PERSISTEN DALAM ISLAM
📌 CERAMAH LENGKAP — AKHLAKUL KARIMAH: PERSISTEN DALAM ISLAM
Pendahuluan Ceramah Retorik
Jama’ah yang dirahmati Allah…
Betapa banyak orang berbakat… tapi gagal.
Betapa banyak orang cerdas… tapi tidak mencapai apa-apa.
Betapa banyak orang berpendidikan tinggi… tapi menganggur dan kehilangan arah.
Namun, orang yang persisten, orang yang gigih, orang yang tidak mau berhenti meskipun berkali-kali jatuh—merekalah yang akhirnya berdiri paling tinggi.
Sikap itu, dalam Islam, bukan sekadar “pantang menyerah”…
Tetapi disebut sebagai shabr dan mujahadah, yaitu keteguhan terus-menerus di jalan kebaikan.
🔥 1. Persisten dalam Islam: Maknanya adalah Shabr
Al-Qur’an menyebut shabr lebih dari 90 kali, menunjukkan bahwa sikap ini adalah fondasi akhlak dan syarat mutlak keberhasilan.
A. Shabr = Persisten (keteguhan penuh usaha)
Berbeda dengan kata “sabar” dalam bahasa Indonesia (yang sering bermakna pasif),
Shabr dalam Islam = persistensi + kegigihan + tekad + daya tahan + pantang menyerah.
Dalil (QS Al-Baqarah 2:153)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (dari Allah) dengan shabr dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabr (persisten).”
Syarah Ulama
- Imam Al-Qurthubi:
“Shabr adalah menahan diri untuk tetap berada di jalan usaha yang benar walau berat dan melelahkan.” - Ibnu Katsir:
“Allah bersama orang yang konsisten dan terus berjuang tanpa menyerah.”
🔥 2. Persisten ≠ Pasrah Buta — Islam Melarang Sikap Pasif
Dalam Islam, shabr itu aktif, bukan pasif.
Ia bukan duduk diam menunggu nasib, melainkan terus melangkah meski jalan licin dan gelap.
🔥 3. Empat Pilar Pendukung Sikap Persisten
A. 1. Memiliki Tujuan atau Visi
Tanpa visi, seseorang hanya berjalan tanpa arah.
Islam mendorong seorang mukmin memiliki tujuan jelas, sebagaimana firman Allah:
Dalil (QS Al-Hasyr 59:18)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
Artinya:
“Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”
Syarah
Imam Asy-Syaukani:
“Ayat ini memerintahkan perencanaan jangka panjang untuk masa depan, dunia dan akhirat.”
B. 2. Perencanaan (Planning) yang Matang
Perencanaan sangat penting, namun tetap fleksibel ketika menghadapi hambatan.
Islam mengajarkan bahwa strategi boleh berubah, tapi tujuan tidak.
Dalil (QS Ali Imran 3:159)
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
Artinya:
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”
Makna Ulama
- Ibnu Katsir:
“‘Azamtu’ berarti tekad hasil perencanaan matang.”
Thomas Edison melakukan 10.000 percobaan untuk satu tujuan.
Inilah spirit mujahadah.
C. 3. Evaluasi Diri (Muhasabah)
Evaluasi adalah syarat maju.
Dalil (QS Al-Hasyr 59:18)
—dikutip di atas—menjadi dalil utama pentingnya evaluasi.
Hadis
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
(“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”)
(HR. Tirmidzi — makna atsar Umar)
Komentar Ulama
Ibnu Qayyim:
“Orang yang tidak mengevaluasi dirinya, akan terus mengulang kegagalan yang sama.”
D. 4. Mujahadah (Bersungguh-sungguh Total)
Dalam Islam, mujahadah adalah puncak persisten:
terus berjuang sampai Allah membukakan jalan.
Dalil (QS Al-‘Ankabût 29:69)
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya:
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”
Syarah Ulama
- Imam Ibnu Katsir:
“Ayat ini adalah janji bahwa hasil pasti datang bagi orang yang gigih.”
🔥 4. Kapan Boleh Menyerah? (Tawakkal yang Benar)
Islam tidak memaksa manusia mengejar sesuatu yang sudah tidak relevan, atau sudah dicoba dengan seluruh ikhtiar tapi tetap tidak berhasil.
Dua kondisi boleh menyerah:
-
Tujuan sudah tidak relevan
(misal: berubahnya kondisi, berubahnya kebutuhan) -
Sudah mencoba segala cara dengan maksimal dan tetap gagal
Dalil (QS Hud 11:56)
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ
Artinya:
“Aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.”
Penjelasan
Tawakkal bukan berhenti berusaha,
tetapi berhenti ketika ikhtiar sudah sempurna.
Ibnu Rajab Al-Hanbali:
“Tawakkal terjadi setelah seluruh usaha ditempuh.”
🔥 5. Hadis-Hadis tentang Persistensi
A. Hadis tentang Kekokohan dan Kesabaran
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Artinya:
“Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (persistensi).”
(HR. Bukhari-Muslim)
Syarah
Imam Nawawi:
“Sabar adalah kekuatan yang membuat seseorang mencapai semua kemaslahatan.”
B. Hadis tentang Kekuatan Tekad (Azm)
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.”
(HR. Muslim)
Makna Ulama
Ibnul Qayyim:
“Hadis ini adalah pondasi perjuangan hidup; seorang mukmin wajib mengejar apa yang bermanfaat dengan seluruh ketekunannya.”
C. Hadis: Jangan Putus Asa
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
Artinya:
“Ketahuilah, pertolongan (Allah) datang bersama kesabaran (persistensi).”
(HR. Tirmidzi)
6.Perumpamaan Persisten dalam Islam
Persisten = pohon kurma
- Tumbuh lama
- Terus dirawat
- Tidak menyerah
- Berbuah sangat manis
Sama seperti orang sukses:
buahnya baru tampak setelah bertahun-tahun perjuangan.
🔥 7. Persisten + Ilmu + Perencanaan = Kesuksesan Dunia & Akhirat
Islam tidak ingin umatnya:
- Banyak putus asa
- Banyak menyerah
- Mudah goyah
- Menyerah hanya karena satu kegagalan
Allah ingin umat yang kuat, teguh, tahan banting, dan terus bergerak.
🔥 Penutup Ceramah Retorik
Jama'ah sekalian…
Keberhasilan bukan milik yang cerdas,
bukan milik yang paling berbakat,
bukan milik yang pendidikannya paling tinggi.
Keberhasilan adalah milik mereka yang
tidak berhenti ketika orang lain berhenti…
tidak menyerah ketika orang lain menyerah…
dan tetap berjalan ketika orang lain memilih duduk.
Itulah yang disebut shabr,
itulah yang disebut mujahadah,
itulah yang disebut persisten yang diperintahkan Islam.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kuat, gigih, terus maju, dan tidak berhenti sebelum mencapai kebaikan dunia dan akhirat.
Post a Comment