Jumat, 28 Juli 2017

Risalah Tentang Hadits-Hadits Bulan Muharam Mengambil Pelajaran Dari Pergantian Hari dan Tahun Baru

Risalah Tentang Hadits-Hadits Bulan  Muharam
Mengambil Pelajaran Dari Pergantian Hari dan Tahun Baru
Allah Azza wa jalla berfirman dalam kitab -Nya:
قال الله تعالى:  ﴿ إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ﴾ [ال عمران: ١٩٠]

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal". QS al-'Imran: 190.
Dalam ayat -Nya yang lain Allah Ta'ala berfirman:

 قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ فِي ٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَّقُونَ ٦ ﴾ [يونس : ٦]

"Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa". QS Yunus: 6.


Dalam kesempatan yang lain Allah Ta'ala berfirman:
قال الله تعالى:  ﴿ يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ٤٤ ﴾ [النور : ٤٤]

"Allah membolak-balikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan". QS an-Nuur: 44.
Di dalam ketiga ayat di atas Allah Subhanahu wa ta'ala mengabarkan kepada kita tentang ayat-ayat kauniyah (alam semesta. pent) yang menunjukan akan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah Azza wa jalla, menunjukan kepada hikmah dan rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala kepada makhluk -Nya, di antaranya yaitu pergantian malam dan siang, yang silih berganti, pergantian keduanya menjadikan hari ada yang pendek dan panjang, merubah musim menjadi musim panas, dingin dan sedang, dan tidak lah hal itu ada melainkan untuk memberi kemaslahatan yang sangat besar bagi penduduk bumi seluruhnya. Semua itu adalah bagian dari nikmat-nikmat Allah Ta'ala dan bentuk kasih sayang Allah Azza wa jalla kepada ciptaan -Nya, yang tidak mungkin bisa di pahami kecuali oleh orang-orang yang masih mau menggunakan akal sehatnya dan memiliki penglihatan, yang mana mereka mengerti hikmah Allah Ta'ala mana kala menciptakan malam dan siang, serta menciptakan matahari dan bulan. Mereka juga memahami perubahan waktu, bulan dan tahun, perubahan malam dan siang yang silih berganti menjadi hari-hari yang panjang.
Dan Allah Ta'ala menjadikan malam dan siang sebagai tambang untuk di gali padanya amalan-amalan sholeh, sebagai bekal dalam menghadapi kematian dan kehidupan akhirat yang kekal, jika salah satu dari keduanya (matahari dan bulan) telah berlalu maka akan di gantikan hari yang baru, sebagai cambuk bagi orang-orang yang memiliki semangat tinggi dalam kebajikan untuk mengerjakan kebaikan sebanyak mungkin, pemacu mereka dalam ketaatan, maka siapa yang tidak mendapati berkahnya pada waktu malam ia akan mendapati pada siang harinya, siapa yang ketinggalan di waktu siang maka ia akan mendapatinya pada malam harinya. Allah Ta'ala berfirman:
قال الله تعالى:  ﴿ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ خِلۡفَةٗ لِّمَنۡ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوۡ أَرَادَ شُكُورٗا ٦٢ ﴾ [الفرقان: ٦٢]

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur". QS al-Furqaan: 62.
Seharusnya bagi seorang mukmin untuk bisa mengambil pelajaran dari berjalannya siang dan malam, sesungguhnya malam dan siang akan selalu mengisi hari-hari baru, akan mendekatkan sesuatu yang jauh, akan memangkas umur, menjadikan anak kecil menjadi tua, akan menjadikan orang tua hilang di telan zaman, dan setiap waktu yang di lewati oleh anak cucu Adam, maka sesungguhnya pada hakekatnya sedang menjauhkan dirinya dari kampung dunia dan mendekatkan dirinya pada kampung akhirat.
Maka orang yang beruntung adalah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri, berpikir tentang umurnya yang telah di habiskan, lalu menggunakan waktunya dengan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi agama dan dunianya, dan siapa yang lalai tentang dirinya maka dia akan di potong oleh waktunya, sehingga semakin jauh ketinggalan, dan semakin besar kerugianya, kita berlindung kepada Allah Ta'ala dari menyia-yiakan dan meremehkan waktu.
Dan kita pada hari-hari ini baru saja meninggalkan tahun yang lama, tahun yang menjadi saksi akan perbuatan kita, kemudian kita sambut datangnya tahun baru. Maka yang menjadi kewajiban bagi kita adalah untuk selalu mengoreksi jiwa-jiwa kita, siapa yang mendapati dirinya (pada tahun yang lalu) memiliki kekurangan dalam mengerjakan kewajiban maka segera bertaubat kepada Allah Azza wa jalla serta memperbaiki kewajiban yang telah di tinggalkanya, dan apabila ia mendapati telah berbuat dholim pada dirinya sendiri dengan menjalankan larangan Allah Ta'ala dan Rasul -Nya, maka wajib baginya untuk segera meninggalkan perbuatan dosa tersebut sebelum ajal datang menjemputnya. Kemudian siapa yang mendapati dirinya di karuniai oleh Allah Ta'ala untuk bisa tetap istiqomah, maka cepatlah ucapkan pujian syukur kepada -Nya dengan di iringi do'a, meminta supaya di teguhkan dalam istiqomahnya sampai kematian datang kepadanya.
Introspeksi diri ini bukan hanya terbatas  pada hari-hari ini saja, namun ia di butuhkan pada setiap waktu sepanjang hayat, karena siapa yang mau membiasakan dirinya berintrospeksi  maka keadaanya akan menjadi lurus, amal sholehnya terus membaik, sebaliknya siapa yang enggan untuk mengoreksi dirinya maka keadaanya pun semakin memburuk, amal perbuatan yang di kerjakanya pun menjadi rusak.
Dan termasuk hal yang sangat di sayangkan bahwa kebanyakan dari manusia jika tahun baru datang maka ia memulai dengan kesungguhan dan keinginan yang kuat dan jujur untuk memperbaiki keadaan dirinya untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, kemudian berlalu padanya hari demi hari, bulan demi bulan sampai genap menjadi stau tahun sedangkan keadaannya tidak ada perubahan, sama seperti tahun sebelumnya, amal kebajikanya tidak bertambah, tidak melakukan taubat dari kesalahan-kesalahanya, maka ini adalah termasuk kegagalan dan kerugian baginya.
Ya Allah jadikanlah akhir dari amal perbuatan kami kebaikan, dan jadikanlah kebaikan bagi penghujung umur-umur kami, dan sebaik-baik hari-hari yang telah kami lewati adalah hari bertemu dengan -Mu, Ya Allah muliakan lah kedudukan kaum muslimin dengan sebab mentaati -Mu, dan jangan rendahkan mereka dengan sebab maksiat yang telah mereka lakukan pada -Mu. Ya Allah jadikanlah tahun baru ini dan yang akan datang sebagai tahun yang sejahtera, aman, sentosa, mulia dan pertolongan bagi umat Islam dan kaum muslimin, limpahkanlah pada kami nikmat-nikmat -Mu, dan berilah kami rizki untuk bisa mensyukurinya. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala mencurahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.
              


Anjuran Untuk Sedikit Mengumpulkan Harta
Di riwayatkan dari Abdullah bin Umar semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla meridhoi keduanya berkata: "Pada suatu ketika Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam pernah memegang pundakku lalu bersabda kepadaku: "Jadi lah kamu di dunia seperti orang asing atau seperti seorang musafir". Adalah Ibnu Umar mengatakan: "Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi tiba, dan jika kamu berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore, gunakan waktu sehatmu sebelum masa sakitmu, gunakan kesempatan hidupmu sebelum datangnya kematian". HR Bukhari no: 6416.
                Dalam hadits ini sebagai dalil bagi wajibnya untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, dan anjuran supaya jangan terlalu banyak mengumpulkan dunia, segera bertaubat dan bersiap-siap menyambut kematian.
Dan hadits ini termasuk hadits yang paling mengena dalam masalah mengingatkan kampung akhirat dan supaya tidak tertipu dengan gemerlapnya dunia, yang demikian itu karena dunia itu akan sirna dan di tinggalkan, seberapa pun panjangnya umur manusia di dunia ini, karena dunia adalah negeri yang akan di tinggalkan bukan negeri untuk di tinggali, dan setiap jiwa pasti akan menemui yang namanya kematian. Dan ini adalah kenyataan yang bisa kita lihat bersama, kita melihat setiap malam dan siang, kita rasakan setiap saat dan waktu, di mana manusia tidak tahu kapan datang ajalnya, kapan datang kematianya, oleh karena itu wajib bagi dirinya untuk siap-siap membawa bekal untuk perjalanan panjangnya, sehingga hendaknya (di dunia ini) ia bagaikan penyeberang jalan, jangan sampai hatinya tergoda dengan dunia, apalagi terbuai denganya, dunia jangan di jadikan sebagai tempat tinggal selama-lamanya, jangan sampai punya pikiran untuk tetap tinggal di dunia ini.
Dunia janganlah selalu di pikirkan sehingga hati menjadi cinta padanya namun kecintanya seperti halnya seorang asing yang jauh dari negerinya, yang mana dirinya akan meninggalkanya kembali waluapun telah merasa senang dan tentram, dan hendaknya hidup di dunia ini bagaikan seorang musafir yang hanya mencukupkan membawa bekal yang sedikit untuk membantu perjalananya sehingga bisa membantu dirinya untuk mencapai tujuan yang di inginkanya.
Dan sahabat yang mulia Abdullah bin Umar semoga Allah meridhoi keduanya telah memahami apa yang di wasiatkan oleh Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam kepadanya dengan pemahaman secara ilmunya mau pun penerapanya. Maka bisa di ambil dari hadits ini tiga wasiat yang agung:
Wasiat yang Pertama:  Perkataanya Ibnu Umar: " Jika kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu pagi tiba, dan jika kamu berada di waktu pagi maka jangan menunggu waktu sore". Artinya yaitu mengajak seorang mukmin untuk merasa cukup dengan kehidupan di dunia ini (tidak panjang angan-angan), dan seharusnya jika sore telah datang kepadanya maka dirinya tidak menunggu sampai datangnya waktu pagi, namun ia beranggapan bahwa ajalnya akan datang menjemputnya sebelum datang waktu pagi.
Wasiat yang kedua: Perkataanya beliau: "Gunakan waktu sehatmu sebelum masa sakitmu". Maksudnya yaitu selayaknya bagi seorang mukmin untuk memanfaatkan hari-hari sehat dan segar bugar tubuhnya sebelum sakit menghampirinya, yaitu dengan menggunakan saat-saat tersebut untuk mengerjakan kebaikan dan memperbanyak amal ketaatan, sebelum dirinya di halangi oleh sakit yang di deritanya, sehingga dirinya tidak mampu lagi untuk berpuasa, sholat malam dan mengerjakan amal sholeh lainya, di karenakan dirinya lemah oleh penyakit yang di deritanya atau karena usianya yang semakin menua.
                Wasita yang ketiga: Perkataan beliau selanjutnya: "Gunakan kesempatan hidupmu sebelum datangnya kematian". Maksudnya adalah bahwa seharusnya bagi seorang mukmin untuk menggunakan sebaik-baiknya kesempatan hidup dan umur panjang yang telah di berikan kepadanya dengan menambah bekal, tidak melalaikanya sehingga kematian datang menyapanya, sehingga dirinya terhalangi untuk berbuat amal kebajikan.
Dan telah sampai hadits dari Ibnu Abbas semoga Allah shubhanahu wa ta’alla meridhoi keduanya, beliau mengatakan: "Bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "(Ada dua nikmat) yang banyak di lalaikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu senggang". HR Bukhori no: 6412.
Demikian juga di riwayatkan dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoi nya, bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda memberi wejangan kepada seseorang: "Gunakan lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lainya, masa mudamu sebelum datangnya masa tua, masa sehatmu sebelum datangnya penyakit, masa kayamu sebelum kemiskinan menghampirimu, waktu luangmu sebelum datang kesibukan, kehidupanmu sebelum datang kematian". Hadits di riwayatkan oleh al-Hakim dalam mustadraknya 4/306, beliau menshahihkannya, dan di setujui oleh Imam adz-Dzahabi. Dan di shahihkan oleh al-Albani dalam kitabnya Iqtidhou al-Ilmi al-'amal hal: 100.
                Maka wajib bagi kita, sedangkan kita sekarang sedang menyambut tahun baru untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tidak menunda-nunda mengerjakan amalan sholeh sebelum keadaan kita terhalangi oleh perkara-perkara yang di sebutkan dalam hadits di atas, baik kesibukan maupun penyakit atau kematian.
Ya Allah bangunkanlah kami dari kelalaian supaya kami bisa menggunakan dari sisa-sisa umur kami, dalam kebajikan, berilah kami taufiq -Mu supaya kami bisa menambah bekal amal kebaikan, Ya Allah bangunkanlah hati-hati kami dari tidur panjangnya dengan angan-angan yang tidak pernah habis, berilah peringatan supaya sadar bahwa ajal sudah dekat menyapa, bahwa perjalanan jauh sudah mendekatinya, dan berilah keteguhan pada hati-hati kami di atas keimanan, dan berilah taufiq -Mu supaya kami bisa mengerjakan amalan sholeh, ampunilah dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami serta dosa-dosa seluruh kaum muslimin. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.



Keutamaan Bulan Allah Muharam
Di riwayatkan dari Abu Hurairah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata: "Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan (Allah) Muharam, dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat sunah". Dan pada riwayat yang lain beliau mengatakan: "Sholat yang di kerjakan pada pertengahan malam". HR Muslim no: 1163.
Dalam hadits di atas di ambil sebagai dalil akan keutamaan berpuasa pada bulan Muharam, bahwa berpuasa pada bulan Muharam keutamaanya berada di bawah keutamaan berpuasa pada bulan Ramadhan, adapun keutamaan berpuasa pada bulan ini adalah karena bertepatan dengan keutamaan hari-harinya dan besarnya pahala yang telah di siapkan, di karenakan ibadah puasa adalah termasuk sebaik-baik amal sholeh di sisi Allah Azza wa jalla.
Dan bulan Allah Muharam adalah bulan di mana tahun hijriyah itu di mulai, sebagaimana telah menjadi kesepakatan di antara kaum muslimin pada zaman khalifah yang mendapat petunjuk Umar bin Khathab semoga Allah meridhoinya, bulan Muharam adalah salah satu bulan yang di haramkan oleh Allah Ta'ala, sebagaimana yang telah di sebutkan dalam kitab -Nya, Allah Ta'ala  berfirman:
قال الله تعالى:  ﴿ إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ ...﴾ [التوبة: 36]

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu". QS at-Taubah: 36.
Di riwayatkan dari Abu Bakrah semoga Allah meridhoinya, dari Nabi Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Dalam satu tahun itu ada dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan haram, tiga bulan berturut-turut, (yaitu) bulan Dzul Qo'dah, Dzul Hijjah dan Muharam, (kemudian) bulan Rajab yang terpisah antara bulan Jumadil Akhir dan Sya'ban". HR Bukhori no: 4662, Muslim no: 1679.
Dan Allah Azza wa jalla telah menyandarkan bulan ini kepada -Nya sebagai bentuk kemulian dan keagungan akan bulan Muaharam ini, karena Allah Tabaroka wa ta'ala tidaklah menyandarkan sesuatu kepada Dirinya melainkan karena memiliki kemulian di sisi Allah dan Rasul -Nya, dan di namakan sebagai bulan Muharam adalah karena sebagai penegas akan keharamanya, di karenakan orang Arab pada zaman dahulu mempunyai waktu yang berubah-ubah, terkadang menghalalkan (untuk berperang) satu tahun penuh, terkadang mengharamkan satu tahun penuh.
Dan firman Allah Ta'ala: "Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu". Artinya yaitu di dalam bulan Muharam, di karenakan lebih keras dan kuat penegasanya akan larangan dalam melakukan dosa di banding dengan bulan-bulan yang lainya.
Abu Qatadah mengatakan: "Sesungguhnya berbuat dholim pada bulan Muharam lebih besar dosanya di banding dengan kedholiman yang di kerjakan pada bulan lainya, walaupun perbuatan dholim yang di kerjakan pada selain bulan itu tetap besar dosanya, akan tetapi Allah Ta'ala mengagungkan dari urusan -Nya sesuai yang di kehendaki -Nya.".[1]
Allah Ta'ala telah menjadikan bulan-bulan hilaliyah ini sebagai waktu-waktu bagi manusia, di karenakan bulan-bulan tersebut sudah jelas yang bisa di rasakan dan dapat di ketahui oleh setiap orang, kapan permulaanya dan kapan berakhirnya. Dan sangat di sesalkan sekali, bahwa orang pada saat sekarang ini, mereka banyak yang meninggalkan tahun Islam hijriyah, dan mengganti dengan tahunnya orang Kristen, tahun masehi, yang tidak lain adalah tahun yang di bangun di atas bulan-bulan dan mitos-mitos yang tidak ada sandaranya sama sekali dari syari'at, tidak juga masuk akal apalagi bisa di lihat.
Ini sebagai bukti akan kelemahan dan kemunduran bagi kaum muslimin, dan sebagai bukti juga bahwa mereka sudah terlalu jauh mengikuti orang-orang kafir, di antara bahayanya yaitu menjadikan kaum muslimin mengikat kejadian-kejadian penting dan juga kegiatanya dengan menggunakan tahunnya orang-orang Kristen, dan mereka menjauhkan diri dari tahun hijriyah yang mana tahun hijriyah tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sejarah Rasul mereka, dengan syi'ar-syi'ar agama mereka dan juga syi'ar-syi'ar ibadah mereka.[2] Hanya kepada Allah lah kami meminta pertolongan.
Dalam hadits di awal tadi menunjukan bahwa ibadah puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah (bulan Allah.pent) Muharam, dan yang nampak dalam hadits di atas adalah bahwa hal ini di bawa pada hukum yang menunjukan bahwa Muharam adalah bulan yang paling utama untuk mengerjakan puasa sunah setelah puasa Ramadhan, adapun mengerjakan puasa sunah pada sebagian hari-harinya, terkadang keutamaanya tidak bisa menandingi puasa sunah pada hari-hari tertentu seperti puasa hari Arafah dan puasa enam hari di bulan Syawal.
                Dan dhohirnya hadits juga menunjukan bahwa yang masuk pada keutamaan untuk mengerjakan puasa sunah adalah ketika mengerjakanya selama satu bulan penuh, adapun sebagian para ulama ada yang membawa hadits ini pada anjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharam bukan untuk berpuasa selama satu bulan penuh, berdasarkan perkataan Aisyah dalam sebuah hadits, ia mengatakan: "Tidak pernah saya melihat Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam melakukan puasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadhan, dan tidak pernah saya melihat beliau pada suatu bulan yang lebih banyak berpuasa kecuali pada bulan Sya'ban". HR Muslim no: 175, 1156.
Ya Allah bangunkan lah kami dari tidur dalam kelalain, berilah kami rizki untuk bekal sebelum kematian datang, berilah kami ilham untuk bisa memanfaatkan zaman dan waktu luang, berilah kami taufiq untuk bisa mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.


Hari Asyuro Dalam Sejarah
                Di riwayatkan dari Ibunda Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata: "Adalah orang-orang Qurais pada zaman Jahiliyah berpuasa pada hari Aysuro, dan Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam juga berpuasa pada hari itu pada zaman Jahiliyah, ketika beliau datang ke Madinah beliau pun berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh (sahabatnya) untuk berpuasa, mana kala telah di wajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan makan hari Aysuro di tinggalkan, siapa yang menghendaki berpuasa maka berpuasa siapa yang tidak mau maka boleh meninggalkanya". HR Bukhari no: 202, Muslim no: 1125.
Hadits ini menunjukan bahwa orang-orang Jahiliyah dahulu mereka telah mengetahui adanya puasa pada hari Asyuro, di mana hari itu adalah hari yang sudah di kenal di kalangan mereka, bahwasanya mereka juga melakukan puasa pada hari-hari tersebut, begitu pula Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam juga ikut berpuasa, dan puasanya terus berlanjut sampai beliau hijrah ke Madinah, namun tidak menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa, maka hal ini menunjukan atas kesucian dan agungnya kedudukan hari tersebut bagi orang-orang Arab pada zaman Jahiliyah sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, oleh karena itu mereka pada hari itu menutupi Ka'bah, sebagaimana di kisahkan dalam hadits Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata: "Adalah orang-orang pada zaman Jahiliyah, mereka berpuasa pada hari Asyuro, sebelum di wajibkanya puasa Ramadhan, dan bertepatan dengan hari itu Ka'bah ditutupi dengan kain kiswah..".HR Bukhari no: 1952.
Berkata Imam al-Qurthubi mengomentari hadits yang di riwayatkan Aisyah: "Hadits Aisyah menunjukan bahwa berpuasa pada hari tersebut sudah di kenal di kalangan mereka, akan kedudukan nya dan di syari'atkanya (untuk berpuasa), kemungkinan adanya mereka melakukan puasa karena mereka menganggap bahwa itu bagian dari syari'at Nabi Ibrohim dan anaknya Isma'il Alaihima sallam, karena sesungguhnya mereka sering menasabkan dirinya pada kedua Nabi tersebut, dan juga sering kali mereka menasabkan kepada keduanya dalam masalah hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah haji dan ibadah yang lainya.."[3]
Dan yang bisa di ambil faidahnya dari sekumpulan hadits-hadits di atas adalah bahwa berpuasa pada hari Asyuro pertama kalinya adalah wajib sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah, menurut pendapat yang kuat dari kalangan para ulama.[4] Berdasarkan ketetapan perintah dari Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam, di riwayatkan dari Salamah bin al-Akwa' semoga Allah meridhoinya berkata: "Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh seorang yang baru masuk Islam supaya (ketika pulang ke kabilahnya) menyeru kepada manusia, bahwa siapa yang sudah terlanjur makan (maksudnya tidak berpuasa pada hari Asyuro.pent) hendaknya berpuasa pada sisa harinya, sedangkan siapa yang belum makan (apa-apa) maka hendaknya berpuasa, karena pada hari ini adalah hari Asyuro". HR Bukhari no: 2007, Muslim no: 1135. Dan hadits ini mempunyai penguat dari hadits Rubayi' bint Mu'wadz yang di keluarkan oleh Bukhari no: 1860.
Ketika di wajibkanya puasa pada bulan Ramadhan, yaitu pada tahun kedua setelah hijriyahnya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam maka kewajiban untuk berpuasa pada hari Asyuro di hapus, dan hukumnya tetap tapi menjadi sunah, sedangkan perintah untuk berpuasa pada hari Asyuro tidak pernah terjadi melainkan dalam setahun sekali yaitu pada tahun kedua hijriyah ketika di wajibkan puasa Asyuro pada awal tahun, kemudian pada pertengahannya di wajibkan untuk berpuasa Ramadhan. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam berniat pada akhir hayatnya –yaitu pada tahun kesepuluh hijriyah- untuk tidak berpuasa pada hari kesepuluh, namun akan berpuasa pada hari sebelumnya yaitu hari ke Sembilan. Sebagaimana akan datang penjelasanya pada bab berikutnya –insya Allah- yang mana itu merupakan bagian dari bentuk-bentuk menyelisihi ahli kitab di dalam tata cara pelaksanaan puasa mereka.
Ya Allah, Dzat yang tidak terpengaruh dengan perbuatan maksiat hamba -Nya, Dzat yang tidak mengambil manfaat dari ketaatan hamba -Nya. Berilah kami kemudahan untuk kembali dan bertaubat kepada -Mu, Wahai Rabb kami bangunkanlah kami dari tidur kelalaian, ingatkanlah kami supaya kami bisa menggunakan waktu-waktu yang terbuang. Ya Allah jadikanlah kami di antara orang-orang yang bertawakal kepada -Mu, lalu berilah kami kecukupan akan hal itu, Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada -Mu petunjuk, maka berilah kami petunjuk -Mu, memohon kepada -Mu pertolongan, maka turunkanlah pertolongan -Mu, menyembah kepada -Mu maka rahmatilah kami. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.



Penekanan Untuk Berpuasa Pada Hari Asyuro
Di riwayatkan dari Abu Qatadah semoga Allah meridhoinya bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah di tanya tentang puasa pada hari Asyuro, maka beliau menjawab: "(Pahala puasa pada hari itu) akan menghapus dosa-dosa pada tahun yang telah lewat". Di dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan: "Dan puasa pada hari Asyuro akan di ganjar oleh Allah Ta'ala dengan di hapus dosa-dosanya pada tahun yang telah lewat". HR Muslim no: 196, 197, 1162.
Dalam hadits ini menunjukan atas keutamaan berpuasa pada hari Asyuro, yaitu pada hari kesepuluh pada syahrullah Muharam, menurut pendapat yang kuat dan terkenal di kalangan para ulama.
Dalam sebuah hadits yang di riwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas semoga Allah meridhoi keduanya, bahwa beliau pernah di tanya tentang puasa pada hari Asyuro, maka beliau menjawab: "Tidak pernah saya mengetahui bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada satu hari, lantas beliau mengharapkan keutamaanya pada hari-hari yang lainya, melainkan puasa pada hari ini, tidak mengharapkan keutamaan pada suatu bulan kecuali pada bulan ini, yaitu bulan Ramadhan". HR Bukhari no: 2006, Muslim no: 1132.
Maka sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk mau berpuasa pada hari tersebut, mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk berpuasa, untuk bisa meraih keutamaanya dan mengikuti sunah Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam.
Dari Jabir bin Samuroh semoga Allah meridhoinya berkata: "Adalah Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam menyuruh untuk berpuasa pada Bulan Asyuro, beliau mengajak kami, lalu kami pun membiasakanya..al-Hadits". HR Muslim no: 1127.
Puasa adalah amalan sholeh yang paling utama di sisi Allah Azza wa jalla, (seperti telah di ketahui bahwa puasa asyuro adalah puasa sunah) maka termasuk dari faidah-faidah yang bisa di dapat dari puasa sunah adalah:
v  Pahalanya akan di tambah dan lipat gandakan bagi yang menjalankannya.
v  Bahwa puasa sunah kedudukanya sama seperti halnya ibadah sunah lainya yaitu akan menggantikan kekurangan yang ada pada kewajiban yang telah di kerjakan, oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan dalam masalah sholat: "Berkata Allah Tabaroka wa ta'ala: "Lihatlah apakah pada hamba -Ku ini ada amalan sunah? Sebagai penyempurna sholat (wajibnya) dari kekurangan yang ada, kemudian hal itu di lakukan pada seluruh amalannya". HR Tirmidzi dari haditsnya Abu Hurairah secara marfu' no: 413, beliau mengatakan hadits hasan.
Sebagaimana juga bahwa puasa sunah akan menjadikan seorang  muslim merasa bersemangat untuk bisa menaiki tangga ketaatan kepada Allah Ta'ala, dan meraih kecintaa -Nya, sebagaimana di sebutkan dalam hadits qudsi, di mana Allah berfirman: "Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada -Ku dengan sesempurna mungkin dari kewajiban yang telah Aku wajibkan padanya, sampai dengan sunah-sunah yang ada sampai Aku mencintainya..". HR Bukhari no: 6502.
Perlu di ketahui bahwa setiap nash yang datang dengan menjelaskan akan mengampuni dosa pada sebagian amal sholeh, seperti pada wudhu, puasa Ramadhan, puasa pada hari Arafah, hari Asyuro dan yang lainya, bahwa yang di maksud dalam hal itu adalah dosa-dosa kecil saja, di karenakan ibadah-ibadah yang sangat agung saja seperti sholat yang lima waktu, sholat jum'at, puasa Ramadahn tidak bisa menghapus dosa-dosa besar –sebagaimana hal itu telah tetap di dalam sunah- lantas bagaimana dengan amalan sholeh yang lebih rendah kedudukanya dari ibadah-ibadah yang agung tersebut?
Oleh karena itu kebanyakan para ulama berpendapat bahwa dosa-dosa besar seperti halnya riba, berzina, perdukunan dan yang lainya, tidak mungkin bisa di hapus dengan amalan sholeh, namun dirinya wajib bertaubat atau di tegakkan hukuman rajam kalau itu berkaitan dengan hukum rajam.
Maka wajib bagi setiap muslim untuk cepat-cepat bertaubat dari seluruh dosa-dosanya, baik dosa yang kecil maupun dosa yang besar, pada hari-hari yang penuh dengan keutamaan ini. Mudah-mudahan Allah Ta'ala akan menerima taubatnya dan mengampuni dosa-dosanya, dan juga menerima amal ketaatanya. Di karenakan melakukan taubat pada zaman yang mempunyai keutamaan yang besar, karena biasanya hati itu akan mudah untuk di ajak melakukan ketaatan, lebih senang untuk melakukan kebajikan, begitu pula mudah sekali mengakui dosa-dosa yang telah di lakukanya, dan menyesali apa yang telah di lakukan, apalagi kita sekarang masih ada pada permulaan tahun baru, walau pun demikian kewajiban taubat itu tetap wajib untuk dikerjakan di sepanjang tahun.
Ya Allah yang memperbaiki keadaan orang-orang sholeh perbaikilah kerusakan yang ada pada hati-hati kami, tutupilah cacatnya di dunia mau pun di akhirat nanti. Ya Allah jadikanlah kecintaan kami pada iman, hiasilah di hati-hati kami denganya, dan jadikanlah kami benci kepada kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jadikanlah kami di antara orang-orang yang mendapat bimbingan -Mu. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.


Hikmah Disunahkannya Puasa Hari Asyuro
Di riwayatkan dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya berkata: "(Ketika) Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, maka beliau  mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro, ketika  mereka di tanya kenapa berpuasa, maka mereka menjawab: "Hari ini adalah hari di mana Allah Ta'ala menolong Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun, dan kami berpuasa pada hari ini sebagai bentuk pengagungan padanya". Lantas Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih berhak dengan Musa dari pada kalian". Kemudian beliau menyuruh kami untuk berpuasa pada hari itu". HR Bukhari no: 3943, Muslim no: 127, 128, 1130. Dan dalam riwayat Muslim ada tambahan, "Maka Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah, maka kami pun berpuasa".
Di dalam hadits di atas menjelaskan tentang hikmah yang agung kenapa di syari'atkanya berpuasa pada hari Asyuro, yaitu sebagai bentuk pengagungan pada hari ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Ta'ala mana kala Nabi Musa Alaihi salam dan bani israil di selamatkan dari kejaran Fir'aun, dan di tenggelamkanya Fir'aun dan pasukanya pada hari ini. Oleh karenanya Nabi Musa alaihi sallam berpuasa pada harinya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Azza wa jalla, kemudian orang-orang Yahudi pun ikut berpuasa. Dan umat Nabi Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam lebih berhak untuk mencontoh Nabi Musa alaihi sallam dari pada orang-orang Yahudi. Kalau Nabi Musa alaihi sallam melakukan puasa (pada hari ini) sebagai wujud rasa sykurnya kepada Allah Ta'ala, maka kita juga berpuasa dalam rangka yang sama sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah Azza wa jalla. Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih utama untuk mengikuti Musa dari pada kalian (wahai orang-orang Yahudi)". Di dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan: "Dan saya lebih berhak dengan Musa dari pada kalian". Maksudnya yaitu kami lebih tepat dan lebih dekat untuk mengikuti Nabi Musa Alaihi Sallam dari pada kalian, orang-orang Yahudi. Karena kita memiliki kesamaan dalam masalah pokok-pokok agama dengan beliau, begitu juga kita mempercayai kitab yang di bawanya, sedangkan kalian, orang-orang Yahudi banyak menyelisihi beliau, baik dalam pokok agama yang beliau ajarkan mau pun dalam kitab yang beliau bawa, dengan di rubah atau di ganti. Dan Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam lebih taat dan lebih tunduk dalam mengikuti kebenaran dari pada mereka orang-orang Yahudi, oleh sebab itu beliau mengerjakan puasa pada hari Asyuro, dan memerintahkan supaya berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan dan penegasan akan hal itu.
Di riwayatkan dari Abu Musa semoga Allah meridhoinya berkata: "Asyuro itu adalah hari yang di agungkan oleh orang-orang Yahudi, dan menjadikanya sebagai hari raya. Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpuasalah kalian". Dalam riwayat Muslim di sebutkan, "Adalah penduduk Khaibar mereka mengerjakan puasa pada hari Aysyuro dan menjadikanya sebagai hari raya, sedangkan para wanita pada hari itu memakai perhiasanya. Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpuasalah kalian". HR Bukhari no: 2005, Muslim no: 129, 130, 1131.
Yang nampak dalam hal ini bahwa termasuk dari hikmahnya berpuasa pada hari itu untuk menyelisihi orang-orang Yahudi, yaitu dengan tidak menjadikan harinya sebagai hari raya, dan mencukupkan hanya berpuasa saja, di karenakan hari raya tidak boleh berpuasa, inilah sisi, dari bentuk menyelisihi orang-orang Yahudi pada hari Asyuro. Dan akan datang penjelasanya –Insya Allah- sisi lain bari bentuk penyelisihan mereka, yaitu supaya berpuasa pada hari ke sembilanya.
Ada dua kelompok yang sesat dalam mengagungkan hari Asyuro, kelompok yang mirip sekali dengan perlakuan Yahudi yang menjadikan hari Asyuro sebagai hari raya dan hari untuk bersenang-senang, dengan menampakan pada hari tersebut bentuk-bentuk kebahagian, seperti halnya mengecat rubah, memakai celak, memberi uang lebih pada keluarganya, memasak makanan sepesial di luar kebiasaanya, dan lain sebagainya dari perbuatan-perbuatan orang-orang bodoh, yang mereka menghadapi kesesatan dengan kesesatan lainya, membalas perkara bid'ah dengan perbuatan bid'ah yang lainya.
Ada pun kelompok yang kedua mereka menjadikan hari Asyuro ini sebagai hari belasungkawa, hari kesedihan, dan ratapan. Di karenakan (pada hari tersebut) terbunuhnya Husain bin Ali semoga Allah meridhoinya, sehingga mereka menampakan pada hari itu syi'ar-syi'ar orang-orang jahiliyah, seperti halnya memukul pipi, merobek-robek saku, melantunkan syair-syair kesedihan, membaca kisah-kisah yang banyak dustanya dari pada benarnya, membuka pintu fitnah dengan perbuatanya tersebut, sehingga memecah belah umat. Maka ini adalah amalan orang-orang yang telah tersesat di kehidupan dunia ini, sedangkan pelakunya merasa bahwa itu perbuatan kebajikan.
Sungguh suatu nikmat yang besar di mana Allah Ta'ala telah memberi hidayah kepada ahlu sunah, yang mana mereka hanya mengerjakan titah Nabinya supaya berpuasa pada hari itu, dengan selalu memperhatikan jangan sampai terjerumus menyerupai orang-orang Yahudi, dan menjauhi perintah setan kepada mereka untuk melakukan perbuatan bid'ah. Segala puji bagi Allah Ta'ala.
Ya Allah pahamkanlah kami dalam urusan agama kami, mudahkanlah kami untuk mengerjakan dan istiqomah di dalamnya, berilah kami kemudahan, dan jauhkanlah dari kesulitan, ampunilah kami di dunia dan di akhirat. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.



Disunahkan Berpuasa Pada Hari kesembilan dan Kesepuluh
Di riwayatkan dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya, bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika berpuasa pada hari Asyuro, dan menyuruh untuk berpuasa padanya, beliau di tanya oleh para sahabat: "Ya Rasulallah, sesungguhnya hari itu di agung-agungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani, maka beliau menjawab: "Jika datang tahun depan -Insya Allah- kita berpuasa pada hari ke sembilanya juga". Ibnu Abbas melanjutkan: "Tidak sampai tahun berikutnya datang, Rasulallah Shalalllahu 'alaihi wa sallam meninggal". Dalam salah satu riwayat yang lain, Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan: "Jika sampai tahun depan, saya pasti akan berpuasa bersama hari ke sembilannya". HR Muslim no: 1134.
Di dalam hadits sebagai dalil yang menunjukan di sunahkannya bagi orang yang ingin berpuasa hari Asyuro supaya berpuasa pada hari sebelumnya satu hari, yaitu hari ke sembilan, maka puasa pada hari ke Sembilan termasuk sunah walau pun Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam belum sempat melakukanya, di karenakan beliau sudah berniat untuk berpuasa pada hari itu, dan tujuan akan hal itu adalah –wallahu a'lam- menyatukan dengan hari ke sepuluhnya supaya petunjuknya beliau menyelisihi ahli kitab, karena mereka berpuasa pada hari ke sepuluhnya saja, hal ini bisa di lihat dari beberapa riwayat yang ada di shahih Muslim, sebagaimana telah shahih dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya secara mauquf pada beliau, Nabi bersabda: " Berpuasa lah pada hari Sembilan dan sepuluh, selisihi lah orang-orang Yahudi". HR Abdur Razaq 4/287, Thahaawi 2/78, al-Baihaqi 4/278. Dan sanad hadits ini shahih.
Dalam hadits ini sebagai dalil yang jelas bahwa orang muslim di larang untuk tasyabuh (menyerupai.pent) dengan orang-orang kafir dan ahli kitab, di karenakan ketika meninggalkan tasyabuh dengan mereka mempunyai dampak dan kemaslahatan yang sangat besar, begitu juga faidah-faidah yang sangat banyak sekali, bersamaan dengan itu juga menutup sarana yang bisa mengantarkan untuk mencintai mereka dan condong pada mereka, demikian juga untuk merealisasikan makna baro'ah (berlepas diri.pent) pada mereka, dan benci mereka karena Allah Ta'ala, di antara faidahnya juga kaum muslimin bisa bebas dari mereka dan memiliki ke khasan sendiri.
Dan para ulama telah menyebutkan tingkatan yang paling utama pada puasa hari Asyuro, di antaranya yang paling utama yaitu berpuasa tiga hari, hari ke Sembilan, sepuluh dan sebelas, para ulama berdalil dengan hadits Ibnu Abbas, di mana Nabi bersabda: "Selisihi lah orang-orang Yahudi, berpuasa lah sebelumnya satu hari dan sesudahnya satu hari". HR al-Baihaqi 4/287. Namun hadits ini dho'if, tidak bisa naik derajatnya, kecuali di katakan dalam masalah ini bahwa puasa tiga hari keutamaanya bertambah dengan keutamaan puasa pada hari Asyuro di karenakan semuanya di kerjakan pada bulan haram, yang mana ada dalilnya untuk berpuasa padanya, supaya bisa tercapai keutamaan puasa tiga hari pada setiap bulan, hal itu sebagaimana telah di riwayatkan oleh Imam Ahmad, dimana beliau mengatakan: "Barangsiapa yang ingin berpuasa Asyuro hendaknya berpuasa pada hari sembilan dan sepuluhnya, kecuali ia merasa bingung (penentuan awal dan akhir) bulannya maka hendaknya ia berpuasa tiga hari. Ibnu Sirin yang mengatakan hal tersebut".[5]
Tingkatan yang kedua, berpuasa pada hari Sembilan dan sepuluhnya, tingkatan ini sebagaimana di tunjukan oleh kebanyakan hadits, seperti sudah di jelaskan di awal kitab.
Tingkatan ketiga, berpuasa pada hari Sembilan dan sepuluhnya, atau sepuluh dan hari sebelasnya, (yang berpendapat seperti ini) mereka berdalil dengan hadits Ibnu Abbas secara marfu' dengan lafadz: "Berpuasa lah pada hari Asyuro, selisihi lah padanya orang-orang Yahudi, berpuasalah pada hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya". Dan hadits ini adalah dho'if.[6]
Tingkatan keempat, menyendirikan puasa pada hari sepuluh saja, namun ada sebagian para ulama yang membencinya di karenakan menyerupai dengan ahli kitab, dan itu merupakan pendapatnya Ibnu Abbas sebagaimana yang masyhur dari beliau, pendapat itu juga merupakan madzhabnya Imam Ahmad, dan sebagian Hanafiyah, sedangkan sebagian para ulama mengatakan tidak di benci, di karenakan merupakan hari yang mempunyai keutamaan, maka di sunahkan untuk mencari keutamaanya dengan berpuasa. Namun pendapat yang rajih adalah di benci bagi orang yang mampu untuk menggabung puasa hari itu dengan hari lainya, dan tidak menafikan hal itu untuk mendapat pahala bagi orang yang mencukupkan puasa pada hari itu saja, bahkan dia akan di ganjar pahala insya Allah.
Ya Allah berilah kami taufiq yang Engkau ridhoi, jauhkan kami untuk berbuat maksiat pada -Mu, jadikan kami termasuk hamba-hamba -Mu yang sholeh, dan di masukan pada golongan orang-orang yang mendapat kemenangan, ampuni kami dan terima taubat kami, Ya Allah ampuni kami dan kedua orang tua kami. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam



[1] . Tafsir Ibnu Katsir 4/89-90.
[2] . Tasyabuh manhiyun 'anhu hal: 542.
[3] . al-Mufham 3/190.
[4] . al-Fatawa 25/311.
[5] . al-Mughni 4/441, Iqtdhou shirthol Mustaqim 1/419.
[6] .  HR Ahmad 3/52, Ibnu Khuzaimah 3/290, 2095. Thahaawi dalam Syarh ma'ani atsar 2/78, al-Baihaqi 4/287. 
Posting Komentar