkara ketiga yang menghalangi manusia dari ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya, adalah setan yang terkutuk. Setan ini ada dua macam, yaitu setan-setan dari kalangan manusia dan setan-setan dari kalangan jin. Maka barangsiapa yang hendak mendekatkan diri kepada Allah, maka wajib atasnya untuk menjauhkan diri dari setan-setan dari kalangan manusia maupun jin.
Adapun setan-setan dari kalangan manusia, yaitu mereka yang meninggalkan ketaatan kepada Allah, mefrustasikan manusia dan menjadikannya putus asa dari rahmat Allah. Seyogyanya bagi manusia untuk tidak condong kepada mereka, dan hendaknya ia mengenal bahwa sejatinya sahabatnya dalam mencintai dan menyayangi dan mengasihi-Nya, adalah yang tulus mencintainya dan menunjukkan kekurangan-kekurangannya, mengajaknya kepada cinta Rabbnya, dan menghinakan penghambaannya kepada Sang Penciptanya.
Adapun setan-setan dari kalangan jin, maka bisikan-bisikan yang dicampakannya ke dalam hati manusia, dan mengatakan kepadanya, "Tunggulah, maka masih (banyak) waktu tersisa dari umur anda, jangan tergesa-gesa, bersenang-senanglah dahulu dengan dunia ini beserta syahwat-syahwatnya. Bergadanglah sesukamu di malam-malammu, dan lakukanlah sesukamu dari segala kelezatan dunia ini, maka sesungguhnya kehidupan ini (masih) panjang, dan terus berangan-angan dan terus hanyut menikmatinya, hingga mengakibatkan terpuruk yang membinasakannya. Kita bermohon kepada Allah agar berkenan menjaga kita dan kalian semua dari hal-hal tersebut.

Saudara-saudaraku seakidah, kehidupan yang baik adalah yang mencerminkan kebalikan dari tiga perkara ini. Adapun penyeru setan, manusia dapat menggantikannya dengan penyeru ar-Rahman. Sedangkan setan-setan dari kalangan manusia, maka menggantikannya dengan para da'i kebajikan dari kalangan orang-orang shalih dan hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Sementara buruk sangka terhadap Allah, maka menggantikannya dengan persangkaan yang baik terhadap Allah Azza wa Jalla.
Untuk penggantian penyeru setan dengan penyeru ra-Rahman, maka tampilkan dirimu atas Kitabullah, jadikan duduk bersama al-Qur`an di setiap harimu, seorang pemuda muslim merasa bahwa al-Qur`an ini diturunkan untuk dirinya.
Demi Allah, sesungguhnya anda termasuk orang yang diajak bicara oleh Allah melalui al-Qur`an, anda menghendakinya ataupun anda mengabaikannya, anda mendekat kepadanya atau anda menjauh darinya. Setiap manusia pada hari Kiamat akan mendatangi al-Qur`an sebagai hujjah (yang menguatkannya) baginya atau saksi (yang memberatkan) atasnya, janganlah manusia mengatakan bahwa al-Qur`an ini untuk orang selainku, Al-Qur`an untuk anda, dan anda sebagai pihak yang diajak bicara dengannya, sekalipun anda termasuk sejauh-jauhnya manusia dari ketaatan kepada Allah, tetap andalah sasaran pembicaraan dengan al-Qur`an ini, dan al-Qur`an kelak menjadi hujjah (yang menguatkan) bagimu atau hujjah (yang memberatkan) atasmu. Dan pengganti penyeru ini, adalah Kitabullah di dalamnya ketentraman hati dan kelapangan dada, Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya :
قال الله تعالى: ﴿أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾ سورة الرعد: 28
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS.13:28)
Anda tampilkan diri anda atas Kitabullah, maka anda hidup dalam rahmat Allah, karena Allah Azza wa Jalla bercakap kepadamu. Tampilkan dirimu atas penyeru Allah Azza wa Jalla dengan merealisasikan apa yang diperintakan oleh Allah di dalam al-Qur`an, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla dalam kitab-Nya.
Untuk penggantian para penyeru keburukan dengan para da’i kebajikan, maka senantiasa duduk berkumpul bersama orang-orang shalih dan aktif menghadiri halaqah-halaqah dzikir yang tidak akan pernah sengsara orang yang duduk bersama-sama mereka. Bersilaturahmi dan berkawan dengan orang-orang shalih. Mencintai orang-orang shalih merupakan bentuk kebaikan bagi manusia itu sendiri di dunia dan akhirat. Demi Allah, mereka adalah sebuah golongan dan merupakan sebaik-baik golongan.
Tidak manusia duduk berkumpul bersama seorang yang shaleh, melainkan ia akan mendapati kebaikan yang banyak darinya. Tidaklah ia mendoakannya, kecuali untuk kebaikan agama, dunia dan akhiratnya.
Sedangkan sahabat yang buruk maka kebalikannya. Orang inilah yang akan mengajak kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah. Sekiranya manusia memeriksa dan mengintrogasi dirinya sendiri mengenai bentuk kemaksiatan apa pun yang pernah dilakukannya, niscaya ia akan menemukan bahwa dibalik itu sama terdapat sahabat yang buruk. Dia akan mendapatkan dibalik itu semua ada setan dari kalangan manusia yang menyukai dan memudahkan terjadinya perbuatan kemaksiatan tersebut..
Manusia menggantikan orang-orang yang jahat (al-asyrar) dengan orang-orang baik (al-akhyar), dan berkata kepada orang-orang baik tersebut, “Aku menyukai duduk bersama kalian”, “Aku suka berkawan dengan kalian”, ia mengunjungi mereka dan duduk berkumpul bersama mereka. Mengenai hal itu, diriwayatkan bahwa ada seorang pria yang mendatangi salah satu dari majelis-majelis dzikir, lalu ia duduk bersama orang-orang shalih di sekali waktu itu saja, maka bisa jadi duduknya dia di sini menjadi penyebab diselamatkannya dari api neraka. Dan diriwayatkan dalam hadits dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :
“Bahwa Allah saat menurunkan penduduk surga ke surga, dan mereka menikmati segala kenikmatan yang mengitari mereka di dalamnya, mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, bagaimana kami menikmati di surga ini, sementara saudara-saudara kami sedang diadzab.”
Saudara-saudara mereka, siapakah yang dimaksud? Yaitu orang-orang yang bersama mereka, namun mereka memiliki keburukan-keburukan yang banyak. Contohnya, ada seorang pria dahulunya bersama dengan orang-orang shalih, namun ia memiliki keburukan-keburukan, semacam suka meminum minuman khamer, berzina atau ia melakukan suatu perkara-perkara lain yang diharamkan -kita bermohon kepada Allah atas keselamatan dan kebebasan dari hal-hal tersebut-.
Maka Allah menghendaki saat tiba hari Kiamat, sementara ia belum bertobat dari perbuatan-perbuatan tersebut, maka ia masuk ke dalam neraka. Sementara saat laki-laki shalih tersebut yang dahulu duduk bersamanya masuk ke dalam surga berkata, “Ya Rabb, bagaimana aku dapat menikmati kenikmatan di dalam surga, sedang saudaraku disiksa." Maka Alah mengizinkan memberikan syafaat, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
“Pria shalih itu senantiasa memohon syafaat untuk laki-laki yang pernah duduk bersamanya yang hanya sekali waktu itu saja dalam berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.”
Hanya sekali waktu dalam berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla mengharuskan bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat, maka ini merupakan bagian dari kebaikan-kebaikan duduk berkumpul bersama orang-orang shalih.
Dan termasuk kebaikan-kebaikan duduk berkumpul bersama orang-orang shalih, bahwa hati dan dada menjadi lapang dan tentram dengan mengingat Allah Azza wa Jalla (dzikrullah).
Karenanya anda akan mendapati manusia jika duduk bersama orang-orang shalih dan beranjak bangun, sedang jiwanya sudah terpaut dengan "langit", terpaut dengan ketaatan kepada Allah, berambisi melakukan kebaikan apapun yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.
Demi Allah, tidaklah manusia duduk bersama orang shalih yang mendapatkan taufik dari Allah, melainkan ia akan mengarahkannya menuju Allah. Demi Allah, inilah sejatinya sahabat yang anda baru saja beranjak darinya, sedang keadaan anda menjadi lebih baik dari keadaan saat anda duduk sebelumnya. Sebagian orang-orang shalih yang telah diberkati oleh Allah, sekiranya anda duduk berkumpul bersamanya, anda berdiri beranjak dari sisinya, sementara hati anda telah terpaut dengan Allah, hati anda dan ruh anda menghendaki keridhaan Allah, tiada yang anda inginkan selain sesuatu yang dapat mengantarkan anda kepada Allah. Sebagian manusia saat anda duduk bersamanya, anda hanya menginginkan perilaku dari tabiat-tabiat kebaikannya saja yang dapat mendekatkan anda kepada Allah.
Satu momentum majelis dzikrullah (mengingat Allah) Azza wa Jalla, terkadang menjadikan manusia mengubah kehidupannya total, sekiranya tulus ubudiyahnya kepada Allah, dan mendapatkan kesan mendalam dari yang dikatakan kepadanya mengenai berbagai perintah Allah dan larangan-Nya.
Maka yang dimaksud adalah, bahwa duduk bersama orang-orang shalih merupakan bagian dari penyebab terpenting yang dapat mengantarkan manusia kepada Rabbnya. Kawan duduk yang shalih, adalah yang sekiranya anda lupa, dia yang mengingatkan anda. Sekiranya anda mengingat Allah, dia membantu anda dalam hal itu.
Sedangkan ucapan baik yang terlontar dari seorang pria yang baik, dapat membaikan hati. Dan nasehat baik yang disampaikan dari seorang pria yang baik, maka dengannya Allah akan membaikkan keadaan-keadannya. Maka kita bermohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang mulia agar berkenan mengaruniakan kepada kita dan anda sekalian berupa mejelis-mejelis orang-orang shalih.
Sungguh Nabi saw. telah menjelaskan bahwa majelis-mejelis orang-orang shalih telah diliputi para malaikat, yaitu halaqah-halaqah dzikir yang dikelilingi para malaikat hingga ke langit, membaikan waktu manusia dengannya, dan membaikan kualitas kehidupannya.
Adapun menggantikan buruk sangka (terhadap Allah) dengan persangkaan yang baik, maka hal ini penting sekali bagi setiap orang. Sesungguhnya Allah di atas dari segala persangkaan anda akan kerahmatan-Nya. Sekiranya anda mendekat kepada-Nya sejengkal, niscaya Dia akan mendatangi anda dengan sehasta. Sekiranya anda mendekat kepada-Nya sehasta, niscaya Dia akan mendatangi anda dengan sedepa, kalaulah anda mendatangi-Nya dengan berjalan, niscaya Dia akan mendatangi anda dengan setengah berlari.
Setiap orang sepatutnya memiliki perasaan yang menyadari bahwa tiada yang lebih menyayangi dibandingkan Allah Azza wa Jalla.  Demi Allah, sekiranya manusia membawa dosa kehidupan ini semuanya, dan datang pada satu kesempatan waktu dalam keadaan bertaubat kepada Allah, luluh di hadapan Allah, mengharapkan rahmat-Nya, -demi Allah- maka Allah akan menjadikannya tidak kecewa atas rahmat Allah, dan tidak menjadikannya patah semangat dari ruh-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Dialah yang semulia-mulianya untuk dimintai, dan seagung-agungnya untuk dimohoni dan diharapi.
Dalam kisah-kisah orang-orang bertaubat terdapat banyak pelajaran. Sesungguhnya ada kalanya orang bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa hidupnya, dan Allah Azza wa Jalla menjadikan taubatnya yang dalam satu kesempatan waktu saja, mengakibatkan pengampunan seluruh (dosa-dosa) kehidupannya.

Untuk itu, (kisah) seorang saksi yang paling jujur dari sebagian manusia mengenai hal tersebut, dimana ia bagian dari jama’ah haji yang datang atas panggilan Allah di negeri yang baik ini, mungkin 70 (tujuh puluh) tahun lamanya ia tidak mengenal Allah Azza wa Jalla. Tenggelam dalam pelbagai kemaksiatan, dosa dan keburukan. Datang kepada Allah di akhir masa usianya dalam keadaan bertaubat dan kembali kepada-Nya, matanya berlinang deras air mata.
Kira-kira dua pekan yang lalu, aku bersama dengan seorang tokoh masyarakat kota Madinah, maka pada kesempatan itu ia berkata kepadaku bahwa ia di kesempatan musim haji tahun ini mendapatkan sebuah pelajaran berharga, lalu ia berkisah :
“Saat itu ada salah seorang dari rekan-rekan kami, seorang pria yang kita kuatir (jika) duduk (bersamanya) sebab banyaknya kemaksiatan dan perbuatan durhaka yang telah dilakukannya –al-‘iyadzu billah.” Ia melanjutkan, “Allah Azza wa Jalla berkehendak mengujinya dengan sebuah penyakit di akhir masa hidupnya, tepatnya sebelum ibadah haji tahun ini. Ringkasnya, ia masuk ke rumah sakit lalu dilakukan operasi baginya. Dia keluar dari rumah sakit dalam keadaan lemah tak berdaya, yaitu di akhir masa hidupnya dimana tidak ada yang disadarinya kecuali Allah Azza wa Jalla.
Di periode pemulihan kesehatannya, yaitu kira-kira satu bulan sebelum musim haji, dalam kondisi yang masih lemah pasca operasi yang dijalaninya, ia duduk sedang jiwanya terasa nyaman dan tentram dan memanggil anak-anaknya (sementara dia seorang yang kaya dalam kenikmatan dan diri), ia memanggil anak-anaknya dan berkata, 'Aku ingin berhaji.' Anak-anaknya menasehatinya, “Wahai ayahanda, anda masih dalam keadaan lemah dan sakit, dan anda tidak bisa berhaji dengan bekas operasi yang masih sangat rentan.” Ia kembali menegaskan, “Saya hendak haji.” Maka tidak ada pilihan bagi anak-anaknya, selain mereka membantu memudahkannya untuk mewujudkan maksud ibadah hajinya dan isterinya turut menyertainya.
Singkatnya, pada hari ke tujuh, ia hendak berhaji, sementara dalam perjalanannya menuju Mekkah,  ia mengeluhkan jantungnya dan merasakan sakit pada jantungnya." Istrinya menceritakan mengenainya dan berkata, “Ia duduk seraya berkata, 'La ilaha illallah' berulang-ulang." Istrinya bertanya, “Apa yang anda rasakan wahai suamiku.” Sang suami berkata kepada istrinya, “maut (kematian).” Kemudian ia kembali mengucapkan, “La ilaha illallah” lalu terjatuh dan mati seketika itu juga.
Kisah ini mengindikasikan suatu pelajaran, yaitu mengindikasikan betapa luasnya rahmat Allah. Seorang pria yang seluruh hidupnya jauh dari Allah, namun Allah tidak angkara murka kepadanya. Allah sesungguhnya Maha kuasa, sementara ia duduk-duduk dalam kemaksiatan, seketika itu bisa saja ia ditenggelamkan ke dalam perut bumi. Demi Allah, sekiranya Allah mengizinkan  agar bumi menyiksa pelaku kemaksiatan, niscaya bumi mampu menenggelamkannya dengan sekejab saja.
Allah Pemilik kerajaan, baginya kemuliaan dan kesempurnaan serta keperkasaan, segala sesuatu di alam ini dibawah perintahnya, dibawah kekuasaan dan kepemilikannya. Maha suci Allah dimana manusia mendurhakai-Nya dan melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Namun bersamaan dengan itu, pertamanya Dia memberikan kepadanya kesehatan yang digunakannya untuk menikmati kemaksiatan. Sebenarnya Ia Maha Kuasa untuk menarik ruhnya dalam sekejap saja, sampai ketika dia melakukan kemaksiatan, kemudian dia datang kepada Allah, dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menutupi aibnya.
Dia berbuat maksiat dalam keadaan lapang, sehat dan tersembunyi. Kemudian dalam keadaan seperti itu, Dia memanggilmu. Memanggil-manggil manusia, dan berfirman kepadanya, “Marilah ke rahmat-Ku. Marilah ke surga yang seluas langit dan bumi. Wahai hamba-Ku, tiadalah Aku menghendaki darimu melainkan lisan yang baik dan perbuatan yang baik, tiadalah yang Aku inginkan darimu selain ini.”
Sungguh berdusta orang yang mengatakan bahwa dekat dengan Allah menjadikan kehidupannya sempit, tidak –demi Allah-, tiadalah yang diinginkan oleh Allah dari kamu melainkan perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik, dan aqidah yang rela kepada-Nya, hanya tiga hal itu (saja).
Hati yang shalih, bersih dari duri-duri. Lisan yang baik, mengucapkan perkataan-perkataan baik.
Anggota tubuh yang digunakan pada hal-hal yang baik pula. Tiada yang lain selain ini saja.
Seorang yang mengganti sikap mengumpat manusia, merendahkan manusia dan mengosipkan orang, dengan perkataan yang baik dan menghormati orang lain.  Mengganti segala perkara-perkara yang tidak sepatutnya dilakukan olehnya dengan sangat memandang remeh manusia, dengannya hargai dirinya, lalu melakukan sikap-sikap yang sudah sepatutnya dilakukan sebagai seorang muslim yang mengimani hari pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla.

Tiada lagi yang selain ini, kita tidak akan berada dalam ketaatan dan kehidupan yang baik ini, melainkan 3 (tiga) hal ini, yaitu :
  1. Perbaikan aqidah
  2. Perbaikan ucapan
  3. Perbaikan perbuatan
Melalui 3 (tiga) hal ini, Allah Azza wa Jalla akan menjaganya hingga pada hari pertemuan dengan-Nya, dan niscaya baginya cinta dan ridha-Nya :
قال الله تعالى: ﴿مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ﴾ سورة النحل 97
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.16:97)

Sekiranya anda menghadirkan 3 (tiga) hal ini, Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepadamu.
Takut tidak akan datang kecuali dari sikap maksiat kepada Allah, maka pria ini hidupnya jauh dari Allah. Demi Allah, pria tua yang berbagi cerita kepadaku dan aku mengenalnya di Madinah, pria di akhir hidupnya, hingga –demi Allah- ketika ia menceritakan kisah tersebut kepadaku, -demi Allah- matanya mengucurkan air mata.
Dia berkata kepadaku –Subhanallah- di akhir hayatnya, alangkah Maha Penyantunnya Allah dan alangkah Maha Lembutnya Allah, mengakhiri hayatnya dengan akhir yang baik.
Hal ini mengindikasikan apa? Mengindikasikan betapa kasih sayangnya Allah.
Bukankah di sana ada penyeru menyerukan kepada persangkaan yang buruk kepada Allah, dan setan mendatangi manusia dan mengatakan kepadanya, “Anda lakukan saja, (sudahlah) anda lakukan saja, (sudahlah) anda lakukan saja, dan Allah tidak mengampunimu.”
Apa yang yang dilakukan manusia dari perbuatan maksiat dan sekiranya semakin membesar dosanya, maka hanya dengan ia mengatakan :
"Ya Allah, sungguh aku bertaubat kepada-Mu", jika jujur begitu dengan Allah Azza wa Jalla, maka Dia akan mengganti kemaksiatan itu dengan kebajikan.
Allah Ta'ala berfirman :
قال الله تعالى: ﴿إِلاَّ مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ سورة الفرقان 70
"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS.25:70)

Perkataan ini yang kita sampaikan untuk kita semua, bukanlah untuk segolongan manusia tertentu saja sedang golongan manusia lainnya tidak. Perkataan ini untuk kita semua, karena sepatutnya seorang yang beriman pada setiap kesempatan waktunya selalu dalam keadaan dekat dengan Allah, dan tiadalah seseorang pun melainkan pasti pernah berbuat maksiat, dan tiadalah seseorang pun melainkan pasti berdosa. Maka kita membutuhkan ketiga hal ini yang berefek kepada kehidupan yang baik.
Diantara buah dari kehidupan yang baik, bahwa jika anda komit terhadap (ajaran) Allah, maka disana terdapat keadaan yang menakjubkan, keadaan yang mulia, sekiranya kelihatan merugikan namun sebenarnya anda tidaklah rugi. Kalaulah anda merasa rugi (kehilangan) kawan-kawan, merasa rugi (kehilangan) malam-malam yang baik, namun di sana ada yang anda tidak pernah merasa rugi, yaitu Dialah Allah Jalla Jalaluhu.
Seandainya anda komit terhadap (ajaran) Allah dan anda melakukan ketiga hal ini, serta menjaga niat karena Allah Azza wa Jalla :
  1. Aqidah yang shalih
  2. Penuturan yang baik, dan
  3. Perbuatan yang baik
Tidaklah anda mengangkat telapak tangan anda dan berdoa, "Ya Rabb … melainkan Allah akan mengabulkan doa anda." Dan tadalah anda mengucapkan, "Aku bermohon kepada-Mu .. melainkan Allah akan mengabulkan permintaan anda." Mengenainya diriwayatkan di dalam hadits bahwa seorang hamba sekiranya ia seorang yang shalih, dan perbuatannya juga shalih, dan ucapannya juga baik, dan perbuatan-perbuatannya yang lain juga shalih, niscaya ia akan dikenal di langit karena amal shalih itu naik menuju kepada Allah Azza wa Jalla.
Sekiranya senantiasa kata-kata baik yang berasal dari anda itu naik, semacam La ilaha illallah, astaghfirullah, anda berdzikir kepada Allah, dan ucapan-ucapan yang baik. Anda berbuat baik kepada manusia, anda melakukan amal-amal shalih, sekiranya dengan amal-amal shalih itu naik, lalu jika dengan banyaknya amal-amal shalih ini para malaikat menyenangimu, dan Allah menjadikan bagi anda cinta malaikat yang agung di langit.
Maka jika datang kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia, datang kepadamu problem, datang kepadamu sesuatu yang menakutkan, lalu anda berkata, "Ya Rabb …," Para Malaikat berkata di langit, "Suara yang dikenal berasal dari hamba yang juga dikenal, suara ini dikenal berasal dari hamba yang dikenal pula. Siapa dia? Seorang yang ta'at kepada Allah, hamba yang telah mencapai tingkatan jika dia berdoa kepada Allah, maka Allah mengabulkan doanya." Apa yang kurang dalam hidup ini? Apa yang menjadikannya kurang?
Sekiranya anda berada di saat yang dengan ubudiyah anda yang tulus dan ketaatan anda yang benar, sekiranya anda megucapkan, "Ya Rabb … maka Allah akan mengabulkan doa anda." Kedudukan macam apa, anda ini? Kedudukan dan kemulaian apa, keadaan anda ini? Maka inikah yang namanya kemuliaan ? dan inikah yang namanya kewibawaan? Inilah kehdupan yang baik yang sepatutnya setiap orang berfikir di dalamnya, dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya.
Maka aku ulangi bahwa hakikat kesempitan itu adalah semua usaha kedurhakaan kepada Allah. Dan hakikat kelapangan adalah semua usaha ketaatan kepada Allah dan usaha mendekatkan dirinya kepada Allah Azzza wa Jalla. Kami bermohon kepada Allah yang dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, serta nama-nama-Nya yang baik agar berkenan mengaruniakan kepada kami kehidupan yang baik.

Adapun tabiat kedua yang harus dimiliki oleh pemilik kehidupan yang baik adalah tabiat istiqamah (konsistensi). Buah dari tabi'at ini, bahwa orang-orang yang istiqamah selalu siap menghadapi maut jika Allah menghendaki. Tiadalah seorang manusia melainkan ia akan keluar dari dunia ini dalam waktu dekat maupun panjang, dan tiadalah seorang pun bisa menjamin dirinya bahwa dia masih bisa berdiri dari suatu majelis, -demi Allah- tiada seorang pun dari kita tidak yang bisa menjamin. Maka harus ada satu momentum yang harus dilaluinya …. Yaitu momentum perpisahan.
Termasuk buah istiqamah yang baik dan amal shalih bahwa manusia jika memang dia manusia, seandainya datang masa kiamatnya (maksudnya: kematian. Pent.) dan makin dekat waktu perpisahan dari kehidupannya ini, maka saat yang terbaik baginya adalah saat pertemuannya dengan Allah Azza wa Jalla.
Manusia saat kematian menjemputnya merasa takut, kecuali para pemilik kehidupan yang baik. Jka maut telah menghampirinya, ia merasa bahwa dia dalam kasih sayang dan kerinduan kepada Allah Azza wa Jalla.
Karenanya anda akan mendapatkan pemilik-pemilik kehidupan yang baik, sekiranya sakaratul maut telah mendekati mereka, anda akan mendapati mereka –Subhanallah- dalam kelapangan, ketentraman, dan kenyamanan jiwa, sebagian mereka memberikan salam kepada ruh sementara dia tersenyum.
Kita bermohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik ‘Arsy yang mulia agar berkenan menjadikan kita dan anda semua seperti pria ini, termasuk orang-orang yang akhir hidupnya baik, dan termasuk yang dikatakan :


قال الله تعالى: ﴿ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلاَ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ﴾ سورة الأعراف 49
"Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS.7:49)

قال الله تعالى: ﴿ادْخُلُواْ الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ سورة النحل 32
 Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS.16:32)

Kita bermohon kepada Allah yang Maha Agung agar berkenan menjadikan saat-saat yang paling berbahagia bagi kita dalam kehidupan ini adalah saaat perpisahaannya, saat keluar dari dunia. Inilah yang termasuk dari buah-buah yang dipetik oleh manusia.
Sudah sepatutnya bagi setiap orang untuk bersungguh-sungguh sesuai kemampuannya dalam 3 (tiga) perkara, tiga perkara yang telah kita sebutkan sebelumnya :
  1. Perbaikan bathin,
  2. Perbaikan zhahir,
  3. Perbaikan ucapan dan amal.
Tidak berbicara melainkan anda mengetahui betul bahwa Allah ridha terhadap perkataan anda.  Tidak berbuat melainkan anda mengetahui betul bahwa Allah ridha terhadap amal perbuatan anda.
Kita bermohon kepada Allah yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang mulia agar berkenan memberikan taufik-Nya kepada kita dan anda sekalian terhadap kebaikan ucapan dan berbuatan, sesungguhnya Dia adalah Maha Pelindung dan Maha kuasa atas hal tersebut.
Semoga Allah berkenan mencurahkan shalawat dan salam serta keberkahaan atas Nabi kita Muhammad.
Dengan mengucapkan Alhamdulillah tulisan ini dapat terselesaikan.
Poskan Komentar