Antara Istidraj dan Khasyyah: Siapa yang Selamat di Hadapan Allah?
“Antara Istidraj dan Khasyyah: Siapa yang Selamat di Hadapan Allah?”
Pendahuluan
Jamaah rahimakumullah,
Ada orang hidupnya kelihatan sukses: rumah besar, anak banyak, rekening tebal.
Tapi Al-Qur’an bertanya dengan tajam:
“Kamu yakin itu tanda cinta Allah… atau jangan-jangan tanda sedang dijauhkan?”
Ibarat orang dipinjamkan payung, tapi bukan untuk melindungi—melainkan supaya hujan azab tidak terasa sampai akhir.
(Humor ringan)
Kadang kita ini seperti orang senang karena tidak ditegur, padahal orang tua diam itu sering justru karena sudah capek menasihati 😌
1. Azab Umat Pendusta: Hancur Seketika (Ayat 41–44)
QS Al-Mu’minūn: 41
وَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنَاهُمْ غُثَاءً ۚ فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya:
“Maka mereka dibinasakan oleh suara yang mengguntur dengan benar, lalu Kami jadikan mereka seperti tumbuhan kering. Maka kebinasaanlah bagi orang-orang zalim.”
Komentar Ulama
- Imam Ath-Thabari (Jāmi‘ al-Bayān):
Shaikhah adalah suara azab yang datang tanpa jeda taubat. - Ibnu Katsir:
Mereka bukan hanya mati, tapi hilang bekasnya, seperti jerami setelah banjir.
Pelajaran
- Azab Allah tidak selalu lama, tapi selalu tepat.
- Kezaliman yang dipelihara = kehancuran yang ditunda.
(Humor reflektif)
Manusia sering bilang: “Santai saja, masih ada waktu.”
Padahal azab Allah tidak pernah pakai kalender Google 😅
2. Setiap Umat Punya Deadline (Ayat 43)
QS Al-Mu’minūn: 43
مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ
Artinya:
“Tidak satu umat pun dapat mendahului ajalnya dan tidak pula dapat menundanya.”
Hadis Pendukung
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ
“Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan mati.”
📘 HR. At-Tirmidzi
Komentar Ulama
- Al-Qurthubi (Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān):
Ajal adalah ketetapan mutlak, bukan hasil negosiasi.
3. Kesombongan Fir’aun: Menolak Karena Merasa Tinggi (Ayat 45–48)
QS Al-Mu’minūn: 47
أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ
Artinya:
“Apakah pantas kita beriman kepada dua manusia seperti kita, padahal kaum mereka adalah hamba sahaya kita?”
Komentar Ulama
- Fakhruddin Ar-Razi:
Kesombongan terbesar adalah menolak kebenaran karena status sosial.
(Humor halus)
Fir’aun itu bukan tidak tahu Musa benar,
tapi egonya berkata: “Masa saya kalah sama mantan tukang gembala?” 😄
4. Nabi Isa & Maryam: Mukjizat dalam Kesederhanaan (Ayat 50)
QS Al-Mu’minūn: 50
وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً
Artinya:
“Dan Kami jadikan putra Maryam dan ibunya sebagai tanda (kekuasaan Kami).”
Komentar Ulama
- Ibnu Katsir:
Mukjizat Isa bukan untuk dibanggakan, tapi untuk menguatkan tauhid.
5. Perintah Inti Para Rasul: Halal & Amal Saleh (Ayat 51)
QS Al-Mu’minūn: 51
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
Artinya:
“Hai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan beramal salehlah.”
Hadis Pendukung
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
📘 HR. Muslim
(Humor edukatif)
Jangan heran doa susah dikabulkan,
kalau isi perutnya masih “hasil diskon dosa” 😅
6. Umat Terpecah & Bangga dengan Sektenya (Ayat 53)
QS Al-Mu’minūn: 53
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Artinya:
“Setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
Komentar Ulama
- Imam Asy-Syathibi (Al-I‘tiṣām):
Perpecahan lahir dari fanatisme, bukan dalil.
7. Istidraj: Nikmat yang Menipu (Ayat 55–56)
QS Al-Mu’minūn: 56
نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ ۚ بَل لَّا يَشْعُرُونَ
Artinya:
“Kami menyegerakan kebaikan bagi mereka? Tidak! Mereka tidak sadar.”
Hadis Istidraj
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ اسْتِدْرَاجٌ
📘 HR. Ahmad
8. Ciri Orang Beriman Sejati (Ayat 57–60)
QS Al-Mu’minūn: 60
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ
Artinya:
“Dan orang-orang yang memberi apa yang mereka berikan, dengan hati yang takut.”
Hadis Aisyah r.a.
Ketika bertanya ayat ini, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mereka adalah orang yang shalat, puasa, dan sedekah, tapi takut amalnya tidak diterima.”
📘 HR. At-Tirmidzi
(Humor reflektif)
Yang rajin ibadah malah takut,
yang jarang ibadah malah pede 😌
Penutup Ringkas
Jamaah rahimakumullah,
- Jangan tertipu nikmat
- Jangan sombong dengan amal
- Jangan bangga dengan golongan
- Jadilah hamba yang takut tapi berharap
.
Post a Comment