Puasa dari Hal-hal yang Diharamkan oleh Allah SWT (Menjaga Ruh Puasa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga)
Puasa dari Hal-hal yang Diharamkan oleh Allah SWT
Menjaga Ruh Puasa, Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga
I. Mukadimah: Puasa Bukan Sekadar Menahan Perut
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah…
Banyak orang lapar,
banyak orang haus,
namun tidak semuanya benar-benar berpuasa.
Ada yang menahan makan dan minum,
namun lisannya bebas berdusta,
matanya liar memandang yang haram,
hatinya tenggelam dalam syahwat dan kedengkian.
Padahal, puasa adalah ibadah penjagaan,
bukan sekadar ibadah penahanan.
II. Tujuan Puasa Menurut Al-Qur’an
Dalil Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
📖 (QS. Al-Baqarah: 183)
Ulasan Ulama
- Imam Ath-Thabari رحمه الله:
Takwa dalam puasa berarti meninggalkan apa yang diharamkan Allah, baik secara lahir maupun batin.
➡️ Puasa yang tidak melahirkan takwa adalah puasa yang kehilangan tujuan.
III. Hakikat Orang yang Benar-benar Berpuasa
Hadis Nabi ﷺ
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
Artinya:
“Puasa itu bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari omong kosong dan perbuatan keji.”
📜 (HR. Al-Hakim, dinilai hasan)
Hadis Shahih
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya:
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
📜 (HR. Al-Bukhari)
Komentar Ulama
- Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله:
Hadis ini menunjukkan bahwa maksiat mengurangi pahala puasa, bahkan bisa menghilangkannya.
IV. Puasa Anggota Tubuh: Lisan, Mata, dan Hati
Puasa Lisan
Tidak berdusta, menggunjing, adu domba, dan berkata kotor.
📖 Dalil:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat pengawas.”
(QS. Qaf: 18)
Puasa Mata
Menahan pandangan dari yang haram.
📖 Dalil:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar menundukkan pandangan mereka.”
(QS. An-Nur: 30)
Puasa Hati
Menjaga niat, membersihkan iri, sombong, dan syahwat tersembunyi.
📖 Dalil:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Hari ketika harta dan anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
V. Berbuka dengan yang Haram: Racun bagi Puasa
Saudara-saudaraku…
Apa gunanya menahan lapar
jika berbuka dengan yang haram?
Dalil Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
Artinya:
“Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salihlah.”
📖 (QS. Al-Mu’minun: 51)
Hadis Nabi ﷺ
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
📜 (HR. Muslim)
Ulasan Ulama
- Imam Al-Ghazali رحمه الله:
Makanan haram menggelapkan hati dan memadamkan cahaya ibadah.
VI. Wara’: Kunci Diterimanya Ibadah
Hadis Nabi ﷺ
لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ
Artinya:
“Seseorang tidak akan mencapai derajat orang bertakwa sampai ia meninggalkan perkara yang sebenarnya mubah karena khawatir terjatuh pada yang haram.”
📜 (HR. Tirmidzi)
Atsar Ulama
“Andaikan engkau shalat sampai membungkuk dan berpuasa sampai seperti tali busur, tidak akan diterima kecuali dengan wara’.”
➡️ Wara’ adalah penjaga amal, bukan pelengkap.
VII. Dua Tipe Orang yang Berpuasa
Tipe Pertama
- Menjaga lisan
- Menjaga pandangan
- Wara’ dalam berbuka
- Mengawasi hati
➡️ Puasanya berat di timbangan.
Tipe Kedua
- Menahan lapar
- Namun bebas bermaksiat
- Berbuka dengan syahwat haram
➡️ Puasanya kosong dari nilai.
Dalil Al-Qur’an
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ
Artinya:
“Apakah orang yang mengetahui kebenaran sama dengan orang yang buta?”
📖 (QS. Ar-Ra‘d: 19)
VIII. Penutup dan Doa
Saudara-saudaraku…
Jagalah puasamu,
jangan engkau hancurkan dengan dosa,
jangan engkau racuni dengan yang haram.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ سَلِّمْ صِيَامَنَا مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الشَّهَوَاتِ، وَارْزُقْنَا الْوَرَعَ وَالْإِخْلَاصَ
Artinya:
“Ya Allah, selamatkan puasa kami dari perkara haram, sucikan hati kami dari syahwat, dan karuniakan kepada kami sifat wara’ dan keikhlasan.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Post a Comment