HUKUM-HUKUM SHALAT

HUKUM-HUKUM SHALAT

Menjaga Kesempurnaan Ibadah yang Paling Agung


Mukadimah

الحمد لله رب العالمين،
نحمده ونستعينه ونستغفره
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا

Jamaah rahimakumullah,
Shalat bukan hanya ibadah yang paling utama, tetapi juga ibadah yang paling detail aturannya. Tidak ada satu ibadah pun yang Allah jelaskan tata caranya sedetail shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi harus dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.


1. HUKUM SHALAT DUDUK

a. Shalat Sunnah

Dalil Hadis

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

“Barang siapa shalat berdiri maka itu lebih utama. Barang siapa shalat duduk maka baginya setengah pahala shalat berdiri. Dan barang siapa shalat berbaring maka baginya setengah pahala shalat duduk.”
(HR. Bukhari)

Catatan Ulama

Imam An-Nawawi menjelaskan:

Hadis ini berlaku bagi orang yang mampu berdiri, adapun orang yang uzur maka pahalanya tetap sempurna.

Dalil Pendukung

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya pahala seperti amalannya ketika ia sehat dan tidak safar.”
(HR. Bukhari)


b. Shalat Fardhu

Tidak sah shalat fardhu sambil duduk bagi orang yang mampu berdiri.

Dalil Al-Qur’an

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Dan berdirilah kalian untuk Allah dengan penuh khusyu’.”
(QS. Al-Baqarah: 238)

Ulasan Ulama

Imam Ibnu Qudamah berkata:

Berdiri adalah rukun shalat fardhu, gugur hanya karena uzur yang dibenarkan syariat.


2. HUKUM NIAT DALAM SHALAT

Hakikat Niat

Niat tempatnya di hati, bukan di lisan.

Dalil Umum

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa Hukum Niat

  1. Memutus niat membatalkan shalat
  2. Tidak boleh mengubah niat shalat sunnah menjadi fardhu
  3. Boleh mengubah niat shalat sendirian menjadi sunnah ketika ingin berjamaah

Komentar Ulama

Imam Asy-Syafi’i menegaskan:

Perubahan niat yang dibolehkan adalah dari lebih tinggi ke lebih rendah, bukan sebaliknya.


3. KEWAJIBAN MEMBACA SURAH AL-FATIHAH

Dalil Hadis

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.”
(HR. Abu Dawud)

Pandangan Mazhab Syafi’i

Makmum tetap wajib membaca Al-Fatihah, baik shalat sirriyah maupun jahriyah.

Imam An-Nawawi berkata:

Ini adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadis-hadis shahih.


4. HUKUM MENGUCAPKAN AMIN

Dalil Hadis

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ آمِينَ فَقُولُوا آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika imam mengucapkan amin maka ucapkanlah amin, karena siapa yang ucapannya bersamaan dengan amin para malaikat, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari)

Keterangan

  • Jahriyah → dikeraskan
  • Sirriyah → dipelankan

5. WAKTU-WAKTU DIAMNYA IMAM

  1. Setelah takbir – untuk doa iftitah
  2. Setelah Al-Fatihah – makmum membaca Al-Fatihah
  3. Setelah surah pendek – sebelum rukuk

Imam Ibnu Hajar menyebutkan:

Diamnya imam adalah rahmat bagi makmum agar sempurna bacaannya.


6. HUKUM MENGERASKAN BACAAN SAAT QADHA

Prinsip Fiqih

Yang menjadi patokan adalah jenis shalat, bukan waktu qadha.

Contoh

  • Qadha Subuh siang hari → tetap jahr
  • Qadha Dzuhur malam hari → tetap sirr

7. MENGANGKAT KEDUA TANGAN DALAM SHALAT

Dilakukan pada:

  1. Takbiratul ihram
  2. Rukuk
  3. Bangkit dari rukuk
  4. Bangkit dari tasyahhud awal

Dalil Hadis

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ...

“Rasulullah mengangkat kedua tangannya…”
(HR. Bukhari dan Muslim)


8. MENDAPATKAN SATU RAKAAT

Dalil Hadis

مَنْ أَدْرَكَ الرُّكُوعَ فَقَدْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ

“Barang siapa mendapatkan rukuk, maka ia mendapatkan rakaat.”
(HR. Abu Dawud)


9. WAJIBNYA THUMA’NINAH

Hadis Shahih

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا...

“Rukuklah hingga engkau tenang, sujudlah hingga engkau tenang…”
(HR. Bukhari)

Ulasan Ulama

Imam An-Nawawi:

Thuma’ninah adalah rukun, bukan sunnah.


10. WAJIB MENGGERAKKAN LISAN DAN BIBIR

Bacaan shalat tidak sah hanya di dalam hati.

Imam Ar-Ramli:

Minimal bacaan adalah terdengar oleh diri sendiri.


11. POSISI SUJUD (7 ANGGOTA BADAN)

Dalil Hadis

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ

“Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota badan.”
(Muttafaqun ‘Alaih)


12. MENUNJUK DENGAN JARI TELUNJUK

Dalil Hadis

وَكَانَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ يَدْعُو بِهَا

“Beliau menunjuk dengan jari telunjuknya sambil berdoa.”
(HR. An-Nasa’i)


PENUTUP

Jamaah rahimakumullah,
Shalat yang benar adalah shalat yang mengikuti sunnah, bukan kebiasaan.

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)

Semoga Allah menjadikan shalat kita sah, khusyu’, dan diterima.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ



Tidak ada komentar