Larangan Berjalan dengan Satu Sandal dalam Islam
Larangan Berjalan dengan Satu Sandal dalam Islam
Pendahuluan
Islam adalah agama yang menanamkan keseimbangan (tawāzun), keindahan (jamāl), dan adab (akhlak) dalam setiap sisi kehidupan. Bahkan perkara yang tampak sepele seperti cara berjalan dan memakai sandal pun mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah ﷺ.
Larangan berjalan dengan satu sandal bukan sekadar etika, tetapi:
- Pendidikan adab
- Penjagaan kesehatan
- Pencegahan kesombongan dan keanehan
- Penanaman keseimbangan lahir dan batin
Dalil Utama dari Sunnah Nabi ﷺ
Hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu
Teks Arab:
وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
« لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ، وَلْيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا »
Terjemah:
“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal saja. Hendaklah ia memakai keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Riwayat:
- HR. al-Bukhari no. 5855
- HR. Muslim no. 2097
Makna Umum Hadis
Hadis ini berisi larangan tegas (nahy). Kaidah ushul fiqh menyatakan:
الأصل في النهي التحريم “Hukum asal larangan adalah haram.”
Namun para ulama menjelaskan bahwa larangan ini:
- Bermakna makruh tahrimi atau makruh menurut jumhur
- Bertujuan mendidik adab, bukan menghukum
Dalil Pendukung dari Al-Qur’an
1. Larangan Berbuat Berlebihan dan Aneh
Teks Arab:
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Terjemah:
“Dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A‘raf: 31)
Kaitan:
- Berjalan dengan satu sandal adalah perbuatan aneh dan tidak wajar
- Islam menyukai kesederhanaan dan kepantasan
2. Perintah Berjalan dengan Sikap yang Baik
Teks Arab:
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ
Terjemah:
“Dan sederhanakanlah dalam berjalanmu.”
(QS. Luqman: 19)
Makna:
- Islam mengatur bahkan gaya berjalan
- Berjalan satu sandal merusak keseimbangan dan adab
3. Larangan Meniru Cara yang Tidak Wajar
Teks Arab:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
Terjemah:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.”
(QS. Al-Isra’: 37)
Kaitan:
- Cara berjalan yang aneh bisa mengarah pada pamer atau mencari perhatian
Dalil Sunnah Pendukung
Hadis Keseimbangan dan Adab
Teks Arab:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Terjemah:
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.”
(HR. Muslim)
Makna:
- Memakai sandal sepasang adalah bagian dari keindahan dan kerapian
Komentar dan Ulasan Para Ulama
1. Imam An-Nawawi رحمه الله
Dalam Syarh Shahih Muslim:
“Larangan berjalan dengan satu sandal adalah larangan adab, karena hal itu menyalahi keseimbangan, menampakkan keanehan, dan mendekati perbuatan setan.”
2. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani رحمه الله
Dalam Fathul Bari:
“Hikmahnya adalah menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah gangguan pada cara berjalan.”
3. Syaikh Ibn Utsaimin رحمه الله
Beliau menjelaskan:
“Jika seseorang berjalan sebentar karena darurat, seperti sandal terputus, maka tidak mengapa. Namun menjadikannya kebiasaan adalah makruh.”
4. Ulama Salaf
Sebagian ulama menyebutkan:
- Setan berjalan dengan satu sandal
- Maka larangan ini juga sebagai bentuk penyelisihan terhadap setan
Hikmah Larangan Berjalan dengan Satu Sandal
1. Menjaga Keseimbangan Fisik
- Perbedaan tinggi kaki
- Gangguan tulang dan otot
- Risiko jatuh
2. Menjaga Keseimbangan Akhlak
Islam tidak menyukai:
- Keanehan
- Pencitraan
- Perilaku yang menarik perhatian tanpa maslahat
3. Pendidikan Disiplin dan Ketertiban
- Semua hal ada aturannya
- Tidak serampangan bahkan dalam berpakaian
Pengecualian dan Kondisi Darurat
Para ulama membolehkan jika:
- Sandal putus
- Medan berbahaya
- Jarak sangat dekat Namun tetap tidak dijadikan kebiasaan
Aplikasi Praktis dalam Kehidupan
- Jika satu sandal rusak: lepas keduanya
- Jangan mengajari anak berjalan satu sandal
- Biasakan adab ini di rumah, masjid, sekolah
Penutup
Larangan berjalan dengan satu sandal bukan sekadar urusan kaki, tetapi pelajaran tentang keseimbangan hidup. Islam mendidik umatnya agar tidak pincang—baik langkah fisik maupun langkah iman.
Sunnah kecil adalah benteng besar akhlak seorang mukmin.
Post a Comment