Dari Penyangkalan Kebangkitan hingga Penyesalan yang Terlambat
“Dari Penyangkalan Kebangkitan hingga Penyesalan yang Terlambat”
Mukadimah (Pembuka Menggugah)
Jamaah rahimakumullah,
Al-Qur’an mengajarkan satu pelajaran besar:
👉 Hampir semua orang kafir bukan karena tidak tahu kebenaran,
tapi karena menolak memikirkan konsekuensinya.
Mereka tahu Allah Pencipta…
tapi menolak hari kebangkitan.
(humor pembuka)
Ibarat orang percaya ada sekolah,
tapi tidak mau percaya ada ujian 😄
1. Penyangkalan Kebangkitan: Alasan Klasik Manusia (Ayat 81–83)
QS Al-Mu’minūn: 81
إِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْأَوَّلِينَ
Artinya:
“Itu tidak lain hanyalah perkataan orang-orang dahulu.”
QS Al-Mu’minūn: 82
أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ
Artinya:
“Apakah bila kami telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan?”
QS Al-Mu’minūn: 83
إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Artinya:
“Itu hanyalah dongeng orang-orang dahulu.”
Komentar Ulama
- Ibnu Katsir – Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm:
Ini adalah syubhat paling tua dalam sejarah manusia. - Ath-Thabari – Jāmi‘ al-Bayān:
Mereka tidak mengingkari Allah, tapi mengingkari pertemuan dengan-Nya.
(humor menyentil)
Kalau mati orang lain, mereka bilang: “Innalillah.”
Kalau mati diri sendiri, masih tanya: “Beneran dibangkitkan?” 😅
2. Logika Tauhid: Mengapa Tidak Berpikir? (Ayat 84–89)
Allah mengajarkan Nabi ﷺ logika sederhana.
QS Al-Mu’minūn: 84
قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya:
“Katakanlah: Milik siapakah bumi dan semua yang ada padanya?”
QS Al-Mu’minūn: 85
سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya:
“Mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Tidakkah kalian berpikir?”
Komentar Ulama
- Al-Qurthubi – Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān:
Ayat ini hujjah bahwa menghidupkan kembali lebih mudah daripada menciptakan pertama kali.
(humor logis)
Kalau HP rusak bisa diperbaiki,
masa manusia ciptaan Allah tidak bisa “restart”? 😄
QS Al-Mu’minūn: 88
قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ
Artinya:
“Katakanlah: Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu?”
QS Al-Mu’minūn: 89
سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ
Artinya:
“Mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Maka bagaimana kalian bisa tertipu?”
Komentar Ulama
- Fakhruddin Ar-Razi – Mafātīḥ al-Ghayb:
Kekufuran bukan karena bodoh, tapi karena tertutup oleh hawa nafsu.
3. Tauhid Murni: Allah Tidak Beranak & Tidak Bersekutu (Ayat 90–92)
QS Al-Mu’minūn: 91
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ
Artinya:
“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan tidak ada tuhan lain bersama-Nya.”
Komentar Ulama
- Ibnu Katsir:
Jika ada lebih dari satu tuhan, alam semesta akan hancur. - Dalil penguat:
QS Al-Anbiya: 22
(humor cerdas)
Kalau dua sopir rebutan setir,
mobil pasti masuk jurang 😄
Apalagi kalau alam semesta!
4. Sikap Nabi Saat Dizalimi: Akhlak sebelum Perang (Ayat 93–98)
QS Al-Mu’minūn: 96
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya:
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik.”
Hadis Pendukung
مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Allah tidak menambah kepada seorang hamba dengan pemaafan kecuali kemuliaan.”
📘 HR. Muslim
QS Al-Mu’minūn: 97
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
Artinya:
“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan.”
(humor halus)
Kadang yang bikin emosi itu bukan orangnya…
tapi setan yang nyalain kompor 😄
5. Penyesalan Terakhir: Minta Kembali ke Dunia (Ayat 99–100)
QS Al-Mu’minūn: 99
رَبِّ ارْجِعُونِ
Artinya:
“Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia).”
QS Al-Mu’minūn: 100
كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا
Artinya:
“Sekali-kali tidak! Itu hanyalah perkataan yang ia ucapkan saja.”
Hadis Pendukung
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
(HR. Ahmad – makna senada dengan ayat)
Komentar Ulama
- Al-Qurthubi:
Permintaan ini selalu ditolak, karena dunia adalah tempat amal, bukan pengulangan. - Ibnu Katsir:
Penyesalan saat maut tidak lagi bernilai taubat.
(humor pahit yang menyadarkan)
Di dunia: “Nanti saja taubatnya.”
Di akhirat: “Kalau bisa, sebentar saja kembali…”
Tapi waktu tidak bisa diundur 😔
Penutup
Jamaah rahimakumullah,
Hari ini kita masih hidup…
hari ini mulut masih bisa berzikir…
hari ini tangan masih bisa sujud…
Besok?
Tidak ada yang tahu.
Maka jangan tunggu kalimat:
رَبِّ ارْجِعُونِ
terucap dari mulut yang sudah tak bisa kembali.
Post a Comment